;

Rabu, 29 Mei 2013

Gairah Tetanggaku 04

Rabu, 29 Mei 2013

Rupanya hari itu Tante Ida sekalian mau belanja, jadi ia pergi sama anak-anaknya,
makanya Bu Etty yang di rumah. Sambil istirahat kami membuat minuman hangat
dari termos di kamarnya dan duduk di ranjang di kamar Bu Etty. Kami tetap
telanjang bulat.
"Bu, jadi tahu ya tadi malam aku main sama Tante Ida."
"Iya dong nak, kan Ibu sudah pengalaman dan lumrah kok seperti Ibu bilang tadi
kami memang wanita yang nafsunya kuat sekali."
"Lalu, kata ibu tadi seminggu sedikitnya 4 kali, sama siapa biasanya Bu?" tanyaku
sambil membaringkan badan memegang memilin-milin puting susunya.
"Oh.. Ibu sama teman-teman bertiga, ada semacam klub kecil," katanya sambil
tertawa renyah sambil ekspresi mukanya menahan geli dari pilinan jariku.
"Biasa kami nyari anak SMA, mahasiswa atau anak-anak muda dan kami bawa ke
villa teman Ibu atau ke hotel juga."
"Ibu makanya awet muda ya, itu kami selalu nyari perjaka-perjaka untuk
diperawanin," cekikiknya manja.
Tangannya juga iseng meraba-raba pantatku dan dari bawah pahaku ke belakang
dijamahnya lagi buah zakarku.
"Ibu paling demen sama anak seumur kamu deh, nafsunya besar dan cepet sekali
pulihnya, bentar-bentar sudah ngaceng lagi.." ujarnya.
Sambil terus meremas-remas buah zakarku dan batang penisku yang sudah mulai
berdiri lagi. Didorongnya badanku sehingga aku rebah dan Bu Etty naik ke atas
mengangkangkan pahanya dan ia berjongkok di atas penisku yang separuh tegang.
"Diam ya nak To.." Pelan-pelan dipegangnya daging sosisku dan disaputkannya
kepala penisku di tepi-tepi bibir vaginanya yang ada rambutnya. Aduh, nikmat
sekali dan pelan diarahkannya ke lubang nikmat itu dan "Bless.." mulai masuk lagi,
nikmat luar biasa walau penisku terasa agak perih digeber dua hari ini. Belum
tegang penuh tapi vagina Bu Etty seperti bisa menarik masuk dan tekanan
pinggulnya sedemikian rupa.
"Aku suka sekali di atas," kata Bu Etty, "Karena bisa ngontrol gerakan dan garukan
batang penis ke klitorisku," katanya. "Sekarang diam, nak Toto rasakan merem
deh.. merem.." Aku merem dan senut-senut terasa sekali dinding lubangnya
berdenyut-denyut kencang. Bu Etty tidak ngapa-ngapain, hanya merem juga waktu
kuintip. Aku merem lagi dan kuulurkan tanganku ke buah dadanya yang montok
sekali itu. Duh.. seperti memegang melon. "Remes To.. remes!" keluhnya manja
sekali dan penuh nafsu. Suaranya berdesah-desah, "Ahh.. ahh.. enakk.. putingnya
To.. putingnya ibu atuh.. uhh.." Pinggulnya mulai berputar pelan-pelan sekali gaya
penari jaipong dan kadang sambil jongkok ia menaik-turunkan pinggulnya.
Hebatnya sedotan dari dalam vaginanya itu lho. Aku rasa kalau vacuum cleaner-
nya rusak bisa tuh dipakai menyedot debu.
Buat aku ya enaknya buah dadanya tersaji di depan mataku dan tinggal ulurkan
tangan saja. Aku meremas-remas buah melon yang kenyal itu.
"Bu, aku diajak ke tempat teman-teman Ibu dong.." ujarku tiba-tiba.
"Ha ha.. ha.. entar kamu apa kuat ngelayani kami-kami To?"
"Coba deh Bu.." bisikku sambil terus meremas buah dadanya.
"Gini deh, lain kali aku ajak kamu tapi aku tidak bilangin mereka kamu sudah
pernah main ya.. biar lebih seru.. Kemarin sama nak Ida gimana enak?"
"Enak juga Bu, tapi kayaknya Ibu Etty lebih jago ya.." pujiku sambil mataku
terbelalak-belalak karena genjotan pinggul Bu Etty tambah seru saja.
Keringatnya menetes-netes ke dadaku dan bau harum badannya tambah kuat
karena hawa panas badannya. Harum sekali si ibu ini, pikirku sambil menikmati
hentakan pinggulnya yang tambah cepat. Dan tiba-tiba Bu Etty kandas dan
vaginanya merapat lagi dengan buah zakarku. Sekarang ia berputar-putar tanpa
naik-turun. Terasa ujung penisku di dalam itu seperti diperas dengan kuat sekali
dan.. "Srot.. srot.." aku meledak ledak tak terkendali lagi. Letih betul rasanya dan
kami tertidur setelah itu.
Sorenya menjelang magrib aku terbangun dan Bu Etty masih telanjang bulat. Aku
pelan-pelan bangun mau beranjak pulang mencari celanaku, tiba-tiba aku melihat
ada orang di pintu mengintip dan ia tidak melihat aku di dekat kamar mandi.
Rupanya Adelin keponakan Tante Ida yang kuliah di kota ini berkunjung. Aku kaget
dan tidak tahu mesti apa. Wah kalau ketahuan tidak enak. Adelin cantik sekali
anaknya dan seperti tantenya Ida dan Bu Etty, tubuhnya juga seksi sekali. Ah,
untung dia melihat Bu Etty tidur dan dia pergi lagi. Sekarang bagaimana aku keluar
nih. Pintu paviliun Bu Etty tidak pernah dibuka dan ada lemari di depannya. Ya
sudah aku pakai baju kaos dan celanaku dulu deh. Pelan-pelan aku buka pintu
kamar dan kuintip, wah si Adeline lagi sama Mbak Icih di dapur, aku mengendap-
endap ke kamar tamu dan pura-pura duduk baca majalah.
"Lho ada kamu To," ujar Adeline waktu masuk lagi dari dapur.
"Kamu ngapain? Aku nggak lihat kamu masuknya."
"Aku mau baca majalah nih.." sahutku sekenanya.
"Ok, aku mau pergi dulu ya," katanya sambil keluar.
"Tante Ida belum pulang ya?"
Adelin berputar dan ala mak pinggulnya seksi banget deh dan aku karena sudah
ngeres melulu 2 hari ini langsung merasa desiran di penisku. Adeline pergi dan aku
sendirian di ruang tamu menjelang petang dan aku jadi naik ke otak lagi.
Aku bangkit dan ngintip ke kamar Bu Etty. Wah masih tidur nyenyak habis di servis
enak sih. Tiba-tiba ia bergulir miring membelakangi pintu dan aku, selimutnya
tersingkap, wah pantatnya terlihat dan dari belakang bulu-bulu serta kemaluannya
jadi kelihatan sudah deh si "Ujang" langsung bangun dan aku jadi bingung.
Mestinya Tante Ida sebentar lagi pulang dan kalau aku main lagi takut ketahuan
deh. Bu Etty bergeser lagi dan telungkup, kakinya terbuka dan aku bisa lihat jelas
vaginanya. Lututku lemas dan nafasku menderu. Aku tidak kuat lagi, biarin
ketahuan-ketahuan deh. Aku masuk dan kukunci pintu perlahan. Kubuka celana
pendekku dan aku dekati pelan-pelan dari belakang. Kuendus-endus dulu sekitar
vaginanya, wah ternyata masih basah, dan karena Bu Etty mengangkang sambil
terlungkup aku bisa lihat jelas dalam cahaya senja yang masuk pas di garis
pantatnya yang sintal dan besar itu. Aku berlutut dan pelan-pelan kudekatkan
penisku. Pelan kuletakkan di mulut bibir vaginanya dan aku diam. Hmm, tidak
bereaksi, kudorong pelan sekali mendesak bibir tebal itu. Masuk sedikit lagi, duh
enaknya karena terasa hangat. Aku diam lagi menikmati dan kugerakkan sedikit
halus sekali. Tiba-tiba Bu Etty bergerak lagi menggeser pantatnya dan "Bles.."
malah masuk lagi, sekarang kepala penisku.. eh masih tidak bangun juga. Dengan
halus sekali aku dorong lagi sedikit sekali, terasa berdenyut-denyut dinding
vaginanya dan seperti "nggremet-grement".
Duhh.. enak banget. Aku maju lagi. Tanganku bertelekan di ranjang tanpa kena
tubuh Bu Etty, sudah rada pegel sih, tapi nafsuku sudah menderu-deru dan aku
sudah tidak peduli apa-apa lagi habis enak sekali. Maju lagi sudah 3/4 batang
masuk dan terasa ada aliran cairan ikut dari dalam. Tiba-tiba pintu terbuka dan
Mbak Icih masuk dengan setumpuk pakaian baru disetrika. Dia tidak tahu rupanya
karena kamarnya gelap bahwa ada orang di dalam. Aku panik dan sudah tidak bisa
narik diri lagi. Mbak Icih menyalakan lampu dan dia terpana melihat kami. Dia lihat
Bu Etty tidur, ya aku hanya bisa pucat dan diam karena kalau dicabut pasti bangun
Bu Etty. Akhirnya aku hanya bisa meletakkan jariku di bibir bilang supaya Mbak Icih
diam. Penisku langsung lemas dan Mbak Icih langsung keluar, untung dia tidak
menjerit. Aku jadi hilang nafsu dan kutarik pelan-pelan batang yang sudah lembek
itu dan aku cepetan pakai celana lagi.
Keluar dari kamar kulihat Mbak Icih terdiam di dekat dapur. Aku mau mendekat ke
sana, tiba-tiba pintu depan terbuka dan Tante Ida pulang. Dalam hati aku
bersyukur juga, kan tidak enak kalau pas lagi "ngegenjot" tadi. Rupanya waktu
kukunci tidak benar masuknya karena pintunya belum tutup betul. Dasar kalau
sudah nafsu begitu sudah tidak jalan otak dan rasa.
Aku panik dan Tante Ida melihat aku, hampir saja tidak terdengar.
"To cari majalah lagi?" tanyanya.
"Apa, apa.. Tante? Oh ya.."
"Kamu kenapa To, mana Ibu?" katanya sambil masuk ke dalam dan pantatnya
disenggolkannya ke pantatku.
"Oh itu Ibu Etty tidur sore.." ujarku.
Aku masih bingung bagaimana dengan Mbak Icih. Tante Ida langsung ke dapur dan
kudengar ia meminta Mbak Icih memanaskan makanan-makanan yang dibawanya.
Hmm aman sedikit, kupikir dia sibuk.
"To, mau makan di sini?" tanya Tante Ida.
"Tidak deh.. aku disuruh jaga rumah kok Tante (he he..he jaga rumah malah
setengah hari di rumah tetangga). Ayah dan ibu semua pada pergi ke Bogor
pulangnya besok pagi-pagi."
"Wah kamu sendiri ya," kata Tante Ida sambil mengedipkan mata.
"I.. iya.. ya.. (wah tadi aku kunci rumah tidak ya)" jawabku sekenanya.
"Ya sudah, kamu mau pulang?"
"Iya iya.."
Aku masih bingung, sudah tidak tahu mesti apa tentang Mbak Icih.
"Nanti Tante ke sana deh lihat kamu," katanya lagi sambil tersenyum berarti.
Aku lantaran bingung hanya bilang iya tanpa ekspresi.
"Kamu baik-baik saja To?" tanyanya lagi.
"Iya Tante.. pulang dulu ya.. itu majalah saya sudah rapikan lagi."
Dan aku pulang sambil berdebar-debar apa yang akan terjadi nanti.
Pulang aku mandi, berusaha menenangkan diri. Dalam hati aku menyesel kenapa
mengikuti nafsu saja, jadi kacau semua akhirnya, pikirku. Tapi ya sudah kupikir
semua sudah terjadi, bagaimana nanti deh. Aku belum makan tapi sudah tidak
kepinginan. Selesai mandi aku bereskan buku untuk besok, berusaha mengalihkan
pikiran.
Bersambung ke bagian 05

Anda sedang membaca artikel tentang Gairah Tetanggaku 04 dan anda bisa menemukan artikel Gairah Tetanggaku 04 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/gairah-tetanggaku-04.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Gairah Tetanggaku 04 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Gairah Tetanggaku 04 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 05.05
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved