;

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Si Dukun Cabul 01

Rabu, 29 Mei 2013

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto. Aku adalah salah satu dari sekian banyak
orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren "paranormal" atau yang
dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun. Ya, aku adalah
orang yang bergelar mbah dukun, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak
percaya dengan segala hal begituan.
Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu,
aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut
bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam
cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan
banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya
masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku
belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi
omelan dan gerutuan istri.
Dalam keadaan sebal itulah aku bertemu dengan mbah Narto, kakek tua yang
dengan gagahnya memproklamasikan diri sebagai paranormal paling top. Karena
masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku
ketika dia lagi "buka praktek" di kotaku. O ya, aku tinggal di sebuah kota
kecamatan kecil di Jawa tengah, dekat perbatasan jawa Timur (nggak perlulah aku
sebut namanya). Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan
negara yang lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan
malam.
Eh, kembali ke mbah Narto, tampaknya si mbah punya perhatian khusus kepadaku
(atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis
terhadap gaya perdukunannya?). Suatu hari ia berbicara serius denganku,
mengajakku untuk menjadi "murid"nya. Walah, aku hampir ketawa mendengarnya.
Murid? wong aku sama sekali tidak percaya segala hal takhayul macam itu, kok
mau diangkat menjadi murid? tetapi segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika
mbah Narto menjelaskan: "punya ilmu ini bisa buat cari uang, Dar." Katanya: "apa
kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun
ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget." Katanya
dengan meyakinkan dan mata melotot.
Aku menggaruk kepalaku. Apa benar? Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun tetap
dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik
turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa
berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh.
Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama
mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi setiap mbah Narto menanyakan "apa kamu
sudah ketemu jin ini atau jin itu" atau "apa kamu melihat cahaya cemlorot (bahasa
Indonesia: berkelebat)" waktu aku bersemadi, yah aku iyakan saja. Kok susah –
susah amat.
Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Narto menyatakan aku sudah lulus
ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa). Dan dia memperkenalkan aku
sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang
"aeng-aeng" alias aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama aku dipercaya untuk
buka praktek sendiri, di rumahku, dengan mempergunakan kamar samping rumah
sebagai tempat praktek (meskipun aku harus membuat Yu Mini kakakku marah-
marah karena meminta dia pindah kamar tidur).
Setelah beberapa bulan praktek, nasehat mbah Narto ternyata benar (ini satu-
satunya nasehatnya yang benar, aku kira): bahwa jadi dukun itu banyak duit! aku
baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah
terletak pada ilmunya (yang aku nggak percaya sama sekali), tetapi pada
kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa
membuat pasien setengah mati percaya dan tergantung padanya, dengan segala
cara dan tipu daya.
Pada mulanya beberapa orang datang minta tolong padaku, katanya menderita
sakit aneh, pusing-pusing yang tidak tersembuhkan. Aku dengan lagak meyakinkan
memberikan mantra, menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air
kembang (di dalamnya sudah kucampur gerusan obat Paramex). Eh.. mereka
sembuh. Dan sejak itulah pasien datang membanjir padaku. Ada yang minta
disembuhkan sakitnya (kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau nggak
sembuh baru kembali. Sebagian besar memang tidak kembali), ada yang minta
rejeki (itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem) ada pula yang
mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain (kalau itu tinggal
dinasehatin saja).
Jadi inilah aku, mbah Dar, dukun ampuh dari lereng Merapi (lucu ya, aku dipanggil
mbah wong umurku baru 25 tahun). Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre
di rumahku, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman
depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku
dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar,
jangan mbohongi orang). Yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada
gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam,
tampang yang meyakinkan (aku sekarang pelihara jenggot panjang, pakai jubah
putih kalau praktek) maka orang-orang sangat percaya kepadaku.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang
meruntuhkan segala-galanya.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan
aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari "meja
kerja"ku, menuju pintu dan bermaksud menutupnya. Tetapi kulihat si Warno
sekretarisku menghampiri: "ada pasien satu lagi mbah" bisiknya: "cah wadon (anak
perempuan) huayuu banget". Dia nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di
depan. Di sana aku melihat seorang gadis dengan memakai T shirt putih dan rok
warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang
memperhatikan TV yang memang kusediakan di situ.
"Masuk, nduk" kataku dengan suara berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri,
dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya
dengan jelas. Aduh mak, dia memang betul-betul cantik. Rambutnya yang sebahu
bewarna hitam lurus, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima
merekah (walah, puitis banget..). Tubuhnya bongsor dengan buah dada yang
seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya. Aku kira umurnya paling
banter baru 17 atau 18 tahun.
"Sugeng dalu (selamat malam) mbah.." katanya agak bergetar. Wuih, suaranya
juga seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapakan aku
menyilahkannya masuk, diiringi sorot mata nakal si Warno yang seperti akan
menelan bulat-bulat si gadis itu. Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari
ngibrit sambil terkikik-kikik. Aku segera menutup pintu.
Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan.
Tangannya ngapurancang di pangkuannya, wajahnya menunduk. Cantik sekali.
Dengan pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan
lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan
baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Asap dupa segera
memenuhi ruangan kecil itu.
"Siapa namamu, nduk?"tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan
persiapan.
"Suminem, mbah" katanya. Wah, nama lokal betul.
Aku berdeham: "berapa umurmu? "
Si cantik itu menjawab pelan, tetap menunduk: "empat belas tahun, mbah". Wah,
aku hampir terlonjak kaget. Empat belas tahun? masih kecil banget, tetapi
bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..
Aku menelan ludah: "bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke
sini. Ada masalah apa nduk?" aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi
meja yang penuh segala pernik perdukunan. Si Suminem sekarang mengangkat
kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri kanan.
Suaranya yang kecil bergetar: "nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah
dan takut. Nyuwun tulung mbah.." suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti
sedu sedan.
Kemudian dengan cepat dan dengan suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada
seorang laki-laki, bernama Kasno, yang sangat ditakutinya. Kasno adalah
tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak segerendeng, tetapi masih hijau
matanya kalau melihat cewek cantik. Karena rumahnya sederetan dengan rumah
Suminem, tiap hari dia bisa melihat Pak Kasno memandangnya seperti tidak
berkedip. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan
kamar mandi rumah Pak kasno, maka semakin besar kesempatan lelaki hidung
belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang bahenol itu. Bahkan pernah suatu
hari Suminem berteriak – teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia
sedang mandi melihat kepala Pak kasno mengintip dari bagian atas kamar mandi
yang memang tidak tertutup. Itu saja belum cukup. Hingga suatu hari..
"Pak Kasno tiba-tiba mendatangi saya, mbah" katanya. Si hidung belang itu
katanya bicara baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat
Suminem kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil air, entah apa itu. Dengan
sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh
Suminem. Tentu saja si gadis kecil nan bahenol itu berteriak, tetapi Pak kasno
cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut memberi penjelasan: "Enggak apa-
apa, Nem, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan,
jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang. Bener lho Nem, nanti
setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagiaa sekali". katanya tersenyum.
Suminem tentu saja semakin kesal: "bahagia bagaimana to Pak?" tanyanya: "Wong
sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala."pak
Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: "wong bocah cilik,
durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-
laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu" dan dengan bicara begitu si hidung
belang ngeloyor pergi.
Setelah kejadian itu "Pikiran saya jadi bingung, mbah" cerita Suminem: "setiap
malam saya menjadi terbayang wajahnya Pak Kasno, sepertinya dia itu mau
menerkam saya saja" dia bergidik ngeri: "malah saya sampai mimpi.." Dia tidak
melanjutkan. Aku pura-pura menghela napas penuh simpati. Sebenarnya, kalau
saja yang bicara ini bukan gadis sebahenol Suminem pasti aku sudah menyuruhnya
angkat kaki. Bosen. Tapi melihat anak secantik ini, waduh, kok tiba-tiba.. rasanya
ada yang berteriak-teriak di balik celanaku..
Jangkrik tenan, pikirku. Rasanya aku mulai terangsang pada gadis ini.
"Teruskan Nduk" kataku penuh wibawa: "kamu mimpi apa?"
Suminem menggigil. Suaranya tersendat-sendat: "aduh mbah, nyuwun sewu, mbah,
saya lingsem (malu) banget.." Wah, ini dia. Dengan gaya kebapakan (kok sama
dengan ceritanya soal si hidung belang Kasno itu?), aku berdiri dan mendatangi
dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. Nafsuku
tambah naik: "wis, wis" kataku menenangkan: "ora susah bingung. Ceritakan saja.
Si mbah ini siap mendengarkan kok".
Akhirnya setelah mengatur napas, Suminem melanjutkan: "anu.., saya sering
mimpi, lagi di anu sama Pak Kasno. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini
rasanya semakin sering". Aku berusaha menahan tawa: "dianu kuwi opo karepe
(apa maksudnya) to Nduk?" dia tampak semakin malu: "ya itu lho mbah..seperti
katanya kalau suami istri lagi dolanan (bermain) di kamar itu lho.. katanya mbak-
mbak saya seperti itu". Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Tambah kugoda
lagi (meskipun tetap dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan):
"coba to ceritakan yang jelas, seperti apa yang dilakukan si Kasno dalam mimpimu
itu?"
Akhirnya si Suminem ini tampaknya berhasil menguatkan hatinya. Suaranya lebih
mantap ketika menjelaskan: "pertamanya. Saya ngimpi Pak Kasno berdiri di depan
saya, wuda blejet (telanjang bulat). Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus..
Pak Kasno memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga.." dadanya
naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu.
Aku semakin panas mendengar ceritanya itu: "apanya saja yang dia cium, Nduk?"
tanyaku. Suminem tampak malu "di sini, Mbah" katanya sambil menunjuk buah
dadanya: "di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik. Terus ke bawah juga.." Ke
bawah mana, tanyaku: "ke..ini Mbah, aduh, lingsem aku. Ke ini, tempat pipis saya.
Di ciumi dan dijilati juga.." dia semakin menunduk malu. Suaranya terhenti. Nah,
tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Segera aku bertindak.
"KASNO KEPARAT!" teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti si Suminem
yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku: "Mbah.. Mbah.. kenapa Mbah?"
tanyanya bingung.

Anda sedang membaca artikel tentang Kisah Si Dukun Cabul 01 dan anda bisa menemukan artikel Kisah Si Dukun Cabul 01 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/kisah-si-dukun-cabul-01.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Kisah Si Dukun Cabul 01 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Kisah Si Dukun Cabul 01 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 05.26
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved