;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Rabu, 29 Mei 2013

Gairah Tetanggaku 04

Rabu, 29 Mei 2013

Rupanya hari itu Tante Ida sekalian mau belanja, jadi ia pergi sama anak-anaknya,
makanya Bu Etty yang di rumah. Sambil istirahat kami membuat minuman hangat
dari termos di kamarnya dan duduk di ranjang di kamar Bu Etty. Kami tetap
telanjang bulat.
"Bu, jadi tahu ya tadi malam aku main sama Tante Ida."
"Iya dong nak, kan Ibu sudah pengalaman dan lumrah kok seperti Ibu bilang tadi
kami memang wanita yang nafsunya kuat sekali."
"Lalu, kata ibu tadi seminggu sedikitnya 4 kali, sama siapa biasanya Bu?" tanyaku
sambil membaringkan badan memegang memilin-milin puting susunya.
"Oh.. Ibu sama teman-teman bertiga, ada semacam klub kecil," katanya sambil
tertawa renyah sambil ekspresi mukanya menahan geli dari pilinan jariku.
"Biasa kami nyari anak SMA, mahasiswa atau anak-anak muda dan kami bawa ke
villa teman Ibu atau ke hotel juga."
"Ibu makanya awet muda ya, itu kami selalu nyari perjaka-perjaka untuk
diperawanin," cekikiknya manja.
Tangannya juga iseng meraba-raba pantatku dan dari bawah pahaku ke belakang
dijamahnya lagi buah zakarku.
"Ibu paling demen sama anak seumur kamu deh, nafsunya besar dan cepet sekali
pulihnya, bentar-bentar sudah ngaceng lagi.." ujarnya.
Sambil terus meremas-remas buah zakarku dan batang penisku yang sudah mulai
berdiri lagi. Didorongnya badanku sehingga aku rebah dan Bu Etty naik ke atas
mengangkangkan pahanya dan ia berjongkok di atas penisku yang separuh tegang.
"Diam ya nak To.." Pelan-pelan dipegangnya daging sosisku dan disaputkannya
kepala penisku di tepi-tepi bibir vaginanya yang ada rambutnya. Aduh, nikmat
sekali dan pelan diarahkannya ke lubang nikmat itu dan "Bless.." mulai masuk lagi,
nikmat luar biasa walau penisku terasa agak perih digeber dua hari ini. Belum
tegang penuh tapi vagina Bu Etty seperti bisa menarik masuk dan tekanan
pinggulnya sedemikian rupa.
"Aku suka sekali di atas," kata Bu Etty, "Karena bisa ngontrol gerakan dan garukan
batang penis ke klitorisku," katanya. "Sekarang diam, nak Toto rasakan merem
deh.. merem.." Aku merem dan senut-senut terasa sekali dinding lubangnya
berdenyut-denyut kencang. Bu Etty tidak ngapa-ngapain, hanya merem juga waktu
kuintip. Aku merem lagi dan kuulurkan tanganku ke buah dadanya yang montok
sekali itu. Duh.. seperti memegang melon. "Remes To.. remes!" keluhnya manja
sekali dan penuh nafsu. Suaranya berdesah-desah, "Ahh.. ahh.. enakk.. putingnya
To.. putingnya ibu atuh.. uhh.." Pinggulnya mulai berputar pelan-pelan sekali gaya
penari jaipong dan kadang sambil jongkok ia menaik-turunkan pinggulnya.
Hebatnya sedotan dari dalam vaginanya itu lho. Aku rasa kalau vacuum cleaner-
nya rusak bisa tuh dipakai menyedot debu.
Buat aku ya enaknya buah dadanya tersaji di depan mataku dan tinggal ulurkan
tangan saja. Aku meremas-remas buah melon yang kenyal itu.
"Bu, aku diajak ke tempat teman-teman Ibu dong.." ujarku tiba-tiba.
"Ha ha.. ha.. entar kamu apa kuat ngelayani kami-kami To?"
"Coba deh Bu.." bisikku sambil terus meremas buah dadanya.
"Gini deh, lain kali aku ajak kamu tapi aku tidak bilangin mereka kamu sudah
pernah main ya.. biar lebih seru.. Kemarin sama nak Ida gimana enak?"
"Enak juga Bu, tapi kayaknya Ibu Etty lebih jago ya.." pujiku sambil mataku
terbelalak-belalak karena genjotan pinggul Bu Etty tambah seru saja.
Keringatnya menetes-netes ke dadaku dan bau harum badannya tambah kuat
karena hawa panas badannya. Harum sekali si ibu ini, pikirku sambil menikmati
hentakan pinggulnya yang tambah cepat. Dan tiba-tiba Bu Etty kandas dan
vaginanya merapat lagi dengan buah zakarku. Sekarang ia berputar-putar tanpa
naik-turun. Terasa ujung penisku di dalam itu seperti diperas dengan kuat sekali
dan.. "Srot.. srot.." aku meledak ledak tak terkendali lagi. Letih betul rasanya dan
kami tertidur setelah itu.
Sorenya menjelang magrib aku terbangun dan Bu Etty masih telanjang bulat. Aku
pelan-pelan bangun mau beranjak pulang mencari celanaku, tiba-tiba aku melihat
ada orang di pintu mengintip dan ia tidak melihat aku di dekat kamar mandi.
Rupanya Adelin keponakan Tante Ida yang kuliah di kota ini berkunjung. Aku kaget
dan tidak tahu mesti apa. Wah kalau ketahuan tidak enak. Adelin cantik sekali
anaknya dan seperti tantenya Ida dan Bu Etty, tubuhnya juga seksi sekali. Ah,
untung dia melihat Bu Etty tidur dan dia pergi lagi. Sekarang bagaimana aku keluar
nih. Pintu paviliun Bu Etty tidak pernah dibuka dan ada lemari di depannya. Ya
sudah aku pakai baju kaos dan celanaku dulu deh. Pelan-pelan aku buka pintu
kamar dan kuintip, wah si Adeline lagi sama Mbak Icih di dapur, aku mengendap-
endap ke kamar tamu dan pura-pura duduk baca majalah.
"Lho ada kamu To," ujar Adeline waktu masuk lagi dari dapur.
"Kamu ngapain? Aku nggak lihat kamu masuknya."
"Aku mau baca majalah nih.." sahutku sekenanya.
"Ok, aku mau pergi dulu ya," katanya sambil keluar.
"Tante Ida belum pulang ya?"
Adelin berputar dan ala mak pinggulnya seksi banget deh dan aku karena sudah
ngeres melulu 2 hari ini langsung merasa desiran di penisku. Adeline pergi dan aku
sendirian di ruang tamu menjelang petang dan aku jadi naik ke otak lagi.
Aku bangkit dan ngintip ke kamar Bu Etty. Wah masih tidur nyenyak habis di servis
enak sih. Tiba-tiba ia bergulir miring membelakangi pintu dan aku, selimutnya
tersingkap, wah pantatnya terlihat dan dari belakang bulu-bulu serta kemaluannya
jadi kelihatan sudah deh si "Ujang" langsung bangun dan aku jadi bingung.
Mestinya Tante Ida sebentar lagi pulang dan kalau aku main lagi takut ketahuan
deh. Bu Etty bergeser lagi dan telungkup, kakinya terbuka dan aku bisa lihat jelas
vaginanya. Lututku lemas dan nafasku menderu. Aku tidak kuat lagi, biarin
ketahuan-ketahuan deh. Aku masuk dan kukunci pintu perlahan. Kubuka celana
pendekku dan aku dekati pelan-pelan dari belakang. Kuendus-endus dulu sekitar
vaginanya, wah ternyata masih basah, dan karena Bu Etty mengangkang sambil
terlungkup aku bisa lihat jelas dalam cahaya senja yang masuk pas di garis
pantatnya yang sintal dan besar itu. Aku berlutut dan pelan-pelan kudekatkan
penisku. Pelan kuletakkan di mulut bibir vaginanya dan aku diam. Hmm, tidak
bereaksi, kudorong pelan sekali mendesak bibir tebal itu. Masuk sedikit lagi, duh
enaknya karena terasa hangat. Aku diam lagi menikmati dan kugerakkan sedikit
halus sekali. Tiba-tiba Bu Etty bergerak lagi menggeser pantatnya dan "Bles.."
malah masuk lagi, sekarang kepala penisku.. eh masih tidak bangun juga. Dengan
halus sekali aku dorong lagi sedikit sekali, terasa berdenyut-denyut dinding
vaginanya dan seperti "nggremet-grement".
Duhh.. enak banget. Aku maju lagi. Tanganku bertelekan di ranjang tanpa kena
tubuh Bu Etty, sudah rada pegel sih, tapi nafsuku sudah menderu-deru dan aku
sudah tidak peduli apa-apa lagi habis enak sekali. Maju lagi sudah 3/4 batang
masuk dan terasa ada aliran cairan ikut dari dalam. Tiba-tiba pintu terbuka dan
Mbak Icih masuk dengan setumpuk pakaian baru disetrika. Dia tidak tahu rupanya
karena kamarnya gelap bahwa ada orang di dalam. Aku panik dan sudah tidak bisa
narik diri lagi. Mbak Icih menyalakan lampu dan dia terpana melihat kami. Dia lihat
Bu Etty tidur, ya aku hanya bisa pucat dan diam karena kalau dicabut pasti bangun
Bu Etty. Akhirnya aku hanya bisa meletakkan jariku di bibir bilang supaya Mbak Icih
diam. Penisku langsung lemas dan Mbak Icih langsung keluar, untung dia tidak
menjerit. Aku jadi hilang nafsu dan kutarik pelan-pelan batang yang sudah lembek
itu dan aku cepetan pakai celana lagi.
Keluar dari kamar kulihat Mbak Icih terdiam di dekat dapur. Aku mau mendekat ke
sana, tiba-tiba pintu depan terbuka dan Tante Ida pulang. Dalam hati aku
bersyukur juga, kan tidak enak kalau pas lagi "ngegenjot" tadi. Rupanya waktu
kukunci tidak benar masuknya karena pintunya belum tutup betul. Dasar kalau
sudah nafsu begitu sudah tidak jalan otak dan rasa.
Aku panik dan Tante Ida melihat aku, hampir saja tidak terdengar.
"To cari majalah lagi?" tanyanya.
"Apa, apa.. Tante? Oh ya.."
"Kamu kenapa To, mana Ibu?" katanya sambil masuk ke dalam dan pantatnya
disenggolkannya ke pantatku.
"Oh itu Ibu Etty tidur sore.." ujarku.
Aku masih bingung bagaimana dengan Mbak Icih. Tante Ida langsung ke dapur dan
kudengar ia meminta Mbak Icih memanaskan makanan-makanan yang dibawanya.
Hmm aman sedikit, kupikir dia sibuk.
"To, mau makan di sini?" tanya Tante Ida.
"Tidak deh.. aku disuruh jaga rumah kok Tante (he he..he jaga rumah malah
setengah hari di rumah tetangga). Ayah dan ibu semua pada pergi ke Bogor
pulangnya besok pagi-pagi."
"Wah kamu sendiri ya," kata Tante Ida sambil mengedipkan mata.
"I.. iya.. ya.. (wah tadi aku kunci rumah tidak ya)" jawabku sekenanya.
"Ya sudah, kamu mau pulang?"
"Iya iya.."
Aku masih bingung, sudah tidak tahu mesti apa tentang Mbak Icih.
"Nanti Tante ke sana deh lihat kamu," katanya lagi sambil tersenyum berarti.
Aku lantaran bingung hanya bilang iya tanpa ekspresi.
"Kamu baik-baik saja To?" tanyanya lagi.
"Iya Tante.. pulang dulu ya.. itu majalah saya sudah rapikan lagi."
Dan aku pulang sambil berdebar-debar apa yang akan terjadi nanti.
Pulang aku mandi, berusaha menenangkan diri. Dalam hati aku menyesel kenapa
mengikuti nafsu saja, jadi kacau semua akhirnya, pikirku. Tapi ya sudah kupikir
semua sudah terjadi, bagaimana nanti deh. Aku belum makan tapi sudah tidak
kepinginan. Selesai mandi aku bereskan buku untuk besok, berusaha mengalihkan
pikiran.
Bersambung ke bagian 05


Admin Mesum - 05.05

Gairah Tetanggaku 03

Kuulurkan tangan yang gemetar dingin dan dipegang oleh Bu Etty.
"Ya sudah," katanya.
"Ini ayo remas-remas lagi, kan kamu pengen," sambil menaruh kedua telapak
tanganku di atas buah dadanya.
Aku tambah takut dan bingung, tidak percaya, dan kutarik tanganku kembali begitu
menyentuh buah dadanya seperti kena panci panas. Bu Etty malah jadi tertawa
kecil. "Nak To, jangan cemas tidak ngegigit kok buah dadaku," derainya sambil
tersenyum sekarang. "Aku kemarin malem lihat kok kamu jam berapa pulang dari
sini, dan ya aku ngerti kok si Ida itu sama saja memang nafsunya besar sekali.
Seperti aku juga," ujarnya. "Ibu juga seminggu mesti sedikitnya 4 kali main,"
katanya tanpa malu-malu. Aku hanya bisa mengangguk-angguk tidak tahu mesti
menjawab apa. Tahu dong kalian kalau habis begitu kan perut masih mual enek,
terkaget-kaget, duh untung aku tidak ngompol di depan dia deh. Mana dia
ngomongnya blak-blakan begitu seperti bukan orang Indonesia saja. Aku merasa
pening sakit kepala.
"Duh nak Toto kaget ya," sambil berdiri ia menarik aku dan dipeluknya kepalaku ke
buah dadanya. Baru aku agak tenang, dan tiba-tiba terasa tangan Bu Etty turun ke
pinggangku dan "Sret.." sekali tarik celana kaosku sudah ditariknya separuh turun.
"Hi.. hi.. hi.. lihat nak, mengkerut kecil tuh si buyung. Kasian deh kamu, sini Ibu
hiburin dia," sambil ditariknya kepala penisku yang tidur, ia membungkuk dan
seketika handuknya terlepas total jatuh di kakinya dan bebaslah tubuhnya yang
jangkung itu dari segala hambatan. Beda dengan Tante Ida, Bu Etty kulitnya
kuning, turunan Sunda sih. Tante Ida mungkin dapat kulitnya hitam begitu dari
bapaknya yang turunan Ambon barangkali.
Ia berjongkok di depanku, ditaruhnya penisku di tapak tangannya dan disaputkan
ciumannya di penisku sepanjang batangnya, disaputkan dengan halus batangnya,
disaputkan dengan halus, ketika si "Joni" dikasih angin begitu langsung mulai
memanjang deh. Tangannya meremas-remas lembut sekali di buah zakarku dan
aku juga masih shock karena belum pernah tahu ada soal cium mencium alat vital.
Dengan jelas kemarin sama Tante Ida cuma dia kenyot sebentar saja, duh bodoh
benar deh kalau ingat itu.
Didorongnya aku ke tempat tidurnya dan mulutnya sekarang mulai merekah dan
lidahnya terasa kasap keluar menjilat-jilat batang penisku. Tak terkira nikmatnya
dan aku cuma bisa mengeluh lenguh, "Aahh.. ahh.." Kubaringkan badan di tempat
tidur Bu Etty dan si ibu pelan-pelan sambil terus menghisap kepala penisku. Bu
Etty kemudian berputar dan akhirnya vaginanya di atas mulutku. Terbelalak aku
melihat rimba lebat dan mulai merekah lubangnya yang merah seperti kerang
mentah itu. Aku cuma mencium bau nafsu yang keluar dari situ dan kelihatan mulai
basah lubangnya. Tiba-tiba Bu Etty menurunkan pinggangnya dan seketika
vaginanya hanya tinggal 1 cm dari mulutku. Aku angkat kepalaku dan mencium
sedikit bibir vaginanya. "Ahh.." lenguh Bu Etty. "Terus terus To.." wah langsung
kusergap dan kukenyot kencang-kencang dan lidahku beputar-putar menjilat-jilat
lubang dan tepian bibir vaginanya. Tidak mengerti sih mesti diapain.
Dan Bu Etty melepas penisku dan ia duduk di atas bibirku sambil menggosokkan
berputar di atas mulutku, wah aku hampir tidak bisa bernafas. Paha atasnya terasa
mengepit kepalaku dan terasa cairan dari lubangnya tambah banyak. "Ayo To,
lidahnya jilatkan ke atas ke bawah sepanjang bibir vagina Ibu," jelasnya. Wah
tambah deh ilmuku. Kelak ilmuku ini ternyata digemari sekali oleh wanita-wanita
yang pernah kutiduri, ya ini dapatnya waktu sama Bu Etty ini. Eh, ngomong-
ngomong hati-hati ya kalau oral karena salah satu sumber penyebaran AIDS juga
dari cara ini (hayo mau kamu kondomin gimana tuh).
Tiba-tiba kurasa tekanan pinggangnya tambah kencang kandas memepetkan
vaginanya ke bibirku dan ia menjerit-jerit kecil, "Ahh.. ahh.. enakk.. hebat kamu
To.. Ibu enakk sekalii.." rupanya ia orgasme dengan hebat sekali. "Hah.. hah..
hahh.. uhh.." ia terengah-engah dan bibir vaginanya menempel dan ia terbadai
terduduk. Vaginanya masih menempel di mulutku dengan rapatnya. Kutelan cairan-
cairan yang mengalir menetes dari dalam liangya. Dan kudorong sedikit pantatnya
itu sambil lidahku menjilat di sekitar sisi luar bibir vaginanya terus ke arah
pantatnya, aku jilat-jilat pelan. Terasa kasarnya lidahku membuat ia bergelinjang
geli. "Ahh.. ahh.. Toto kamu kok.. pin.. ter.. sekalii.." Dan penisku sudah tegang
keras bukan main yang tadi tersia-sia, disergapnya lagi dan dimasukkannya lagi ke
dalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Lidahnya melilit-lilit di sekitar kepala
penis mengikuti lekak lekuk dan nikmatnya tak terbayangkan, sulit kuceritakan di
sini. Aku mengejangkan kakiku dan pantatku sampai terangkat-angkat dari kasur
sehingga penisku tambah panjang terisap-isap Bu Etty. Bu Etty mengambil bantal
dan disedakkannya di bawah pantatku sehingga terasa sekali penisku seperti
terdorong ke atas tambah panjang.
Bu Etty terus mengenyot dan kepalanya ikut maju-mundur sambil kedua tangannya
meraba-raba zakarku. Sekali-kali dirabanya sekitar antara pantatku dan zakar.
Kukunya yang panjang menggaruk-garuk halus dan gelinya bukan main, menambah
nafsuku. Sampai merinding semua kulitku. Aku terengah-engah sudah tak sadar
bagaimana tingkah kelakuanku. Bu Etty masih tetap nungging di atas kepalaku dan
pemandangan vaginanya menambah nikmat. Kutarik lagi pantatnya dan kulumat-
lumat dengan mulutku lagi. "Auhh aihh.." terdengar suara Bu Etty terhalang
penisku dan seketika kulitnya meremang merinding karena geli dan nafsu.
Aku tiba-tiba merasa spermaku mulai bergelombang mau keluar, kulepas ciuman di
vagina Bu Etty dan aku berderau parau, "Ahh.. Buu.. terus.. terus.." Tapi tiba-tiba
Bu Etty melepaskan mulutnya dan dicekiknya batang penisku sampai sakit sekali
dengan kukunya, "Aauu.. aduhh aduhh.." jeritku kesakitan. Aku terkejut sekali dan
kecewa karena gelombang nikmatnya jadi hilang lenyap, terasa aku frustasi dan
mau meledak marah rasanya. Bu Etty sambil bangkit duduk di sisiku sambil
tertawa dan katanya, "Sudah ya nak Toto.. pakai bajunya gih.." Mulutku selebar
Goa Gajah ternganga bingung. Sadis amat ini orang, kok begini Bu Etty, pikirku.
Maksudnya apa?
Mataku merah dan rasanya berkunang-kunang, pusing rasanya kepalaku dan aku
tidak tahu mesti ngapain. Nafsuku masih menggebu-gebu, nafasku terasa menderu.
Akhirnya aku gelap mata dan kutubruk Bu Etty sampai terjatuh di atas ranjang dan
kubuka pahanya dengan paksa. Terasa ia mencoba menutup pahanya melawan dan
kucegah dengan kedua pahaku. Tangannya kutekan ke kiri dan kanan di atas
keranjang dan ia meronta-ronta. Kutabrakkan penisku ke lubangnya, waduh
susahnya, karena ia menggelinjang-gelinjang. Mulutku mengecup dan mengisap
putingnya. Aduh gimana nih aku sudah nafsu sekali tapi penisku tidak masuk-
masuk. Tiba-tiba kucoba gigit sedikit putingnya dan "Kres.." kucengkeramkan
gigiku. "Auu.." jeritnya dan pinggangnya terdiam, langsung aku manfaatkan dan
kepala penisku kudesakkan masuk ke lubangnya yang basah. Dan aku genjot
kandas batang penisku sedalam-dalamnya biar Bu Etty tidak berontak-berontak
lagi, takut lepas.
Ia masih mencoba meronta-ronta dan nikmatnya hentakan ronta-rontaan itu ke
vaginanya di batangku. Kupaku dengan penisku dan aku tindih dengan badan juga,
buah dadanya yang sintal lepas tertekan dadaku dan tanganku masih
mencengkeram kedua tangan Bu Etty. Setelah dia agak diam, aku goyang hanya
berputar-putar tanpa mencabut batangku lagi kencang-kencang, habis takut dia
berontak lagi. Terasa buah zakarku gondal gandul bergesek-gesek menghantam
menekan sisi bibir vaginanya yang tebal dan bulunya menggesek-gesek buah
zakarku, geli sekali dan meledak-ledak spermaku dalam 2 menit di situ. Aku lupa
diri, luar biasa nikmatnya karena tadi tidak jadi keluar waktu di "karaoke" sama Bu
Etty dan badan kami kejang-kejang. Tiba-tiba Bu Etty membalik dan ia sudah di
atas dan ia menggoyang-goyang pinggulnya dengan putaran kuat. Mataku
terbeliak-beliak nikmat. Buah dadanya bergoyang-goyang liar dan kutangkap
dengan kedua tanganku dan kuperah. Bu Etty juga mendesah-desah keras,
akhirnya orgasme lagi, akhirnya terhempas ia ke atas tubuhku yang penuh keringat.
"Nak Toto enak ya," katanya sambil tersenyum.
"Tadi kusengaja itu karena dengan gitu nikmatnya lebih tinggi lagi."
"Duh Ibu pintar sekali sih, belajar dimana sih?
"Lho kan Ibu turunan orang Sunda juga nak Toto, kalau itu memang bakat alam
soal ginian, makanya pada pinter kalau jaipong."
"Oh itu tadi gerak jaipong ya Bu.."
"Iya dong.." katanya sambil mencubit pelan di buah zakarku yang sudah mengkerut
keriput.
Penisku masih setengah berdiri dan kepalanya merah tua basah ( with an apology
to our Sundanese reader or is it a compliment? No offence meant ladies buddy,
that was my best experience ever.. viva Sundanese ). Kami lalu mandi bebersih
bersama-sama saling menyabuni. Kemudian ya jadinya main juga sekali di kamar
mandi sambil berdiri. Aku bereksperimen diajarkan sama si ibu, memasukkan
penisku dari belakang. Bu Etty membungkuk dan goyang jaipongnya hanya di
kepala penisku tanpa memasukkan seluruh batang. Beda kemarin sama Tante Ida,
kami pakai gaya klasik maju-mundur penisku biar sambil Tante Ida nungging juga.
Kemudian aku diajarkan menjilati klitorisnya tanpa menyentuh bibir vaginanya,
kakinya yang satu ditumpangkannya di tepi bak mandi sehingga terkuak bebas
vaginanya di depan mukaku. Kulilitkan ujung lidahku di kepala klitorisnya dan ia
menggelinjang, buah dadanya terpontal pantil menahan geli. Tanganku segera
meraba ke atas dan berusaha kuperas-peras kedua buah dada itu. Tapi karena aku
di bawah hanya dapat sedikit. Akhirnya Bu Etty agak membungkuk dan buah
dadanya bergantung bebas. Gemas sekali aku dan kami bermain-main di dalam
kamar mandi sampai hampir 1 jam.
Bersambung ke bagian 04


Admin Mesum - 05.01

Gairah Tetanggaku 02

Tiba-tiba dia duduk di pangkuanku dan, "Bless.." masuk kepala jamurku, aku
terkejut karena tidak menyangka akan begitu, aku pikir cuma mau dimasturbasi
saja. Benar tidak siap mental aku kehilangan perjakaku dengan keadaan seperti ini,
aku selalu membayangkan sebelumnya lain. Aku bayangkan dengan teman sebaya.
Dan luar biasa namanya otot vagina itu bisa ya seperti nyedot begitu dan seperti
dijepit dengan apa ya.. susah jelaskan. Kami beraksi tanpa bicara banyak, dan
sambil takut si ibunya datang atau anak-anak itu kan bisa tiba-tiba lari ke ibunya.
Dan Tante Ida turun pelan-pelan, aku merasa agak sakit waktu turun itu, kulit
kepalaku ikut tertarik terus (aku tidak dikhitan). Dan akhirnya Tante Ida sudah
duduk rapat di atas pangkuanku. Dan ia mulai berputar-putar hanya pinggangnya
saja, dan nanar mataku menikmati itu. Jadi penisku di dalam terus, Tante Ida tidak
maju-mundur, ia cuma berputar searah jarum jam atau ke depan belakang, aku
terus meremas-remas adonan daging dadanya. Dasar aku masih belum bisa, baru
kira kira 4 - 5 menit aku sudah merasa gelombang orgasmeku mulai meluap dan
aku tidak bisa ngomong cuma remasan di buah dada Tante Ida. Tanpa sadar aku
jadi meremas kencang sekali. Tante Ida tahu dan dipercepatnya dan perahan
ototnya tambah kencang, ia juga rupanya (aku tahu belakangan) mau mencapai
orgasmenya.
Ia duduk di penisku masuk dalam sekali dan terasa bibir vaginanya di buah
zakarku, ia memutar hebat dan aku orgasme terhebat dalam sejarah hidupku
sampai waktu itu. Supaya tidak menjerit aku tekan mulutku di punggung Tante Ida.
Dia juga rupanya sampai dan terengah-engah. Tiba-tiba si Ita anaknya yang besar
melihat ke kami dan katanya, "Mama kenapa?" Kami seketika membeku diam dan
untung si Ika nonton terus karena pas film kartunnya lagi asyik. Pelan-pelan Tante
Ida mencabut sambil mengencangkan cengkraman ototnya, rupanya supaya
spermaku jangan tumpah kemana-mana. Dan dia bangun sambil membawa
selimutnya terus ke kamar mandi. Aku cepat bersila dan kututup dengan majalah.
Wah baru aku nutupi dan Tante Ida masuk kamar mandi, Bu Etty si oma masuk
kamar dan bilang,
"Eh, anak-anak ayo tidur sudah hampir jam 10.00 malam nih. Eh ada nak Toto
juga, mana Ida?"
"Oh.. itu.." gelagapku, "Lagi ke kamar mandi."
Untung si oma tidak curiga dia kira aku ikut nonton barangkali ya.
"Ayo Oma mau bobo!"
Pas film kartunnya habis dan mereka bilang,
"Selamat malam Kak.."
Begitu mereka pergi aku ikutan masuk kamar mandi, dan si tante masih jongkok
sedang mencuci vaginanya. Aku dekap dari belakang dan si tante berdiri dan
kegelian karena penisku mentul-mentul menyentuh bukit pantatnya. Aku belum
lihat benar bagaimana badan si tante dan aku agak mundur.
Seketika penisku tegang lagi karena yang kulihat sekarang nyata bukan dari tempat
mengintip. Dan tangan si tante memegang lagi batang penisku sambil menyiramnya
untuk mencuci yang tadi. Aku gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa
untuk anak seumurku. Buah dada Tante Ida menantang dan tegar, kelihatan pori-
porinya meremang karena udara agak dingin di kamar mandi. Dan itu bukit
vaginanya gundul sekali dan agak merekah merah terbuka bekas tadi. Aku tak tahu
mesti apa selain meraba buah dadanya lagi kali ini dari depan. Tante Ida menarik
aku dan mencium bibirku, aku menurut saja dan badan kami merapat. Tangannya
terus mengurut-urut batang penisku. Dan aku meraba pantatnya yang sintal
kencang. Buah zakarku pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian Tante Ida
menaikkan kakinya sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi penisku. Lincir
sekali dan panas terasa di batangku. Kali ini Tante Ida bergoyang maju-mundur
dan pantatku juga ditekannya mengikuti irama. Aku ikut saja menggoyangkan
sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya.
Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi pahanya Tante Ida pegal rupanya
dan dicopotnya penisku, kemudian ia berbalik dan nungging pegangan ke bak
mandi. "To dari belakang To," dan tangannya diulurnya dari tengah
selangkangannya, ditariknya penisku dan pelan-pelan digosoknya ke bibir
vaginanya. Aduh panas banget deh itu bibir, terus aku desak maju dan "Bless.."
kepala jamurku masuk bergesek-gesek lincir dengan dinding lubangnya. Tante Ida
juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari perut itu. Aduh luar biasa deh,
aku nanar dan tidak bisa mikir lagi. Pantatku maju-mundur penisku menggaruk-
garuk lubang. Dari posisi ini aku bisa lihat jelas batang penisku basah kuyup dan
bibir vagina Tante Ida ketarik keluar-masuk. Tanganku mengulur ke depan
meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar,
nafas Tante Ida mendengus desah. Akhirnya aku meledak-ledak lagi dan Tante Ida
terbantar dia rupanya sudah duluan orgasme. Setelah itu kami mandi di pancuran
sama-sama dan saling meraba-raba berpelukan dan aku puas sekali memerah
susunya. Buah dadanya juga buat aku bagus sekali, aku puas sekali meremas-
remas itu. Luar biasa wanita ini.
Kemudian kami lanjutkan lagi di ranjang. Dan aku cuma bisa rebah di bawah dan
Tante Ida yang naik di atas. Pantatku diganjal dengan bantal dan terasa penisku
lebih terulur, si tante meremas penisku yang lemas dan pelan-pelan diciumnya
kepala penis dan akhirnya dimasukkan ke mulut dan aku melenguh-lenguh geli dan
agak linu karena sudah dua kali main. Tak lama penisku tegang lagi dan tante naik
menunggangiku sekali lagi menghadapi aku. Buah dadanya bergayut bebas dan
liar, aku meremas-remas sambil menikmati kenyotan vaginanya yang kencang
sekali. Tante Ida ini benar-benar kuda betina binal sekali. Diputarnya pinggulnya
dan terasa sekali dinding otot daging vaginanya meremas-remas batang penisku.
Pelan-pelan orgasmeku mulai bergelombang akan keluar tiba-tiba, dicabutnya
vaginannya, aku menjerit, "Aduhh Tante terusinn dongg.." Dia tertawa dan
diputarnya badannya dan dipegangnya penisku yang sudah panas sekali. Sekarang
tante membelakangiku, dibimbingnya penisku masuk, ia turun dan "Bless.." aku
bisa melihat bibir vaginanya merekah dibelah penisku. Dan ia mulai lagi bergoyang
seperti penari jaipong, luar biasa tak tergambarkan, enak.
Tak lama aku meledak, dan si tante mengandaskan penisku semua masuk dan ia
masih membuat gerakan memutar dengan pinggulnya dan kakinya lurus,
ditekannya habis dan tante pun meledak-ledak melenguh keras, "To.. enak sekali
To.." Benar-benar wanita luar biasa. Dia bilang dia suka sekali hubungan kelamin.
Tapi suaminya sering tugas ke luar kota dan seperti sekarang ini setahun penuh
belajar di **** (edited). Malam itu jam 24.00 lebih baru aku dilepas sama Tante
Ida. Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika
aku kemudian sama Ita anaknya, Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat
enjoy sama-sama waktu Tante Ida ke luar kota sama suaminya.
Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika aku
besar kemudian Ita anaknya juga pernah ngelmu sama aku (gantian setelah aku
ngelmu sama seniornya). Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat enjoy . Ada
lagi Mbak Icih pembantu di rumahnya yang molek juga. Pengalaman-pengalaman
di situ sangat berkesan dan mendidik aku tentang hal sex.
Besoknya tengah hari, aku ke rumahnya lagi karena pagi-pagi tadi aku terbangun
sudah tegang sekali terbawa ke impian segala pengalaman pertama itu. Aku
mengharapkan bisa main lagi karena biasanya anak-anaknya suka dibawa jalan-
jalan sama ibunya Tante Ida kalau hari Minggu. Rupanya sudah pada pergi karena
sepi sekali, wah asyik aku pikir dan nafasku terasa sudah terengah-engah
membayangkan apa yang akan aku alami. Kok sepi sekali, tidak kedengaran suara,
ah mungkin si tante tidur, aku pikir. Aku pelan-pelan ke kamarnya, tidak ada.
Kemana ya? Di kamar mandi aku lihat juga tidak ada. Aku ke paviliun kamar Bu
Etty ibunya Tante Ida mungkin lagi beres-beres di situ, pikirku. Tanpa mengetuk
aku masuk dan dari balik pintu aku lihat ada bayangannya sedang membungkuk
membelakangi di dekat ranjang, segera aku masuk dan kupeluk dari belakang
sambil meremas-remas buah dadanya. "Aiihh.." jeritnya. Astaga! rupanya Bu Etty,
bukan Tante Ida sedang setengah telanjang baru mandi.
Aku ternganga dan tidak bisa bicara dan Bu Etty lemas karena kaget terduduk di
ranjangnya. "Duhh nak Toto kenapa ngagetin Ibu.." dan dia terduduk di ranjangnya,
handuk yang sekedar menutup tubuhnya tidak cukup panjang sehingga bagian atas
handuk turun ke perutnya buah dadanya menggandul lepas bebas. Aku tambah
menganga melihat itu dan penisku di dalam celana pendekku tidak tahu diri, dia
masih tegak saja seperti tiang bendera tujuh belasan. Kami terdiam dan Bu Etty
tak berusaha menutup buah dadanya yang masih sintal. Memang ibu dan anak ini
dikaruniai tubuh yang amat seksi. Bu Etty umurnya kurasa sudah berumur tapi
badannya amat terpelihara, ya seperti itu loh ibu-ibu yang rajin minum jamu-
jamuan. Buah dadanya sama seperti Tante Ida biar agak sedikit turun, dan dia
lebih tinggi dari Tante Ida, jadi anggun sekali.
"Mau ngapain nyari Tante Ida?" tanyanya tanpa sungkan.
Aku tergagap-gagap.
"Eh.. oh itu mm nyari majalah.."
"Lho kok meluk-meluk dan meremes-remes tetek orang," sergahnya.
Aku tambah pucat dan tidak sadar atau terpikir bahwa Bu Etty kok tidak berusaha
menutupi payudaranya itu yang kontal-kantil di depanku.
"Itu anu.. anu.. aku.. sa.. sa.. saya tidak sengaja.." gagapku.
"Mana bisa tidak sengaja orang kamu sudah ngeremes-remes, sakit tahu.."
bentaknya lagi, "Sini kamu!" sergahnya.
"Tanganmu lancang sekali ya, coba sini mana tanganmu! aku mesti laporin sama
ayah kamu."
Aku sudah tambah hijau biru pucat pasi dan keringat dinginku deras mengalir di
punggungku. Penisku yang tadi sudah tegang jadi mengkerut kecil sekecil-kecilnya
lembek di dalam celanaku seperti kura-kura kena gertak kepalanya, masuk deh ke
dalam batoknya. Malah ingin ngompol rasanya.
Bersambung ke bagian 03


Admin Mesum - 04.58

Gairah Tetanggaku 01

Tante Ida, suaminya perwira di satuan **** (edited) dan kami bertetangga. Kamar
tidurku pas di sebelah dapur mereka (kami tinggal di komplek, di rumah dinas
karena ayah saya itu pegawai sipil AD). Jadi hal yang biasa, bangunan tadinya
terpisah di satu kompleks lama-lama dibangun dan tergabung. Dinding pemisah di
depan kamarku itu pakai batu karawang dan ditutup dengan lembar seng. Di depan
dapur Tante Ida itu mereka buat tempat cuci baju sebenarnya. Tapi si tante suka
mandi di situ. Nah, aku sudah lepaskan ujung seng pemisah, jadi bisa mengintip.
Buah dadanya besar. Pernah sekali kuintip terus, dia tahu dan cuma bilang, "Ayo
kamu ngapain?" katanya. Hari Sabtu aku suka main ke rumahnya, anaknya masih
kecil-kecil. Aku suka ke sana karena banyak majalah dan koran dari kantor si oom.
Dan si oom lagi tugas belajar 1 tahun untuk naik pangkat ke Bandung. Di situ ada
ibunya Tante Ida tinggal di situ juga, dia sudah janda; anaknya Tante Ida 2 orang,
waktu itu umurnya 2 – 3 tahunan. Ia menikah setamat SMA waktu itu.
Kira-kira jam 09.00 malam aku masih asyik bongkar majalah-majalah tua dan si
tante memanggil dari kamar. "To, tolong dong Tante agak pegel, pijetin ya!" Biasa
kami memang suka saling tolong, kadang ibu saya minta dikerokin sama Tante Ida
atau Tante Ida minta dibuatkan kue, begitu deh tetangga yang baik. Aku sih tidak
curiga walaupun sering aku intip. Lagi pula anak-anaknya masih pada bangun
nonton video di kamarnya. Biasa film kartun. Aku rada enggan karena masih asyik
baca, sebenarnya. Pintu kamar tidak ditutup, si oma masih di dapur sedang
beberes, jadi tidak ada suasana yang mendukung untuk ngeres-ngeres. Aku masuk
ke kamar masih sambil menenteng majalah, aku pikir sambil mijati (paling
punggungnya, aku pikir) aku mau baca. Soalnya si Oma itu pelit, majalahnya tidak
boleh dibawa pulang.
Waktu di kamar aku lihat Tante Ida pakai daster batik (itu lho yang murahan di
Pasar Senen, 5 ribu ya satunya). "To, ini leher Tante kok kencang dan badan
rasanya pegel linu, mau flu kali ya," katanya. Kemudian dia duduk menghadap TV
di kamar di ranjang besar (ukurannya king , kalau tidak salah) dan katanya, "Pakai
itu saja To, krim Viva." Aku ambil dan duduk di belakangnya, karena dia di tengah
aku jadinya duduk juga ke tengah ranjang dan Tante ada di antara kakiku, majalah
aku buka di samping kanan, aku separuh hati mau pijat karena sedang baca artikel
menarik. Bisa dibayangi ya suasananya, masih ribet, ada anak-anak, ada ibunya,
suara TV kencang. Pokoknya aku sih tidak ada intensi apa-apa.
Tante Ida membuka daster resleting belakangnya, dan aku tuang lotion ke telapak
dan mulai memijat lehernya, sambil baca majalah. Terasa lehernya memang hangat
lebih dari normal. Aku pijat pelan-pelan dan si tante mendesah keenakan (aku
memang pintar mijat kayaknya). Sudah agak lama si tante bilang, "Tolong ke
punggung bawah dong? dan sletingnya turuni lagi saja biar gampang." Aku tarik
sleting dan dasternya tersibak jauh ke kanan dan kiri. Aku agak surprised karena
tidak ada tali BH (mestinya waktu mijat leherku sudah tahu ya karena di atas bahu
tidak ada tali, dasar tidak niat jadi tidak konsen).
Aku tuang lagi lotion dan kusaputkan di punggungnya, "Uhh dingin," kata Tante Ida
sambil membungkuk ke depan lebih jauh. Aku pijati bahunya dan dasternya agak
merosot dan dari kaca meja hias di sebelah pojok kanan TV aku melihat bukit
susunya mulai tersembul separuh lebih dan pikiranku tiba-tiba agak mendesir,
mulai deh ngeres. Majalah sudah tidak aku lihat lagi, penis terasa mulai keras dan
aku sengaja memijatnya agak kugoyang-goyang bahunya dengan harapan
dasternya merosot lagi. Eh, karena agak pas, tidak mau turun lagi. Wah bagaimana
nih, aku agak maju duduknya tapi belum merapatkan barisan ke badan Tante Ida.
Aku lanjutkan memijat ke arah lengan atas dan sengaja kudorong dasternya lagi
dan kali ini berhasil, debar jantungku tambah kencang dan mulutku mulai kering.
Dasternya turun lagi dan pinggir pentil buah dadanya sudah kelihatan. Tapi waktu
kudorong lagi malah tidak mau turun, aku kecewa dan si tante juga diam saja. Ya
sudah aku nikmati seadanya di kaca itu. Lalu aku pijat terus ke arah punggung dan
aku ada ide, aku ulur tanganku memijat dengan keempat jariku mendekati meraba
pangkal buah dadanya, lama aku memijat dan aku berusaha semakin ke depan
keempat jariku (bisa dibayangi tidak). Ya, lumayan aku dapat juga tepi-tepi buah
dadanya. Si tante diam saja sambil nonton TV, aku juga tidak berani melanjutkan
macam-macam (takut ditampar pula).
Aku pijat makin turun ke pinggang dan dasternya susah menghalangi, jadi aku pijat
dari luar (padahal kalau sekarang aku pasti berani ngomong, "Tante ini dasternya
dibuka saja ya.." dasar masih tolol waktu itu). Dari pinggang aku terus ke
pantatnya dan ketika itu penisku sudah keras kencang. Tiba-tiba si tante bergeser,
pegal barangkali duduk diam terus, dan agak mundur, aku tidak sempat
menghindar dan pantatnya kena penisku. Aku pakai celana pendek training dari
kain kaos waktu itu. Dia kaget dan di kaca aku lihat dia agak mesem tapi masih
diam. Aku juga terpana dan merasa salah. Tapi ya aku juga tidak geser
menghindari, jadi aku biarkan saja. Terus si tante ambil selimut besar dan
menutupi kakinya dan pahanya. Kemudian dia menyender agak ke belakang dan
bisiknya, "Pijetin paha Tante dong!" Nah aku mau tidak mau karena dari belakang
jadinya mesti merapatkan badan. Aku ulurkan tangan ke depan ke paha atasnya,
agak bingung dan ketika aku lihat di kaca dia senyum, sambil merem matanya,
buah dadanya masih kelihatan sisi atasnya dan pungungnya terasa hangat di
dadaku dan mukaku dekat lehernya yang jenjang. Aku tak sengaja bernafas di
lehernya dan telinganya dan dia menggelinjang geli. Ya, aku juga jadi berani dan
kuulurkan tangan ke depan memijat paha atas dari bawah selimut. Eh, si daster
rupanya sudah disingkap ke atas dan aku terpegang paha Tante Ida tanpa daster
lagi.
Lututku sudah lemas dan nafasku sudah tidak teratur mendesah di lehernya yang
jenjang. Aku pijat pelan-pelan dan tiba-tiba aku merasa tangan Tante Ida
menjamah ke belakang dan menyentuh penisku. Aku seperti kena lisrik dan sempat
agak menjerit, eh si tante bilang, "Ssst.. diam. Apa sih ini keras bener?" tanyanya
sambil nanar menatap aku di kaca. Dan tangannya meraba makin ke tengah penis
dan tiba-tiba dia membuka kancing celana (kalian tahu kan celana kain kaos itu,
kancing "cepret"-nya cuma dua dan aku memang tidak pakai celana dalam lagi).
Dan Tante Ida menggenggam batang penisku. "To, raba terus pahaku di atasnya,
aku juga masukkan tanganku, astaga! tidak ada celana dalamnya." Dan aku
teruskan jari-jariku (sudah jadi berani dan otakku sudah kacau tidak peduli ada
anak-anak di lantai bawah di depan kami itu, dan suara si oma di dapur masih
klontang klonteng orang berberes). Lebih kaget lagi aku tidak menemukan rambut
apa-apa di pangkal paha atas Tante Ida itu. Padahal waktu aku intip tempo hari
seingatku lebat sekali tuh.
Kuraba-raba terus dan di kaca kelihatan Tante Ida mukanya seperti orang bingung
keenakan (padahal aku belum masukkan ke lubangnya, masih bego aku, karena ini
pengalaman pertamaku, eh aku waktu itu masih di SMP kelas 3). Tante Ida agak
mengangkangkan pahanya dan aku terus mengusap-usap dan menangkupkan
telapakku di bukit gundul itu, tidak tahu mesti apa (uih guoblook tenan kalau kata
Basuki). Hangatnya bukan main, sementara tangan si tante masih mengurut-urut
lembut batang penisku, aku duduk agak maju lagi. Auhh, enaknya bukan main deh
dipegang sama wanita itu. Badan Tante Ida harum juga karena lotion dan ada
semerbak jasmine . Kulit Tante Ida itu hitam manis. Akhirnya dia menyender total
dan tanganya di penis dan buah zakarku, ujung penisku sudah kuyup sama seminal
fluid yang keluar. Aku sudah kepingin benar menangkupkan tangan di buah
dadanya tapi susah karena pasti bisa kelihatan anak-anaknya. Tiba-tiba aku ingin
kencing dan agak sakit rasanya, aku bingung dan akhirnya aku bilang tante bahwa
aku ingin kencing. "Ohh.. ya sudah kamu ke kamar mandi Tante situ!" Aku bangun
dan ke kamar mandi dan sambil menyesel-nyesel takut nanti si tante berubah
pikiran. Aku kencing dan.. astaga! itu kepala penis sudah benar-benar basah, kalau
tidak karena kehalang kencing sudah orgasme mungkin tadi itu. Setelah kencing
aku bersihkan si kepala jamur yang sudah merah tua sekali warnanya.
Waktu aku balik, si tante sudah kemulan sama selimut sambil duduk, aku duduk
lagi di pinggir ranjang dan Tante Ida bilang, "Ayo To, pijetin lagi, kamu duduk
lonjorkan kakimu!" Wah aku jadi semangat lagi, penisku sudah agak layu setengah
ereksi. Kancing "cepret" celana pendekku aku tidak kancing lagi. Begitu duduk aku
rapatkan lagi barisan (he he..he seperti baris berbaris saja). Aku kaget karena
ternyata dasternya tidak ada, pantas Tante Ida kemulan selimut. Dan dia tidak
duduk tapi berlutut bersimpuh agak nungging ke depan. Dia membisikkan, "To, biar
Tante duduk di atas pangkuanmu." Aku melonjorkan kaki rapat dan si tante
mengangkang lalu duduk berlutut pantatnya persis di atas penisku, aku benar-
benar setengah masih merasa apa ini mimpi basah saja. "Kamu pengen pegang
susu Tante kan, ayo kamu raba." Dan di dalam selimut itu aku bebas, tanganku
merajalela. Duh enaknya memerah susu kenyal, dan putingnya terasa kasar di
telapak tanganku, seketika mengeras dan si tante begitu aku meremas gemetar dan
bibirnya terlihat di kaca digigitnya. Aku meremas-remas seperti tukang roti
mengaduk adonan roti. Tangan Tante Ida juga tidak diam, dia menggenggam
penisku dan digosok-gosokkan di bibir vaginanya. Aku merasa luar biasa hangat
itu bukitnya. Dan tanganku kedua-duanya aktif sekali. Jariku memilin pulir-pulir
dan melintir putingnya, besarnya ada sebesar jari kelingking (anaknya doyan ASI
kali ya). Ukuran buah dadanya berapa ya, ada 38C barangkali.
Bersambung ke bagian 02


Admin Mesum - 04.53

Aku dan Teman Adikku

Pertama kali aku mengenal hubungan sexual yang sebenarnya terjadi pada saat
adik perempuanku memperkenalkan kepadaku seorang teman wanitanya. Sejak
pertama kali aku melihat, memang aku sangat tertarik pada wanita ini, sebut saja
namanya Nuke. Suatu saat Nuke datang ke rumahku untuk bertemu dengan adikku
yang kebetulan tidak berada di rumah. Karena sudah akrab dengan keluargaku,
meskipun di rumah aku sedang seorang diri, kupersilakan Nuke masuk dan
menunggu.
Tapi tiba-tiba ada pikiran nakal di otakku untuk nekat mendekati Nuke, meskipun
rasanya sangat tidak mungkin. Setelah berbasa-basi seperlunya, kutawarkan dia
untuk kuputarkan Blue Film. Mulanya dia menolak karena malu, tapi penolakannya
kupikir hanya basa-basi saja. Dengan sedikit ketakutan akan datangnya orang lain
ke rumahku, aku putarkan sebuah blue film, lalu kutinggalkan dia menonton
seorang diri dengan suatu harapan dia akan terangsang. Benar saja pada saat aku
keluar dari kamar, kulihat wajah Nuke merah dan seperti menahan getaran. Aku
mulai ikut duduk di lantai dan menonton blue film tersebut. Jantungku berdegup
sangat keras, bukan karena menonton film tersebut, tapi karena aku sudah mulai
nekat untuk melakukannya, apapun resikonya kalau ditolak.
Kubilang pada Nuke, "Pegang dadaku.., rasanya deg-degan banget", sambil kutarik
tangannya untuk memegang dadaku. Dalam hitungan detik, tanpa kami sadari,
kami telah berciuman dengan penuh nafsu. Ini pengalaman pertamaku berciuman
dengan seorang perempuan, meskipun adegan seks telah lama aku tahu (dan
kuinginkan) dari berbagai film yang pernah kutonton. Mulutnya yang kecil kukulum
dengan penuh nafsu.
Dengan penuh rasa takut, tanganku mulai merayap ke bagian dadanya. Ternyata
Nuke tidak marah, malah kelihatan dia sangat menikmatinya. Akhirnya kuremas-
remas buah dadanya dengan lembut dan sedikit menekan. Tanpa terasa kami
sudah telanjang bulat berdua di tengah rumah. Setelah puas aku mengulum puting
susu dan meremas-remas buah dadanya, mulutku kembali ke atas untuk mencium
dan mengulum lidahnya. Sebentar kemudian malah Nuke yang turun menciumi
leher kemudian dadaku. Tapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan
seorang Nuke yang usianya relatif masih sangat muda, ia terus turun menciumi
perut sambil mulai meremas-remas kemaluanku. Aku sudah sangat terangsang.
Kemudian mataku hampir saja keluar ketika mulutnya sampai pada batang
kemaluanku. Rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku merasakan kenikmatan
yang sedemikian dahsyat. Ujung kemaluanku kemudian dikulum dengan penuh
nafsu. Nampak luwes sekali dia menciumi kemaluanku, aku tidak berpikir lain selain
terus menikmati hangatnya mulut Nuke di kemaluanku. Kupegang rambutnya
mengikuti turun naik dan memutarnya kepala Nuke dengan poros batang
kemaluanku.
Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat
mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya
agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku
mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku
ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku
tetes demi tetes.
Aku tertidur pulas tanpa ingat lagi bumi alam. Kurang lebih sepuluh menit
kemudian aku terbangun. Aku sangat kaget begitu kulihat tepat dimukaku ternyata
kemaluan Nuke. Rupanya pada saat aku tertidur, Nuke terus menjilati kemaluanku
sambil menggesek-gesekan kemaluannya pada mulutku. Meskipun awalnya aku
takut untuk mencoba menjilati kemaluannya, tapi karena akupun terangsang lagi,
maka kulumat kemaluannya dengan penuh nafsu. Aku segera terangsang kembali
karena pada saat aku menciumi kemaluan Nuke, dia dengan ganas mencium dan
menyedot kemaluanku dengan kerasnya. Aku juga kadang merasakan Nuke
menggigit kemaluanku dengan keras sekali, sampai aku khawatir kemaluanku
terpotong karenanya.
Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk
memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras.
Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya
supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku
menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan
pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu
menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku
melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia
takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa
pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya.
Karena aku sudah tidak bernafsu lagi, kujilati kemaluannya sambil berhitung untuk
supaya aku terus mampu menjilati dalam keadaan tidak bernafsu sama sekali.
Pada hitungan ke 143 lidahku menjilati kemaluannya (terakhir clitorisnya), dia
mengerang dan menekan kepalaku dengan keras dan menjerit. Dia langsung tertidur
sampai aku merasa ketakutan kalau-kalau ada orang datang. Kugendong Nuke ke
tempat adikku dalam keadaan tertidur dan kupakaikan baju, lalu kututup selimut,
lantas aku pergi ke rumah temanku untuk menghindari kecurigaan keluargaku.
Inilah pengalaman pertamaku yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tidak yakin
apakah akan kualami kenikmatan ini lagi dalam hidupku.
TAMAT


Admin Mesum - 04.41

ABG Toket Gede 2

Bosan dengan posisi ini, aku kembali duduk di kursi. Novi lalu duduk
membelakangiku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Kusibakkan
rambutnya yang panjang indah itu dan kuciumi lehernya yang putih mulus.
Sementara itu tubuh Novi bergerak naik turun menikmati kejantananku. Tanganku
tak ketinggalan sibuk meremas payudaranya.
"Ahh.. Ahh.. Ahh.." erang Novi seirama dengan goyangan badannya di atas
tubuhku. Terkadang erangan itu terhenti saat kusodorkan jemariku untuk
dihisapnya.
Beberapa saat kemudian, kuhentikan goyangan badannya dan kucondongkan
tubuhnya agak ke belakang, sehingga aku dapat menghisapi payudaranya. Memang
enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini. Dengan gemas kulahap
bukit kembarnya dan sesekali kujilati puting payudara yang berwarna merah muda.
Erangan Novi semakin keras terdengar, membuat aku menjadi semakin bergairah.
Setelah selesai aku menikmati payudara ranumnya, kembali tubuh belia Novi
mencari pelepasan gairah mudanya dengan memompa penisku naik turun dengan
liar. Tak kusangka seorang gadis SMA dapat begini binal dalam bermain seks.
Cukup lama aku menikmati persetubuhan dengan gadis cantik ini di atas kursi. Lalu
kuminta dia berdiri, dan kembali kami berciuman. Kubuka baju seragam sekolah
berikut BH-nya sehingga sekarang kami berdua telah telanjang bulat. Kembali
dengan gemas kuremas dan kuhisap payudara gadis 17 tahunan itu. Aku ingin
segera menuntaskan permainan ini. Lalu kutuntun dia untuk merebahkan diri di
atas ranjang. Aku pun kemudian mengarahkan penisku kembali ke dalam
vaginanya.
"Ahh.." erang Novi kembali ketika penisku kembali menyesaki liang kewanitaannya.
Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah ini. Erangan nikmat kami
berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah
panas suasana. Kulihat Novi yang cantik menggelengkan kepalanya ke kanan dan
ke kiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.
"Mas.. Novi hampir sampai Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh" jeritnya sambil tubuhnya
mengejang dalam dekapanku.
Tampak dia telah mencapai orgasmenya. Kuhentikan pompaanku, dan tubuhnya
pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kuperhatikan butir keringat mengalir di
wajahnya nan ayu. Payudaranya naik turun seirama dengan helaan nafasnya.
Payudara belia yang indah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas
kembali menikmati payudara itu dengan bernafsu.
Setelah itu, kucabut penisku dan kembali kujepitkan di payudaranya. Kali ini aku
yang menjepitkan daging payudaranya pada penisku. Novi masih tampak terkulai
lemas. Lalu kupompa kembali penisku dalam belahan payudara gadis ini. Jepitan
daging kenyal itu membuatku tak dapat bertahan begitu lama. Tak lama aku pun
menyemburkan spermaku di atas payudara gadis SMA yang seksi ini.
*****
Kami akhirnya menginap di motel tersebut. Selama di sana, aku sangat puas
menikmati tubuh sintal Novi. Berulang kali aku menyetubuhinya, baik di atas
ranjang, di meja rias, di kursi, ataupun di kamar mandi sambil berendam di bathtub.
Sebenarnya ingin aku menginap lebih lama lagi, tetapi hari Senin itu aku harus
menemui klienku di pagi hari, sementara ada bahan yang masih perlu dipersiapkan.
Hari Minggu malam, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini ganti Andi yang menyetir
mobilku. Lisa duduk di kursi penumpang di depan, sedangkan Novi dan aku duduk
di belakang. Dalam perjalanan, melihat Novi yang cantik duduk di sebelahku,
dengan rok mini yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembali bergairah.
Akupun mulai menciuminya sambil tanganku mengusap-usap pahanya. Kusibakkan
celana dalamnya, dan kumainkan vaginanya dengan jemariku.
"Ehmm.." erangnya saat klitorisnya kuusap-usap dengan gemas.
Erangannya terhenti karena mulutnya langsung kucium dengan penuh gairah.
Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya
sehingga payudaranya yang besar itu segera mencuat keluar menantang.
"Suka banget sih Mas.. Nyusuin Novi" ucapnya lirih.
"Iya habis susu kamu bagus banget" bisikku.
Desah Novi kembali terdengar ketika lidahku mulai menari di atas puting
payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhisap dengan gemas gunung kembar
gadis cantik ini hingga membuat tubuhnya menggelinjang nikmat.
"Gantian dong Nov" bisikku ketika aku sudah puas menikmati payudaranya yang
ranum.
Kami pun kembali berciuman sementara tangan Novi yang halus mulai membukai
resleting celanaku. Diturunkannya celana dalamku, sehingga penisku yang telah
membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Novi pun kemudian mendekatkan
wajah ayunya pada kemaluanku itu, dan rasa nikmat menjalar di tubuhku ketika
mulutnya mulai mengulum penisku. Sambil menghisapi penisku, Novi mengocok
perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan nikmatku.
"Ihh.. Gede banget.. Lisa juga pengen dong..". Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara
Lisa yang ternyata entah sejak kapan memperhatikan aktifitas kami di belakang.
"Pindah aja ke sini" kataku sambil mengelus-elus rambut Novi yang masih
menghisapi penisku.
Lisa pun kemudian melangkah pindah ke bangku belakang. Langsung kuciumi
wajahnya, yang walaupun tidak secantik Novi tetapi cukup manis. Lidahku dan
lidahnya sudah saling bertaut, sementara Novi masih sibuk menikmati penisku.
"Di.. Bentar ya nanti gantian.." kataku pada Andi yang melotot melihat dari kaca
spion.
"Oke deh bos.." jawabnya sambil terus melotot melihat pemandangan di bangku
belakang mobilku. Setelah puas berciuman, kucabut penisku dari mulut Novi.
"Ayo Lis.. Katanya kamu suka" kataku sambil sedikit menekan kepala Lisa agar
mendekat ke kemaluanku.
"Iya.. Abis gede banget.." katanya sambil dengan imutnya menyibakkan rambut
yang menutupi telinganya.
"Ahh.. Yes.." desahku saat Lisa memasukkan penisku ke dalam mulutnya.
Dihisapinya batang kemaluanku seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop.
Rasa nikmat yang tak terhingga menjalari seluruh syarafku.
Cukup lama juga Lisa menikmati penisku. Sementara itu Novi kembali
menyodorkan payudara mudanya untuk kunikmati. Setelah beberapa lama kuhisapi
payudaranya, Novi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan
menciumi buah zakarku, sementara Lisa masih sibuk mengulum batang
kemaluanku.
"Nih gantian Nov.." katanya sambil menyorongkan penisku ke mulut Novi yang
berada di dekatnya. Novi pun dengan sigap kembali mempermainkan kemaluanku
dengan mulutnya. Sementara itu, kali ini gantian Lisa yang menjilati dan menciumi
buah zakarku.
Saat itu aku merasa seperti sedang berada di surga. Dua orang gadis SMA yang
cantik sedang menghisapi dan menjilati penisku secara bergantian. Kuelus-elus
kepala gadis-gadis ABG yang sedang menikmati kelelakianku itu. Nikmat yang
kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagi. Tetapi sebelumnya
aku ingin menyetubuhi Lisa. Ingin kurasakan nikmat jepitan vagina gadis hitam
manis ini.
Kuminta dia untuk duduk di pangkuan sambil membelakangiku. Kusibakkan celana
dalamnya, sambil kuarahkan penisku dalam liang nikmatnya. Sengaja tak kuminta
dia untuk membuka pakaiannya, karena aku tak mau menarik perhatian kendaraan
yang melintas di luar sana.
"Ah.." desah Lisa ketika penisku mulai menyesaki vaginanya yang tak kalah sempit
dengan kepunyaan Novi.
Lisa kemudian menaik-turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Novi pun tak
tinggal diam, diciuminya aku ketika temannya sedang memompa penisku dalam
jepitan dinding kewanitaannya. Goyangan tubuh Lisa membuatku merasa akan
segera menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Aku berusaha sekuat tenaga
agar tidak ejakulasi terlebih dahulu sebelum dia orgasme. Sambil menciumi Novi,
tanganku memainkan klitoris Lisa.
"Ah.. Terus Mas.. Lisa mau sampai.." desahnya. Semakin cepat kuusap-usap
klitorisnya, sedangkan tubuh Lisa pun semakin cepat memompa penisku.
"Ahh.." erangnya nikmat saat mengalami orgasmenya.
Tubuhnya tampak mengejang dan kemudian terkulai lemas di atas pangkuanku.
Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasiku dalam vagina
gadis manis ini. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri
dengan tisu yang tersedia.
"Mau gantian Di? " tanyaku pada Andi yang tampak sudah tidak tenang membawa
mobilku.
"So pasti dong" jawab Andi sambil menepikan mobil di tempat yang sepi.
Kami pun berganti tempat. Aku yang membawa mobil, sedangkan Andi pindah
duduk di jok belakang. Rencananya dia juga akan main threesome, tetapi Novi juga
ikut beranjak ke bangku depan.
"Aku cape ah Mas.." katanya.
Andi tampak kecewa, tetapi apa boleh buat. Kami pun segera melanjutkan
perjalanan kami. Kudengar suara lenguhan Andi di jok belakang. Lewat kaca spion
kulihat Lisa sedang mengulum penisnya. Karena sudah puas, aku tak begitu
mempedulikannya lagi.
Sesampainya di Bogor, kedua gadis itu kami turunkan di tempat semula, sambil
kuberi uang beberapa ratus ribu serta uang taksi.
"Kalau ke Bogor hubungi Novi lagi ya Mas.." kata Novi manis saat kami akan
berpisah. Kulihat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin mereka curiga
kok ada dua gadis berseragam SMA di hari Minggu, malam lagi he.. He..
"Wan.. Gue doain lu dapat banyak proyek deh.. Biar lu traktir gue kayak tadi lagi.."
kata Andi ketika aku turunkan di depan rumahnya.
"Sip deh.." jawabku sambil pamit pulang.
Kukebut mobilku menyusuri jalan tol Jagorawi menuju Jakarta. Aku tersenyum
puas. Yang dulu selalu menjadi obsesiku, kini bisa menjadi kenyataan. Ternyata
hidup itu indah.
*****
Untuk pembaca yang ingin berkenalan atau mengetahui rahasia sukses bisnisku,
silakan menghubungiku lewat email di bawah.
E N D


Admin Mesum - 04.36

ABG Toket Gede 1

Bagi para pembaca yang belum membaca ceritaku terdahulu yang berjudul "Beli
Mobil Berbonus Seks", perkenalkan namaku Wawan. Aku sedang kuliah di tingkat
terakhir sebuah PTS di Jakarta. Sambil kuliah, aku berwiraswasta. Terimakasih
untuk temanku yang dulu memperkenalkan aku pada bisnis ini, sehingga keadaan
ekonomiku sudah sangat berubah. Aku merasa sangat bersyukur, di saat banyak
sarjana yang masih menganggur, aku yang masih kuliah sudah mendapatkan
penghasilan besar setiap bulannya.
Kejadian ini berlangsung beberapa minggu yang lalu. Saat itu, hari Jumat sore, aku
sedang mengerjakan salah satu proyekku. Seperti biasa untuk refreshing, sambil
menyeruput secangkir kopi, aku membaca email email yang masuk. Segera kubalas
email permintaan proposal dari pelanggan, dan aku pun kadang tertawa geli
membaca email-email joke dari teman-temanku. Tetapi ada satu email yang
menarik perhatianku, yaitu dari temanku yang tinggal di Bogor, Andi. Dia sedang
suntuk dan mengajakku untuk refreshing ke Puncak saat aku tidak sibuk. Kebetulan
besok aku tidak ada acara, hanya perlu mengambil pembayaran ke salah satu
klienku. Terlebih lagi Monika, pacarku, juga sedang keluar kota bersama
keluarganya.
Aku segera mengambil HP-ku dan menelpon Andi, temanku itu.
"Di.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada"
"Gitu donk.. Bebas ni ye.. Emangnya satpam lu kemana?"
"Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawinan"
"Besok jangan kesiangan ya datangnya.. Jam 11-an deh"
"OK"
Setelah itu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.
*****
Pagi itu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampir ke tempat salah
satu klienku di daerah Tebet, untuk mengambil pembayaran proyek yang telah
kuselesaikan. Setelah mengambil cek pembayaran, segera aku menuju tol
Jagorawi. Sialnya ban mobilku sempat kempes, untungnya hal itu terjadi sebelum
aku masuk jalan tol. Akibatnya, sekalipun aku telah memacu mobilku, baru sekitar
jam 12.30 aku sampai di rumah Andi.
"Sialan lu.. Gue udah tunggu-tunggu dari tadi, baru dateng". Andi berkata sedikit
kesal ketika membuka pintu rumahnya.
"Sorry.. Gue perlu ke klien dulu.. Udah gitu tadi bannya kempes, mesti ganti ban
dulu di tengah jalan"
"Anterin gue tambal ban dulu yuk.. Baru kita cabut" sambungku lagi.
"Bentar.. Gue ganti dulu ya". Andi pun kemudian ngeloyor pergi ke kamarnya.
Sambil menunggu, aku membaca koran di ruang tamu. Tak lama Siska, adik Andi,
datang membawa minuman.
"Kok udah lama nggak mampir Mas?"
"Iya Sis, habis sibuk.. Mesti cari duit nih" jawabku.
"Mentang-mentang udah jadi pengusaha.. Sombong ya" godanya sambil tertawa
kecil. Siska ini memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan
menyenangkan. Kami pun bersenda gurau sambil menunggu kakaknya yang sedang
bersiap.
Setelah Andi muncul, kami segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat.
Setelah beres, aku membawa mobilku menuju sebuah bank swasta untuk
mencairkan cek dari klienku. Antrian lumayan panjang hari itu, akibatnya cukup
lama juga kami menghabiskan waktu di sana.
Saat keluar dari bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, sehingga
aku mengajak Andi mampir ke sebuah restoran fast food untuk makan siang. Di
restoran itu, kami bertemu dengan dua gadis ABG cantik yang masih berseragam
SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manis. Tubuhnya tinggi
langsing, dengan kulit agak hitam, tetapi bersih. Sedangkan yang satu berwajah
cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi
yang paling menarik perhatian adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak
besar menerawang di balik seragam sekolahnya. Kami tersenyum pada mereka dan
mereka pun membalas dengan genit.
"Wan.. Kita ajak mereka yuk.." kata Andi.
"Boleh aja kalau mereka mau" jawabku.
"Tapi lu yang traktir ya bos.., kan baru ngambil duit nih"
"Beres deh"
Andi pun kemudian menghampiri mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andi
ini pemberani sekali dalam hal begini. Dia memang terkenal playboy, punya banyak
cewek. Hal itu didukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.
"Lisa.." kata gadis berambut pendek itu saat mengenalkan dirinya.
"Ini temannya siapa namanya" tanyaku sambil menatap gadis seksi temannya.
"Novi" kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Langsung kusambut jabatan
tangannya yang halus itu.
Aku dan Andi lalu pindah ke meja mereka. Kami berempat berbincang-bincang
sambil menikmati hidangan masing-masing. Ketika diajak, mereka setuju untuk
jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesai makan, waktu berjalan menuju
mobil, kulihat payudara Novi tampak sedikit bergoyang-goyang saat dia berjalan.
Ingin rasanya kulumat habis payudara gadis belia itu.
*****
Setelah berjalan-jalan di Puncak menikmati pemandangan, kami pun cek in di
sebuah motel di sana.
"Lu kan yang traktir Wan.. Lu pilih yang mana?" bisik Andi saat kami sedang
mengurus cek-in. Memang sebelumnya aku yang janji akan traktir, karena aku baru
saja menerima pembayaran dari salah satu proyekku.
"Novi" jawabku pendek.
"Hehe.. Lu nafsu liat bodynya ya?" bisik Andi lagi sambil tertawa kecil. Setelah itu,
kamipun segera cek-in. Kugandeng tangan Novi, sedangkan Andi tampak merangkul
bahu Lisa menuju kamar.
Setelah kukunci pintu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Novi. Langsung
kucium bibirnya dengan penuh gairah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan
payudaranya. Setelah puas menciumi bibirnya, kuciumi lehernya, dan kemudian
segera kubuka kancing baju seragamnya.
"Iih Mas.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?" godanya.
Tak kuhiraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak
kekecilan untuk menampung payudaranya yang besar itu. Langsung kuhisap
dengan gemas daging kenyal milik Novi, gadis SMA cantik ini.
"Ahh.. Ahh" erangnya ketika puting payudaranya yang telah mengeras kujilati dan
kuhisap. Tangan Novi mengangkat payudaranya, sambil tangannya yang lain
menekan kepalaku ke dadanya.
"Enak Mas.. Ahh" erangnya lebih lanjut saat mulutku dengan ganas menikmati
payudara yang sangat menggoda nafsu birahiku.
"Jilati putingnya Mas.." pintanya. Erangannya semakin menjadi dan tangannya
menjambak rambutku ketika kuturuti permintaannya dengan senang hati.
Puas menikmati payudara gadis belia ini, kembali kuciumi wajahnya yang cantik.
Lalu kutekan bahunya, dan diapun mengerti apa yang aku mau. Dengan berjongkok
di depanku, dibukanya restleting celanaku. Tak sabar, kubantu dia membuka
seluruh pakaianku.
"Ih.. Mas, gede banget.." desahnya lirih ketika penisku mengacung tegak di depan
wajahnya yang cantik. Dielusnya perlahan batang kemaluanku itu.
"Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?"
"Belum Mas.. Punya cowok Novi nggak sebesar ini." jawabnya. Tampak matanya
menatap gemas ke arah kemaluanku.
"Arghh.. Enak Nov.." erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
Dijilatinya lubang kencingku, dan kemudian dikulumnya penisku dengan bernafsu.
Sementara itu tangannya yang halus mengocok batang penisku. Sesekali
diremasnya perlahan buah zakarku. Rasa nikmat yang tiada tara menghinggapi
tubuhku, ketika gadis cantik ini memompa penisku dengan mulutnya. Kulihat
kepalanya maju mundur menghisapi batang kejantananku. Kuusap-usap rambutnya
dengan gemas. Karena capai berdiri, akupun pindah duduk di kursi. Novi kemudian
berjongkok di depanku.
"Novi isap lagi ya Mas.. Novi belum puas.." katanya lirih.
Kembali mulut gadis belia ini menghisapi penisku. Sambil mengelus-elus
rambutnya, kuperhatikan kemaluanku menyesaki mulutnya yang mungil. Ruangan
segera dipenuhi oleh eranganku, juga gumaman nikmat Novi saat menghisapi
kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang
menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan daging kenyal itu.
"Nov.., jepit pakai susumu Nov.." pintaku.
Novi langsung meletakkan penisku di belahan payudaranya, dan kemudian kupompa
penisku. Sementara itu tangan Novi menjepitkan payudaranya yang besar, sehingga
gesekan daging payudaranya memberikan rasa nikmat luar biasa pada penisku.
"Yes.. Yes.." akupun tak kuasa menahan rasa nikmatku. Setelah beberapa lama,
kusodorkan kembali penisku ke mulutnya, yang disambutnya dengan penuh nafsu.
Setelah puas menikmati mulut dan payudara gadis SMA ini, kuminta dia untuk
bangkit berdiri. Kuciumi lagi bibirnya dan kuremas-remas rambutnya dengan
gemas. Tanganku melepas restleting rok seragam abu-abunya, kemudian kuusap-
usap vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya.
Kusibak sedikit celana dalam itu dan kuusap-usap bibir vagina dan klitorisnya.
Tubuh Novi menggelinjang di dalam dekapanku. Erangannya semakin menjadi.
Aku sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini. Kubalikkan badannya dan kuminta
dia menungging bertumpu di meja rias. Kubuka celana dalamnya sehingga dia
hanya tinggal mengenakan baju seragamnya yang kancingnya telah terbuka.
"Ahh.." jeritnya panjang ketika penisku mulai menerobos vaginanya yang sempit.
"Gila.. Memekmu enak banget Nov.." kataku ketika merasakan jepitan dinding
vagina Novi.
Langsung kupompa penisku di dalam vagina gadis cantik itu. Sementara itu,
tanganku memegang pinggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat.
Novi pun menjerit-jerit nikmat saat tubuh belianya kusetubuhi dengan gaya doggy-
style. Kulihat di kaca meja rias, wajah Novi tampak begitu merangsang. Wajah
cantik gadis belia yang sedang menikmati persetubuhan. Payudaranya pun tampak
bergoyang-goyang menggemaskan di balik baju seragamnya yang terbuka.
Ke Bagian 2


Admin Mesum - 04.31

ABG Tetangga

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku
tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak
kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan
anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan
mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya.
Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno
seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu
menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada
video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah,
belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat
kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang
belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku
terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku
uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta
jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan
membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan
ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong
sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil
menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai
menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di
ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di
sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di
situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang.
Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya
membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja
bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku.
Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak
tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny
yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku,
"inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih
kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting
birahimu terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok
membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan
CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap
tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang
bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha
memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari
lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun
aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-
jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap
menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih
dibalut celana warna hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.
Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas.
Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil,
berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya
juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya.
Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih
perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang
keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta
dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang
mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan
mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik.
Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32.
Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan
kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua
kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah
tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih
perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-
main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah
tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai
Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang
masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak
ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya.
Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan
kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher
penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang
berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya.
Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi.
Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat
ada sepercik darah membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan.
Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di
atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras.
Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme.
Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit
lengan atau pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk
kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku
muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi
perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya
yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil
dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa
meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi
menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG
tetangga.
TAMAT


Admin Mesum - 03.54

Selasa, 02 April 2013

Seks Pertamaku Dengan Tetangga

Selasa, 02 April 2013

Aku seorang pemuda yangbaru menginjak usia 16 tahun, dan untuk menambah uang sakuku, aku bekerja sebagai pencucu mobil tetangga.
Kendaraan kesukaanku adalah mobil tetangga Leslie.
Pertama dia memiliki kendaraan audi yang cantik dan kedua pemilik kendaraan tersebut memiliki tubuh yang sangat seksi! hahaha..
Bagiku yang masih bau kencur ini, pemilik mobil tersebut yang jauh lebih tua dariku (usia 20 tahun) tetap memiliki aura gadis muda yang erotis walaupun kini ia hidup terpisah dengan suaminya karena kasus selingkuhan sang suami dengan salah satu pegawai admin di kantor tersebut.
Aku telah menyelesaikan tugasku (mencuci mobilnya) dan segera menekan bel pintu rumahnya untuk memberitahukan bahwa tugasku telah selesai.
Aku mendengar suara dari dalam, “Masuklah”.
Aku membuka pintu dan segera masuk.
Leslie segera turun dari anak tangga dengan mengunakan handuk mandinya.
Handuk tersebut sangat kecil sehingga sedikit saja keatas maka bagian kemaluannya akan terlihat jelas.
“Ma’af”, jawabku malu melihat kondisi demikian. “Rasanya anda memperkenankan saya masuk”
“Tidak, saya tadi bilang saya akan segera datang.” Dia menjelaskan. “Tapi, sudahlah tidak apa.”
“Mobilnya telah siap.” Balasku kembali.
“Berapa, $5 nggak masalah?” Dia bertanya.
“Tidak apa.” balasku kembali.
Mbak Leslie melihat disekeliling ruang tamu dan mengambil tasnya yang berada di sofa kursi.
Ia mencoba meraih tas tersebut sambil menahan handuknya. Satu tangan menahan handuk, tangan lainnya berusaha membuka tasnya.
Karena tas tersebut agak sulit dibuka dengan satu tangan, ia berusaha dengan cepat melepaskan tangan satunya untuk membantu membuka tas tersebut. Sedangkan handuk tersebut hanya sedikit terkunci melipat.
Dia berusaha mengatur posisinya agar aman bagi handuknya…tetapi handuk itu malah slip dan mencoba melorot.
Gerakan refleksi tangannya terlambat untuk menahan handuk yang terlepas tersebut.
Aku melihat sebuah pemandangan payudara yang sangat mengasyikan dan mengagumkan!
Aku menelan air ludah.!
Setelah dibenahi kembali posisi handuk tersebut, ia mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya dan itu cuma $3.
“Hmmm…sepertinya kurang”, gumamnya…
kemudian ia kembali membuka tasnya dan berusaha menekan handuknya dengan kedua sisi lengan tangannya.
Dlm pencarian sisa $2 tsb, handuk tersebut terlepas kembali dan kali ini ia membiarkan saja.
Oh…my….god..payudara begitu kencang, bulu vagina yang begitu halus dan rapi serta pinggul dan pantat yang sangat mengembang!
Perfect body!!!!
“Ia bergumam datar tanpa menoleh kepadaku; kupikir kamu tidak masalah dengan segitu saja?”. Dan terus fokus untuk mencari sisa uang dalam tasnya
“Tidak.” balasku.
“Baiklah, kalau begitu.Aku akan memberikan sisanya esok saja.” Ia membalas cepat.
“Bukan, bukan itu maksudku (masalah sisa uang tsb),” balasku sambil melotot memandang tubuhnya. “Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, maksudku.”
“Benarkah?” Dia bertanya kalem.
“Ya…hanya di buku dan tv.” balasku.
“Jadi bagaimana menurutmu?” Dia bertanya sambil mendekat.
“Anda begitu cantik sekali.” kataku sedikit gemetar.
“Terima kasih.” Dia membalas sambil berada tepat sejengkal dihadapanku. Aku dapat merasakan panas dari tubuhnya.
Leslie kemudia menarik tanganku dan menempelkannya diatas payudaranya, lembut…kejal….dan celanaku menjadi tidak karuan bentuknya. AKu merasa tidak nyaman dengan posisi penis didalam celanaku.
Leslie meraih ikat pingangku dan membuka kancing jeans ku. Dan melorotkannya!
Penisku mengembang didalam celana dalamku dan mengarah kesamping.
Kemudian ia meraih penisku dari dalam celana dalamku. Saat yang kunanti telah tiba.
“Kamu sudah besar ya…”jawabnya pada penisku sambil tersenyum. “Biar aku yang mengurusmu!.” katanya nakal pada penisku sambil menyentil kemaluanku.
Aku hanya diam seribu bahasa. Ia menarikku untuk tidur dilantai.
Kemudian ia menindihku.
“Aku yakin ini tidak akan lama.” katanya mengoda sambil mengerayangi tubuhku hingga menuju batang penisku.
“Ee…” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Aku merasa ia mencium penisku dan kemudian ada terasa hangat pada saat penisku berada dalam mulutnya.
Tak terbayangkan rasa itu, dia berhenti sejenak dan kemudian melahap penisku sangat dalam hingga aku merasa menyenggol kerongkongannya.
Dia benar! Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku, aku tidak kuasa menahan semua tekanan darah dalam penisku.
Penisku mulai mengencang hebat dan rasanya dengan hisapan demikian aku sudah tidak sanggup lagi untuk mencegah spermaku keluar.
Penisku menyemprot sperma dalam mulutnya!.
Mbak Leslie tidak juga melepas lumatan penisku, ibarat bayi yang sedang menyusui…ia menghisap semua spermaku dan menjilat semua sperma yang masih membekas di penisku.
“Bagaimana rasanya…sayang?” Dia bertanya.
“Wowwww, enak sekali mbak.” balasku.
Ia kemudian berbaring disampingku. Aku berbalik dan segera menindihnya.
Aku meremas dan mengelus semua bagian tubuhnya.
Aku bergerak kearah mulutnya dan segera melumat bibir mungil itu. Kamipun saling fiting lidah.
Aku mencoba meraih bagian vagina dengan tanganku dan segera menarik dan mengesek itil dari mbak leslie.
“Kalem dong sayang.” mbak leslie segera meraih tanganku dan membimbingnya untuk mengosok bibir dan clitorisnya dengan perlahan.
KAmi terus melanjutkan ciuman kami, kemudian ia menekan kepalaku kebawah menuju arah vaginanya.
Aku tahu ia ingin aku melumat vaginanya.
Kulihat vagina itu sudah mulai basah dan aku mencoba menusuknya dengan jariku. Tetapi mbak leslie masih dalam kontrol yang baik, ia meraih tangaku untuk mengesek bagian luarnya lebih dahulu.
Kulihat itil nya turun naik merasakan birahi yang sudah mulai naik pada wanita ini.
Kemudian ia memegang jariku untuk masuk dalam vaginanya.
Jarikupun masuk sedalamnya dalam vagina mbak leslie. Tak lama kemudian kedua paha mbak leslie merapat dan menjepit jariku.
Kurasakan gerakan ‘kembang kempis dan panas’ dalam vagina tersebut.
Sepertinya vagina tersebut lagi berusaha ‘mengemut’ jariku!.
Aku hanya bisa menatap tubuh dan wajahnya yang cantik. Rambutnya yang terurai berantakkan menambah kekagumanku atas tubuh wanita ini.
“Apakah kamu berfikir ini sudah nikmat?” Dia bertanya mendadak.
“Ya.” balasku.
“Ohhh…belum sayang.” balasnya kemudian.
Dia melepaskan jariku dalam vaginanya dan mandorongku untuk tidur dilantai. Kemudian dengan cekatan ia sudah berada diatasku.
Ia meraih penisku dan mengarahkan dalam vaginanya.
Dia benar, saat penisku mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginanya, pikiranku kosong dan menerawang entah kemana.
Hingga vagian itu menelan semuanya dan menyentuh buah zakarku….aku seperti terbang tinggi.
Kemudian ia melipatkan kakinya dan layaknya seorang joki, ia mengangkat cukup tinggi pantatnya dan menghujamkan dengan keras pada penisku….wooooowwwww…..that’s really fucked!!!!
Dan mulailah irama tungangan kuda yang cukup kencang dilakukan mbak leslie.
Penisku dipelintir kesana kemari. Kiri-kanan, maju-mundur….
Sepertinya ia ingin mematahkan batang penisku !
“Ini nikmat sekali tante…!.” kataku menjerit.
“Aku membutuhkan itu.” Dia membalas sambil terengah-engah. “3 bulan kesendirianku akan kubalas padamu!” Katanya geram sambil menghempaskan vaginanya pada penisku!
Sepertinya mbak leslie menumpahkan semua birahi terpendam akibat kejengkelan dengan sang suami.
Ini bagaimana cara ia mengenjot penisku dengan ‘kasar’.
“Bisakah kau rasakan ini?” balasnya sambil mengigit bibirnya sendiri dan membengkokkan penisku kedepan.
Aku merasa penisku ditarik dan dikait vagina mbak leslie kesana kemari.
Rasanya sedikit keras dan sakit…tapi tetap kurasakan rasa nikmat yang liar dari style seperti ini….
“Bagaimana dengan ini?” sambil ia memaksa memasukkan sedalam-dalamnya penisku dalam vaginanya.
Mimiknya sedikit geram pada tubuhku, dan rasanya ia ingin menelan buah zakarku….liar sekali…
Tak ada genjotan yang halus!…..Semua sentakan dan benturan mengunakan tenaga kuda!
Tak ada yang dikurangi…’Bagaimana dengan ini…hah?!” sahutnya geram sambil menghujamkan vaginanya dalam penisku dan digoyangnya pinggulnya sehingga membuat batang penisku seperti melintir….
Liar sekali….!..ia seperti kerasukan setan!…
Aku merasakan spermaku sudah akan keluar kembali…”Mbak aku sudah tidak kuat..” balasku memberitahunya….
“Tak apa sayang…keluarkan saja apa yang kamu punya..” jawabnya sambil terengah-engah.
“Didalam?”, balasku lagi…
“He…eh…” balasnya sambil menghujam penisku bertubi-tubi….
Ia menunduk dan mengigit putingku….”auwwww…” teriaku sedikit menjerit…
“Pelan2 mbak..”, pintaku…
Mbak leslie tidak perduli sambil terus mengigit putingku kiri dan kanan, ia memutar pantatnya seperti gilingan!
Aku sudah tidak kuat…Mbak aku sudah hampir mau keluar…!
“Sabar sayang, mbak juga….kita barengan..” pintanya.
Dan akhirnya ia berkata, “kamu siap?”, sambil terus memompa penisku dengan irama yang sungguh cepat!
“Yaaaa…”,balasku.
Dan karena tak kuasa lagi, ku**kan spermaku dalam vagina itu, serrr…serrr…serrr…
3x kali ku**kan spermaku dalam vagina mbak leslie dan rasanya nikmattttttttttt sekaliiiiii.
Sepertinya “kedutan” vagina itu siap2 untuk hal yang sama…
Dan tak lama kemudian segera ia bangkit mengangkangiku dan menyuruhku untuk menyodok semua jariku dalam vaginanya….
Lima jariku-pun kumasukkan dalam vagina tersebut…dan kusodokkan keluar masuk….
“Aku sudah mau keluarrrr….” jawab mabak leslie berteriak panjang.
Dan benarlah…jemariku semakin merasakan “jepitan kedut-kedut’ dalam vagina itu…
Kemudian tiba2 ia menarik dan mengeluarkan tanganku…dan memberikan vaginanya ke arah mukaku…
“Masukkan lidahmu sayang….masukkan!”, perintahnya sedikit memaksa!
“Owww…geli bercampur ngeri…”, bathinku…
Vagina itu nampak becek sekali akibat spermaku!
Mbak leslie segera menjambak rambutku dan menyodorkan mukaku secara rapat ke vagina nya…
“Masukkan sayang lidahmu…dan mainkan!”, katanya memohon sambil memaksa.
Aku memasukkan semua lidahku dalam vagina itu dan mengerakkannya seperti ular dalam gua…
Ia menuntaskan dengan mengeluarkan sperma nya dalam kurun waktu yang cukup lama pada lidahku dan sperma itu mengalir masuk dalam mulutku…Ia berteriak keras, “ouwwwwww….yess….yessss..”, entah berapa kali **an halus spermanya menyentuh lidahku.
“Suck me babe…suck me”, katanya sambil menjambak rambutku.
Rasanya lama sekali ia mengeluarkan pejuh nya….
“Rasakan itu…boy…rasakan!”, cerocosnya ngawur dan geram..
Ia benar2 menumpahkan semua orgasmenya pada mulutku!
“Ooohh…yeah…that’s right….”, katanya sedikit mengakhiri orgasme tersebut.
Aku tidak bisa berbuat apa2…jambakannya begitu keras dan dengan kepalaku yang sedikit mengangkat, maka sperma campuran itu tertelan olehku…
Asin…anyir…dan aku rasanya mau muntah….
“Oooohhhh….yesss…”, jawabnya lega sambil belum melepaskan jambakan tanganya pada rambutku.
Seolah ia ingin aku menghabisi semua sperma yang ada pada vagina tersebut..
Aku sudah tidak tahan dan segera aku berontak….karena aku tersedak hebat dan mau muntah jika dipaksakan terus….
Akupun melompat dan segera kuhempaskan kesamping tubuh mbak leslie…
Aku terbatuk dan tersedak…Ku keluarkan sisa sperma yang masih ada dalam mulutku…
Mbak leslie hanya memandangku dengan tertawa kecil dan puas…
“Bagaimana sayang..?”, jawabnya lemas sambil tersenyum
“Luar biasa mbak..”, jawabku sekenanya setelah kondisiku sudah mulai tenang.
“Kalau ada waktu, kita lakukan ini kembali ya say…”, balasnya meminta.
“Ya…kita lihat nanti gimana keadaanya..”, balasku capek.
“Benarkah?” balasnya.
“Ya”, jawabku enteng.
Akhirnya kami sudahi permainan tersebut, dan uang $5 tidak jadi kuambil…
Rasanya pengalaman ini jauh lebih berharga.
Akhirnya kami melakukan kembali pada waktu tertentu, hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke negara bagian karena kasus cerai dengan mantan suaminya telah selesai.
Selamat tinggal mbak leslie…kataku dalam hati menghantarkan kepergiannya.


Admin Mesum - 23.26

siti pembantuku yang manis part 2 ( tamat )

Keesokan harinya berlalu seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hanya aku melihat suatu perubahan sikap dan cara berpakaiannya, selalu memakai daster longgar tanpa BH kalau dia sedang di rumah dan hanya berpakaian pantas apabila dia pergi ke pasar atau disuruh isteriku ke warung. Hal ini mempermudah bagiku untuk menyentuh bahkan meremas susunya bila kebetulan aku lewat di dapur atau kalau dia membersihkan kamar tidurku, tentu bila tidak terlihat isteriku.Malam berikutnya aku diajak oleh isteriku beserta anakku yang masih bayi untuk menjenguk orang tuanya yang tinggal di Bogor tapi aku bilang aku agak lelah karena aku baru menyelesaikan tugas kantor yang agak memakan tenaga, jadi aku ingin istirahat di rumah. Akhirnya isteriku pergi bersama kakaknya sekeluarga ke Bogor. Tinggalah aku sendiri di rumah bersama Siti. Saat ini yang memang kutunggu-tunggu.

Setelah makan siang di rumah, aku mengantarkan isteriku ke rumah kakaknya, sebelumnya isteriku berpesan kepada Siti, "Siti, kamu jangan kemana-mana yaa, jaga rumah dan jangan lupa masak sayur lodeh untuk bapak. Itu makanan kesukaan bapak. Bapak nggak jadi ikut aku, dia ada urusan dengan temannya dan akan makan di rumah nanti malam," kata isteriku. "Iya Bu.." jawab Siti dengan hormat.

Setelah aku mengantarkan isteriku, aku pulang. Sampai di rumah kira-kira jam 18:00 kulihat makanan sudah siap di meja. Tapi Siti tidak terlihat olehku, kucari dia ke kamarnya. Pintu kamarnya tertutup lalu kubuka sedikit dan aku melihat dia sedang terbaring telungkup dan tangan kanannya di dalam celana dalamnya bergerak-gerak. Aku menelan ludah melihat adegan tersebut dan perlahan-lahan aku masuk. Dia belum menyadari bahwa aku sudah di dalam kamarnya.

"Siti manis.." aku berbisik dekat telinganya. Gerakannya berhenti dan dia membalikkan badannya sehingga wajahnya persis di depan wajahku.
"Bapaak.." jawabnya lirih dan langsung memeluk dan bibir kami berpagutan erat sampai aku terengah-engah dibuatnya.
"Saya kangen, Pak.." jawabnya lagi setelah melepaskan ciumannya sambil tersenyum sayu.
"Kangen sama siapa, Neng.." tanyaku menggoda dan tanganku mulai menyentuh susunya yang kenyal dan padat itu sambil memuntir putingnya. Dia mengerang halus dan manja. Tanpa banyak bicara aku mulai membuka kancing dasternya dan menciumi susunya yang amat kusuka, terus kukulum putingnya, nikmat sekali! Siti juga tidak tinggal diam, reitsleting celanaku dibukanya dan tangannya langsung masuk ke dalam celana dalamku, dia memegang dan meremas batang kejantananku.

Siti tertawa kecil sambil berkata, "Kok kecil Pak..?"
"Ayo kamu harus membuat dia besar dan tegang dong," jawabku.
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, sambil batang kejantananku masih dipegangnya kubuka baju dan celanaku, kemudian kubuka juga dasternya. Aku menelan liurku melihat susunya yang montok. Langsung kucium dan kujilat putingnya yang berwarna merangsang dan tambah keras.

"Pak.. saya mau seperti kemarin lagi, enak Pak," katanya lagi sambil mengocok batang kejantananku yang semakin tegang. Kurebahkan dia dan kupeluk sambil mencium bibirnya, terus turun ke susunya, kuisap putingnya yang merah kecoklatan. Siti mengerang halus sambil mengelus kepala dan punggungku tanda nafsunya meningkat. Ciumanku terus turun ke perutnya, pusarnya sampai ke pangkal pahanya. Disitu aku berhenti sejenak sambil mengintip ke arah wajahnya. Siti menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Perlahan-lahan aku turun ke arah kedua pangkal pahanya dan dia membuka kedua pahanya sehingga aku bisa melihat liang senggamanya yang berwarna merah muda disertai bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Aku mulai dengan mencium serta menjilat bibir kemaluannya terus ke arah klitorisnya, dia menggelinjang sambil mengerang nikmat tanda nafsunya memuncak, Siti juga memegang kepalaku dan menekannya erat-erat. Sementara tangan kananku ikut mengocok batang kejantananku agar cukup tegang. Kurasakan liang senggama Siti basah dan kujilati dan rasanya, "Hmm.. nikmat sekali.." dengan rasa serta bau yang khas wanita kampung.

"Paakk.. saya nggak tahan, Paak.." kudengar bisikannya.
Aku naik ke atas tubuhnya dan kuarahkan batang kejantananku ke bibir kemaluan Siti, terus kutempelkan sambil mengelus klitorisnya dengan kepala kejantananku.
"Pelan-pelan Paak.. saya udah lama nggak main," katanya dengan lirih.
"Iya Ti, aku akan masukkan pelan-pelan.. tahan yaa.." jawabku sambil nafasku mulai memburu.
Kumasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, terasa sempit. Kudorong pelan-pelan, masuk kepalanya.
"Ooohh.. pelan-pelan Paakk.. sakit, tapi terus Paak..!" desahnya lagi.
Aku merasakan liang senggamanya makin basah dan kudorong terus, rasanya tambah licin, kurasakan liang senggamanya berdenyut-denyut, "Edan betul ini perempuan!!" aku tersadar sejenak dan ingat bahwa dia orang Ciamis dan perempuan-perempuan Ciamis banyak yang terkenal dengan permainan seks-nya yang menggairahkan, mungkin Siti juga expert dibidang ini.

Pelan-pelan batang kejantananku masuk sampai akhirnya terasa kepalanya menyentuh dinding bagian dalam liang senggamanya. Sambil memeluknya dan menciumi susunya serta mengulum putingnya aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur seirama dengan goyangan pantat Siti yang gempal dan kenyal itu. Siti mengerang-erang halus.

"Masih sakit Tii.. ngga kan?" aku bertanya sambil mencoba mempertahankan nafasku yang mulai menderu-deru tanda bahwa nafsuku mulai mendekati puncaknya. Dia menggelengkan kepalanya. "Mmmff.. oohh.. aahh.. enaak Paakk.." sambil terus mengerang-erang kenikmatan. Kurasakan lagi liang senggamanya memijit batang kejantananku setiap kutarik pantatku seolah-olah Siti tidak mau batang kejantananku keluar sedikitpun dari lubang kenikmatannya. Aku merasa tidak tahan lagi mungkin karena aku begitu bernafsu untuk menggelutinya sejak dari awal, terasa liang senggamanya makin basah dan cengkramannya pada leher serta kepalaku makin kuat.

Tiba-tiba dia berteriak kecil dan menggigit pundakku pelan tapi membuatku kaget disertai dengan kedua kakinya yang melingkari pinggangku, kedua pahanya menjepit dengan keras. "Ooohh.. mmff.. aahh.. Paakk.. mm.." tidak ada yang dapat dia katakan saat itu, dan aku tahu pasti dia mencapai orgasme yang hebat. Aku terus menggoyangkan pantatku dan mempercepat karena aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa, batang kejantananku di dalam liang senggamanya berdenyut-denyut, tak tahan lagi aku. "Tii.. aakuu keellauuar.. Tii.." Kurasakan desakan hebat dan nikmat betul di batang kejantananku dan dengan dorongan pantatku ke dalam membenamkan batang kejantananku di liang senggamanya, ku**kan spermaku kira-kira mungkin 5-6 kali. Kupeluk Siti dan kucium bibirnya dan kami berdua berpagutan sampai klimaks orgasme kami selesai. Mungkin lebih kurang 5 menit kami berpagutan seolah-olah tidak akan terlepaskan.

Akhirnya kulepaskan pagutan serta pelukanku sambil memandang Siti yang terlihat puas dengan apa yang terjadi. Batang kejantananku masih terbenam dalam di liang senggamanya yang terasa banjir oleh sperma kami berdua.
"Gimana Ti..?, enak.. Kamu puas kan..?" tanyaku lembut.
Dia tersenyum mengangguk sambil memegang pipiku, "Iya Pak, selama kawin saya nggak pernah merasa enak seperti tadi, Paak.. oohh?" jawabnya sambil bermain dengan bibirku di tangannya.
"Saya nggak pernah digituin itunya pake lidah seperti yang Bapak tadi lakukan.." jawabnya dengan bahasa yang kumengerti bahwa dia tidak cukup mengecap sekolah lanjutan.
"Apa itunya yang digituin sama lidah saya..?" kujawab lagi mengikuti sambil tersenyum.
"Iiih Bapak.. jangan banyol aahh.." katanya lagi.
"Ti.. aku mau lagi Tii, kamu masih mau nggak..?" tanyaku sambil mempermainkan puting susunya yang membuatku terangsang lagi dan kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut lagi mulai tegang di dalam liang senggamanya.
Siti mengangguk sambil tersenyum, terlihat deretan giginya yang putih bersih dan dia berkata, "Mau aja Pak, tapi saya mau juga gituin punya Bapak.. boleh kan?"
"Punya saya mau digituin..? digituin bagaimana..?" tanyaku menggoda.
"Iiih Bapak, banyolan teruus..diisep, dijilatin seperti punya saya dijilatin, diisep sama Bapak.. enak sih." jawabnya lagi sambil tertawa kecil manja.
Aku menggangguk, "Boleh, nanti aku ajarin caranya, jangan seperti kemarin.. aku kurang puas yaa.."

Aku bangun berusaha melepaskan batang kejantananku tapi Siti menahanku sambil tersenyum seolah-olah dia masih ingin menikmati batang kejantananku di dalam liang senggamanya yang agak sempit tapi nikmat. Tidak terasa aku melihat jam tanganku sudah jam 19:00, jadi dari awal sampai selesai 1 jam lamanya, lama juga ya.

Akhirnya dia melepaskanku dan berdua kami telanjang bulat menuju kamar mandi tanpa khawatir dilihat orang atau tetangga karena di rumah hanya kami berdua dan hari sudah malam. Di kamar mandi kami saling menyiram dan membersihkan badan kami terutama batang kejantananku dan liang senggama Siti. Kusentuh liang senggamanya sambil kusiramkan air dan sebaliknya Siti juga membersihkan batang kejantananku sambil dibelainya dengan lembut. Nafsuku bangkit kembali dan kubelai klitorisnya sambil mencium bibirnya yang sexy itu dan dia memelukku sambil mendesah-desah kecil tanda nafsunya pun mulai bangkit. Cepat-cepat kami mengeringkan badan dan dengan lembut kami berciuman lagi sambil berjalan menuju kamarku.

Kududukan dia di tempat tidur lalu kuambil tangannya dan kugenggamkan pada batang kejantananku. Dia melihat ke arahku sambil menciumi batang kejantananku perlahan-lahan. "Ti.. kamu jilat di sekeliling kepalanya, baru diisep, terus kulum sampai dalam yaa.." kataku sambil membelai pipinya yang lumayan halus. Siti melakukannya apa yang kukatakan dan aku merasakan nikmat batang kejantananku dikulum dengan lembut, "Gila ini pembantu.. udah mulai mengerti permainan blow job!!"

Sambil batang kejantananku masih dikulumnya, kurebahkan dia dan aku berbalik dengan posisi dia di atasku dan kutarik pahanya sehingga liang senggamanya tepat di atas wajahku. Benda nikmat itu kubelai, kucium labia pinggirnya dan akhirnya klitorisnya kukulum dan kugigit-gigit kecil dengan lembut, lidahku masuk ke dalam liang nikmat yang langsung basah akibat permainan lidahku. Siti menggelinjang saat lidahku masuk ke dalam liang nikmatnya itu sambil mendesis karena batang kejantananku yang makin tegang dan keras masih berada di dalam mulutnya.

Beberapa saat kami melakukan foreplay sampai akhirnya kedengaran dia mengerang-erang, "Paakk.. ayo doong, saya pengen dimasukin lagii, Paak.." katanya. Kubalikkan badannya sehingga dia berada di atasku yang terlentang dan kupegang batang kejantananku yang sudah siap tempur itu sambil mengarahkan ke liang senggamanya yang sudah basah. "Kamu belum pernah kan dengan cara seperti ini?" tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala sambil membenarkan posisi kakinya diantara pinggangku. Kemudian dengan tangan kiriku kutekankan pinggulnya yang padat sehingga batang kejantananku masuk dengan mulus ke dalam liang senggamanya dan dia langsung menutup mata sambil menjatuhkan badannya ke arahku.

"Aaaww Paak.. eenaak.." Dia menciumku dengan ganas kali ini dan mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Siti melepaskan ciumannya dan bertopang tangan di dadaku sambil tetap meggoyangkan pantatnya naik turun. Tanganku juga tidak tinggal diam, memegang kedua susunya yang putih montok sambil memutar-mutar putingnya yang merak kecoklatan, Siti mulai menjerit kecil tanda dia mulai hampir orgasme. Terasa olehku liang senggamanya makin basah dan berdenyut memijiti batang kejantananku, gerakannya makin cepat dan tidak beraturan dan akhirnya dia menjatuhkan dirinya lagi ke arahku sambil memeluk dan menjerit kecil serta menggigit bahuku tapi kutahan kepalanya agar jangan terlalu keras menggigit bahuku agar tidak berbekas, nanti bisa jadi pertanyaan nyonya rumah kalau kelihatan merah.

Beberapa saat dia mengejang merasakan kenikmatan orgasme. Kembali kubalikkan badan kami berdua supaya batang kejantananku tidak lepas dari liang senggamanya. Sekarang posisiku di atas, entah kenapa aku amat menyenangi posisi konvensional ini dari pada macam-macam style seperti doggy, samping, belakang dlsb.

"Gimana rasanya Ti..?" Aku bertanya sambil kukecup bibirnya.
"Enak sekali Pak, Siti belum pernah kaya gitu.. Bapak belum keluar yaa?" aku hanya menggelengkan kepala. Dia membalas kecupanku dan menggoyangkan pantatnya, aku langsung memberi respon dengan mulai menggoyangkan pantatku naik turun dan sekali-sekali kuputarkan seperti di BF yang kupernah tonton. Siti mengerang lirih, kedua kakinya dilingkarkan dan menjepit ke pinggangku dan aku pun mulai merasa kenikmatan batang kejantananku yang mulai berdenyut, kukecup bibirnya, turun ke susunya, kuhisap putingnya dengan nafsu yang tinggi, dia menjerit kecil waktu putingnya kugigit dengan gemas.

Beberapa saat pahanya menjepit pinggulku dengan keras dan menarik mulutku dari putingnya dengan agak kasar dan menciumku dengan ganas. "Paakk.. saayaa.. ngg.. enaakk.. keluaarr laagii.. Paak!" jeritnya perlahan. "Aku juga Tii.. oohh.." kupeluk dia dengan erat sambil merasakan denyut di kepala kejantananku yang sudah tidak tahan, akhirnya kusemburkan spermaku ke dalam liang senggama Siti. Kami berdua tergeletak lemas di atas tempat tidurku yang sudah tidak karuan lagi bentuk sepreinya. Malam itu kami lalui berdua, sampai subuh kusetubuhi Siti sampai 4 kali keluar spermaku, entah berapa kali dia keluar.

Demikianlah aku dan Siti melakukan hubungan seks, selingkuh atau apapun namanya dengan nikmat tanpa ketahuan isteriku selama 2 tahun dan kami menikmatinya dengan asyik dan aku juga memastikan untuk memberikan Siti obat anti hamil supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak enak.Masuk tahun ketiga Siti bekerja di tempatku, dia pamit pulang kampung dengan janji akan kembali, tapi nyatanya dia tidak pernah kembali. Isteriku mencoba mencari tahu dari teman-temannya yang bekerja di tempat adik isteriku dan mereka mengatakan Siti sudah kawin lagi dan hidup dengan suaminya yang kedua di Lampung. Aku benar-benar terkesan dengan keluguannya dalam berhubungan seks dengannya.
Itulah pengalamanku dengan pembantuku yang manis asal Ciamis.

TAMAT   


Admin Mesum - 23.25
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved