;

Rabu, 04 Januari 2017

Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 04

Rabu, 04 Januari 2017

Lanjutan..

Saya kemudian menutup pintu dengan tangan siku yang ada karena kedua tangan harus memegang dua kaleng bir. Saya kemudian duduk tepat di samping Marin yang hanya bisa senyum-senyum saja melihat wajah lugu saya. Ia menganbil kaleng guiness yang ada di tangan saya dan langsung duduk di atas pangkuan saya.

Dengan pinggiran payudara yang menyapa dari tengah kemeha serta hangatnya bokong Marin, kontak penis saya langsung berinteraksi dan mengeras. Keadaan itu rupanya disadari betul oleh Marin yang kemudian mengecup kening saya.

“Nakal ya...” ujar Marin singkat sambil kemudian membuka  kaleng botol dan kemudian meminum isu guiness sampai habis. Sempat tersengal-sengal, namun akhirnya Marin melemparkan kaleng yang ada ke salah satu sudut ruangan.

“Aku masih haus...” ujar Marin yang kemudian berusaha untuk melepaskans selruh celana saya. Entah mengapa saya berinisiatif untuk membuka kemeja saya setelah meletakan kaleng guiness di sisi sofa. Namun rupanya Marin tak suka dengan apa yang saya lakukan. Ia menarik tangan saya yang sedang melepas kancing dan menyerahkan kaleng bir saya.

“yang bawah aja, biar ga riber. Kemeja stay on. That is the rule! Enjoy your beer while i enjoy your dick. Anggep aja hadiah kenikmatan malem persami,” tambah Marin tegas sambil terus menatap saya dengan senyum sembari tangannya menurunkan celana dalam putih yang saya kenakan.

Marin akhirnya mengalihkan pandangan ke arah penis saya. Ia meletakan ibu jari, telunjuk dan jari tengahnya di kepala penis saya dan memijat-mijat lembut. Saya benar-benar tak tahan karena kepalan penis saya memang daerah yang sangat mematikan.

Untuk mengalihkan perhatian sejenak saya membuka guiness saya dan kemudian menenggak secara perlahan. Tenggakan saya rupanya dibarengi dengan belain lembut menyeluruh ke seluruh batang penis serta buah zakar saya. Marin benar-benar bermain dengan lembut kali ini. Saya yakin ia tak pernah melupakan batang kenikmatan saya yang telah membuatnya mengurangi jatah dengan sang suami.

Seteguk demi teguk saya nikmati guiness di genggaman. Sementara Marin mulai menjilati kepalan penis saya. “aahhh...duuhh...” erang saya karena tepat ketika itu, Marin berusaha untuk menaruh ujung lidahnya ke lubang penis saya dan itu terasa sangat nikmat.

Tak tahan dengan perlakuan Marin saya berusaha untuk mengelus-ngelus rambutnya dan dengan halus mendoro kepalanya untuk masuk lebih dalam. Namun ia menahan-nahan. Tampaknya Marin tak ingin terburu-buru.

Tanpa pernah terpikir di kepala saya, tiba-tiba tangan saya bergerak menumpahkan sedikit bir yang tersisa ke daerah penis saya saat Marin masih mengulum buah zakar saya. Marin terkejut namun masih menyempatkan diir untuk tersenyum. Tumpahnya bir membuat ia semakin liar dan membersihkan alkohol tersebut dengan lidahnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Setiap cm dari penis saya tak pernah lepas dari sedotan bibir tipis manisnya.

Ini merupakan pertama kalinya saya mendapat oral dari Marin. Mengingat perjumpaan pertama di Kolam kami bermain langsung. Saya memang sempat mengecup vaginanya namun tidak lama.

Ketika Marin masih asik dengan penis saya, saya berusaha untuk menghentikan permainannya. Saya takut pertahanan ini jebol. Saya memutuskan untuk total rebahan di sofa dan meminta untuk Marin duduk di atas muka saya. Sama seperti yang saya lakukan di kolam beberapa waktu yang lalu.

Marin menyambut ide saya dengan antusias. Tanpa pikir panjang ia tenggelamkan vaginanya dihadapan muka saya. Saya yang juga tak kalah antusias langsung memberikan kecupan-kecupan manja di depan celah senggama tersebut.

Harus diakui bahwa vagina Marin benar-benar indah. Tanpa bulu dan masih rapet seperti gadis meski sudah memiliki anak gadis. Harumnya pun benar-benar membuat saya betah berlama-lama menjulurkan lidah saya menyapu pinggiran vaginanya.

“Ah gila enak di...hmmm...” desah Marin sambil memajumundurkan pinggulnya yang semakin membuat gesekan.

Pengetahuan yang saya dapat mengenai letak klitorisnya tak pernah saya lupakan. Saya langsung menyambar pusat kenikmatan Marin tersebut dan memainkannya dengan lidah saya. Tak lupa saya hisap-hisap.

Setiap hiasan rupanya berakhir dengan tekanan tubuh Marin ke muka saya semakin kuat. Di situ saya mulai sadar bahwa Marin benar-benar suka dihisap. Tahu buruannya telah terperangkap tak berkutik saya semakin menggila, saya terus hisap dan sedot klitoris tersebut hingga wajah saya bener-bener tertekan dan tak bisa bernafas.

“Aahhhhhh” teriak Marin panjang namun tak membuat saya panik mengingat kantor tengah kosong.

Secara perlahan saya mudah merasakan terdapat cairan yang menuju lidah saya dan menjurus kemulut saya. Saya sadar bahwa Marin telah mencapai orgasme pertamanya. Siang itu. Marin benar-benar kelelahan dan memutuskan untuk rebahan di atas saya. Saya hanya bisa memeluknya dan sesekali mengecup bibirnya.

“Makasih ya papi...ini pertama kalinya aku orgasme dari oral. Kamu emang hebat...”

Mengetahui Marin sudah bisa menyusun kata-kata, saya tak membalas. Saya langsung membalikkan keadaan dan ia berada di bawah. Kami masih sama-sama menggunakan kemeja. Namun Marin  menolak maksud saya.

“Aku aja yang di atas. Lagian kalau kamu di atas, nanti dada ku di anggurin lagi.” Ya saya mulai sadar bahwa saya belum menggarap dada Marin. Dada besar yang sedari tadi sudah menggoda saya. Akhirnya saya kembali di bawah dan Marin di atas.

Kali ini saya memutuskan untuk tenang dan berdiam diri. Saya persilahkan Marin untuk mengarahkan penis saya ke vaginanya. Marin mengatakan bahwa dirinya masih belum sesuai dengan penis yang menurutnya besar. Dalam grup kami, Marin pernah mengatakan bahwa diametre penis saya dua kali lipat lebih besar dari Rei sang suami.

“Ah gila penuh banget Di sumpah......padahal gua udah basah nih...hmmm”ujar Marin sambil memejamkan mata dan menahan napas.

Saya kemudian bangun dari tidur sehingga kami sama-sama duduk berhadapan. Saya mengecup bibir manisnya dan berlanjut ke kecupan yang semmakin memanas. Saya tak lupa meraba seluruh payudaranya. Namun rupanya gerakan saya membuatnya semakin ngilu.

“aduh di....Di apa-apan sih udah deh aku aja...perih nih...”ujar Marin yang saya tak pedulikan.

 Saya raba dari puting lalu melebar dan berujung dengan genggaman yang memang tak pernah cukup. Namun saya raba payudaranya dengan kuku yang tak terlalu menancap. Membuat Marin kian merinding dan melupakan penis saya untuk sesaat.

Saya kemudian mengarahkan kembali kecupan ke arah payudaranya dan semakin membuat Marin menjadi-jadi. “Hmmm enak di...ahhh...hmmm”

Kulalap habis semua itu sampai akhirnya mendadak kupaksakan penis ku untuk masuk seluruhnya...Marin tak semarah tadi dan hanya menggigit kecil pundak saya. Saat saya diamkan sejenak, Marin membisikan pujian yang semakin membuat saya percaya diri.

“Iihh...nakal ya....tapi pinter juga. Udah rebahan lagi.”

Marin memulai gerakannya dengan maju mundur. Sebenarnya gerakan ini tak terlalu nikmat tapi lumayan karena serasa batang saya dikoyak-koyak. Dengan sedikit inisiatif dan pengalaman Marin mulai membuat variasi gerakan. Dari sekedar maju mundur ia goyang ke kiri dan kanan semua ia lakukan berlawanan arah kiri kanan depan belakang tentunya dengan hentakan yang keras. Itu tak hanya membuat penis saya merasa di pijit tetapi juga merasa seperti diremas-remas.

“Gila penuh banget...eh nanti kelluarin di mulut ku aja ya...” ujar Marin sambil mengecupbibir saya.

Saya terus terang agak bosen dengan bertindak pasif. Akhirnya saya berusaha untuk menaik turunkan pinggul dan kemudian membuat Marin semakin belingsatan campuran antara nikmat dan ngilu.

“Ahh...di...pe...lan pih ahh...ahh..hmmm.ashhh...hmpff” ujar Marin terbata-bata karena tempo yang saya mainkan semakin cepat dan semakin keras...Marin benar-benar tak bisa mengendalikan suaranya dan beberapa kali berteriak...namun beruntung bagi saya karena kantor tengah dalam keadaan kosong.

15 menit dengan posisi tersebut Marin kembali orgasme. Kini terdapat sensasi yang sangat aneh saya rasakan. Penis saya serasa ditarik ke dalam rahimnya.Marinpun akhirnya kembali rebahan di pelukan saya...namun saya tak mau tinggal diam. Saya gendong Marin dengan keadaan penis masih berada di vaginanya dan memintanya untuk duduk di atas meja kerja saya. Dengan begitu saya akan menyetebuhi dirinya dengan mudah...

“gila ya kamu...aku masih cape nih dii...tahan bentar aja...”

Tahu Marin masih kelelahan dan akan bertindak pasif, maka saya lagi-lagi memtuuskan untuk menjalankan andalannya dengan menggepur payudara Marin. Hasilnya cukup efektif karena Marin mulai menyilangkan kakinya di pantat saya.

Mendapat angin segar sayapun akhirnya memutuskan untuk melakukan gerakan maju mundur...namun baru beberapa gerakan kami bercinta, tiba-tiba pintu ruangan saya terbuka. Say ahanya bisa menoleh ke belakang karena masih belum mau melepaskan penis saya sementara Marin berusaha untuk mengintip siapa yang ada di balik pintu.

Rupanya ia Tania. Tania terkejut dengan pemandangan yang ia saksiksan. Namun karena pentingya misi yang ia bawa. Ia memutuskan untuk memasuki ruangan saya dan menutup pintu. Saya kemudian melepaskan penis saya dari vagina Marin dan menutupinya dengan kemeja seadanya. Saya tahu Tania pasti sempat melihat penis saya secara utuh..

“duuh” ujar Marin sejalah dengan keluarnya penis saya.

“Maaf mas saya nggak tahu...tadi anak-anak mintah saya nyusul mas. Tetapi mas saya telpon nggak di angkat...apa mau saya bilang kalau mas nggak bisa dateng..” buka Tania tenang karena ia memang merupakan wanita yang tenang..

“Oke. Bilang aja gitu...eh Tan. Jangan bilang siapa-siapa ya...”

“Baik mas, saya pergi dulu...mari bu Marin...oh ya pintu depan saya kunci deh...yang depan ya mas...” ujar Tania yang disambut hangat oleh Marin...Marin dan Tania memang saling mengenal. Sebagai asisten saya Tania memang dekat sekali dengan Dena anak saya . itu membuatnya juga sangat dekat dengan Marin dan Amel.

Setelah Tania pergi saya pun melanjutkan urusan bisnis dengan Marin. Saya kembali memasukkan penis saya ke dalam vaginanya. Entah mengapa setelah orgasme dua kali, tetap sulit rasanya utnuk menerobos liang senggama itu. Saya rasa masalahnya bukan di penis saya melainkan memang vaginanya yang sangat menggoda dan sempit itu yang membuat semuanya berjalan dengan sulit dan lama.

Usai penis saya kembali tenggelam, Marin dengan senyumnya menyubit kedua pipi saya dengan mesra..”Makannya kalau mau main di kunci dulu dong pintunya sayang...”saya pun hanya bisa tersenyum mengakui kesalahan...

Marin kemudian menlumat bibir saya sambil memaju mundurkan pinggulnya meski kurang maksimal karena kondisi duduk di atas meja. Tetapi saya bisa membantu gerakan Marin dengan terus memaju mundurkan...

Marin hanya bisa mengerang kenikmatan dan saya juga terus memancingnya untuk teriak. Semua tersebut saya lakukan mengingat Tania sudah berjanji untuk mengunci pintu depan yang menutup akses lantai ke arah ruangan saya.

“Ahhh fuck me har...der Di....im your wife now...ahhh hmmpfff”

“Say my name baby say it loudly....”pancing saya...”Rinaldi fucck meee...please... im yours...fuck mee...i like your dick.. verrryry much..”

Ujar Marin semakin meracau...setelah cukup lama kami bermain dengan posisi yang sama akhirnya Marin memeluk saya dengan erat... dan menggigit pundak saya... kembali saya rasakan sedotan ke dalam rahimnya di penis saya dan saya mulai sadar bahwa Marin sudah kembali orgasme...

Saya yang tak peduli masih terus menggenjotnya. Namun sensasi sedotan dari arah rahim tadi membuat saya tak bisa menahan gejolak. Penis saya seolah ingin memuntahkan sesuatu dari dalam. Saya langsung mencabut penis saya dengan kencang dan membuat Marin semakin berteriak kencang.

Marin sadar saya segera orgasme dan memutuskan untuk berletut...tak ingin mengurangi tempo tinggi yang baru saja saya tinggalkan, Marin mengerahkan tangannya untuk mengocok penis saya. Ia mengocok dengan keras dan mengarahkannya kedalam mulut...sayapun langsung menjadikan mulut Marin sebagai objek...saya maju mundurukan dengan cepat layaknya saya tengah menyetebuhi baginanya. Tak beberapa lama saya mengeluarkan cairan yang diharapkan oleh Marin....Marin dengan gelagapan menerima semprotan saya dan sempat tersedak...

“Ugh...hoak...mmmm....”ia kemudian menelan semua cairan saya...

“Enak di....sesuai harapan...makasih ya papi sayang...” peluk Marin... saya dan Marin akhirnya berebahan di lantaik dengna posisi Marin di atas saya...kami berpelukan dan berciuman layaknya sepasang suami istri...

“Kamu cari pacar gih...biar ga sendiri lagi...kasian Dena tuh...butuh ibu....penismu juga kayaknya masih haus kasih sayang,,” ujar Marin bijak sambil tersenyu,...sekian dulu ya...


Anda sedang membaca artikel tentang Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 04 dan anda bisa menemukan artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 04 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2017/01/menjadi-liar-setelah-15-tahun-menduda_89.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 04 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 04 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 21.42
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved