;

Minggu, 04 Mei 2014

Romantisme Polwan (Lanjutan 02)

Minggu, 04 Mei 2014

Lanjutan :

Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Alex di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu. Disamping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan? Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara dijalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa?? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat dipikiranku.
“Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini??”
Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Alex memberikanku kenikmatan yang tiada tara. Memberi Kenikmatan?? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Alex telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya?? Ah jangan aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
*
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap sms atau telpon dari Alex tidak pernah kujawab. Aku tau dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan. Aku sudah bersih sekarang, tapi Alex tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
“ Mbak Tantri kemana aja?? Alex jadi khawatir nih. Maafin Alex atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak Alex tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Alex hanya terbawa suasana karena cintanya Alex sama Mbak.”
Itu sms darinya. Kumatikan hp yang kupegang, tidak mau kujawab sms yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
“ kamu cantiik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
Terngiang bisikan mesra Alex di sudut stadion pagi itu. Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku. Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi. Turun kebawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Alex sangan sexy. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Alex tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan. Perlahan kucopot satu persatu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan sexy mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Alex mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja dibawah kakiku, meninggalkan CD warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
“Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar sexy”
Kataku dalam hati, sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut BH dan CD warna putih. Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik. Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi. Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
“ dum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa”
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
“ ohhh kenapa aku jadi bergairah” batinku
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit . Ketiakku terlihat jelas, sangat sexy, bersih dan terawatt.
“terus goyang Tantri goyang”
Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang. Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Alex perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru nafasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan CD danBH putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Alex di depanku.
“ Alex gantengku cium aku sayang” fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“oooooooh”
kenapa bisa Tantri?? Kutuk diriku. Kamu mendesah-desah dikamarmu sendiri.
Begitu panas rasanya. Begitu bergelora. Kubuka kaitan BH yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini. Sudah lebih 12 jam dia terpenjara di dalam BH. Sudah saatnya ia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Alex penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisap.
“kamu belum pernah melihat inikan Alex??”batinku
“gimana bila kamu melihat ini??kamu akan terangsang Alex”
Aku semakin meracau. Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis.
Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“ kulum putting susuku Alex, hisap, hisap sesukamu, buat Mbak puas”
“oooooooooooooooh” jeritku.
Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut unttuk dicrootkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku kedalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Alex. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.kuangkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutkuuntuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat keatas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Alex hadir disana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir disana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Alex, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah. Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal keatas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan.
Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“HEggggggh” aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“aaaaggggggh” orgasme itu meledak.vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya . Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan nafas, tidak sanggup bernafas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini
“………………………………………………”
“Huhhhhhhhh” 10 detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh” aku ngos-ngosan sejenak . tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur.
Kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran disana. Hasil dari semburan yang pertama. Tak kuduga;
“ahhhhhhhh ya Tuhann…….”
Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“heggggggggggggggggggggh” kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku .
“aaaaaaaaaa………………………..” begitu nikmat. Sampai bola mataku yang hitam terangkat hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat, menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk
“huuuuuuuuuh” ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
Ooooh akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil nafasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“huhhhh……huhhhh..huuhhhhh” berusaha kuambil nafas lewat hidung dan meghembuskannya lewat mulut.
“Alex ….Alex …Alex belai Mbak sayang.”
Kubayangkan tangan in adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Alex yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak kea rah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang anal itu.
“Alex itu lubang pantat Mbak, ooo nikmatnya”
Kubayangkan terus kehadiran Alex dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir.
oooooh apa yang terjadi??
“ooooo my god……………………………….jangan lagi…….”
Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan nafas
“huuuuuu……………..ooooooooooooooh”
Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku. Begitu deras seperti air bah. Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“uuuuuuh Alex……………….” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“aaaaghhhhhhhhhhhhhhh……………………………”
Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“hahh….hah……hahhhhh” berusaha kukembalikan nafasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat.
“hah hahhh…….Alex….. ”
Lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
*
Pagi harinya
“ Brigadir Tantri persiapan” ujar pelatih berbaju hitam memberi komando.
“siap” jawabku
“ tembak!!”
“dor………….dor………………dor”
“berhenti, pasang pengaman, lepaskan peluru dari senjata, letakkan senjata!”
Pagi itu adalah saat berlatih menembak di lapangan tembak dekat asrama. Pria berbaju hitam itu adalah pelatih khusus menembak yang ditugaskan melatih kami hari ini.
“ ya maju kedepan Brigadir untuk melihat hasilnya!”
Aku maju seperti yang diinstruksikan ke sasaran tembak berjarak 110 meter dari posisi awal yang berbentuk lingkaran bertumpuk dari ukuran kecil sampai yang paling besar.
“lihat tembakanmu sudah menyentuh ring 3 dari 10 ring yang ada. Sangat bagus brigadier. Teruskan berlatih!”
“siap pelatih”
Setelah melihat target, kulepas kacamata khusus menembak dan peredam telinga yang melekat di telingaku.
“huuuufh akhirnya selesai juga”
Batinku lega karena satu tugas telah selesai terlaksana dengan lancar. Tapi dalam hati aku yakin pasti ada tugas lain yang menyusul. Ternyata dugaanku benar.
“ Brigadir tantri anda diminta menghadap kepala bagian”
“ siap senior segera laksanakan.”
Celaka batinku dalam hati. Apa lagi tugas yang akan diberikan kepadaku???atau jangan-jangan aku bikin kesalahan? Jujur aku kurang nyaman ketika dipanggil oleh Kabag unit tugasku. Pria ini sudah berusia pertengahan kepala 4. Badannya tambun, jelek. Terkenal suka main wanita dan kadang melakukan tindak pelecehan kepada anak buahnya. Hahhhh pekerjaan ini benar-benar membuatku tertekan.
*
“tok..tok..tok”
“siapa??”
“siap Brigadir Tantri Komandan ijin menghadap”
“masuk”
Aku masuk ke ruangan berukuran sempit, pengap dan penuh asap rokok itu. Dibalik meja duduk sosok kepala bagian di kursi kerjanya dengan sikap yang sangat menyebalkan. Punggungnya disandarkan di kursinya sampai melengkung tidak tahan menampung beban tubuhnya yang tambun. Tangannya terus menghirup dan menghembuskan asap rokok seperti kereta api. Tatapannya, ini yang paling aku benci, sangat mesum. Seolah menelanjangiku dari atas kebawah.
“ijin menghadap Komandan!” kataku tegas dengan sikap sempurna dan memberi hormat.
“santai aja Tri he he. Gak usah panggil komandan kalo perlu panggil aja Mas Burhan”
“ siap tidak Komandan” jawabku terhadap pria yang bernama Burhan ini.
“ gimana tawaranku untuk ngajak kamu bertugas di ibu kota sudah kamu pikirkan belum???lumayan lho Tri kamu cantik dan cocok tugas disana”
“ siap komandan saya masih belum tertarik”
“Tri..Tri kamu itu kok naïf banget” Burhan bicara sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri aku yang sedang berdiri dalam posisi sikap sempurna tidak jauh dari hadapannya.
“sebentar Bapak tutup dulu pintunya”
Degg berhenti jantungku berdetak dengan komentar bapak mesum ini, dia mau menutup pintu meninggalkan kami berdua. Ooooh tidak .
“krekk” ( bunyi pintu ditutup)
“Tri udahlah jangan terlalu idealis” katanya sambil melangkah menghampiriku dari belakang.
“ kamu itu cantik Tri snif snif snif”. Dia dengan mudah menghirup aroma tubuhku karena posisinya sekarang dekat sekali dengan rambutku.
“snif…snif..rambutmu harum Tri” katanya sambil menghisap aroma rambut pendekku yang memang selalu terawat.
Aku sangat waspada kini. Kukepalkan tanganku menahan geram karena tindakannya yang mesum. Kalo saja dia bukan komandanku.
“ tetap sikap sempurna brigadir!” suruhnya sambil kedua tangannya menempel di kedua pantatku yang terbalut rok kerja ketat.
tangannya memegang erat kedua pantatku yang menonjol dan meremas-remasnya seperti meremas payudara;
“ pantatmu indah Brigadir…….ooh betapa beruntung yang bisa menikmatinya”
Terus dia meremas-remas bongkahan pantat itu , dan aku hanya terdiam. Tidak sanggup melakukan apa-apa karena dia adalah komandanku. Tapi dia sudah kelewatan dan aku harus melawan. Aku masih punya harga diri. Aku kuat.
“ayo Tantri jangan diam saja lawan dia” kata suara hatiku.
Baiklah aku harus lawan perbuatan mesumnya ini.
“kkooooomandan” kataku dengan bergetar namun tegas
“ apa Brigadir???”
“lepaskan tangan komandan dari tubuh saya!!!”
“kamu berani sama aku sekarang Tri??”
“kalo komandan masih menyentuh lagi, Tantri akan laporkan ke markas besar”
“kurang ajar kamu ya Tri, gak tau diuntung kamu, dasar perempuan sundal”
Tertusuk hatiku mendengar ucapannya yang begitu merendahkan itu
“keluar kamu jalang!!!!” teriaknya sambil membanting asbak rokoknya sampai jatuh dari meja.
Segera aku balik kanan dengan perasaan yang begitu hancur setelah menerima tindakan pelecehan yang begitu tragis. Aku melangkah cepat dengan mata yang berkaca-kaca untuk segera menuju parkiran motor. Aku ingin segera pulang untuk menenangkan diri.
“Tri, Tantri mau kemana kamu inikan baru jam 11, belum waktunya pulang” tanya Sinta polwan teman wanita satu asramaku yang melihat aku hendak cabut ke asrama.
“ iya Sinta ada barang yang tertinggal sebentar ya aku pulang dulu” dustaku
Selepas pertemuan dengan Sinta kugeber motorku dengan kecepatan tinggi sambil menangis tersedu sedu. Sesampainya di asrama tangisanku semakin menjadi. Kubanting barang-barang dikamarku sebagai pelampiasan atas emosi akibat peristiwa tadi.
“rrrrrrt….rrrrrrt”
Bunyi sms sejenak menyadarkanku untuk tidak tenggelam dalam emosi berkepanjangan. Kubuka hp ku untuk melihat isinya siapa tau penting, ternyata itu Alex
“ Mbak maafkan alex ya. Mbak sudah menghilang 2 minggu ini. Alex ijin maen ke asrama nanti malam ya Mbak??kalo dibolehin”
Aku masih kesal dengan Alex tapi memerlukan seseorang untuk memelukku, menentramkan hatiku yang sedang sedih akibat pelecehan tadi.
Cepat kuketikkan sms untuK menjawab smsnya:
IYA NANTI MALAM MBAK SENDIRIAN, SINTA LAGI ADA TUGAS MALAM. JAM 7 MBAK TUNGGU KAMU. AWAS JANGAN TELAT !! KALO TELAT KAMU JANGAN BERANI MENGHUBUNGI MBAK LAGI!”
Hahh kutarik nafas panjang.
“Rrrrrrt rrrrt”
datang sms balasan dari Alex
“SIAP MBAK PERCAYA ALEX PASTI TEPAT WAKTU”
Bip (kumatikan hp)
Hufffff kembali kutarik nafas yang lebih pajang dari sebelumya.
“tolong Hibur Mbak Alex”.

bersambung


Admin Mesum - 17.09

Romantisme Polwan

Akhirnya sirine yang kutunggu itupun berbunyi. Dengan iramanya yang khas, sirine itu menjadi sinyal untuk kami agar segera melaksanakan apel sore dan bersiap untuk pulang ke asrama.
“ jaga kondusifitas keamanan sekitar dan setiap anggota wajib memberi tauladan yang baik kepada masyarakat”
kata komandan regu kami mengakhiri amanatnya pada sore hari yang mendung itu.
Akhirnya setelah rutinitas mengisi daftar hadir, aku segera berlari kecil untuk bergegas keparkiran motor, untuk mengambil kendaraanku. Rasanya birahuku sudah sampai diubun-ubun ingin segera menyalurkan hasrat bilogisku yang begitu bergelora.
Namaku Tantri seorang polisi wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu di lakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulitku eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai, rambutku tentu saja pendek sampai ke tengkuk. Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.
“rrrrrrrt,rrrrrrrrrrt”
Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal sms masuk.
Sambil duduk di jok motor aku buka hp dan membaca isinya , “ Hai Mbak sexy kutunggu kamu di kontrakkan sudah kusiapkan kejutan yang manis buat kamu”.
Itu sms dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya.
Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca sms ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama si Alex ini membuatku ketagihan secara seksual.
Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Alex yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal. Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Alex perlahan namun pasti mengajarkanku arti nikmatnya berhubungan badan.
10 menit kemudian sampailah aku di kediaman Alex yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini. Alex sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya 4 tahun dibawahku, Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga. Awal pertemuan kami terjadi di sana.
Sebagai anggota kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari. Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olahraga ataupun stadion kabupaten.
tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuanku dengan Alex. Saat itu, ditengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapa.
“ halo, selamat sore, maaf mengganggu Mbak ini aparat ya?”
“ iya benar, Mas siapa ya??”
Jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
“ perkenalkan nama saya Alex” sambil menjulurkan tangan, tanda ia ingin berkenalan.
“ Tantri” jawabku sambil menjabat tangan Alex
“ Mbak maaf ya gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, ini saya tunjukkan gerakan yang benar”
Alex kemudian mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
“ Untuk latihan kaki gerakan yang benar seperti ini Mbak, harus jongkok sampai kebawah ,dengan ini Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus”
Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya ganteng, dan yang terpenting dia berani untuk mengajak ngobrol seorang anggota. Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun kesexyan polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai KEBERANIAN untuk mendekati kami. itulah yang membuat beberapa diantara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup.
Tapi pemuda ini berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku. Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan diantara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini bagaimana Alex mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.
“ sekarang kita latihan trisep ya Mabak Tantri” alex berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kg yang berada di rak.
“ bagaimana gerakannya??” tanyaku
Jujur olahrafga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan.
“ pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, Seperti ini. Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, trus lengan ditahan, barbell diturunkan kebelakang kepala, satu set hitungan 10 kali”
Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut Gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex. Dia berdiri tepat dibelakangku untu menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Alex terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi keatas.
“ ayo mulai Mbak 1……2………3”
Gerakan latihan trisep itupun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan nafas Alex yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa Dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya. Alex terangsang batinku.
“ Mbak Tantri harum, aku suka bau badan Mbak….10 cukup”
Bisik Alex ketelingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat .
Sambil mengambil nafas karena kelelahan dan sedikit horny kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny. Saat inipun wajahku bersemu merah, orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga tapi jujur sebenarnya aku terangsang. mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat dibelakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.
“ Mbak kenapa ikut fitnes disini?”
“ iya biar badanku gak gemuk”
“ badan udah sexy gini kok dibilang gemuk”
“ hush badan semok gini kalo diliat seniorku masih dibilang gemuk tau”
“ berat ya pekerjaan Mbak”
“ iya makanya jarang ada cowo yang deketin aku”
Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
“ ada aku kok Mbak Tanti yang mau sama kamu he he” kata Alex sambil bercanda
“ ha ha nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowo kebanyakan”
Ujarku sambil melagkah ke ruang ganti untuk berganti baju.
Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang kerumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.
Namun mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Alex, fitnes menjadi semakin rutin kujalani. Setiap sore kudatangi Jos Gym untuk berlatih. Alex juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada disana. Setelah dua mingguan rutin belatih kami baru tahu kalo sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Alex hanya berjarak sekitar 7 menitan dari asramaku.
Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil sexy di hadapan Alex. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat. Penampilanku yang demikian rupanya membuat Alex juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang Alex tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.
Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Alex semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin. Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya.
Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yangmelekat di tubuhku, kadang cd tetap kekenakan kadang juga kutanggalkan . Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benangpun.
Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak. Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Cd yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut. Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi.
Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur akupun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tau artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Alex mengajakku untuk aerobik pagi bersama.
*
“ mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk”
Itu bunyi sms Alex pada saat aku sedang bersiap tidur.
“ ayo kebetulan besok hari sabtu,kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi” jawabku
“horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?”
“request apa ya Lex?”
“besok Mbak pake kaos merah yang sexy itu ya!”
“emang kenapa Lex?”
“gak apa Mbak , Alex senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu”
“yau udah besok Mbak pake baju itu deh”
“ makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama”
“ haa jam lima??? Gak kepagian tuh Lex??”
“ enggak Mbak udah rame kok jam segitu”
“ ya uda jam lima teng mbak sudah disitu, awas kamunya jangan telat ya mbak push up nanti”
“ siap Komandan”
Setelah tidur yang singkat, akupun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
“ pagi Mbak Tantri, mari masuk” seru Alex menaymbutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
“ Alex kamu hebat tepat waktu, tadinya Mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame??”
“ hush sini deh Mbak ada yang Alex mau omongin ama Mbak”
Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.
Alex kemudian terus berjalan mengajakku kesebuah sudut stadion yang remang-remang.
“ Alex awas ya jangan macem2!!! kamu kan tau siapa Mbak”
Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yanglekas curiga dengan modus Alex yang sangat mencurigakan ini.
“ nggak deh Mbak, Alex toh tau Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya . Apalagi kalo dipenjara takut banget deh Mbak. Ini alex Cuma mau jujur saja…..”
“Jujur apa alex???cepet donk ngomongnya!!! Atau mbak panggi l temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!!!” ancamku
“ ampun Mbak jangan donk, Alex Cuma beliin ini kok buat Mbak.” Kata Alex sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
“ ya ampun Alex kejutan apa ini??kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih”
“ dibuka donk Mbak kadonya” kata Alex
Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama. Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.
“ Alex inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak????”
“iya Mbak sejak pertemuan pertama Alex sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang alex sama mbak kok”
“ kamu baik banget Alex.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
“ sini mbak Alex pakein kalungnya, Alex sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku. Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Alex mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.
Alex memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Alex mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang. Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Alex memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.
“ Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak”
Kata Alex singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu. Dengan sabar Alex memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional. Alex sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana.
Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman. Dengan begitu mahir, Alex kemudia melepas pagutannya untuk kemudian berbisik ketelingaku.
“Mbak percaya sama Aku ya, Alex mau bawa Mbak ke langit ketujuh”
Alex membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu katapun. Alex melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Alex langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens disekitarnya. Ciuman untuk merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk meudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendangak sambil berdiri, dengan seorang pria yang asyik mengoral leherku yang jenjang.
“aaaarrrgggghhhhhh”
Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, sambil tanganku mengepal di balik bahu Alex berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan A lex mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi. Alex kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Alex tersenyum melihat wajahku sambil berucap
“Mbak semakin cantik saja kalo begini”
Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Alex memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.
“pegang besinya Mbak!”
Kata alex sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 cm diatasku. Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Alex secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya disekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra. Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.
“hggggggggggggh”
Aku tak tau apa yang terjadi tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai diubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Alex. Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Alex baru memainkan putingku dari luar. Alex memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku. Setelah badai nikmat itu reda. Alex memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai keatas dadaku.
“ jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Alex mau buat Mbak mabuk kenikmatan”.
Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan. Alex turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya
“ aroma Mbak membuatku tergila-gila”
katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari disana. Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku kelangit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang diatasku.
Sambil menjilat pusarku tangan Alex turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Alex menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Alex untuk berdiri berhadapan denganku.
“ jangan Alex Mbak malu”
“gak apa Mbak percaya sama Alex”
“sudah kamu disini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu”
“iya Mbak”
Alex kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumi ku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan cd merah yang menutupi bagian bawah tubuhku. Kembali kedua tangan Alex membuka sela-sela ketiakku dan membawanya keatas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia dibibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Ditengah pagutan itu tangan Alex tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitoris.
“ Youre shaved Mbak, betapa beruntungnya aku”
Itu bisiknya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah kemaluanku dari dalam cd merah. Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku keatas memandang langit.
“ kamu cantik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
“………hgg………………………………………”
Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Alex yang masih di area intimku kujepeit tangan itu. Aku orgasme. Semua aliran darahdalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak disana. Oooooow nikmatnya. Begitu nikamatnya. Tangan Alex tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
“ ayo Mbak Jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!!!!”
Bisik Alex kepadaku.
“hahhhh…………………………………………………………..”
Begitu nikmatnya… pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Alex.
“ ( heh…..heh….hehhh……) A…Alex”
“Ya Mbak” jawab Alex sambil memeluk tubuhku
“nikmat balet Alex”
“bener Mbak?”
Aku mengangguk
“kenapa bisa senikmat ini batinku
“Alex akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya Alex”
Aku kembali mengangguk.
Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Alex. Tentu tidak ada olahraga hari itu. Lututkuq kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Alex setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

bersambung


Admin Mesum - 17.04

Selasa, 01 Oktober 2013

Maia Estianty dan Al

Selasa, 01 Oktober 2013

cerita seks || Maia Estianty dan Al || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Namanya Ahmad Al Ghazali panggilan nya Al umurnya 15 tahun. pasti kalian semmua mengenalnya, maklum Al anak artis terkenal di Indonesia, Al anak ahmad danny dan Maia Estianty yg sekarang telah bercerai. Al tinggal di rumah Danni , dan jarang diberi kesempatan untuk bertemu mamanya. Al mau menceritakan pengalaman seksnya di rumahnya sendiri. Kejadian ini baru terjadi dua bulan yang lalu. Al mempunyai seorang pacar, namanya Citra Aulia Marwan Dewicitra orangnya cantik. Dia mempunyai tinggi badan 171 cm, nyalit putih bersih, dadanya kira-kira 36 dan pantatnya sangat montok. Al sangat terangsang jika melihatnya. Suatu hari, tepatnya malam minggu.Waktu itu mamanya sedang pergi karena ada urusan kebetulan Al sedang diijinkan nginep di rumah Maia Estianty oleh Danny Ahmad,

Al mengajak citra untuk ke rumah Maia Estianty di pejaten, suasana sepi hanya kami berdua, cit kita nonton film aja yu di kamarku!, ayo kata citra, mereka berdua lansung masuk ke kamarnya, Al langsung menyalakan dvd player dan memasukan film , kemudian mereka berdua tiduran di tempat tidur, citra terkejut ketika tau yang Al setel adalah film bokep, “ ga apa pa kan cit, kita kan udah lulus smp musti tau dong yg kaya gini, citra mengangguk malu,Di layar terlihat seorang bule yg sedang meng oral kontol laki laki negro, terlihat nafas citra mulai terengah engah.“Kamu mau juga ya..", katAl manja. Dia lalu menariknya. Dibukanya bajunya, lalu dibukanya juga baju citra . Langsung dilumatnya kontolnya. Rasanya enak sekali. Diisapnya kontol Alsampai menyemprotkan sperma di mulutnya. Al puas atas perlakuannya. Lalu Citra menyuruhnya menjilati memeknya .oohh.. ahh.. erangnya. Lalu Al pindah meremas dan menjilati payudaranya. mmhh.. terus.. nggh.. Al menjilati payudaranya, perutnya sampai memeknya. oh.. ah.. ena.. k.. erangnya. Nafsunya naik lagi. Kontolnya mulai berdiri lagi. Masu.. kin aja.. pintanya. Lalu Al memasukan kontolnya dan memompanya. Rasanya enak sekali, kontolnya dijepit oleh otot memeknya. ahh.. terus.. sayang.. jeritnya. Lalu dibaliknya tubuhnya. Dengan posisi diatas, dia menggoyangkan pantatnya turun naik. Tangan Al meremas pantatnya yang montok. Payudaranya bergoyang-goyang. Aku mau keluar.. erangnya. Tahann.. sayang.. ujar AL. Lalu ahh.. agh.. oh.. citra mengerang panjang pertanda orgasme. Dia terus bergoyang dan crot.. crot.. crot.. menyemburlah sperm Al didalam memek Citra. Lalu Citra mencium bibirnya. Mereka pun tergeletak bersampingan. "Makasih cit.. betul-betul nikmat", ujarnya sambil meremas payudara Citra . "Iya.. kamu hebat juga", katanya "Maukan beginian lagi..?", tanyAl "Kapan aja kamu pengen", ujar Citra sambil tersenyum.

Al senang sekali. Al terus minta jatah sama citra. Kapan ada kesempatan mereka pasti melakukannya dengan berbagai macam gaya. Al juga sudah merasakan pantatnya yang montok. Waktu itu citra lagi haid, jadi AL sodomi aja pantatnya. Rasanya sama-sama enak kok. Sampai pada suatu hari, Waktu itu mereka pulang sekolah, Al mengajaknya ke rumah maia estianty, dan langsung ke kamarnya dengan bernafsu mereka saling berpagut dan mulai melepaskan baju masing masing, Al terus merangsangnya. Al menjilati payudaranya. Citra mendesah. Lalu dia bangkit, menimpanya sambil berbalik. mereka melakukan gaya 69, Dikocoknya dan diisapnya kontolnya. Al pun menjilati memeknya sambil meremas pantatnya. Lagi asyik menjilat, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Mereka sangat terkejut. Ternyata mamAl ( Maia Estianty )sedang memergoki mereka berbuat mesum.

Mama Al ( Maia Estianty )masuk dan menutup pintu. Muka maia estiantynya tampak marah melihat perbuatan mereka . Al dan citra hanya bisa terdiam. Matanya menatap kami tajam. "Maafin kami ma!, ini salah Al. Al yang ngajak Citra. Soalnya Al lagi terangsang! Ujarnya "Lagi pula citra juga mau kok", ujar Citra membela Al. "Terserah mama mau marah, kami kan udah gede dan punya hasrat seks yang harus disalurkan", ujarnya. maia estiantynya terdiam sejenak "Ya.., udah terserah kalian. Tapi perbuatan kalian jangan sampai ketahuan papa!", ujarnya. "Satu hal lagi Al, jangan sampai Citra hamil", katanya sambil menatapnya. "Ya..udah sebagai hukumannya mama mau lihat bagaimana kalian melepaskan hasrat seks kalian itu", ujarnya lagi.

Al dan Citra saling pandang. Lalu mereka lanjutkan permainan mereka . Al mulai merangsang Citra lagi. Dijilatinya payudara citra . Lalu menjilati memeknya. Ah..sst.. mmh.. desahnya. Tanpa lama2 Al memasukkan kontolnya ke liang memek Citra dan mengocoknya. Akkh..ohh..ngghh..ah.. ah..desahnya. Al makin mempercepat kocokannya. Dan akhh..ahh ..akhhkhh.., jeritnya panjang. Dia merasakan Citra sudah mencapai orgasme. Semakin cepat goyangannya. ck .ckk.. ck..suara kocokan kontolnya di memeknya yang sudah basah bercampur cairan orgasmenya. "Mau keluar nih..", jeritnya "dimulutku aja!", ujar Citra sambil menahan sodokan kontol Al, Al mencabut kontolnya. Citra langsung menggenggam kontolnya dan mengocoknya dalam mulutnya. Crott.. crot..crot..crot menyemburlah sperma Al ke mulutnya sebanyak 8 kali. Mulutnya penuh dengan sperma Al. Sampai menetes keluar dari sela mulutnya. Dan ditelannya semua. Al terbaring puas, dan Citra menjilati kontolnya untuk membersihkan sisa sperma. Al melihat mamanya menggelengkan kepalanya.

Lalu Maia Estianty pergi keluar dari kamar. Al dan Citra hanya tersenyum. Mereka akan lebih bebas melakukannya dirumah, walaupun mama Al mengetahuinya. Mere ka saling berpelukan dan berciuman , Al membiarkan citra tertidur karena kelelahan, Al masih memikirkan kejadian tadi. "Mama Al tidak melarang Al ngeseks dengan pacarnya. Berarti Al juga bisa ngeseks dengan mamnya", pikirnya. Lagian body mama masih sip abis. Soalnya mamanyat rajin fitness. Walaupun usianya udah 36 tahun tapi masih oke (bukan membanggakan). Lagi pula mamanya pasti lebih berpengalaman. Al berpikir lama mengenai ide gilAl ini. Nyaputuskan, Al harus bisa merasakan ngeseks dengan mamAl maia estiantynya sendiri.

Lalu Al keluar dan masuk kekamar maia estiantynya. Al melihat mamanya berbaring membelakanginya. terlihat pantatnya yang montok dan pahanya yang mulus. Al membuka pakaiannya sendiri sampai bugil. Dan sambil menelan ludah Al naik ke tempat tidur dalam keadaan bugil. Dipeluknya Maia Estianty dari belakang dan digesek kontolnya yang sudah tegang. Tiba2 mama Al (Maia Estianty ) terbangun "Ngapain kamu, Al?", tanyanya. "Pengen ngeseks sama bunda ", jawabnya manja. Al langsung memeluk dan menciumnya. Mama Al maia estiantynya diam saja. Al membuka kimono mamanya . Wow bunda tidak pakai BH dan CD. Payudaranya besar (lebih besar daripada punya Citra) dan masih kencang. Memeknya merah merekah. Al heran kenapa papanya ninggalin mama nya . Al langsung meremas payudara Maia Estianty , menjilatinya dan menggigitnya. Maia Estianty hanya mendesah kecil. "Jilatin memek bunda Al ya.. kayak Citra tadi..", pintanya sambil meraba memeknya. Al lalu menjilati memek Maia Estianty sambil memainkan klitorisnya dengan gigi dan lidahnya. Ahh..terus.. sayang.. okh.. e. na. k..desah maia estianty. Kepala Al dijepitnya dengan kedua pahanya dan rambutnya dijambaknya. Agar Al terus menjilati memeknya. 10 menit lidahnya menari di memek bundanya dan akhirnya Maia Estianty orgasme juga.

Al mearasakan cairan hangat di lidahnya. Lalu Maia Estianty bangkit dan menyuruhnya telentang. Maia Estianty lalu mengambil baby oil dan mengoleskan kekontolnya. Lalu dikulumnya kontol Al anaknya dengan nikmat. ohh..rasanya benar2 nikmat sampe ubun2. Bundanya jauh lebih enak daripada Citra. Al merasakan kenikmatan yang dahsyat. Maia Estianty mengulum semua kontolnya beserta buah zakarnya. Yang paling sensasional nyarasakan saat bundanya mengocok kontolnya sambil menjilati lubang duburnya. Wow benar2 asyik dan nikmat. Al sampai merinding kenikmatan.

Sekitar 10 menitan menyemprotlah sperma Al di depan wajah bundanya maia estiantynya. Maia Estianty sibuk menjilati sperma Al yang muncrat kemana mana. "Wah.. benar-benar nikmat ma..", ujarnya. "bunda jago oral", pujinya "Kamu juga jago jilatannya, bunda sampe merinding", ujarnya "Gimana, mau dilanjutkan?", tanya Maia Estianty "Iya dong..Al kan mau ngerasain memek bunda!", ujarnya sambil melihat memek bundanya. "bunda juga mau ngerasain sodokan kontolmu!", jawabnya manja. Lalu Maia Estianty mengajaknya ke kamar mandi, untuk membersihkan memeknya dan kontolnya. Al menghidupkan air di bathtub setinggi mata kaki. Mereka berdua masuk dan Al mencumbu Maia Estianty bundanya , Al mencium bibirnya dan nyaremas-remas payudaranya.

Mereka berdua sangat bernafsu, terutama Al. Padahal Al sudah main sebelumnya dengan Citra. Al sudah nggak tahan untuk memasukkan kontolnya ke memek maia estianty. Ia menusukan kontolnya dan bless.. amblas semuanya terbenam. Al merasakan jepitan liang surga bundanya ( Maia Estianty )masih kuat. Al memompa kontolnya menghujam memek maia estianty. Kaki Maia Estianty menjepit sisi bathtub. Ohh..yeahh.. ahh.. jerit maia estianty. Sekitar 3 menit Maia Estianty minta ganti posisi menyamping dengan posisi kaki belipat ke arah samping dan Al menggoyang dari atas menyodok memek bundanya . Maia Estianty tampak sangat menikmatinyamaia estianty)minta doggy style. Mereka bangkit dan Maia Estianty menungging bertumpu pada sisi bathtub. Al menyodok memek Maia Estianty dari belakang. Maia Estianty mendesah campur menjerit kecil. Pantatnya yang montok beradu dengan pangkal paha Al. Al memeluk bundanya Maia Estianty dari belakang sambil terus bergoyang perlahan, meremas payudaranya. "Ma..masukin ke lubang anus ya..", bisiknya "Pelan2 Al , bunda belum pernah ..", jawabnya. Al mencabut kontolnya dan meSmasukkan pelan pelan ke lubang anus bundanya maia estianty. Mama Al maia estianty merintih kecil menahan sakit. Lubang anus Maia Estianty memang belum pernah dijamah. Masih terasa ketat. Al menggoyang perlahan-lahan sambil tangannya mengusap-usap bibir memekn bundanya dari belakang. Oh.. ahhk.. oh.. nikmat.. Maia Estianty mendesah.

Sekitar 4 menit Al mencabut kontolnya Al membalikan tubuh bundanya Maia Estianty dan satu kakinya nya diangkat dan diletakkan di washtafel. Al memasukkan kontolnya lagi dan mengocok bundanya lagi. sekitar 1 menit, Al mengangkat bundanya dan ditidurkan di lantai kamar mandi. Kakinya mengangkang dan Al mulai menggenjotnya lagi. Shh.. ohh.. akhh.. Maia Estianty terus menjerit merasakan nikmatnya. Dan ohh.. ahh.. Maia Estianty melenguh sambil memejamkan matanya menikmati orgasmenya.

Al terus bergoyang. Lalu Al mengakhiri permainannya dengan semprotan spermAl di dalam rahim bundanya Maia Estianty tempat Al dikandung dulu. Al benar-benar puas. Al mencium bundanya maia estianty. "Makasih ma.. permainan mama sangat hebat", pujinya "mama mau kan..ngentot sama Al lagi..?", Tanya Al. Maia estiantyn hanya tersenyum dan mengangguk "Asal.. jangan ketahuan Papa ya..!", katanya. Al cuma tersenyum. Lalu mereka mandi bersama dalam bathtub. Malamnya Al terlelap tidur.

Esok paginya, Al bangun 7 pagi dan bersiap mandi. Al melihat bundanya sedang di dapur. Al mendatangi bundanya Maia Estianty dan nyaremas pantatnya. "Aduh.. kamu nakal ya..", ujarnya. Al membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang tegang. Al menggesekkan kontolnya ke pantat maia estiantynya. "Ma..ayo.. dong..", bujuknya "Please..", rayunya "Isap aja ya..", tawar bundanya "Ya.., deh..!", sahutnya lalu Maia Estianty jongkok dan mengisap kontolnya. Mata Al meram melek menahan nikmatnya. Sampai Al menyemburkan lahar hangat kemulut bundanya maia estianty.

Lalu Al mandi dan berangkat sekolah . Di sekolah Al rasanya pengen cepat pulang. Pukul 2 siang Al tiba dirumah mamnya bersama citra pacarnya. Al memanggil bundanya Maia Estianty kekamarnya. "Gimana.. kalo kita main bertiga", usulnya "Hah..!!", jawab Maia Estianty dan Citra serentak. "Aduh.. nih..anak.. nafsu amat ya..", ujar maia estianty "Kayaknya asyik juga tuh.", sahut Citra.

Citra langsung membuka bajunya. Dan menimpa Al. Bibirnya dilumatnya sambil tangannya melucuti pakaiannya. Maia Estianty akhirnya membuka bajunya dan ikut bergabung. Maia Estianty langsung mengisap kontolnya sambil menjilatinya. Sedangkan Al menjilati memek Citra. Lalu Al menyuruh Maia Estianty tidur telentang sambil mengangkang. dijilatinya memek Maia Estianty dan Citra menjilati dan meremas remas payudara maia estianty. Ssst.. enaak.. ahh.. erang maia estianty. Lalu gantian, Al menjilati memek Citra dan Maia Estianty menjilati payudara Citra. Al mulai memasukkan kontolnya ke memek Citra dan memompanya. Sedangkan Maia Estianty menjilati payudara Citra sambil menggosok2 memeknya sendiri. Aaahh..ohh.. oh.. Citra menjerit kecil berbarengan dengan deru napasnya yang tidak teratur. Al mempercepat goyangannya. Al harus membuat Citra orgasme terlebih dahulu.

Beberapa saat kemudian Citra mengerang puas ah. a. h.. ah. ah. ah. ahh.. ha.. sambil nafasnya agak tersengal. Kontolnya terasa dijepit otot memek Citra yang yang berkontraksi. Al mencabut kontolnya dan menarik maia estianty. Lalu nyamasukkan kontolnya ke liang surganya dan menggenjotnya. maia estianty hanya mendesah kecil. Al menikmati goyangannya. Al lalu membalikkan tubuh bundanya Maia Estianty keatas, Maia Estianty bergoyang bagai menaiki kuda.

Tangannya meremas-remas pantat Maia Estianty dan membantunya turun naik. Ooo.. ahh.. yehh.. erang Maia Estianty sambil memejamkan matanya. Payudaranya bergantung dan bergoyang. Ohh..ahh.. terdengar erangan maia estianty sambil memejamkan mata dan menahan ludah. Al merasakan bundanya Maia Estianty sudah orgasme. Al memeluk Maia Estianty dan membalikkan badannya. Citra langsung mendekat dan menjilati payudara Maia estianty. Al langsung menggenjot bundanya maia estianty lagi dengan posisi telentang. Sekitar dua menitan, Al merasakan mau mencapai puncak. Langsung dicabut kontolnya dan disemburkan ke mulut Citra dan bundanya maia estianty. Mereka berebutan. Sperma Al muncrat kewajah mereka berdua.

Al lalu terduduk lemas.Al melihat bundanya Maia Estianty dan Citra saling menjilati spermanya yang muncrat kewajah mereka. Setelah 10 menit Citra keluar dari kamarnya. Dan Al memainkan satu ronde lagi dengan bundanya Maia estiantynya. Dan diakhiri dengan semburan sperma di dalam lubang anusnya. Setelah itu Maia Estianty keluar dan mandi.

Sekarang Al benar-benar betah berada di rumah, kapan saja ada saja yang melayaninya bundanya( Maia Estianty )dan Citra). Hampir tiap pagi Al mendapat jatah oral dari maia estianty. Tapi semua sudah diatur. Kalo siang Al mainnya sama maia estianty, dan kalo malam malam lagi pengen, Al mainnya sama Citra. Tapi kadang nggak tentu juga, yang mana aja. Kalo ada kesempatan, mereka main bertiga. Bahkan Al pernah bolos sekolah karena kecapekan melayani bundanya Maia Estianty dan Citra. Kejadian ini membuatnya betah di rumah

Begitulah yang diceritakan Al kepadaku, Al berjanji akan menceritakan pengalamannya mengentot istri muda papanya yaitu Mulan Jameela.


Admin Mesum - 20.46

Aku dan Tante Vera

cerita seks || Aku dan Tante Vera || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Hai,,kenalkan,nama ku aldo,umur 16th kelas 1 smk di jakarta,dari kecil aku tinggal di purbalinggo.tapi setelah lulus smp aku tinggal di rumah tante adik mama ku tante vera,

tante vera seorang pengusaha terkenal di komplek nya,terkenal karena kebetulan tanteku buka salon,rumah nya paling pertama dapat kalau masuk gang,hahaha
tante vera berumur 40th,sebenarnya tante ku ini sudah 3 kali menikah.yang kudengar dari mama bahwa tante ini mandul,suami yang pertama kawin lagi,yang kedua meninggal karena kecelakaan,dan yang terakhir sudah tua,aku tidak tau mengapa tante vera sama om haris nama panggilan nya yang sudah berumur hampir 60th,

aku adalah anak bungsu dari 7 bersaudara,jadi perilaku ku agak sedikit manja.

Sudah 2 bulan aku tinggal dirumah tante vera,kami hanya tinggal ber 4 dirumah tante bersama seorang pembantu sebut saja mbak inem,karna saat mengepel lantai mbak inem suka menggoyang-goyangkan pantat nya sambil bersiul.

Suatu pagi aku mau berangkat sekolah,tapi tante vera memintaku agar bolos dan meminta bantuan ku untuk menjemput alat rias nya di koja.
Jadi lah pagi itu aku bolos menemani tante,kami berangkat dengan menggunakan mobil kijang innova,kuperhatikan tanteku ini sangat menarik,persis seperti istri anggota dpr,sangat sangat elegan,yang membuatku suka memandang tante vera adalah leher nya yg bersih dan putih mulus.

Setelah selesai mengambil alat rias tante yang cukup banyak kami hendak mau pulang,namun entah mengapa tante vera tiba-tiba berhenti didepan sebuah hotel,aku melihat wajah tante vera seperti marah,mau menangis dan jengkel,ku cari arah pandangan tante vera,ternyata om haris suami tante vera sedang mengandeng wanita mudah,aku terkejut melihatnya,pikiran ku agak heran,masih tua tapi masih doyan selingkuh batin ku.

Tante vera kembali menjalankan mobilnya kembali kerumah,tepat jam 11 siang kami sampai dirumah,kulihat tante langsung berlari kerumah,sementara aku dan mbak inem membereskan barang bawaan.

Seteleh beres aku mau istirahat,tak sengaja aku lihat kamar tante terbuka,kuperhatikan tante didalam kamar sedang menangis dgn posisi telungkup,aku ikut merasa sedih,namun ada pemandangan yang lain,cara tidur tante yang membuat celana dalam nya kelihatan,aku menjadi bernafsu pada tante ku ini batinku.

Malam hari nya aku mendengar pertengkaran antara tante vera dan om haris,tiba-tiba aku dikejutkan oleh pintu kamar ku yang terbuka,padahal aku sedang telanjang memakai selimut.

'do,,,tante tidur disini ya'kata tante sambil menangis

'ia tan'jawab ku salah tingkah karna tante memakai baju tidur yang sangat seksi.

Kami hanya diam saja,aku tidak berani menegur tanteku yang membelakangi ku sambil meringkuk menangis.dan aku pun tertidur dengan keadaan telanjang tnp sepengetahuan tante

aku terbangun karna aku merasakan sebuah kaki memeluk ku didalam selimut,aku langsung tersadar dari tidur ku,100% sadar,dada ku mulai terasa getaran jantungku,kubuka sedikit mataku,tante vera sedang pulas dalam tidurnya,kubalas pelukan tante dgn tangan ku,tapi tanganku malah menyentuh pantat nya yang lembut..ogggh batinku.kudekatkan tubuh ku bagian bawah ketubuh tante,aku semakin merangsang,dengan posisi berhadapan bibir ku dengan bibir tante sangat dekat,kuberanikan mencium tante dengan pelan,kukecup mesrah dan sedikit hot.
Kontolku yang sudah tegang bebas hambatan ku arahkan ke memek tante yang memakai celana dalam.kumaju mundurkan pantatku,perlahan aku meraba kemaluan tante,menyentuh celana dalam nya yang agak mungil,dengan menggeser sedikit kepinggir celana dalam tante kontol ku sudah menempel dilobang memek tante,,ugghhh sangat menegangkan sekaligus menantang,aku yang polos dan masih perjaka menggesek gesek kan kontolku.aku merasakan ada cairan di memek tante,kudorng lagi pantat ku,,aku merasakan ujung kontolku sudah masuk ke memek tante.hanya sebatas itu penetrasiku,karna badan ku sudah mepet ketubuh tante,kudorong tubuh tante dengan badan ku agar telentang tanpa melepaskan kontolku,sluuuppp,,,,aku merasakan kontolku ditelan habis memek tante bersamaan aku menindih tubuh tante,dan saat itu jg tante terbangun,aneh nya tante malah menutup mulutku dgn tangan nya karena melihat ku gugup dan ketakutan..
'sssttt,,,,lanjutakan sayang,,,tante mau balas dendam.bisik tante pelan.

'huum tan'jawab ku sambil menggoyang pantat ku.kemudian tante melebar kan pahanya,dengan rakus melumat bibir ku dan menelan lidah ku,bahkan tante vera memintaku meludahinya,kenangan pertama yg tak bisa kulupakan batinku.

Kami bercinta tanpa suara,5 menit kemudian aku mau mengeluarkan spermaku,tp tante vera tau gelagat ku dan mencabut kontolku dan membalikkan badanku,tante vera menyedot kontolku ssampai spermaku keluar,aku tak tahan karena enaknya aku mengambil bantal dan menempel nya kemulutku dan berteriak tanpa terdengar,sungguh luar biasa enaknya,kontolku yang lemas terus di emut tante ,kontolku yang panjang nya 13cm dilumatnya habus-habisan,,,dan tante vera pun mengajariku bercinta sampai subuh,tante mengatakan bahwa tante menikmatinya,juga tante mengungkapkan kalau saat itu orgasme sampai 4 kali.wow...

Malam itu tante vera jg memintaku untuk menarik pentil susu nya dengan bibirku,katanya nikmat sekali,

1 tahun kemudian om haris meninggal karena stroke,tapi aku melihat kalau tante vera tidak terlalu sedih,,
begitu lah kisah ku dengan tante vera sampai detik ini tante vera berusia 50 th,aku sekarang sudah bekerja sebagai pengacara.yg lebih indah lagi tante vera jg menyerahkan setengah harta milik nya,luar biasa,namun bagiku harta bukan segalanya,pengalaman dari tante dan juga bimbingan nya tentang hidup itu lah yang membuat aku berharga lagi,aneh nya tante vera saat ini masih awet muda.mungkin karena sering menelan spermaku yang konon katanya sperma brondong baik untuk awet muda,

siang itu aku sangat bergairah sekalian lapar,aku menyuruh tante vera telanjang dimeja makan,aku menaruh nasi di antara payudara tante,tentu nya yang sudah dingin,serta lauk nya jg sayur.aku makan sambil menjilati susu tante,dan kalau minum aku menumpahkan air dimemek tante dan menjilatinya,sungguh menyenangkan bisa sebebas itu,karna mbak inem sudah tidak kami pekerjakan lagi,

dan 1 pengalaman yang selalu ku ingat dari tante vera,tante vera sangat romantis,selalu mengatakan cinta,

ilove you aunty muaaaahhhhh love forever..


Admin Mesum - 20.27

Papa Tiriku Yang Nakal

Cerita seks || Papa Tiriku Yang Nakal || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16 tahun. Aku sekarang duduk di kelas II SMU di Medan. Aku punya pengalaman pertama merengkuh surga dunia. Tetapi semua itu kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi buat teman-teman yang lain. Aku tahu kalau perbuatan ini salah, tetapi aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Baiklah, ceritaku begini.

Suatu hari aku mendapat pengalaman yang tentunya baru untuk gadis seukuranku. Oya, aku gadis keturunan Cina dan Pakistan. Sehingga wajar saja kulitku terlihat putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuh yang tentu saja sangat disukai lelaki. Kata teman-teman, aku ini cantik lho.

Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.

Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa. Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu.

Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda tiga tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi. Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.
"Salam ya sama Papa kamu.." ledek teman-temanku.

Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.

Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.
"Ah, mungkin Papa nggak sengaja.." pikirku.

Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.
"Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!" begitu yang kudengar dari Papa.

Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.

Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.

Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.

Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.

"Vin.. Vin.., Papa pulang.." ujar lelaki yang ternyata Papaku.
"Kok cepat pulangnya Pa..?" tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.
"Iya nih, Papa capek.." jawab papa dari luar.
"Kamu masak apa..?" tanya papa sambil masuk ke kamarku.
Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.

"Ada deh..," ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
"Ada deh itu apa..?" tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.
"Memangnya kenapa Pa..?" tanyaku lagi sedikit bercanda.
"Nggak ada racunnya kan..?" candanya.
"Ada, tapi kecil-kecil.." ujarku menyambut canda Papa.
"Kalau gitu, Papa bisa mati dong.." ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
"Kalau Papa mati, gimana..?" tanya Papa lagi.
Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
"Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!" tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.

Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.

Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.
"Pa.." kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.

Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.
"Pa.. nanti ketahuan Mama.." sebutku mencoba mengingatkan Mama.
Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.
"Vina, tubuh kamu sangat harum.." bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.
Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.
"Kamu udah punya pacar, Vin..?" tanya Papa di telingaku.
Aku hanya menggeleng pasrah.

Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.
"Uuhh..," desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.
"Pa.. oohh.." desahku lagi.

"Pa.. nanti Mamm.." belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
"Papa sayang Vina.." kata Papa sambil memandangku.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.
"Ohh, ohh.." desahku panjang.

Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
"Terus Vin.., oh.. nikmatnya.." gumamnya.
Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.

Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.
"Sakit.. pa.." ujarku.
"Tenang Sayang, kita nikmati saja.." jawabnya.
Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.

Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.
"Terus Vin, ya.. seperti itu.." sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
"Papa.. ohh.., ohh.." renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.

Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.
"Nikmat Vin..? Ohh.. uhh.." tanyanya.
Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.
"Pa.. Vina nggak tahan.." katakuku ditengah terjangan Papa.
"Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu.." ucap Papa terpatah-patah.
Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.
"Okhh.. Ohkk.. hh..!" teriakku.
Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.
"Okhh.. Ohh.. Ohk.." erang Papa.
Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.

Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.
"Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina.." ucap Papa sambil mengelus rambutku.

Mama dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.


Admin Mesum - 20.02

Gadis Pagar Ayu di Pernikahanku

Cerita Seks || Gadis Pagar Ayu di Pernikahanku || kumpulan cerita seks

Setahun sudah aku berpacaran dengan Tika calon istriku dan kini tibalah hari pernikahan kami, disaat sedang sibuk sibuknya menjelang hari bersejarah dalam hidupku itu, dimana aku akan segera mengakhiri masa lajang, hatiku masih saja tergoda oleh wanita lain. Erni adalah teman dekat calon istriku gadis berwajah cantik dengan kulitnya yang putih dan mulus serta bentuk tubuhnya yang seksi dan sekal, telah membuat hatiku tertarik dan ingin mendapatkannya.

Erni gadis teman calon istriku itu orangnya mudah akrab dengan siapa saja yang baru dikenalnya, termasuk denganku dulu ketika pertama kali aku diperkenalkan oleh calon istriku. Sebulan sekali aku datang kerumah calon istriku, dikarenakan jarak yang lumayan jauh untukku bila harus datang seminggu sekali seperti pada umumnya orang berpacaran. Dan setiap kali aku datang aku sering bertemu dengan erni, dan dia seringkali meminta bantuanku untuk sekedar memberikan saran ataupun solusi atas semua permasalahan yang sedang dihadapinya.

Seringnya kebersamaan kami ini tanpa kusadari telah membuat aku semakin dekat dan akrab, dan hal ini tidak menjadi masalah bagi Tika calon istriku. Aku yang sudah memiliki bakat menjadi penjahat kelamin, semakin dekat dengan Erni yang cantik itu semakin melambung dengan hayalanku sendiri untuk bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Sebelum kenal denganTika calon istriku aku memang sudah bukan perjaka lagi, perjakaku hilang ketika hubunganku dengan seorang janda. Kehidupan masa remajaku banyak kuhabiskan dengan bergonta ganti pacar, dari yang masih gadis, janda sampai dengan yang masih berstatus sebagai istri orang. Dan kali ini ingin kusudahi petualanganku dengan niatku untuk menjadikan Tika sebagai pelabuhan terakhir dihatiku.

Namun yang ada sekarang aku semakin merindukan Erni teman dari Tika calon istriku, aku sangat tidak tahan bila melihat tubuh montoknya yang sering kulihat disaat aku sedang bersamanya.

Dihari pernikahanku dengan Tika, beberapa orang gadis teman dekat Tika bertugas sebagai pagar ayu, termasuk juga Erni. Dihari itu dengan berkebaya ketat dan kain batik yang membalut ditubuhnya kian membuatku terangsang dan ingin sekali merasakan kehangatannya. Disaat istirahat untuk makan siang aku sengaja menghampirinya dan berbisik kepadanya,

“…kamu cantik banget pake kebaya Er…!”

“…ah Mas aji bisa aja bikin aku ge-er nih…!” katanya dengan pipinya memerah.

“…mumpung orang orang lagi pada sibuk bisa ngga kamu diem diem masuk kekamar belakang…nanti kususul aku ada perlu sedikit sama kamu…?!” pintaku.

“…ya udah Mas aku kesana duluan ya…!” katanya dengan sedikit ragu.

Setelah aku buat alasan ke Tika yang sedang menerima tamu teman temannya semasa sekolah, akupun diam diam masuk kekamar belakang yang saat itu sepi tidak ada satu orangpun disana, begitu masuk aku lihat Ern sedang menungguku gelisah duduk ditepi ranjang.

Demi keamanan lalu kukunci kamar dan langsung menghampiri Erni dengan rasa sedikit was was dan deg degan,

“…Er…maafin aku sebelumnya ya…aku ingin sebelum…aku melakukan malam pengantin dengan Tika…aku…ingin mengatakan bahwa…aku…” dengan terbata bata aku bicara dengan Erni yang masih menunggu kata kataku selanjutnya,

“…Erni…maaf aku suka kamu…dan ingin memintamu untuk memberikan aku kesempatan sedikit saja untuk mencurahkannya kepadamu…” kataku ragu.

Erni sedikit kaget dengan pernyataanku dan jawabnya,
“…Mas Aji kan sudah resmi menjadi milik Tika…kenapa aku…Mas…?!”

Erni tidak kuasa meneruskan kata katanya, dan tertunduk dengan pandangnnya ke lantai, aku sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak hasratku lalu kupeluk Erni dari belakang tubuhnya dan kusarangkan ciuman dan jilatanku di leher jenjangnya,

“…Mas…Aji jangan Mas…! Katanya dengan nada parau.

Aku yang sudah sejak lama ingin merasakan kehangatan tubuhnya, tidak lagi perduli dengan kata katanya dan terus kuhujani tubuh seksi dan Erni dengan ciuman dan batang kontolku yang kugesek gesekan di pantatnya yang berbalut kain batik. Kubalikan tubuhnya dan langsung kulumat bibirnya dengan penuh nafsu, lalu dengan kasar kuremasi kedua buah dadanya yang indah menggantung tang juga masih tertutup baju kebaya tipisnya.

“…ooohhh hhmmpp ssrrppffut…ssshhh…” hanya itu yang terdengar dari mulutnya, dengan satu gerakan lalu kuangkat tubuh Erni keatas ranjang dan langsung kugumuli dengan penuh nafsu yang sudah sampai keubun ubun. Dengan tanganku yang kini mulai membuka kancing baju kebaya Erni satu persatu, dan mulai kusingkap BHnya dan kini terpampanglah buah dadanya yang sangat ranum dan sekal.

Erni hanya diam dan menitikkan air matanya diperlakukan seperti itu, dan aku tidak ingin membuang buang waktu, lalu kusibakan kain kebayanya dengan sedikit kasar lalu kutarin turun CDnya dengan sekali tarikan keras. Kubuka kedua paha Erni kuelus sebentar lalu kukeluarkan batang kontolku dan kuarahkan keliang vaginanya yang mulai basah. Erni masih diam dan terpejam dan inilah saatnya pikirku, lalu dengan agak kasar kutekan kepala kontolku keliang vagina Erni yang masih perawan dan sempit itu, kutarik lagi kudoronga lagi dan pada detik berikutnya dengan satu dorongan keras akhirnya kujebol kegadisan Erni…

“…aaarrrggghhh…Maass…ssshhh…ooohhh…” erangan dan desahan Erni disela tangisnya yang mulai terdengar jelas.

“…sudah lama aku menginginkan kamu sayang…!” kataku disela sela genjotan pantatku menusukkan seluruh batang kontolku diliang vagina Erni, dan darah perawan Erni terasa hangat melumuri batang kontolku.

Terus kuperlakukan tubuh Erni dengan hentak hentakan kontolku dan akhirnya ku tekan dengan keras disaat kusemprotkan air maniku dirahimnya…

“…aaahhh…crot…crot…crot…!”

Lalu dengan tergesa gesa kurapihkan kembali dandanan dan pakaian pengantinku, dan kutinggalkan Erni yang masih menangis dikamar aku keluar dengan perasaan lega, dan puas sesudah memerawani Erni gadis pagar ayu di hari pernikahanku.

Aku kambali kepelaminan menghampiri Tika yang sedang sendiri,

“…dari mana sih Mas kok lama banget…! Tanya Tika kepadaku. Lalu kujawab dengan singkat,

“…maaf sayang…Mas abis Modol…!” dijawab cubitan kecil Tika dipinggangku.

Hingga acara resepsi pernikahan kami selesai pada sore harinya, aku sempat melirik ke Erni yang tadi siang kuperawani dikamar belakang, dan kukedipkan mataku ketika pandangan kami bertemu.

Malam pengantinku dengan Tika kulalui dengan penuh kemesraan, hingga pagi menjelang aku dan Tika bagai tak mengenal lelah dengan terus berpacu kenikmatan diatas ranjang pengantin.

Dan pagi itu dengan ijin ke Tika aku keluar rumah dengan alasan untuk sekedar keliling kampung untuk cari angin, dan ketika aku sudah dekat rumah Erni aku perhatikan sejenak sekeliling rumahnya, “…aman lagi sepi nih…” kata batinku.

Aku masuk kerumah Erni dari pintu belakang dan kulihat Erni yang baru selesai mandi dengan hanya terbalut kain kemben batiknya memasuki kamarnya. Lalu diam diam aku mengunci pintu depan dan pintu belakang rumahnya, akupun masuk kekamar Erni yang memang tidak tertutup rapat.

Erni terkejut begitu melihat aku yang sudah dikamarnya, dan dengan langkah pasti kuhampiri dan langsung kupeluk tubuhnya dan kubanting keranjang dan menindih tubuhnya.

“…aaahh jangan Mas…aku ga Mas…aaahh…ooohh…!” rintihan Erni ditengah keputusasaannya. Dan aku dengan penuh nafsu terus menggumuli tubuh seksinya dengan tidak menghiraukan erangannya, kulumat bibrnya dan kuremasi buah dada Erni dengan kasar. Sampai pada akhirnya kuhujamkan batang kontolku kedalam liang kenikmatannya,

“…aaahhh…memek kamu legit Er…ooohhh…!” kataku disela sodokan kontolku di memek Erni. Hingga siang hari itu kujadikan tubuh seksi Erni sebagai selingan kehangatan diatas ranjang, dengan penuh kepuasan aku keluar dari rumah Erni dan kembali ku tinggalkan Erni yang masih menangis dikamarnya.

Demikianlah kisahku dengan Erni si gadis pagar ayu, yang hingga kisah ini kutuliskan masih sering kujadikan sarana pemuas nafsuku diatas ranjang.

The End…


Admin Mesum - 19.44

Kamis, 30 Mei 2013

[True Story] Skandal Inggrid Kansil

Kamis, 30 Mei 2013

Ini cerita didasarkan atas situasi yang nyata (True Story). Aku Inggrid Kansil, umurku saat ini beranjak 35 tahun dan berstatus Istri salah satu mentri di negri ini. awal ku bertemu dengan suamiku adalah hasil perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuaku terhadap pak mentri, entah beruntung atau tidak dengan kondisiku sekarang ini. kalau dibidang materi aku bisa dibilang tercukupi, malah berlebihan. Tapi kalo masalah se... >> Cerita Lanjutan, klik disini


Admin Mesum - 08.58

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Si Dukun Cabul 03

Rabu, 29 Mei 2013

Mbah melihat dari pipismu tadi, ternyata ilmu gendamnya si Kasno sudah masuk
dalam sekali ke dalamnya. Mbah sudah coba sedot sedot tadi, tidak mau keluar
juga. Berbahaya sekali Nduk, nanti kalau dibiarkan jadi ngabar (menguap) masuk
ke pembuluh darahmu, bisa mati kowe. Mbah harus mencoba cara yang lebih kuat.
Agak sakit mungkin Nduk, nggak apa-apa ya?" kataku penuh rasa sayang dan
kasihan. Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. Dia mengangguk,
mengulang lagi kata-katanya yang bego tadi: "inggih Mbah, kulo nderek
kemawon..". Aku mengangguk-angguk: "anak baik. Kasihan sekali kowe Nduk".
Sekarang aku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas dari atas meja, dan dengan
lembut membimbingnya ke dipan yang ada di sudut. Kubaringkan tubuh bugil yang
sudah lemas itu, dan dengan hati-hati kulebarkan kakinya. Kini dia terbaring
mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala
kenikmatan duniawi. Aku duduk berlutut, kemaluanku sudah tegang betul dan kini
terarah ke lobang kemaluannya. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. Dia
mengerang pelan, matanya tertutup rapat. Kurendahkan tubuhku, kini aku telungkup
di atas badannya. Kukecup bibirnya dengan lembut: "sudah siap, ya Nduk. Agak
sakit, ditahan saja. Pokoknya Mbah usahakan kamu jadi sembuh betul". Dia
mengangguk, tidak membuka matanya: "inggih Mbah" desisnya lirih.
Kini aku memegang batang kemaluanku, dengan sangat hati-hati menusukkannya
ke kemaluan si Suminem yang masih basah kuyup bekas hisapanku tadi. Satu
senti..dua senti.. tiga senti.. sempit sekali. Suminem mengerang: "ss.. sakit
Mbah.." tampak wajahnya mengernyit kesakitan. Tangannya memegang dan
meremas lenganku. "Tenang Nduk..tenang.. tahan sedikit.. nanti lama-lama
sakitnya hilang, berganti rasa enak".
Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yang pernah kurasakan.
Sebelumnya aku hanya bisa bermain dengan pelacur-pelacur, atau paling banter
dengan si Jaetun janda muda yang gatel di desa sebelah. Semuanya sudah
melongo lubangnya, sama sekali tidak enak. Tetapi yang ini, sungguh lezat, legit
dan super sempit. Dasar perawan.. kutekan agak keras kemaluanku, diikuti dengan
teriakan Suminem: "aauuwww.. saakiit Mbah.." aku cepat-cepat melumat bibirnya,
agar teriakannya tidak berkembang menjadi raungan..
Sekarang dengan cepat dan akhli aku menekan kemaluanku, sekalian saja sakitnya
pikirku. Dan..bless..masuklah seluruh kemaluanku ke dalam lobang memeknya.
Tubuh Suminem terlonjak di bawahku, tangannya meremas lenganku sangat keras.
Matanya terbeliak, tetapi mulutnya tidak bisa memekik karena tersumpal bibirku.
Aku diam sejenak, menunggu lonjakannya hilang.
Akhirnya dia diam, hanya napasnya masih tersengal-sengal. Sekarang, setelah
semua tenang, kulepaskan ciumanku: "masih sakit, Nduk?" dia mengangguk: "tapi
lama-lama nggak perih kan?" dia mengangguk lagi. Lugu betul anak ini: "Mbah
terusin ya? tidak lama lagi kok". Sekali lagi dia mengangguk. Kugoyangkan
pantatku lagi pelan-pelan, tidak ada respon penolakan darinya. Kogoyangkan lagi
semakin kuat, dan tanganku mulai menggerayang memainkan puting susunya. Dia
mengeluh. Dia merengek. Jelas si Suminem ini mulai menikmati permainan ini.
Pinggulnya mulai ikut bergoyang, meskipun agak kaku.
Aku tidak berani merubah posisiku ini, takut kalau dia kesakitan lagi. Goyanganku
juga kuusahakan seteratur mungkin, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.
Malah goyongannya yang semakin lama semakin tidak teratur. Kepalanya
bergoyang ke kiri dan ke kanan, mulutnya mendesis-desis dan tangannya
mencengkeram erat lenganku. Matanya terpejam dan raut wajahnya menampakkan
campuran kesakitan dan kenikmatan yang sangat.
Dipan bobrok ini mulai terdengar berkeriet-keriet. Akhirnya terdengar proklamasi si
Suminem, persis seperti tadi: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku.. aa.." dan kurasakan
cairan menyemprot di lobang kemaluannya. Akhirnya kepalanya terkulai lemas ke
kiri (sejak kami mulai main tadi, matanya terus terpejam). Aku mengutuk dalam
hati. Jangkrik, aku sendiri belum keluar nih. Kuperkuat genjotanku, kufokuskan
pikiranku pada kenikmatan yang kualami sekarang ini. Kuremas-remas susunya
semakin kencang. Dan akhirnya kurasakan desakan dalam kemaluanku, desakan
yang sudah sangat kukenal. Aku sudah mau orgasme.
Tetapi aku tidak ingin mengakhiri permainan ini begitu saja. Kukeluarkan tembakan
terkhirku: "Nduk, Nduk, Mbah rasa ajiannya si Kasno sudah berhasil Mbah
hilangkan. Tetapi kau harus meminum ajian dari tubuh Mbah ya? supaya kamu
kebal terhadap segala ngelmu hitam macam ini". kataku tersengal-sengal.
Suminem hanya mengangguk saja, matanya tetap terpejam. Melihat tanda
persetujuan itu, aku segera mencopot kemaluanku dari memeknya, begitu cepat
sehingga terdengar suara, "plop". Aku segera mengangkang di atas tubuhnya,
batang kemaluanku kuarahkan ke mulutnya: "ini Nduk" kataku. Tangan kananku
mengangkat kepalanya yang terkulai, sedangkan tangan kiriku terus mengocok
batanganku.
Mata si Suminem membuka malas, melihat senjataku bergelantung di depan
wajahnya. Aneh, Dia tidak tampak kaget lagi (mungkin lama-lama dia sudah
biasa?) dia menggumam malas: "mana obatnya Mbah? sini biar aku minum." Aku
mendesah penuh nafsu: "ini Nduk, obatnya ada dalam burung Mbah ini. Minumlah"
kataku. Suminem menjawab dengan malas, seperti orang setengah sadar: "dihisep
dulu Mbah? Sini gih. Biar cepet selesai". Dan tanpa bertanya lagi, dia memegang
kontolku dan memasukkan ke mulutnya. Waduh, hebat banget si geNduk ini.
Meskipun tetap dengan gaya malas, seperti setengah sadar, dia mulai menyedot
nyedot kemaluanku dan lidahnya secara reflek juga bergerak-gerak menyelusuri
batang kontolku. Aku bergetar hebat. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya,
dan kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku bergerak keluar masuk mulutnya.
Rasanya bahkan lebih nikmat daripada bersetubuh biasa. Beberapa kali tanpa
sengaja gigi Suminem bergesekan dengan kemaluanku, membuat kenikmatan yang
kurasakan semakin melambung.
Kupercepat goyanganku, tetapi tetap menjaga agar dia tidak sampai tersedak.
Akhirnya tekanan dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi: "Nduk, ini Nduk.."
erangku: "telan semua ya" dan croot.. muncratlah air maniku ke dalam mulutnya.
Kurasakan hisapan dan jilatannya berhenti. Dua kali lagi aku menyemprotkan
maniku di mulutnya, semuanya tampak tertelan (karena posisinya terlentang, jadi
tidak ada yang terbuang keluar).
Kudiamkan posisi ini agak lama, sampai kurasakan kemaluanku mulai mengecil dan
akhirnya lepas sendiri dari mulutnya. Aku berguling ke samping, kulihat Suminem
tetap telentang dengan mata tertutup. Bibirnya yang seksi kini tampak berlepotan
air mani, tampaknya masih ada maniku yang tertahan di mulutnya dan belum
tertelan. Aku bangun dan mengambil gelas berisi air kembang tadi, dan
menyodorkan kemulutnya dengan lembut: "minum Nduk, minum. Biar semua obat
Mbah masuk ke badanmu. Ini air kembang juga berkhasiat kok." Dia menurut dan
meneguk habis air itu. Akhirnya kubimbing dia berdiri, dan kubantu dia memakai
bajunya. Aku juga memakai bajuku. Kami sama sekali tidak bicara saat itu.
"Bagaimana Nduk? Apakah kamu sudah merasa enakan?" dia diam saja.
Tangannya menyisir rambutnya, dan membetulkan bajunya yang awut-awutan.
Kuelus rambutnya.
"Mbah, apakah pasti saya sudah sembuh?" tanyanya dengan suara bergetar. Aku
mengangguk: "pokoknya, semua sudah beres. Tadi Mbah itu mempertaruhkan
nyawa Mbah lho. Kalau gagal tadi pasti ilmu hitamnya si Kasno berbalik
menghantam Mbah. Untunglah semua sudah berakhir."
Dia mengangguk, wajahnya tetap menunduk: "matur nuwun, Mbah." Katanya:
"Berapa saya harus bayar Mbah?" aku tergelak: "wis, wis, bocah ayu, Mbah nggak
minta bayaran kok. Bisa menyembuhkan kamu saja Mbah sudah bersyukur
banget." Kulihat bibir si Suminem tersenyum halus, mengangguk dan meminta ijin
pulang. Kubuka pintu kamarku dan aku memanggil salah satu tukang ojek yang
mangkal untuk mengantarkannya pulang. Dalam beberapa detik, tubuh bahenol
Suminem hilang tertelan kegelapan malam.
Aku menghela napas dan masuk kembali ke kamar. Tiba-tiba aku tertegun. Lha,
kok aku sampai tidak menanyakan si Suminem itu tadi siapa ya? karena sudah
terbelit nafsu aku sampai tidak menanyakan pertanyaan – pertanyaan standar
seorang dukun: rumahmu dimana, bapakmu siapa..
Ah, aku menggeleng. Rasanya aku tidak pernah lihat dia sebagai warga sekitar
sini. Mungkin dia dari Wonolayu, desa sebelah sana. Biarin saja. Aku masuk kamar
praktekku, dan segera menggelosor di dipan yang tadi kugunakan untuk bercinta
dengan Suminem. Dalam beberapa menit aku terlelap. Entah berapa jam aku
tertidur, ketika sayup-sayup kudengar..
TOK..TOK..TOK..
"Bangun, Darmanto bangsat! bangun!" suara yang sayup-sayup tadi kini menjadi
semakin jelas seiring dengan meningkatnya kesadaranku. Dengan terseok-seok aku
berdiri dan menuju pintu, membukanya dengan malas. Baru pintu kubuka sedikit,
tiba-tiba.. bruuk..seorang laki-laki tinggi besar menyerbu masuk, dan tanpa basa-
basi tangannya menampar pipiku. Aku mengaduh dan terbanting ke lantai. Waktu
aku melihat siapa si pembuat onar itu, kulihat Mas Darmin, blantik (pedagang sapi)
tetanggaku, sedang berdiri dengan mata merah dan berapi-api. Tubuhnya yang
tinggi besar dan berkumis melintang (dia memang keturunan warok Ponorogo)
tampak sangat menyeramkan.
Aku berteriak keheranan: "mas.. Mas Darmin.. ada apa ini? kok tiba-tiba kesetanan
kayak gini?"
Mas Darmin balas berteriak, matanya semakin mendelik: "kesetanan gundulmu..
kamu yang kemasukan setan! apa yang kamu lakukan kemarin malam, Dar? ayo
ngaku!!". aku semakin bingung: "yang apa to mas? aku ora ngerti." Si warok itu
tampak semakin marah: "kemarin malam! si Suminem! Sumineemm! kamu apakan
dia?"
Wah, aku jadi kaget. Suminem itu apanya dia? kalau anak tidak mungkin, aku tahu
Mas Darmin cuma punya dua anak laki-laki: "si Suminem itu apanya mas?"
tanyaku. Mas darmin berteriak marah: "kuwi ponakanku, bedes (monyet)! semalam
dia datang ke rumah, katanya baru ke kamu terus karena kemalaman dia takut
pulang ke rumahnya di Wonolayu. Di rumah dia nangis-nangis, katanya pipisnya
sakit sekali. Waktu dilihat mbakyumu, celana dalamnya ternyata basah oleh darah.
Walaah..dia akhirnya ngaku semua apa yang kamu lakukan. Iyo tho? ayo ngaku,
bedes!" dan dengan berkata begitu ia menubruk lagi tubuhku. Satu bogem mentah
kembali melayang ke pipiku. Aku berteriak kesakitan.
Aku hanya bisa meratap: "mas.. mas.. ampun mas, aku tidak mau kok
sebetulnya..si Suminem yang memaksa.." aku coba membela diri sebisanya.
Mendengar itu, Mas darmin jadi semakin marah: "opo jaremu (apa katamu)? Si
Suminem yang minta? kamu kira keluargaku kuwi keluarga perek opo? pikirmu si
Suminem kuwi bocah nakal tukang goda wong lanang? weehh.. kurang ajar kowe
Dar. Bangsat! asu! kucing! wedus! bedes!" dan sambil mengeluarkan
perbendaharaan nama segala jenis binatang yang ada dalam kepalanya, Mas
Darmin kembali menendang tubuhku yang sedang menggelosor pasrah di lantai.
Dan dengan ngeri kulihat tangannya mulai menarik pecut (cemeti) yang melingkar
di pinggangnya, pecut yang biasa dia gunakan kalau lagi akan jualan sapi. Aku
semakin meringkuk: "ampuun maas.." rengekku.
Dalam suasana yang sangat genting itu, tiba-tiba beberapa orang menerobos
masuk. Aku melihat Pak Sitepu, ketua RW kami yang langsung memeluk Mas
Darmin yang lagi kesetanan: "sudah..sudah mas.. mati pula dia nanti.. tenang
sajalah kau.." katanya dengan logat batak yang kental. Seorang lagi yang
menerobos masuk adalah seorang polisi. Dia membantuku berdiri dan dengan
formal berkata: "Bapak Darmanto, saya menahan bapak atas tuduhan pemerkosaan
terhadap anak di bawah umur. Saya minta bapak ikut saya ke polsek sekarang
juga." Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kulihat di belakangnya bapak dan
ibuku, yu Mini dan keluargaku yang lain melihat semua adegan dahsyat itu dengan
melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Mas Darmin terus berteriak-teriak: "Ya, Pak polisi.. cepet saja ditangkap si bedes
ini. Daripada nanti kalau lepas bisa kalap aku. Tak cacah dagingmu, tak jadikan
rawon! tak jadikan sop! tak jadikan rendang..!" sekarang dia mengancam dengan
segala jenis masakan yang dia ingat. Aku menghela napas. Dengan gontai aku
mengikuti Pak polisi itu, keluar rumahku. Di depan rumah ternyata ada puluhan
orang lain yang sudah berkumpul, para tukang ojek yang mangkal, tetangga, dan
orang-orang lain. Semuanya melongo melihatku.
Dari dalam masih kudengar teriakan Mas Darmin, menyebut segala jenis makanan
yang rencananya akan mempergunakan dagingku sebagai bahan lauknya: "tak
jadikan sate! tak jadikan opor!". seorang tetanggaku berteriak mengejek: "entek
nasibmu (habis nasibmu) Dar! makanya kalau hidup jangan hanya ngurusi kontol
thok!".
Ya, memang habislah nasib dan karirku saat ini sebagai dukun. Oh, nasiib..


Admin Mesum - 05.29

Kisah Si Dukun Cabul 01

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto. Aku adalah salah satu dari sekian banyak
orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren "paranormal" atau yang
dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun. Ya, aku adalah
orang yang bergelar mbah dukun, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak
percaya dengan segala hal begituan.
Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu,
aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut
bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam
cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan
banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya
masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku
belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi
omelan dan gerutuan istri.
Dalam keadaan sebal itulah aku bertemu dengan mbah Narto, kakek tua yang
dengan gagahnya memproklamasikan diri sebagai paranormal paling top. Karena
masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku
ketika dia lagi "buka praktek" di kotaku. O ya, aku tinggal di sebuah kota
kecamatan kecil di Jawa tengah, dekat perbatasan jawa Timur (nggak perlulah aku
sebut namanya). Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan
negara yang lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan
malam.
Eh, kembali ke mbah Narto, tampaknya si mbah punya perhatian khusus kepadaku
(atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis
terhadap gaya perdukunannya?). Suatu hari ia berbicara serius denganku,
mengajakku untuk menjadi "murid"nya. Walah, aku hampir ketawa mendengarnya.
Murid? wong aku sama sekali tidak percaya segala hal takhayul macam itu, kok
mau diangkat menjadi murid? tetapi segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika
mbah Narto menjelaskan: "punya ilmu ini bisa buat cari uang, Dar." Katanya: "apa
kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun
ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget." Katanya
dengan meyakinkan dan mata melotot.
Aku menggaruk kepalaku. Apa benar? Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun tetap
dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik
turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa
berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh.
Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama
mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi setiap mbah Narto menanyakan "apa kamu
sudah ketemu jin ini atau jin itu" atau "apa kamu melihat cahaya cemlorot (bahasa
Indonesia: berkelebat)" waktu aku bersemadi, yah aku iyakan saja. Kok susah –
susah amat.
Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Narto menyatakan aku sudah lulus
ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa). Dan dia memperkenalkan aku
sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang
"aeng-aeng" alias aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama aku dipercaya untuk
buka praktek sendiri, di rumahku, dengan mempergunakan kamar samping rumah
sebagai tempat praktek (meskipun aku harus membuat Yu Mini kakakku marah-
marah karena meminta dia pindah kamar tidur).
Setelah beberapa bulan praktek, nasehat mbah Narto ternyata benar (ini satu-
satunya nasehatnya yang benar, aku kira): bahwa jadi dukun itu banyak duit! aku
baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah
terletak pada ilmunya (yang aku nggak percaya sama sekali), tetapi pada
kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa
membuat pasien setengah mati percaya dan tergantung padanya, dengan segala
cara dan tipu daya.
Pada mulanya beberapa orang datang minta tolong padaku, katanya menderita
sakit aneh, pusing-pusing yang tidak tersembuhkan. Aku dengan lagak meyakinkan
memberikan mantra, menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air
kembang (di dalamnya sudah kucampur gerusan obat Paramex). Eh.. mereka
sembuh. Dan sejak itulah pasien datang membanjir padaku. Ada yang minta
disembuhkan sakitnya (kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau nggak
sembuh baru kembali. Sebagian besar memang tidak kembali), ada yang minta
rejeki (itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem) ada pula yang
mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain (kalau itu tinggal
dinasehatin saja).
Jadi inilah aku, mbah Dar, dukun ampuh dari lereng Merapi (lucu ya, aku dipanggil
mbah wong umurku baru 25 tahun). Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre
di rumahku, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman
depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku
dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar,
jangan mbohongi orang). Yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada
gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam,
tampang yang meyakinkan (aku sekarang pelihara jenggot panjang, pakai jubah
putih kalau praktek) maka orang-orang sangat percaya kepadaku.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang
meruntuhkan segala-galanya.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan
aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari "meja
kerja"ku, menuju pintu dan bermaksud menutupnya. Tetapi kulihat si Warno
sekretarisku menghampiri: "ada pasien satu lagi mbah" bisiknya: "cah wadon (anak
perempuan) huayuu banget". Dia nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di
depan. Di sana aku melihat seorang gadis dengan memakai T shirt putih dan rok
warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang
memperhatikan TV yang memang kusediakan di situ.
"Masuk, nduk" kataku dengan suara berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri,
dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya
dengan jelas. Aduh mak, dia memang betul-betul cantik. Rambutnya yang sebahu
bewarna hitam lurus, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima
merekah (walah, puitis banget..). Tubuhnya bongsor dengan buah dada yang
seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya. Aku kira umurnya paling
banter baru 17 atau 18 tahun.
"Sugeng dalu (selamat malam) mbah.." katanya agak bergetar. Wuih, suaranya
juga seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapakan aku
menyilahkannya masuk, diiringi sorot mata nakal si Warno yang seperti akan
menelan bulat-bulat si gadis itu. Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari
ngibrit sambil terkikik-kikik. Aku segera menutup pintu.
Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan.
Tangannya ngapurancang di pangkuannya, wajahnya menunduk. Cantik sekali.
Dengan pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan
lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan
baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Asap dupa segera
memenuhi ruangan kecil itu.
"Siapa namamu, nduk?"tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan
persiapan.
"Suminem, mbah" katanya. Wah, nama lokal betul.
Aku berdeham: "berapa umurmu? "
Si cantik itu menjawab pelan, tetap menunduk: "empat belas tahun, mbah". Wah,
aku hampir terlonjak kaget. Empat belas tahun? masih kecil banget, tetapi
bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..
Aku menelan ludah: "bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke
sini. Ada masalah apa nduk?" aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi
meja yang penuh segala pernik perdukunan. Si Suminem sekarang mengangkat
kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri kanan.
Suaranya yang kecil bergetar: "nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah
dan takut. Nyuwun tulung mbah.." suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti
sedu sedan.
Kemudian dengan cepat dan dengan suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada
seorang laki-laki, bernama Kasno, yang sangat ditakutinya. Kasno adalah
tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak segerendeng, tetapi masih hijau
matanya kalau melihat cewek cantik. Karena rumahnya sederetan dengan rumah
Suminem, tiap hari dia bisa melihat Pak Kasno memandangnya seperti tidak
berkedip. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan
kamar mandi rumah Pak kasno, maka semakin besar kesempatan lelaki hidung
belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang bahenol itu. Bahkan pernah suatu
hari Suminem berteriak – teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia
sedang mandi melihat kepala Pak kasno mengintip dari bagian atas kamar mandi
yang memang tidak tertutup. Itu saja belum cukup. Hingga suatu hari..
"Pak Kasno tiba-tiba mendatangi saya, mbah" katanya. Si hidung belang itu
katanya bicara baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat
Suminem kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil air, entah apa itu. Dengan
sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh
Suminem. Tentu saja si gadis kecil nan bahenol itu berteriak, tetapi Pak kasno
cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut memberi penjelasan: "Enggak apa-
apa, Nem, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan,
jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang. Bener lho Nem, nanti
setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagiaa sekali". katanya tersenyum.
Suminem tentu saja semakin kesal: "bahagia bagaimana to Pak?" tanyanya: "Wong
sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala."pak
Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: "wong bocah cilik,
durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-
laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu" dan dengan bicara begitu si hidung
belang ngeloyor pergi.
Setelah kejadian itu "Pikiran saya jadi bingung, mbah" cerita Suminem: "setiap
malam saya menjadi terbayang wajahnya Pak Kasno, sepertinya dia itu mau
menerkam saya saja" dia bergidik ngeri: "malah saya sampai mimpi.." Dia tidak
melanjutkan. Aku pura-pura menghela napas penuh simpati. Sebenarnya, kalau
saja yang bicara ini bukan gadis sebahenol Suminem pasti aku sudah menyuruhnya
angkat kaki. Bosen. Tapi melihat anak secantik ini, waduh, kok tiba-tiba.. rasanya
ada yang berteriak-teriak di balik celanaku..
Jangkrik tenan, pikirku. Rasanya aku mulai terangsang pada gadis ini.
"Teruskan Nduk" kataku penuh wibawa: "kamu mimpi apa?"
Suminem menggigil. Suaranya tersendat-sendat: "aduh mbah, nyuwun sewu, mbah,
saya lingsem (malu) banget.." Wah, ini dia. Dengan gaya kebapakan (kok sama
dengan ceritanya soal si hidung belang Kasno itu?), aku berdiri dan mendatangi
dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. Nafsuku
tambah naik: "wis, wis" kataku menenangkan: "ora susah bingung. Ceritakan saja.
Si mbah ini siap mendengarkan kok".
Akhirnya setelah mengatur napas, Suminem melanjutkan: "anu.., saya sering
mimpi, lagi di anu sama Pak Kasno. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini
rasanya semakin sering". Aku berusaha menahan tawa: "dianu kuwi opo karepe
(apa maksudnya) to Nduk?" dia tampak semakin malu: "ya itu lho mbah..seperti
katanya kalau suami istri lagi dolanan (bermain) di kamar itu lho.. katanya mbak-
mbak saya seperti itu". Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Tambah kugoda
lagi (meskipun tetap dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan):
"coba to ceritakan yang jelas, seperti apa yang dilakukan si Kasno dalam mimpimu
itu?"
Akhirnya si Suminem ini tampaknya berhasil menguatkan hatinya. Suaranya lebih
mantap ketika menjelaskan: "pertamanya. Saya ngimpi Pak Kasno berdiri di depan
saya, wuda blejet (telanjang bulat). Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus..
Pak Kasno memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga.." dadanya
naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu.
Aku semakin panas mendengar ceritanya itu: "apanya saja yang dia cium, Nduk?"
tanyaku. Suminem tampak malu "di sini, Mbah" katanya sambil menunjuk buah
dadanya: "di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik. Terus ke bawah juga.." Ke
bawah mana, tanyaku: "ke..ini Mbah, aduh, lingsem aku. Ke ini, tempat pipis saya.
Di ciumi dan dijilati juga.." dia semakin menunduk malu. Suaranya terhenti. Nah,
tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Segera aku bertindak.
"KASNO KEPARAT!" teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti si Suminem
yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku: "Mbah.. Mbah.. kenapa Mbah?"
tanyanya bingung.


Admin Mesum - 05.26

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved