;

Rabu, 04 Januari 2017

Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06

Rabu, 04 Januari 2017

“Wah Ibu Riana langsung yang jemput...jadi nggak enak nih ya kita ngerepotin..” ujar saya ramah sambil cipika-cipiki dengan Riana yang kemudian disusul oleh Tania...

“Ah bisa aja Pak Rinaldi...cocok banget sih berdua udah kaya pasangan aja....” balas Riana tak kalah ramah yang kemudian hanya disusul dengan tawa tanggung dari saya dan Tania..

Kami menuju hotel ke dengan menggunakan mobil...saya duduk di belakang supir sementara Tania berada di samping saya...Riana? ia duduk di depan sambil beberapa kali mengecek hapenya... terlihat pahanya yang mulus karena kali itu Riana tampil dengan pakaian yang sangat santai. Hot pants serta kemeja tanpa lengan sangat membuat leher jenjang putihnya terlihat mempesona jika dilihat dari belakang.

Mungkin agan bertanya-tanya mengapa partner bisnis sekelas saya hanya disambut dengan pakaian santai tersebut. Sejatinya perjalanan ini memang perjalanan senang-senang. Perusahaan Riana mengundang kami dan partner mereka lainnya untuk merayakan ulang tahun perusahaan..tak ada rapat, tak ada bisnis...hanya senang-senang..

Tapi harus diakui saya tak begitu tertarik...dari rundown acara yang tertera di undangan...saya tak menemukan suatu hal yang bisa membuat senang-senang. Sama sekali tidak.

Sesampainya di hotel kami diantarkan langsung ke dalam kamar oleh Riana. Saya dan Tania menggunakan kamar yang berbeda namun bersebelahan dan dihubungkan dengan pintu penghubung.

Sebelum meninggalkan kami Riana menanyakan rencana kami malam ini...karena acara dari perusahaan Tania hanya sampai delapan malam dengan acara makan malam...sebenarnya Tania menyarankan saya untuk istirahat. Tetapi saya menolak...saya mengatakan bahwa ingin berenang dan memutuskan untuk mengajak Tania.

Kini giliran Tania yang menolak. Di hadapan saya dan Riana, Tania menjelaskan dirinya tak memikirkan untuk berenang dan tak membawa pakaian renang. Namun dengan santai Riana menjawab.

“Pakai pakain dalam saja mbak...kalo malu maleman aja jam 10...di sini udah sepi kok kolam renangnya jam segini..” ujar Riana. Tania yang mendengar tersebut langsung sumringah sementara saya tak berpikir apa-apa karena hanya menganggap akan ditemani oleh dua wanita saat berenang...

Malamnya benar-benar makan malam yang membosankan...kami semeja dengan Riana dan salah satu asisten wanitanya. Jujur saya sama sekali tak tertarik. Oh ya gan, Riana memang mendapat tugas untuk menemani kami selama acara karena kami memiliki kedekatan setelah beberapa proyek besar. Bahkan Riana terang-terangan megngatakan bahwa kami adalah partner terbaik perusahaan mereka di dua tahun terakhir.

Tapi kalau boleh jujur,, rasanya itu hanya lip service biasa. Sebagai pebisnis, jika memang mereka puas dengan jasa kami..seharusnya mereka berani mengeluarkan dana lebih besar dari investasi satu keinvestasi selanjutnya. Sementara kenyataanya memang terdapat peningkatkan namun jumlahnya tak terlalus signifikan.

Tepat pukul 10 saya memutuskan untuk ke kolam renang terlebih dahulu. Saya ingin melakukan beberapa putaran karena renang memang membuat saya rileks meski harus mengeluarkan banyak tenaga.

Mendadak saya dikejutkan dengan sapaan dari Tania.

“Kok saya ditinggalin sih mas?” ujar Tania halus ketika saya berada di pinggir kolam dan masih ngos-ngosan.

aku tak menjawab. Ku perhatikan Tania kemudian melepaskan jubah mandinya dan menunjukkan betapa indahnya tubuh tania... seperti yang disarankan Riana, Tania menggunakan BH sehari-hari...namun ukurannya terlalu kecil sehingga tak bisa menutupi sisi luar payudaranyanya...saya terus memandanginya ke arah bawah...perutnya yang rata benar-benar mempesona...semakin terkejutnya saya ketika melihat Tania rupanya menggunakan G-String. Ia kemudian membalikkan badan dan menunduk untuk meletakan pakaian mandinya ke tempat berbaring di pinggir ...sesaat saya mendapatkan pemandangan surga. Bongkahan pantatnya yang sesuai dengan genggaman dan cukup kencang seolah menantang saya untuk bangkit dari kolam dan meremas bulatnya benda tersebut...namun yang tak kalah hebat, sepintas saya melihat adanya rambut dari arah depan gstring yang ia gunakan, secara tak sengaja saya mendangak... namun semua pemandangna itu hilang ketika Tania mendadak membalikkan badan.

“Ih ditanya juga Mas...malah bengong...kayak gak pernah liat yang beginian aja...” goda Tania sambil menceburkan diri dan berada di sampingku...

“Emang belum pernah...” ujarku singkat sambil berusaha menenangkan penis ku agar tak terlihat Tania. Bagaiamanpun saya terus menghormati sekretaris saya sebagai sosok yang sudah menikah dan bertanggung jawab dengan keluarga.

“Halaah...waktu itu ngapain di ruang kantor sama Bu Marin...hihihi” ujar Tania yang membuat keadaan sedikit canggung.

Kecannggungan tersebut langsung hilang ketika Riana datang dengan balutan bikini yang sangat menggoda. Saya tak pernah membayangkan bahwa niatan saya untuk rileks justru menjadi sangat merepotkan karena harus menjaga penis saya untuk tetap tenang.

Riana datang sambil diikuti pelayang yang membawa seember es dan tiga buah gelas cantik. Sementara Riana menenteng sebotol anggur merah yang mereka rencanakan untuk kami berminum ria.

Riana,s aya dan Tania akhirnya hanya menghabiskan malam di pinggir kolam meski tak keluar dari kolam...secara sembunyi-sembunyi saya berusaha untuk mengintip isi dari bikini biru muda yang digunakan oleh Riana...dadanya cukup membusung meski ukurannya tak jauh berbeda dengan Tania...

Saya jug amemperhatikan bahwa Riana beberapa kali sengaja menggesekan dadanya ke lengan saya...tentu ia membuat hal tersebut seolah-olah tak sengaja...gelas demi gelas mulai kami lahap bertiga...akhirnya dan sangat disayangkan Tania memutuskan untuk ke kamar terlebih dahulu karena dirinya harus bangun pagi untuk mempersiapkan segalanya untuk saya...

Itu membuat saya dan Riana hanya berdua...kami terus mengobrol masalah bisnis namun percakapan kami mulai diselingi dengan jeda-jeda panjang yang menandakan bahwa otak kami sudah tak berjalan dengan semestinya karena ini sudah memasuki botol kedua kami.

“Mas, kayaknya burungnya mau keluar tuh dari tadi ngacung terus...” ujar Riana sambil terus menatap burung saya yang menonjol di balik celana dan masih berada di air...kontan percakapan tersebut membuat saya terkejut dan terdiam...

“buka aja pak...kasihan kayanya keteken...” timpal Riana sebelums aya berusaha membalas pertanyaan awal....saya yang masih belum mabuk betul-betul masih menahan diri karena bagaimanapun juga Riana adalah partner perusahaan saya dan saya tak bisa melakukan itu...

Tak saya jawab akhirnya Riana memutuskan untuk melakukan tindakan yang saya tak duga-duga...ia mengarahkan kedua tangannya dan terlihat kesulitan membuka bh yang ia kenakan. Sejurus kemudian saya dapat melihat payudara indah yang dimiliki oleh Riana. Berbeda dengan Marin, puting yang dimiliki oleh Riana jauh lebih pink. Hebatnya lagi ukuran puting Riana jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Marin.

Riana terus meraih kedua tangan saya untuk meraih dadanya. Sesuai dengan genggaman saya. Ini yang saya suka...saya memiliki seluruh kontrol terhadap dadanya.

“Hmmm...ahhhh...shhhh enak mas....aduhhh...shhhhh” ujar Riana yang boleh dikatakan agar berlebihan. Akhirnya saya memutuskan untuk melumat bibirnya...siapa disangkan gerakkan saya tersebut rupanya membuat Riana semakin memanas.

Tanpa melepaskan aksi saya di dadanya kami terus berpagutan. Saling gigit dan bersilat lidah...kami benar-benar di bawah pengaruh nafsu dan alkohol...saya kemudian melumat payudara sebelah kirinya sambil puting sebelah kananya saya pelintir.

Ujung lidah saya mengelilingi sekitaran putingnya...itu membuatnya menggelinjang tak karuan...terlebih lagi ketika lidah saya benar-benar menyentuh ujung putingnya yang sudah mengeras...

“Fucckkkkkkk” teriak Riana yang sempat membuat saya panik...

“Quickie di ruang bilas aja yu....mas..nggak enak kalau ada yang liat dari atas atau dari mana” minta Riana yang kemudian langsung saya turuti...konyolnya saya naik ke atas kolam renan gdengan kondisi menggendong Riana hadap-hadapan...terlebih lagi Riana tak mengenakan BH. Ia hanya bisa menggemgam bhnya sambil menyilangkan kaki di pinggul dan tangan di leher. Setelah mengambil handuk kami berusaha ke ruang bilas dengan posisi yang sama...

Di sana saya langsung membiarkan Riana kembali berdiri... ia memutuskan untuk melepas celananya dan begiti jgua dengan saya.

“Astagah mas...gede banget!” ujar Riana terkejut ketika berbalik badan dan melihat penis saya.kami kemudian kembali berciuman dengan ganas. Namun terdapat sebuah perbedaan...jika sebelumnya tangan kami aktif mengeratkan tubuh satu sama lain..kali ini kami berusaha untuk menyentuh kemaluan lawan masing-masing...

Tangan saya berusaha untuk menjamah daerah kewaintaanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus...sama sekali jarang dengan bulu...jika biasanya saya ramah dengan vagina wanita namun kali ini tidak. Saya berusaha memasukkan dua jari untuk mencari klitorisnya... saya langsung memainkannya dengan sekuat tenaga untuk menimbulkan reaksi yang tak bisa iahindarkan...

“Masss ah....masukin lagi mas jarinya mas....teken teken memekku mas....” ujar Riana sambil melepaskan ciumannya....sementara tanganya tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa meremas kemaluanku...

Aku berusaha untuk memasukkan jari tengah dan jari telunjuk lebih dalam...inci demi inci membua t pinggul Riana terus menangkat dan mulutnya terbuka lebar tanda kenikmatan sementara matanya hanya bisa tertutup sayu....

Tak lama kemmudian dinding vagina Riana menyedot dua jariku....tubuhnya langsung menegang dan sesaat kemudian melemas....Riana nyaris terjatuh beruntuk saya mampu menopangnya dengan jari yang masih berada di vagina...saya rasakan betul cairan yang cukup deras mengalir dari dalam vagina Riana menandakan orgasmenya....

Tanpa menunggu lama saya langsung memalikkan tubuh Riana...ia sedikit menungging dengan bertumpu pada tembok....tahu dengan apa yang saya maksud, Riana yang masih ngos-ngosan dengan santainya melebarkan kakinya...

“Masukkin punya kamu sayang...tanpa ampun...aku siap menerima...pasti puas banget deh main sama kontol kamu...” ujar Riana dengan kata-kata yang tak pernah saya bayangkan keluar dari wanita manis ini...

 saya yang tak sabar langsung memmasukkan seluruh penis saya tanpa ampun seusai permintaanya...jika Marin saja membuthkan waktu yang pelan-pelan kini Riana saya tikam secara langsung...namun Riana malah berteriak...

“Aduhh...gilaaa...ampun mas ampun....tahan-tahan....sakit banget ah....sebentar-sebentar jangan goyang dulu....” ujar Riana seperti mengilu....

Setelah bisa mengatur nafas kini giliran saya berusaha untuk memaju mundurkan penis saya...

“Ahhh...pelan ya sayang....ehmmm...iya gi...hmmmm...ehhh...shhh enak mas....”

Perlahan desahan yang dikeluarkan oleh Riana berubah menjadi erangan yang semakin keras terdengar...sekitar lima belas menit kami mempertahankan posisi ...namun kali ini Riana bertindak semakin liar...ia mementokkan pantatnya terus ke tubuh saya dan menghentak-hentakannya...semakinkeras hentakan yang ia buat bahkan menyaingi tempo yang saya ciptakan...

“Mas aku mau keluar lagi...” mendengar itu saya tak tinggal dia...saya kembali ingin melihat Riana kelojotan dan memutuskan untuk terus memompa dengan tempo yang ta kalah cepat. Akhirnya Riana menyerah...pertahanannya harus berakhir di sini...

“”Aahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh...mas aku keluar....nggak kuat mas....” ujar Riana yang kemudian terkulai lemas....

Singkat cerita saya langsung membawa Riana ke kamar saya....saya masih enggan melepasnya karena saya sebenarnya juga belum mengalami orgasme... setelah membaringkan Riana saya berusaha untuk membuka lebar selangkanganya namun Riana menolak...

“Mas please nanti aja ya...masih sakit banget nih...rasanya kebas...kamu tadi kenceng banget sih...”

“Maaf ya sayang...kamu oralin aku aja deh,,mau ya” bujuk saya sambil menyubit putingnya yang masih menegang dengan gemas...

“Ihhh bandel....anggep aja ini servis dari perusahaan untuk kamu ya mas....”

Sebenarnya isapan Riana tak terlalu spesial gan.bahkan saya nyaris turn off. Sebelum akhirnya Riana mengeluarkan jurus mematikan. Ia mengurut batang kemaluan saya yang sudah tegak dengan giginya...ya...jika agan-agan tak suka dengan gigi yang menyentuh penis maka yang ini berbeda.

Riana menggunakan dua gigi terdepan yang atas untuk menyapu penis saya dari paling bawah hingga menuju kepalannya...sampai kepala ia mengigit kecil kepalan penis saya yang menimbulkan sensasi menggilakan....

Terus ia ulangi secara perlahan hal tersebut. Urat-urat saya semakin menegang bahkan sesaat terasa ingin mengeluarkan lahar putih...namun saya batalkan..saya minta Riana untuk melakukan penetrasi kembali...

“Sumpah mas....aku masih kebas nihh...”

“gini aja deh...kamu aja yang di atas. Kamu yang atur tempo...aku diem aja....” bujuk saya dan kemudian disetejui sang bidadari...

“Demi partner tercinta apa sih yang enggak...”

Riana mulai bangki...ia kemudian mengarahkan penis saya yang dimasukan dengan perlahan...bahkan lebih pelan jika dibandingkan dengan momen bersama Marin....sungguh sedikit membosankan namun saya mengerti keadaanya...

Ketika kepala penis saya memasuki vaginyanya terasa berkedut-kedut menandakan bahwa vaginanya memang tengah dalam kondisi yang tak terlalu begitu baik....

Setelah masuk semua, Riana mulai mengoyangkan memutar pinggulnya dan membuat saya semakin menggila....

“Hmmm gila mas...sebenarnya sakit...tapi penis kamu bener-bener nagih.., ayo mas kamu goyang aja gakpapa....terus mas”

Diberikan lampu hijau saya langsung tancap gas....saya naik turunkan pinggul saya yang benar-benar memborbardir pertahannanya...saya semakin terpacu ketika payudaranya memantul-mantul melawan gravitasi....saya hanya bisa bangung dan menjilati payudara tersebut...tak berlangsung lama kami serasa ingin keluar dan saya hendak mencapai orgasme pertama saya..

“Hmmm...ahhhh...woohhhh..shhh ittt.... mas aku mau keluar....”

“sama mbak...keluarin dimana nih?”

“Di dalem aja mas,,,aman kok.....1...2...3....ahhhhh”

“Ahhhhhhh” erang saya tak karuan. Seperti biasa tubuh Riana sempat mengaku dan kemudian menjadi lemas kembali.

“kayaknya di kontrak kerja sama berikutnya kita harus punya kontrak sendiri nih mas untuk masalah ranjang,,,,” ujar Riana manis dan hanya saya balas dengan senyum serta kecupan manis di bibir.

Saya benar-benar pulas malam itu dan kami tidur dalam keadaan telanjang....


Anda sedang membaca artikel tentang Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06 dan anda bisa menemukan artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2017/01/menjadi-liar-setelah-15-tahun-menduda_9.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 06 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 21.50
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved