;

Rabu, 04 Januari 2017

Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 03

Rabu, 04 Januari 2017

Lanjutan..

Hari ini hari Minggu, jadwalnya saya menjemput Dena dari Persami. Kalau sesuai edaran untuk orang tua murid, saya harus jemput Dena sekitar jam 1 siang. Tepati setelah acara makan siang bersama.

Jujur saya tidur sangat pulas malemnya, nggak lain adalah karena pengalaman malam minggu yang berkesan banget sama Marin. Mahmud yang menurut ane badanya masih sekel banget. Oh ya hu, si Marin emang seorang pengacara (pengangguran banyak acara). Statusnya sebagai istri pengusaha memang bikin dia harus menjaga betul anaknya karena suaminya sering mendadak pergi.

Selain antar jemput Nissa, tante Marin ini memang punya agenda rutin untuk ngejaga bodynya. Kalau pagi dia berenang dan sepedaan sementara seminggu dua kali dia ikut kelas Yoga. Makanya ga heran itu bokong sama dadanya masih sekel dan padet banget hu.

Satu hal yang ane mendadak terpikirkan adalah pantat Marin. Entah mengapa tiba-tiba kepikiran dan teringat lagi kejadian lagi doggy sama dia. Jujur pas kejadian saya gak terlalu memperhatikan. Tetapi setelah bangun tidur ini tiba-tiba saya teringat bongkahan bokong Marin yang benar benar padet tanpa celah. Tanpa lemak. Tentu suhu gak nyangka kalau pemilik bokong tersebut udah punya anak yang beranjak remaja.

Sambil males-malesan saya buka cellphone saya Hu. Ada notifikasi cukup banyak. Ada email kerjaan dan grup bbm kerjaan. Ya Hu, kerja di Media memang gak kenal tanggal merah dan jam kantor. Meski saya gak lagi di Redaksi, namun namanya email dan chat kerjaan selalu ada. Bisa dibilang kerja di media ya harus 24/7.

Setelah menghabiskan 30 menit membalas email-email kantor saya kembali ke grup BBM. Di sana saya lihat ada dua chat dari grup anak-anak. Pesan tersebut dari Amel dan Marin. Belum banyak memang namun membuat saya sangat terkejut.

“Cie ada yang habis main nih!” tulis Amel sambil menyisipkan smile menutup mata dan menutup mulut.

“Haha iya dongg!!!” timpal Marin yang tak lama berselang. Rupanya chat tersebut terjadi pukkul 05.00 tepat tiga jam sebelum saya bangun.

“Cerita dong cerita kayaknya seru!” tambah Amel penasaran.

“Silahkan bapak Rinaldi. Waktu dan tempat saya persilahkan,” tutup Marin.

Bener-bener nggak nyangka gan, ternyata Marin cerita-cerita ke Amel. Sosok yang sebenarnya saya puja baru-baru ini.  ada rasa canggung, marah sama Marin, tetapi juga heran Amel yang paling alim di antara kita kok gak risih. Saya langsung telpon Marin, sayangnya dia nggak angkat telepon dan saya memutuskan untuk bungkam di grup. Sumpah gan saya gugup.


Siang Hari di sekolah.

Saya datang ke sekolah dan melihat orang tua lain sudah menunggu anak-anak untuk pulang. Terus terang saya mau ketemu sama Marin. Tetapi bukannya ketemu sama Marin eh malah Amel yang nyapa duluan.

“Cie papah barunya Nissa nih,” colek Amel dari belakang.

“Ah apaan sih mba (Oh ya gan Amel ini lebih tua setahun dari saya ya hehe). Emang si Marin cerita apa aja?” tanya saya sedikit gugup.

Nggak lama kemudian Marin datang. Mereka berdua terbahak-bahak membahas kejadian semalem. Bahkan Amel dengan sangat antusias mendengarkan cerita kami berdua. Bahkan dia melontarkan banyak pertanyaan kepada saya dan Marin.

“Gimana Di? Enak nggak si Marin?”

“Lu gimana Rin? Puas sekarang? Udah tersalurkan hasrat lu?”

“Terus-terus mantapan mana sama Rei?”

“Serius kalian keluar di dalem?”

Itulah kira-kira pertanyaan yang keluar dari mulut Amel. Saking antusiasnya saya melihat puting Amel tembus. Saya herang karena sebenarnya terlihat jelas Amel ketika itu mengenakan bra.

Mohon maaf harus mengakhiri cerita soal persami ini hu, tetapi memang tak ada cerita lagi dibalik persami. Saya akan cerita hubunga selanjutnya saya sama Marin.

Semenjak kejadian malam minggu itu, saya sama Marin memang agak terlihat lebih romantis kalau lagi ngumpul sama ibu-ibu. Membuat persaan saya ke Amel sedikit canggung. Sementara saya rasa Amel malah antusias dengan hubungan kami berdua.

Saya sendiri dan Marin sudah sepakat bahwa hubungan kami tak lebih dari kehidupan ranjang. Sejauh ini kami masih menjaga rahasia dengan Rei. Bahkan kadang-kadang saya mulai mengirim gambar penis saya ketika Marin masih ada di ranjang bersama dengan Rei. Namun Rei tak menyadari itu dan mengira kami hanya berbincang-bincang soal sekolah seperti biasanya.

Harus menjadi perhatian bagi suhu bahwa seperti saya ceritakan sebelumnya, Marin ini orangnya sedikit haus seks dan memiliki fantasy gila. Berikut salah satu ceritanya.

Ketika itu saya lagi di kantor hu, kirang-kira jam 11 siang. Kantor saya baru aja mendapat kontrak kerja sama dengan salah satu talen di Korea. Tentu itu harus dirayakan besar-besaran karena kami optimis kerjasama itu bisa naikin rating, trafic, dan lain-lain yang tentunya menjamin kedatangan sponsor.

Saya sudah minta sama Tania, sekretaris saya bahwa saya akan mentraktir mereka di sebuah restaurant agak mahal memang untuk makan siang. Terang saja, kantor kosong kecuali bagian redaksi yang benar-benar nggak bisa ditinggal.

Namun ruangan saya dengan redakksi memang agak jauh dan bisa dibilang terpisah dengan ruangan bagian marketing, legal, hrd, dan lain-lain. Jadi wilayah sekitar ruangan saya bener-bener sepi. Saya memutuskan untuk telat dateng ke restaurant itu karena memang masih harus melakukan beberapa urusan dengan bagian redaksi.

Kira-kira 10 menit lagi ngobrol sama orang redaksi tiba-tiba saya mendapat telpon. Saya langsung mengangkat karena tahu ini adalah Marin. Rupanya ia mengatakan ingin bertemu di kantor saya. Otomatis saya tak bisa menolak dengan tawaran tersebut.

Namun betapa terkejutnya saya ketika Marin datang dengan Rei tepat pukul 11:30. Saya mendadak kecewa dan canggung. Namun di situ Rei dan Marin menjelaskan bahwa Rei ada rapat dengan sallah satu anak perusahaan yang ada di grup perusahaan saya. Dan menitipkan Marin di kantor saya yang rencananya untuk makan siang.

Tak berlangsung lama basa-basi, Rei akhirnya meninggalkan ruangan. Tepat setelah saya menutup pintu, Marin langsung memeluk saya dari belakang.

“Papi! Kangen nih...” bisik Marin di telinga saya.

“Ah kamu nggak bisa nahan dulu? Suami kamu aja masih belum jauh lho....” jawab saya sambil saya giring Marin ke sofa. Tak lupa saya merapatkan tirai jendela untuk membuat kami berdua sedikit merasa nyaman.

Harus diakui kalau Marin itu adalah perempuan yang pandai berbusana hu. Marin nggap pernah terlalu terbuka tetapi selalu bikin saya penasaran. Dipertegas. Selalu bikin penis saya penasaran. Termasuk hari ini.

Ia mengenakan kemeja sedikit longgar dengan lengan panjang. Tak lupa dipadukan dengan rok span yang membuatnya mudah berbaur jika berada di tengah para anak buah saya. Namun satu yang menarik perhatian saya adalah fakta bahwa dirinya lagi-lagi tak menenakan bra. Saya melihat betul betapa bentuk dadanya sangat terbentuk di balik kemejanya.Terlebih lagi, paha mulusnya membuat say abenar-benar pusing .

Marin duduk menyilang di sofa di ruangan saya. Posisi tersebut membuat rok yang awalnya tak terlalu pendek menjadi seolah-olah sangat pendek dan membuat penis saya kembali semakin penasaran untuk segera menghabisi apa yang ada di dalamnnya.

“Kamu mau minum apa?” ucap saya sambil mengecup bibir nya yang kali itu diwarnai dengan lipstik merah muda yang sesuai dengan ranumnya bibir Marin.

“Minum ini boleh?” jawab Marin sambil meremas buah zakar saya yang masih terbungkus pakain kerja.

“Nanti ya...aku ambilin bir mau kan?” ucap saya sambil keluar dari ruangan karena tak ada lemari es di ruangan saya. Saya kembali dengan dua kaleng guiness yang memang selalu menjadi puja-puja saya karena rasanya yang nikmat.

Namun betapa terkejutnya saya melihat pemandangan di dalam ruangan kerja. Ketika baru membuka pintu, saya sudah bisa melihat terdapat sebuah rok yang terlepas dari pinggul bidadari. Tak jauh dari rok tersebut, sebuah g-string hitama tergeletak melilit seolah sang pemilik terburu-buru menanggalkannya. Pandangan terus saya arahkan menuju sofa, LUAR BIASA!

Seorang bidadar bernama Marin tengah menyilangkan kaki jenjang mulusnya di sofa. Pinggulnya tertutup panjangnya kemeja yang ia kenakan. Namun kemeja tersebut telah meninggalkan pekerjaan utamanya. Kancing terlepas dan hanya meninggalkan dua kancing bawah. Ya. Dua kancing bawah.

"Kok bengong sih? buruan tutup pintunya. aku haus nih,"


Bersambung...



Anda sedang membaca artikel tentang Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 03 dan anda bisa menemukan artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 03 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2017/01/menjadi-liar-setelah-15-tahun-menduda_49.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 03 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Menjadi Liar Setelah 15 Tahun Menduda - Part 03 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 10.36
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved