;

Rabu, 29 Mei 2013

Gairah Tetanggaku 01

Rabu, 29 Mei 2013

Tante Ida, suaminya perwira di satuan **** (edited) dan kami bertetangga. Kamar
tidurku pas di sebelah dapur mereka (kami tinggal di komplek, di rumah dinas
karena ayah saya itu pegawai sipil AD). Jadi hal yang biasa, bangunan tadinya
terpisah di satu kompleks lama-lama dibangun dan tergabung. Dinding pemisah di
depan kamarku itu pakai batu karawang dan ditutup dengan lembar seng. Di depan
dapur Tante Ida itu mereka buat tempat cuci baju sebenarnya. Tapi si tante suka
mandi di situ. Nah, aku sudah lepaskan ujung seng pemisah, jadi bisa mengintip.
Buah dadanya besar. Pernah sekali kuintip terus, dia tahu dan cuma bilang, "Ayo
kamu ngapain?" katanya. Hari Sabtu aku suka main ke rumahnya, anaknya masih
kecil-kecil. Aku suka ke sana karena banyak majalah dan koran dari kantor si oom.
Dan si oom lagi tugas belajar 1 tahun untuk naik pangkat ke Bandung. Di situ ada
ibunya Tante Ida tinggal di situ juga, dia sudah janda; anaknya Tante Ida 2 orang,
waktu itu umurnya 2 – 3 tahunan. Ia menikah setamat SMA waktu itu.
Kira-kira jam 09.00 malam aku masih asyik bongkar majalah-majalah tua dan si
tante memanggil dari kamar. "To, tolong dong Tante agak pegel, pijetin ya!" Biasa
kami memang suka saling tolong, kadang ibu saya minta dikerokin sama Tante Ida
atau Tante Ida minta dibuatkan kue, begitu deh tetangga yang baik. Aku sih tidak
curiga walaupun sering aku intip. Lagi pula anak-anaknya masih pada bangun
nonton video di kamarnya. Biasa film kartun. Aku rada enggan karena masih asyik
baca, sebenarnya. Pintu kamar tidak ditutup, si oma masih di dapur sedang
beberes, jadi tidak ada suasana yang mendukung untuk ngeres-ngeres. Aku masuk
ke kamar masih sambil menenteng majalah, aku pikir sambil mijati (paling
punggungnya, aku pikir) aku mau baca. Soalnya si Oma itu pelit, majalahnya tidak
boleh dibawa pulang.
Waktu di kamar aku lihat Tante Ida pakai daster batik (itu lho yang murahan di
Pasar Senen, 5 ribu ya satunya). "To, ini leher Tante kok kencang dan badan
rasanya pegel linu, mau flu kali ya," katanya. Kemudian dia duduk menghadap TV
di kamar di ranjang besar (ukurannya king , kalau tidak salah) dan katanya, "Pakai
itu saja To, krim Viva." Aku ambil dan duduk di belakangnya, karena dia di tengah
aku jadinya duduk juga ke tengah ranjang dan Tante ada di antara kakiku, majalah
aku buka di samping kanan, aku separuh hati mau pijat karena sedang baca artikel
menarik. Bisa dibayangi ya suasananya, masih ribet, ada anak-anak, ada ibunya,
suara TV kencang. Pokoknya aku sih tidak ada intensi apa-apa.
Tante Ida membuka daster resleting belakangnya, dan aku tuang lotion ke telapak
dan mulai memijat lehernya, sambil baca majalah. Terasa lehernya memang hangat
lebih dari normal. Aku pijat pelan-pelan dan si tante mendesah keenakan (aku
memang pintar mijat kayaknya). Sudah agak lama si tante bilang, "Tolong ke
punggung bawah dong? dan sletingnya turuni lagi saja biar gampang." Aku tarik
sleting dan dasternya tersibak jauh ke kanan dan kiri. Aku agak surprised karena
tidak ada tali BH (mestinya waktu mijat leherku sudah tahu ya karena di atas bahu
tidak ada tali, dasar tidak niat jadi tidak konsen).
Aku tuang lagi lotion dan kusaputkan di punggungnya, "Uhh dingin," kata Tante Ida
sambil membungkuk ke depan lebih jauh. Aku pijati bahunya dan dasternya agak
merosot dan dari kaca meja hias di sebelah pojok kanan TV aku melihat bukit
susunya mulai tersembul separuh lebih dan pikiranku tiba-tiba agak mendesir,
mulai deh ngeres. Majalah sudah tidak aku lihat lagi, penis terasa mulai keras dan
aku sengaja memijatnya agak kugoyang-goyang bahunya dengan harapan
dasternya merosot lagi. Eh, karena agak pas, tidak mau turun lagi. Wah bagaimana
nih, aku agak maju duduknya tapi belum merapatkan barisan ke badan Tante Ida.
Aku lanjutkan memijat ke arah lengan atas dan sengaja kudorong dasternya lagi
dan kali ini berhasil, debar jantungku tambah kencang dan mulutku mulai kering.
Dasternya turun lagi dan pinggir pentil buah dadanya sudah kelihatan. Tapi waktu
kudorong lagi malah tidak mau turun, aku kecewa dan si tante juga diam saja. Ya
sudah aku nikmati seadanya di kaca itu. Lalu aku pijat terus ke arah punggung dan
aku ada ide, aku ulur tanganku memijat dengan keempat jariku mendekati meraba
pangkal buah dadanya, lama aku memijat dan aku berusaha semakin ke depan
keempat jariku (bisa dibayangi tidak). Ya, lumayan aku dapat juga tepi-tepi buah
dadanya. Si tante diam saja sambil nonton TV, aku juga tidak berani melanjutkan
macam-macam (takut ditampar pula).
Aku pijat makin turun ke pinggang dan dasternya susah menghalangi, jadi aku pijat
dari luar (padahal kalau sekarang aku pasti berani ngomong, "Tante ini dasternya
dibuka saja ya.." dasar masih tolol waktu itu). Dari pinggang aku terus ke
pantatnya dan ketika itu penisku sudah keras kencang. Tiba-tiba si tante bergeser,
pegal barangkali duduk diam terus, dan agak mundur, aku tidak sempat
menghindar dan pantatnya kena penisku. Aku pakai celana pendek training dari
kain kaos waktu itu. Dia kaget dan di kaca aku lihat dia agak mesem tapi masih
diam. Aku juga terpana dan merasa salah. Tapi ya aku juga tidak geser
menghindari, jadi aku biarkan saja. Terus si tante ambil selimut besar dan
menutupi kakinya dan pahanya. Kemudian dia menyender agak ke belakang dan
bisiknya, "Pijetin paha Tante dong!" Nah aku mau tidak mau karena dari belakang
jadinya mesti merapatkan badan. Aku ulurkan tangan ke depan ke paha atasnya,
agak bingung dan ketika aku lihat di kaca dia senyum, sambil merem matanya,
buah dadanya masih kelihatan sisi atasnya dan pungungnya terasa hangat di
dadaku dan mukaku dekat lehernya yang jenjang. Aku tak sengaja bernafas di
lehernya dan telinganya dan dia menggelinjang geli. Ya, aku juga jadi berani dan
kuulurkan tangan ke depan memijat paha atas dari bawah selimut. Eh, si daster
rupanya sudah disingkap ke atas dan aku terpegang paha Tante Ida tanpa daster
lagi.
Lututku sudah lemas dan nafasku sudah tidak teratur mendesah di lehernya yang
jenjang. Aku pijat pelan-pelan dan tiba-tiba aku merasa tangan Tante Ida
menjamah ke belakang dan menyentuh penisku. Aku seperti kena lisrik dan sempat
agak menjerit, eh si tante bilang, "Ssst.. diam. Apa sih ini keras bener?" tanyanya
sambil nanar menatap aku di kaca. Dan tangannya meraba makin ke tengah penis
dan tiba-tiba dia membuka kancing celana (kalian tahu kan celana kain kaos itu,
kancing "cepret"-nya cuma dua dan aku memang tidak pakai celana dalam lagi).
Dan Tante Ida menggenggam batang penisku. "To, raba terus pahaku di atasnya,
aku juga masukkan tanganku, astaga! tidak ada celana dalamnya." Dan aku
teruskan jari-jariku (sudah jadi berani dan otakku sudah kacau tidak peduli ada
anak-anak di lantai bawah di depan kami itu, dan suara si oma di dapur masih
klontang klonteng orang berberes). Lebih kaget lagi aku tidak menemukan rambut
apa-apa di pangkal paha atas Tante Ida itu. Padahal waktu aku intip tempo hari
seingatku lebat sekali tuh.
Kuraba-raba terus dan di kaca kelihatan Tante Ida mukanya seperti orang bingung
keenakan (padahal aku belum masukkan ke lubangnya, masih bego aku, karena ini
pengalaman pertamaku, eh aku waktu itu masih di SMP kelas 3). Tante Ida agak
mengangkangkan pahanya dan aku terus mengusap-usap dan menangkupkan
telapakku di bukit gundul itu, tidak tahu mesti apa (uih guoblook tenan kalau kata
Basuki). Hangatnya bukan main, sementara tangan si tante masih mengurut-urut
lembut batang penisku, aku duduk agak maju lagi. Auhh, enaknya bukan main deh
dipegang sama wanita itu. Badan Tante Ida harum juga karena lotion dan ada
semerbak jasmine . Kulit Tante Ida itu hitam manis. Akhirnya dia menyender total
dan tanganya di penis dan buah zakarku, ujung penisku sudah kuyup sama seminal
fluid yang keluar. Aku sudah kepingin benar menangkupkan tangan di buah
dadanya tapi susah karena pasti bisa kelihatan anak-anaknya. Tiba-tiba aku ingin
kencing dan agak sakit rasanya, aku bingung dan akhirnya aku bilang tante bahwa
aku ingin kencing. "Ohh.. ya sudah kamu ke kamar mandi Tante situ!" Aku bangun
dan ke kamar mandi dan sambil menyesel-nyesel takut nanti si tante berubah
pikiran. Aku kencing dan.. astaga! itu kepala penis sudah benar-benar basah, kalau
tidak karena kehalang kencing sudah orgasme mungkin tadi itu. Setelah kencing
aku bersihkan si kepala jamur yang sudah merah tua sekali warnanya.
Waktu aku balik, si tante sudah kemulan sama selimut sambil duduk, aku duduk
lagi di pinggir ranjang dan Tante Ida bilang, "Ayo To, pijetin lagi, kamu duduk
lonjorkan kakimu!" Wah aku jadi semangat lagi, penisku sudah agak layu setengah
ereksi. Kancing "cepret" celana pendekku aku tidak kancing lagi. Begitu duduk aku
rapatkan lagi barisan (he he..he seperti baris berbaris saja). Aku kaget karena
ternyata dasternya tidak ada, pantas Tante Ida kemulan selimut. Dan dia tidak
duduk tapi berlutut bersimpuh agak nungging ke depan. Dia membisikkan, "To, biar
Tante duduk di atas pangkuanmu." Aku melonjorkan kaki rapat dan si tante
mengangkang lalu duduk berlutut pantatnya persis di atas penisku, aku benar-
benar setengah masih merasa apa ini mimpi basah saja. "Kamu pengen pegang
susu Tante kan, ayo kamu raba." Dan di dalam selimut itu aku bebas, tanganku
merajalela. Duh enaknya memerah susu kenyal, dan putingnya terasa kasar di
telapak tanganku, seketika mengeras dan si tante begitu aku meremas gemetar dan
bibirnya terlihat di kaca digigitnya. Aku meremas-remas seperti tukang roti
mengaduk adonan roti. Tangan Tante Ida juga tidak diam, dia menggenggam
penisku dan digosok-gosokkan di bibir vaginanya. Aku merasa luar biasa hangat
itu bukitnya. Dan tanganku kedua-duanya aktif sekali. Jariku memilin pulir-pulir
dan melintir putingnya, besarnya ada sebesar jari kelingking (anaknya doyan ASI
kali ya). Ukuran buah dadanya berapa ya, ada 38C barangkali.
Bersambung ke bagian 02

Anda sedang membaca artikel tentang Gairah Tetanggaku 01 dan anda bisa menemukan artikel Gairah Tetanggaku 01 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/gairah-tetanggaku-01.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Gairah Tetanggaku 01 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Gairah Tetanggaku 01 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 04.53
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved