;

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Si Dukun Cabul 02

Rabu, 29 Mei 2013

Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Suaraku penuh
ketegasan tetapi juga bernada kuatir: "Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si
kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan
dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya,
sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia
tinggal menguasaimu saja.."mataku mendelik: "mesakake banget (kasihan sekali)
kowe Nduk.." si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang
meluncur seperti senapan mesin itu: "terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah.."
katanya seperti orang setengah sadar.
Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: "berat, Nduk. Aku
bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik
kepadaku. Bisa mati aku." Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: "jadi..
lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan suara
bergetar. Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal
dan hangat): "ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu" kataku kebapakan: "aku
akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau
nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?"
kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: "matur
nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi.."
Kulepaskan pelukanku. Sekarang suaraku berubah penuh wibawa: "sekarang, untuk
menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus nglakoni persis sama dengan mimpimu
itu" kataku: "buka bajumu, Nduk". Ku lihat matanya terbeliak heran, tetapi segera
meredup dan dia menghela napas: "inggih Mbah, sakkerso (terserah) kulo nderek
kemawon (saya ikut saja)". Dan dengan cepat ia membuka kaos T-shirtnya,
meletakkan di kursi. Aku menelan ludah. Branya putih, berkembang-kembang. Buah
dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan
itu.(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pikirku. Jangan – jangan anak ini
kebanyakan hormon pertumbuhan).
Sekarang ia membuka roknya, merosot di lantai. Ia berdiri di depanku, tetap dengan
sangat hormat. Tangannya ngapurancang di depan celana dalamnya. Dia
memandang padaku dengan polos: "Sudah, Mbah" katanya. Aku mendeham:
"belum Nduk" kataku: "Aku bilang semuanya. Buka juga pakaian dalammu. Ilmuku
nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih
terhalang kain". Suminem tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri
terpaku dengan berkata apapun. Tetapi akhirnya dia menghela napas, dan
mengulangi perkataannya tadi: "inggih Mbah, kulo nderek" dan dengan cepat ia
membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai dia melanjutkan
membuka celana dalamnya. Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang
bulat) di depanku.
Nah pembaca, karena cerita ini adalah untuk konsumsi 17Tahun.com, maka saya
wajib menceritakan detail mengenai sosok indah di depanku ini. Si Suminem ini
sangat cantik (kok agak mirip aktris Dian Nitami ya?) kalau tinggal di Jakarta dia
pasti sudah jadi rebutan cowok atau masuk jadi bintang sinetron. Tubuhnya tidak
terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-
putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan puting berwarna coklat kemerahan,
terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di
perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (nggak apa-
apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Nah, di bawah perutnya, di
selangkangannya terlihat segundukan kecil sekali bulu-bulu kemaluan, pas dan
cocok dengan usianya yang baru 14 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi
belahan kemaluannya yang berwarna kemerahan, tampak agak nyempluk
(menonjol) ke depan.
Haduuh biyuung.. aku terangsang berat. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali –
kali aku menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol nafsuku. Dengan gerakan
ditenang-tenangkan aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang
dari baskom di mejaku. Aku mendekati dia: "bagian mana yang diciumi si Kasno
dalam mimpimu itu, Nduk?" tanyaku. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian
meunjuk bibirnya: "ini Mbah, saya di sun di bibir", katanya. Tanpa ragu-ragu aku
mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah,
mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, cuma
mengitung satu tambah satu dua, dua taMbah dua empat dan seterusnya dengan
cepat). Kemudian aku menghela napas dan berkata: "aku juga harus melakukan
yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa kesedot keluar". Dan tanpa minta
ijin lagi, kuseruduk mulutnya dan kucium dengan nafsu berat.
Kurasakan si Suminem berdiri kaku seperti kayu, tampak sangat kaget dengan
seranganku itu. Mulutnya terkunci rapat sehingga bibirku tidak menyentuh bibirnya
sama sekali. Aku jadi kesal: "buka mulutmu Nduk, terima saja. Jangan takut,
memang supaya melawan ilmu hitam ini lakunya harus begitu", ia tersengal sengal:
"Ing..inggih Mbah.." Katanya. Dan dengan canggung dia membuka mulutnya.
Sekarang aku menciumnya lagi, kini dengan lembut. Tidak ada perlawanan.
Kulumat bibirnya, dan kusedot ke luar. Lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya,
bergerak ke kiri kanan tetapi tidak mendapat respons dari lidahnya. Tampaknya ia
masih sangat kaget dan bingung dengan tindakanku ini.
Akhirnya, setengah kecewa, kulepaskan ciumanku. Harus ada cara supaya dia
terangsang, pikirku. Aku bertanya: "mana lagi Nduk, yang dicium si Kasno?",
Suminem sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur
leher: "di sini Mbah.." katanya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke
bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya.
Kucium pelan-pelan, dan kupermainkan dengan lidahku. Tenang, jangan terburu
nafsu, pikirku. Kalihkan ciuman dan gesekan lidahku ke lehernya yang mulus.
Kukecup kecup halus. Aku merasakan napasnya mulai naik. Nah, ini dia. Dia mulai
terangsang.
"Bagaimana rasanya, Nduk?" bisikku. Dia tidak menjawab, tetapi napasnya semakin
menaik: "hegh..eemmh.." erangnya. Dan tiba-tiba dia menjauh dariku. Wajahnya
menunduk ke bawah: "kenapa?" tanyaku: "kamu rasa sakit ya Nduk? pusing?"
tanyaku penuh kebapakan. Dia menggeleng: "a..anu Mbah.. rasanya keri (geli)
sekali..". Aku pura pura tertawa lega: "naah, kalau kamu nggak rasa sakit, cuma
geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Syukurlah. Sekarang
Mbah teruskan ya. Mana lagi yang di cium si kasno?" sekarang dia menunjuk buah
dadanya: "di susuku ini Mbah, dicium bergantian, kiri kanan.." Nah, ini dia.
Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dengan lagak sok yakin kupegang
kedua bukit indah itu. Sekali lagi aku menunduk ke bawah, mulai komat-kamit
membaca mantera matematikaku. Aku tampak sangat serius, meskipun sebenarnya
aku sekuat tenaga berusaha mengendalikan nafsuku yang sudah tidak ketulungan
berkobarnya.
Akhirnya aku menundukkan kepalaku: "harus kusedot, Nduk. Di sini manteranya
kuat sekali. Si Kasno bangsat itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu." Kulihat
ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Pertama kukecup buah dada
kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yang sangat halus. Kecupanku berputar
melingkar, hingga bagian bawah susu yang mengkal itupun tak luput dari
kecupanku. Akhirnya aku berhenti di putingnya, kupermainkan sedikit dengan
lidahku dan akhirnya kukulum dengan lembut. Mulutku menyedot-nyedot barang
indah itu dengan bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Kurasakan puting
itu semakin membesar dan mengeras. Sedangkan jari tangan kananku terus
meremas – remas dada kanannya, mempermainkan putingnya secara berirama
sama dengan irama gerakan lidahku di puting kirinya.
Nah, akhirnya pertahanan si genduk Suminem bobol juga. Tubuhnya yang tadinya
kaku seperti kayu, sekarang terasa melemah. Tangannya memegang kepalaku,
tanpa sadar mengelus – elus rambutku yang gondorong. Mulutnya mendesis-desis
dan menceracau pelan: "Mbah..aduuh Mbah.. jangan.. gelii sekali.. aduuhh.." tetapi
aku tidak perduli lagi. Tubuh Suminem terasa bergoyang- goyang, semakin lama
semakin keras. Kupindahkan kulumanku ke puting kanannya. Aku melihat ke atas,
kulihat kepala Suminem menunduk dalam-dalam sementara tangannya tetap
memegang kepalaku. Matanya tertutup rapat dan mulutnya juga terkatup rapat.
Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yang sangat
nikmat.
Horee, aku berhasil! teriakku dalam hati. Jelas dia kini juga terangsang berat.
Semakin asyik saja nih, pikirku. Kini kulepaskan hisapanku di susunya dan bertanya
(pasti suaranya sudah tidak tampak berwibawa lagi, tapi penuh nafsu): "terus,
habis cium susumu, dia cium lagi di sini ya?" tanyaku, sambil menunjuk pada
kemaluannya: "i.. iya Mbah.." katanya bergetar: "di pipis saya.. dicium terus
dijilatin".
Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela napas seperti sedih dan
terpaksa: "ya sudah Nduk, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang,
Mbah juga terpaksa harus melakukan yang sama. Coba kamu duduk di meja ini".
Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Dengan canggung dia
menurut: "buka lebar-lebar kakimu Nduk" kataku. Dia tampak bingung sehingga
harus kubantu. Kubentangkan paha kiri dan kanannya sehingga dia duduk
mengangkang di mejaku. Kini tampaklah kemaluannya dengan jelas, kemaluan anak
ABG yang baru ditumbuhi sedikit rambut. Warnanya kemerahan dan sangat
merangsang. Jelas ini tempik (istilah khas daerahku) yang belum pernah dijamah
laki-laki. Mataku berkunang-kunang karena nafsu.
Sekarang aku mengambil kursi, meletakkan tepat di depannya. Aku duduk di kursi
itu dan mencondongkan tubuhku ke depan, sehingga wajahku sekarang berhadapan
langsung dengan kemaluannya, hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Bau
khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Aku menelan ludah:
"agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya"
perintahku. Kini dia menuruti dengan patuh, mengangkat pantatnya sehingga
kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Dengan lembut kugosok-
gosok mahkota wanita itu dengan tanganku, ke atas ke bawah dan sebaliknya.
Kuremas-remas halus bulu-bulunya yang jarang, dan akhirnya kukecup kelentitnya
dengan bibirku.
"Aaggh.." Suminem mengerang (mana ada sih cewek yang kuat kalau dibegituin?).
aku semakin menggila. Kukecup-kecup kemaluannya dengan gemas, dari bagian
atas hingga bawah, lidahku menyelusuri belahan kemaluannya dan menerobos
bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan basah. Tubuhnya semakin
menggelinjang. Napasnya terdengar semakin memburu. Akhirnya kecupan dan
jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Kukecup-kecup terus kelentit yang tampak
semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dengan kuat. Sambil menghisap,
lidahku tetap dengan aktif menjilati kelentit itu sementara tanganku terus mengelus
elus daerah bawah kemaluannya, kadang-kadang jariku menyelusup ke lobang
kemaluannya yang terasa semakin lama semakin basah.
Suminem sama sekali sudah lepas kontrol. Erangannya semakin keras (untung saja
suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak
ada yang mendengar). tubuhnya berkelojotan ke kiri ke kanan, tangan kanannya
menumpu ke meja sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Di remas-
remasnya rambutku dan setiap kali kepalaku agak merenggang, ditekannya lagi ke
kemaluannya.
Jangkrik, pikirku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Tetapi bagaimanapun
suasananya sangat asyik. Aku semakin tenggelam dalam permainan yang penuh
nafsu ini. Kusungkupkan kepalaku semakin dalam di selangkangannya. Tidak
kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat
bergoyang dan berderak-derak. Sampai akhirnya: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah..
aku..aa.." jeritan yang entah apa artinya itu meluncur keluar dari mulut si bahenol,
diikuti dengan semprotan cairan dari lobang kemaluannya. Basah dan hangat,
sebagian menempel di dagu dan jenggotku.
Akhirnya kuangkat kepalaku dari kemaluannya, dan kucium dahinya yang
menunduk dengan napas tersengal-sengal. Aku berbisik: "piye, Nduk? Kamu sudah
merasa enakan sekarang?" dia mengangguk: "i..iya Mbah.. enakan sekarang.." aku
hampir ketawa. Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau
aku kerjain. Sekarang sampailah pada tahap selanjutnya, pikirku.
Tanpa basa basi aku melepaskan jubahku dan celana dalamku. Kulihat wajahnya
yang tadinya menunduk sayu sekarang terangkat, matanya membeliak melihat aku
sudah telanjang bulat di depannya. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis
(wajahku juga nggak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini
dicukur). Batang kemaluanku (istilah di daerahku: kontol) lumayan besar, dan
selalu jadi kekaguman cewek-cewek yang pernah main seks denganku.

Anda sedang membaca artikel tentang Kisah Si Dukun Cabul 02 dan anda bisa menemukan artikel Kisah Si Dukun Cabul 02 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/kisah-si-dukun-cabul-02.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Kisah Si Dukun Cabul 02 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Kisah Si Dukun Cabul 02 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 05.22
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved