;

Selasa, 01 Oktober 2013

Maia Estianty dan Al

Selasa, 01 Oktober 2013

cerita seks || Maia Estianty dan Al || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Namanya Ahmad Al Ghazali panggilan nya Al umurnya 15 tahun. pasti kalian semmua mengenalnya, maklum Al anak artis terkenal di Indonesia, Al anak ahmad danny dan Maia Estianty yg sekarang telah bercerai. Al tinggal di rumah Danni , dan jarang diberi kesempatan untuk bertemu mamanya. Al mau menceritakan pengalaman seksnya di rumahnya sendiri. Kejadian ini baru terjadi dua bulan yang lalu. Al mempunyai seorang pacar, namanya Citra Aulia Marwan Dewicitra orangnya cantik. Dia mempunyai tinggi badan 171 cm, nyalit putih bersih, dadanya kira-kira 36 dan pantatnya sangat montok. Al sangat terangsang jika melihatnya. Suatu hari, tepatnya malam minggu.Waktu itu mamanya sedang pergi karena ada urusan kebetulan Al sedang diijinkan nginep di rumah Maia Estianty oleh Danny Ahmad,

Al mengajak citra untuk ke rumah Maia Estianty di pejaten, suasana sepi hanya kami berdua, cit kita nonton film aja yu di kamarku!, ayo kata citra, mereka berdua lansung masuk ke kamarnya, Al langsung menyalakan dvd player dan memasukan film , kemudian mereka berdua tiduran di tempat tidur, citra terkejut ketika tau yang Al setel adalah film bokep, “ ga apa pa kan cit, kita kan udah lulus smp musti tau dong yg kaya gini, citra mengangguk malu,Di layar terlihat seorang bule yg sedang meng oral kontol laki laki negro, terlihat nafas citra mulai terengah engah.“Kamu mau juga ya..", katAl manja. Dia lalu menariknya. Dibukanya bajunya, lalu dibukanya juga baju citra . Langsung dilumatnya kontolnya. Rasanya enak sekali. Diisapnya kontol Alsampai menyemprotkan sperma di mulutnya. Al puas atas perlakuannya. Lalu Citra menyuruhnya menjilati memeknya .oohh.. ahh.. erangnya. Lalu Al pindah meremas dan menjilati payudaranya. mmhh.. terus.. nggh.. Al menjilati payudaranya, perutnya sampai memeknya. oh.. ah.. ena.. k.. erangnya. Nafsunya naik lagi. Kontolnya mulai berdiri lagi. Masu.. kin aja.. pintanya. Lalu Al memasukan kontolnya dan memompanya. Rasanya enak sekali, kontolnya dijepit oleh otot memeknya. ahh.. terus.. sayang.. jeritnya. Lalu dibaliknya tubuhnya. Dengan posisi diatas, dia menggoyangkan pantatnya turun naik. Tangan Al meremas pantatnya yang montok. Payudaranya bergoyang-goyang. Aku mau keluar.. erangnya. Tahann.. sayang.. ujar AL. Lalu ahh.. agh.. oh.. citra mengerang panjang pertanda orgasme. Dia terus bergoyang dan crot.. crot.. crot.. menyemburlah sperm Al didalam memek Citra. Lalu Citra mencium bibirnya. Mereka pun tergeletak bersampingan. "Makasih cit.. betul-betul nikmat", ujarnya sambil meremas payudara Citra . "Iya.. kamu hebat juga", katanya "Maukan beginian lagi..?", tanyAl "Kapan aja kamu pengen", ujar Citra sambil tersenyum.

Al senang sekali. Al terus minta jatah sama citra. Kapan ada kesempatan mereka pasti melakukannya dengan berbagai macam gaya. Al juga sudah merasakan pantatnya yang montok. Waktu itu citra lagi haid, jadi AL sodomi aja pantatnya. Rasanya sama-sama enak kok. Sampai pada suatu hari, Waktu itu mereka pulang sekolah, Al mengajaknya ke rumah maia estianty, dan langsung ke kamarnya dengan bernafsu mereka saling berpagut dan mulai melepaskan baju masing masing, Al terus merangsangnya. Al menjilati payudaranya. Citra mendesah. Lalu dia bangkit, menimpanya sambil berbalik. mereka melakukan gaya 69, Dikocoknya dan diisapnya kontolnya. Al pun menjilati memeknya sambil meremas pantatnya. Lagi asyik menjilat, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Mereka sangat terkejut. Ternyata mamAl ( Maia Estianty )sedang memergoki mereka berbuat mesum.

Mama Al ( Maia Estianty )masuk dan menutup pintu. Muka maia estiantynya tampak marah melihat perbuatan mereka . Al dan citra hanya bisa terdiam. Matanya menatap kami tajam. "Maafin kami ma!, ini salah Al. Al yang ngajak Citra. Soalnya Al lagi terangsang! Ujarnya "Lagi pula citra juga mau kok", ujar Citra membela Al. "Terserah mama mau marah, kami kan udah gede dan punya hasrat seks yang harus disalurkan", ujarnya. maia estiantynya terdiam sejenak "Ya.., udah terserah kalian. Tapi perbuatan kalian jangan sampai ketahuan papa!", ujarnya. "Satu hal lagi Al, jangan sampai Citra hamil", katanya sambil menatapnya. "Ya..udah sebagai hukumannya mama mau lihat bagaimana kalian melepaskan hasrat seks kalian itu", ujarnya lagi.

Al dan Citra saling pandang. Lalu mereka lanjutkan permainan mereka . Al mulai merangsang Citra lagi. Dijilatinya payudara citra . Lalu menjilati memeknya. Ah..sst.. mmh.. desahnya. Tanpa lama2 Al memasukkan kontolnya ke liang memek Citra dan mengocoknya. Akkh..ohh..ngghh..ah.. ah..desahnya. Al makin mempercepat kocokannya. Dan akhh..ahh ..akhhkhh.., jeritnya panjang. Dia merasakan Citra sudah mencapai orgasme. Semakin cepat goyangannya. ck .ckk.. ck..suara kocokan kontolnya di memeknya yang sudah basah bercampur cairan orgasmenya. "Mau keluar nih..", jeritnya "dimulutku aja!", ujar Citra sambil menahan sodokan kontol Al, Al mencabut kontolnya. Citra langsung menggenggam kontolnya dan mengocoknya dalam mulutnya. Crott.. crot..crot..crot menyemburlah sperma Al ke mulutnya sebanyak 8 kali. Mulutnya penuh dengan sperma Al. Sampai menetes keluar dari sela mulutnya. Dan ditelannya semua. Al terbaring puas, dan Citra menjilati kontolnya untuk membersihkan sisa sperma. Al melihat mamanya menggelengkan kepalanya.

Lalu Maia Estianty pergi keluar dari kamar. Al dan Citra hanya tersenyum. Mereka akan lebih bebas melakukannya dirumah, walaupun mama Al mengetahuinya. Mere ka saling berpelukan dan berciuman , Al membiarkan citra tertidur karena kelelahan, Al masih memikirkan kejadian tadi. "Mama Al tidak melarang Al ngeseks dengan pacarnya. Berarti Al juga bisa ngeseks dengan mamnya", pikirnya. Lagian body mama masih sip abis. Soalnya mamanyat rajin fitness. Walaupun usianya udah 36 tahun tapi masih oke (bukan membanggakan). Lagi pula mamanya pasti lebih berpengalaman. Al berpikir lama mengenai ide gilAl ini. Nyaputuskan, Al harus bisa merasakan ngeseks dengan mamAl maia estiantynya sendiri.

Lalu Al keluar dan masuk kekamar maia estiantynya. Al melihat mamanya berbaring membelakanginya. terlihat pantatnya yang montok dan pahanya yang mulus. Al membuka pakaiannya sendiri sampai bugil. Dan sambil menelan ludah Al naik ke tempat tidur dalam keadaan bugil. Dipeluknya Maia Estianty dari belakang dan digesek kontolnya yang sudah tegang. Tiba2 mama Al (Maia Estianty ) terbangun "Ngapain kamu, Al?", tanyanya. "Pengen ngeseks sama bunda ", jawabnya manja. Al langsung memeluk dan menciumnya. Mama Al maia estiantynya diam saja. Al membuka kimono mamanya . Wow bunda tidak pakai BH dan CD. Payudaranya besar (lebih besar daripada punya Citra) dan masih kencang. Memeknya merah merekah. Al heran kenapa papanya ninggalin mama nya . Al langsung meremas payudara Maia Estianty , menjilatinya dan menggigitnya. Maia Estianty hanya mendesah kecil. "Jilatin memek bunda Al ya.. kayak Citra tadi..", pintanya sambil meraba memeknya. Al lalu menjilati memek Maia Estianty sambil memainkan klitorisnya dengan gigi dan lidahnya. Ahh..terus.. sayang.. okh.. e. na. k..desah maia estianty. Kepala Al dijepitnya dengan kedua pahanya dan rambutnya dijambaknya. Agar Al terus menjilati memeknya. 10 menit lidahnya menari di memek bundanya dan akhirnya Maia Estianty orgasme juga.

Al mearasakan cairan hangat di lidahnya. Lalu Maia Estianty bangkit dan menyuruhnya telentang. Maia Estianty lalu mengambil baby oil dan mengoleskan kekontolnya. Lalu dikulumnya kontol Al anaknya dengan nikmat. ohh..rasanya benar2 nikmat sampe ubun2. Bundanya jauh lebih enak daripada Citra. Al merasakan kenikmatan yang dahsyat. Maia Estianty mengulum semua kontolnya beserta buah zakarnya. Yang paling sensasional nyarasakan saat bundanya mengocok kontolnya sambil menjilati lubang duburnya. Wow benar2 asyik dan nikmat. Al sampai merinding kenikmatan.

Sekitar 10 menitan menyemprotlah sperma Al di depan wajah bundanya maia estiantynya. Maia Estianty sibuk menjilati sperma Al yang muncrat kemana mana. "Wah.. benar-benar nikmat ma..", ujarnya. "bunda jago oral", pujinya "Kamu juga jago jilatannya, bunda sampe merinding", ujarnya "Gimana, mau dilanjutkan?", tanya Maia Estianty "Iya dong..Al kan mau ngerasain memek bunda!", ujarnya sambil melihat memek bundanya. "bunda juga mau ngerasain sodokan kontolmu!", jawabnya manja. Lalu Maia Estianty mengajaknya ke kamar mandi, untuk membersihkan memeknya dan kontolnya. Al menghidupkan air di bathtub setinggi mata kaki. Mereka berdua masuk dan Al mencumbu Maia Estianty bundanya , Al mencium bibirnya dan nyaremas-remas payudaranya.

Mereka berdua sangat bernafsu, terutama Al. Padahal Al sudah main sebelumnya dengan Citra. Al sudah nggak tahan untuk memasukkan kontolnya ke memek maia estianty. Ia menusukan kontolnya dan bless.. amblas semuanya terbenam. Al merasakan jepitan liang surga bundanya ( Maia Estianty )masih kuat. Al memompa kontolnya menghujam memek maia estianty. Kaki Maia Estianty menjepit sisi bathtub. Ohh..yeahh.. ahh.. jerit maia estianty. Sekitar 3 menit Maia Estianty minta ganti posisi menyamping dengan posisi kaki belipat ke arah samping dan Al menggoyang dari atas menyodok memek bundanya . Maia Estianty tampak sangat menikmatinyamaia estianty)minta doggy style. Mereka bangkit dan Maia Estianty menungging bertumpu pada sisi bathtub. Al menyodok memek Maia Estianty dari belakang. Maia Estianty mendesah campur menjerit kecil. Pantatnya yang montok beradu dengan pangkal paha Al. Al memeluk bundanya Maia Estianty dari belakang sambil terus bergoyang perlahan, meremas payudaranya. "Ma..masukin ke lubang anus ya..", bisiknya "Pelan2 Al , bunda belum pernah ..", jawabnya. Al mencabut kontolnya dan meSmasukkan pelan pelan ke lubang anus bundanya maia estianty. Mama Al maia estianty merintih kecil menahan sakit. Lubang anus Maia Estianty memang belum pernah dijamah. Masih terasa ketat. Al menggoyang perlahan-lahan sambil tangannya mengusap-usap bibir memekn bundanya dari belakang. Oh.. ahhk.. oh.. nikmat.. Maia Estianty mendesah.

Sekitar 4 menit Al mencabut kontolnya Al membalikan tubuh bundanya Maia Estianty dan satu kakinya nya diangkat dan diletakkan di washtafel. Al memasukkan kontolnya lagi dan mengocok bundanya lagi. sekitar 1 menit, Al mengangkat bundanya dan ditidurkan di lantai kamar mandi. Kakinya mengangkang dan Al mulai menggenjotnya lagi. Shh.. ohh.. akhh.. Maia Estianty terus menjerit merasakan nikmatnya. Dan ohh.. ahh.. Maia Estianty melenguh sambil memejamkan matanya menikmati orgasmenya.

Al terus bergoyang. Lalu Al mengakhiri permainannya dengan semprotan spermAl di dalam rahim bundanya Maia Estianty tempat Al dikandung dulu. Al benar-benar puas. Al mencium bundanya maia estianty. "Makasih ma.. permainan mama sangat hebat", pujinya "mama mau kan..ngentot sama Al lagi..?", Tanya Al. Maia estiantyn hanya tersenyum dan mengangguk "Asal.. jangan ketahuan Papa ya..!", katanya. Al cuma tersenyum. Lalu mereka mandi bersama dalam bathtub. Malamnya Al terlelap tidur.

Esok paginya, Al bangun 7 pagi dan bersiap mandi. Al melihat bundanya sedang di dapur. Al mendatangi bundanya Maia Estianty dan nyaremas pantatnya. "Aduh.. kamu nakal ya..", ujarnya. Al membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang tegang. Al menggesekkan kontolnya ke pantat maia estiantynya. "Ma..ayo.. dong..", bujuknya "Please..", rayunya "Isap aja ya..", tawar bundanya "Ya.., deh..!", sahutnya lalu Maia Estianty jongkok dan mengisap kontolnya. Mata Al meram melek menahan nikmatnya. Sampai Al menyemburkan lahar hangat kemulut bundanya maia estianty.

Lalu Al mandi dan berangkat sekolah . Di sekolah Al rasanya pengen cepat pulang. Pukul 2 siang Al tiba dirumah mamnya bersama citra pacarnya. Al memanggil bundanya Maia Estianty kekamarnya. "Gimana.. kalo kita main bertiga", usulnya "Hah..!!", jawab Maia Estianty dan Citra serentak. "Aduh.. nih..anak.. nafsu amat ya..", ujar maia estianty "Kayaknya asyik juga tuh.", sahut Citra.

Citra langsung membuka bajunya. Dan menimpa Al. Bibirnya dilumatnya sambil tangannya melucuti pakaiannya. Maia Estianty akhirnya membuka bajunya dan ikut bergabung. Maia Estianty langsung mengisap kontolnya sambil menjilatinya. Sedangkan Al menjilati memek Citra. Lalu Al menyuruh Maia Estianty tidur telentang sambil mengangkang. dijilatinya memek Maia Estianty dan Citra menjilati dan meremas remas payudara maia estianty. Ssst.. enaak.. ahh.. erang maia estianty. Lalu gantian, Al menjilati memek Citra dan Maia Estianty menjilati payudara Citra. Al mulai memasukkan kontolnya ke memek Citra dan memompanya. Sedangkan Maia Estianty menjilati payudara Citra sambil menggosok2 memeknya sendiri. Aaahh..ohh.. oh.. Citra menjerit kecil berbarengan dengan deru napasnya yang tidak teratur. Al mempercepat goyangannya. Al harus membuat Citra orgasme terlebih dahulu.

Beberapa saat kemudian Citra mengerang puas ah. a. h.. ah. ah. ah. ahh.. ha.. sambil nafasnya agak tersengal. Kontolnya terasa dijepit otot memek Citra yang yang berkontraksi. Al mencabut kontolnya dan menarik maia estianty. Lalu nyamasukkan kontolnya ke liang surganya dan menggenjotnya. maia estianty hanya mendesah kecil. Al menikmati goyangannya. Al lalu membalikkan tubuh bundanya Maia Estianty keatas, Maia Estianty bergoyang bagai menaiki kuda.

Tangannya meremas-remas pantat Maia Estianty dan membantunya turun naik. Ooo.. ahh.. yehh.. erang Maia Estianty sambil memejamkan matanya. Payudaranya bergantung dan bergoyang. Ohh..ahh.. terdengar erangan maia estianty sambil memejamkan mata dan menahan ludah. Al merasakan bundanya Maia Estianty sudah orgasme. Al memeluk Maia Estianty dan membalikkan badannya. Citra langsung mendekat dan menjilati payudara Maia estianty. Al langsung menggenjot bundanya maia estianty lagi dengan posisi telentang. Sekitar dua menitan, Al merasakan mau mencapai puncak. Langsung dicabut kontolnya dan disemburkan ke mulut Citra dan bundanya maia estianty. Mereka berebutan. Sperma Al muncrat kewajah mereka berdua.

Al lalu terduduk lemas.Al melihat bundanya Maia Estianty dan Citra saling menjilati spermanya yang muncrat kewajah mereka. Setelah 10 menit Citra keluar dari kamarnya. Dan Al memainkan satu ronde lagi dengan bundanya Maia estiantynya. Dan diakhiri dengan semburan sperma di dalam lubang anusnya. Setelah itu Maia Estianty keluar dan mandi.

Sekarang Al benar-benar betah berada di rumah, kapan saja ada saja yang melayaninya bundanya( Maia Estianty )dan Citra). Hampir tiap pagi Al mendapat jatah oral dari maia estianty. Tapi semua sudah diatur. Kalo siang Al mainnya sama maia estianty, dan kalo malam malam lagi pengen, Al mainnya sama Citra. Tapi kadang nggak tentu juga, yang mana aja. Kalo ada kesempatan, mereka main bertiga. Bahkan Al pernah bolos sekolah karena kecapekan melayani bundanya Maia Estianty dan Citra. Kejadian ini membuatnya betah di rumah

Begitulah yang diceritakan Al kepadaku, Al berjanji akan menceritakan pengalamannya mengentot istri muda papanya yaitu Mulan Jameela.


Admin Mesum - 20.46

Aku dan Tante Vera

cerita seks || Aku dan Tante Vera || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Hai,,kenalkan,nama ku aldo,umur 16th kelas 1 smk di jakarta,dari kecil aku tinggal di purbalinggo.tapi setelah lulus smp aku tinggal di rumah tante adik mama ku tante vera,

tante vera seorang pengusaha terkenal di komplek nya,terkenal karena kebetulan tanteku buka salon,rumah nya paling pertama dapat kalau masuk gang,hahaha
tante vera berumur 40th,sebenarnya tante ku ini sudah 3 kali menikah.yang kudengar dari mama bahwa tante ini mandul,suami yang pertama kawin lagi,yang kedua meninggal karena kecelakaan,dan yang terakhir sudah tua,aku tidak tau mengapa tante vera sama om haris nama panggilan nya yang sudah berumur hampir 60th,

aku adalah anak bungsu dari 7 bersaudara,jadi perilaku ku agak sedikit manja.

Sudah 2 bulan aku tinggal dirumah tante vera,kami hanya tinggal ber 4 dirumah tante bersama seorang pembantu sebut saja mbak inem,karna saat mengepel lantai mbak inem suka menggoyang-goyangkan pantat nya sambil bersiul.

Suatu pagi aku mau berangkat sekolah,tapi tante vera memintaku agar bolos dan meminta bantuan ku untuk menjemput alat rias nya di koja.
Jadi lah pagi itu aku bolos menemani tante,kami berangkat dengan menggunakan mobil kijang innova,kuperhatikan tanteku ini sangat menarik,persis seperti istri anggota dpr,sangat sangat elegan,yang membuatku suka memandang tante vera adalah leher nya yg bersih dan putih mulus.

Setelah selesai mengambil alat rias tante yang cukup banyak kami hendak mau pulang,namun entah mengapa tante vera tiba-tiba berhenti didepan sebuah hotel,aku melihat wajah tante vera seperti marah,mau menangis dan jengkel,ku cari arah pandangan tante vera,ternyata om haris suami tante vera sedang mengandeng wanita mudah,aku terkejut melihatnya,pikiran ku agak heran,masih tua tapi masih doyan selingkuh batin ku.

Tante vera kembali menjalankan mobilnya kembali kerumah,tepat jam 11 siang kami sampai dirumah,kulihat tante langsung berlari kerumah,sementara aku dan mbak inem membereskan barang bawaan.

Seteleh beres aku mau istirahat,tak sengaja aku lihat kamar tante terbuka,kuperhatikan tante didalam kamar sedang menangis dgn posisi telungkup,aku ikut merasa sedih,namun ada pemandangan yang lain,cara tidur tante yang membuat celana dalam nya kelihatan,aku menjadi bernafsu pada tante ku ini batinku.

Malam hari nya aku mendengar pertengkaran antara tante vera dan om haris,tiba-tiba aku dikejutkan oleh pintu kamar ku yang terbuka,padahal aku sedang telanjang memakai selimut.

'do,,,tante tidur disini ya'kata tante sambil menangis

'ia tan'jawab ku salah tingkah karna tante memakai baju tidur yang sangat seksi.

Kami hanya diam saja,aku tidak berani menegur tanteku yang membelakangi ku sambil meringkuk menangis.dan aku pun tertidur dengan keadaan telanjang tnp sepengetahuan tante

aku terbangun karna aku merasakan sebuah kaki memeluk ku didalam selimut,aku langsung tersadar dari tidur ku,100% sadar,dada ku mulai terasa getaran jantungku,kubuka sedikit mataku,tante vera sedang pulas dalam tidurnya,kubalas pelukan tante dgn tangan ku,tapi tanganku malah menyentuh pantat nya yang lembut..ogggh batinku.kudekatkan tubuh ku bagian bawah ketubuh tante,aku semakin merangsang,dengan posisi berhadapan bibir ku dengan bibir tante sangat dekat,kuberanikan mencium tante dengan pelan,kukecup mesrah dan sedikit hot.
Kontolku yang sudah tegang bebas hambatan ku arahkan ke memek tante yang memakai celana dalam.kumaju mundurkan pantatku,perlahan aku meraba kemaluan tante,menyentuh celana dalam nya yang agak mungil,dengan menggeser sedikit kepinggir celana dalam tante kontol ku sudah menempel dilobang memek tante,,ugghhh sangat menegangkan sekaligus menantang,aku yang polos dan masih perjaka menggesek gesek kan kontolku.aku merasakan ada cairan di memek tante,kudorng lagi pantat ku,,aku merasakan ujung kontolku sudah masuk ke memek tante.hanya sebatas itu penetrasiku,karna badan ku sudah mepet ketubuh tante,kudorong tubuh tante dengan badan ku agar telentang tanpa melepaskan kontolku,sluuuppp,,,,aku merasakan kontolku ditelan habis memek tante bersamaan aku menindih tubuh tante,dan saat itu jg tante terbangun,aneh nya tante malah menutup mulutku dgn tangan nya karena melihat ku gugup dan ketakutan..
'sssttt,,,,lanjutakan sayang,,,tante mau balas dendam.bisik tante pelan.

'huum tan'jawab ku sambil menggoyang pantat ku.kemudian tante melebar kan pahanya,dengan rakus melumat bibir ku dan menelan lidah ku,bahkan tante vera memintaku meludahinya,kenangan pertama yg tak bisa kulupakan batinku.

Kami bercinta tanpa suara,5 menit kemudian aku mau mengeluarkan spermaku,tp tante vera tau gelagat ku dan mencabut kontolku dan membalikkan badanku,tante vera menyedot kontolku ssampai spermaku keluar,aku tak tahan karena enaknya aku mengambil bantal dan menempel nya kemulutku dan berteriak tanpa terdengar,sungguh luar biasa enaknya,kontolku yang lemas terus di emut tante ,kontolku yang panjang nya 13cm dilumatnya habus-habisan,,,dan tante vera pun mengajariku bercinta sampai subuh,tante mengatakan bahwa tante menikmatinya,juga tante mengungkapkan kalau saat itu orgasme sampai 4 kali.wow...

Malam itu tante vera jg memintaku untuk menarik pentil susu nya dengan bibirku,katanya nikmat sekali,

1 tahun kemudian om haris meninggal karena stroke,tapi aku melihat kalau tante vera tidak terlalu sedih,,
begitu lah kisah ku dengan tante vera sampai detik ini tante vera berusia 50 th,aku sekarang sudah bekerja sebagai pengacara.yg lebih indah lagi tante vera jg menyerahkan setengah harta milik nya,luar biasa,namun bagiku harta bukan segalanya,pengalaman dari tante dan juga bimbingan nya tentang hidup itu lah yang membuat aku berharga lagi,aneh nya tante vera saat ini masih awet muda.mungkin karena sering menelan spermaku yang konon katanya sperma brondong baik untuk awet muda,

siang itu aku sangat bergairah sekalian lapar,aku menyuruh tante vera telanjang dimeja makan,aku menaruh nasi di antara payudara tante,tentu nya yang sudah dingin,serta lauk nya jg sayur.aku makan sambil menjilati susu tante,dan kalau minum aku menumpahkan air dimemek tante dan menjilatinya,sungguh menyenangkan bisa sebebas itu,karna mbak inem sudah tidak kami pekerjakan lagi,

dan 1 pengalaman yang selalu ku ingat dari tante vera,tante vera sangat romantis,selalu mengatakan cinta,

ilove you aunty muaaaahhhhh love forever..


Admin Mesum - 20.27

Papa Tiriku Yang Nakal

Cerita seks || Papa Tiriku Yang Nakal || kumpulan cerita seks || ceritaxxx

Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16 tahun. Aku sekarang duduk di kelas II SMU di Medan. Aku punya pengalaman pertama merengkuh surga dunia. Tetapi semua itu kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi buat teman-teman yang lain. Aku tahu kalau perbuatan ini salah, tetapi aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Baiklah, ceritaku begini.

Suatu hari aku mendapat pengalaman yang tentunya baru untuk gadis seukuranku. Oya, aku gadis keturunan Cina dan Pakistan. Sehingga wajar saja kulitku terlihat putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuh yang tentu saja sangat disukai lelaki. Kata teman-teman, aku ini cantik lho.

Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.

Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa. Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu.

Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda tiga tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi. Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.
"Salam ya sama Papa kamu.." ledek teman-temanku.

Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.

Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.
"Ah, mungkin Papa nggak sengaja.." pikirku.

Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.
"Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!" begitu yang kudengar dari Papa.

Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.

Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.

Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.

Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.

"Vin.. Vin.., Papa pulang.." ujar lelaki yang ternyata Papaku.
"Kok cepat pulangnya Pa..?" tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.
"Iya nih, Papa capek.." jawab papa dari luar.
"Kamu masak apa..?" tanya papa sambil masuk ke kamarku.
Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.

"Ada deh..," ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
"Ada deh itu apa..?" tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.
"Memangnya kenapa Pa..?" tanyaku lagi sedikit bercanda.
"Nggak ada racunnya kan..?" candanya.
"Ada, tapi kecil-kecil.." ujarku menyambut canda Papa.
"Kalau gitu, Papa bisa mati dong.." ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
"Kalau Papa mati, gimana..?" tanya Papa lagi.
Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
"Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!" tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.

Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.

Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.
"Pa.." kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.

Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.
"Pa.. nanti ketahuan Mama.." sebutku mencoba mengingatkan Mama.
Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.
"Vina, tubuh kamu sangat harum.." bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.
Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.
"Kamu udah punya pacar, Vin..?" tanya Papa di telingaku.
Aku hanya menggeleng pasrah.

Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.
"Uuhh..," desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.
"Pa.. oohh.." desahku lagi.

"Pa.. nanti Mamm.." belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
"Papa sayang Vina.." kata Papa sambil memandangku.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.
"Ohh, ohh.." desahku panjang.

Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
"Terus Vin.., oh.. nikmatnya.." gumamnya.
Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.

Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.
"Sakit.. pa.." ujarku.
"Tenang Sayang, kita nikmati saja.." jawabnya.
Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.

Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.
"Terus Vin, ya.. seperti itu.." sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
"Papa.. ohh.., ohh.." renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.

Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.
"Nikmat Vin..? Ohh.. uhh.." tanyanya.
Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.
"Pa.. Vina nggak tahan.." katakuku ditengah terjangan Papa.
"Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu.." ucap Papa terpatah-patah.
Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.
"Okhh.. Ohkk.. hh..!" teriakku.
Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.
"Okhh.. Ohh.. Ohk.." erang Papa.
Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.

Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.
"Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina.." ucap Papa sambil mengelus rambutku.

Mama dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.


Admin Mesum - 20.02

Gadis Pagar Ayu di Pernikahanku

Cerita Seks || Gadis Pagar Ayu di Pernikahanku || kumpulan cerita seks

Setahun sudah aku berpacaran dengan Tika calon istriku dan kini tibalah hari pernikahan kami, disaat sedang sibuk sibuknya menjelang hari bersejarah dalam hidupku itu, dimana aku akan segera mengakhiri masa lajang, hatiku masih saja tergoda oleh wanita lain. Erni adalah teman dekat calon istriku gadis berwajah cantik dengan kulitnya yang putih dan mulus serta bentuk tubuhnya yang seksi dan sekal, telah membuat hatiku tertarik dan ingin mendapatkannya.

Erni gadis teman calon istriku itu orangnya mudah akrab dengan siapa saja yang baru dikenalnya, termasuk denganku dulu ketika pertama kali aku diperkenalkan oleh calon istriku. Sebulan sekali aku datang kerumah calon istriku, dikarenakan jarak yang lumayan jauh untukku bila harus datang seminggu sekali seperti pada umumnya orang berpacaran. Dan setiap kali aku datang aku sering bertemu dengan erni, dan dia seringkali meminta bantuanku untuk sekedar memberikan saran ataupun solusi atas semua permasalahan yang sedang dihadapinya.

Seringnya kebersamaan kami ini tanpa kusadari telah membuat aku semakin dekat dan akrab, dan hal ini tidak menjadi masalah bagi Tika calon istriku. Aku yang sudah memiliki bakat menjadi penjahat kelamin, semakin dekat dengan Erni yang cantik itu semakin melambung dengan hayalanku sendiri untuk bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Sebelum kenal denganTika calon istriku aku memang sudah bukan perjaka lagi, perjakaku hilang ketika hubunganku dengan seorang janda. Kehidupan masa remajaku banyak kuhabiskan dengan bergonta ganti pacar, dari yang masih gadis, janda sampai dengan yang masih berstatus sebagai istri orang. Dan kali ini ingin kusudahi petualanganku dengan niatku untuk menjadikan Tika sebagai pelabuhan terakhir dihatiku.

Namun yang ada sekarang aku semakin merindukan Erni teman dari Tika calon istriku, aku sangat tidak tahan bila melihat tubuh montoknya yang sering kulihat disaat aku sedang bersamanya.

Dihari pernikahanku dengan Tika, beberapa orang gadis teman dekat Tika bertugas sebagai pagar ayu, termasuk juga Erni. Dihari itu dengan berkebaya ketat dan kain batik yang membalut ditubuhnya kian membuatku terangsang dan ingin sekali merasakan kehangatannya. Disaat istirahat untuk makan siang aku sengaja menghampirinya dan berbisik kepadanya,

“…kamu cantik banget pake kebaya Er…!”

“…ah Mas aji bisa aja bikin aku ge-er nih…!” katanya dengan pipinya memerah.

“…mumpung orang orang lagi pada sibuk bisa ngga kamu diem diem masuk kekamar belakang…nanti kususul aku ada perlu sedikit sama kamu…?!” pintaku.

“…ya udah Mas aku kesana duluan ya…!” katanya dengan sedikit ragu.

Setelah aku buat alasan ke Tika yang sedang menerima tamu teman temannya semasa sekolah, akupun diam diam masuk kekamar belakang yang saat itu sepi tidak ada satu orangpun disana, begitu masuk aku lihat Ern sedang menungguku gelisah duduk ditepi ranjang.

Demi keamanan lalu kukunci kamar dan langsung menghampiri Erni dengan rasa sedikit was was dan deg degan,

“…Er…maafin aku sebelumnya ya…aku ingin sebelum…aku melakukan malam pengantin dengan Tika…aku…ingin mengatakan bahwa…aku…” dengan terbata bata aku bicara dengan Erni yang masih menunggu kata kataku selanjutnya,

“…Erni…maaf aku suka kamu…dan ingin memintamu untuk memberikan aku kesempatan sedikit saja untuk mencurahkannya kepadamu…” kataku ragu.

Erni sedikit kaget dengan pernyataanku dan jawabnya,
“…Mas Aji kan sudah resmi menjadi milik Tika…kenapa aku…Mas…?!”

Erni tidak kuasa meneruskan kata katanya, dan tertunduk dengan pandangnnya ke lantai, aku sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak hasratku lalu kupeluk Erni dari belakang tubuhnya dan kusarangkan ciuman dan jilatanku di leher jenjangnya,

“…Mas…Aji jangan Mas…! Katanya dengan nada parau.

Aku yang sudah sejak lama ingin merasakan kehangatan tubuhnya, tidak lagi perduli dengan kata katanya dan terus kuhujani tubuh seksi dan Erni dengan ciuman dan batang kontolku yang kugesek gesekan di pantatnya yang berbalut kain batik. Kubalikan tubuhnya dan langsung kulumat bibirnya dengan penuh nafsu, lalu dengan kasar kuremasi kedua buah dadanya yang indah menggantung tang juga masih tertutup baju kebaya tipisnya.

“…ooohhh hhmmpp ssrrppffut…ssshhh…” hanya itu yang terdengar dari mulutnya, dengan satu gerakan lalu kuangkat tubuh Erni keatas ranjang dan langsung kugumuli dengan penuh nafsu yang sudah sampai keubun ubun. Dengan tanganku yang kini mulai membuka kancing baju kebaya Erni satu persatu, dan mulai kusingkap BHnya dan kini terpampanglah buah dadanya yang sangat ranum dan sekal.

Erni hanya diam dan menitikkan air matanya diperlakukan seperti itu, dan aku tidak ingin membuang buang waktu, lalu kusibakan kain kebayanya dengan sedikit kasar lalu kutarin turun CDnya dengan sekali tarikan keras. Kubuka kedua paha Erni kuelus sebentar lalu kukeluarkan batang kontolku dan kuarahkan keliang vaginanya yang mulai basah. Erni masih diam dan terpejam dan inilah saatnya pikirku, lalu dengan agak kasar kutekan kepala kontolku keliang vagina Erni yang masih perawan dan sempit itu, kutarik lagi kudoronga lagi dan pada detik berikutnya dengan satu dorongan keras akhirnya kujebol kegadisan Erni…

“…aaarrrggghhh…Maass…ssshhh…ooohhh…” erangan dan desahan Erni disela tangisnya yang mulai terdengar jelas.

“…sudah lama aku menginginkan kamu sayang…!” kataku disela sela genjotan pantatku menusukkan seluruh batang kontolku diliang vagina Erni, dan darah perawan Erni terasa hangat melumuri batang kontolku.

Terus kuperlakukan tubuh Erni dengan hentak hentakan kontolku dan akhirnya ku tekan dengan keras disaat kusemprotkan air maniku dirahimnya…

“…aaahhh…crot…crot…crot…!”

Lalu dengan tergesa gesa kurapihkan kembali dandanan dan pakaian pengantinku, dan kutinggalkan Erni yang masih menangis dikamar aku keluar dengan perasaan lega, dan puas sesudah memerawani Erni gadis pagar ayu di hari pernikahanku.

Aku kambali kepelaminan menghampiri Tika yang sedang sendiri,

“…dari mana sih Mas kok lama banget…! Tanya Tika kepadaku. Lalu kujawab dengan singkat,

“…maaf sayang…Mas abis Modol…!” dijawab cubitan kecil Tika dipinggangku.

Hingga acara resepsi pernikahan kami selesai pada sore harinya, aku sempat melirik ke Erni yang tadi siang kuperawani dikamar belakang, dan kukedipkan mataku ketika pandangan kami bertemu.

Malam pengantinku dengan Tika kulalui dengan penuh kemesraan, hingga pagi menjelang aku dan Tika bagai tak mengenal lelah dengan terus berpacu kenikmatan diatas ranjang pengantin.

Dan pagi itu dengan ijin ke Tika aku keluar rumah dengan alasan untuk sekedar keliling kampung untuk cari angin, dan ketika aku sudah dekat rumah Erni aku perhatikan sejenak sekeliling rumahnya, “…aman lagi sepi nih…” kata batinku.

Aku masuk kerumah Erni dari pintu belakang dan kulihat Erni yang baru selesai mandi dengan hanya terbalut kain kemben batiknya memasuki kamarnya. Lalu diam diam aku mengunci pintu depan dan pintu belakang rumahnya, akupun masuk kekamar Erni yang memang tidak tertutup rapat.

Erni terkejut begitu melihat aku yang sudah dikamarnya, dan dengan langkah pasti kuhampiri dan langsung kupeluk tubuhnya dan kubanting keranjang dan menindih tubuhnya.

“…aaahh jangan Mas…aku ga Mas…aaahh…ooohh…!” rintihan Erni ditengah keputusasaannya. Dan aku dengan penuh nafsu terus menggumuli tubuh seksinya dengan tidak menghiraukan erangannya, kulumat bibrnya dan kuremasi buah dada Erni dengan kasar. Sampai pada akhirnya kuhujamkan batang kontolku kedalam liang kenikmatannya,

“…aaahhh…memek kamu legit Er…ooohhh…!” kataku disela sodokan kontolku di memek Erni. Hingga siang hari itu kujadikan tubuh seksi Erni sebagai selingan kehangatan diatas ranjang, dengan penuh kepuasan aku keluar dari rumah Erni dan kembali ku tinggalkan Erni yang masih menangis dikamarnya.

Demikianlah kisahku dengan Erni si gadis pagar ayu, yang hingga kisah ini kutuliskan masih sering kujadikan sarana pemuas nafsuku diatas ranjang.

The End…


Admin Mesum - 19.44

Kamis, 30 Mei 2013

[True Story] Skandal Inggrid Kansil

Kamis, 30 Mei 2013

Ini cerita didasarkan atas situasi yang nyata (True Story). Aku Inggrid Kansil, umurku saat ini beranjak 35 tahun dan berstatus Istri salah satu mentri di negri ini. awal ku bertemu dengan suamiku adalah hasil perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuaku terhadap pak mentri, entah beruntung atau tidak dengan kondisiku sekarang ini. kalau dibidang materi aku bisa dibilang tercukupi, malah berlebihan. Tapi kalo masalah se... >> Cerita Lanjutan, klik disini


Admin Mesum - 08.58

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Si Dukun Cabul 03

Rabu, 29 Mei 2013

Mbah melihat dari pipismu tadi, ternyata ilmu gendamnya si Kasno sudah masuk
dalam sekali ke dalamnya. Mbah sudah coba sedot sedot tadi, tidak mau keluar
juga. Berbahaya sekali Nduk, nanti kalau dibiarkan jadi ngabar (menguap) masuk
ke pembuluh darahmu, bisa mati kowe. Mbah harus mencoba cara yang lebih kuat.
Agak sakit mungkin Nduk, nggak apa-apa ya?" kataku penuh rasa sayang dan
kasihan. Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. Dia mengangguk,
mengulang lagi kata-katanya yang bego tadi: "inggih Mbah, kulo nderek
kemawon..". Aku mengangguk-angguk: "anak baik. Kasihan sekali kowe Nduk".
Sekarang aku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas dari atas meja, dan dengan
lembut membimbingnya ke dipan yang ada di sudut. Kubaringkan tubuh bugil yang
sudah lemas itu, dan dengan hati-hati kulebarkan kakinya. Kini dia terbaring
mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala
kenikmatan duniawi. Aku duduk berlutut, kemaluanku sudah tegang betul dan kini
terarah ke lobang kemaluannya. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. Dia
mengerang pelan, matanya tertutup rapat. Kurendahkan tubuhku, kini aku telungkup
di atas badannya. Kukecup bibirnya dengan lembut: "sudah siap, ya Nduk. Agak
sakit, ditahan saja. Pokoknya Mbah usahakan kamu jadi sembuh betul". Dia
mengangguk, tidak membuka matanya: "inggih Mbah" desisnya lirih.
Kini aku memegang batang kemaluanku, dengan sangat hati-hati menusukkannya
ke kemaluan si Suminem yang masih basah kuyup bekas hisapanku tadi. Satu
senti..dua senti.. tiga senti.. sempit sekali. Suminem mengerang: "ss.. sakit
Mbah.." tampak wajahnya mengernyit kesakitan. Tangannya memegang dan
meremas lenganku. "Tenang Nduk..tenang.. tahan sedikit.. nanti lama-lama
sakitnya hilang, berganti rasa enak".
Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yang pernah kurasakan.
Sebelumnya aku hanya bisa bermain dengan pelacur-pelacur, atau paling banter
dengan si Jaetun janda muda yang gatel di desa sebelah. Semuanya sudah
melongo lubangnya, sama sekali tidak enak. Tetapi yang ini, sungguh lezat, legit
dan super sempit. Dasar perawan.. kutekan agak keras kemaluanku, diikuti dengan
teriakan Suminem: "aauuwww.. saakiit Mbah.." aku cepat-cepat melumat bibirnya,
agar teriakannya tidak berkembang menjadi raungan..
Sekarang dengan cepat dan akhli aku menekan kemaluanku, sekalian saja sakitnya
pikirku. Dan..bless..masuklah seluruh kemaluanku ke dalam lobang memeknya.
Tubuh Suminem terlonjak di bawahku, tangannya meremas lenganku sangat keras.
Matanya terbeliak, tetapi mulutnya tidak bisa memekik karena tersumpal bibirku.
Aku diam sejenak, menunggu lonjakannya hilang.
Akhirnya dia diam, hanya napasnya masih tersengal-sengal. Sekarang, setelah
semua tenang, kulepaskan ciumanku: "masih sakit, Nduk?" dia mengangguk: "tapi
lama-lama nggak perih kan?" dia mengangguk lagi. Lugu betul anak ini: "Mbah
terusin ya? tidak lama lagi kok". Sekali lagi dia mengangguk. Kugoyangkan
pantatku lagi pelan-pelan, tidak ada respon penolakan darinya. Kogoyangkan lagi
semakin kuat, dan tanganku mulai menggerayang memainkan puting susunya. Dia
mengeluh. Dia merengek. Jelas si Suminem ini mulai menikmati permainan ini.
Pinggulnya mulai ikut bergoyang, meskipun agak kaku.
Aku tidak berani merubah posisiku ini, takut kalau dia kesakitan lagi. Goyanganku
juga kuusahakan seteratur mungkin, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.
Malah goyongannya yang semakin lama semakin tidak teratur. Kepalanya
bergoyang ke kiri dan ke kanan, mulutnya mendesis-desis dan tangannya
mencengkeram erat lenganku. Matanya terpejam dan raut wajahnya menampakkan
campuran kesakitan dan kenikmatan yang sangat.
Dipan bobrok ini mulai terdengar berkeriet-keriet. Akhirnya terdengar proklamasi si
Suminem, persis seperti tadi: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku.. aa.." dan kurasakan
cairan menyemprot di lobang kemaluannya. Akhirnya kepalanya terkulai lemas ke
kiri (sejak kami mulai main tadi, matanya terus terpejam). Aku mengutuk dalam
hati. Jangkrik, aku sendiri belum keluar nih. Kuperkuat genjotanku, kufokuskan
pikiranku pada kenikmatan yang kualami sekarang ini. Kuremas-remas susunya
semakin kencang. Dan akhirnya kurasakan desakan dalam kemaluanku, desakan
yang sudah sangat kukenal. Aku sudah mau orgasme.
Tetapi aku tidak ingin mengakhiri permainan ini begitu saja. Kukeluarkan tembakan
terkhirku: "Nduk, Nduk, Mbah rasa ajiannya si Kasno sudah berhasil Mbah
hilangkan. Tetapi kau harus meminum ajian dari tubuh Mbah ya? supaya kamu
kebal terhadap segala ngelmu hitam macam ini". kataku tersengal-sengal.
Suminem hanya mengangguk saja, matanya tetap terpejam. Melihat tanda
persetujuan itu, aku segera mencopot kemaluanku dari memeknya, begitu cepat
sehingga terdengar suara, "plop". Aku segera mengangkang di atas tubuhnya,
batang kemaluanku kuarahkan ke mulutnya: "ini Nduk" kataku. Tangan kananku
mengangkat kepalanya yang terkulai, sedangkan tangan kiriku terus mengocok
batanganku.
Mata si Suminem membuka malas, melihat senjataku bergelantung di depan
wajahnya. Aneh, Dia tidak tampak kaget lagi (mungkin lama-lama dia sudah
biasa?) dia menggumam malas: "mana obatnya Mbah? sini biar aku minum." Aku
mendesah penuh nafsu: "ini Nduk, obatnya ada dalam burung Mbah ini. Minumlah"
kataku. Suminem menjawab dengan malas, seperti orang setengah sadar: "dihisep
dulu Mbah? Sini gih. Biar cepet selesai". Dan tanpa bertanya lagi, dia memegang
kontolku dan memasukkan ke mulutnya. Waduh, hebat banget si geNduk ini.
Meskipun tetap dengan gaya malas, seperti setengah sadar, dia mulai menyedot
nyedot kemaluanku dan lidahnya secara reflek juga bergerak-gerak menyelusuri
batang kontolku. Aku bergetar hebat. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya,
dan kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku bergerak keluar masuk mulutnya.
Rasanya bahkan lebih nikmat daripada bersetubuh biasa. Beberapa kali tanpa
sengaja gigi Suminem bergesekan dengan kemaluanku, membuat kenikmatan yang
kurasakan semakin melambung.
Kupercepat goyanganku, tetapi tetap menjaga agar dia tidak sampai tersedak.
Akhirnya tekanan dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi: "Nduk, ini Nduk.."
erangku: "telan semua ya" dan croot.. muncratlah air maniku ke dalam mulutnya.
Kurasakan hisapan dan jilatannya berhenti. Dua kali lagi aku menyemprotkan
maniku di mulutnya, semuanya tampak tertelan (karena posisinya terlentang, jadi
tidak ada yang terbuang keluar).
Kudiamkan posisi ini agak lama, sampai kurasakan kemaluanku mulai mengecil dan
akhirnya lepas sendiri dari mulutnya. Aku berguling ke samping, kulihat Suminem
tetap telentang dengan mata tertutup. Bibirnya yang seksi kini tampak berlepotan
air mani, tampaknya masih ada maniku yang tertahan di mulutnya dan belum
tertelan. Aku bangun dan mengambil gelas berisi air kembang tadi, dan
menyodorkan kemulutnya dengan lembut: "minum Nduk, minum. Biar semua obat
Mbah masuk ke badanmu. Ini air kembang juga berkhasiat kok." Dia menurut dan
meneguk habis air itu. Akhirnya kubimbing dia berdiri, dan kubantu dia memakai
bajunya. Aku juga memakai bajuku. Kami sama sekali tidak bicara saat itu.
"Bagaimana Nduk? Apakah kamu sudah merasa enakan?" dia diam saja.
Tangannya menyisir rambutnya, dan membetulkan bajunya yang awut-awutan.
Kuelus rambutnya.
"Mbah, apakah pasti saya sudah sembuh?" tanyanya dengan suara bergetar. Aku
mengangguk: "pokoknya, semua sudah beres. Tadi Mbah itu mempertaruhkan
nyawa Mbah lho. Kalau gagal tadi pasti ilmu hitamnya si Kasno berbalik
menghantam Mbah. Untunglah semua sudah berakhir."
Dia mengangguk, wajahnya tetap menunduk: "matur nuwun, Mbah." Katanya:
"Berapa saya harus bayar Mbah?" aku tergelak: "wis, wis, bocah ayu, Mbah nggak
minta bayaran kok. Bisa menyembuhkan kamu saja Mbah sudah bersyukur
banget." Kulihat bibir si Suminem tersenyum halus, mengangguk dan meminta ijin
pulang. Kubuka pintu kamarku dan aku memanggil salah satu tukang ojek yang
mangkal untuk mengantarkannya pulang. Dalam beberapa detik, tubuh bahenol
Suminem hilang tertelan kegelapan malam.
Aku menghela napas dan masuk kembali ke kamar. Tiba-tiba aku tertegun. Lha,
kok aku sampai tidak menanyakan si Suminem itu tadi siapa ya? karena sudah
terbelit nafsu aku sampai tidak menanyakan pertanyaan – pertanyaan standar
seorang dukun: rumahmu dimana, bapakmu siapa..
Ah, aku menggeleng. Rasanya aku tidak pernah lihat dia sebagai warga sekitar
sini. Mungkin dia dari Wonolayu, desa sebelah sana. Biarin saja. Aku masuk kamar
praktekku, dan segera menggelosor di dipan yang tadi kugunakan untuk bercinta
dengan Suminem. Dalam beberapa menit aku terlelap. Entah berapa jam aku
tertidur, ketika sayup-sayup kudengar..
TOK..TOK..TOK..
"Bangun, Darmanto bangsat! bangun!" suara yang sayup-sayup tadi kini menjadi
semakin jelas seiring dengan meningkatnya kesadaranku. Dengan terseok-seok aku
berdiri dan menuju pintu, membukanya dengan malas. Baru pintu kubuka sedikit,
tiba-tiba.. bruuk..seorang laki-laki tinggi besar menyerbu masuk, dan tanpa basa-
basi tangannya menampar pipiku. Aku mengaduh dan terbanting ke lantai. Waktu
aku melihat siapa si pembuat onar itu, kulihat Mas Darmin, blantik (pedagang sapi)
tetanggaku, sedang berdiri dengan mata merah dan berapi-api. Tubuhnya yang
tinggi besar dan berkumis melintang (dia memang keturunan warok Ponorogo)
tampak sangat menyeramkan.
Aku berteriak keheranan: "mas.. Mas Darmin.. ada apa ini? kok tiba-tiba kesetanan
kayak gini?"
Mas Darmin balas berteriak, matanya semakin mendelik: "kesetanan gundulmu..
kamu yang kemasukan setan! apa yang kamu lakukan kemarin malam, Dar? ayo
ngaku!!". aku semakin bingung: "yang apa to mas? aku ora ngerti." Si warok itu
tampak semakin marah: "kemarin malam! si Suminem! Sumineemm! kamu apakan
dia?"
Wah, aku jadi kaget. Suminem itu apanya dia? kalau anak tidak mungkin, aku tahu
Mas Darmin cuma punya dua anak laki-laki: "si Suminem itu apanya mas?"
tanyaku. Mas darmin berteriak marah: "kuwi ponakanku, bedes (monyet)! semalam
dia datang ke rumah, katanya baru ke kamu terus karena kemalaman dia takut
pulang ke rumahnya di Wonolayu. Di rumah dia nangis-nangis, katanya pipisnya
sakit sekali. Waktu dilihat mbakyumu, celana dalamnya ternyata basah oleh darah.
Walaah..dia akhirnya ngaku semua apa yang kamu lakukan. Iyo tho? ayo ngaku,
bedes!" dan dengan berkata begitu ia menubruk lagi tubuhku. Satu bogem mentah
kembali melayang ke pipiku. Aku berteriak kesakitan.
Aku hanya bisa meratap: "mas.. mas.. ampun mas, aku tidak mau kok
sebetulnya..si Suminem yang memaksa.." aku coba membela diri sebisanya.
Mendengar itu, Mas darmin jadi semakin marah: "opo jaremu (apa katamu)? Si
Suminem yang minta? kamu kira keluargaku kuwi keluarga perek opo? pikirmu si
Suminem kuwi bocah nakal tukang goda wong lanang? weehh.. kurang ajar kowe
Dar. Bangsat! asu! kucing! wedus! bedes!" dan sambil mengeluarkan
perbendaharaan nama segala jenis binatang yang ada dalam kepalanya, Mas
Darmin kembali menendang tubuhku yang sedang menggelosor pasrah di lantai.
Dan dengan ngeri kulihat tangannya mulai menarik pecut (cemeti) yang melingkar
di pinggangnya, pecut yang biasa dia gunakan kalau lagi akan jualan sapi. Aku
semakin meringkuk: "ampuun maas.." rengekku.
Dalam suasana yang sangat genting itu, tiba-tiba beberapa orang menerobos
masuk. Aku melihat Pak Sitepu, ketua RW kami yang langsung memeluk Mas
Darmin yang lagi kesetanan: "sudah..sudah mas.. mati pula dia nanti.. tenang
sajalah kau.." katanya dengan logat batak yang kental. Seorang lagi yang
menerobos masuk adalah seorang polisi. Dia membantuku berdiri dan dengan
formal berkata: "Bapak Darmanto, saya menahan bapak atas tuduhan pemerkosaan
terhadap anak di bawah umur. Saya minta bapak ikut saya ke polsek sekarang
juga." Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kulihat di belakangnya bapak dan
ibuku, yu Mini dan keluargaku yang lain melihat semua adegan dahsyat itu dengan
melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Mas Darmin terus berteriak-teriak: "Ya, Pak polisi.. cepet saja ditangkap si bedes
ini. Daripada nanti kalau lepas bisa kalap aku. Tak cacah dagingmu, tak jadikan
rawon! tak jadikan sop! tak jadikan rendang..!" sekarang dia mengancam dengan
segala jenis masakan yang dia ingat. Aku menghela napas. Dengan gontai aku
mengikuti Pak polisi itu, keluar rumahku. Di depan rumah ternyata ada puluhan
orang lain yang sudah berkumpul, para tukang ojek yang mangkal, tetangga, dan
orang-orang lain. Semuanya melongo melihatku.
Dari dalam masih kudengar teriakan Mas Darmin, menyebut segala jenis makanan
yang rencananya akan mempergunakan dagingku sebagai bahan lauknya: "tak
jadikan sate! tak jadikan opor!". seorang tetanggaku berteriak mengejek: "entek
nasibmu (habis nasibmu) Dar! makanya kalau hidup jangan hanya ngurusi kontol
thok!".
Ya, memang habislah nasib dan karirku saat ini sebagai dukun. Oh, nasiib..


Admin Mesum - 05.29

Kisah Si Dukun Cabul 01

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto. Aku adalah salah satu dari sekian banyak
orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren "paranormal" atau yang
dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun. Ya, aku adalah
orang yang bergelar mbah dukun, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak
percaya dengan segala hal begituan.
Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu,
aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut
bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam
cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan
banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya
masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku
belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi
omelan dan gerutuan istri.
Dalam keadaan sebal itulah aku bertemu dengan mbah Narto, kakek tua yang
dengan gagahnya memproklamasikan diri sebagai paranormal paling top. Karena
masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku
ketika dia lagi "buka praktek" di kotaku. O ya, aku tinggal di sebuah kota
kecamatan kecil di Jawa tengah, dekat perbatasan jawa Timur (nggak perlulah aku
sebut namanya). Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan
negara yang lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan
malam.
Eh, kembali ke mbah Narto, tampaknya si mbah punya perhatian khusus kepadaku
(atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis
terhadap gaya perdukunannya?). Suatu hari ia berbicara serius denganku,
mengajakku untuk menjadi "murid"nya. Walah, aku hampir ketawa mendengarnya.
Murid? wong aku sama sekali tidak percaya segala hal takhayul macam itu, kok
mau diangkat menjadi murid? tetapi segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika
mbah Narto menjelaskan: "punya ilmu ini bisa buat cari uang, Dar." Katanya: "apa
kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun
ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget." Katanya
dengan meyakinkan dan mata melotot.
Aku menggaruk kepalaku. Apa benar? Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun tetap
dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik
turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa
berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh.
Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama
mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi setiap mbah Narto menanyakan "apa kamu
sudah ketemu jin ini atau jin itu" atau "apa kamu melihat cahaya cemlorot (bahasa
Indonesia: berkelebat)" waktu aku bersemadi, yah aku iyakan saja. Kok susah –
susah amat.
Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Narto menyatakan aku sudah lulus
ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa). Dan dia memperkenalkan aku
sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang
"aeng-aeng" alias aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama aku dipercaya untuk
buka praktek sendiri, di rumahku, dengan mempergunakan kamar samping rumah
sebagai tempat praktek (meskipun aku harus membuat Yu Mini kakakku marah-
marah karena meminta dia pindah kamar tidur).
Setelah beberapa bulan praktek, nasehat mbah Narto ternyata benar (ini satu-
satunya nasehatnya yang benar, aku kira): bahwa jadi dukun itu banyak duit! aku
baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah
terletak pada ilmunya (yang aku nggak percaya sama sekali), tetapi pada
kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa
membuat pasien setengah mati percaya dan tergantung padanya, dengan segala
cara dan tipu daya.
Pada mulanya beberapa orang datang minta tolong padaku, katanya menderita
sakit aneh, pusing-pusing yang tidak tersembuhkan. Aku dengan lagak meyakinkan
memberikan mantra, menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air
kembang (di dalamnya sudah kucampur gerusan obat Paramex). Eh.. mereka
sembuh. Dan sejak itulah pasien datang membanjir padaku. Ada yang minta
disembuhkan sakitnya (kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau nggak
sembuh baru kembali. Sebagian besar memang tidak kembali), ada yang minta
rejeki (itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem) ada pula yang
mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain (kalau itu tinggal
dinasehatin saja).
Jadi inilah aku, mbah Dar, dukun ampuh dari lereng Merapi (lucu ya, aku dipanggil
mbah wong umurku baru 25 tahun). Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre
di rumahku, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman
depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku
dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar,
jangan mbohongi orang). Yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada
gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam,
tampang yang meyakinkan (aku sekarang pelihara jenggot panjang, pakai jubah
putih kalau praktek) maka orang-orang sangat percaya kepadaku.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang
meruntuhkan segala-galanya.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan
aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari "meja
kerja"ku, menuju pintu dan bermaksud menutupnya. Tetapi kulihat si Warno
sekretarisku menghampiri: "ada pasien satu lagi mbah" bisiknya: "cah wadon (anak
perempuan) huayuu banget". Dia nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di
depan. Di sana aku melihat seorang gadis dengan memakai T shirt putih dan rok
warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang
memperhatikan TV yang memang kusediakan di situ.
"Masuk, nduk" kataku dengan suara berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri,
dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya
dengan jelas. Aduh mak, dia memang betul-betul cantik. Rambutnya yang sebahu
bewarna hitam lurus, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima
merekah (walah, puitis banget..). Tubuhnya bongsor dengan buah dada yang
seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya. Aku kira umurnya paling
banter baru 17 atau 18 tahun.
"Sugeng dalu (selamat malam) mbah.." katanya agak bergetar. Wuih, suaranya
juga seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapakan aku
menyilahkannya masuk, diiringi sorot mata nakal si Warno yang seperti akan
menelan bulat-bulat si gadis itu. Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari
ngibrit sambil terkikik-kikik. Aku segera menutup pintu.
Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan.
Tangannya ngapurancang di pangkuannya, wajahnya menunduk. Cantik sekali.
Dengan pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan
lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan
baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Asap dupa segera
memenuhi ruangan kecil itu.
"Siapa namamu, nduk?"tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan
persiapan.
"Suminem, mbah" katanya. Wah, nama lokal betul.
Aku berdeham: "berapa umurmu? "
Si cantik itu menjawab pelan, tetap menunduk: "empat belas tahun, mbah". Wah,
aku hampir terlonjak kaget. Empat belas tahun? masih kecil banget, tetapi
bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..
Aku menelan ludah: "bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke
sini. Ada masalah apa nduk?" aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi
meja yang penuh segala pernik perdukunan. Si Suminem sekarang mengangkat
kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri kanan.
Suaranya yang kecil bergetar: "nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah
dan takut. Nyuwun tulung mbah.." suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti
sedu sedan.
Kemudian dengan cepat dan dengan suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada
seorang laki-laki, bernama Kasno, yang sangat ditakutinya. Kasno adalah
tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak segerendeng, tetapi masih hijau
matanya kalau melihat cewek cantik. Karena rumahnya sederetan dengan rumah
Suminem, tiap hari dia bisa melihat Pak Kasno memandangnya seperti tidak
berkedip. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan
kamar mandi rumah Pak kasno, maka semakin besar kesempatan lelaki hidung
belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang bahenol itu. Bahkan pernah suatu
hari Suminem berteriak – teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia
sedang mandi melihat kepala Pak kasno mengintip dari bagian atas kamar mandi
yang memang tidak tertutup. Itu saja belum cukup. Hingga suatu hari..
"Pak Kasno tiba-tiba mendatangi saya, mbah" katanya. Si hidung belang itu
katanya bicara baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat
Suminem kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil air, entah apa itu. Dengan
sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh
Suminem. Tentu saja si gadis kecil nan bahenol itu berteriak, tetapi Pak kasno
cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut memberi penjelasan: "Enggak apa-
apa, Nem, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan,
jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang. Bener lho Nem, nanti
setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagiaa sekali". katanya tersenyum.
Suminem tentu saja semakin kesal: "bahagia bagaimana to Pak?" tanyanya: "Wong
sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala."pak
Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: "wong bocah cilik,
durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-
laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu" dan dengan bicara begitu si hidung
belang ngeloyor pergi.
Setelah kejadian itu "Pikiran saya jadi bingung, mbah" cerita Suminem: "setiap
malam saya menjadi terbayang wajahnya Pak Kasno, sepertinya dia itu mau
menerkam saya saja" dia bergidik ngeri: "malah saya sampai mimpi.." Dia tidak
melanjutkan. Aku pura-pura menghela napas penuh simpati. Sebenarnya, kalau
saja yang bicara ini bukan gadis sebahenol Suminem pasti aku sudah menyuruhnya
angkat kaki. Bosen. Tapi melihat anak secantik ini, waduh, kok tiba-tiba.. rasanya
ada yang berteriak-teriak di balik celanaku..
Jangkrik tenan, pikirku. Rasanya aku mulai terangsang pada gadis ini.
"Teruskan Nduk" kataku penuh wibawa: "kamu mimpi apa?"
Suminem menggigil. Suaranya tersendat-sendat: "aduh mbah, nyuwun sewu, mbah,
saya lingsem (malu) banget.." Wah, ini dia. Dengan gaya kebapakan (kok sama
dengan ceritanya soal si hidung belang Kasno itu?), aku berdiri dan mendatangi
dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. Nafsuku
tambah naik: "wis, wis" kataku menenangkan: "ora susah bingung. Ceritakan saja.
Si mbah ini siap mendengarkan kok".
Akhirnya setelah mengatur napas, Suminem melanjutkan: "anu.., saya sering
mimpi, lagi di anu sama Pak Kasno. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini
rasanya semakin sering". Aku berusaha menahan tawa: "dianu kuwi opo karepe
(apa maksudnya) to Nduk?" dia tampak semakin malu: "ya itu lho mbah..seperti
katanya kalau suami istri lagi dolanan (bermain) di kamar itu lho.. katanya mbak-
mbak saya seperti itu". Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Tambah kugoda
lagi (meskipun tetap dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan):
"coba to ceritakan yang jelas, seperti apa yang dilakukan si Kasno dalam mimpimu
itu?"
Akhirnya si Suminem ini tampaknya berhasil menguatkan hatinya. Suaranya lebih
mantap ketika menjelaskan: "pertamanya. Saya ngimpi Pak Kasno berdiri di depan
saya, wuda blejet (telanjang bulat). Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus..
Pak Kasno memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga.." dadanya
naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu.
Aku semakin panas mendengar ceritanya itu: "apanya saja yang dia cium, Nduk?"
tanyaku. Suminem tampak malu "di sini, Mbah" katanya sambil menunjuk buah
dadanya: "di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik. Terus ke bawah juga.." Ke
bawah mana, tanyaku: "ke..ini Mbah, aduh, lingsem aku. Ke ini, tempat pipis saya.
Di ciumi dan dijilati juga.." dia semakin menunduk malu. Suaranya terhenti. Nah,
tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Segera aku bertindak.
"KASNO KEPARAT!" teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti si Suminem
yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku: "Mbah.. Mbah.. kenapa Mbah?"
tanyanya bingung.


Admin Mesum - 05.26

Kisah Si Dukun Cabul 02

Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Suaraku penuh
ketegasan tetapi juga bernada kuatir: "Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si
kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan
dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya,
sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia
tinggal menguasaimu saja.."mataku mendelik: "mesakake banget (kasihan sekali)
kowe Nduk.." si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang
meluncur seperti senapan mesin itu: "terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah.."
katanya seperti orang setengah sadar.
Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: "berat, Nduk. Aku
bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik
kepadaku. Bisa mati aku." Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: "jadi..
lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan suara
bergetar. Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal
dan hangat): "ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu" kataku kebapakan: "aku
akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau
nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?"
kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: "matur
nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi.."
Kulepaskan pelukanku. Sekarang suaraku berubah penuh wibawa: "sekarang, untuk
menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus nglakoni persis sama dengan mimpimu
itu" kataku: "buka bajumu, Nduk". Ku lihat matanya terbeliak heran, tetapi segera
meredup dan dia menghela napas: "inggih Mbah, sakkerso (terserah) kulo nderek
kemawon (saya ikut saja)". Dan dengan cepat ia membuka kaos T-shirtnya,
meletakkan di kursi. Aku menelan ludah. Branya putih, berkembang-kembang. Buah
dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan
itu.(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pikirku. Jangan – jangan anak ini
kebanyakan hormon pertumbuhan).
Sekarang ia membuka roknya, merosot di lantai. Ia berdiri di depanku, tetap dengan
sangat hormat. Tangannya ngapurancang di depan celana dalamnya. Dia
memandang padaku dengan polos: "Sudah, Mbah" katanya. Aku mendeham:
"belum Nduk" kataku: "Aku bilang semuanya. Buka juga pakaian dalammu. Ilmuku
nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih
terhalang kain". Suminem tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri
terpaku dengan berkata apapun. Tetapi akhirnya dia menghela napas, dan
mengulangi perkataannya tadi: "inggih Mbah, kulo nderek" dan dengan cepat ia
membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai dia melanjutkan
membuka celana dalamnya. Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang
bulat) di depanku.
Nah pembaca, karena cerita ini adalah untuk konsumsi 17Tahun.com, maka saya
wajib menceritakan detail mengenai sosok indah di depanku ini. Si Suminem ini
sangat cantik (kok agak mirip aktris Dian Nitami ya?) kalau tinggal di Jakarta dia
pasti sudah jadi rebutan cowok atau masuk jadi bintang sinetron. Tubuhnya tidak
terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-
putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan puting berwarna coklat kemerahan,
terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di
perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (nggak apa-
apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Nah, di bawah perutnya, di
selangkangannya terlihat segundukan kecil sekali bulu-bulu kemaluan, pas dan
cocok dengan usianya yang baru 14 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi
belahan kemaluannya yang berwarna kemerahan, tampak agak nyempluk
(menonjol) ke depan.
Haduuh biyuung.. aku terangsang berat. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali –
kali aku menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol nafsuku. Dengan gerakan
ditenang-tenangkan aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang
dari baskom di mejaku. Aku mendekati dia: "bagian mana yang diciumi si Kasno
dalam mimpimu itu, Nduk?" tanyaku. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian
meunjuk bibirnya: "ini Mbah, saya di sun di bibir", katanya. Tanpa ragu-ragu aku
mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah,
mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, cuma
mengitung satu tambah satu dua, dua taMbah dua empat dan seterusnya dengan
cepat). Kemudian aku menghela napas dan berkata: "aku juga harus melakukan
yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa kesedot keluar". Dan tanpa minta
ijin lagi, kuseruduk mulutnya dan kucium dengan nafsu berat.
Kurasakan si Suminem berdiri kaku seperti kayu, tampak sangat kaget dengan
seranganku itu. Mulutnya terkunci rapat sehingga bibirku tidak menyentuh bibirnya
sama sekali. Aku jadi kesal: "buka mulutmu Nduk, terima saja. Jangan takut,
memang supaya melawan ilmu hitam ini lakunya harus begitu", ia tersengal sengal:
"Ing..inggih Mbah.." Katanya. Dan dengan canggung dia membuka mulutnya.
Sekarang aku menciumnya lagi, kini dengan lembut. Tidak ada perlawanan.
Kulumat bibirnya, dan kusedot ke luar. Lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya,
bergerak ke kiri kanan tetapi tidak mendapat respons dari lidahnya. Tampaknya ia
masih sangat kaget dan bingung dengan tindakanku ini.
Akhirnya, setengah kecewa, kulepaskan ciumanku. Harus ada cara supaya dia
terangsang, pikirku. Aku bertanya: "mana lagi Nduk, yang dicium si Kasno?",
Suminem sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur
leher: "di sini Mbah.." katanya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke
bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya.
Kucium pelan-pelan, dan kupermainkan dengan lidahku. Tenang, jangan terburu
nafsu, pikirku. Kalihkan ciuman dan gesekan lidahku ke lehernya yang mulus.
Kukecup kecup halus. Aku merasakan napasnya mulai naik. Nah, ini dia. Dia mulai
terangsang.
"Bagaimana rasanya, Nduk?" bisikku. Dia tidak menjawab, tetapi napasnya semakin
menaik: "hegh..eemmh.." erangnya. Dan tiba-tiba dia menjauh dariku. Wajahnya
menunduk ke bawah: "kenapa?" tanyaku: "kamu rasa sakit ya Nduk? pusing?"
tanyaku penuh kebapakan. Dia menggeleng: "a..anu Mbah.. rasanya keri (geli)
sekali..". Aku pura pura tertawa lega: "naah, kalau kamu nggak rasa sakit, cuma
geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Syukurlah. Sekarang
Mbah teruskan ya. Mana lagi yang di cium si kasno?" sekarang dia menunjuk buah
dadanya: "di susuku ini Mbah, dicium bergantian, kiri kanan.." Nah, ini dia.
Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dengan lagak sok yakin kupegang
kedua bukit indah itu. Sekali lagi aku menunduk ke bawah, mulai komat-kamit
membaca mantera matematikaku. Aku tampak sangat serius, meskipun sebenarnya
aku sekuat tenaga berusaha mengendalikan nafsuku yang sudah tidak ketulungan
berkobarnya.
Akhirnya aku menundukkan kepalaku: "harus kusedot, Nduk. Di sini manteranya
kuat sekali. Si Kasno bangsat itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu." Kulihat
ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Pertama kukecup buah dada
kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yang sangat halus. Kecupanku berputar
melingkar, hingga bagian bawah susu yang mengkal itupun tak luput dari
kecupanku. Akhirnya aku berhenti di putingnya, kupermainkan sedikit dengan
lidahku dan akhirnya kukulum dengan lembut. Mulutku menyedot-nyedot barang
indah itu dengan bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Kurasakan puting
itu semakin membesar dan mengeras. Sedangkan jari tangan kananku terus
meremas – remas dada kanannya, mempermainkan putingnya secara berirama
sama dengan irama gerakan lidahku di puting kirinya.
Nah, akhirnya pertahanan si genduk Suminem bobol juga. Tubuhnya yang tadinya
kaku seperti kayu, sekarang terasa melemah. Tangannya memegang kepalaku,
tanpa sadar mengelus – elus rambutku yang gondorong. Mulutnya mendesis-desis
dan menceracau pelan: "Mbah..aduuh Mbah.. jangan.. gelii sekali.. aduuhh.." tetapi
aku tidak perduli lagi. Tubuh Suminem terasa bergoyang- goyang, semakin lama
semakin keras. Kupindahkan kulumanku ke puting kanannya. Aku melihat ke atas,
kulihat kepala Suminem menunduk dalam-dalam sementara tangannya tetap
memegang kepalaku. Matanya tertutup rapat dan mulutnya juga terkatup rapat.
Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yang sangat
nikmat.
Horee, aku berhasil! teriakku dalam hati. Jelas dia kini juga terangsang berat.
Semakin asyik saja nih, pikirku. Kini kulepaskan hisapanku di susunya dan bertanya
(pasti suaranya sudah tidak tampak berwibawa lagi, tapi penuh nafsu): "terus,
habis cium susumu, dia cium lagi di sini ya?" tanyaku, sambil menunjuk pada
kemaluannya: "i.. iya Mbah.." katanya bergetar: "di pipis saya.. dicium terus
dijilatin".
Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela napas seperti sedih dan
terpaksa: "ya sudah Nduk, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang,
Mbah juga terpaksa harus melakukan yang sama. Coba kamu duduk di meja ini".
Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Dengan canggung dia
menurut: "buka lebar-lebar kakimu Nduk" kataku. Dia tampak bingung sehingga
harus kubantu. Kubentangkan paha kiri dan kanannya sehingga dia duduk
mengangkang di mejaku. Kini tampaklah kemaluannya dengan jelas, kemaluan anak
ABG yang baru ditumbuhi sedikit rambut. Warnanya kemerahan dan sangat
merangsang. Jelas ini tempik (istilah khas daerahku) yang belum pernah dijamah
laki-laki. Mataku berkunang-kunang karena nafsu.
Sekarang aku mengambil kursi, meletakkan tepat di depannya. Aku duduk di kursi
itu dan mencondongkan tubuhku ke depan, sehingga wajahku sekarang berhadapan
langsung dengan kemaluannya, hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Bau
khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Aku menelan ludah:
"agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya"
perintahku. Kini dia menuruti dengan patuh, mengangkat pantatnya sehingga
kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Dengan lembut kugosok-
gosok mahkota wanita itu dengan tanganku, ke atas ke bawah dan sebaliknya.
Kuremas-remas halus bulu-bulunya yang jarang, dan akhirnya kukecup kelentitnya
dengan bibirku.
"Aaggh.." Suminem mengerang (mana ada sih cewek yang kuat kalau dibegituin?).
aku semakin menggila. Kukecup-kecup kemaluannya dengan gemas, dari bagian
atas hingga bawah, lidahku menyelusuri belahan kemaluannya dan menerobos
bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan basah. Tubuhnya semakin
menggelinjang. Napasnya terdengar semakin memburu. Akhirnya kecupan dan
jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Kukecup-kecup terus kelentit yang tampak
semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dengan kuat. Sambil menghisap,
lidahku tetap dengan aktif menjilati kelentit itu sementara tanganku terus mengelus
elus daerah bawah kemaluannya, kadang-kadang jariku menyelusup ke lobang
kemaluannya yang terasa semakin lama semakin basah.
Suminem sama sekali sudah lepas kontrol. Erangannya semakin keras (untung saja
suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak
ada yang mendengar). tubuhnya berkelojotan ke kiri ke kanan, tangan kanannya
menumpu ke meja sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Di remas-
remasnya rambutku dan setiap kali kepalaku agak merenggang, ditekannya lagi ke
kemaluannya.
Jangkrik, pikirku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Tetapi bagaimanapun
suasananya sangat asyik. Aku semakin tenggelam dalam permainan yang penuh
nafsu ini. Kusungkupkan kepalaku semakin dalam di selangkangannya. Tidak
kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat
bergoyang dan berderak-derak. Sampai akhirnya: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah..
aku..aa.." jeritan yang entah apa artinya itu meluncur keluar dari mulut si bahenol,
diikuti dengan semprotan cairan dari lobang kemaluannya. Basah dan hangat,
sebagian menempel di dagu dan jenggotku.
Akhirnya kuangkat kepalaku dari kemaluannya, dan kucium dahinya yang
menunduk dengan napas tersengal-sengal. Aku berbisik: "piye, Nduk? Kamu sudah
merasa enakan sekarang?" dia mengangguk: "i..iya Mbah.. enakan sekarang.." aku
hampir ketawa. Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau
aku kerjain. Sekarang sampailah pada tahap selanjutnya, pikirku.
Tanpa basa basi aku melepaskan jubahku dan celana dalamku. Kulihat wajahnya
yang tadinya menunduk sayu sekarang terangkat, matanya membeliak melihat aku
sudah telanjang bulat di depannya. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis
(wajahku juga nggak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini
dicukur). Batang kemaluanku (istilah di daerahku: kontol) lumayan besar, dan
selalu jadi kekaguman cewek-cewek yang pernah main seks denganku.


Admin Mesum - 05.22

Gairah Tetanggaku 06

Kupeluk buah dadanya dalam tangkupan telapak tanganku dan ia membungkuk
berpegangan ke bak dan pantatnya, pinggulnya berputar-putar, rasanya penisku
diulek-ulek dan tiap kali ia berputar tambah cepat dan gelombang-gelombang
sinyal kenikmatan mulai terbentuk seperti tsunami bergelora, "Aahk.." ia menjerit
cukup kencang sampai aku sempat sekilas kaget berpikir, wah kalau kedengaran
tetangga bisa gawat, tapi langsung hilang karena orgasmeku sudah menjelang.
"Plok.. plek.. plekk.." bunyi tubuh kami beradu bercampur keringat dan cairan bau
di sekitar situ sudah mesum sekali bau sex, edan. Meletuplah Mbak Icih dan
erangan-erangannya terus menerus. Tiba-tiba cengkeraman vaginanya begitu kuat
sampai aku menjerit karena agak sakit dan dikendorkannya sedikit. Aku pun tidak
kuat lagi menahan, "Mbak Icihh.." kukandaskan dalam-dalam batang penisku dan
zakarku rapat-rapat dengan bibir vaginanya, dan akhrinya kami saking lemasnya
jatuh terduduk di depan bak cuci piring itu. Terengah-engah dan berpelukan
telanjang bulat. Spermaku bertebaran di lantai dapur. "Mbak Mbak.. enak sekalii..
Mbak Icih hebat bangett.." Mukanya agak merengut dan aku sengaja tidak
memberi tadi tubuhnya. "Mas To, aduh saya sudah beneran mau gila tadi
rasanya.. untung masih inget kalau tidak saya sudah teriak kencang-kencang,"
katanya sekarang sambil tertawa mengingat keadaan tadi.
"Tapi enak kan ya Mbak, capek tidak Mbak?"
"Nggak Mas To.." sergahnya dengan cepat.
"Sudah, entar tidur di sini saja deh Mbak Icih," bujukku dengan penuh rencana.
"Entar saya kasih tahu Bu Etty atau Tante Ida kalau mereka pulang, aku bilang
takut sendirian di sini."
"Hi hi hi, mana mereka percaya Mas To.. mereka juga tahu lah..paling entar Bu Etty
bilang biar dia yang temenin.. hi hi hi.. " cekikan Mbak Icih menggodaku.
"Atau Mbak dan Bu Etty yang tidur di sini Mas To.."
Eh ini orang jahil pisan.
"Tapi pasti dikasih deh.." ujarnya lagi.
"Saya mandi dulu ya Mas To. Apa mau sama-sama mandi," godanya lagi.
"Sudah deh Mas To, istirahat dulu kan sudah 2 hari ini capek," lho kok dia tahu
saja ya, padahal kemarin kan dia tidak lihat. Aku belum tahu dan tidak curiga lebih
lanjut sampai beberapa waktu akhirnya aku mengerti, itu cerita lain lagi yang seru
juga.
Aku manggut saja, memang remuk rasanya badanku terasa juga, dan dengan
gontai aku masuk ke kamar dan aku juga mandi. Penisku kelihatan merah tua
sekali kepalanya dan sekitar kulit di kepala penis kelihatan agak seperti lecet tapi
aku tidak merasa sakit malah "baal", kebanyakan kali ya. Hmm, kemarin pagi aku
masih perjaka, luar biasa nasibku dalam 2 hari aku main dengan 3 cewek hebat-
hebat. Sambil mandi aku melamun kenapa tidak dari dulu ya, tapi ya sudah
memang jalannya gitu barangkali, batinku.
Setelah mandi aku baring-baring tetap telanjang, tidak ada siap siapa. Maksudnya
menunggu Mbak Icih mandi dan Ibu Etty cs balik, kan aku mesti menelepon
mereka. Eh, baru 3 menit aku ketiduran, bangun-bangun aku kaget sekali karena
sudah tengah malam. Aku bangun dan kulihat Mbak Icih masih nonton TV, hanya
pakai sarung dikembenin t-shirtnya entah kemana. Bahunya kuning bersih dan
pinggang dan pinggulnya seksi sekali dilihat dari belakang.
"Mbak sudah makan?"
"Sudah Mas To, dan tadi Bu Etty ke sini, saya sudah kasih tahu juga, Mas To takut
sendiri."
"Apa kata Bu Etty?" tanyaku ingin tahu.
"Kata Ibu ya sudah temenin saja. Dan mereka katanya mau tidur juga capek."
"Mas To mau makan lagi apa? Mbak gorengin nasi mau, mesti makan telor Mas,
buat nambah tenaga," katanya sambil senyum nakal.
Aku rasanya lesu dan lemas badanku.
"Tidak usah Mbak Icih, aku mau tidur lagi.. tapi Mbak Icih tidurnya ditempat saya
ya.. kan ranjangnya besar sekali."
"Ah malu Mas To.."
"Duh Mbak, apanya lagi yang malu, kan tidak ada siapa-siapa."
"Iya deh Mas To, entar Mbak mau nonton dulu ini sinetron ya.."
Sialan sinetron jelek dia mau nonton, mana ada sih sinetron kita yang bagus, bukan
sekalian bikin film biru munafik deh.
Besoknya pagi-pagi telepon membangunkan aku, "Kringg.."
"Ya hallo," sambutku.
"Oh Toto ini Tante Ida, kamu lagi sibuk tidak? Bisa ke rumah Tante sekarang?"
Kontan saja mendengar suaranya si buyung mulai menggeliat. Dasar ngeres dan
sudah ngerti.
"Tentu Tante, aku ke sana sekarang ya," jawabku dengan gembira ria.
Setiba di rumahnya, Tante Ida sudah cantik berpakaian rapi mau pergi. Aku agak
kecewa dan ia melihat itu.
"To, aku perlu pergi ke kantor Oom mau ngambil gaji. Dan sebentar lagi Ibu Etty
pulang arisan dan dia lupa bawa kunci. Mbak Icih lagi nganter anak-anak ke pesta
temen sekolah Ita. Kamu tidak keberatan kan jagain sebentar, paling seperempat
jam lagi pulang kok Bu Etty," ujarnya sambil memeluk pundakku.
Susunya nyengsol-nyengsol menyentuh lenganku. Uhh, sudah ingin remas saja deh,
dan si buyung sudah separuh naik. Sialan hanya mau diminta menunggu rumah,
batinku. Tadinya aku ingin tidur siang. Capai, habis krida hari ini.
Ya deh Tante Ida, tapi entar aku minta oleh-oleh ya," kataku sambil meraba
pantatnya dan seketika Tante Ida menggelinjang geli dan ia memeluk erat.
"Iya.." desahnya basah di daun telingaku.
"Aduh gelinyaa.."
Si "Ujang" langsung naik. Kumasukkan tanganku dari bawah blusnya dan kuremas-
remas bagian bawah buah dadanya. Biar minta bonus sedikit, dan penisku
kutempelkan di paha atas si tante biar dia tahu aku sudah siap. Tante Ida
melenguh dan, "To, aku mesti pergi, entar telat, kasirnya tutup nih," dan ditariknya
tanganku lembut dan dengan terengah-engah ikut nafsu juga. "To, Tante usahakan
pulang secepatnya deh, kamu sabar ya," lenguhnya berusaha melepaskan
remasanku.
Tapi sambil kepingin diteruskan juga sepertinya. Akhirnya lepas juga sambil
terengah-engah dan parasnya merona merah Tante Ida keluar, jalannya agak
terhuyung-huyung. Aku jamin celana dalamnya sudah basah lembab tuh. Tinggal
aku sendirian. Ya sudah aku ambil majalah lagi dan aku baring-baring baca di kursi
malas di kamar tamu. "Ahh.." aku meronta-ronta dan kok keras amat si buyung
dan terasa disedot-sedot orang. Wah rupanya aku ketiduran dan mimpi, kupikir.
Waktu kubuka mata aku terkejut melihat wajah tak kukenal, dan astaga aku sudah
telanjang bulat. Tanganku terikat ke atas di kursi malas dan penisku sedang
dilumat-lumat. Aku tak tahu siapa satu lagi wanita, aku hanya melihat kepalanya
dan punggungnya telanjang. Kakiku, kakiku, walah terikat juga ke kiri dan kanan
kursi malas. Aku masih setengah mengantuk dan bingung, sakit kepalaku rasanya
terbangun tiba-tiba. Akhirnya aku sadar betul dan ketika kupalingkan muka ke
kanan ada Bu Etty dan dan dia sudah bulat-bulat juga telanjang. "Bu.. saya
diapakan ini," kataku sambil nyengir keenakan. "Diam saja dah kamu," kata Bu Etty
tersenyum Ia bertolak pinggang dan duh buah dadanya menantang betul. Tapi
tanganku tidak bisa mencapainya. Ini siapa Bu semuanya, saya mau diapakan
sih?" Buah zakarku terasa geli sekali digaruk-garuk kuku wanita yang menyedoti
penisku.
Aku menggelinjang geli, dan Bu Etty meraba puting susuku. "Ahh.. enakk.." dan
tersiksa betul rasanya tanganku tidak bisa aktif, sudah ingin betul meremas susu
Bu Etty yang gundal gandul di dekat bahuku. "Ini temen-temen Ibu, To. Bu Endah
dan Bu Inggit. Kita tadi ngeliat kamu ketiduran dan ya seperti Ibu bilang ini temen-
temen ibu itu lho," katanya sambil menggeserkan buah dadanya di dadaku.
Putingnya ditekannya ke putingku. Enak, empuk, hangat, dan seketika aku tambah
bingung, lha tapi kenapa saya diikat. "Ya, kata Bu Etty kan kemarin itu kamu
ngikat Mbak Icih. Ha ha.. ha.. nah kami tadi iseng pengen ngerjain kamu nih To."
Hisapan Bu Endah terasa tambah menghebat, lidahnya berputar-putar di sekitar
kepala penisku dan aku sudah tidak kuat lagi mau meledak. Dan kuangkat
pantatku agar masuk lebih dalam. "Ehh.." Bu Endah malah berdiri dan melepaskan
mulutnya. Wah tergantung aku. Dengan terengah-engah aku bilang, "Bu tolong
dong Bu sedot lagii.. sudah mau muncrat nihh.. Buu.." Bu Endah, Bu Etty dan Bu
Ingit tertawa ramai-ramai, dan aku belum sempat memperhatikan seksama buah
dada mereka kontal kantil terguncang-guncang karena mereka tertawa melihat aku
yang seperti cacing kepanasan. Mataku masih sepet dan berkunang-kunang dari
ketiduran tadi. Bu Ingit kemudian mendekat dan mengangkang. Pantatnya
mengarah ke mukaku dan ia mulai turun sambil memegang batang penisku,
digosok-gosoknya ke mulut liang vaginanya dan aku mendesah lagi, karena enak
sekali dan aku sudah siap meledakkan orgasmeku. Bu Endah menggosokkan buah
dadanya ke mulutku yang langsung kontan saja aku sergap, dan putingnya kuhisap
dan lidahku berputar-putar di kacang keras itu.
Bu Endah merem melek dan kulit buah dadanya yang bening kelihatan garis-garis
hijau biru halus dan meremang pori-porinya. Bu Ingit masih hanya memasukkan
separuh kepala penisku dan senut-senut kempotan bibir mulut vaginanya hangat
dan enak sekali. Aku rasanya mau gila karena kenapa dia tidak memasukkan
semuanya, aku berusaha menaikkan pantatku tapi Bu Ingit selalu menjaga
jaraknya. Kurang ajar, dalam hatiku dan aku rasanya mau menjerit tapi mulutku
disumpal buah dada kenyal. Kuku tajam jari Bu Etty terasa mulai menggaruk di
sekitar duburku dan buah zakarku, menambah kebinalan di dalam otakku yang
sudah tak bisa berpikir lagi. Aku hanya terengah-engah dalam siksaan ketiga ibu-
ibu sexy sintal ini. Bisa dibayangkan, tidak semua mereka telanjang bulat (aku
juga) dan aku tidak bisa semauku. Keningku terlihat kencang mengejang dan urat-
urat dahiku keluar semua. Aku menggeram, "Ahh.. Ayo Buu.. aku pengen, tolong
dong.. masukkin Bu.." Bu Endah menarik buah dadanya dan ia berlutut dan
diturunkannya vaginanya ke mulutku, aku tak berdaya dan bau harum aku rasakan
keluar dan hawa panas hangat dari vaginanya yang lembab.
Aku ulurkan keluar lidahku dan kujilat-jilat, Bu Endah melenguh, "Uuhh sedapnya,"
dan pantatnya maju-mundur menggeruskan vaginanya di atas mulutku. Terus di
gerus-geruskan bibir vaginanya ke mulutku dan terasa cairan-cairan dari dalam
vaginanya meleleh masukk. Lidahku aktif menjilati lubangnya dan klitorisnya yang
sebesar kacang ijo. Bu Etty sih sebesar kacang merah nongol. Bu Ingit sementara
hanya berputar di atas kepala penisku. Telapak tangannya bertopang di atas
pahaku dan sambil meraba-raba dengan halus. Gilaa.. pahaku digarisnya dengan
kukunya yang panjang, "Alamakk.. gelii Bu.."
Bu Etty menungging dan merangkak ke dekat pantatku dan mulutnya mulai
menjilat-jilat daerah yang digaruk-garuknya tadi, sekarang dijilatnya dengan
lidahnya yang hangat, dan buah zakarku dikulum-kulum seperti lagi makan
cupacup dan dijilatnya pelan-pelan seperti orang makan biji salak. Akhirnya aku
tidak kuat lagi dan pantatku kunaikkan, kakiku mengejang. Bu Inggit terkejut dan
cepat ia membenamkan penisku dalam-dalam dan diputir-putirnya pantatnya
sampai kandas dan seketika letupan orgasmeku membanjir deras di dalam vagina
Bu Inggit dan Bu Inggit sendiri menggarukkan klitorisnya di batangku dengan cepat
dan pantatnya yang sintal berputar-putar, sebentar kemudian ia pun menahan
jeritannya, "Ahh.." kemudian diangkatnya naik-turun, aku melihat bibir vaginanya
keluar-masuk merekah belah oleh batang penisku yang basah mengkilap. Bulu
kemaluannya basah kuyup dan bersatu. "Uukhh.. Ahh.."
Bu Inggit kemudian bangkit dan "Plop," bunyi waktu penisku masih setengah
tegang lepas dari genggaman erat vaginanya. Spermaku meleleh sepanjang
pahanya yang putih. Bu Etty masih di bawah situ mengecup buah zakarku dan
tertetes-tetes di pipinya beberapa gumpalan spermaku. Kami terengah-engah
semua dan aku merasa nikmat yang luar biassa. Sepanjang beberapa jam itu aku
gantian ditunggangi oleh Bu Endah kemudian terakhir Bu Etty, karena dia nyonya
rumah jadi terakhir. Aku sendiri di servis demikian merasa sesuatu pengalaman
yang lain dari yang lain. Belum pernah aku dimanjakan oleh 3 wanita sekaligus
begitu. Malam itu aku ketiduran di antara ketiganya dalam keadaan telanjang
bulat.
TAMAT


Admin Mesum - 05.10

Gairah Tetanggaku 05

"Tok tok tok.." ada yang mengetuk pintu samping. Kemudian aku ke situ, Tante Ida
pikirku. Waktu itu aku tidak jadi senang mikir sebenarnya karena aku sendirian bisa
main lagi sama Tante Ida di rumahku. Kubuka pintu, ternyata Mbak Icih membawa
nampan dan katanya, "Mas To, ini dari Tante Ida, beliau ada tamu luar kota mesti
ditemenin ke stasiun jemput saudara, katanya gitu dan ini disuruh makan dan
Mbak disuruh nemenin Mas To sampai selesai makan. Bu Etty dan anak-anak juga
ikut semua." Aku bengong dan kupandang Mbak Icih biasa-biasa saja. Aku ambil
nampan dan kukatakan,
"Tidak usah ditemenin deh Mbak, aku bisa."
"Ah jangan Mas To entar saya dimarahin, lagian di rumah tidak ada orang, saya
rada takut sendirian."
"Lho sudah dikunci belum rumahnya," tanyaku.
"Sudah Mas."
"Iya sudah masuk deh Mbak!"
Aku makan dan Mbak Icih duduk di dingklik nonton TV, biasa sinetron "blo'on"
Indonesia. Tiba-tiba Mbak Icih cekikan pelan, aku lihat di TV pas ada iklan,
Srimulat rupanya. Aku masih mikir soal ketangkap tadi. Akhirnya aku ngomong to
the point .
"Mbak Icih jangan cerita siapa-siapa ya soal tadi di kamar Bu Etty."
"Oh itu tidak apa-apa kok Mas To, di rumah situ mah bebas saja. Hanya saya ya
kaget saja karena tadi saya kira tidak ada orang."
"Maksud Mbak gimana, bingung aku."
"Oh gini loh Mas To. Kalau laki perempuan kan lumrah suka gituan."
Aku jadi tambah bengong saja, ini orang ngomong apa sih.
"Mbak Icih kan sudah pernah kawin.." lanjutnya sambil senyum-senyum.
Dan di dingklik itu ia duduk sambil cerita sedikit sembarangan, sehingga sarungnya
tersingkap di tengah. Aku menangkap pemandangan itu kelihatan betisnya, eh.. ini
orang mulus juga. Biasanya orang dari desa suka kurang terawat, aku sekarang
jadi melihat secara sadar, wah ini orang boleh juga.
Aku tidak jelas umurnya berapa, tapi orangnya rapi dan feminin. Buah dadanya
kulihat naik-turun di balik kaos lusuh pemberian majikannya, barangkali kira-kira
separuh Bu Etty dan Tante Ida deh. Si "Ujang" di balik celanaku terasa mulai
bergerak-gerak lagi. Waktu itu sudah jam 07.00-an rasanya. Selesai makan aku
sikat gigi di kamar mandi dan kudengar Mbak Icih beres-beres dan cuci piring.
Keluar dari situ, kulihat Mbak Icih masih nyuci dan kupandang dari belakang. Mak..
pantatnya molek di balik ketatnya sarungnya itu tampak jelas. Aku berdiri di
sampingnya dan kami saling memandang dan seperti ada kontak hati saja.
Suasananya terasa seperti ada listriknya antara kami, dan aku ulurkan tanganku
meraba pantatnya dan naik ke pinggangnya. Kupeluk dari belakang dan
kumasukkan tanganku ke depan di bawah kaosnya, terasa BH-nya yang kasar
menutup buah dadanya. Aku remas-remas dari luar BH-nya, dan terasa pantat
Mbak Icih mundur merapat ke penisku bergeser-geser. Kucium kuduknya dan ia
menggelinjang.
"Entar dulu Mas To, piringnya pecah entar," ujarnya perlahan.
"Taruh saja dulu," jawabku.
Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak tanganku, kedua puting
susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak Icih lemas dan bersandar
ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang keras dan menusuk dari
dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan tanganku dan kulepaskan sarungnya dan
jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal celana dalamnya dari kain bekas terigu itu.
Tangan kananku masuk dan telapak tanganku menangkup di atas vaginanya,
tangan kiriku masih meremas-remas buah dadanya. Celana dalamnya longgar dan
kudorong ke bawah sampai ke lututnya dan kutarik dengan jari kakiku sampai
turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak Icih juga diulur ke belakang dan
mencengkeram batang yang membara sambil ia mendesah kegelian. Kulihat lengan
atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya dia. Aku turunkan celanaku dan
kemudian kuangkat pahanya sebelah dan kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir
bak itu.."
Jadi sekarang vaginanya pas terbuka di depan penisku yang sudah mengacung ke
atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas masukin!" Aku hanya maju-
mundur mengarukkan penisku di sekitar pantatnya dan lubang vaginanya.
Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih berusaha
menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah kencang
desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya dari depan sambil
berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo dong..
masukin..!" keluhnya. Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak
tanganku kedua puting susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak
Icih lemas dan bersandar ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang
dengan keras dan menusuk dari dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan
tanganku dan kulepaskan sarungnya dan jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal
celana dalamnya dari kain bekas terigu itu. Tangan kananku masuk dan telapak
tanganku menangkup di atas vaginanya tangan kiriku masih meremas-remas buah
dadanya. Celana dalamnya longgar dan kudorong ke bawah sampai ke lututnya
dan kutarik dengan jari kakiku sampai turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak
Icih juga diulur ke belakang dan mencengkeram batang yang membara sambil ia
mendesah kegelian, kulihat lengan atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya
dia. Aku turunkan celana dalamku dan kemudian kuangkat pahanya sebelah dan
kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir bak itu." Jadi sekarang vaginanya pas
terbuka di depan penisku yang sudah ngacung ke atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas, masukin!" Aku hanya maju-
mundur menggarukkan penisku di sekitar pantatnya dan nyundul-nyundul lubang
vaginanya. Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih
berusaha menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah
kencang desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya di depan
sambil berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo
dong.. masukin.." Keluhnya mendesah-desah basah suaranya, menambah seru dan
panas. Aku lepas t-shirt-ku dan kaos Mbak Icih, BH hitamnya yang sudah
tersingkap kurengut dan telanjang bulatlah kami.
Aku terus sengaja hanya menciumi dan menggigiti telinganya, dan tiap kali
merinding bulu tengkuknya, kelihatan pori-pori lengannya meremang dan ia
menggelinjang geli. Penisku tergosok-gosok celah di antara bukit pantatnya tiap ia
menggelinjang. Kupeluk terus dari belakang dan pahanya masih tetap di atas bak
yang sebelah. Penis kugaruk-garukkan ke tepian lubangnya dan banjir cairan kental
dari lubangnya tambah banyak, berkilap-kilap mengalir di sepanjang paha yang
satu. Ia mencoba lagi menggapai penisku tapi aku mundur dan tetap kupelintir
klitorisnya dan kugosok-gosok lembar dalam bibir vaginanya dengan ujung kuku.
Mbak Icih tambah panik dan keluhannya seperti orang yang sudah mau menangis
kepingin sekali. "Ahh Mas To, ayo dong masukinn Mass.. Mbak tidak kuat lagii.."
kepalanya digoyang-goyangnya ke kanan ke kiri (katanya, orang ekstasi juga gitu
ya).
P.S: Aku memang lagi iseng ingin eksperimen setelah dicakar, dicekik kepala
penisku sama Bu Etty pertama kali, pas aku mau muncrat itu.. memang loh bener
lebih enak, gayanya kalau tidak langsung digebrusin muncrat, dan kalau high
dengan narkoba gitu ya. Amit-amit, aku tidak pernah mencoba sekali juga (habis
menurutku goblok tuh yang main narkoba dan obat batuk hitam, apa urusannya, ya
aku yang ngetik).
"Iya.." Mbak Icih membisikkanku dekat sekali telinganya dan mengembus ke
lubang, kugigit juga sedikit anak telinganya. Kumasukkan sedikit dari bawah
penisku ke mulut lubang vaginanya dan kupegang batang panisku dan kuputar-
putar di gerbang itu tanpa aku dorong masuk. Mbak Icih berusaha memasukkan
lebih dalam tapi kutarik kalau dia agak turun. "Mass.. jangan disiksa dong..
tusukkin tusukkinn.." jeritnya agak keras. Aku kaget juga, gila ini Mbak. Nafsunya
sudah tidak terkendali lagi. Ya sudah aku masukkan setengah dan kugoyang
pinggulku dan ia juga segera naik-turun. Tangan kiriku meremas-remas buah
dadanya dan sambil memulir-mulir puting susunya yang sudah keras seperti kerikil.
Erangan Mbak Icih menambah erotisnya, dan busyet.. empotan vaginanya bukan
main, beda sekali dengan Bu Etty atau Tante Ida, agak kering tapi tetap enak
sekali. Kepala penisku terasa digenggam beludru dengan mapan sekali. Berkunang-
kunang rasanya mataku, kugigit lagi sedikit pundaknya sambil kuciumi terus
kuduknya. Tangan Mbak Icih menjulur ke belakang dan meremas-remas bukit
pantatku, sementara tanganku satu lagi juga tidak menganggur memoles-moles,
kupetik-petik biji klitorisnya yang tambah nongol keluar. Gila ada sebesar kacang
Garuda yang belum dikupas. Terasa keluar dari lubang sisi atas vaginanya, keras-
keras empuk. Mbak Icih tambah menggerung-gerung, "Ahh.. ahh.. Mas Mass.." dan
tiba-tiba ia turunkan kakinya dari bak dan menarik pantatku dan masuklah amblas
sedalam-dalamnya penisku. Pantatnya menempel rapat sekali. Terasa lincir karena
keringat kami yang sambil berdiri mengalir. {Bau badan Mbak Icih itu seperti bunga
melati, sama dengan orang Cendana suka melati dia ini). Bersih, biar dia orang
dari kampung tapi sepertinya mengerti kebersihan badan.
Bersambung ke bagian 06


Admin Mesum - 05.07

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved