;

Kamis, 30 Mei 2013

[True Story] Skandal Inggrid Kansil

Kamis, 30 Mei 2013

Ini cerita didasarkan atas situasi yang nyata (True Story). Aku Inggrid Kansil, umurku saat ini beranjak 35 tahun dan berstatus Istri salah satu mentri di negri ini. awal ku bertemu dengan suamiku adalah hasil perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuaku terhadap pak mentri, entah beruntung atau tidak dengan kondisiku sekarang ini. kalau dibidang materi aku bisa dibilang tercukupi, malah berlebihan. Tapi kalo masalah se... >> Cerita Lanjutan, klik disini


Admin Mesum - 08.58

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Si Dukun Cabul 03

Rabu, 29 Mei 2013

Mbah melihat dari pipismu tadi, ternyata ilmu gendamnya si Kasno sudah masuk
dalam sekali ke dalamnya. Mbah sudah coba sedot sedot tadi, tidak mau keluar
juga. Berbahaya sekali Nduk, nanti kalau dibiarkan jadi ngabar (menguap) masuk
ke pembuluh darahmu, bisa mati kowe. Mbah harus mencoba cara yang lebih kuat.
Agak sakit mungkin Nduk, nggak apa-apa ya?" kataku penuh rasa sayang dan
kasihan. Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. Dia mengangguk,
mengulang lagi kata-katanya yang bego tadi: "inggih Mbah, kulo nderek
kemawon..". Aku mengangguk-angguk: "anak baik. Kasihan sekali kowe Nduk".
Sekarang aku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas dari atas meja, dan dengan
lembut membimbingnya ke dipan yang ada di sudut. Kubaringkan tubuh bugil yang
sudah lemas itu, dan dengan hati-hati kulebarkan kakinya. Kini dia terbaring
mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala
kenikmatan duniawi. Aku duduk berlutut, kemaluanku sudah tegang betul dan kini
terarah ke lobang kemaluannya. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. Dia
mengerang pelan, matanya tertutup rapat. Kurendahkan tubuhku, kini aku telungkup
di atas badannya. Kukecup bibirnya dengan lembut: "sudah siap, ya Nduk. Agak
sakit, ditahan saja. Pokoknya Mbah usahakan kamu jadi sembuh betul". Dia
mengangguk, tidak membuka matanya: "inggih Mbah" desisnya lirih.
Kini aku memegang batang kemaluanku, dengan sangat hati-hati menusukkannya
ke kemaluan si Suminem yang masih basah kuyup bekas hisapanku tadi. Satu
senti..dua senti.. tiga senti.. sempit sekali. Suminem mengerang: "ss.. sakit
Mbah.." tampak wajahnya mengernyit kesakitan. Tangannya memegang dan
meremas lenganku. "Tenang Nduk..tenang.. tahan sedikit.. nanti lama-lama
sakitnya hilang, berganti rasa enak".
Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yang pernah kurasakan.
Sebelumnya aku hanya bisa bermain dengan pelacur-pelacur, atau paling banter
dengan si Jaetun janda muda yang gatel di desa sebelah. Semuanya sudah
melongo lubangnya, sama sekali tidak enak. Tetapi yang ini, sungguh lezat, legit
dan super sempit. Dasar perawan.. kutekan agak keras kemaluanku, diikuti dengan
teriakan Suminem: "aauuwww.. saakiit Mbah.." aku cepat-cepat melumat bibirnya,
agar teriakannya tidak berkembang menjadi raungan..
Sekarang dengan cepat dan akhli aku menekan kemaluanku, sekalian saja sakitnya
pikirku. Dan..bless..masuklah seluruh kemaluanku ke dalam lobang memeknya.
Tubuh Suminem terlonjak di bawahku, tangannya meremas lenganku sangat keras.
Matanya terbeliak, tetapi mulutnya tidak bisa memekik karena tersumpal bibirku.
Aku diam sejenak, menunggu lonjakannya hilang.
Akhirnya dia diam, hanya napasnya masih tersengal-sengal. Sekarang, setelah
semua tenang, kulepaskan ciumanku: "masih sakit, Nduk?" dia mengangguk: "tapi
lama-lama nggak perih kan?" dia mengangguk lagi. Lugu betul anak ini: "Mbah
terusin ya? tidak lama lagi kok". Sekali lagi dia mengangguk. Kugoyangkan
pantatku lagi pelan-pelan, tidak ada respon penolakan darinya. Kogoyangkan lagi
semakin kuat, dan tanganku mulai menggerayang memainkan puting susunya. Dia
mengeluh. Dia merengek. Jelas si Suminem ini mulai menikmati permainan ini.
Pinggulnya mulai ikut bergoyang, meskipun agak kaku.
Aku tidak berani merubah posisiku ini, takut kalau dia kesakitan lagi. Goyanganku
juga kuusahakan seteratur mungkin, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.
Malah goyongannya yang semakin lama semakin tidak teratur. Kepalanya
bergoyang ke kiri dan ke kanan, mulutnya mendesis-desis dan tangannya
mencengkeram erat lenganku. Matanya terpejam dan raut wajahnya menampakkan
campuran kesakitan dan kenikmatan yang sangat.
Dipan bobrok ini mulai terdengar berkeriet-keriet. Akhirnya terdengar proklamasi si
Suminem, persis seperti tadi: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku.. aa.." dan kurasakan
cairan menyemprot di lobang kemaluannya. Akhirnya kepalanya terkulai lemas ke
kiri (sejak kami mulai main tadi, matanya terus terpejam). Aku mengutuk dalam
hati. Jangkrik, aku sendiri belum keluar nih. Kuperkuat genjotanku, kufokuskan
pikiranku pada kenikmatan yang kualami sekarang ini. Kuremas-remas susunya
semakin kencang. Dan akhirnya kurasakan desakan dalam kemaluanku, desakan
yang sudah sangat kukenal. Aku sudah mau orgasme.
Tetapi aku tidak ingin mengakhiri permainan ini begitu saja. Kukeluarkan tembakan
terkhirku: "Nduk, Nduk, Mbah rasa ajiannya si Kasno sudah berhasil Mbah
hilangkan. Tetapi kau harus meminum ajian dari tubuh Mbah ya? supaya kamu
kebal terhadap segala ngelmu hitam macam ini". kataku tersengal-sengal.
Suminem hanya mengangguk saja, matanya tetap terpejam. Melihat tanda
persetujuan itu, aku segera mencopot kemaluanku dari memeknya, begitu cepat
sehingga terdengar suara, "plop". Aku segera mengangkang di atas tubuhnya,
batang kemaluanku kuarahkan ke mulutnya: "ini Nduk" kataku. Tangan kananku
mengangkat kepalanya yang terkulai, sedangkan tangan kiriku terus mengocok
batanganku.
Mata si Suminem membuka malas, melihat senjataku bergelantung di depan
wajahnya. Aneh, Dia tidak tampak kaget lagi (mungkin lama-lama dia sudah
biasa?) dia menggumam malas: "mana obatnya Mbah? sini biar aku minum." Aku
mendesah penuh nafsu: "ini Nduk, obatnya ada dalam burung Mbah ini. Minumlah"
kataku. Suminem menjawab dengan malas, seperti orang setengah sadar: "dihisep
dulu Mbah? Sini gih. Biar cepet selesai". Dan tanpa bertanya lagi, dia memegang
kontolku dan memasukkan ke mulutnya. Waduh, hebat banget si geNduk ini.
Meskipun tetap dengan gaya malas, seperti setengah sadar, dia mulai menyedot
nyedot kemaluanku dan lidahnya secara reflek juga bergerak-gerak menyelusuri
batang kontolku. Aku bergetar hebat. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya,
dan kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku bergerak keluar masuk mulutnya.
Rasanya bahkan lebih nikmat daripada bersetubuh biasa. Beberapa kali tanpa
sengaja gigi Suminem bergesekan dengan kemaluanku, membuat kenikmatan yang
kurasakan semakin melambung.
Kupercepat goyanganku, tetapi tetap menjaga agar dia tidak sampai tersedak.
Akhirnya tekanan dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi: "Nduk, ini Nduk.."
erangku: "telan semua ya" dan croot.. muncratlah air maniku ke dalam mulutnya.
Kurasakan hisapan dan jilatannya berhenti. Dua kali lagi aku menyemprotkan
maniku di mulutnya, semuanya tampak tertelan (karena posisinya terlentang, jadi
tidak ada yang terbuang keluar).
Kudiamkan posisi ini agak lama, sampai kurasakan kemaluanku mulai mengecil dan
akhirnya lepas sendiri dari mulutnya. Aku berguling ke samping, kulihat Suminem
tetap telentang dengan mata tertutup. Bibirnya yang seksi kini tampak berlepotan
air mani, tampaknya masih ada maniku yang tertahan di mulutnya dan belum
tertelan. Aku bangun dan mengambil gelas berisi air kembang tadi, dan
menyodorkan kemulutnya dengan lembut: "minum Nduk, minum. Biar semua obat
Mbah masuk ke badanmu. Ini air kembang juga berkhasiat kok." Dia menurut dan
meneguk habis air itu. Akhirnya kubimbing dia berdiri, dan kubantu dia memakai
bajunya. Aku juga memakai bajuku. Kami sama sekali tidak bicara saat itu.
"Bagaimana Nduk? Apakah kamu sudah merasa enakan?" dia diam saja.
Tangannya menyisir rambutnya, dan membetulkan bajunya yang awut-awutan.
Kuelus rambutnya.
"Mbah, apakah pasti saya sudah sembuh?" tanyanya dengan suara bergetar. Aku
mengangguk: "pokoknya, semua sudah beres. Tadi Mbah itu mempertaruhkan
nyawa Mbah lho. Kalau gagal tadi pasti ilmu hitamnya si Kasno berbalik
menghantam Mbah. Untunglah semua sudah berakhir."
Dia mengangguk, wajahnya tetap menunduk: "matur nuwun, Mbah." Katanya:
"Berapa saya harus bayar Mbah?" aku tergelak: "wis, wis, bocah ayu, Mbah nggak
minta bayaran kok. Bisa menyembuhkan kamu saja Mbah sudah bersyukur
banget." Kulihat bibir si Suminem tersenyum halus, mengangguk dan meminta ijin
pulang. Kubuka pintu kamarku dan aku memanggil salah satu tukang ojek yang
mangkal untuk mengantarkannya pulang. Dalam beberapa detik, tubuh bahenol
Suminem hilang tertelan kegelapan malam.
Aku menghela napas dan masuk kembali ke kamar. Tiba-tiba aku tertegun. Lha,
kok aku sampai tidak menanyakan si Suminem itu tadi siapa ya? karena sudah
terbelit nafsu aku sampai tidak menanyakan pertanyaan – pertanyaan standar
seorang dukun: rumahmu dimana, bapakmu siapa..
Ah, aku menggeleng. Rasanya aku tidak pernah lihat dia sebagai warga sekitar
sini. Mungkin dia dari Wonolayu, desa sebelah sana. Biarin saja. Aku masuk kamar
praktekku, dan segera menggelosor di dipan yang tadi kugunakan untuk bercinta
dengan Suminem. Dalam beberapa menit aku terlelap. Entah berapa jam aku
tertidur, ketika sayup-sayup kudengar..
TOK..TOK..TOK..
"Bangun, Darmanto bangsat! bangun!" suara yang sayup-sayup tadi kini menjadi
semakin jelas seiring dengan meningkatnya kesadaranku. Dengan terseok-seok aku
berdiri dan menuju pintu, membukanya dengan malas. Baru pintu kubuka sedikit,
tiba-tiba.. bruuk..seorang laki-laki tinggi besar menyerbu masuk, dan tanpa basa-
basi tangannya menampar pipiku. Aku mengaduh dan terbanting ke lantai. Waktu
aku melihat siapa si pembuat onar itu, kulihat Mas Darmin, blantik (pedagang sapi)
tetanggaku, sedang berdiri dengan mata merah dan berapi-api. Tubuhnya yang
tinggi besar dan berkumis melintang (dia memang keturunan warok Ponorogo)
tampak sangat menyeramkan.
Aku berteriak keheranan: "mas.. Mas Darmin.. ada apa ini? kok tiba-tiba kesetanan
kayak gini?"
Mas Darmin balas berteriak, matanya semakin mendelik: "kesetanan gundulmu..
kamu yang kemasukan setan! apa yang kamu lakukan kemarin malam, Dar? ayo
ngaku!!". aku semakin bingung: "yang apa to mas? aku ora ngerti." Si warok itu
tampak semakin marah: "kemarin malam! si Suminem! Sumineemm! kamu apakan
dia?"
Wah, aku jadi kaget. Suminem itu apanya dia? kalau anak tidak mungkin, aku tahu
Mas Darmin cuma punya dua anak laki-laki: "si Suminem itu apanya mas?"
tanyaku. Mas darmin berteriak marah: "kuwi ponakanku, bedes (monyet)! semalam
dia datang ke rumah, katanya baru ke kamu terus karena kemalaman dia takut
pulang ke rumahnya di Wonolayu. Di rumah dia nangis-nangis, katanya pipisnya
sakit sekali. Waktu dilihat mbakyumu, celana dalamnya ternyata basah oleh darah.
Walaah..dia akhirnya ngaku semua apa yang kamu lakukan. Iyo tho? ayo ngaku,
bedes!" dan dengan berkata begitu ia menubruk lagi tubuhku. Satu bogem mentah
kembali melayang ke pipiku. Aku berteriak kesakitan.
Aku hanya bisa meratap: "mas.. mas.. ampun mas, aku tidak mau kok
sebetulnya..si Suminem yang memaksa.." aku coba membela diri sebisanya.
Mendengar itu, Mas darmin jadi semakin marah: "opo jaremu (apa katamu)? Si
Suminem yang minta? kamu kira keluargaku kuwi keluarga perek opo? pikirmu si
Suminem kuwi bocah nakal tukang goda wong lanang? weehh.. kurang ajar kowe
Dar. Bangsat! asu! kucing! wedus! bedes!" dan sambil mengeluarkan
perbendaharaan nama segala jenis binatang yang ada dalam kepalanya, Mas
Darmin kembali menendang tubuhku yang sedang menggelosor pasrah di lantai.
Dan dengan ngeri kulihat tangannya mulai menarik pecut (cemeti) yang melingkar
di pinggangnya, pecut yang biasa dia gunakan kalau lagi akan jualan sapi. Aku
semakin meringkuk: "ampuun maas.." rengekku.
Dalam suasana yang sangat genting itu, tiba-tiba beberapa orang menerobos
masuk. Aku melihat Pak Sitepu, ketua RW kami yang langsung memeluk Mas
Darmin yang lagi kesetanan: "sudah..sudah mas.. mati pula dia nanti.. tenang
sajalah kau.." katanya dengan logat batak yang kental. Seorang lagi yang
menerobos masuk adalah seorang polisi. Dia membantuku berdiri dan dengan
formal berkata: "Bapak Darmanto, saya menahan bapak atas tuduhan pemerkosaan
terhadap anak di bawah umur. Saya minta bapak ikut saya ke polsek sekarang
juga." Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kulihat di belakangnya bapak dan
ibuku, yu Mini dan keluargaku yang lain melihat semua adegan dahsyat itu dengan
melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Mas Darmin terus berteriak-teriak: "Ya, Pak polisi.. cepet saja ditangkap si bedes
ini. Daripada nanti kalau lepas bisa kalap aku. Tak cacah dagingmu, tak jadikan
rawon! tak jadikan sop! tak jadikan rendang..!" sekarang dia mengancam dengan
segala jenis masakan yang dia ingat. Aku menghela napas. Dengan gontai aku
mengikuti Pak polisi itu, keluar rumahku. Di depan rumah ternyata ada puluhan
orang lain yang sudah berkumpul, para tukang ojek yang mangkal, tetangga, dan
orang-orang lain. Semuanya melongo melihatku.
Dari dalam masih kudengar teriakan Mas Darmin, menyebut segala jenis makanan
yang rencananya akan mempergunakan dagingku sebagai bahan lauknya: "tak
jadikan sate! tak jadikan opor!". seorang tetanggaku berteriak mengejek: "entek
nasibmu (habis nasibmu) Dar! makanya kalau hidup jangan hanya ngurusi kontol
thok!".
Ya, memang habislah nasib dan karirku saat ini sebagai dukun. Oh, nasiib..


Admin Mesum - 05.29

Kisah Si Dukun Cabul 01

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto. Aku adalah salah satu dari sekian banyak
orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren "paranormal" atau yang
dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun. Ya, aku adalah
orang yang bergelar mbah dukun, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak
percaya dengan segala hal begituan.
Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu,
aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut
bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam
cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan
banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya
masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku
belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi
omelan dan gerutuan istri.
Dalam keadaan sebal itulah aku bertemu dengan mbah Narto, kakek tua yang
dengan gagahnya memproklamasikan diri sebagai paranormal paling top. Karena
masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku
ketika dia lagi "buka praktek" di kotaku. O ya, aku tinggal di sebuah kota
kecamatan kecil di Jawa tengah, dekat perbatasan jawa Timur (nggak perlulah aku
sebut namanya). Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan
negara yang lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan
malam.
Eh, kembali ke mbah Narto, tampaknya si mbah punya perhatian khusus kepadaku
(atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis
terhadap gaya perdukunannya?). Suatu hari ia berbicara serius denganku,
mengajakku untuk menjadi "murid"nya. Walah, aku hampir ketawa mendengarnya.
Murid? wong aku sama sekali tidak percaya segala hal takhayul macam itu, kok
mau diangkat menjadi murid? tetapi segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika
mbah Narto menjelaskan: "punya ilmu ini bisa buat cari uang, Dar." Katanya: "apa
kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun
ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget." Katanya
dengan meyakinkan dan mata melotot.
Aku menggaruk kepalaku. Apa benar? Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun tetap
dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik
turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa
berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh.
Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama
mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi setiap mbah Narto menanyakan "apa kamu
sudah ketemu jin ini atau jin itu" atau "apa kamu melihat cahaya cemlorot (bahasa
Indonesia: berkelebat)" waktu aku bersemadi, yah aku iyakan saja. Kok susah –
susah amat.
Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Narto menyatakan aku sudah lulus
ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa). Dan dia memperkenalkan aku
sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang
"aeng-aeng" alias aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama aku dipercaya untuk
buka praktek sendiri, di rumahku, dengan mempergunakan kamar samping rumah
sebagai tempat praktek (meskipun aku harus membuat Yu Mini kakakku marah-
marah karena meminta dia pindah kamar tidur).
Setelah beberapa bulan praktek, nasehat mbah Narto ternyata benar (ini satu-
satunya nasehatnya yang benar, aku kira): bahwa jadi dukun itu banyak duit! aku
baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah
terletak pada ilmunya (yang aku nggak percaya sama sekali), tetapi pada
kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa
membuat pasien setengah mati percaya dan tergantung padanya, dengan segala
cara dan tipu daya.
Pada mulanya beberapa orang datang minta tolong padaku, katanya menderita
sakit aneh, pusing-pusing yang tidak tersembuhkan. Aku dengan lagak meyakinkan
memberikan mantra, menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air
kembang (di dalamnya sudah kucampur gerusan obat Paramex). Eh.. mereka
sembuh. Dan sejak itulah pasien datang membanjir padaku. Ada yang minta
disembuhkan sakitnya (kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau nggak
sembuh baru kembali. Sebagian besar memang tidak kembali), ada yang minta
rejeki (itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem) ada pula yang
mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain (kalau itu tinggal
dinasehatin saja).
Jadi inilah aku, mbah Dar, dukun ampuh dari lereng Merapi (lucu ya, aku dipanggil
mbah wong umurku baru 25 tahun). Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre
di rumahku, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman
depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku
dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar,
jangan mbohongi orang). Yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada
gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam,
tampang yang meyakinkan (aku sekarang pelihara jenggot panjang, pakai jubah
putih kalau praktek) maka orang-orang sangat percaya kepadaku.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang
meruntuhkan segala-galanya.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan
aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari "meja
kerja"ku, menuju pintu dan bermaksud menutupnya. Tetapi kulihat si Warno
sekretarisku menghampiri: "ada pasien satu lagi mbah" bisiknya: "cah wadon (anak
perempuan) huayuu banget". Dia nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di
depan. Di sana aku melihat seorang gadis dengan memakai T shirt putih dan rok
warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang
memperhatikan TV yang memang kusediakan di situ.
"Masuk, nduk" kataku dengan suara berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri,
dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya
dengan jelas. Aduh mak, dia memang betul-betul cantik. Rambutnya yang sebahu
bewarna hitam lurus, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima
merekah (walah, puitis banget..). Tubuhnya bongsor dengan buah dada yang
seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya. Aku kira umurnya paling
banter baru 17 atau 18 tahun.
"Sugeng dalu (selamat malam) mbah.." katanya agak bergetar. Wuih, suaranya
juga seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapakan aku
menyilahkannya masuk, diiringi sorot mata nakal si Warno yang seperti akan
menelan bulat-bulat si gadis itu. Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari
ngibrit sambil terkikik-kikik. Aku segera menutup pintu.
Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan.
Tangannya ngapurancang di pangkuannya, wajahnya menunduk. Cantik sekali.
Dengan pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan
lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan
baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Asap dupa segera
memenuhi ruangan kecil itu.
"Siapa namamu, nduk?"tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan
persiapan.
"Suminem, mbah" katanya. Wah, nama lokal betul.
Aku berdeham: "berapa umurmu? "
Si cantik itu menjawab pelan, tetap menunduk: "empat belas tahun, mbah". Wah,
aku hampir terlonjak kaget. Empat belas tahun? masih kecil banget, tetapi
bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..
Aku menelan ludah: "bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke
sini. Ada masalah apa nduk?" aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi
meja yang penuh segala pernik perdukunan. Si Suminem sekarang mengangkat
kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri kanan.
Suaranya yang kecil bergetar: "nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah
dan takut. Nyuwun tulung mbah.." suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti
sedu sedan.
Kemudian dengan cepat dan dengan suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada
seorang laki-laki, bernama Kasno, yang sangat ditakutinya. Kasno adalah
tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak segerendeng, tetapi masih hijau
matanya kalau melihat cewek cantik. Karena rumahnya sederetan dengan rumah
Suminem, tiap hari dia bisa melihat Pak Kasno memandangnya seperti tidak
berkedip. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan
kamar mandi rumah Pak kasno, maka semakin besar kesempatan lelaki hidung
belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang bahenol itu. Bahkan pernah suatu
hari Suminem berteriak – teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia
sedang mandi melihat kepala Pak kasno mengintip dari bagian atas kamar mandi
yang memang tidak tertutup. Itu saja belum cukup. Hingga suatu hari..
"Pak Kasno tiba-tiba mendatangi saya, mbah" katanya. Si hidung belang itu
katanya bicara baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat
Suminem kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil air, entah apa itu. Dengan
sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh
Suminem. Tentu saja si gadis kecil nan bahenol itu berteriak, tetapi Pak kasno
cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut memberi penjelasan: "Enggak apa-
apa, Nem, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan,
jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang. Bener lho Nem, nanti
setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagiaa sekali". katanya tersenyum.
Suminem tentu saja semakin kesal: "bahagia bagaimana to Pak?" tanyanya: "Wong
sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala."pak
Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: "wong bocah cilik,
durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-
laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu" dan dengan bicara begitu si hidung
belang ngeloyor pergi.
Setelah kejadian itu "Pikiran saya jadi bingung, mbah" cerita Suminem: "setiap
malam saya menjadi terbayang wajahnya Pak Kasno, sepertinya dia itu mau
menerkam saya saja" dia bergidik ngeri: "malah saya sampai mimpi.." Dia tidak
melanjutkan. Aku pura-pura menghela napas penuh simpati. Sebenarnya, kalau
saja yang bicara ini bukan gadis sebahenol Suminem pasti aku sudah menyuruhnya
angkat kaki. Bosen. Tapi melihat anak secantik ini, waduh, kok tiba-tiba.. rasanya
ada yang berteriak-teriak di balik celanaku..
Jangkrik tenan, pikirku. Rasanya aku mulai terangsang pada gadis ini.
"Teruskan Nduk" kataku penuh wibawa: "kamu mimpi apa?"
Suminem menggigil. Suaranya tersendat-sendat: "aduh mbah, nyuwun sewu, mbah,
saya lingsem (malu) banget.." Wah, ini dia. Dengan gaya kebapakan (kok sama
dengan ceritanya soal si hidung belang Kasno itu?), aku berdiri dan mendatangi
dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. Nafsuku
tambah naik: "wis, wis" kataku menenangkan: "ora susah bingung. Ceritakan saja.
Si mbah ini siap mendengarkan kok".
Akhirnya setelah mengatur napas, Suminem melanjutkan: "anu.., saya sering
mimpi, lagi di anu sama Pak Kasno. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini
rasanya semakin sering". Aku berusaha menahan tawa: "dianu kuwi opo karepe
(apa maksudnya) to Nduk?" dia tampak semakin malu: "ya itu lho mbah..seperti
katanya kalau suami istri lagi dolanan (bermain) di kamar itu lho.. katanya mbak-
mbak saya seperti itu". Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Tambah kugoda
lagi (meskipun tetap dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan):
"coba to ceritakan yang jelas, seperti apa yang dilakukan si Kasno dalam mimpimu
itu?"
Akhirnya si Suminem ini tampaknya berhasil menguatkan hatinya. Suaranya lebih
mantap ketika menjelaskan: "pertamanya. Saya ngimpi Pak Kasno berdiri di depan
saya, wuda blejet (telanjang bulat). Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus..
Pak Kasno memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga.." dadanya
naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu.
Aku semakin panas mendengar ceritanya itu: "apanya saja yang dia cium, Nduk?"
tanyaku. Suminem tampak malu "di sini, Mbah" katanya sambil menunjuk buah
dadanya: "di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik. Terus ke bawah juga.." Ke
bawah mana, tanyaku: "ke..ini Mbah, aduh, lingsem aku. Ke ini, tempat pipis saya.
Di ciumi dan dijilati juga.." dia semakin menunduk malu. Suaranya terhenti. Nah,
tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Segera aku bertindak.
"KASNO KEPARAT!" teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti si Suminem
yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku: "Mbah.. Mbah.. kenapa Mbah?"
tanyanya bingung.


Admin Mesum - 05.26

Kisah Si Dukun Cabul 02

Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Suaraku penuh
ketegasan tetapi juga bernada kuatir: "Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si
kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan
dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya,
sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia
tinggal menguasaimu saja.."mataku mendelik: "mesakake banget (kasihan sekali)
kowe Nduk.." si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang
meluncur seperti senapan mesin itu: "terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah.."
katanya seperti orang setengah sadar.
Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: "berat, Nduk. Aku
bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik
kepadaku. Bisa mati aku." Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: "jadi..
lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan suara
bergetar. Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal
dan hangat): "ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu" kataku kebapakan: "aku
akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau
nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?"
kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: "matur
nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi.."
Kulepaskan pelukanku. Sekarang suaraku berubah penuh wibawa: "sekarang, untuk
menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus nglakoni persis sama dengan mimpimu
itu" kataku: "buka bajumu, Nduk". Ku lihat matanya terbeliak heran, tetapi segera
meredup dan dia menghela napas: "inggih Mbah, sakkerso (terserah) kulo nderek
kemawon (saya ikut saja)". Dan dengan cepat ia membuka kaos T-shirtnya,
meletakkan di kursi. Aku menelan ludah. Branya putih, berkembang-kembang. Buah
dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan
itu.(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pikirku. Jangan – jangan anak ini
kebanyakan hormon pertumbuhan).
Sekarang ia membuka roknya, merosot di lantai. Ia berdiri di depanku, tetap dengan
sangat hormat. Tangannya ngapurancang di depan celana dalamnya. Dia
memandang padaku dengan polos: "Sudah, Mbah" katanya. Aku mendeham:
"belum Nduk" kataku: "Aku bilang semuanya. Buka juga pakaian dalammu. Ilmuku
nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih
terhalang kain". Suminem tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri
terpaku dengan berkata apapun. Tetapi akhirnya dia menghela napas, dan
mengulangi perkataannya tadi: "inggih Mbah, kulo nderek" dan dengan cepat ia
membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai dia melanjutkan
membuka celana dalamnya. Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang
bulat) di depanku.
Nah pembaca, karena cerita ini adalah untuk konsumsi 17Tahun.com, maka saya
wajib menceritakan detail mengenai sosok indah di depanku ini. Si Suminem ini
sangat cantik (kok agak mirip aktris Dian Nitami ya?) kalau tinggal di Jakarta dia
pasti sudah jadi rebutan cowok atau masuk jadi bintang sinetron. Tubuhnya tidak
terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-
putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan puting berwarna coklat kemerahan,
terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di
perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (nggak apa-
apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Nah, di bawah perutnya, di
selangkangannya terlihat segundukan kecil sekali bulu-bulu kemaluan, pas dan
cocok dengan usianya yang baru 14 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi
belahan kemaluannya yang berwarna kemerahan, tampak agak nyempluk
(menonjol) ke depan.
Haduuh biyuung.. aku terangsang berat. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali –
kali aku menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol nafsuku. Dengan gerakan
ditenang-tenangkan aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang
dari baskom di mejaku. Aku mendekati dia: "bagian mana yang diciumi si Kasno
dalam mimpimu itu, Nduk?" tanyaku. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian
meunjuk bibirnya: "ini Mbah, saya di sun di bibir", katanya. Tanpa ragu-ragu aku
mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah,
mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, cuma
mengitung satu tambah satu dua, dua taMbah dua empat dan seterusnya dengan
cepat). Kemudian aku menghela napas dan berkata: "aku juga harus melakukan
yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa kesedot keluar". Dan tanpa minta
ijin lagi, kuseruduk mulutnya dan kucium dengan nafsu berat.
Kurasakan si Suminem berdiri kaku seperti kayu, tampak sangat kaget dengan
seranganku itu. Mulutnya terkunci rapat sehingga bibirku tidak menyentuh bibirnya
sama sekali. Aku jadi kesal: "buka mulutmu Nduk, terima saja. Jangan takut,
memang supaya melawan ilmu hitam ini lakunya harus begitu", ia tersengal sengal:
"Ing..inggih Mbah.." Katanya. Dan dengan canggung dia membuka mulutnya.
Sekarang aku menciumnya lagi, kini dengan lembut. Tidak ada perlawanan.
Kulumat bibirnya, dan kusedot ke luar. Lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya,
bergerak ke kiri kanan tetapi tidak mendapat respons dari lidahnya. Tampaknya ia
masih sangat kaget dan bingung dengan tindakanku ini.
Akhirnya, setengah kecewa, kulepaskan ciumanku. Harus ada cara supaya dia
terangsang, pikirku. Aku bertanya: "mana lagi Nduk, yang dicium si Kasno?",
Suminem sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur
leher: "di sini Mbah.." katanya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke
bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya.
Kucium pelan-pelan, dan kupermainkan dengan lidahku. Tenang, jangan terburu
nafsu, pikirku. Kalihkan ciuman dan gesekan lidahku ke lehernya yang mulus.
Kukecup kecup halus. Aku merasakan napasnya mulai naik. Nah, ini dia. Dia mulai
terangsang.
"Bagaimana rasanya, Nduk?" bisikku. Dia tidak menjawab, tetapi napasnya semakin
menaik: "hegh..eemmh.." erangnya. Dan tiba-tiba dia menjauh dariku. Wajahnya
menunduk ke bawah: "kenapa?" tanyaku: "kamu rasa sakit ya Nduk? pusing?"
tanyaku penuh kebapakan. Dia menggeleng: "a..anu Mbah.. rasanya keri (geli)
sekali..". Aku pura pura tertawa lega: "naah, kalau kamu nggak rasa sakit, cuma
geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Syukurlah. Sekarang
Mbah teruskan ya. Mana lagi yang di cium si kasno?" sekarang dia menunjuk buah
dadanya: "di susuku ini Mbah, dicium bergantian, kiri kanan.." Nah, ini dia.
Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dengan lagak sok yakin kupegang
kedua bukit indah itu. Sekali lagi aku menunduk ke bawah, mulai komat-kamit
membaca mantera matematikaku. Aku tampak sangat serius, meskipun sebenarnya
aku sekuat tenaga berusaha mengendalikan nafsuku yang sudah tidak ketulungan
berkobarnya.
Akhirnya aku menundukkan kepalaku: "harus kusedot, Nduk. Di sini manteranya
kuat sekali. Si Kasno bangsat itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu." Kulihat
ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Pertama kukecup buah dada
kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yang sangat halus. Kecupanku berputar
melingkar, hingga bagian bawah susu yang mengkal itupun tak luput dari
kecupanku. Akhirnya aku berhenti di putingnya, kupermainkan sedikit dengan
lidahku dan akhirnya kukulum dengan lembut. Mulutku menyedot-nyedot barang
indah itu dengan bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Kurasakan puting
itu semakin membesar dan mengeras. Sedangkan jari tangan kananku terus
meremas – remas dada kanannya, mempermainkan putingnya secara berirama
sama dengan irama gerakan lidahku di puting kirinya.
Nah, akhirnya pertahanan si genduk Suminem bobol juga. Tubuhnya yang tadinya
kaku seperti kayu, sekarang terasa melemah. Tangannya memegang kepalaku,
tanpa sadar mengelus – elus rambutku yang gondorong. Mulutnya mendesis-desis
dan menceracau pelan: "Mbah..aduuh Mbah.. jangan.. gelii sekali.. aduuhh.." tetapi
aku tidak perduli lagi. Tubuh Suminem terasa bergoyang- goyang, semakin lama
semakin keras. Kupindahkan kulumanku ke puting kanannya. Aku melihat ke atas,
kulihat kepala Suminem menunduk dalam-dalam sementara tangannya tetap
memegang kepalaku. Matanya tertutup rapat dan mulutnya juga terkatup rapat.
Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yang sangat
nikmat.
Horee, aku berhasil! teriakku dalam hati. Jelas dia kini juga terangsang berat.
Semakin asyik saja nih, pikirku. Kini kulepaskan hisapanku di susunya dan bertanya
(pasti suaranya sudah tidak tampak berwibawa lagi, tapi penuh nafsu): "terus,
habis cium susumu, dia cium lagi di sini ya?" tanyaku, sambil menunjuk pada
kemaluannya: "i.. iya Mbah.." katanya bergetar: "di pipis saya.. dicium terus
dijilatin".
Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela napas seperti sedih dan
terpaksa: "ya sudah Nduk, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang,
Mbah juga terpaksa harus melakukan yang sama. Coba kamu duduk di meja ini".
Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Dengan canggung dia
menurut: "buka lebar-lebar kakimu Nduk" kataku. Dia tampak bingung sehingga
harus kubantu. Kubentangkan paha kiri dan kanannya sehingga dia duduk
mengangkang di mejaku. Kini tampaklah kemaluannya dengan jelas, kemaluan anak
ABG yang baru ditumbuhi sedikit rambut. Warnanya kemerahan dan sangat
merangsang. Jelas ini tempik (istilah khas daerahku) yang belum pernah dijamah
laki-laki. Mataku berkunang-kunang karena nafsu.
Sekarang aku mengambil kursi, meletakkan tepat di depannya. Aku duduk di kursi
itu dan mencondongkan tubuhku ke depan, sehingga wajahku sekarang berhadapan
langsung dengan kemaluannya, hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Bau
khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Aku menelan ludah:
"agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya"
perintahku. Kini dia menuruti dengan patuh, mengangkat pantatnya sehingga
kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Dengan lembut kugosok-
gosok mahkota wanita itu dengan tanganku, ke atas ke bawah dan sebaliknya.
Kuremas-remas halus bulu-bulunya yang jarang, dan akhirnya kukecup kelentitnya
dengan bibirku.
"Aaggh.." Suminem mengerang (mana ada sih cewek yang kuat kalau dibegituin?).
aku semakin menggila. Kukecup-kecup kemaluannya dengan gemas, dari bagian
atas hingga bawah, lidahku menyelusuri belahan kemaluannya dan menerobos
bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan basah. Tubuhnya semakin
menggelinjang. Napasnya terdengar semakin memburu. Akhirnya kecupan dan
jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Kukecup-kecup terus kelentit yang tampak
semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dengan kuat. Sambil menghisap,
lidahku tetap dengan aktif menjilati kelentit itu sementara tanganku terus mengelus
elus daerah bawah kemaluannya, kadang-kadang jariku menyelusup ke lobang
kemaluannya yang terasa semakin lama semakin basah.
Suminem sama sekali sudah lepas kontrol. Erangannya semakin keras (untung saja
suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak
ada yang mendengar). tubuhnya berkelojotan ke kiri ke kanan, tangan kanannya
menumpu ke meja sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Di remas-
remasnya rambutku dan setiap kali kepalaku agak merenggang, ditekannya lagi ke
kemaluannya.
Jangkrik, pikirku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Tetapi bagaimanapun
suasananya sangat asyik. Aku semakin tenggelam dalam permainan yang penuh
nafsu ini. Kusungkupkan kepalaku semakin dalam di selangkangannya. Tidak
kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat
bergoyang dan berderak-derak. Sampai akhirnya: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah..
aku..aa.." jeritan yang entah apa artinya itu meluncur keluar dari mulut si bahenol,
diikuti dengan semprotan cairan dari lobang kemaluannya. Basah dan hangat,
sebagian menempel di dagu dan jenggotku.
Akhirnya kuangkat kepalaku dari kemaluannya, dan kucium dahinya yang
menunduk dengan napas tersengal-sengal. Aku berbisik: "piye, Nduk? Kamu sudah
merasa enakan sekarang?" dia mengangguk: "i..iya Mbah.. enakan sekarang.." aku
hampir ketawa. Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau
aku kerjain. Sekarang sampailah pada tahap selanjutnya, pikirku.
Tanpa basa basi aku melepaskan jubahku dan celana dalamku. Kulihat wajahnya
yang tadinya menunduk sayu sekarang terangkat, matanya membeliak melihat aku
sudah telanjang bulat di depannya. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis
(wajahku juga nggak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini
dicukur). Batang kemaluanku (istilah di daerahku: kontol) lumayan besar, dan
selalu jadi kekaguman cewek-cewek yang pernah main seks denganku.


Admin Mesum - 05.22

Gairah Tetanggaku 06

Kupeluk buah dadanya dalam tangkupan telapak tanganku dan ia membungkuk
berpegangan ke bak dan pantatnya, pinggulnya berputar-putar, rasanya penisku
diulek-ulek dan tiap kali ia berputar tambah cepat dan gelombang-gelombang
sinyal kenikmatan mulai terbentuk seperti tsunami bergelora, "Aahk.." ia menjerit
cukup kencang sampai aku sempat sekilas kaget berpikir, wah kalau kedengaran
tetangga bisa gawat, tapi langsung hilang karena orgasmeku sudah menjelang.
"Plok.. plek.. plekk.." bunyi tubuh kami beradu bercampur keringat dan cairan bau
di sekitar situ sudah mesum sekali bau sex, edan. Meletuplah Mbak Icih dan
erangan-erangannya terus menerus. Tiba-tiba cengkeraman vaginanya begitu kuat
sampai aku menjerit karena agak sakit dan dikendorkannya sedikit. Aku pun tidak
kuat lagi menahan, "Mbak Icihh.." kukandaskan dalam-dalam batang penisku dan
zakarku rapat-rapat dengan bibir vaginanya, dan akhrinya kami saking lemasnya
jatuh terduduk di depan bak cuci piring itu. Terengah-engah dan berpelukan
telanjang bulat. Spermaku bertebaran di lantai dapur. "Mbak Mbak.. enak sekalii..
Mbak Icih hebat bangett.." Mukanya agak merengut dan aku sengaja tidak
memberi tadi tubuhnya. "Mas To, aduh saya sudah beneran mau gila tadi
rasanya.. untung masih inget kalau tidak saya sudah teriak kencang-kencang,"
katanya sekarang sambil tertawa mengingat keadaan tadi.
"Tapi enak kan ya Mbak, capek tidak Mbak?"
"Nggak Mas To.." sergahnya dengan cepat.
"Sudah, entar tidur di sini saja deh Mbak Icih," bujukku dengan penuh rencana.
"Entar saya kasih tahu Bu Etty atau Tante Ida kalau mereka pulang, aku bilang
takut sendirian di sini."
"Hi hi hi, mana mereka percaya Mas To.. mereka juga tahu lah..paling entar Bu Etty
bilang biar dia yang temenin.. hi hi hi.. " cekikan Mbak Icih menggodaku.
"Atau Mbak dan Bu Etty yang tidur di sini Mas To.."
Eh ini orang jahil pisan.
"Tapi pasti dikasih deh.." ujarnya lagi.
"Saya mandi dulu ya Mas To. Apa mau sama-sama mandi," godanya lagi.
"Sudah deh Mas To, istirahat dulu kan sudah 2 hari ini capek," lho kok dia tahu
saja ya, padahal kemarin kan dia tidak lihat. Aku belum tahu dan tidak curiga lebih
lanjut sampai beberapa waktu akhirnya aku mengerti, itu cerita lain lagi yang seru
juga.
Aku manggut saja, memang remuk rasanya badanku terasa juga, dan dengan
gontai aku masuk ke kamar dan aku juga mandi. Penisku kelihatan merah tua
sekali kepalanya dan sekitar kulit di kepala penis kelihatan agak seperti lecet tapi
aku tidak merasa sakit malah "baal", kebanyakan kali ya. Hmm, kemarin pagi aku
masih perjaka, luar biasa nasibku dalam 2 hari aku main dengan 3 cewek hebat-
hebat. Sambil mandi aku melamun kenapa tidak dari dulu ya, tapi ya sudah
memang jalannya gitu barangkali, batinku.
Setelah mandi aku baring-baring tetap telanjang, tidak ada siap siapa. Maksudnya
menunggu Mbak Icih mandi dan Ibu Etty cs balik, kan aku mesti menelepon
mereka. Eh, baru 3 menit aku ketiduran, bangun-bangun aku kaget sekali karena
sudah tengah malam. Aku bangun dan kulihat Mbak Icih masih nonton TV, hanya
pakai sarung dikembenin t-shirtnya entah kemana. Bahunya kuning bersih dan
pinggang dan pinggulnya seksi sekali dilihat dari belakang.
"Mbak sudah makan?"
"Sudah Mas To, dan tadi Bu Etty ke sini, saya sudah kasih tahu juga, Mas To takut
sendiri."
"Apa kata Bu Etty?" tanyaku ingin tahu.
"Kata Ibu ya sudah temenin saja. Dan mereka katanya mau tidur juga capek."
"Mas To mau makan lagi apa? Mbak gorengin nasi mau, mesti makan telor Mas,
buat nambah tenaga," katanya sambil senyum nakal.
Aku rasanya lesu dan lemas badanku.
"Tidak usah Mbak Icih, aku mau tidur lagi.. tapi Mbak Icih tidurnya ditempat saya
ya.. kan ranjangnya besar sekali."
"Ah malu Mas To.."
"Duh Mbak, apanya lagi yang malu, kan tidak ada siapa-siapa."
"Iya deh Mas To, entar Mbak mau nonton dulu ini sinetron ya.."
Sialan sinetron jelek dia mau nonton, mana ada sih sinetron kita yang bagus, bukan
sekalian bikin film biru munafik deh.
Besoknya pagi-pagi telepon membangunkan aku, "Kringg.."
"Ya hallo," sambutku.
"Oh Toto ini Tante Ida, kamu lagi sibuk tidak? Bisa ke rumah Tante sekarang?"
Kontan saja mendengar suaranya si buyung mulai menggeliat. Dasar ngeres dan
sudah ngerti.
"Tentu Tante, aku ke sana sekarang ya," jawabku dengan gembira ria.
Setiba di rumahnya, Tante Ida sudah cantik berpakaian rapi mau pergi. Aku agak
kecewa dan ia melihat itu.
"To, aku perlu pergi ke kantor Oom mau ngambil gaji. Dan sebentar lagi Ibu Etty
pulang arisan dan dia lupa bawa kunci. Mbak Icih lagi nganter anak-anak ke pesta
temen sekolah Ita. Kamu tidak keberatan kan jagain sebentar, paling seperempat
jam lagi pulang kok Bu Etty," ujarnya sambil memeluk pundakku.
Susunya nyengsol-nyengsol menyentuh lenganku. Uhh, sudah ingin remas saja deh,
dan si buyung sudah separuh naik. Sialan hanya mau diminta menunggu rumah,
batinku. Tadinya aku ingin tidur siang. Capai, habis krida hari ini.
Ya deh Tante Ida, tapi entar aku minta oleh-oleh ya," kataku sambil meraba
pantatnya dan seketika Tante Ida menggelinjang geli dan ia memeluk erat.
"Iya.." desahnya basah di daun telingaku.
"Aduh gelinyaa.."
Si "Ujang" langsung naik. Kumasukkan tanganku dari bawah blusnya dan kuremas-
remas bagian bawah buah dadanya. Biar minta bonus sedikit, dan penisku
kutempelkan di paha atas si tante biar dia tahu aku sudah siap. Tante Ida
melenguh dan, "To, aku mesti pergi, entar telat, kasirnya tutup nih," dan ditariknya
tanganku lembut dan dengan terengah-engah ikut nafsu juga. "To, Tante usahakan
pulang secepatnya deh, kamu sabar ya," lenguhnya berusaha melepaskan
remasanku.
Tapi sambil kepingin diteruskan juga sepertinya. Akhirnya lepas juga sambil
terengah-engah dan parasnya merona merah Tante Ida keluar, jalannya agak
terhuyung-huyung. Aku jamin celana dalamnya sudah basah lembab tuh. Tinggal
aku sendirian. Ya sudah aku ambil majalah lagi dan aku baring-baring baca di kursi
malas di kamar tamu. "Ahh.." aku meronta-ronta dan kok keras amat si buyung
dan terasa disedot-sedot orang. Wah rupanya aku ketiduran dan mimpi, kupikir.
Waktu kubuka mata aku terkejut melihat wajah tak kukenal, dan astaga aku sudah
telanjang bulat. Tanganku terikat ke atas di kursi malas dan penisku sedang
dilumat-lumat. Aku tak tahu siapa satu lagi wanita, aku hanya melihat kepalanya
dan punggungnya telanjang. Kakiku, kakiku, walah terikat juga ke kiri dan kanan
kursi malas. Aku masih setengah mengantuk dan bingung, sakit kepalaku rasanya
terbangun tiba-tiba. Akhirnya aku sadar betul dan ketika kupalingkan muka ke
kanan ada Bu Etty dan dan dia sudah bulat-bulat juga telanjang. "Bu.. saya
diapakan ini," kataku sambil nyengir keenakan. "Diam saja dah kamu," kata Bu Etty
tersenyum Ia bertolak pinggang dan duh buah dadanya menantang betul. Tapi
tanganku tidak bisa mencapainya. Ini siapa Bu semuanya, saya mau diapakan
sih?" Buah zakarku terasa geli sekali digaruk-garuk kuku wanita yang menyedoti
penisku.
Aku menggelinjang geli, dan Bu Etty meraba puting susuku. "Ahh.. enakk.." dan
tersiksa betul rasanya tanganku tidak bisa aktif, sudah ingin betul meremas susu
Bu Etty yang gundal gandul di dekat bahuku. "Ini temen-temen Ibu, To. Bu Endah
dan Bu Inggit. Kita tadi ngeliat kamu ketiduran dan ya seperti Ibu bilang ini temen-
temen ibu itu lho," katanya sambil menggeserkan buah dadanya di dadaku.
Putingnya ditekannya ke putingku. Enak, empuk, hangat, dan seketika aku tambah
bingung, lha tapi kenapa saya diikat. "Ya, kata Bu Etty kan kemarin itu kamu
ngikat Mbak Icih. Ha ha.. ha.. nah kami tadi iseng pengen ngerjain kamu nih To."
Hisapan Bu Endah terasa tambah menghebat, lidahnya berputar-putar di sekitar
kepala penisku dan aku sudah tidak kuat lagi mau meledak. Dan kuangkat
pantatku agar masuk lebih dalam. "Ehh.." Bu Endah malah berdiri dan melepaskan
mulutnya. Wah tergantung aku. Dengan terengah-engah aku bilang, "Bu tolong
dong Bu sedot lagii.. sudah mau muncrat nihh.. Buu.." Bu Endah, Bu Etty dan Bu
Ingit tertawa ramai-ramai, dan aku belum sempat memperhatikan seksama buah
dada mereka kontal kantil terguncang-guncang karena mereka tertawa melihat aku
yang seperti cacing kepanasan. Mataku masih sepet dan berkunang-kunang dari
ketiduran tadi. Bu Ingit kemudian mendekat dan mengangkang. Pantatnya
mengarah ke mukaku dan ia mulai turun sambil memegang batang penisku,
digosok-gosoknya ke mulut liang vaginanya dan aku mendesah lagi, karena enak
sekali dan aku sudah siap meledakkan orgasmeku. Bu Endah menggosokkan buah
dadanya ke mulutku yang langsung kontan saja aku sergap, dan putingnya kuhisap
dan lidahku berputar-putar di kacang keras itu.
Bu Endah merem melek dan kulit buah dadanya yang bening kelihatan garis-garis
hijau biru halus dan meremang pori-porinya. Bu Ingit masih hanya memasukkan
separuh kepala penisku dan senut-senut kempotan bibir mulut vaginanya hangat
dan enak sekali. Aku rasanya mau gila karena kenapa dia tidak memasukkan
semuanya, aku berusaha menaikkan pantatku tapi Bu Ingit selalu menjaga
jaraknya. Kurang ajar, dalam hatiku dan aku rasanya mau menjerit tapi mulutku
disumpal buah dada kenyal. Kuku tajam jari Bu Etty terasa mulai menggaruk di
sekitar duburku dan buah zakarku, menambah kebinalan di dalam otakku yang
sudah tak bisa berpikir lagi. Aku hanya terengah-engah dalam siksaan ketiga ibu-
ibu sexy sintal ini. Bisa dibayangkan, tidak semua mereka telanjang bulat (aku
juga) dan aku tidak bisa semauku. Keningku terlihat kencang mengejang dan urat-
urat dahiku keluar semua. Aku menggeram, "Ahh.. Ayo Buu.. aku pengen, tolong
dong.. masukkin Bu.." Bu Endah menarik buah dadanya dan ia berlutut dan
diturunkannya vaginanya ke mulutku, aku tak berdaya dan bau harum aku rasakan
keluar dan hawa panas hangat dari vaginanya yang lembab.
Aku ulurkan keluar lidahku dan kujilat-jilat, Bu Endah melenguh, "Uuhh sedapnya,"
dan pantatnya maju-mundur menggeruskan vaginanya di atas mulutku. Terus di
gerus-geruskan bibir vaginanya ke mulutku dan terasa cairan-cairan dari dalam
vaginanya meleleh masukk. Lidahku aktif menjilati lubangnya dan klitorisnya yang
sebesar kacang ijo. Bu Etty sih sebesar kacang merah nongol. Bu Ingit sementara
hanya berputar di atas kepala penisku. Telapak tangannya bertopang di atas
pahaku dan sambil meraba-raba dengan halus. Gilaa.. pahaku digarisnya dengan
kukunya yang panjang, "Alamakk.. gelii Bu.."
Bu Etty menungging dan merangkak ke dekat pantatku dan mulutnya mulai
menjilat-jilat daerah yang digaruk-garuknya tadi, sekarang dijilatnya dengan
lidahnya yang hangat, dan buah zakarku dikulum-kulum seperti lagi makan
cupacup dan dijilatnya pelan-pelan seperti orang makan biji salak. Akhirnya aku
tidak kuat lagi dan pantatku kunaikkan, kakiku mengejang. Bu Inggit terkejut dan
cepat ia membenamkan penisku dalam-dalam dan diputir-putirnya pantatnya
sampai kandas dan seketika letupan orgasmeku membanjir deras di dalam vagina
Bu Inggit dan Bu Inggit sendiri menggarukkan klitorisnya di batangku dengan cepat
dan pantatnya yang sintal berputar-putar, sebentar kemudian ia pun menahan
jeritannya, "Ahh.." kemudian diangkatnya naik-turun, aku melihat bibir vaginanya
keluar-masuk merekah belah oleh batang penisku yang basah mengkilap. Bulu
kemaluannya basah kuyup dan bersatu. "Uukhh.. Ahh.."
Bu Inggit kemudian bangkit dan "Plop," bunyi waktu penisku masih setengah
tegang lepas dari genggaman erat vaginanya. Spermaku meleleh sepanjang
pahanya yang putih. Bu Etty masih di bawah situ mengecup buah zakarku dan
tertetes-tetes di pipinya beberapa gumpalan spermaku. Kami terengah-engah
semua dan aku merasa nikmat yang luar biassa. Sepanjang beberapa jam itu aku
gantian ditunggangi oleh Bu Endah kemudian terakhir Bu Etty, karena dia nyonya
rumah jadi terakhir. Aku sendiri di servis demikian merasa sesuatu pengalaman
yang lain dari yang lain. Belum pernah aku dimanjakan oleh 3 wanita sekaligus
begitu. Malam itu aku ketiduran di antara ketiganya dalam keadaan telanjang
bulat.
TAMAT


Admin Mesum - 05.10

Gairah Tetanggaku 05

"Tok tok tok.." ada yang mengetuk pintu samping. Kemudian aku ke situ, Tante Ida
pikirku. Waktu itu aku tidak jadi senang mikir sebenarnya karena aku sendirian bisa
main lagi sama Tante Ida di rumahku. Kubuka pintu, ternyata Mbak Icih membawa
nampan dan katanya, "Mas To, ini dari Tante Ida, beliau ada tamu luar kota mesti
ditemenin ke stasiun jemput saudara, katanya gitu dan ini disuruh makan dan
Mbak disuruh nemenin Mas To sampai selesai makan. Bu Etty dan anak-anak juga
ikut semua." Aku bengong dan kupandang Mbak Icih biasa-biasa saja. Aku ambil
nampan dan kukatakan,
"Tidak usah ditemenin deh Mbak, aku bisa."
"Ah jangan Mas To entar saya dimarahin, lagian di rumah tidak ada orang, saya
rada takut sendirian."
"Lho sudah dikunci belum rumahnya," tanyaku.
"Sudah Mas."
"Iya sudah masuk deh Mbak!"
Aku makan dan Mbak Icih duduk di dingklik nonton TV, biasa sinetron "blo'on"
Indonesia. Tiba-tiba Mbak Icih cekikan pelan, aku lihat di TV pas ada iklan,
Srimulat rupanya. Aku masih mikir soal ketangkap tadi. Akhirnya aku ngomong to
the point .
"Mbak Icih jangan cerita siapa-siapa ya soal tadi di kamar Bu Etty."
"Oh itu tidak apa-apa kok Mas To, di rumah situ mah bebas saja. Hanya saya ya
kaget saja karena tadi saya kira tidak ada orang."
"Maksud Mbak gimana, bingung aku."
"Oh gini loh Mas To. Kalau laki perempuan kan lumrah suka gituan."
Aku jadi tambah bengong saja, ini orang ngomong apa sih.
"Mbak Icih kan sudah pernah kawin.." lanjutnya sambil senyum-senyum.
Dan di dingklik itu ia duduk sambil cerita sedikit sembarangan, sehingga sarungnya
tersingkap di tengah. Aku menangkap pemandangan itu kelihatan betisnya, eh.. ini
orang mulus juga. Biasanya orang dari desa suka kurang terawat, aku sekarang
jadi melihat secara sadar, wah ini orang boleh juga.
Aku tidak jelas umurnya berapa, tapi orangnya rapi dan feminin. Buah dadanya
kulihat naik-turun di balik kaos lusuh pemberian majikannya, barangkali kira-kira
separuh Bu Etty dan Tante Ida deh. Si "Ujang" di balik celanaku terasa mulai
bergerak-gerak lagi. Waktu itu sudah jam 07.00-an rasanya. Selesai makan aku
sikat gigi di kamar mandi dan kudengar Mbak Icih beres-beres dan cuci piring.
Keluar dari situ, kulihat Mbak Icih masih nyuci dan kupandang dari belakang. Mak..
pantatnya molek di balik ketatnya sarungnya itu tampak jelas. Aku berdiri di
sampingnya dan kami saling memandang dan seperti ada kontak hati saja.
Suasananya terasa seperti ada listriknya antara kami, dan aku ulurkan tanganku
meraba pantatnya dan naik ke pinggangnya. Kupeluk dari belakang dan
kumasukkan tanganku ke depan di bawah kaosnya, terasa BH-nya yang kasar
menutup buah dadanya. Aku remas-remas dari luar BH-nya, dan terasa pantat
Mbak Icih mundur merapat ke penisku bergeser-geser. Kucium kuduknya dan ia
menggelinjang.
"Entar dulu Mas To, piringnya pecah entar," ujarnya perlahan.
"Taruh saja dulu," jawabku.
Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak tanganku, kedua puting
susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak Icih lemas dan bersandar
ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang keras dan menusuk dari
dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan tanganku dan kulepaskan sarungnya dan
jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal celana dalamnya dari kain bekas terigu itu.
Tangan kananku masuk dan telapak tanganku menangkup di atas vaginanya,
tangan kiriku masih meremas-remas buah dadanya. Celana dalamnya longgar dan
kudorong ke bawah sampai ke lututnya dan kutarik dengan jari kakiku sampai
turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak Icih juga diulur ke belakang dan
mencengkeram batang yang membara sambil ia mendesah kegelian. Kulihat lengan
atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya dia. Aku turunkan celanaku dan
kemudian kuangkat pahanya sebelah dan kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir
bak itu.."
Jadi sekarang vaginanya pas terbuka di depan penisku yang sudah mengacung ke
atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas masukin!" Aku hanya maju-
mundur mengarukkan penisku di sekitar pantatnya dan lubang vaginanya.
Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih berusaha
menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah kencang
desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya dari depan sambil
berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo dong..
masukin..!" keluhnya. Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak
tanganku kedua puting susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak
Icih lemas dan bersandar ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang
dengan keras dan menusuk dari dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan
tanganku dan kulepaskan sarungnya dan jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal
celana dalamnya dari kain bekas terigu itu. Tangan kananku masuk dan telapak
tanganku menangkup di atas vaginanya tangan kiriku masih meremas-remas buah
dadanya. Celana dalamnya longgar dan kudorong ke bawah sampai ke lututnya
dan kutarik dengan jari kakiku sampai turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak
Icih juga diulur ke belakang dan mencengkeram batang yang membara sambil ia
mendesah kegelian, kulihat lengan atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya
dia. Aku turunkan celana dalamku dan kemudian kuangkat pahanya sebelah dan
kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir bak itu." Jadi sekarang vaginanya pas
terbuka di depan penisku yang sudah ngacung ke atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas, masukin!" Aku hanya maju-
mundur menggarukkan penisku di sekitar pantatnya dan nyundul-nyundul lubang
vaginanya. Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih
berusaha menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah
kencang desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya di depan
sambil berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo
dong.. masukin.." Keluhnya mendesah-desah basah suaranya, menambah seru dan
panas. Aku lepas t-shirt-ku dan kaos Mbak Icih, BH hitamnya yang sudah
tersingkap kurengut dan telanjang bulatlah kami.
Aku terus sengaja hanya menciumi dan menggigiti telinganya, dan tiap kali
merinding bulu tengkuknya, kelihatan pori-pori lengannya meremang dan ia
menggelinjang geli. Penisku tergosok-gosok celah di antara bukit pantatnya tiap ia
menggelinjang. Kupeluk terus dari belakang dan pahanya masih tetap di atas bak
yang sebelah. Penis kugaruk-garukkan ke tepian lubangnya dan banjir cairan kental
dari lubangnya tambah banyak, berkilap-kilap mengalir di sepanjang paha yang
satu. Ia mencoba lagi menggapai penisku tapi aku mundur dan tetap kupelintir
klitorisnya dan kugosok-gosok lembar dalam bibir vaginanya dengan ujung kuku.
Mbak Icih tambah panik dan keluhannya seperti orang yang sudah mau menangis
kepingin sekali. "Ahh Mas To, ayo dong masukinn Mass.. Mbak tidak kuat lagii.."
kepalanya digoyang-goyangnya ke kanan ke kiri (katanya, orang ekstasi juga gitu
ya).
P.S: Aku memang lagi iseng ingin eksperimen setelah dicakar, dicekik kepala
penisku sama Bu Etty pertama kali, pas aku mau muncrat itu.. memang loh bener
lebih enak, gayanya kalau tidak langsung digebrusin muncrat, dan kalau high
dengan narkoba gitu ya. Amit-amit, aku tidak pernah mencoba sekali juga (habis
menurutku goblok tuh yang main narkoba dan obat batuk hitam, apa urusannya, ya
aku yang ngetik).
"Iya.." Mbak Icih membisikkanku dekat sekali telinganya dan mengembus ke
lubang, kugigit juga sedikit anak telinganya. Kumasukkan sedikit dari bawah
penisku ke mulut lubang vaginanya dan kupegang batang panisku dan kuputar-
putar di gerbang itu tanpa aku dorong masuk. Mbak Icih berusaha memasukkan
lebih dalam tapi kutarik kalau dia agak turun. "Mass.. jangan disiksa dong..
tusukkin tusukkinn.." jeritnya agak keras. Aku kaget juga, gila ini Mbak. Nafsunya
sudah tidak terkendali lagi. Ya sudah aku masukkan setengah dan kugoyang
pinggulku dan ia juga segera naik-turun. Tangan kiriku meremas-remas buah
dadanya dan sambil memulir-mulir puting susunya yang sudah keras seperti kerikil.
Erangan Mbak Icih menambah erotisnya, dan busyet.. empotan vaginanya bukan
main, beda sekali dengan Bu Etty atau Tante Ida, agak kering tapi tetap enak
sekali. Kepala penisku terasa digenggam beludru dengan mapan sekali. Berkunang-
kunang rasanya mataku, kugigit lagi sedikit pundaknya sambil kuciumi terus
kuduknya. Tangan Mbak Icih menjulur ke belakang dan meremas-remas bukit
pantatku, sementara tanganku satu lagi juga tidak menganggur memoles-moles,
kupetik-petik biji klitorisnya yang tambah nongol keluar. Gila ada sebesar kacang
Garuda yang belum dikupas. Terasa keluar dari lubang sisi atas vaginanya, keras-
keras empuk. Mbak Icih tambah menggerung-gerung, "Ahh.. ahh.. Mas Mass.." dan
tiba-tiba ia turunkan kakinya dari bak dan menarik pantatku dan masuklah amblas
sedalam-dalamnya penisku. Pantatnya menempel rapat sekali. Terasa lincir karena
keringat kami yang sambil berdiri mengalir. {Bau badan Mbak Icih itu seperti bunga
melati, sama dengan orang Cendana suka melati dia ini). Bersih, biar dia orang
dari kampung tapi sepertinya mengerti kebersihan badan.
Bersambung ke bagian 06


Admin Mesum - 05.07

Gairah Tetanggaku 04

Rupanya hari itu Tante Ida sekalian mau belanja, jadi ia pergi sama anak-anaknya,
makanya Bu Etty yang di rumah. Sambil istirahat kami membuat minuman hangat
dari termos di kamarnya dan duduk di ranjang di kamar Bu Etty. Kami tetap
telanjang bulat.
"Bu, jadi tahu ya tadi malam aku main sama Tante Ida."
"Iya dong nak, kan Ibu sudah pengalaman dan lumrah kok seperti Ibu bilang tadi
kami memang wanita yang nafsunya kuat sekali."
"Lalu, kata ibu tadi seminggu sedikitnya 4 kali, sama siapa biasanya Bu?" tanyaku
sambil membaringkan badan memegang memilin-milin puting susunya.
"Oh.. Ibu sama teman-teman bertiga, ada semacam klub kecil," katanya sambil
tertawa renyah sambil ekspresi mukanya menahan geli dari pilinan jariku.
"Biasa kami nyari anak SMA, mahasiswa atau anak-anak muda dan kami bawa ke
villa teman Ibu atau ke hotel juga."
"Ibu makanya awet muda ya, itu kami selalu nyari perjaka-perjaka untuk
diperawanin," cekikiknya manja.
Tangannya juga iseng meraba-raba pantatku dan dari bawah pahaku ke belakang
dijamahnya lagi buah zakarku.
"Ibu paling demen sama anak seumur kamu deh, nafsunya besar dan cepet sekali
pulihnya, bentar-bentar sudah ngaceng lagi.." ujarnya.
Sambil terus meremas-remas buah zakarku dan batang penisku yang sudah mulai
berdiri lagi. Didorongnya badanku sehingga aku rebah dan Bu Etty naik ke atas
mengangkangkan pahanya dan ia berjongkok di atas penisku yang separuh tegang.
"Diam ya nak To.." Pelan-pelan dipegangnya daging sosisku dan disaputkannya
kepala penisku di tepi-tepi bibir vaginanya yang ada rambutnya. Aduh, nikmat
sekali dan pelan diarahkannya ke lubang nikmat itu dan "Bless.." mulai masuk lagi,
nikmat luar biasa walau penisku terasa agak perih digeber dua hari ini. Belum
tegang penuh tapi vagina Bu Etty seperti bisa menarik masuk dan tekanan
pinggulnya sedemikian rupa.
"Aku suka sekali di atas," kata Bu Etty, "Karena bisa ngontrol gerakan dan garukan
batang penis ke klitorisku," katanya. "Sekarang diam, nak Toto rasakan merem
deh.. merem.." Aku merem dan senut-senut terasa sekali dinding lubangnya
berdenyut-denyut kencang. Bu Etty tidak ngapa-ngapain, hanya merem juga waktu
kuintip. Aku merem lagi dan kuulurkan tanganku ke buah dadanya yang montok
sekali itu. Duh.. seperti memegang melon. "Remes To.. remes!" keluhnya manja
sekali dan penuh nafsu. Suaranya berdesah-desah, "Ahh.. ahh.. enakk.. putingnya
To.. putingnya ibu atuh.. uhh.." Pinggulnya mulai berputar pelan-pelan sekali gaya
penari jaipong dan kadang sambil jongkok ia menaik-turunkan pinggulnya.
Hebatnya sedotan dari dalam vaginanya itu lho. Aku rasa kalau vacuum cleaner-
nya rusak bisa tuh dipakai menyedot debu.
Buat aku ya enaknya buah dadanya tersaji di depan mataku dan tinggal ulurkan
tangan saja. Aku meremas-remas buah melon yang kenyal itu.
"Bu, aku diajak ke tempat teman-teman Ibu dong.." ujarku tiba-tiba.
"Ha ha.. ha.. entar kamu apa kuat ngelayani kami-kami To?"
"Coba deh Bu.." bisikku sambil terus meremas buah dadanya.
"Gini deh, lain kali aku ajak kamu tapi aku tidak bilangin mereka kamu sudah
pernah main ya.. biar lebih seru.. Kemarin sama nak Ida gimana enak?"
"Enak juga Bu, tapi kayaknya Ibu Etty lebih jago ya.." pujiku sambil mataku
terbelalak-belalak karena genjotan pinggul Bu Etty tambah seru saja.
Keringatnya menetes-netes ke dadaku dan bau harum badannya tambah kuat
karena hawa panas badannya. Harum sekali si ibu ini, pikirku sambil menikmati
hentakan pinggulnya yang tambah cepat. Dan tiba-tiba Bu Etty kandas dan
vaginanya merapat lagi dengan buah zakarku. Sekarang ia berputar-putar tanpa
naik-turun. Terasa ujung penisku di dalam itu seperti diperas dengan kuat sekali
dan.. "Srot.. srot.." aku meledak ledak tak terkendali lagi. Letih betul rasanya dan
kami tertidur setelah itu.
Sorenya menjelang magrib aku terbangun dan Bu Etty masih telanjang bulat. Aku
pelan-pelan bangun mau beranjak pulang mencari celanaku, tiba-tiba aku melihat
ada orang di pintu mengintip dan ia tidak melihat aku di dekat kamar mandi.
Rupanya Adelin keponakan Tante Ida yang kuliah di kota ini berkunjung. Aku kaget
dan tidak tahu mesti apa. Wah kalau ketahuan tidak enak. Adelin cantik sekali
anaknya dan seperti tantenya Ida dan Bu Etty, tubuhnya juga seksi sekali. Ah,
untung dia melihat Bu Etty tidur dan dia pergi lagi. Sekarang bagaimana aku keluar
nih. Pintu paviliun Bu Etty tidak pernah dibuka dan ada lemari di depannya. Ya
sudah aku pakai baju kaos dan celanaku dulu deh. Pelan-pelan aku buka pintu
kamar dan kuintip, wah si Adeline lagi sama Mbak Icih di dapur, aku mengendap-
endap ke kamar tamu dan pura-pura duduk baca majalah.
"Lho ada kamu To," ujar Adeline waktu masuk lagi dari dapur.
"Kamu ngapain? Aku nggak lihat kamu masuknya."
"Aku mau baca majalah nih.." sahutku sekenanya.
"Ok, aku mau pergi dulu ya," katanya sambil keluar.
"Tante Ida belum pulang ya?"
Adelin berputar dan ala mak pinggulnya seksi banget deh dan aku karena sudah
ngeres melulu 2 hari ini langsung merasa desiran di penisku. Adeline pergi dan aku
sendirian di ruang tamu menjelang petang dan aku jadi naik ke otak lagi.
Aku bangkit dan ngintip ke kamar Bu Etty. Wah masih tidur nyenyak habis di servis
enak sih. Tiba-tiba ia bergulir miring membelakangi pintu dan aku, selimutnya
tersingkap, wah pantatnya terlihat dan dari belakang bulu-bulu serta kemaluannya
jadi kelihatan sudah deh si "Ujang" langsung bangun dan aku jadi bingung.
Mestinya Tante Ida sebentar lagi pulang dan kalau aku main lagi takut ketahuan
deh. Bu Etty bergeser lagi dan telungkup, kakinya terbuka dan aku bisa lihat jelas
vaginanya. Lututku lemas dan nafasku menderu. Aku tidak kuat lagi, biarin
ketahuan-ketahuan deh. Aku masuk dan kukunci pintu perlahan. Kubuka celana
pendekku dan aku dekati pelan-pelan dari belakang. Kuendus-endus dulu sekitar
vaginanya, wah ternyata masih basah, dan karena Bu Etty mengangkang sambil
terlungkup aku bisa lihat jelas dalam cahaya senja yang masuk pas di garis
pantatnya yang sintal dan besar itu. Aku berlutut dan pelan-pelan kudekatkan
penisku. Pelan kuletakkan di mulut bibir vaginanya dan aku diam. Hmm, tidak
bereaksi, kudorong pelan sekali mendesak bibir tebal itu. Masuk sedikit lagi, duh
enaknya karena terasa hangat. Aku diam lagi menikmati dan kugerakkan sedikit
halus sekali. Tiba-tiba Bu Etty bergerak lagi menggeser pantatnya dan "Bles.."
malah masuk lagi, sekarang kepala penisku.. eh masih tidak bangun juga. Dengan
halus sekali aku dorong lagi sedikit sekali, terasa berdenyut-denyut dinding
vaginanya dan seperti "nggremet-grement".
Duhh.. enak banget. Aku maju lagi. Tanganku bertelekan di ranjang tanpa kena
tubuh Bu Etty, sudah rada pegel sih, tapi nafsuku sudah menderu-deru dan aku
sudah tidak peduli apa-apa lagi habis enak sekali. Maju lagi sudah 3/4 batang
masuk dan terasa ada aliran cairan ikut dari dalam. Tiba-tiba pintu terbuka dan
Mbak Icih masuk dengan setumpuk pakaian baru disetrika. Dia tidak tahu rupanya
karena kamarnya gelap bahwa ada orang di dalam. Aku panik dan sudah tidak bisa
narik diri lagi. Mbak Icih menyalakan lampu dan dia terpana melihat kami. Dia lihat
Bu Etty tidur, ya aku hanya bisa pucat dan diam karena kalau dicabut pasti bangun
Bu Etty. Akhirnya aku hanya bisa meletakkan jariku di bibir bilang supaya Mbak Icih
diam. Penisku langsung lemas dan Mbak Icih langsung keluar, untung dia tidak
menjerit. Aku jadi hilang nafsu dan kutarik pelan-pelan batang yang sudah lembek
itu dan aku cepetan pakai celana lagi.
Keluar dari kamar kulihat Mbak Icih terdiam di dekat dapur. Aku mau mendekat ke
sana, tiba-tiba pintu depan terbuka dan Tante Ida pulang. Dalam hati aku
bersyukur juga, kan tidak enak kalau pas lagi "ngegenjot" tadi. Rupanya waktu
kukunci tidak benar masuknya karena pintunya belum tutup betul. Dasar kalau
sudah nafsu begitu sudah tidak jalan otak dan rasa.
Aku panik dan Tante Ida melihat aku, hampir saja tidak terdengar.
"To cari majalah lagi?" tanyanya.
"Apa, apa.. Tante? Oh ya.."
"Kamu kenapa To, mana Ibu?" katanya sambil masuk ke dalam dan pantatnya
disenggolkannya ke pantatku.
"Oh itu Ibu Etty tidur sore.." ujarku.
Aku masih bingung bagaimana dengan Mbak Icih. Tante Ida langsung ke dapur dan
kudengar ia meminta Mbak Icih memanaskan makanan-makanan yang dibawanya.
Hmm aman sedikit, kupikir dia sibuk.
"To, mau makan di sini?" tanya Tante Ida.
"Tidak deh.. aku disuruh jaga rumah kok Tante (he he..he jaga rumah malah
setengah hari di rumah tetangga). Ayah dan ibu semua pada pergi ke Bogor
pulangnya besok pagi-pagi."
"Wah kamu sendiri ya," kata Tante Ida sambil mengedipkan mata.
"I.. iya.. ya.. (wah tadi aku kunci rumah tidak ya)" jawabku sekenanya.
"Ya sudah, kamu mau pulang?"
"Iya iya.."
Aku masih bingung, sudah tidak tahu mesti apa tentang Mbak Icih.
"Nanti Tante ke sana deh lihat kamu," katanya lagi sambil tersenyum berarti.
Aku lantaran bingung hanya bilang iya tanpa ekspresi.
"Kamu baik-baik saja To?" tanyanya lagi.
"Iya Tante.. pulang dulu ya.. itu majalah saya sudah rapikan lagi."
Dan aku pulang sambil berdebar-debar apa yang akan terjadi nanti.
Pulang aku mandi, berusaha menenangkan diri. Dalam hati aku menyesel kenapa
mengikuti nafsu saja, jadi kacau semua akhirnya, pikirku. Tapi ya sudah kupikir
semua sudah terjadi, bagaimana nanti deh. Aku belum makan tapi sudah tidak
kepinginan. Selesai mandi aku bereskan buku untuk besok, berusaha mengalihkan
pikiran.
Bersambung ke bagian 05


Admin Mesum - 05.05

Gairah Tetanggaku 03

Kuulurkan tangan yang gemetar dingin dan dipegang oleh Bu Etty.
"Ya sudah," katanya.
"Ini ayo remas-remas lagi, kan kamu pengen," sambil menaruh kedua telapak
tanganku di atas buah dadanya.
Aku tambah takut dan bingung, tidak percaya, dan kutarik tanganku kembali begitu
menyentuh buah dadanya seperti kena panci panas. Bu Etty malah jadi tertawa
kecil. "Nak To, jangan cemas tidak ngegigit kok buah dadaku," derainya sambil
tersenyum sekarang. "Aku kemarin malem lihat kok kamu jam berapa pulang dari
sini, dan ya aku ngerti kok si Ida itu sama saja memang nafsunya besar sekali.
Seperti aku juga," ujarnya. "Ibu juga seminggu mesti sedikitnya 4 kali main,"
katanya tanpa malu-malu. Aku hanya bisa mengangguk-angguk tidak tahu mesti
menjawab apa. Tahu dong kalian kalau habis begitu kan perut masih mual enek,
terkaget-kaget, duh untung aku tidak ngompol di depan dia deh. Mana dia
ngomongnya blak-blakan begitu seperti bukan orang Indonesia saja. Aku merasa
pening sakit kepala.
"Duh nak Toto kaget ya," sambil berdiri ia menarik aku dan dipeluknya kepalaku ke
buah dadanya. Baru aku agak tenang, dan tiba-tiba terasa tangan Bu Etty turun ke
pinggangku dan "Sret.." sekali tarik celana kaosku sudah ditariknya separuh turun.
"Hi.. hi.. hi.. lihat nak, mengkerut kecil tuh si buyung. Kasian deh kamu, sini Ibu
hiburin dia," sambil ditariknya kepala penisku yang tidur, ia membungkuk dan
seketika handuknya terlepas total jatuh di kakinya dan bebaslah tubuhnya yang
jangkung itu dari segala hambatan. Beda dengan Tante Ida, Bu Etty kulitnya
kuning, turunan Sunda sih. Tante Ida mungkin dapat kulitnya hitam begitu dari
bapaknya yang turunan Ambon barangkali.
Ia berjongkok di depanku, ditaruhnya penisku di tapak tangannya dan disaputkan
ciumannya di penisku sepanjang batangnya, disaputkan dengan halus batangnya,
disaputkan dengan halus, ketika si "Joni" dikasih angin begitu langsung mulai
memanjang deh. Tangannya meremas-remas lembut sekali di buah zakarku dan
aku juga masih shock karena belum pernah tahu ada soal cium mencium alat vital.
Dengan jelas kemarin sama Tante Ida cuma dia kenyot sebentar saja, duh bodoh
benar deh kalau ingat itu.
Didorongnya aku ke tempat tidurnya dan mulutnya sekarang mulai merekah dan
lidahnya terasa kasap keluar menjilat-jilat batang penisku. Tak terkira nikmatnya
dan aku cuma bisa mengeluh lenguh, "Aahh.. ahh.." Kubaringkan badan di tempat
tidur Bu Etty dan si ibu pelan-pelan sambil terus menghisap kepala penisku. Bu
Etty kemudian berputar dan akhirnya vaginanya di atas mulutku. Terbelalak aku
melihat rimba lebat dan mulai merekah lubangnya yang merah seperti kerang
mentah itu. Aku cuma mencium bau nafsu yang keluar dari situ dan kelihatan mulai
basah lubangnya. Tiba-tiba Bu Etty menurunkan pinggangnya dan seketika
vaginanya hanya tinggal 1 cm dari mulutku. Aku angkat kepalaku dan mencium
sedikit bibir vaginanya. "Ahh.." lenguh Bu Etty. "Terus terus To.." wah langsung
kusergap dan kukenyot kencang-kencang dan lidahku beputar-putar menjilat-jilat
lubang dan tepian bibir vaginanya. Tidak mengerti sih mesti diapain.
Dan Bu Etty melepas penisku dan ia duduk di atas bibirku sambil menggosokkan
berputar di atas mulutku, wah aku hampir tidak bisa bernafas. Paha atasnya terasa
mengepit kepalaku dan terasa cairan dari lubangnya tambah banyak. "Ayo To,
lidahnya jilatkan ke atas ke bawah sepanjang bibir vagina Ibu," jelasnya. Wah
tambah deh ilmuku. Kelak ilmuku ini ternyata digemari sekali oleh wanita-wanita
yang pernah kutiduri, ya ini dapatnya waktu sama Bu Etty ini. Eh, ngomong-
ngomong hati-hati ya kalau oral karena salah satu sumber penyebaran AIDS juga
dari cara ini (hayo mau kamu kondomin gimana tuh).
Tiba-tiba kurasa tekanan pinggangnya tambah kencang kandas memepetkan
vaginanya ke bibirku dan ia menjerit-jerit kecil, "Ahh.. ahh.. enakk.. hebat kamu
To.. Ibu enakk sekalii.." rupanya ia orgasme dengan hebat sekali. "Hah.. hah..
hahh.. uhh.." ia terengah-engah dan bibir vaginanya menempel dan ia terbadai
terduduk. Vaginanya masih menempel di mulutku dengan rapatnya. Kutelan cairan-
cairan yang mengalir menetes dari dalam liangya. Dan kudorong sedikit pantatnya
itu sambil lidahku menjilat di sekitar sisi luar bibir vaginanya terus ke arah
pantatnya, aku jilat-jilat pelan. Terasa kasarnya lidahku membuat ia bergelinjang
geli. "Ahh.. ahh.. Toto kamu kok.. pin.. ter.. sekalii.." Dan penisku sudah tegang
keras bukan main yang tadi tersia-sia, disergapnya lagi dan dimasukkannya lagi ke
dalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Lidahnya melilit-lilit di sekitar kepala
penis mengikuti lekak lekuk dan nikmatnya tak terbayangkan, sulit kuceritakan di
sini. Aku mengejangkan kakiku dan pantatku sampai terangkat-angkat dari kasur
sehingga penisku tambah panjang terisap-isap Bu Etty. Bu Etty mengambil bantal
dan disedakkannya di bawah pantatku sehingga terasa sekali penisku seperti
terdorong ke atas tambah panjang.
Bu Etty terus mengenyot dan kepalanya ikut maju-mundur sambil kedua tangannya
meraba-raba zakarku. Sekali-kali dirabanya sekitar antara pantatku dan zakar.
Kukunya yang panjang menggaruk-garuk halus dan gelinya bukan main, menambah
nafsuku. Sampai merinding semua kulitku. Aku terengah-engah sudah tak sadar
bagaimana tingkah kelakuanku. Bu Etty masih tetap nungging di atas kepalaku dan
pemandangan vaginanya menambah nikmat. Kutarik lagi pantatnya dan kulumat-
lumat dengan mulutku lagi. "Auhh aihh.." terdengar suara Bu Etty terhalang
penisku dan seketika kulitnya meremang merinding karena geli dan nafsu.
Aku tiba-tiba merasa spermaku mulai bergelombang mau keluar, kulepas ciuman di
vagina Bu Etty dan aku berderau parau, "Ahh.. Buu.. terus.. terus.." Tapi tiba-tiba
Bu Etty melepaskan mulutnya dan dicekiknya batang penisku sampai sakit sekali
dengan kukunya, "Aauu.. aduhh aduhh.." jeritku kesakitan. Aku terkejut sekali dan
kecewa karena gelombang nikmatnya jadi hilang lenyap, terasa aku frustasi dan
mau meledak marah rasanya. Bu Etty sambil bangkit duduk di sisiku sambil
tertawa dan katanya, "Sudah ya nak Toto.. pakai bajunya gih.." Mulutku selebar
Goa Gajah ternganga bingung. Sadis amat ini orang, kok begini Bu Etty, pikirku.
Maksudnya apa?
Mataku merah dan rasanya berkunang-kunang, pusing rasanya kepalaku dan aku
tidak tahu mesti ngapain. Nafsuku masih menggebu-gebu, nafasku terasa menderu.
Akhirnya aku gelap mata dan kutubruk Bu Etty sampai terjatuh di atas ranjang dan
kubuka pahanya dengan paksa. Terasa ia mencoba menutup pahanya melawan dan
kucegah dengan kedua pahaku. Tangannya kutekan ke kiri dan kanan di atas
keranjang dan ia meronta-ronta. Kutabrakkan penisku ke lubangnya, waduh
susahnya, karena ia menggelinjang-gelinjang. Mulutku mengecup dan mengisap
putingnya. Aduh gimana nih aku sudah nafsu sekali tapi penisku tidak masuk-
masuk. Tiba-tiba kucoba gigit sedikit putingnya dan "Kres.." kucengkeramkan
gigiku. "Auu.." jeritnya dan pinggangnya terdiam, langsung aku manfaatkan dan
kepala penisku kudesakkan masuk ke lubangnya yang basah. Dan aku genjot
kandas batang penisku sedalam-dalamnya biar Bu Etty tidak berontak-berontak
lagi, takut lepas.
Ia masih mencoba meronta-ronta dan nikmatnya hentakan ronta-rontaan itu ke
vaginanya di batangku. Kupaku dengan penisku dan aku tindih dengan badan juga,
buah dadanya yang sintal lepas tertekan dadaku dan tanganku masih
mencengkeram kedua tangan Bu Etty. Setelah dia agak diam, aku goyang hanya
berputar-putar tanpa mencabut batangku lagi kencang-kencang, habis takut dia
berontak lagi. Terasa buah zakarku gondal gandul bergesek-gesek menghantam
menekan sisi bibir vaginanya yang tebal dan bulunya menggesek-gesek buah
zakarku, geli sekali dan meledak-ledak spermaku dalam 2 menit di situ. Aku lupa
diri, luar biasa nikmatnya karena tadi tidak jadi keluar waktu di "karaoke" sama Bu
Etty dan badan kami kejang-kejang. Tiba-tiba Bu Etty membalik dan ia sudah di
atas dan ia menggoyang-goyang pinggulnya dengan putaran kuat. Mataku
terbeliak-beliak nikmat. Buah dadanya bergoyang-goyang liar dan kutangkap
dengan kedua tanganku dan kuperah. Bu Etty juga mendesah-desah keras,
akhirnya orgasme lagi, akhirnya terhempas ia ke atas tubuhku yang penuh keringat.
"Nak Toto enak ya," katanya sambil tersenyum.
"Tadi kusengaja itu karena dengan gitu nikmatnya lebih tinggi lagi."
"Duh Ibu pintar sekali sih, belajar dimana sih?
"Lho kan Ibu turunan orang Sunda juga nak Toto, kalau itu memang bakat alam
soal ginian, makanya pada pinter kalau jaipong."
"Oh itu tadi gerak jaipong ya Bu.."
"Iya dong.." katanya sambil mencubit pelan di buah zakarku yang sudah mengkerut
keriput.
Penisku masih setengah berdiri dan kepalanya merah tua basah ( with an apology
to our Sundanese reader or is it a compliment? No offence meant ladies buddy,
that was my best experience ever.. viva Sundanese ). Kami lalu mandi bebersih
bersama-sama saling menyabuni. Kemudian ya jadinya main juga sekali di kamar
mandi sambil berdiri. Aku bereksperimen diajarkan sama si ibu, memasukkan
penisku dari belakang. Bu Etty membungkuk dan goyang jaipongnya hanya di
kepala penisku tanpa memasukkan seluruh batang. Beda kemarin sama Tante Ida,
kami pakai gaya klasik maju-mundur penisku biar sambil Tante Ida nungging juga.
Kemudian aku diajarkan menjilati klitorisnya tanpa menyentuh bibir vaginanya,
kakinya yang satu ditumpangkannya di tepi bak mandi sehingga terkuak bebas
vaginanya di depan mukaku. Kulilitkan ujung lidahku di kepala klitorisnya dan ia
menggelinjang, buah dadanya terpontal pantil menahan geli. Tanganku segera
meraba ke atas dan berusaha kuperas-peras kedua buah dada itu. Tapi karena aku
di bawah hanya dapat sedikit. Akhirnya Bu Etty agak membungkuk dan buah
dadanya bergantung bebas. Gemas sekali aku dan kami bermain-main di dalam
kamar mandi sampai hampir 1 jam.
Bersambung ke bagian 04


Admin Mesum - 05.01

Gairah Tetanggaku 02

Tiba-tiba dia duduk di pangkuanku dan, "Bless.." masuk kepala jamurku, aku
terkejut karena tidak menyangka akan begitu, aku pikir cuma mau dimasturbasi
saja. Benar tidak siap mental aku kehilangan perjakaku dengan keadaan seperti ini,
aku selalu membayangkan sebelumnya lain. Aku bayangkan dengan teman sebaya.
Dan luar biasa namanya otot vagina itu bisa ya seperti nyedot begitu dan seperti
dijepit dengan apa ya.. susah jelaskan. Kami beraksi tanpa bicara banyak, dan
sambil takut si ibunya datang atau anak-anak itu kan bisa tiba-tiba lari ke ibunya.
Dan Tante Ida turun pelan-pelan, aku merasa agak sakit waktu turun itu, kulit
kepalaku ikut tertarik terus (aku tidak dikhitan). Dan akhirnya Tante Ida sudah
duduk rapat di atas pangkuanku. Dan ia mulai berputar-putar hanya pinggangnya
saja, dan nanar mataku menikmati itu. Jadi penisku di dalam terus, Tante Ida tidak
maju-mundur, ia cuma berputar searah jarum jam atau ke depan belakang, aku
terus meremas-remas adonan daging dadanya. Dasar aku masih belum bisa, baru
kira kira 4 - 5 menit aku sudah merasa gelombang orgasmeku mulai meluap dan
aku tidak bisa ngomong cuma remasan di buah dada Tante Ida. Tanpa sadar aku
jadi meremas kencang sekali. Tante Ida tahu dan dipercepatnya dan perahan
ototnya tambah kencang, ia juga rupanya (aku tahu belakangan) mau mencapai
orgasmenya.
Ia duduk di penisku masuk dalam sekali dan terasa bibir vaginanya di buah
zakarku, ia memutar hebat dan aku orgasme terhebat dalam sejarah hidupku
sampai waktu itu. Supaya tidak menjerit aku tekan mulutku di punggung Tante Ida.
Dia juga rupanya sampai dan terengah-engah. Tiba-tiba si Ita anaknya yang besar
melihat ke kami dan katanya, "Mama kenapa?" Kami seketika membeku diam dan
untung si Ika nonton terus karena pas film kartunnya lagi asyik. Pelan-pelan Tante
Ida mencabut sambil mengencangkan cengkraman ototnya, rupanya supaya
spermaku jangan tumpah kemana-mana. Dan dia bangun sambil membawa
selimutnya terus ke kamar mandi. Aku cepat bersila dan kututup dengan majalah.
Wah baru aku nutupi dan Tante Ida masuk kamar mandi, Bu Etty si oma masuk
kamar dan bilang,
"Eh, anak-anak ayo tidur sudah hampir jam 10.00 malam nih. Eh ada nak Toto
juga, mana Ida?"
"Oh.. itu.." gelagapku, "Lagi ke kamar mandi."
Untung si oma tidak curiga dia kira aku ikut nonton barangkali ya.
"Ayo Oma mau bobo!"
Pas film kartunnya habis dan mereka bilang,
"Selamat malam Kak.."
Begitu mereka pergi aku ikutan masuk kamar mandi, dan si tante masih jongkok
sedang mencuci vaginanya. Aku dekap dari belakang dan si tante berdiri dan
kegelian karena penisku mentul-mentul menyentuh bukit pantatnya. Aku belum
lihat benar bagaimana badan si tante dan aku agak mundur.
Seketika penisku tegang lagi karena yang kulihat sekarang nyata bukan dari tempat
mengintip. Dan tangan si tante memegang lagi batang penisku sambil menyiramnya
untuk mencuci yang tadi. Aku gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa
untuk anak seumurku. Buah dada Tante Ida menantang dan tegar, kelihatan pori-
porinya meremang karena udara agak dingin di kamar mandi. Dan itu bukit
vaginanya gundul sekali dan agak merekah merah terbuka bekas tadi. Aku tak tahu
mesti apa selain meraba buah dadanya lagi kali ini dari depan. Tante Ida menarik
aku dan mencium bibirku, aku menurut saja dan badan kami merapat. Tangannya
terus mengurut-urut batang penisku. Dan aku meraba pantatnya yang sintal
kencang. Buah zakarku pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian Tante Ida
menaikkan kakinya sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi penisku. Lincir
sekali dan panas terasa di batangku. Kali ini Tante Ida bergoyang maju-mundur
dan pantatku juga ditekannya mengikuti irama. Aku ikut saja menggoyangkan
sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya.
Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi pahanya Tante Ida pegal rupanya
dan dicopotnya penisku, kemudian ia berbalik dan nungging pegangan ke bak
mandi. "To dari belakang To," dan tangannya diulurnya dari tengah
selangkangannya, ditariknya penisku dan pelan-pelan digosoknya ke bibir
vaginanya. Aduh panas banget deh itu bibir, terus aku desak maju dan "Bless.."
kepala jamurku masuk bergesek-gesek lincir dengan dinding lubangnya. Tante Ida
juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari perut itu. Aduh luar biasa deh,
aku nanar dan tidak bisa mikir lagi. Pantatku maju-mundur penisku menggaruk-
garuk lubang. Dari posisi ini aku bisa lihat jelas batang penisku basah kuyup dan
bibir vagina Tante Ida ketarik keluar-masuk. Tanganku mengulur ke depan
meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar,
nafas Tante Ida mendengus desah. Akhirnya aku meledak-ledak lagi dan Tante Ida
terbantar dia rupanya sudah duluan orgasme. Setelah itu kami mandi di pancuran
sama-sama dan saling meraba-raba berpelukan dan aku puas sekali memerah
susunya. Buah dadanya juga buat aku bagus sekali, aku puas sekali meremas-
remas itu. Luar biasa wanita ini.
Kemudian kami lanjutkan lagi di ranjang. Dan aku cuma bisa rebah di bawah dan
Tante Ida yang naik di atas. Pantatku diganjal dengan bantal dan terasa penisku
lebih terulur, si tante meremas penisku yang lemas dan pelan-pelan diciumnya
kepala penis dan akhirnya dimasukkan ke mulut dan aku melenguh-lenguh geli dan
agak linu karena sudah dua kali main. Tak lama penisku tegang lagi dan tante naik
menunggangiku sekali lagi menghadapi aku. Buah dadanya bergayut bebas dan
liar, aku meremas-remas sambil menikmati kenyotan vaginanya yang kencang
sekali. Tante Ida ini benar-benar kuda betina binal sekali. Diputarnya pinggulnya
dan terasa sekali dinding otot daging vaginanya meremas-remas batang penisku.
Pelan-pelan orgasmeku mulai bergelombang akan keluar tiba-tiba, dicabutnya
vaginannya, aku menjerit, "Aduhh Tante terusinn dongg.." Dia tertawa dan
diputarnya badannya dan dipegangnya penisku yang sudah panas sekali. Sekarang
tante membelakangiku, dibimbingnya penisku masuk, ia turun dan "Bless.." aku
bisa melihat bibir vaginanya merekah dibelah penisku. Dan ia mulai lagi bergoyang
seperti penari jaipong, luar biasa tak tergambarkan, enak.
Tak lama aku meledak, dan si tante mengandaskan penisku semua masuk dan ia
masih membuat gerakan memutar dengan pinggulnya dan kakinya lurus,
ditekannya habis dan tante pun meledak-ledak melenguh keras, "To.. enak sekali
To.." Benar-benar wanita luar biasa. Dia bilang dia suka sekali hubungan kelamin.
Tapi suaminya sering tugas ke luar kota dan seperti sekarang ini setahun penuh
belajar di **** (edited). Malam itu jam 24.00 lebih baru aku dilepas sama Tante
Ida. Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika
aku kemudian sama Ita anaknya, Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat
enjoy sama-sama waktu Tante Ida ke luar kota sama suaminya.
Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika aku
besar kemudian Ita anaknya juga pernah ngelmu sama aku (gantian setelah aku
ngelmu sama seniornya). Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat enjoy . Ada
lagi Mbak Icih pembantu di rumahnya yang molek juga. Pengalaman-pengalaman
di situ sangat berkesan dan mendidik aku tentang hal sex.
Besoknya tengah hari, aku ke rumahnya lagi karena pagi-pagi tadi aku terbangun
sudah tegang sekali terbawa ke impian segala pengalaman pertama itu. Aku
mengharapkan bisa main lagi karena biasanya anak-anaknya suka dibawa jalan-
jalan sama ibunya Tante Ida kalau hari Minggu. Rupanya sudah pada pergi karena
sepi sekali, wah asyik aku pikir dan nafasku terasa sudah terengah-engah
membayangkan apa yang akan aku alami. Kok sepi sekali, tidak kedengaran suara,
ah mungkin si tante tidur, aku pikir. Aku pelan-pelan ke kamarnya, tidak ada.
Kemana ya? Di kamar mandi aku lihat juga tidak ada. Aku ke paviliun kamar Bu
Etty ibunya Tante Ida mungkin lagi beres-beres di situ, pikirku. Tanpa mengetuk
aku masuk dan dari balik pintu aku lihat ada bayangannya sedang membungkuk
membelakangi di dekat ranjang, segera aku masuk dan kupeluk dari belakang
sambil meremas-remas buah dadanya. "Aiihh.." jeritnya. Astaga! rupanya Bu Etty,
bukan Tante Ida sedang setengah telanjang baru mandi.
Aku ternganga dan tidak bisa bicara dan Bu Etty lemas karena kaget terduduk di
ranjangnya. "Duhh nak Toto kenapa ngagetin Ibu.." dan dia terduduk di ranjangnya,
handuk yang sekedar menutup tubuhnya tidak cukup panjang sehingga bagian atas
handuk turun ke perutnya buah dadanya menggandul lepas bebas. Aku tambah
menganga melihat itu dan penisku di dalam celana pendekku tidak tahu diri, dia
masih tegak saja seperti tiang bendera tujuh belasan. Kami terdiam dan Bu Etty
tak berusaha menutup buah dadanya yang masih sintal. Memang ibu dan anak ini
dikaruniai tubuh yang amat seksi. Bu Etty umurnya kurasa sudah berumur tapi
badannya amat terpelihara, ya seperti itu loh ibu-ibu yang rajin minum jamu-
jamuan. Buah dadanya sama seperti Tante Ida biar agak sedikit turun, dan dia
lebih tinggi dari Tante Ida, jadi anggun sekali.
"Mau ngapain nyari Tante Ida?" tanyanya tanpa sungkan.
Aku tergagap-gagap.
"Eh.. oh itu mm nyari majalah.."
"Lho kok meluk-meluk dan meremes-remes tetek orang," sergahnya.
Aku tambah pucat dan tidak sadar atau terpikir bahwa Bu Etty kok tidak berusaha
menutupi payudaranya itu yang kontal-kantil di depanku.
"Itu anu.. anu.. aku.. sa.. sa.. saya tidak sengaja.." gagapku.
"Mana bisa tidak sengaja orang kamu sudah ngeremes-remes, sakit tahu.."
bentaknya lagi, "Sini kamu!" sergahnya.
"Tanganmu lancang sekali ya, coba sini mana tanganmu! aku mesti laporin sama
ayah kamu."
Aku sudah tambah hijau biru pucat pasi dan keringat dinginku deras mengalir di
punggungku. Penisku yang tadi sudah tegang jadi mengkerut kecil sekecil-kecilnya
lembek di dalam celanaku seperti kura-kura kena gertak kepalanya, masuk deh ke
dalam batoknya. Malah ingin ngompol rasanya.
Bersambung ke bagian 03


Admin Mesum - 04.58

Gairah Tetanggaku 01

Tante Ida, suaminya perwira di satuan **** (edited) dan kami bertetangga. Kamar
tidurku pas di sebelah dapur mereka (kami tinggal di komplek, di rumah dinas
karena ayah saya itu pegawai sipil AD). Jadi hal yang biasa, bangunan tadinya
terpisah di satu kompleks lama-lama dibangun dan tergabung. Dinding pemisah di
depan kamarku itu pakai batu karawang dan ditutup dengan lembar seng. Di depan
dapur Tante Ida itu mereka buat tempat cuci baju sebenarnya. Tapi si tante suka
mandi di situ. Nah, aku sudah lepaskan ujung seng pemisah, jadi bisa mengintip.
Buah dadanya besar. Pernah sekali kuintip terus, dia tahu dan cuma bilang, "Ayo
kamu ngapain?" katanya. Hari Sabtu aku suka main ke rumahnya, anaknya masih
kecil-kecil. Aku suka ke sana karena banyak majalah dan koran dari kantor si oom.
Dan si oom lagi tugas belajar 1 tahun untuk naik pangkat ke Bandung. Di situ ada
ibunya Tante Ida tinggal di situ juga, dia sudah janda; anaknya Tante Ida 2 orang,
waktu itu umurnya 2 – 3 tahunan. Ia menikah setamat SMA waktu itu.
Kira-kira jam 09.00 malam aku masih asyik bongkar majalah-majalah tua dan si
tante memanggil dari kamar. "To, tolong dong Tante agak pegel, pijetin ya!" Biasa
kami memang suka saling tolong, kadang ibu saya minta dikerokin sama Tante Ida
atau Tante Ida minta dibuatkan kue, begitu deh tetangga yang baik. Aku sih tidak
curiga walaupun sering aku intip. Lagi pula anak-anaknya masih pada bangun
nonton video di kamarnya. Biasa film kartun. Aku rada enggan karena masih asyik
baca, sebenarnya. Pintu kamar tidak ditutup, si oma masih di dapur sedang
beberes, jadi tidak ada suasana yang mendukung untuk ngeres-ngeres. Aku masuk
ke kamar masih sambil menenteng majalah, aku pikir sambil mijati (paling
punggungnya, aku pikir) aku mau baca. Soalnya si Oma itu pelit, majalahnya tidak
boleh dibawa pulang.
Waktu di kamar aku lihat Tante Ida pakai daster batik (itu lho yang murahan di
Pasar Senen, 5 ribu ya satunya). "To, ini leher Tante kok kencang dan badan
rasanya pegel linu, mau flu kali ya," katanya. Kemudian dia duduk menghadap TV
di kamar di ranjang besar (ukurannya king , kalau tidak salah) dan katanya, "Pakai
itu saja To, krim Viva." Aku ambil dan duduk di belakangnya, karena dia di tengah
aku jadinya duduk juga ke tengah ranjang dan Tante ada di antara kakiku, majalah
aku buka di samping kanan, aku separuh hati mau pijat karena sedang baca artikel
menarik. Bisa dibayangi ya suasananya, masih ribet, ada anak-anak, ada ibunya,
suara TV kencang. Pokoknya aku sih tidak ada intensi apa-apa.
Tante Ida membuka daster resleting belakangnya, dan aku tuang lotion ke telapak
dan mulai memijat lehernya, sambil baca majalah. Terasa lehernya memang hangat
lebih dari normal. Aku pijat pelan-pelan dan si tante mendesah keenakan (aku
memang pintar mijat kayaknya). Sudah agak lama si tante bilang, "Tolong ke
punggung bawah dong? dan sletingnya turuni lagi saja biar gampang." Aku tarik
sleting dan dasternya tersibak jauh ke kanan dan kiri. Aku agak surprised karena
tidak ada tali BH (mestinya waktu mijat leherku sudah tahu ya karena di atas bahu
tidak ada tali, dasar tidak niat jadi tidak konsen).
Aku tuang lagi lotion dan kusaputkan di punggungnya, "Uhh dingin," kata Tante Ida
sambil membungkuk ke depan lebih jauh. Aku pijati bahunya dan dasternya agak
merosot dan dari kaca meja hias di sebelah pojok kanan TV aku melihat bukit
susunya mulai tersembul separuh lebih dan pikiranku tiba-tiba agak mendesir,
mulai deh ngeres. Majalah sudah tidak aku lihat lagi, penis terasa mulai keras dan
aku sengaja memijatnya agak kugoyang-goyang bahunya dengan harapan
dasternya merosot lagi. Eh, karena agak pas, tidak mau turun lagi. Wah bagaimana
nih, aku agak maju duduknya tapi belum merapatkan barisan ke badan Tante Ida.
Aku lanjutkan memijat ke arah lengan atas dan sengaja kudorong dasternya lagi
dan kali ini berhasil, debar jantungku tambah kencang dan mulutku mulai kering.
Dasternya turun lagi dan pinggir pentil buah dadanya sudah kelihatan. Tapi waktu
kudorong lagi malah tidak mau turun, aku kecewa dan si tante juga diam saja. Ya
sudah aku nikmati seadanya di kaca itu. Lalu aku pijat terus ke arah punggung dan
aku ada ide, aku ulur tanganku memijat dengan keempat jariku mendekati meraba
pangkal buah dadanya, lama aku memijat dan aku berusaha semakin ke depan
keempat jariku (bisa dibayangi tidak). Ya, lumayan aku dapat juga tepi-tepi buah
dadanya. Si tante diam saja sambil nonton TV, aku juga tidak berani melanjutkan
macam-macam (takut ditampar pula).
Aku pijat makin turun ke pinggang dan dasternya susah menghalangi, jadi aku pijat
dari luar (padahal kalau sekarang aku pasti berani ngomong, "Tante ini dasternya
dibuka saja ya.." dasar masih tolol waktu itu). Dari pinggang aku terus ke
pantatnya dan ketika itu penisku sudah keras kencang. Tiba-tiba si tante bergeser,
pegal barangkali duduk diam terus, dan agak mundur, aku tidak sempat
menghindar dan pantatnya kena penisku. Aku pakai celana pendek training dari
kain kaos waktu itu. Dia kaget dan di kaca aku lihat dia agak mesem tapi masih
diam. Aku juga terpana dan merasa salah. Tapi ya aku juga tidak geser
menghindari, jadi aku biarkan saja. Terus si tante ambil selimut besar dan
menutupi kakinya dan pahanya. Kemudian dia menyender agak ke belakang dan
bisiknya, "Pijetin paha Tante dong!" Nah aku mau tidak mau karena dari belakang
jadinya mesti merapatkan badan. Aku ulurkan tangan ke depan ke paha atasnya,
agak bingung dan ketika aku lihat di kaca dia senyum, sambil merem matanya,
buah dadanya masih kelihatan sisi atasnya dan pungungnya terasa hangat di
dadaku dan mukaku dekat lehernya yang jenjang. Aku tak sengaja bernafas di
lehernya dan telinganya dan dia menggelinjang geli. Ya, aku juga jadi berani dan
kuulurkan tangan ke depan memijat paha atas dari bawah selimut. Eh, si daster
rupanya sudah disingkap ke atas dan aku terpegang paha Tante Ida tanpa daster
lagi.
Lututku sudah lemas dan nafasku sudah tidak teratur mendesah di lehernya yang
jenjang. Aku pijat pelan-pelan dan tiba-tiba aku merasa tangan Tante Ida
menjamah ke belakang dan menyentuh penisku. Aku seperti kena lisrik dan sempat
agak menjerit, eh si tante bilang, "Ssst.. diam. Apa sih ini keras bener?" tanyanya
sambil nanar menatap aku di kaca. Dan tangannya meraba makin ke tengah penis
dan tiba-tiba dia membuka kancing celana (kalian tahu kan celana kain kaos itu,
kancing "cepret"-nya cuma dua dan aku memang tidak pakai celana dalam lagi).
Dan Tante Ida menggenggam batang penisku. "To, raba terus pahaku di atasnya,
aku juga masukkan tanganku, astaga! tidak ada celana dalamnya." Dan aku
teruskan jari-jariku (sudah jadi berani dan otakku sudah kacau tidak peduli ada
anak-anak di lantai bawah di depan kami itu, dan suara si oma di dapur masih
klontang klonteng orang berberes). Lebih kaget lagi aku tidak menemukan rambut
apa-apa di pangkal paha atas Tante Ida itu. Padahal waktu aku intip tempo hari
seingatku lebat sekali tuh.
Kuraba-raba terus dan di kaca kelihatan Tante Ida mukanya seperti orang bingung
keenakan (padahal aku belum masukkan ke lubangnya, masih bego aku, karena ini
pengalaman pertamaku, eh aku waktu itu masih di SMP kelas 3). Tante Ida agak
mengangkangkan pahanya dan aku terus mengusap-usap dan menangkupkan
telapakku di bukit gundul itu, tidak tahu mesti apa (uih guoblook tenan kalau kata
Basuki). Hangatnya bukan main, sementara tangan si tante masih mengurut-urut
lembut batang penisku, aku duduk agak maju lagi. Auhh, enaknya bukan main deh
dipegang sama wanita itu. Badan Tante Ida harum juga karena lotion dan ada
semerbak jasmine . Kulit Tante Ida itu hitam manis. Akhirnya dia menyender total
dan tanganya di penis dan buah zakarku, ujung penisku sudah kuyup sama seminal
fluid yang keluar. Aku sudah kepingin benar menangkupkan tangan di buah
dadanya tapi susah karena pasti bisa kelihatan anak-anaknya. Tiba-tiba aku ingin
kencing dan agak sakit rasanya, aku bingung dan akhirnya aku bilang tante bahwa
aku ingin kencing. "Ohh.. ya sudah kamu ke kamar mandi Tante situ!" Aku bangun
dan ke kamar mandi dan sambil menyesel-nyesel takut nanti si tante berubah
pikiran. Aku kencing dan.. astaga! itu kepala penis sudah benar-benar basah, kalau
tidak karena kehalang kencing sudah orgasme mungkin tadi itu. Setelah kencing
aku bersihkan si kepala jamur yang sudah merah tua sekali warnanya.
Waktu aku balik, si tante sudah kemulan sama selimut sambil duduk, aku duduk
lagi di pinggir ranjang dan Tante Ida bilang, "Ayo To, pijetin lagi, kamu duduk
lonjorkan kakimu!" Wah aku jadi semangat lagi, penisku sudah agak layu setengah
ereksi. Kancing "cepret" celana pendekku aku tidak kancing lagi. Begitu duduk aku
rapatkan lagi barisan (he he..he seperti baris berbaris saja). Aku kaget karena
ternyata dasternya tidak ada, pantas Tante Ida kemulan selimut. Dan dia tidak
duduk tapi berlutut bersimpuh agak nungging ke depan. Dia membisikkan, "To, biar
Tante duduk di atas pangkuanmu." Aku melonjorkan kaki rapat dan si tante
mengangkang lalu duduk berlutut pantatnya persis di atas penisku, aku benar-
benar setengah masih merasa apa ini mimpi basah saja. "Kamu pengen pegang
susu Tante kan, ayo kamu raba." Dan di dalam selimut itu aku bebas, tanganku
merajalela. Duh enaknya memerah susu kenyal, dan putingnya terasa kasar di
telapak tanganku, seketika mengeras dan si tante begitu aku meremas gemetar dan
bibirnya terlihat di kaca digigitnya. Aku meremas-remas seperti tukang roti
mengaduk adonan roti. Tangan Tante Ida juga tidak diam, dia menggenggam
penisku dan digosok-gosokkan di bibir vaginanya. Aku merasa luar biasa hangat
itu bukitnya. Dan tanganku kedua-duanya aktif sekali. Jariku memilin pulir-pulir
dan melintir putingnya, besarnya ada sebesar jari kelingking (anaknya doyan ASI
kali ya). Ukuran buah dadanya berapa ya, ada 38C barangkali.
Bersambung ke bagian 02


Admin Mesum - 04.53
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved