;

Rabu, 04 Januari 2017

Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 07

Rabu, 04 Januari 2017

“Mas bangun mas... mandi gih...kita hari ini ada agenda pagi loh...” ujar seorang wanita mendorong-dorong pundak saya yang masih tertidur pulas akibat sisa-sisa pertempuran dengan Riana. Saya kemudian terbangun dengan masih keadaan tanpa busana dan terduduk di kursi samping kasur...saya kemudian meraih jam tangan yang berada di meja telepon dan menengok waktu. Rupanya masih 4.30. Saya ingat Tania memang mengatakan ada agenda bermain golf dengan para pebisnis lainnya. Saya sebenarnya tidak tertarik tetapi saya berusaha untuk sebaik mungkin dengan perusahaan Riana..terlebih malam tadi ia memberikan saya jasa besar di atas ranjang...

Ketika sedang asik-asiknya mengumpulkan nyawa sambil termenung, saya mendengar seorang keluar dari kamar mandi disertai suara gemercik air yang memenuhi bathtub. Sambil berkata wanita itu mulai dapat saya lihat.

“Airnya udah aku siapin mas, mandi gih...”

ASTAGAH! Tania! Saya langsung secara spontan menutup daerah kemaluan. Saya sungguh terkejut karena saya pikir yang membangunkan saya tadi adalah Riana. Kemudian saya berusaha untuk menyisir kamar dengan mata tanpa beranjak dari kursi. Tania terlihat kebingungan dengan perilaku saya yang berusaha memastikan apakah Riana masih ada di kamar. Saya juga terbesit pertanyaan bagaimana Tania bisa masuk ke kamar. Suatu hal yang kemudian saya sadari bahwa kamar kami memang terhubung dengan pintu antar kamar.

“Bidadarinya udah pulang mas.... lagian kenapa sih ditutupin...udah sama-sama gede...” ujar Tania sambil tersenyum dan duduk di samping tempat tidur yang membuat posisi kami sangat berdekatan. Saya kemudian dengan spontan melepaskan tangan dari daerah kemaluan.

“Kok bengong sih..mandi sana...perlu aku panggilin bidadarinya biar mas dimandiin?” tambah Tania lagi.

“Ah enggak...kamu...hmmm... oke bentar ya...kamu siapin baju ku ya,,,”

“Siap pak boss!!! Btw bokongnya seksi juga...hmmm” ujar Tania bercanda sambil mengejek saya yang terlihat masih gelagapan karena kejadian tadi....saya kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan berendam air panas. Sumpah gan, habis pertempuran tadi malam, rasanya badan dipijet-pijet pas berendem air panas..

Terus terang sempat terpikir bahwa Tania kok kayaknya gak pernah kenapa-kenapa melihat saya tanpa pakaian. Ini adalah yang kedua kalinya Tania melihat alat perang saya. Ia juga tadi sepertinya tahu bahwa saya bermain dengan Riana tadi malam...apakah dia tadi malam menguping atau bahkan mengintip ?

Setelah saya selesai mandi saya memutuskan untuk kembali dan ternyata Tania tak ada di kamar saya...ia masuk ke kamarnya. Terlihat dari pintu penhubung antar kamar kami yang masih terbuka dan samar-samar mendengar Tania sedang berbicara di telepon..
Entah karena mendadak mendapat telepon atau memang lupa, pakaian saya benar-benar tidak disiapkan oleh Tania. Saking malasnya untuk mengambil pakaian sendiri...saya memutuskan untuk merebahkan diri kembali dengan handuk menutupi bagian tubuh dari pinggang ke bawah. Tanpa sadar saya tertidur sejenak...

“Heeehh...mas baru ditinggal bentar udah tidur lagi...ini ayo pakai bajunya...” saya terbangun tanpa pikir panjang dan meminta Tania untuk meninggalkan ruang karena hendak berganti pakaian...

“udah ganti aja di sini, aku masih ada yang diurusin nih...lagian udah sering liat kok hihi...”jawab Tania singkat sambil menyalakan lapto saya... saya memenenuhi perintahnya dan berganti pakaian.. Tania terlihat sangat sibuk mengutak-ngatik laptop saya...ia berdiri di samping meja kerja yang disediakan pihak hotel sambil terus mengetik..keadaan tersebut membuatnya sedikit terbungkuk...

Kejadiaan tersebut membuat saya sedikit bengong karena bathrob yang ia gunakan sangatlah pendek. Beberapa cm di atas lutut dan membuat bagian belakang terangkat ketika ia membungkuk..sedikit harapan saya untuk melihatbongkahan bokongnya tetapi Tania kurang membungkuk..tetapi saya tak pikir panjang karena masih lelah dengan kejadian semalem.

“Tadi waktu kamu masuk, Riana udah nggak ada?” tanya saya memecah keheningan sambil meraih celana dalam yang sudah disiapkan dan memakainya..

“Udah sih mas...BTW tadi malem kayaknya seru banget ya? Aku sampai gak bisa tidur lho...”jawab Tania singkat sambil memutar badanya ke arah saya dan meninggalkan laptop dan menyandarkan tubuhnya di meja.

“Kenapa? Kangen ya?”goda Tania lagi...

“Bisa aja kamu...nggak lah itu kan cuman bentuk servis dari kantor dia buat kita...”jawab saya sekenanya sambil meraih celana golf yang ada di atas kasur.

“Servis tapi sampai bikin kangen ya? Luar biasa pasti mainnya bu Riana...Mas kamu jangan lupa nelpon Dena dulu ya pagi ini...”

Percakapan pagi ini memang berjalan satu arah...Tania lebih sering bertanya sementara saya lebih sering diam. Bukan karena saya tak suka dengan Tania. Tetapi kejadian tadi malam, serta santainya Tania ketika melihat saya telanjang adalah sebuah hal yang baru...

Harus diakui bahwa Tania memang terlihat agresif semenjak memergoki saya dengan Marin beberapa waktu yang lalu. Namun bukan agresif yang berarti ia menyukai saya....tetapi ia seperti mendukung saya untuk terus mencari wanita. Maklum, Tania memang menjadi salah satu sosok yang meminta saya untuk mencari istri...menurutnya Dena perlu seorang sosok ibu. Tak jarang Tania kerap menjodohkan saya dengan bebrapa wanita yang ia kenal...itulah mengapa ia terlihat agresif dalam beberapa kesempatan tetapi agresif untuk menjodohkan saya...

Tiba-tiba telepon Tania berdering...secepat mungkin wanita cantik itu mengangkat telepon sambil mengarah ke kamarnya. Sementara saya memutuskan untuk menyalakan televisi dan menelepon Dena. Tetapi tampaknya Dena masih tidur sehingga tak ada yang mengangkat telepon...

Beberapa saat kemudian Tania menyelesaikan teleponnya dan kembali berjalan ke arah ruangan saya. Secara buru-buru saya mengambil polo shirt yang ia sediakan karena itu adalah satu-satunya pakaian yang belum saya gunakan. Tania memang orang yang tegas. Beberappa kali ia kesal jika saya tak langsung menyelesaikan pekerjaan. Terkadang saya bingung, siapakah yang menjalankan perusahaan ini?

“udah nggak usah dipake nggak papa mas...tadi asisten Riana nelpon katanya tempat main golfnya hujan. Trus ya aku cancel aja...”ujar Tania yang kemudian duduk di sampingku di pinggir kasur sambil nonton tv. Senangnya bukan main karena akhirnya aku bisa istirahat,

“Udah nelpon Dena?” tanya Tania

“Udah tapi tadi nggak diangkat. Masih tidur kali...”jawabku santai sambil terus menyaksikan tv. Di sampingku tersaji paha mulus Tania yang disilangkan. Sungguh menggoda selera...

“Oh ya mendadak katanya Riana sakit...nggak enak badan gitu...kok bisa ya? Perasaan tadi malem masih teriak-teriak...jadi penasaran...” ujar Tania menatap saya dengan sorot mata tajam seolah menelanjangi saya...

“Yah namanya juga udah bertahun-tahun gak dapet hiburan...kamu kan tau sendiri. Ya bablas hehe...”tawa ku garing.

“Dasar bandel...”balas Tania sambil menyubit hidung saya gemas...

“Kamu enak mas...single...” belum selesai Tania bersuara saya memotong kepancing curhat. Haha

“Enak gimana. Single parent, jadi bapak iya, jadi ibu iya, jadi atasan iya, di teken big boss iya, hiburan gak ada...”

“duh dipancing dikit udah langsung keluar semua...udah ah kita lagi liburan,,,”potong Tania sambil memeluk saya dari samping. Suatu hal yang sebenarnya lumayan sering terjadi tetapi kali ini saya merasa ada yang berbeda karena sambil menahan sang adik untuk bereaksi akibat pemandangan indah di bawah.

“Kamu tuh beruntung...masih single. Semuanya gak ada terikat. Emang ada Dena, kamu harus tanggung jawab besar. Tapi justru karena Dena kamu jadi semangat kerja kan? Di kantor juga ada aku kan yang bantuin kamu ini itu...termasuk ngatur ketemuan kamu sama Marin hihihi...” kata Tania yang hanya saya balas dengan pelukan erat..

“Kayanya kamu mau curhat deh hahaha...sini sini...” tebak saya yang kemudian disetujui oleh Tania.

Setelah sejam berlalu benar saja, Tania memang memiliki beban berat. Ia menceritakan bahwa mertuanya semakin gencar menuduhnya mandul.

Padahal ia sudah memeriksakan diri ke dokter dan ia subur. Namun Tania tak pernah menceritakan kisah pemeriksaan tersebut ke suaminya. Ia takut sang suami tersinggung dan marah dengan kejadian tersebut. Tania mengaku sudah bercerita dengan ibunya. Namun ibunya justru semakin membuatnya bingung. Tania diminta berterus terang. Jujur saya setuju dengan ibu Tania, tetapi karena keadaanya Tania lagi bimbang...saya hanya mendengarkan saja...saya meminta Tania bersabar dan menikmati liburan terlebih dahulu...tanpa sadar sejam berlaru botol wine kedua kami telah habis. Ya. Sebelum bercerita saya dan Tania sempat meminta pelayan untuk memberikan wine. Tania menangis sepanjang bercerita...saya hanya bisa memeluknya dan menaruh perasaan iba. Setelah semua kondisi menjadi semakin baik dan Tania mulai tersenyum saya pun dengan bodoh melemparkan joke yang tidak lucu. Jauh dari kata lucu.

“Nggak papa suami kamu gak subur. Bagus itu, justru kamu bisa ena-ena tanpa khatir hamil...lagian repot lagi punya anak...”

“Dasar kamu yang dipikirn cuman selangkangan aja...mmuaah” ciumnya ke pipiku...ini pertama kalinya Tania mencium saya...sungguh membuat linglung dan mendadak canggung...namun rasa canggung tersebut berubah ketika ia mengecup bibir saya...hanya beberapa detik tetapi membuat saya semakin membeku tak karuan...

“Kalo klimaks sih gakpapa...lah ini, dapet jatah aja jarang.” Ujar Tania lagi memecah rasa canggung yang kembali berujung curhat...ternyata Tania dan suaminya jarang sekali berhubungan badan..nyaris hanya sekali atau dua kali dalam sebulan...terlebih lagi, hbungan tersebut tak pernah berlangsung lebih dari 15 menit...itu membuat Tania harus mengakhiri malam dengan isakan tangis di kamar mandi...

Namun kali ini saya tak akan membiarkan Tania menangis lagi. Tak akan...wanita yang sudah menjadi asisten atau bahkan repotnya sama seperti ketika saya masih diasuh ibu waktu kecil ini akan saya perlakukan dengan baik..

Saya kecup bibir Tania sambil berkata...”udah ya...katanya kita lagi liburan..” perkataan saya itu hanya disambut dengan anggukan oleh Tania. Saya pun langsung melumat bibirnya. Kini perasaan aneh timbul dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat berciuman bersama Marin atau Riana. Kali ini benar-benar Tania yang lebih bersemangat sementara saya merasa ada cinta di dalam ciuman kami...

Tania langsung pindah duduk di atas pangkuan saya...ciuman kami semakin menggila dengan pertarungan lidah terjadi...Tania mendorong saya tanpa melepaskan ciuman dan menindih tubuh saya yang sudah terlentang di atas kasur..

“Hmmm-hmpfff..ahhhh” tutur Tania tanpa saya mengerti apa maksudnya. Kali ini benar-benar sudah hilang garis tegas antara bos dan bawahan...mendadak Tania melepaskan ciuman dan memandang saya dengan perasaan cinta. Ia mengelus-ngelus wajah saya sambil berkata...

“jadi..hmm... dari sekian lama aku ngabdi sama kamu...baru sekarang aku dapet jatah hmm? Muah..” ujar Tania sambil terus mengecup hidung saya...

“ih...emang siapa yang mau kasih kamu jatah?”

“Oh okay...” ujar Tania berusaha bangkit namun keburu saya peluk...

“nggak usah baper ah...sini cium dulu...” namun Tania memutuskan untuk tetap bangki...ia menatap saya dengan senyuman nakal...”awas ya...sekarang boleh jual mahal...ntar kalo nagih gak tanggung jawab....” ujar Tania sambil menarik tali pengikat pakaiannya yang kemudian terlepas semua..

Astagah! Benar-benar indah. Pemandangan yang terjadi malam tadi di kolam renang kembali terjadi. Hanya saja pemandangan kali ini benar-benar lebih bagus dan indah...dadanya yang saya kira hanya segenggaman tangan rupanya tak seperti yang saya pikirkan...memang tidak besar tetapi cukup untuk sekedar bergoyang di tengah sodokan...terlebih lagi vagina Tania...memilii bulu yang dicukur rapih...sungguh menggoda selera. Bahkan seolah-olah bulu itu berbentuk tanda panah menunjuk ke arah surga berada. Tentu itu hanya kayalan saya.

Saya secara nalar langsung bangun dan berusaha untuk meraba salah satu dari benda tersebut. Namun dengan cekatan Tania menahan dan menggelengkan kepala.

“No...no...nope... tunggu aja. Nanti ada waktunya...” Tania kemudian menunduk dan berusaha untuk melepaskan celana saya... kini kami benar-benar telanjang tanpa sehelai benangpun. Sentuhan paha kami membuat penis saya terus meningkatkan masa otot. Semakin membesar dan mengacung dengan kuat.

“Jadi ini yang bikin Tante Marin terus-terusan minta jadwal rutin? Ini yang bikin partner kita, bu Riana tersayang keenakan sekaligus mendadak ga enak badan?” goda Tania sambil meraba penis saya yang membuat seluruh badan saya menegang. Sungguh ini fantasy yang berbeda jika dibandingkan dengan Marin dan Riana.

Tanpa saya menjawab, Tania kemudian langsung memasukan penis saya ke dalam mulutnya. Woww.sungguh sensasi yang bikin ngilu gan...terlihat Tania kesulitan dan melepaskan kuluman...

“Kegedean mas..hmmm...aku jilat-jilat dulu aja ya...”saya hanya bisa mengangguk...saya benar-benar pusing karena pada saat yang bersamaan saya tak bisa menyentuh tubuhnya...

Tania semakin cerdas...ia menjilati penis saya dari pangkal hingga ujung...sama seperti Marin ia juga memainkan ujung lidahnya di lubang seni saya...perasaan yang semakin menggila. Ia sadar itu daerah sensitif saya dan berusaha untuk sesering mungkin menyentuh daerah tersebut...

Tania juga dengan bijak menggunakan giginya untuk memberikan tekanan ke buah zakar saya...suatu hal yang baru dan rupanya sensainya melebihi sensasi yang diberikan Riana... dengan penis yang sepenuhnya sudah basah, Tania berusaha untuk mengocok penis saya...tentunya mulutnya tak pernah lepas...kocokannya benar-benar gentle.namun genggamannya? Sungguh erat...saya bahkan merasa sudah berada di dalam vagina...

Tania kemudian berusaha untuk mencondongkan dadanya dan menjepit penis saya. Belum pernah ini dilakukan oleh Marin apalagi Riana. Sungguhh suatu hal berbeda dan membuat saya menggila. Untuk pertama kalinya setelah tragedi persami, saya merasa kewalahan ketika oral...saya sungguh tak bisa menahan foreplay yang dilakukan Tania...dengan keadaan penis saya berada di kuluman Tania, saya benar-benar tak bisa menahan emosi lagi...

“Tania...hmmm...sayang...aku mau keluar....”

“Hmmm...oke...hhh” jawab Tania sambil terus mengulum saya dan tak henti-hentinya memberikan pijatan menggunakan lidah dan giginya..sejurus kemudian pertahanan saya tak terbendung dan akhirnya lepas...cukup banyak cairan yang keluar kali itu dan Tania berusaha untuk menelan semua...namun ada beberapa cairan yang tak tertampung dan keluar dari mulutnya. Tania mengusap itu dengan tangannya dan melumuri seluruh penis saya dengan sperma. Dengan sigap Tania kembali menjilati tentu dengan hisapan yang sangat kuat...

“Biar terus kuat..” ujar Tania singkat. ia lalu merebahkan diri dan menantang saya...

“Ayo...giliran kamu yang harus bikin aku melayang ya...kalo gak liat aja,,,”ujar Tania...dengan sigap saya langsung bangkit dari posisi semula dan mencium bibir Tania...

“Makasih ya sayang” ujar saya yang kemudian hanya disambut senyuman oleh Tania. Saya kemudian menuruni tubuh Tania dan berhenti di lehernya...leher indahnya membuat saya terus menerus menghisap dan mencium dengan ganas. Tak lupa saya mengigit demi meningkatkan gairahnya. Benar saja, setiap sedotan yang saya lakukan,,,tubuh Tania menegang dan dadanya membusung.
Selesai meninggalkan bekas, saya kemudian mengarahkan ciuman ke dadanya. Dada yang tadi malam sudah memanggil semenjak di kolam renang.

Kini akhirnya saya bisa menyentuh langsung. Jika dibandingkan dengan Riana dan Marin, dada Tania memiliki ukuran di tengah...namun secara bentuk milik Tania adalah yang terbaik. Masih kencang. Mungkin karena jarang disentuh...terlebih lagi putingnya juga mengacung menantang saya.....

Saya mengeluarkan andalan dengan mengitari putingnya menggunakan lidah...benar saja...tangan Tania langsung menjambak rambut saya dan berusaha untuk menenggalamkan wajah saya di putingnya...

Saya langsung bangkit dan mengambil ikat pinggang di tas.

“Sesuai aturan...tangan kamu gak boleh ngapa-ngapain kalo lagi di oral...”saya mengikat kedua tangannya dan menaruhnya di atas kepala...sungguh indah bagaiman Tania menujukkan ketiaknya yang mulus sementara ia hanya bisa menggoyangkan tubuhnya ketika jilatan saya terus menerus menghajar daerah sensitifnya..

“Ahh...hmmmm terus...mas....hmpfff....”racau Tania...saya kembali menemukan titip panasnya yakni tepat di bawah kedua payudaranya. Tentu itu membuatnya semakin menegang setiap kali saya mengigit.

Setelah puas dengan dada Tania, kini saya memutuskan untuk ke bawah..vagina yang seloah-olah memberikan saya ajakan untuk segera melakukan pengeboran...

Saya sempat terdiam ketika berada di depan vaginyanya...jika agan pernah memperhatikan vagina perawan...begitulah kira-kira pemandangan saya...
Tak terima hanya disoroti Tania berusaha untuk menyilangkan kakinya di leher saya dan menempelkan kepala saya tepat di vaginanya. Merasa mendapat teguran saya langsung mengecup manis bibir vaginanya..harumnya membuat saya betah berlama-lama di bawah..saya kemudian menjulurkan lidah untuk terus memberikan rangsangan sambil sesekali mencari-cari dimana klitorisnya...benda yang saya yakin akan membuat pekerjaan saya menjadi jauh lebih mudah...

“hmmm....mas.s.. teruss...ahhh naikan dikit mash ahhhhhhhh.” Ujar Tania. Saya kemudian mengikuti perintahnya ya. Ternyata klitorisnya berada sedikit di atas. Setelah sukses saya terus menjilati dan menghisap klitoris Tania...tubuhnya semakin mengang, dadanya semakin membusung, dan ikatan kakinya di leher saya semakin menjadi-jadi hingga pada akhirnya saya merasakan lidah saya disiram cairan hangt. Bersamaan dengan keluarnya cairan hangat itu pula tubuh Tania mendadak menggelinjang dan kemudian melemas...

“HHhhhmmm mass....hmm...ini pertama kali...aku orgasme pas foreplay...” ujar Tania jujur. Saya kemudian memutuskan untuk menjilati cairan Tania yang kemudian ia protes.

“jangan di habisin mas...buat nanti pas punya mu masuk...biar gampang...” ujar Tania sembari mengatur nafasnya...saya kemudian mencium bibir Tania dengan lembut...tak lupa saya lepaskan ikatan tanganya karena sesi foreplay telah berakhir..
Tanpa melepaskan pagutan, Tania menjambak saya...sementara tangan saya terus bergerilya di dada dan vaginanya....Tania melepaskan pagutan dan berkata...

“Enak aja ya...muah...main iket-iket...kamu mau di iket?” ujar Tania gemas sambil membiarkan saya membuat bekas lain di lehernya..
Semakin membara ciuman kami,,saya memutuskan untuk mengambil inisiatif. Masih berada di posisi atas saya memutuskan untuk memasukan penis saya ke vaginanya...saya menggesekan kepala penis ke bibir kemaluannya. Rupanya gerakan tersebut sudah cukup untuk membuatnya kelojootan dan tak karuan..

Secara perlahan penis saya berusaha masuk...”pelan pelan mas...ergghh” ujar Tania menahan sakit.ia kemudian meraih penis saya dan berusaha menguasai keadaan.namun saya menegaskan bahwa saya yang berkuasa dengan memasukkan penis langsung hingga setengah jalan...Tania hanya bisa berteriak kesakitan...terbukti bahwa vaginanya memang sudah cukup lama tak mendapatkan kunjungan.

“ah penuh banget mas....diemin dulu ya...”

“Tapi ini belum masuk semua...“tambah ku

“hah gila! Yaudah pelan-pelan yah...”sempitnya vagina Tania membuatku bisa merasakan tulang selangkanya yang keras...ia juga semakin meringis kesakitan ketika seluruh penis saya akhirnya terbenam saya biarkan ia menyesuaikan diri. Kedutan di dinding vaginanya yang terus menekan penis saya membuktikan bahwa vaginanya memang sedang berusaha menyesuaikan ukuran.,,

Terlihat sudah mulai menguasai keadaan saya memutuskan untuk mendorong dan menarik penis. Rupanya hal tersebut masih terlalu sakit untuk Tania. Ia terus melebarkan kakinya untuk mengurangi rasa sakit...ia juga tak henti-hentinya menggigit leher dan pundak saya..

“duhh mas...pelan ajah...penuh banget ini,,,”

“hmmm...fff.ahh shihhhhh...enak sih....pelannnna aahahha...”teriak Tania seiring dengan usaha saya untuk meningkatkan tempo. Meski masih kesakitan tampaknya Tania mulai bisa merasakan nikmatnya. Terbukti ia kini sudah tak mengeluh rasa sakit dan cenderung teriakan yang menggairahkan...

“ahhh yeahhhh shhhha hhahha ah ah ah ah ah mashhh enakkk”racau Tania....tak banyak yang bisa saya perbuat karena takutnya, berganti posisi hanya akan membuatnya merasa sakit dan kembali menurunkan libidonya sementara saya sendiri juga sudah mulai terbiasa dengan rapatnya vagina Tania. Namun tiba-tiba Tania meminta doggy style.

“mas coba gini aja ya...siapa tau sakitnya kurangan...” ujar Tania sembari menungging...kali ini saya teringat kembali dengan pantat indah yang ia suguhkan di kolam renang.sungguh membuat saya tak bisa mengontrol emosi...

Dengan kondisi yang lebih baik penetrasi kedua berjalan dengan lebih mudah meski tetap membutuhkan waktu yang lama...kini kamis udah bisa saling menikmati...Tania pun makin keras berteriak sambil diiringi dengan bunyi indah yang mempertemukan antarapantatnya dengan pangkal paha saya....sungguh indah perpaduan bunyi tersebut.. dari belakang saya genggam payudaranya dan juga saya pukul pantatnnya..harus diakui bahwa pergulatan pagi ini benar-benar diluar kendali. Meski sudah menikah saya akui tubuh Tania seperti perawan. Hanya saja ia terlalu tangguh untuk seorang perawan...

“ahhh fuck me yeahhhh your big dick is my heroin. Arhhhghhhh ff hmphhhh yaggg” ujar Tania tanpa saya hiraukan...

“yeal ill worship your dick after this ahh, masshhhh aku rela gak hah mmmm digaji mas.....” tambahnya...

Dua puluh menit kami menjalani posisi tersebut akhirnya Tania dan saya memutuskan untuk menyudahi pergulatan...

“Mas aku mau keluar....jaga temponya ya ”

“aku juga....keluar di mana?”

“di dalem aja...aman.” ujar Tania...namun harapan untuk menjaga Tempo tak bisa terpenuhi nyatanya kammi terus meningkatkan tempo hingga tak karuan teriakan kami berdua...

“Arghhh ah aha ah ah ah ah ah” erang saya...

“Hmmm ff shhh ahhhh fuck me ahrghahahh oh my....fucking hell ahrghhh”

Akhirnya kami berdua klimaks...cairan saya kemudian membasahi liang senggamanya. Benar-benar tak karuan. Meski saya baru bertempur mati-matian dengan Riana semalam, namun Tania mampu membuat seluruh tenaga saya terkumpul. Bahkan ketika kami berdua belum sarapan... akhirnya saya tidur terlentang dan Tania tidur di atas saya...

Namun tak berselang lama telepon kamar saya berdering. Tania dengan sekuat tenaga mengangkat telepon tersebut sambil masih berusaha mengatur nafas...setelah perbincangan singkat terjadi Tania menjelaskan bahwa telepon tersebut dari resepsionis...rupanya tetangga kamar kami merasa terganggu dengan aktivitas yang terjadi di kamar kami...

“Kamu sih teriak-teriak” ujar saya sambil menyubit payudara Tania...

“siapa suruh punya penis enak banget” kami pun tertawa bersama hingga tertidur.


Admin Mesum - 21.54

Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06

“Wah Ibu Riana langsung yang jemput...jadi nggak enak nih ya kita ngerepotin..” ujar saya ramah sambil cipika-cipiki dengan Riana yang kemudian disusul oleh Tania...

“Ah bisa aja Pak Rinaldi...cocok banget sih berdua udah kaya pasangan aja....” balas Riana tak kalah ramah yang kemudian hanya disusul dengan tawa tanggung dari saya dan Tania..

Kami menuju hotel ke dengan menggunakan mobil...saya duduk di belakang supir sementara Tania berada di samping saya...Riana? ia duduk di depan sambil beberapa kali mengecek hapenya... terlihat pahanya yang mulus karena kali itu Riana tampil dengan pakaian yang sangat santai. Hot pants serta kemeja tanpa lengan sangat membuat leher jenjang putihnya terlihat mempesona jika dilihat dari belakang.

Mungkin agan bertanya-tanya mengapa partner bisnis sekelas saya hanya disambut dengan pakaian santai tersebut. Sejatinya perjalanan ini memang perjalanan senang-senang. Perusahaan Riana mengundang kami dan partner mereka lainnya untuk merayakan ulang tahun perusahaan..tak ada rapat, tak ada bisnis...hanya senang-senang..

Tapi harus diakui saya tak begitu tertarik...dari rundown acara yang tertera di undangan...saya tak menemukan suatu hal yang bisa membuat senang-senang. Sama sekali tidak.

Sesampainya di hotel kami diantarkan langsung ke dalam kamar oleh Riana. Saya dan Tania menggunakan kamar yang berbeda namun bersebelahan dan dihubungkan dengan pintu penghubung.

Sebelum meninggalkan kami Riana menanyakan rencana kami malam ini...karena acara dari perusahaan Tania hanya sampai delapan malam dengan acara makan malam...sebenarnya Tania menyarankan saya untuk istirahat. Tetapi saya menolak...saya mengatakan bahwa ingin berenang dan memutuskan untuk mengajak Tania.

Kini giliran Tania yang menolak. Di hadapan saya dan Riana, Tania menjelaskan dirinya tak memikirkan untuk berenang dan tak membawa pakaian renang. Namun dengan santai Riana menjawab.

“Pakai pakain dalam saja mbak...kalo malu maleman aja jam 10...di sini udah sepi kok kolam renangnya jam segini..” ujar Riana. Tania yang mendengar tersebut langsung sumringah sementara saya tak berpikir apa-apa karena hanya menganggap akan ditemani oleh dua wanita saat berenang...

Malamnya benar-benar makan malam yang membosankan...kami semeja dengan Riana dan salah satu asisten wanitanya. Jujur saya sama sekali tak tertarik. Oh ya gan, Riana memang mendapat tugas untuk menemani kami selama acara karena kami memiliki kedekatan setelah beberapa proyek besar. Bahkan Riana terang-terangan megngatakan bahwa kami adalah partner terbaik perusahaan mereka di dua tahun terakhir.

Tapi kalau boleh jujur,, rasanya itu hanya lip service biasa. Sebagai pebisnis, jika memang mereka puas dengan jasa kami..seharusnya mereka berani mengeluarkan dana lebih besar dari investasi satu keinvestasi selanjutnya. Sementara kenyataanya memang terdapat peningkatkan namun jumlahnya tak terlalus signifikan.

Tepat pukul 10 saya memutuskan untuk ke kolam renang terlebih dahulu. Saya ingin melakukan beberapa putaran karena renang memang membuat saya rileks meski harus mengeluarkan banyak tenaga.

Mendadak saya dikejutkan dengan sapaan dari Tania.

“Kok saya ditinggalin sih mas?” ujar Tania halus ketika saya berada di pinggir kolam dan masih ngos-ngosan.

aku tak menjawab. Ku perhatikan Tania kemudian melepaskan jubah mandinya dan menunjukkan betapa indahnya tubuh tania... seperti yang disarankan Riana, Tania menggunakan BH sehari-hari...namun ukurannya terlalu kecil sehingga tak bisa menutupi sisi luar payudaranyanya...saya terus memandanginya ke arah bawah...perutnya yang rata benar-benar mempesona...semakin terkejutnya saya ketika melihat Tania rupanya menggunakan G-String. Ia kemudian membalikkan badan dan menunduk untuk meletakan pakaian mandinya ke tempat berbaring di pinggir ...sesaat saya mendapatkan pemandangan surga. Bongkahan pantatnya yang sesuai dengan genggaman dan cukup kencang seolah menantang saya untuk bangkit dari kolam dan meremas bulatnya benda tersebut...namun yang tak kalah hebat, sepintas saya melihat adanya rambut dari arah depan gstring yang ia gunakan, secara tak sengaja saya mendangak... namun semua pemandangna itu hilang ketika Tania mendadak membalikkan badan.

“Ih ditanya juga Mas...malah bengong...kayak gak pernah liat yang beginian aja...” goda Tania sambil menceburkan diri dan berada di sampingku...

“Emang belum pernah...” ujarku singkat sambil berusaha menenangkan penis ku agar tak terlihat Tania. Bagaiamanpun saya terus menghormati sekretaris saya sebagai sosok yang sudah menikah dan bertanggung jawab dengan keluarga.

“Halaah...waktu itu ngapain di ruang kantor sama Bu Marin...hihihi” ujar Tania yang membuat keadaan sedikit canggung.

Kecannggungan tersebut langsung hilang ketika Riana datang dengan balutan bikini yang sangat menggoda. Saya tak pernah membayangkan bahwa niatan saya untuk rileks justru menjadi sangat merepotkan karena harus menjaga penis saya untuk tetap tenang.

Riana datang sambil diikuti pelayang yang membawa seember es dan tiga buah gelas cantik. Sementara Riana menenteng sebotol anggur merah yang mereka rencanakan untuk kami berminum ria.

Riana,s aya dan Tania akhirnya hanya menghabiskan malam di pinggir kolam meski tak keluar dari kolam...secara sembunyi-sembunyi saya berusaha untuk mengintip isi dari bikini biru muda yang digunakan oleh Riana...dadanya cukup membusung meski ukurannya tak jauh berbeda dengan Tania...

Saya jug amemperhatikan bahwa Riana beberapa kali sengaja menggesekan dadanya ke lengan saya...tentu ia membuat hal tersebut seolah-olah tak sengaja...gelas demi gelas mulai kami lahap bertiga...akhirnya dan sangat disayangkan Tania memutuskan untuk ke kamar terlebih dahulu karena dirinya harus bangun pagi untuk mempersiapkan segalanya untuk saya...

Itu membuat saya dan Riana hanya berdua...kami terus mengobrol masalah bisnis namun percakapan kami mulai diselingi dengan jeda-jeda panjang yang menandakan bahwa otak kami sudah tak berjalan dengan semestinya karena ini sudah memasuki botol kedua kami.

“Mas, kayaknya burungnya mau keluar tuh dari tadi ngacung terus...” ujar Riana sambil terus menatap burung saya yang menonjol di balik celana dan masih berada di air...kontan percakapan tersebut membuat saya terkejut dan terdiam...

“buka aja pak...kasihan kayanya keteken...” timpal Riana sebelums aya berusaha membalas pertanyaan awal....saya yang masih belum mabuk betul-betul masih menahan diri karena bagaimanapun juga Riana adalah partner perusahaan saya dan saya tak bisa melakukan itu...

Tak saya jawab akhirnya Riana memutuskan untuk melakukan tindakan yang saya tak duga-duga...ia mengarahkan kedua tangannya dan terlihat kesulitan membuka bh yang ia kenakan. Sejurus kemudian saya dapat melihat payudara indah yang dimiliki oleh Riana. Berbeda dengan Marin, puting yang dimiliki oleh Riana jauh lebih pink. Hebatnya lagi ukuran puting Riana jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Marin.

Riana terus meraih kedua tangan saya untuk meraih dadanya. Sesuai dengan genggaman saya. Ini yang saya suka...saya memiliki seluruh kontrol terhadap dadanya.

“Hmmm...ahhhh...shhhh enak mas....aduhhh...shhhhh” ujar Riana yang boleh dikatakan agar berlebihan. Akhirnya saya memutuskan untuk melumat bibirnya...siapa disangkan gerakkan saya tersebut rupanya membuat Riana semakin memanas.

Tanpa melepaskan aksi saya di dadanya kami terus berpagutan. Saling gigit dan bersilat lidah...kami benar-benar di bawah pengaruh nafsu dan alkohol...saya kemudian melumat payudara sebelah kirinya sambil puting sebelah kananya saya pelintir.

Ujung lidah saya mengelilingi sekitaran putingnya...itu membuatnya menggelinjang tak karuan...terlebih lagi ketika lidah saya benar-benar menyentuh ujung putingnya yang sudah mengeras...

“Fucckkkkkkk” teriak Riana yang sempat membuat saya panik...

“Quickie di ruang bilas aja yu....mas..nggak enak kalau ada yang liat dari atas atau dari mana” minta Riana yang kemudian langsung saya turuti...konyolnya saya naik ke atas kolam renan gdengan kondisi menggendong Riana hadap-hadapan...terlebih lagi Riana tak mengenakan BH. Ia hanya bisa menggemgam bhnya sambil menyilangkan kaki di pinggul dan tangan di leher. Setelah mengambil handuk kami berusaha ke ruang bilas dengan posisi yang sama...

Di sana saya langsung membiarkan Riana kembali berdiri... ia memutuskan untuk melepas celananya dan begiti jgua dengan saya.

“Astagah mas...gede banget!” ujar Riana terkejut ketika berbalik badan dan melihat penis saya.kami kemudian kembali berciuman dengan ganas. Namun terdapat sebuah perbedaan...jika sebelumnya tangan kami aktif mengeratkan tubuh satu sama lain..kali ini kami berusaha untuk menyentuh kemaluan lawan masing-masing...

Tangan saya berusaha untuk menjamah daerah kewaintaanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus...sama sekali jarang dengan bulu...jika biasanya saya ramah dengan vagina wanita namun kali ini tidak. Saya berusaha memasukkan dua jari untuk mencari klitorisnya... saya langsung memainkannya dengan sekuat tenaga untuk menimbulkan reaksi yang tak bisa iahindarkan...

“Masss ah....masukin lagi mas jarinya mas....teken teken memekku mas....” ujar Riana sambil melepaskan ciumannya....sementara tanganya tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa meremas kemaluanku...

Aku berusaha untuk memasukkan jari tengah dan jari telunjuk lebih dalam...inci demi inci membua t pinggul Riana terus menangkat dan mulutnya terbuka lebar tanda kenikmatan sementara matanya hanya bisa tertutup sayu....

Tak lama kemmudian dinding vagina Riana menyedot dua jariku....tubuhnya langsung menegang dan sesaat kemudian melemas....Riana nyaris terjatuh beruntuk saya mampu menopangnya dengan jari yang masih berada di vagina...saya rasakan betul cairan yang cukup deras mengalir dari dalam vagina Riana menandakan orgasmenya....

Tanpa menunggu lama saya langsung memalikkan tubuh Riana...ia sedikit menungging dengan bertumpu pada tembok....tahu dengan apa yang saya maksud, Riana yang masih ngos-ngosan dengan santainya melebarkan kakinya...

“Masukkin punya kamu sayang...tanpa ampun...aku siap menerima...pasti puas banget deh main sama kontol kamu...” ujar Riana dengan kata-kata yang tak pernah saya bayangkan keluar dari wanita manis ini...

 saya yang tak sabar langsung memmasukkan seluruh penis saya tanpa ampun seusai permintaanya...jika Marin saja membuthkan waktu yang pelan-pelan kini Riana saya tikam secara langsung...namun Riana malah berteriak...

“Aduhh...gilaaa...ampun mas ampun....tahan-tahan....sakit banget ah....sebentar-sebentar jangan goyang dulu....” ujar Riana seperti mengilu....

Setelah bisa mengatur nafas kini giliran saya berusaha untuk memaju mundurkan penis saya...

“Ahhh...pelan ya sayang....ehmmm...iya gi...hmmmm...ehhh...shhh enak mas....”

Perlahan desahan yang dikeluarkan oleh Riana berubah menjadi erangan yang semakin keras terdengar...sekitar lima belas menit kami mempertahankan posisi ...namun kali ini Riana bertindak semakin liar...ia mementokkan pantatnya terus ke tubuh saya dan menghentak-hentakannya...semakinkeras hentakan yang ia buat bahkan menyaingi tempo yang saya ciptakan...

“Mas aku mau keluar lagi...” mendengar itu saya tak tinggal dia...saya kembali ingin melihat Riana kelojotan dan memutuskan untuk terus memompa dengan tempo yang ta kalah cepat. Akhirnya Riana menyerah...pertahanannya harus berakhir di sini...

“”Aahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh...mas aku keluar....nggak kuat mas....” ujar Riana yang kemudian terkulai lemas....

Singkat cerita saya langsung membawa Riana ke kamar saya....saya masih enggan melepasnya karena saya sebenarnya juga belum mengalami orgasme... setelah membaringkan Riana saya berusaha untuk membuka lebar selangkanganya namun Riana menolak...

“Mas please nanti aja ya...masih sakit banget nih...rasanya kebas...kamu tadi kenceng banget sih...”

“Maaf ya sayang...kamu oralin aku aja deh,,mau ya” bujuk saya sambil menyubit putingnya yang masih menegang dengan gemas...

“Ihhh bandel....anggep aja ini servis dari perusahaan untuk kamu ya mas....”

Sebenarnya isapan Riana tak terlalu spesial gan.bahkan saya nyaris turn off. Sebelum akhirnya Riana mengeluarkan jurus mematikan. Ia mengurut batang kemaluan saya yang sudah tegak dengan giginya...ya...jika agan-agan tak suka dengan gigi yang menyentuh penis maka yang ini berbeda.

Riana menggunakan dua gigi terdepan yang atas untuk menyapu penis saya dari paling bawah hingga menuju kepalannya...sampai kepala ia mengigit kecil kepalan penis saya yang menimbulkan sensasi menggilakan....

Terus ia ulangi secara perlahan hal tersebut. Urat-urat saya semakin menegang bahkan sesaat terasa ingin mengeluarkan lahar putih...namun saya batalkan..saya minta Riana untuk melakukan penetrasi kembali...

“Sumpah mas....aku masih kebas nihh...”

“gini aja deh...kamu aja yang di atas. Kamu yang atur tempo...aku diem aja....” bujuk saya dan kemudian disetejui sang bidadari...

“Demi partner tercinta apa sih yang enggak...”

Riana mulai bangki...ia kemudian mengarahkan penis saya yang dimasukan dengan perlahan...bahkan lebih pelan jika dibandingkan dengan momen bersama Marin....sungguh sedikit membosankan namun saya mengerti keadaanya...

Ketika kepala penis saya memasuki vaginyanya terasa berkedut-kedut menandakan bahwa vaginanya memang tengah dalam kondisi yang tak terlalu begitu baik....

Setelah masuk semua, Riana mulai mengoyangkan memutar pinggulnya dan membuat saya semakin menggila....

“Hmmm gila mas...sebenarnya sakit...tapi penis kamu bener-bener nagih.., ayo mas kamu goyang aja gakpapa....terus mas”

Diberikan lampu hijau saya langsung tancap gas....saya naik turunkan pinggul saya yang benar-benar memborbardir pertahannanya...saya semakin terpacu ketika payudaranya memantul-mantul melawan gravitasi....saya hanya bisa bangung dan menjilati payudara tersebut...tak berlangsung lama kami serasa ingin keluar dan saya hendak mencapai orgasme pertama saya..

“Hmmm...ahhhh...woohhhh..shhh ittt.... mas aku mau keluar....”

“sama mbak...keluarin dimana nih?”

“Di dalem aja mas,,,aman kok.....1...2...3....ahhhhh”

“Ahhhhhhh” erang saya tak karuan. Seperti biasa tubuh Riana sempat mengaku dan kemudian menjadi lemas kembali.

“kayaknya di kontrak kerja sama berikutnya kita harus punya kontrak sendiri nih mas untuk masalah ranjang,,,,” ujar Riana manis dan hanya saya balas dengan senyum serta kecupan manis di bibir.

Saya benar-benar pulas malam itu dan kami tidur dalam keadaan telanjang....


Admin Mesum - 21.50
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved