;

Sabtu, 17 Maret 2012

Tugas Ke Daerah

Sabtu, 17 Maret 2012

Juni 1991 saya pergi ke Lombok Timur untuk suatu tugas dari bos tempat saya bekerja untuk menagih hutang bisnis, pada salah satu kolega bisnisnya. Dari kota Malang yang ada di Jawa aku menggunakan perjalanan darat sampai ke Banyuwangi lalu menyeberang ke Bali dan dilanjutkan perjalanan darat lagi hingga ke Padang Bai yang ada di pantai timur bali, kemudian menyeberang lagi hingga ke Lembar di pulau Lombok, setelah itu aku masih harus menggunakan jalan darat lagi hingga ke Desa Mamben Kecamatan Aikmel di ujung Timur pulau Lombok. Setelah kurang lebih 40 jam dalam perjalanan aku tiba di rumah Haji Mochtar, kolega bosku yang berhutang tersebut.



Setelah berbasa-basi sejenak dengan Haji Mochtar, beliau mempersilahkan aku untuk beristirahat terlebih dahulu. Karena memang capek akupun berterima kasih sekali. Untukku disediakan kamar yang cukup besar bersebelahan dengan kamar tidur utama tempat tidur Haji Mochtar. Cukup mewah untuk ukuran rumah desa, selain cukup luas bersih dan nyaman. Siang itu aku tidur cukup nyenyak setelah dua hari diguncang kendaraan dalam perjalanan dari Jawa hingga ke Lombok.

Sore harinya aku bangun dalam keadaan segar, keluar dari kamar kulihat duduk di beranda sambil menghisap rokok. Melihat aku keluar dari kamar, Haji Mochtar menyambutku lalu memperkenalkan aku dengan anggota keluarganya ; Masmah istrinya, Yati janda almarhum kakak Haji Mochtar yang juga kolegaku di Malang serta lima anak Haji Mochtar dan empat anak Yati. Setelah berbasa-basi sejenak Haji Mochtar menawarkan aku untuk mandi di sungai. Walaupun di rumah Haji Mochtar ada kamar mandi, namun keluarga itu masih senang mandi di sungai, lebih segar katanya. Karena belum pernah mandi di sungai, aku jadi tertarik juga.

Ternyata sungai tempat mandi yang tidak begitu jauh dari rumah Haji Mochtar itu tidak seperti sungai yang aku bayangkan, lebih tepatnya telaga menurutku bukan sungai. Air telaga itu jernih sekali hingga batu dan ikan yang ada di dasarpun tampak. Karena hari belum terlalu sore, belum tampak orang mandi di sana. Telaga itu di sekat menjadi tiga bagian dengan mempergunakan anyaman daun kelapa diatas air dan tumpukan batu dari pemukaan air hingga dasar sungai. Di sebelah paling hulu tempat mandi dewasa, demikian juga yang di tengah sedangkan di hilir yang airnya lebih dangkal untuk mandi anak-anak.

Melihat air telaga yang jernih aku jadi ingin segera mandi, karena masih sepi tanpa canggung aku melepas seluruh pakaianku dan segera masuk ke air. Segar juga rasanya mandi di sungai, ingin rasanya aku berlama-lama berendam. Haji Mochtarpun tampaknya juga mempunyai perasaan sepertiku.

Kurang lebih seperempat jam kami berendam aku mendengar ada suara beberapa perempuan datang ke tempat mandi kami, aku pikir tentunya bilik yang di tengah adalah untuk bilik pempuan karena tampak lebih rapat dan aku juga tidak tahu jalan masuknya. Aku tidak ambil pusing dengan suara perempuan yang datang, sambil berenang agak ke tengah aku memeriksa batu pembatas bilik, sebab aku penasaran kenapa batu yang di tengah nampak terputus kurang lebih satu meter panjangnya.

Sesekali aku menyelam agar tahu apakah batas tersebut memang tidak sampai ke dasar, setelah tahu batas tersebut memang terputus sampai ke dasar, aku segera kembali ke tepi karena ingin bertanya pada Haji Mochtar kenapa batas itu terputus. Sewaktu aku menyembul ke permukaan untuk mengambil nafas, aku mendapati pemandangan yang sangat mengejutkan ; ternyata di tepian di dekat aku meletakan bajuku, aku melihat beberapa perempuan sedang melepas baju, hendak mandi. Lebih terkejut lagi mereka nampak tidak terkejut sama sekali dan nampak biasa-biasa saja. Diantara perempuan-perempuan itu aku melihat Yati dan Masmah istri Haji Mochtar, sambil melepas celana dalam Masmah menyapaku yang masih di dalam air, “Segarkan pak, mandi di sungai?”

“I i i ya bu,” jawabku tergagap, sambil mataku tidak lepas dari bukit kecil di belahan pahanya yang ditumbuhi bulu yang lumayan lebat dan kasar. Melihat pemandangan seperti itu aku jadi belingsatan sendiri, penisku mulai mengembang karena pemandangan tersebut. Bagaimana tidak jika dalam jarak kurang dari 4 meter di depanku ada enam orang perempuan yang semuanya telanjang bulat.

Aku jadi berpikir apakah aku tadi terbawa arus waktu di bawah air hingga aku terseret ke bilik tengah ? namun anehnya kenapa para perempuan itu tidak terkejut? Dalam kegalauan seperti itu aku melihat Yati yang juga telah telanjang bulat segera menceburkan diri ke air dan berenang mendekatiku.

Nampaknya dia tahu apa yang tengah aku pikirkan. Setelah mencapai jarak kurang dari 1 meter dariku Yati berbicara pelan padaku, “Ndak usah bingung pak, disini kami mandi barengan, campur laki-laki dan perempuan. Kalau bapak mau lihat, lihat aja mereka juga ndak marah kok kalau diperhatikan.”

“Kalau suami mereka tahu bagaimana ?” tanyaku.

“Santai saja, sebab di sini wanita adalah konsumsi. Mereka tidak berhak marah. Itu yang disebelah kiri itu kan suaminya yang itu,” kata Yati sambil menunjuk seorang wanita yang tengah menggosok betisnya dengan batu.

Di tepian aku memperhatikan Masmah masih belum menceburkan diri ke air, dia asyik berbincang dengan seorang wanita. Nampaknya mereka berdua merasa kalau sedang aku perhatikan. Merasa diperhatikan seperti itu mereka sama sekali tidak merasa risih, bahkan mereka duduk pada sebuah batu yang letaknya lebih dekat denganku.

“Tidak usah ditutupi pak, kita semua di sini telanjang kok jadi ndak usah malu,” kata Yati sambil tangannya berusaha untuk menyingkirkan tanganku yang menutupi penisku.

“Kalau baru pertama mandi di sini pasti ngaceng,” kata Yati yang entah sengaja atau tidak menyentuh penisku.

“Pak Haji mana tanyaku ?” sambil berbisik.

“Mungkin di sebelah,” jawab Yati.

“Kalau begitu aku menyusul ke sebelah saja,” jawabku sambil berbalik.

“Jangan pak, nanti bisa dapat masalah, kalau masuk ke sana harus berpasangan,” jawab Yati pelan.

“Memang kenapa ?” tanyaku.

“Nanti aja ceriteranya di rumah, sekarang kita ke tepi saja, kalau masih malu keluar dari air duduk saja di batu itu,” jawab Yati, sambil menunjuk sebuah batu yang letaknya di dalam air kurang lebih satu meter dari tempat Masmah duduk. Aku masih bengong dan belum ada respon. Tiba-tiba Yati melakukan gerakan yang cukup mengejutkan aku, digenggamnya penisku lalu ditarik sambil berkata, “Ayo duduk di situ, capek nih berdiri terus.”

“I i iya,” jawabku tergagap karena masih asyik memperhatikan Masmah dan kawannya.

“Duduk situ saja pak, kalau malu keluar dari air,” kata Masmah sambil membetulkan duduknya lebih masuk ke air hingga pantatnya masuk ke air.

“Sudah duduk sini dulu saya mandi dulu,” kata Yati setelah sampai di batu yang dimaksud.

“Pak Theo kalau mau lihat jangan sungkan sebab disini bebas untuk melihat tapi haram untuk memegang,” kata Masmah sambil membenahi duduknya lebih mengangkang karena akan membersihkan selangkangannya, dalam posisi duduk seperti itu begitu nampak jelas belahan vagina Masmah yang berada kurang lebih satu meter di hadapanku. Melihat pemandangan seperti itu makin bertambah tegang saja penisku.

Tanpa kusadari ketiga wanita di depanku juga tengah asyik memperhatikan batang penisku yang makin mengembang, dan nampak mata mereka begitu horny memandang batang penisku di air yang jernih itu. Karena merasa tidak tahan lagi kulihat ketiga wanita dihadapanku itu mulai menggosok-gosok bibir vagina mereka dengan tangan, aku segera keluar dari air dan langsung meraih handukku yang tadi kuletakan diatas batu, lalu dengan cepat aku memakai celana dalam dan celana pendekku dengan tergesa-gesa.

“Saya duluan bu Yati, tolong pamitkan pak Haji. Mari bu Masmah saya udah kedinginan nih,” kata ku berbohong. sebenarnya aku ingin segera pulang untuk onani karena aku ingin segera menyalurkan hasratku dan tidak ada lawan untuk menyalurkan hasrat tersebut. Lagian aku belum terbiasa dengan pemandangan seperti tadi.

“Ya pak, segera kami menyusul”, jawab Masmah dan Yati hampir bersamaan.

Setibanya di rumah aku lansung masuk kamar dan melepaskan celana pendekku untuk segera melakukan onani, namun baru aku mengelus batang penisku sendiri, aku mendengar suara dari kamar Haji Mochtar, aku tak ambil pusing. baru aku mau melanjutkan aksiku, aku mendengar pintu tembusan yang menghubungkan kamarku dan kamar Haji Mochtar terbuka, tentu saja aku terkejut dan berusaha menutupi bagian bawah tubuhku yang tidak bercelana. Namun sekali lagi aku dibuat terkejut, dari arah pintu itu aku melihat Haji Mochtar bersama Masmah istrinya dan dua perempuan yang salah satunya tadi bertemu aku di sungai memasuki kamarku, lebih mengejutkan lagi mereka berlima dalam keadaan telanjang bulat.

Sambil tersenyum Haji Mochtar berkata,

“Maaf lho pak tadi di sungai saya tinggal sebab saya bertemu dia.” sambil menunjuk wanita di sebelahnya yang belum aku kenal sama sekali.

“Oh ndak apa-apa pak, toh saya bisa pulang sendiri,” jawabku.

Lalu Haji Mochtar berkata lagi, “Begini pak, bapak kan tamu saya.Disini ada adat tidak tertulis yang mewajibkan kami untuk menjamu bapak sepenuhnya termasuk meminjamkan istri kami sebagai teman tidur jika bapak menghendaki, seperti bapak menjamu kami kalau kami ke Jawa. Bedanya kalau di Jawa bapak tidak meminjamkan istri tapi bisa membelikan perempuan untuk kami, yang seperti itu disini tidak boleh karena itu zinah.”

“Jadi saya boleh nih pinjam bu Masmah untuk teman tidur saya malam ini,” tanyaku sembrono.

“O boleh pak, bukan hanya Masmah tapi juga kedelapan istri saya yang lain. Nanti mereka akan saya panggil ke sini semua dengan suami-suami mereka jika mau. O ya hampir lupa, kenalkan ini Hindun istri saya yang ke tiga,” kata Haji Mochtar sambil menunjuk wanita yang tadi bertemu aku di sungai. Perempuan itu lalu mendekatiku dan menjabat tanganku sambil berkata ;

“Hindun, tadi kita sudah bertemu di sungai kan.”

“Theo, ya tadi kita sudah ketemu,” jawabku.

“Dan ini Mukti, istri saya yang ke sembilan. Sementara ini istri termuda saya,” kata Haji Mochtar.

“Mukti,” Kata perempuan yang berusia kurang lebih 20 tahun itu menjabat tanganku sambil tersenyum.

“Theo,” sambil menyambut uluran tangannya.

“Nah sekarang pak Theo mau pilih siapa untuk menyalurkan hasrat pak Theo. Silahkan pilih, atau mau pakai ketiganya juga boleh. Tapi kalau bapak mau pakai kak Yati silahkan nego sendiri karena dia-kan bukan istri saya jadi saya tidak berhak untuk menawarkan, tapi karena kak Yati juga merupakan tuan rumah di rumah ini, kak yati juga wajib untuk menjamu pak Theo,” terang Haji Mochtar lagi.

“Sudah karena aku juga wajib untuk menjamu, maka sekarang aku putuskan aku yang akan menemani pak Theo tidur, lagian selama dua tahun aku ditinggal suamiku baru kali ini aku merasa terangsang melihat laki-laki telanjang. Masmah dan Hindun sekarang juga harus melayani pak Theo, karena tadi di sungai sudah bikin pak Theo ngaceng, jadi kalian berdua harus tanggung jawab. Haji Mochtar sekarang harus menunggui kami bermain supaya bisa belajar bagaimana seharusnya orang bersetubuh, jangan seperti laki-laki disini yang bisanya hanya bisa main diatas dan perempuan dibawah terlentang tanpa perlawanan. Mari kita mulai,” potong yati sambil langsung mendekatiku, seraya melepaskan selimut yang kubelitkan di pinggang karena aku tidak bercelana.

Setelah berhasil melepaskan selimut itu Yati memagut bibirku sambil berusaha melepaskan kaosku, setelah kaosku juga terlepas, Yati menoleh sambil berkata ;

“Kalian berempat perhatikan kami, biar bisa main lebih bagus.”

Setelah itu Yati lansung berjongkok dan memasukan penisku ke mulutnya, kulihat keempat orang di depanku terbeliak karena baru kali itu mereka melihat orang melakukan oral sex. Pada saat Yati melakukan oral sex padaku, kulambaikan tanganku memberi tanda agar Masmah mendekat. Setelah dekat denganku, lansung kutarik tangan Masmah agar lebih dekat denganku. Setelah itu kupeluk Masmah dan kupagut bibirnya, nampaknya Masmah belum pernah ciuman dengan cara seperti itu. Terpaksa aku ajarkan dia bagaimana harus memberikan perlawanan. Tak lama kemudian Masmah mulai bisa mengimbangi permainan mulutku di mulutnya. Pada saat Masmah mulai lancar memagut bibir, kulambai Hindun untuk mendekat, lalu aku berkata pada Masmah,

“Sekarang ibu coba berciuman dengan bu Hindun.”

Nampak canggung sekali Masmah dan Hindun melakukan perintahku, karena mereka belum pernah berciuman sesama wanita. Melihat hal itu, lalu kudorong tubuh masmah agar tidur terlentang di tepi Kasur dengan kaki menjuntai ke lantai. Kemudian akusuruh Hindun untuk tengkurap diatasnya untuk kembali mencumbui Masmah. Dalam posisi seperti itu, kurentangkan kaki Masmah agar selangkanganya membuka, lalu kujambak rambut Yati untuk melepaskan mulutnya dari penisku. Kemudian aku mmerangkak di lantai seraya mendekati selangkangan Masmah dan Hindun yang terbuka lebar. Dengan rakus lalu kubuka belahan vagina Masmah seraya memasukan ujung lidahku kedalam liang vaginanya.

“Ouuuugh, teeeerrrrrrrus phak Theoh,” Masmah menlenguh panjang sambil tangannya berusaha untuk meraih belakang kepalaku.

Sementara itu dari bawahku Yati telentang dan masih berusaha untuk mengoral penisku kembali. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku merasa kedua perempuan di depanku mengenjang dan nampak cairan bening meleleh dari liang vagina mereka berdua, sambil mulut mereka menceracau ;

“Aaaaaduh kak, aku keluuuuuuuuuuuaaaaaaar,” racau Hindun.

“Aaaaaaaaaaku juuuuuughaaaaa,” timpal Masmah.

Aku menjilati seluruh cairan yang keluar dari kedua vagina itu hingga bersih, lalu berdiri dan kujambak rambut Yati untuk berdiri juga. Aku menoleh untuk melihat reaksi Haji Mochtar melihat itu.

“Lho kok berdiri terus, duduk situ kan nyaman pak,” kataku sambil menunjuk sofa yang terletak di seberang tempat tidur. Setelah Haji Mochtar dan Mukti duduk berdampingan di sofa itu, kusuruh Yati untuk meng-oral Haji Mochtar. Yati lalu membungkukkan badannya ke depan, sementara dari arah belakang aku berusaha untuk memasukan penisku kedalam vaginanya. Walaupun Yati seorang janda dengan empat anak, namun vaginanya masih terasa sangat sempit, apalagi dalam dua tahun menjanda tidak ada satu bendapun yang menerobosnya, agak sulit juga aku berusaha memasukkan penisku pada vagina yati yang sudah lumayan basah itu. Setelah menempel pada bibir vagina Yati yang kubuka dengan dua jariku, kutekan kuat-kuat pinggulku ke depan.

“Ouuuuuuuugh, ssssssssshh, aaaaaaaaah,” mulut Yati melenguh dan mendesis seperti orang kepedasan.

“Hhhhhhhh, hhhhhhhh, yeesssss,” timpalku saat batang penisku berhasil menerobos liang vagina Yati.

“Ouuuuuuugh aaaaaaah, eeeeeenaaaaak kaaak,” sambung Haji Mochtar, yang baru pertamakali itu merasakan oral sex.

Setelah kutahan beberapa saat, kutarik pinggulku ke belakang hingga penisku terlepas dari vagina Yati. Setelah penisku terlepas lalu kumasukkan lagi pada liang vagina Yati, demikian kuulangi hingga tiga kali.

“Ouuuuuuuugh, Ouuuuuuuugh,” desah Yati setiap kali penisku menembus bibir vaginanya.

Setelah aku merasa mantap posisiku, kupegang pinggul Yati yang cukup besar itu dengan kedua tanganku lalu kuayun maju mundur.

“Ouuuuuuuuuuughhhhh aaaaaaaah,” desah Yati dengan mulut penuh karena sedang mengulum penis Haji Mochtar.

“Aaaaaaaaah teeeeeeerus phak Theeo, eeeeeeenaaaaaakk,” lenguh Yati lagi.

“Auuuuuuuuuh aaawaass kaaak, aku hampir keluar !!!!!!!” pekik Haji Mochtar tertahan.

Mendengar itu Yati bukannya melepas penis Haji Mochtar, tapi malah mempergencar serangannya pada penis Haji Mochtar. Dikulumnya seluruh batang penis Haji Mochtar yang tidak begitu besar itu hingga sampai kepangkalnya, lalu Yati menggeleng kekiri dan kekanan dengan cepat sambil menghisap batang penis itu. Diperlakukan seperti itu Haji Mochtar semakin tak tahan, tubuhnya mulai mengejang dan mulutnya melenguh ;

“Aaaaaaawaaaaas kaaaaaaaak, aku keluarhhhhh !!!!”

“Sseerrrrrrrrrt, ssssssseeeeert,” penis Haji Mochtar memuntahkan lahar panasnya.

“Gllk, glek, aaaaaaah,” Yati menelan seluruh sperma Haji Mochtar yang tertumpah di mulutnya.

Tigapuluh detik kemudian kulihat Haji Mochtar lunglai tak berdaya, sementara Yati masih sibuk menjilati ujung penis Haji Mochtar.

“Ouuuuuugh sudah kak aku sudah tak tahan lagi, aakku suudaah taaak kuuuat,” erang Haji Mochtar, sambil menjambak rambut Yati, dan berusaha menjauhkan mulut Yati dari penisnya.

Melihat itu aku jadi kasihan juga dengan Haji Mochtar, lalu kutarik pinggul Yati yang dari tadi kupegang sambil berkata,

“Ganti posisi hhhhhh!”

Tanpa melepas penisku dari vagina Yati kutarik dia kebelakang lalu aku berjalan mundur berputar hingga kearah sofa, lalu aku duduk di sofa di sebelah mukti yang sedari tadi kulihat sibuk menggosok-gosok vaginanya dengan telapak tangannya sambil memperhatikan kami bertiga. Dengan posisi aku terduduk di sofa dan Yati berada diatasku dalam posisi membelakangiku, yati mulai beraksi dengan cara bergerak naik turun diatasku hingga penisku bergerak keluar-masuk dalam vaginanya. Tanganku tidak lagi memegangi pinggulnya tetapi kumainkan clitoris Yati dengan kedua tanganku. Kuperlakukan seperti itu Yati semakin tak tahan. Gerakannya makin cepat dan mulutnya menceracau dengan suara aneh yang cukup keras. Hingga dalam kamar terdengar gaduh oleh ceracau Yati, mungkin dari luar kamarpun terdengar cukup kuat.

“Ouuuuuugh, aaahh, sssssssh, aaaaku maaauu kheeluaaarh phaak Theooooooo !!!! pekik Yati sambil mempercepat gerakannya.

Tiba-tiba kurasakan tubuh Yati mengejang lalu menekan kuat-kuat pinggulnya ke bawah hingga seluruh batang penisku tertancap seluruhnya kedalam liang vagina Yati hingga terasa kepala penisku meenyentuh dinding rahim Yati.

“Oooooouuuuuuh aaaaaaah aaaaaahhhh,” pekik Yati.

“Ssreeeeeet, ssssseeeeeeeeerrrrrr, ssesseerrrrr,”aku merasa ada cairan kental hangat dari dalam vagina Yati mengguyur batang penisku. Cukup banyak juga cairan yang keluar dari dalam vagina Yati hingga berleleran membasahi pangkal pahaku.

“Hhhhhhhhh belum apa-apa sudah mbonjrot, nggak tanggung jawab kataku,” sambil berusaha mengintip Masmah dari bawah ketiak Yati. Masmah dan Hindun yang berada di tempat tidur dihadapan Yati nampak terbeliak melihat itu.

“ayo tanggung jawab!” kataku sambil mendorong tubuh Yati kesamping. Kemudian aku berdiri dan menyodorkan batang penisku kemulut Yati untuk dibersihkan. Dengan tubuh lunglai, Yati menerima sodoran penisku lalu dengan sisa tenaganya mulai menjilati batang penisku hingga bersih. Setelah bersih, aku lalu berjalan menuju tempat tidur untuk menuntaskan haratku dengan Masmah. Melihat itu Hindun lalu bangun dan hendak turun dari tempat tidur, tapi aku mencegahnya.

“Eit mau kemana ? kamu juga kan sudah dipinjamkan padaku oleh suamimu ?” tanyaku pada Hindun.

“Bukannya pak Theo mau main dengan kak Masmah ?” tanya Hindun bingung.

“Denganmu juga mari kita bermain bertiga,” jawabku.

“Iya pak saya juga pingin merasakan seperti Kak Yati tadi, memangnya bapak masih mampu ? lagipula giliran saya kan setelah Kak Masmah,” tanya Hindun bingung.

“Ngapain pakai ngantri kayak mau beli karcis bioskop saja, mari sini kuajari kalian main bertiga,” jawabku sambil memeluk belakang kepala Hindun agar tak lari dia. Kuberi Hindun ciuman di bibir, nampaknya Hindun sudah mulai tanggap dan memagut bibirku.

“Hebat baru belajar langsung bisa,” kataku memuji Hindun sambil melepaskan pagutan Hindun di bibirku.

Masmah masih terlentang di kasur, aku lalu tengkurap diatasnya lalu aku memagut bibirnya. Seperti Hindun, Masmah juga sudah cukup tanggap. Tiba-tiba aku merasakan tangan Masmah memegang batang penisku dan berusaha untuk membimbing penisku kearah selangkangannya.

“Eeeit, belum waktunya,” kataku sambil melepaskan pagutanku pada bibirnya.

“Kalian berdua duduk berdampingan di sini” kataku sambil berdiri ditengah-tengah tempat tidur. Setelah mereka berdua menuruti perintahku, kusodorkan penisku kearah mulut Masmah. Karena tadi Masmah sudah melihat apa yang telah dilakukan Yati, diapun mengerti yang kumau. Segera Masmah memegang batang penisku lalu mulai menjilatinya. Kujambak rambut ubun-ubun Masmah agar mulutnya terbuka, setelah Masmah membuka mulutnya, kumasukkan batang penisku kedalam mulutnya. Karena mulut Masmah agak, kecil terasa sesak penisku dalam mulutnya. Masmah hanya bisa mengakses penisku hingga sebatas helmnya saja.

Kutarik batang penisku dari mulut Masmah, lalu kusodorkan ke mulut Hindun yang nampak sudah tak sabar untuk menikmati batang penisku juga. Karena mulut Hindun lebih besar, terasa lebih longgar dan lebih panjang batang penisku yang bisa diaksesnya, meskipun tidak sampai setengah dari batang penisku yang bisa diaksesnya. Setelah merasa cukup menikmati mulut mereka berdua yang bergantian mengulum penisku, kudorong kepala Hindun kebelakang agar melepaskan batang penisku. Setelah itu kusuruh Hindun untuk terlentang dan Masmah menungging diatasnya dalam posisi 69. Mereka berdua nampak belum paham dengan perintahku.

Setelah kuajari Masmah dan Hindun untuk saling menjilati clitoris lawan mainnya, aku segara turun dari tempat tidur dan mendekati Mukti yang sudah belingsatan dari tadi.

“Ayo kamu juga harus belajar jadi penyiar !” kataku sambi berdiri diatas sofa, agar posisi penisku tepat didepan mulut Mukti.

“Mari pak, saya juga pingin merasakan jadi penyiar seperti kak Masmah dan kak Hindun,” kata Mukti. Mukti lalu memegang batang penisku dan mulai memainkan dengan ujung lidahnya, tiba tiba kudengar Yati berkata pada Haji Mochtar, katanya :

“Heh kamu tadi baru main dengan Mukti kan ?”

“Iya kak, memangnya kenapa ?” jawab Haji Mochtar.

“Sudah kamu bersihin belum ?” tanya Yati lagi.

“Belum kak, biasanya kan dia bersihin sendiri,” jawab Haji Mochtar lagi.

“Nggak tanggung jawab, maunya makai aja ndak mau membersihin. Ayo bersihin, nanti biar kalau dipakai pak Theo sudah bersih”, perintah Yati.

“Baik kak,” kat Haji Mochtar sambil bangkit berdiri lalu hendak melangkah pergi.

“Eeeee mau kemana kamu ?” Yati bertanya pada Haji Mochtar.

“Gimana sih, katanya suruh bersihin. ya mau ambil lap sama air,” jawab Haji Mochtar jengkel.

“Bodoh, tadi kan sudah diberi contoh sama pak theo, juga sama aku kan sudah kuberi contoh masak masih mau ambil lap ?” kata Yati.

“Sini lihat cara bersihinnya!” kata Yati sambil bangkit dari sofa lalu berlutut di lantai tepat dihadapan Mukti. Yati lalu membuka kedua kaki Mukti yang duduk dengan kaki rapat agar megangkang, setelah kedua kaki Mukti mengangkan lebar, Yati lalu menyerang pangkal paha Mukti dengan mempergunakan lidahnya. Diperlakukan seperti itu Mukti mulai mengerang,

“Aaaaarrggh,” suara Mukti tertahankarena mulutnya penuh dengan batang penisku.

Nampak Haji Mochtar mulai bangkit lagi gairahnya, batang penisnya nampak mulai bergerak untuk bangkit lagi. Dia lalu bergerak menuju belakang Yati untuk menirukan gerakan kakak iparnya itu pada vagina Yati. Dalam posisi setengah merangkak seperti itu tentulah pantat Yati yang cukup besar itu begitu mengundang nafsu untuk disetubuhi. Apalagi Haji Mochtar sudah memendam rasa untuk merasasakan vagina kakak iparnya itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak almarhum kakaknya masih hidup, tapi sayang Haji Mochtar tidak pernah berani untuk mengatakan keinginannya itu pada almarhum kakaknya. Padahal apabila dia berani untuk mengatakan pada almarhum pasti dipinjamkannya. Perlahan Haji Mochtar bangkit dari sofa lalu merangkak ke belakang Yati. Setelah wajahnya tepat di belakang pantat Yati, Haji Mochtar mulai menirukan gerakan lidah Yati pada vagina kakak iparnya itu. Mendapat serangan secara tiba-tiba tentu Yati terkejut, dia mulai mengerang ;

“Aaaaaaaah, baaaaaagusssssssss kamu beelajaar duuluu di puuunyakuuuuuuuuu.”

“Sluuurp, ya kak, begini khann ? sluuuuuuuuuurp,” jawab Haji Mochtar.

“Baaguuss, sesekarang kamu beersihiin punya Mukthii,” jawab Yati sambil menahan nikmat seraya berdiri. Yati lalu ikutan Mukti menjilati penisku.

“Sssssudaaah, rudal ku mauu tak khandangin dhuluu aaaaaaaah,” kataku sambil melompat turun dari sofa menuju ke tempat tidur.

“Kalian berdua selesaikan Haji Mochtar!!” perintahku pada Yati dan Mukti.

Sesampainya diatas tempat tidur, aku lalu mendekati Masmah dari arah belakang. Kuraih rambut Masmah yang panjang sepantat itu lalu kugulung agar tidak menggangu serangan yang telah kurencanakan pada Masmah. Tahu aku dekati Masmah dan Hindun berhenti bermain.

“Eee terus ndak boleh berhenti!” kataku pada mereka berdua.

Aku lalu meraih pantat Masmah yang sedang nungging diatas Hindun, kuarahkan batang penisku pada vaginanya yang tampak sempit diantara dua pantatnya yang tidak begitu besar itu.

“Bu Hindun ganti sasaran pada buah pelirku ya, sekalian tolong arahin rudal ini ke lubang bu Maasmah !” kataku memerintah Hindun sambil berdiri pada kedua lututku tepat dibelakang Masmah.

“Baaaaaik phaak,” jawab Hindun sambil meraih batang penisku.

“Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak,” erang Masmah karena baru sekali ini dia merasakan penis sebesar punyaku.

“Aaaaaaaaah, buukaaaaiiin bbbibirnya deengan jajarii bbu nDun”, sahutku sambil menarik pinggang Masmah agar penisku dapat masuk lebih dalam pada vaginanya.

“Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak susuudah paakk ndaaak kuuuat,” erang Masmah lebih lanjut.

Mendengar itu aku jadi lebih bernafsu untuk menghajar Masmah lebih lanjut, kutekan penisku kuat-kuat agar bisa masuk seluruhnya dalam vagina Masmah, lalu aku berhenti untuk memberikan kesempatan pada Masmah agar bisa beradaptasi dengan penis besarku. Sementara itu aku menoleh untuk melihat reaksi Haji Mochtar melihat istrinya kesakitan. Aku tidak melihat reaksi Haji Mochtar, karena dia sudah berganti posisi terlentang di lantai dan dua perempuan diatasnya berjongkok sambil berhadapan, Yati pada bagian bawah dan Mukti berjongkok di wajah Haji Mochtar yang tampak asyik menikmati vagina Mukti dengan lidahnya. Kurang lebih satu menit kubiarkan batang penisku diam dalam vagina Masmah, sementara kantung pelirku sesekali dihisap oleh hindun, lalu aku bertanya,

“Masih saakit bu Masmah ?”

“Ssssedikiiiit tataappppi eeeeenaaak phak,” jawab Masmah.

Mendapat jawaban seperti itu aku mulai menarik pantatku kebelakang perlahan lalu mendorongnya kedepan lagi.

“Auuuh, aaaaaah, aaaaaaaaaaa, aaaaaah,” erang Masmah setiap kali aku menekan batang penisku karena menabrak dinding rahimnya.

Semakin lama semakin licin lubang vagina Masmah semakin cepat pula gerakanku. Tak lama kemudian aku merasakan lobang vagina Masmah berdenyut, lalu kutekan penisku dalam-dalam pada vagina itu.

“Mmmmmmhhhhhh,mmmmaaaaaahhhhhh”, tiba-tiba Masmah mengerang tertahan karena mulutnya tersumbat vagina Hindun. Bersamaan dengan itu aku merasa ada cairan hangat yang menyembur penisku dari dalam vagina Masmah.

Bersamaan dengan itu Hindun mengejang sambil men jepit kepala Masmah dengan kedua pahanya. Mereka berdua orgasme hampir bersamaan. Setelah tubuh Masmah melemas, kucabut batang penisku, lalu kubalik posisi mereka berdua agar Hindun berada diatas Masmah. Sekarang Hindun dalam posisi nungging berada diatas Masmah. Aku lalu berpindah ke belakang Hindun dan mulai melakukan serangan yang sama seperti pada Masmah tadi. Vagina Hindun memang tidak sesempit Masmah jadi agak lebih mudah aku memasukan batang penisku pada vaginanya, apalagi ditunjang cairan yang begitu banyak dari dalam vagina memudahkan aku untuk menggoyang maju mundur. Namun demikian aku merasa vagina Hindun masih cukup sempit.

“Aaaaaaaaaah,aaaaaaah,” erang Hindun setiap kali aku menggerakkan pantatku kedepan dan kebelakang.

“Aaah hhhh uuuuuuuh aaaaaaaaaaaaah,” suara Yati yang sedang bermain di lantai dengan Haji Mochtar.

“Aaaaaaadddduuhh ppaaaaaak aaku keelluar laghiiiiii,” rintih Hindun sambil bandannya mengejang.

Tanpa memperdulikan rintihan Hindun kuayun pantatku lebih cepat, begitu nikmat rasanya vagina yang menyempit karena tubuh yang mengejang. Ditambah lagi dengan denyutan yang cukup kuat dalam lobang nikmat Hindun yang sedang orgasme. Kurang lebih satu menit kemudian tubuh Hindum melemas tak berdaya. Karena sudah tidak ada perlawanan dari kedua perempuan di bawahku, aku segera beranjak turun dari tempat tidur lalu menghampiri Mukti dari arah belakang.

Setiba di belakang Mukti, lalu kuangkat pantat perempuan itu hingga mencapai posisi merangkak. Dalam posisi seperti itu segera kutusukan batang penisku kedalam liang senggama Mukti yang sudah basah tersebut. Walaupun liang senggama Mukti sudah sangat basah sekali karena cairan nikmatnya sendiri yang bercampur dengan ludah Haji Mochtar. Meskipun lubang vagina Mukti sudah sangat basah dan licin, namun masih begitu terasa menggigit, karena walaupun Mukti sudah 5 tahun menikah dengan 5 laki-laki, namun Mukti belum pernah hamil apalagi melahirkan.

“Uuuuuugh, aaaahh, ssssss,” desah Mukti begitu merasakan batang penisku yang cukup besar menembus bibir vaginanya.

“Aaaaah,aaaaah,aaaaaaaaaaaah,” desah Mukti setiap kali aku mengayunkan pantatku maju mundur.

Kurang dari 5 menit kemudian aku merasakan tubuh Mukti mengejang dan mulutnya melenguh panjang,

“Uuuuuuughh ahhh !!!!” Mukti melenguh dan kurasakan ada cairan hangat yang menyembur penisku di dalam vagina Mukti. Beberapa detik kemudian aku merasakan tubuh Mukti melemas bagaikan kain basah. Merasa tidak akan ada perlawanan lagi dari Mukti, segera kucabut batang penisku yang masih tegak berdiri. Setelah kusingkirkan tubuh Mukti yang lemas, aku memandang ke sekeliling mencari lawan yang masih mampu untuk melayaniku melepaskan dorongan dari dalam tubuhku yang serasa mau meledak.

Dari empat perempuan yang ada, kulihat hanya Yati yang masih bertahan. Yati masih asyik naik turun diatas Haji Mochtar. Nampak gerakan Yati sudah sangat liar, menandakan dia sudah hampir orgasme untuk yang kesekian kalinya. Di bawah Yati kulihat Haji Mochtar dengan tubuh mengejang dan mulutnya mendengus seperti sapi yang sedang disembelih, nampaknya Haji Mochtar juga hampir ejakulasi. Segera kuhampiri Yati dari belakang, kutekan punggung Yati agar dia lebih mendekat ke tubuh Haji Mochtar. Yati yang sudah begitu berpengalaman melayani lebih dari satu laki-laki segera tanggap maksudku. Segera Yati menghentikan gerakannya dan memberikan kesempatan buatku untuk memasukkan batang penisku ke lubang anusnya. Tanpa membuang waktu segera kuarahkan batang penisku ke lubang anus Yati setelah kuludahi terlebih dahulu, lalu kutempelkan topi baja penisku pada bibir anus Yati. Dengan kedua tangan kubuka belahan pantat Yati agar lubang anusnya ikut terbuka. Perlahan tapi pasti aku mulai menekan batang penisku untuk menembus lubang anus Yati yang sudah tidak sempit lagi itu, namun karena sudah lebih dari dua tahun Yati tidak melakukan anal seks, lubang anusnya terasa sangat sempit sekali.

“Aaaaaauuuuuuuuuuuuh ssssssssaaakit, pepepelan phaaak,” rintih Yati menahan sakit dan nikmat.

Setelah berhasil masuk, kutahan sebentar batang penisku dalam lubang anus Yati, agar Yati dapat beradaptasi. Selang beberapa saat kemudian Yati mendesis seperti orang kepedasan,

“sssssh,sssssssssh,sssssssssssssh,” begitulah tanda Yati jika siap untuk penetrasi setiap kali main dengan dua lawan atau lebih. Dulu waktu Yati masih tinggal di Malang dan suaminya masih hidup, kami sering sekali main bersama bertiga bersama dengan almarhum suaminya dan pak Hendra bos kami. Mendapat serangan ganda seperti itu tak lama kemudian Yati mulai liar gerakannya, Yati menghentak maju mundur tak beraturan pertanda sudah hampir orgasme. Kulihat haji Mochtar yang berada di bawah juga semakin liar pertanda sudah hampir klimax, sementara akupun sudah hampir meledak. Pada kondisi seperti itu segera aku ambil komando ;

“Cabuuuuuuuuuut,” kataku sambil terengah.

“Uuuuuaaaaaaaaaaaaaaah,” sahut Yati sambil merangkak maju hingga kedua batang penis yang menusuknya terlepas.

segera setelah itu Yati bergeser dan merubah posisi duduk di sofa dengan kedua paha yang mengangkang, sehingga belahan vaginanya nampak merah merekah. Aku segera berdiri sambil mencekik batang penisku agar tidak memuntahkan spermaku yang serasa hampir meledak, kutengok Haji mochtar bingung dan batang penisnya nampak berkedut-kedut hendak menumpahkan sperma. Segera aku memberi komando ;

“Tahan pak Haji, cekik, jangan sampai muntah dulu. Berdiri pak,” kataku pada Haji Mochtar.

Meski bingung Haji Mochtar menurut saja pada perintahku, segera dia berdiri sambil mencekik batang penisnya sepertiku. Kutengok ketiga perempuan yang lain yang berada di kasur, apakah mereka masih menonton atau sudah terkapar. Ternyata ketiganya masih terkagum dengan permainan kami bertiga, melihat itu segera kulambaikan tanganku meminta mereka untuk mendekat, segera mereka bertiga beringsut dari tempat tidur lalu mendekati kami bertiga. Setelah dekat segera kucium Masmah di depan suaminya dan kubisikan di telinganya ; “Jilatin vagina Yati, biar dia orgasme lagi,” kataku di telinga Masmah.

“Ya pak, beres”‘ jawab Masmah.

Segera setelah itu aku melangkah maju dan menyodorkan batang penisku ke wajah Yati. Segera Yati menyambut batang penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya telah menggenggam penis Haji Mochtar, lalu dibimbingnya kedua batang penis yang digenggamnya itu mengarah ke mulutnya. Setelah dekat dijilatnya topi baja penisku dan penis Haji Mochtar bergantian sambil diurut lembut pada batangnya. Pada saat tangan Yati bergerak untuk memberikan kocokan yang kedua batang penis Haji Mochtar berdenyut kuat, segera Yati menarik batang penis tersebut untuk memasuki rongga mulutnya yang telah terbuka lebar. Segera setelah topi baja Haji Mochtar menyentuh bibir Yati, menyemburlah cairan kental dari batang penis itu. Nampaknya Yati tidak mau menyia-nyiakan cairan Haji Mochtar itu, segera dikulumnya batang penis Haji Mochtar lalu dihisapnya kuat-kuat hingga tidak setetespun sperma yang tertumpah, semua ditelan oleh Yati sebagai obat awet muda, sementara itu tangan kanan Yati masih terus aktif mengocok batang penisku. Tak lama kemudian aku mulai merasakan kedutan pada batang penisku ;

“Uaaaaaaaah, aaku mau kkeluar nichhhhh,” racauku.

“Aaaku jughaaaaaa,” sahut Yati sambil mendorong tubuh Haji Mochtar ke belakang, lalu ganti memasukan batang penisku dalam mulutnya lalu Yati mulai menghisap batang penisku kuat-kuat,sambil mengocok batang penisku dengan tangannya, tak lebih dari sepuluh kocokan kemudian, batang penisku mengejang serta menyemburkan lahar panas yang sejak tadi kutahan,

“Uuuuaaaaaaaaaaahhhhh,hhhhhh,hhhhh,hhhhhh”,lenguhku saat lahar itu menyembur.

Pada saat yang sama dengan tangkas Yati menghisap batang penisku dengan kuat, hingga terasa Yati hampir menelan batang penisku kedalam kerongkongannya. Nampaknya serangan yang dilakukan Masmah dari bawah telah pula berhasil membuat Yati orgasme untuk yang kesekian kalinya.

Pada menit berikutnya kami berenam sudah terkapar kecapaian, Yati dan Masmah tidur memelukku dari kiri dan kananku, Sementara Mukti da Hindun memeluk Haji Mochtar. Kurang lebih dua jam kami tertidur kecapaian, hingga ada suara asing membangunkan kami sambil menggoyang-goyangkan tubuh kami.

“Inaq, Bapak, uras sembayang subuh julu,” (Ibu, bapak, bangun Sembahyang Subuh dulu) suara Umi anak Sulung Yati membangunkan kami.

Meski mata terasa berat dan aku juga tidak sembayang karena bukan muslim akupun terbangun oleh suara itu. Perlahan kubuka mataku, dan kulihat Umi yang baru kelas dua SMA itu mengguncang tubuh ibunya dalam keaadaan telanjang bulat juga. Belum habis keterkejutanku, aku berusaha membuka mata lebih lebar kulhat Rahma anak kedua Haji Mochtar yang baru kelas dua SMP dan bulu jembutnya baru mulai tumbuh itu juga telanjang bulat mengguncang tubuh Haji Mochtar membangunkan bapaknya. Sementara itu Husnul, anak Sulung Masmah tengah membangunkan Mukti, ibu tirinya, dengan cara menusukan jarinya pada vagina ibu tirinya itu. Belum habis keterkejutanku, terasa ada kain basah mengusap lembut pada batang penisku yang lemas dan mengecil karena hawa dingin. Kubuka mata lebih lebar, dan akupun terbeliak karena dihadapanku kulihat Umi tengah asik membersihkan batang penisku dengan kain basah. Aku bangun dan duduk sambil mengucek-ucek mataku berusaha memperhatikan sekelilingku lebih seksama. Kumelihat disana Husnul dan Fendi serta Zamrah (ketiganya anak Haji Mochtar dari Masmah) juga Umi dan Rahma (anak Yati) semuanya telanjang bulat sambil membawa ember dan handuk kecil hendak membersihkan kelamin kami yang baru saja kami pakai bersetubuh. Dengan bingung aku perhatikan Yati, Hindun dan Mukti beranjak bangun Lalu duduk mengangkang di sofa, sementaran Husnul berjongkok di depan Yati sambil mengusap vagina Yati yang masih berlepotan cairan itu dengan menggunakan handuk basah yang dipegangnya. Demikian juga dengan Fendi, dia tengah asik mengelap vagina Mukti, ibu tirinya. Mataku berputar mencari Masmah, dalam hati aku heran kenapa Masmah tidak ikut antrian untuk membersihkan vaginanya. Kumelihat Masmah tengah duduk mengangkang disudut tempat tidur besar itu sambil membersihkan vaginanya sendiri. Dalam hati aku heran kenapa Masmah justru membersihkan vaginanya sendiri tidak ikut antrian untuk dibersihkan oleh anaknya. Sementara itu dibarisan anak perempuan, setelah selesai membersihkan penisku Umi beranjak untuk membersihkan penis Haji Mochtar, sementara Zamrah dan Rahma masih asik mengelus penisku dengan lembut. Pada menit berikutnya kembali Umi mendekati penisku dengan mulut terbuka lalu mulai menjilati batang penisku. Lalu kemana Haji mochtar ? ternyata Haji Mochtar tengah asik membersihkan vagina Masmah. Setelah acara bersih-bersih selesai, mereka semua beriringan menuju ke kolam di samping rumah di kolam yang disebut telaga itu mereka semua mandi keramas bersama-sama. Usai mandi mereka semua lalu naik ke gazebo yang berada di dekat kolam itu lalu sembahyang bersama dipimpin Haji Mochtar. Setelah selesai sembahyang berjamaah, mereka lalu melepas seluruh pakainnya dan beriringan kembali ke dalam kamar dimana aku sedari tadi menunggu sambil memperhatikan mereka dari jendela kamar yang dibuka oleh Umi. Sesampainya dalam kamarku, Haji Mochtar bertanya padaku,

“Bagaimana pak Theo, masih mampu melanjutkan permainan kita ?”

“Boleh, tapi apa kalian semua tidak pergi kerja ?” jawabku sambil bertanya.

“Baiklah kalau begitu kita lanjutkan permainan kita. Masalah kerjaan kan banyak pembantu yang mengerjakan. Tapi sebaiknya sebelum kita lanjutkan permainan kita ada baiknya kita ngopi dulu sambil sarapan,” kata Haji Mochtar.

“Betul juga itu, sambil ada beberapa beberapa hal yang perlu saya tanyakan,” jawabku.

“Kalau begitu mari kita ngopi dulu di ruang tengah atau di santrean (gazebo di halaman samping rumah) pak ?” jawab Haji Mochtar sambil beranjak berdiri.

“Nampaknya di luar masih dingin, sebaiknya kita di ruang tengah saja,” jawabku.

Lalu kami berenam berjalan beriringan menuju ke meja makan di ruang tengah rumah itu dalam keadaan telanjang bulat semua. Sesampainya di ruang makan, kami duduk mengelilingi meja makan. Yati dan Masmah duduk disampingku. Sementara Mukti dan hindun mengapit Haji Mochtar diseberang kami. Yati menyilangkan paha kirinya pada paha kananku, sementara Masmah menyilangkan paha kanannya pada kaki kiriku. Demikian pula diseberang meja kulihat Mukti dan hindun juga melakukan posisi yang sama pada Haji Mochtar. Pada menit berikutnya anak-anak Haji Mochtar juga anak-anak Yati beriringan keluar sambil membawa nampan berisi makanan dan kopi serata ada jamu tradisional. Sambil menikmati hidangan pagi itu kami bercakap -cakap.

“Bagaimana pak Theo ? puas dengan penyambutan kami ?” tanya Haji Mochtar membuka percakapan.

“Ya begitulah, sangat puas sekali,” jawabku.

“Ya beginilah cara kami menyambut tamu pak, sebab kalau bapak ingin memilih dan membeli seperti di Jawa disini tidak ada pak. Sebab itu zina dilarang agama pak,” terang Haji Mochtar.

“Tapi kalau saya menyetubuhi istri bapak dan bu Yat dan semua itu kan bukan istri saya. Apa itu bukan zina pak ?” tanyaku.

“Oh itu bukan zina pak, lagian saya kan yang mempersilahkan bapak untuk menyetubuhi istri saya dan saya juga ada serta melihat, apalagi kalau ternyata istri saya bisa memuaskan bapak itu adalah suatu kehormatan bagi saya dan keluarga pak. Kecuali jika bapak bersetubuh dengan istri saya tanpa sepengetahuan saya, bapak dan istri saya bisa dihukum pak. Tapi ini hanya berlaku selama satu minggu. Selebihnya kalau lewat dari satu minggu maka bapak akan dihukum dan wajib untuk menikahi wanita yang sedang bapak setubuhi,” terang Haji Mochtar lagi.

“Lalu hukumannya apa pak ?” tanyaku penasaran

“Hukumannya bapak akan diarak ke halaman masjid yang ada di pusat desa bersama wanita yang bapak setubuhi bersama dengan suaminya dalam keadaan telanjang bulat, lalu bapak harus bersetubuh dengan disaksikan oleh orang sedesa ini. Jika ada dari penonton yang ingin bersetubuh dengan terhukum harus dilayani tanpa syarat. Hukuman ini baru berhenti jika kepala kampung atau tuan guru sudah menyatakan cukup,” Terang Haji Mochtar lagi.

“Lalu waktu kita selesai main tadi kenapa anak-anak dibiarkan masuk ke kamar kita pak ? bukankah itu tidak baik bagi perkembangan jiwa mereka pak ?” tanyaku lagi.

“Oh itu, jangan salah sangka dulu pak, bagi anak-anak yang telah cukup umur wajib untuk melihat orangtuanya bersetubuh, agar mereka nanti kalau menikah tidak canggung dan telah bisa untuk melakukan persetubuhan. Tetapi ada larangan bagi anak-anak untuk menyentuh kelamin orang tua kandungnya, namun wajib untuk menyentuh dan membersihkan kelamin orangtua tirinya. Bagi anak laki-laki wajib untuk melayani atau menikahi ibu tirinya jika si ibu menginginkannya. Demikian pula anak perempuan pada bapak tirinya atau tamu kehormatan yang berada di rumahnya. Jadi kalau bapak menginginkan anak gadis saya maka anak sayapun akan melayani bapak dibawah arahan ibunya agar bapak bisa terpuaskan,” kata Haji Mochtar lagi.

Sementara itu para wanita disamping kami dengan aktif dan atraktif mengelus penis kami agar bangun lagi, nampak mata mereka sangatlah horny sekali. Tak lama berselang Umi, Rahma dan Zamrah masih dalam keadaan telanjang bulat mendekatiku seiring dengan lambaian tangan ibunya untuk mendekat.

“Um, tolong kamu ambil mug besar yang ada di dekat tempat tidur ibu di kamar !” kata Yati menyuruh Umi anaknya.

“Baik bu,” kata Umi sambil melangkah pergi.

Tak lama berselang Umi datang sambil membawa mug besar berisi air teh yang sudah diendapkan selama semalam.

“Ini bu,” kata Umi sambil menyodorkan mug tersebut pada Ibunya.

“Sekarang kamu bantu ibu mencuci penis pak Theo dan punya paman Mochtar,” kata Yati.

“Baik bu,” Kata Umi seraya merangkak ke bawah meja.

Pada menit berikutnya aku merasakan ada tiga pasang tangan yang bergantian mengelus batang penisku dalam mug yang berisi teh itu, perlahan tapi pasti aku merasa mulai ereksi kembali. Aku tidak tahu apa campuran teh dalam mug itu, tapi yang jelas sejak dulu waktu masih di Malang Yati selalu mencuci batang penis kami dengan ramuan tersebut. Efek dari ramuan tersebut memang begitu nyata seperti yang kurasakan sekarang ini.

“Diminum dulu jamunya pak Theo, Setelah itu kita main lagi yah,” kata Yati dengan manja dan mata yang sayu.

“Memangnya bu Yati dan bu Nasmah tidak ke pasar ?” tanyaku sambil menerima gaelas berisis jamu yang disodorkan Yati.

“Sejak kedatangan pak Theo kemarin pagi, di pasar saya sudah mengatakan pada para pembantu bahwa kami berdua tidak ke pasar selama tiga hari ini. Biar mereka yang menjaga toko,” kat Masmah menyahut pertanyaanku.

“Lalu selama tiga hari ini bu Masmah mau kemana ?” tanyaku lagi.

“Kami berdua mau menemani pak Theo, terus terang kemarin kak Yati menceritakan bahwa tongkol pak Theo begitu istimewa dibanding dengan semua tongkol yang pernah dirasakan oleh kak Yati. Ternyata memang benar, walaupun selama hidup saya baru merasakan tongkol bapak dan tongkol suami saya. Kalau pak Theo mau, saya ingin menjadi istri bapak, sehingga bapak bisa ngent*t saya sampai kapanpun.” kata Masmah polos di hadapan suaminya.

“Sebaiknya memang pak Theo mau menikahi istri saya pak, sebab bapak bebas menggauli istri saya hanya dalam satu minggu ini pak. Bila bapak tdak menikahi salah satu dari perempuan di sini, maka bila minggu depan bapak masih tinggal di sini saya tidak bisa memberikan selimut buat bapak lagi,” sambung Haji Mochtar mendukung keinginan istrinya.

Bagai disambar petir rasanya, heran istri sendiri malah ditawarkan untuk dinikahi laki-laki lain. Pak haji ini sudah pening atau jangan-jangan istrinya mau dipakai bayar hutang ?

“Tapi ini tidak ada hubungan dengan tugas saya untuk menagih hutang kan pak ?” tanyaku ragu.

“O, tidak. Masalah itu jangan khawatir pak, sebenarnya uang untuk membayar hutang itu sudah ada sejak dulu. Cuma saya tidak tahu mengapa kak Yati melarang saya untuk membayarkan,” jawab Haji Mochtar.

“Aku memang melarang Mochtar untuk mengirim uang itu, supaya ada alasan untuk mengundang pak Teo dan pak Hendra untuk datang kemari. Sebab semenjak aku pindah kemari hingga suamiku meninggal aku belum pernah terpuaskan dalam sex. Pak Theo kan tahu waktu di Jawa dulu kan setiap minggu tiga kali kita party, dan terus terang saya hanya terpuaskan oleh tongkol pak Theo. Saya kangen ini pak !” kata Yati sambil mengelus penisku dengan lembut.

“Lalu kapan uang itu mau dikirim ?” tanyaku.

“Siang ini pun bisa, asal pak Theo mau menikahi saya dan Masmah. Kalau pak Theo tidak percaya silahkan pegang buku tabungan saya dan nanti kita pergi ke Masbagik, di BRI nanti kita kirim uang itu sekalian seluruh uang saya silahkan untuk pak Theo semuanya,” jawab Yati.

“Kalau begitu permasalahannya kenapa kita musti menikah ? toh bu Yati tetap bisa merasakan tongkol saya kapan pun bu Yati mau”,jawabku.

“Tapi saya ingin kita menikah, sebab saya tidak ingin dihukum keliling desa dalam keadaan telanjang bulat. Saya juga tidak mau kita menikah secara negara, saya cuma ingin mas Theo menikahi saya dengan cara kami,” kata Yati lagi.

“Bukan secara negara. Lalu secara kalian, gimana itu ?” tanyaku bingung.

“Begini, dalam tatanan adat kelompok kami ada cara menikah tersendiri yang tidak perlu mengurus segala surat menyurat sebagaimana umumnya. Kita cukup melapor pada kepala adat atau disini kami menyebutnya tuan guru, lalu kita mengundang kerabat dan tetangga. Kemudian kita disumpah didepan orang banyak, resmilah status pernikahan kita. Tinggal mengadakan pestanya,” terang Yati.

“Yah kalau begitu bolehlah, tapi kenapa musti pake pesta segala ?” jawabku.

“Ini wajib. Dan dalam pesta nanti sebagai pengantin kita berhak untuk memilih pasangan dari para tamu untuk kita jadikan selingan selama dalam pesta,” terang Haji Mochtar.

“Pesta sex maksudnya ? Lalu jika kita menginginkan untuk menyetubuhi istri salah satu tamu, apa suaminya tidak marah ?” tanyaku bingung.

“Ya, pesta seperti itulah, dan kalau ada tamu yang istri atau suaminya diinginkan oleh pengantin mereka tidak boleh marah, malah suatu kehormatan bagi yang pasangannya dipilih oleh pengantin. Apalagi jika pengantin itu datang dari luar daerah seperti bapak,” terang haji Mochtar lagi.

“Ya baiklah kalau begitu,” jawabku ringan.

Setelah kami putuskan untuk mengirim uang siang nanti, kami melanjutkan pesta kami. Aku tak tahu ramuan apa yang telah aku minum namun jamu trdisional mereka itu sangatlah manjur sekali. Penisku terasa ngaceng lebih tegang dari biasanya walaupun barusan dipakai. Segera kupeluk Yati dan Masmah untuk kuajak bertempur lagi. Masmah yang tadinya nampak lemas, setelah meminum jamu nampak sangatlah bugar. Melihat aku telah siap untuk bertempur lagi, segera keempat perempuan itu bersiap untuk masuk kembali ke kamar. Sesampainya di kamar segera aku membagi tugas.

“Bu Yat, tolong ajari Mukti dan Hindun tehnik yang lebih baik. Sementara bu Masmah main dengan saya giliran pertama,” kataku pada Yati.

“Baik mas, tapi tolong jangan memanggil kami dengan sebutan ibu. Sebab sekarang ini kami adalah selimut mas Theo”, kata Yati.

“Lalu aku harus panggil apa ?” tanyaku bingung.

“Cukup panggil nama saja. Dan sebelum mulai babak ke dua, kami semua wajib melumasi tongkol mas Theo”, jawab yati seraya mengelus lembut batang penisku.

“Maaf pak Theo, kalau tidak keberatan untuk babak ke dua ini saya minta ijin untuk bergabung belakangan. Sebab saya ada urusan sebentar,” sela Haji Mochtar.

“Mau kemana kamu Moch ? Ada tamu kok malah mau pergi!” timpal Yati.

“Aku ingin memanggil semua istriku kak, aku ingin mereka semua belajar permainan seperti orang-orang kota pada kakak dan pak Theo supaya pinter,seperti kakak,” Jawab Haji Mochtar.

“Kalau menurut aku jangan sekarang lebih baik besok saja toh besok masih banyak waktu dan sekarang mas Theo kan sudah capek,” larang Yati.

“Ya kalau begitu terseah kakak saja”, Jawab Haji Mochtar.

“Memang ada berapa istri pak Haji ? dan kemana mereka ?” tanyaku.

“Istri saya ada delapan pak, mereka juga memiliki suami selain saya, jadi mereka ada di rumah suami-suami mereka yang lain,” jawab Haji Mochtar.

“Sudah wawancaranya nanti saja, kita mulai saja babak kedua. Udah nggak tahan nich,” kata Yati.

“Ya kalau begitu ayo pindah ke kamar,” ajakku sambil merangkul Yati dan Masmah.

Kami pun melangkah kembali ke kamar. Sesampainya di kamar Yati memintaku untuk duduk di sofa, Yati dan Masmah lalu duduk di lantai sambil mengulum batang penisku bergantian. Sementara itu Mukti dan Hindun duduk disebelah kiri dan kananku sambil kuremas buah dada mereka masing-masing sebelah, sambil kupagut bibir mereka bergantian. Kira-kira tiga menit kemudian, kedua wanita yang mengerjaiku dari bawah, (Yati dan Masmah) menghentikan kegiatan mereka. Yati lalu berdiri mengangkangiku dengan posisi membelakangi aku, selanjutnya Yati mulai bergerak menurunkan pantatnya. Sementara Masmah duduk bersimpuh di lantai diantara kedua pahaku yang mengangkang. Tangan kanan Masmah menggegam penisku, sementara tangan kiri Masmah membimbing selangkangan Yati mengarah tepat ke penisku. Perlahan tapi pasti kurasakan topi bajaku mulai menyentuh gundukan daging yang empuk dan basah, beberapa detik kemudian kurasakan kepala penisku mulai membelah belahan vagina Yati yang basah, bllleeeessssssssssssss perlahan tapi pasti adik kecilku memasuki liang vagina Yati.

“Aaaaah, mmmmfffhhhhhhhhhh,” lenguh Yati seiring dengan masuknya batang penisku pada Vaginanya.

“Tahan kak!” Kata Masmah ketika seluruh batang penisku telah terbenam seutuhnya dalam vagina Yati

Lalu sambil berlutut diantara kedua pahaku Masmah mulai membungkuk dan mulai menjilati buah zakarku lalu menjilati klitoris Yati.


Admin Mesum - 06.26

Loyalitas Bertetangga

Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak sudah macet sejak keluar dari pintu toll, setelah berjuang dengan kemacetan 5 jam sampailah kami di Villa yang kami sewa tersebut, untunglah tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu tersiksa lebih lama dijepit kemacetan. Masing masing keluarga menempati kamar masing masing dan sisanya dipakai anak anak atau siapa saja yang ingin tidur disitu. Disamping 6 keluarga, ada juga yang mengajak adik, paman maupun keluarga lainnya, jadi diluar anak anak ada 19 orang dewasa atau remaja.
Para Bapak mempersiapkan acara barbeque untuk nanti malam sementara ibu-ibu mempersiapkan makanan baik yang sudah kita bawa dalam keadaan matang maupun yang harus dimasak terlebih dahulu, sementara anak anak bermain di halaman dan kolam renang. Kami bertetangga sudah saling mengenal dengan baik sehingga tidak ada perasaan apa apa ketika kami melakukan liburan bersama dan ini bukanlah yang pertama kali tapi sudah beberapa kali. Bahkan ketika kami semua bermain di kolam pada sore
harinya, tak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasa, saling engejek,
saling menggoda, saling bersenda gurau, meski terkadang gurauannya mpet ke arah sensitif. Maklum kami semua masih se-usia antara 30 ? 35 tahun, yang paling kami yakin tidak lebih dari 40 tahun, yaitu Mas Surya, tapi penampilan dan postur tubuhnya terlihat sama dengan kami semua.
Malamnya kami mengadakan barbeque sambil bermain catur, gaple, atau permainan apapun untuk melepas ketegangan dan bersantai sambil ngobrol mengenai segala hal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, sementara bapak-bapak lainnya asik bermain gaple, kami berempat berdiskusi dibawah indahnya bulan dan bintang malam. Tanpa kusadari paviliun sudah sepi, rupanya anak anak maupun ibu ibu sudah pada tidur, mungkin kelelahan. Hanya istriku Lily, Kiki dan seorang pembantu yang sedang di dapur, membuat kopi untuk kami yang begadang, setelah kopi dan the terhidang mereka menghilang masuk ke kamar. Satu persatu mereka menghilang masuk kamar, tingal 6 orang yang masih tahan begadang, untuk melepaskan penat aku jalan jalan di sekitar Villa sambil memandang kerlap kerlip lampu di bawah, sungguh indah di malam maupun siang hari, pantesan banyak orang ingin punya villa di daerah puncak.
Aku menuju Paviliun C tempat kamar kami yang letaknya di ujung, agak jauh dari bangunan induk, kami satu paviliun dengan keluarga Mas Surya, dengan menahan dingin kututup rapat sweaterku, sendirian berjalan dikeremangan lampu taman. Paviliun C terlihat gelap, ?Rupanya mereka sudah tidur?, pikirku. Sebelum masuk paviliun aku mengitari bangunan itu, duduk di ayunan di pojok taman bermain yang gelap dan disinari sinar rembulan, kuhisap asap rokokku dalam dalam dan kuhembuskan sekuat kuatnya, dalam hati mengagumi arsitektur bangunan yang artistik.
Tiba tiba aku dikejutkan oleh suara langkah di belakangku, ternyata istriku
belum tidur dan menyusulku duduk di sampingku. Kursi besi itu terasa dingin, istriku merapatkan tubuhnya padaku, sambil memandangi hiasan di langit yang indah, kupeluk rapat untuk memberikan kehangatan padanya. Tanpa kata kata kami saling berpelukan dalam keremangan malam tanpa cahaya lampu, tanpa bicara kami akhirnya berciuman, begitu bergairah di keheningan malam, tangan istriku sudah mengusap selangkanganku dan kubalas dengan belaian lembut di dadanya, sweater nya terasa tebal mengganggu remasanku, apalagi bra-nya yang rapat menutup buah
dadanya. Kuselipkan tanganku di balik sweater, terasa hangat tubuhnya, kuraba dan kuremas buah dadanya, tanpa permisi dengan sekali sentil terlepaslah bra yang menyangga buah dadanya. Kami masih saling melumat bibir, tangannya dengan trampil membuka resliting celanaku dan mengeluarkan kejantananku, langsung mengocoknya. Kubalas
dengan remasan buah dadanya penuh gairah. ?Jangan disini, ntar dilihat orang orang? bisikku ?Nggak, terlalu gelap untuk dilihat dari sana? balas istriku sambil melepaskan ciumannya dan berlutut di bawahku. Dinginnya malam sudah tidak kami hiraukan, kejantananku sudah berada
dalam jilatan dan kulumannya, aku tidak berani mendesah, takut terdengar mereka yang masih begadang. ?Udah lama aku tidak melakukannya di luar? bisiknya disela sela kulumannya. Aku tidak bisa melihat bagaimana kejantananku keluar masuk mulut istriku tersayang. Tak lama kemudian dia berdiri dan menarikku ke meja besi di depan kami, dia menarik turun celana jeans-nya hingga lutut lalu telentang di atas meja itu, aku yakin dia merasa dingin di atas meja itu tapi tak dihiraukannya. Kuangkat kakinya dan kujilati vaginanya, dia menggeliat tanpa berani bersuara, ditariknya kepalaku sebagai pertanda untuk segera mulai. Kunaikkan kakinya di pundakku dan
kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah, perlahan kudorong masuk penis tegangku hingga semua tertanam ke dalam.
Dalam keremangan malam kulihat istriku menggigit bibirnya, dia menikmati kocokanku tanpa suara, aku tahu itu siksaan baginya bercinta tanpa desahan. Kocokanku makin cepat, dia meremas remas buah dadanya, terkadang menggigit sendiri jari tangannya untuk menahan desahannya. Aku masih mengenakan pakaian, hanya penisku yang keluar dari lubang celanaku. Kami berganti posisi, dia berdiri dan telungkup di meja sementara aku mengocoknya dari belakang, dinginnya malam tak mampu menghentikan kami, perlahan dingin berganti dengan panasnya gairah kami. Kupegang pinggulnya dan kusodokkan penisku dengan keras, kembali dia menggigit bibir bawahnya menahan nikmat. Kami berpindah kembali ke ayunan, dia nungging dan kami bercinta dogie style, baru kali ini kami bercinta sambil ber-ayun, setiap kali kusodokkan penisku dengan keras, kursi itu berayun dan kembali, begitu seterusnya hingga istriku tak perlu melakukan gerakan maju mundur. Hampir setengah jam kami bercinta di
dinginnya malam udara puncak, tak ada desah dan jerit kenikmatan, hanya keringat kami yang mulai menetes. Tiba tiba kudengar suara orang bercakap mendekati kami, spontan kami menghentikan permainan dan membetulkan letak pakaian kami. Untunglah mereka tidak melihat ke arah taman hingga tak mengetahui keberadaan kami di taman. Masih dalam keadaan penuh nafsu dan gairah, kami putuskan untuk melanjutkan di
kamar, paviliun itu masih gelap. Kubuka kamar kami, ternyata tempat tidur kami sudah dipenuhi anak anak yang tidur berangkulan di balik selimut karena kedinginan. Istriku kemudian membuka kamar sebelahnya yang tidak terkunci, kamar keluarga Mas Surya, ternyata Mas Surya dan istrinya, Eliz sudah tidur juga, berangkulan di balik selimutnya. Di kejauhan kulihat beberapa orang masih begadang di depan bangunan induk,
dengan agak jengkel istriku duduk di sofa ruang tamu, aku tahu aku harus menghiburnya atau menuntaskan birahinya. Kubuka celanaku dan menyodorkan penisku yang masih basah cairan vaginanya ke mulutnya, dia langsung menyambut dengan kuluman penuh nafsu. Tak lama kemudian kami kembali bergumulan penuh nafsu, celanaku sudah terlepas begitu juga celananya, kami bercinta dengan mengenakan sweater. Sedikit kesadaranku timbul, kukunci pintu depan dan belakang, begitu juga kamar anak anak aku kunci dari luar. Kubiarkan kamar Mas Surya, toh mereka sudah tidur lelap.
Permainan kami berlanjut, kami bercinta di sofa maupun di karpet ruang tamu, tanpa kami sadari satu persatu pakaian kami terlepas dari tubuh kami, telanjang kami bercinta dengan nafsu yang menggelora, sesekali istriku berani mendesah ketika kukocok vaginanya dengan keras, seakan lupa bahwa ada Mas Surya dan istrinya di kamar itu. Duapuluh menit sudah berlalu, aku duduk di sofa sementara istriku duduk dipangkuanku turun naik dan bergoyang pinggul, mengocok dengan liarnya, kukulum dan kusedot serta kupermainkan putingnya dengan lidahku, dia menggelinjang nikmat, diremasnya rambutku. Goyangannya makin menggairahkan,
seakan meremas penisku yang tertanam di vaginanya. Aku tak tahan lebih lama lagi menahan gairahnya, kemudian menyemprotlah spermaku
di vaginanya, belum habis denyutan penisku menyemprotkan sperma ketika kurasakan remasan kuat dari dinding vagina istriku, dia mengikutiku mencapai puncak kenikmatan beberapa detik kemudian, kami saling berdenyut dan saling berpelukan penuh nikmat. Akhirnya kamipun terkulai telanjang di sofa ruang tamu, napas kami bersatu dalam birahi yang indah. Sebelum kami tertidur di sofa, kami kenakan kembali pakaian kami dan tertidur di sofa ruang tamu. Keesokan paginya semua berjalan seperti biasa, sebagaian besar berangkat ke daerah Agrowisata bersama anak anak, sementara aku dan istriku tinggal di villa dan mas Surya pergi men-servis mobil yang sempat ngadat saat macet. Karena tidurku kurang nyenyak, setelah mandi dan bersih bersih maka aku lanjutkan tidur
di kamarku yang semalam dipakai anak anak. Jam dinding berbunyi 10 kali pertanda pukul 10 pagi, belum lelap tidurku sayup sayup kudengar pembicaraan istriku dengan seorang wanita yang tidak aku tahu
pasti siapa dia. ?Mbak Lily, aku mau tanya, pribadi nih, boleh enggak ?? kata
wanita itu yang ternyata mbak Eliz. ?Ada apa sih mbak, kok kelihatan serius amat ?? tanya istriku ?Jangan marah ya, janji ya,?anu mbak?..aduh gimana nih susah ngomongnya? Mbak Eliz terdengar canggung. ?Emangnya ada apa sih ?? ?Anu mbak emmm.... semalam permainan mbak begitu menggairahkan dan liar, aku dan Mas Sur jadi menikmatinya sampai habis, setelah itu kami melakukannya di kamar meski tidak selama dan seheboh permainan mbak? ?Hah ? kok mbak Eliz?..?jawab istriku, ada nada kaget disuaranya. ?Iya mbak, maaf ya mbak, ketika aku dengar ada suara
agak berisik aku terbangun, dan lebih kaget lagi ketika kulihat Mbak Lily dan
Mas Hendra sedang begituan? ?Seberapa lama mbak lihat ?? tanya istriku penasaran ?Sejak mbak Lily mengulum Mas Hendra? jawabnya, berarti itu baru permulaan, cukup lama dia melihat permainan kami ?Lalu, aku melihat bagaimana Mas Hendra menjilati mbak, sepertinya mbak begitu menikmati gitu, aku jadi pingin deh digituin, tapi Mas Sur nggak pernah mau melakukannya? mbak Eliz melanjutkan. ?Emang mbak melihat kami bersama dengan Mas Surya ?? Tanya istriku penasaran ?Ketika aku sedang melihat kalian di lantai, saat itulah Mas Sur bangun dan kami melihat kalian berdua sambil dia memelukku, terus terang aku salut sama suami mbak, bisa bermain lama begitu dan banyak posisi, dan ?.. dan?.. dan?.. jangan
marah ya mbak, aku ?aku ?. melihat punya Mas Hendra begitu besar, meski dalam keremangan aku bisa melihatnya, sampai sampai saat aku bermain dengan Mas Sur kubayangkan punya Mas Hendra yang besar itu, entah bagaimana rasanya barang sebesar itu, tak terbayang deh, enak kali mbak ya sampai mbak menggeliat kelojotan kayak gitu, jangan marah ya mbak aku kan cuma mengatakan perasaanku apa adanya? ada nada kagum dan ragu ragu dari suara mbak Eliz.</p> Aku tak tahu bagaimana mbak Eliz bisa bercerita begitu polos dan terus terang tanpa basa basi seperti itu. ?Emang punya Mas Sur nggak gede ?? pancing istriku ?Entahlah mbak,
tapi punya Mas Hendra kelihatan begitu besar dan ah nggak tau lah mbak? ?Mbak Eliz pingin merasakannya ?? pancing istriku penuh selidik, aku yakin dia sudah mulai keluar isengnya. ?Jangan marah mbak, aku Cuma berkhayal saja kok, lagian aku kan nggak mungkin selingkuh dengan suami teman sendiri, ntar aku dikira apa? mbak Eliz terdengar canggung. ?Bagaimana kalo kuijinkan? benar sudah keluar gairah liarnya ?Maksud mbak ?? Eliz terdengar kaget ?Ya kamu ngerasain yang kamu bayangkan, dari pada cuma dibayangkan dan membuatku berpikir yang negatif, lebih baik di wujudkan saja, iya kan? istriku sudah mulai nakal ?Mbak ijinin aku sama suami mbak ? ah mbak pasti bergurau nih,ah udahlah mbak, anggap pembicaraan ini
nggak ada, sekedar iseng? Mbak Eliz mulai gugup. ?Mbak, tolong jawab dengan jujur, aku serius nih, mbak Eliz mau apa enggak ?? Mereka terdiam, hanya pancuran air cucian piring yang kudengar, tiba tiba kudengar suara gelas jatuh berantakan, rupanya ada yang nervous. ?Mbak beneran nih ? Mas Hendra sendiri gimana ?? tanyanya kaget dan penasaran ?Udahlah, masalah itu serahkan padaku, jawab dulu kamu mau apa enggak ? Mereka terdiam lagi. ?Entahlah mbak, aku jadi malu nih? dia ragu ragu. ?kalau Mas Hendra mau dan mbak nggak keberatan, ....ya....aku sih.... emmm... malu ah? ?Ya jelas mau dong, dikasih enak kok nggak mau? tegas istriku ?Sekarang mbak mau apa enggak ? soal suami mbak biar
aku yang atasi, serahkan saja padaku, trust me, kalo emang oke ntar aku bilang ke mas Hendra? lanjut istriku meyakinkan mbak Eliz, entah apa yang ada dibenaknya. Tak kudengar pembicaraan lebih lanjut, sepertinya mbak Eliz masih ragu atau malu untuk meng-iyakan tawaran istriku. ?Tapi jangan bilang bilang mas Sur ya mbak? kata mbak Eliz berarti setuju tanpa meng-iyakan. ?Gila apa, emang kita mau cari perkara? suara istriku meninggi ?Temanin ya mbak? ?Ini orang, udah diijinin masih minta ditemenin lagi, kayak perawan aja? kata istriku sewot ?Bukan gitu mbak, aku kan canggung kalo langsung ke kamar mas Hendra, ntar dikira ngajak selingkuh lagi, padahal kan seijin mbak? ?Ya udah deh, kalo gitu kita keroyok aja mas Hendra rame rame, kita main bertiga aja, buruan ntar suamimu keburu datang dari servis mobil? jawab istriku. Mendengar pembicaraan mereka kejantananku perlahan menegang, apalagi ketika membayangkan mbak Eliz yang cantik dan mulus. Wanita keturunan Aceh itu umurnya 1 ? 2 tahun lebih muda dari istriku, tingginya sedikit dibawah istriku, mungkin 160, tapi body-nya sungguh menggetarkan birahi laki laki yang melihatnya, apalagi dadanya yang terlihat menonjol menantang, perkiraanku pasti tidak lebih
kecil dari 36B, kulitnya yang putih mulus bak pualam, sungguh beruntung aku kalau memang ini terjadi, ingin rasanya aku segera menikmati tubuh sexy-nya. Tak lama kemudian kudengar langkah menuju ke kamar, aku pura pura tidur pulas ketika mereka masuk kamar dan mendekati tempat tidur, ranjang bergoyang ketika mereka naik. Kudengar mereka berbisik bisik sebentar, tanpa bicara lagi tiba tiba istriku langsung menciumku, pura pura kaget kubalas kuluman bibir istriku. Sambil menciumku dia meremas remas kejantananku yang menegang dibalik celana pendek, kuremas buah dadanya dibalik sweater-nya, kejantananku makin menegang, aku masih menunggu sentuhan tangan lembut mbak Eliz, kulepas sweater-nya hingga tampak bra
ungu yang tak lama kemudian tanggal dari tubuhnya. Sekilas kulirik mbak Eliz hanya berdiri mematung melihat kami berciuman. Tak lama kemudian kami sudah sama sama telanjang bulat berpelukan dan berciuman didepan mbak Eliz yang masih berdiri di ujung ranjang. Aku khawatir mbak Eliz berubah pikiran, maka kuhentikan ciumanku dan menghampirinya, dia mundur selangkah menjauhiku, tampak keragu raguan di sikapnya, untunglah istriku membantunya, didekatinya mbak Eliz diraihnya tangannya dan dituntun ke arah kejantananku yang menegang. Ragu ragu dia egangnya tapi istriku berhasil memaksanya untuk meremas kejantananku, dia dangku dengan sorot mata kagum, aku suka dengan cara pandangnya yang penuh
gairah itu. Ketika mbak Eliz mulai meremas dan mengocok, kutarik tubuhnya dalam pelukanku yang telanjang, bisa kurasakan buah dadanya yang mengganjal di dadaku. Istriku ikutan memelukku, kini dua wanita cantik dalam pelukanku, satu telanjang dan satunya masih berpakaian. Tanpa membuang kesempatan lebih lama, kucium pipi mbak Eliz yang mulus itu dan terus bergeser ke bibir manisnya, mulanya agak canggung dia melayani ciuman bibirku tapi kemudian dibalasnya ciumanku dengan tak kalah
gairahnya, dilumatnya bibirku seakan tak mau melepaskan lagi. Tanganku mulai menyusuri dadanya, kuremas dengan lembut buah dadanya, seperti dugaanku, begitu montok dan kenyal, membuatku makin gemas untuk meremas remas. Remasan dan kocokan empat tangan di kejantananku makin liar, seliar ciuman dan remasanku pada buah dada mbak Eliz.
Kulepas kaosnya, terlihatlah buah dada montoknya yang masih terbungkus bra merah berenda, sungguh sexy dan terlihat begitu padat, aku menelan ludah melihat kemontokan tubuh nan sexy itu, segera kudaratkan ciumanku ke leher mbak Eliz, dia menggelinjang dan mulai mendesis pelan, remasanku makin leluasa menggerayangi kedua bukit yang menantang, kuselipkan tanganku di sela bra-nya, begitu didapati putingnya segera kupermainkan dengan nakal, gelinjang mbak Eliz makin menjadi, desisnya makin jelas terdengar. Istriku yang dari tadi memelukku dari belakang bergeser ke belakang mbak Eliz, ternyata dia melepas bra merah
itu. ?Tadaaaaaaaaa? kata istriku setelah menarik bra mbak Eliz. Aku kembali terpesona melihat buah dadanya yang polos padat menggantung di dadanya, belum hilang kagumku, istriku ternyata sudah melorotkan celana pendek sekaligus celana dalamnya, untuk kesekian kalinya aku melongo melihat ke-sexy-an tubuh telanjang tetanggaku ini, rambut pubicnya yang tertata rapi membentuk segitiga, begitu indah. Tangan mbak Eliz dari tadi tak pernah lepas dari kejantananku, bibir dan lidahku kembali menyusuri leher jenjangnya dan lidahku langsung menuju ke puncak
bukit yang kemerahan, dengan liar kupermainkan putting yang kecil menantang, kukulum dan kusedot putingnya sambil mempermainkan dengan lidahku, geliat dan desis mbak Eliz bertambah berani, rambutnya yang panjang tergerai bebas saat dia menengadah dan mendesah. Puas melumat kedua bukit mulusnya, ciumanku turun ke perut dan berhenti di kangannya. Lidahku menyusuri kedua paha hingga lututnya, sengaja aku tak menyentuh daerah vaginanya, ingin kupermainkan dia lebih lama lagi, ingin kulihat dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dugaanku benar, dia kelocotan
dilanda birahi, berulang kali tanganku dituntun ke daerah vaginanya, tapi aku tak mau melanjutkan. ?Pleeeeeeeaaassssse??pleaaaaaa assssse? desahnya yang membuat aku tak tega mempermainkan lebih lama lagi. Kutuntun dia ke arah ranjang dan kutelentangkan, kini tubuh telanjang dan sexy mbak Eliz telentang penuh pasrah, aku menikmati
saat saat seperti ini. Kutindih tubuh montok itu, kami kembali berciuman
sebentar sebelum akhirnya aku jongkok di antara kedua kakinya. “Ini yang kamu
mau bukan ?” kata istriku yang dari tadi telanjang berdiri menonton suaminya
sedang mencumbu mbak Eliz, istri tetangga. Lidahku menyusuri pahanya yang mulus, lalu berhenti di selangkangannya. Aku mulai menjilati bibir vaginanya, dia menggeliat dan menjerit tertahan ketika lidahku menyentuh klitorisnya, tangannya digigitnya untuk menahan jeritannya. Istriku yang duduk di sampingnya tersenyum melihatnya, lidahku menari nari di vaginanya, sesekali kusedot liang vaginanya, tak jarang cairan vaginanya tertelan mulutku. Mbak Eliz menggeliat tanpa kontrol, pahanya menjepit kepalaku, tapi tak kuhiraukan. Dua jari tanganku sudah mengocok liang vaginanya sembari lidahku menyapu klitorisnya, dia menjerit penuh nikmat. “Aaaaauuuuuggghhhh… .. yessss…yessss… . trussss” jeritnya lepas sambil meremas remas rambutku, seakan lupa bahwa dia sedang menikmati suami orang. “Aaagghhh…sssshhhhhh… sssshhhh…yesss… yesss…. yaaa…aku keluaaaaaaaar” jeritnya tertahan, ternyata dia sudah orgasme hanya dengan jilatan lidah. Aku tak mempedulikannya, terus kujilati dan kukocokkan jari tanganku. “Aaaaghhh….
ssssssudah….. ssssssudah….. pleeeeeeaaaase” dia memohonku menghentikan
jilatanku, tapi aku tak mau berhenti begitu saja. “Mas, udah mas, kasih dia
istirahat dulu” celetuk istriku. Dengan berat hati aku beranjak dari selangkangan mbak Eliz, telentang diantara kedua wanita itu, istriku segera bergeser ke selangkanganku, diremasnya kejantananku dan langsung dikulumnya, tak lama kemudian kejantananku sudah meluncur keluar masuk mulutnya. Kakiku diangkatnya dan dia menjilati kantong bola hingga ke lubang anusku, aku mendesis sambil meraba dan meremas remas buah dada mbak Eliz yang masih telentang di sampingku. Mbak Eliz memiringkan tubuhnya, kini dia dipelukanku, kepalanya disandarkan di bahu ketika istriku sedang menjilati penisku. Mbak Eliz mulai kembali menciumi wajahku, terus beralih ke leher dan dadaku, dikulumnya putingku, aku menggeliat nikmat mendapat perlakuan kedua wanita cantik ini secara bersamaan. “Mbak, aku duluan ya” pintanya pada istriku ketika ciumannya sudah sampai di perut. “You are my guest, terserah, asal mau berbagi ini” jawab istriku sambil menyodorkan penisku ke muka mbak Eliz. Dia meraih penisku dan engocoknya dengan tangannya, sepertinya dia agak ragu untuk mengulum penisku. “Terlalu besar mbak, nggak muat nih” katanya kemudian “Coba aja dulu, ntar akan masuk sendiri” jawab istriku masih asik menjilati pangkal paha dan kantong bolaku. Mbak Eliz mulai menjilati kepala penisku, lidahnya berputar putar di ujung penis, lalu turun ke batangnya hingga pangkalnya, terus naik lagi ke ujung, kepala kedua wanita itu berimpit di selangkanganku. Wonderful, dua wanita cantik bermain dengan kejantananku, I’m flying to heaven. Jari tanganku mengocok vagina
mbak Eliz yang basah, dia menjilat sambil mendesis. “Ya gitu terus masukin, pelan pelan saja” istriku seakan mengajari mbak Eliz, dan kepala penisku sudah berada di mulutnya. Kulihat dia kesulitan untuk memasukkan batangnya, istriku segera mengambil alih, diraihnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya dengan lahapnya, dia mengocok penuh gairah, lalu dikembalikan lagi ke mbak Eliz, seperti anak kecil yang mengembalikan permainan yang dipinjamnya. Mbak Eliz berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin penisku ke rongga mulutnya, hanya setengah yang bisa dia kulum, istriku menjilati batang penis yang tidak tertampung, penisku mulai meluncur keluar masuk mulut mbak Eliz, kocokan jariku di vaginanya makin cepat, desahnya tertahan penisku. Mbak Eliz ber anjak menaiki tubuhku, sepertinya dia ingin segera merasakan penisku di vaginanya, tapi istriku mencegahnya. “Jangan posisi ini dulu, pelan pelan saja, santai saja” kata istriku meminta Eliz telentang di sampingku. Segera kunaiki dan kutindih tubuhnya, kucium dan
kujilati leher mulusnya, istriku dengan setia menuntun kejantananku ke vagina
mbak Eliz, perlahan lahan kudorong masuk menguak liang sempit di
selangkangannya. “Aaaaagghhhhh… .. pe…lan……. pe…lan…. mas, sakiiiiiiiit, besar
bangeeeet” desahnya seperti seorang perawan yang baru bercinta. “Santai saja
mbak, nggak usah tegang, mas jangan kasar dong” kata istriku yang selalu
bertindak sebagai sutradara dan pengatur laku. Kudorong penisku memasuki liang sempit itu sebentar lalu kutarik lagi perlahan lahan, kudorong lagi dan kutarik lagi, makin lama makin dalam penisku melesak kedalam liang vaginanya, hingga akhirnya semua penisku masuk dalam vaginanya, kudiamkan sejenak dan kunikmati expresi di wajahnya yang bersemu merah. Mbak Eliz menggigit bibirnya, entah sakit entah nikmat, padahal liang vaginanya sudah basah, tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Dia menahan tubuhku ketika aku mulai gerakan menarik, kudiamkan lagi sambil menciumi lehernya, buah
dadanya masih terasa mengganjal di dadaku. “Gila gede banget, penuh rasanya mas, tak kusangka bisa sepenuh ini” bisiknya ditelingaku. Istriku mulai mengelus kantong bola-ku, membuatku menggelinjang di tas tubuh mbak Eliz, dia memelukku lebih erat lagi. Perlahan aku mulai menarik dan mendorong penisku, makin lama makin cepat hingga akhirnya aku bisa mengocok mbak Eliz dengan gerakan normal, desahan nikmat keluar dari mulut manisnya membuatku makin bernafsu menggoyangkan pantatku. Dia ikutan menggoyangkan pantatnya mengimbangiku, rupanya sudah bisa menyesuaikan diri. Aku berlutut sambil mengocoknya, kuamati wajah mbak Eliz yang sedang dilanda birahi, wajah cantiknya makin cantik ketika dia mendesah, membuatku semakin bernafsu. “Egh.. egh.. egh…. enak mas, trus massssss…yessss… fish me..yess” desahnya lepas seirama kocokanku. Buah dada montok mbak Eliz berguncang guncang, diremasnya sendiri kedua bukitnya itu sambil dia mempermainkan putingnya. Istriku meletakkan kedua kaki mbak Eliz ke pundakku, membuat penisku makin melesak ke dalam. “Ouhh…yaa.. makasih mbak,…trus masss” desahnya makin merasakan kenikmatannya, makin cepat kocokanku makin liar dia mendesah. “Gimana ? enak mbak ?” goda istriku sambil mengelus elus rambutnya. “Ufff... bu.. bukan enak lagii.... tooooop deh” jawabnya di sela sela desahan sambil meremas remas buah dadanya sendiri. “Enak mana sama suami mbak ?” tanyaku keceplosan, tak seharusnya aku membandingkan seperti ini. “Tau ahh” “Enak mana ?” desakku sambil menyodoknya keras “Aaaauugghhhh. .. ssss... en.. nak... i.... nniii” jawaban atau desahannya, tentu saja dia akan menjawab begitu, mana mungkin dia menjawab lain kalau sedang menikmati yang ini. “Aaagghhh…shit… shit…yessss” teriaknya sambil mencengkeram erat lenganku, dan bersamaan dengan itu kurasakan remasan otot vaginanya pada penisku, dia mencapai orgasme lagi, tak lebih sepuluh menit aku mengocoknya. </p> Kuhentikan gerakanku sejenak untuk merasakan denyutan vagina mbak Eliz yang cukup kuat. Wajahnya makin cantik lagi dikala orgasme, semu kemerahan terlihat jelas di raut mukanya yang putih, sungguh berbeda dengan keseharian biasanya. Tubuh mbak Eliz langsung melemas seiring dengan habisnya denyutan itu, aku ingin mengocoknya lagi tapi istriku sudah menarik lenganku meminta giliran. Aku telentang di samping tubuh mbak Eliz yang masih ngos-ngosan, istriku langsung
mengatur posisinya di atasku dan melesaklah penisku ke vaginanya, vagina kedua
di pagi itu. Jujur saja kurasakan vagina mbak Eliz lebih nikmat dibandingkan
istriku, tapi gerakan dan goyangan istriku jauh lebih erotik dari mbak Eliz, dia
langsung naik turun dan bergoyang pinggul di atasku, aku dan istriku sama sama
mendesah nikmat. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang menggantung indah, lebih kecil dari punya mbak Eliz, tapi sama sama padat dan kenyal. Kupeluk tubuh istriku sambil mengocoknya dari bawah, dia mendesah dekat telingaku, kami saling berdekapan erat. Mbak Eliz sepertinya tak tahan melihat permainan kami, dia lalu mencium pipiku di sisi lain, kuraih tubuhnya, kuremas buah dadanya lalu kupeluk, sungguh nikmat memeluk dua wanita yang cantik dan sexy, sambil tetap mengocoknya. Istriku kembali duduk di atas penisku sambil bergoyang pinggul. “Mbak di atas sana gih” perintah istriku sambil menjulurkan lidah memberi kode untuk dijilati vaginanya. Mereka saling berpandangan lalu tersenyum, mbak eliz segera membuka kakinya tepat di atas mukaku, segera kusambut dengan lidahku. Kedua wanita ini saling mendesah di atasku, mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan, ada kepuasan tersendiri bisa memberikan kenikmatan pada dua wanita cantik secara bersamaan, meski aku tidak bisa melihat expresi wajah keduanya, pandangan dan mukaku tertutup pantat mbak Eliz. Tiba tiba mereka turun secara bersamaan, aku kecewa, tetapi segera kekecewaanku berganti dengan kenikmatan lagi, ternyata berganti posisi, istriku di atas kepalaku sedangkan mbak Eliz pada penisku. Goyangan mbak Eliz tidak seliar istriku, tapi tetap saja nikmat, kembali mereka mendesah bersama sama. “Dari belakang mbak” usul istriku tak lama kemudian “Doggie ??” Tanya mbak Eliz yang masih turun naik di atas penisku. Tanpa menjawab istriku langsung turun dan nungging di sebelahku, diikuti dengan mbak Eliz nungging di sebelahnya, kini aku harus memilih diantara dua vagina yang menantang. Kuamati mereka sejenak, baru sekarang kusadari kalau pantat mbak Eliz begitu sintal dan padat, indah dipandang, apalagi kalau digoyang. Tanpa piker panjang, aku berdiri di belakang mbak Eliz, kusapukan sebentar lalu
kudorong perlahan masuk hingga semua penisku tertanam ke vaginanya. agghhhh… . pelaaaaan” desahnya ketika penisku menguak liang vaginanya. Istriku mandangku sambil tersenyum, tapi tak kupedulikan, aku sedang konsentrasi menikmati mbak Eliz. Penisku mulai meluncur keluar masuk vaginanya, kupegang pantatnya yang padat berisi, kutarik dan kudorong seirama kocokanku, mbak Eliz mendesah lebih liar. Buah dadanya ber-ayun ayun dengan bebasnya, kuraih dan kuremas dengan gemas penuh nafsu, kupermainkan putingnya, membuat dia makin mendesah dan mulai berani menggoyangkan pantat mengimbangiku, kenikmatanku bertambah apalagi ketika istriku memelukku dari belakang dan mengelus dadaku sambil menciumi tengkuk dan punggungku. Kocokanku pada mbak Eliz makin cepat dan liar, ketika istriku nungging di sebelahnya meminta giliran, agak berat aku melepas mbak Eliz yang sedang dalam birahi tinggi, tapi aku tak bisa mengabaikan istriku. Kugeser tubuhku di belakang istriku, dengan sekali dorong melesaklah penisku ke vaginanya, langsung kukocok dengan cepat dan keras, aku tahu kesukaannya, makin liar makin suka dia. “Mbak keluarnya di aku saja ya” pinta mbak Eliz yang disambut senyuman oleh istriku di sela desahannya. “Boleh asal setelah itu dibersihkan dengan mulut” jawab istriku nakal sambil mendesah nikmat “Dengan mulut mbak ??” tanyanya heran “Iyyaaaa, mau nggak ???” jawab istriku dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya jadi tambah bernafsu, kuhentakkan makin keras penisku ke vaginanya. “Mmmmm…iya
deh” jawab mbak Eliz sambil mengangkat dua jarinya lalu bergeser ke belakangku
dan memeluk seperti yang dilakukan istriku tadi. “Janji”. Belum sempat mbak Eliz memberi jawaban, terdengar deru mobil melintas di depan pavilliun, Mas Surya telah dating. Sebelum kami sempat berpikir harus berbuat apa, istriku sudah mengambil inisiatif. “Kalian lanjutkan saja, Mas Surya biar aku yang tangani, believe me” katanya langsung menarik keluar penisku dan turun dari ranjang, dikenakannya kaos dan celana pendeknya tanpa mengenakan pakaian dalam, entah sengaja atau terburu buru aku tak tahu. “Ingat janjimu mbak” teriaknya sesaat sebelum pintu kamar tertutup. Sepeninggal dia aku dan mbak Eliz saling berpandangan seperti tak tahu harus berbuat apa. Masih tetap telanjang, kami mengintip ke jendela dari balik tirai, melihat keadaan, kulihat istriku berbicara dengan Mas Surya yang baru keluar dari mobil, digandengnya Mas Surya menuju kolam renang, tanpa berganti pakaian renang istriku langsung mencebur ke kolam, Mas Surya melepas pakaiannya, dengan memakai celana dalam dia mengikuti istriku masuk ke kolam, aku yakin Mas Surya akan segera tahu kalau istriku tidak memakai bra begitu kaosnya basah, putingnya pasti membayang di balik kaos basah itu, aku tidak tahu dengan pikiran Mbak Eliz. Membayangkan mereka berdua gairahku kembali naik, aku bergeser ke belakang mbak Eliz yang masih asik mengintip mereka. Kupeluk dan kuremas buah dadanya dari belakang, dia tidak memberi respon. Kubuka kakinya, dia menurut saja, ku usap usapkan penisku ke pantatnya lalu kusapukan penisku ke vaginanya, dia menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Tubuhnya menegang ketika penisku meluncur masuk ke liang vaginanya, dia mendesah tapi matanya tetap tertuju pada istriku dan suaminya di kolam sana, aku tak peduli apa yang ada di benaknya. Kukocok dia dengan cepat, tangannya meremas tirai jendela, kami bercinta dengan berdiri, sambil memegang pantat dan meremas buah dadanya kukocok makin cepat, dia mendesah lepas, seakan melupakan mereka yang ada di kolam. “Aduh mas, enak mas, terussss” desahnya lagi, tangannya tertumpu pada bingkai jendela, aku menyukai pandangan pantatnya yang mulus, sintal, padat berisi, apalagi saat bergoyang ketika kukocok, begitu indah dan menggairahkan. Khawatir kami lepas kontrol dan tirainya tertarik, kami pindah ke sofa, sayup sayup kudengar tawa dan canda dari kolam. Mbak Eliz duduk di sofa, aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka, kupeluk dan kuciumi bibir dan lehernya, dia memegang penisku, mengocoknya sejenak lalu menyapukan ke vaginanya, masih saling melumat bibir, penisku kembali memenuhi rongga vagina mbak Eliz, dia melepaskan lumatannya ketika semuanya sudah berada dalam vaginanya, dipandanginya mataku dengan sorot penuh gairah. “Cumbui aku sesuka Mas Hendra, fish me as you like, puaskan aku mas” bisiknya, ada nada marah pada suaranya, mungkin dia cemburu dengan yang di kolam, tapi aku tak peduli, yang penting aku bisa menikmati tubuh sexy mbak Eliz sebanyak yang aku bisa. Kami saling memeluk dan mengocok, berbagai posisi kami lakukan dari meja, karpet
lantai hingga kembali ke ranjang dengan segala posisi yang ada di imajinasi
kami, entah sudah berapa kali dia mengalami orgasme, tapi selalu berulang dan
berulang lagi. Rasanya tak pernah habis kureguk kenikmatan dari mbak Eliz. Suara
canda dari kolam sudah tak terdengar lagi, kami terlalu asik mengarungi lautan
kenikmatan hingga tak perhatikan sejak kapan terhenti. Tubuhku untuk kesekian kalinya di atas tubuh mbak Eliz, mengocok dan menggoyang dengan penuh gairah dan nafsu, kakinya dikaitkan di atas pinggangku, kami saling mereguk kenikmatan, hingga sampailah aku ke puncak kenikmatan sexual, tubuhku menegang. “Keluarin di dalam Mas” bisiknya, dan sedetik kemudian menyemprotlah spermaku di rahim istri tetanggaku yang cantik ini. “Aaaaaaauuuuuggghhhh” dia menjerit spontan ketika semprotan pertama menghantam dinding rahim dan vaginanya, tubuhnya ikut menegang dan sebelum denyutanku habis vaginanya ikutan berdenyut lemah, kami orgasme hampir bersamaan, saling memeluk erat, napas kami menderu seiring deru birahi kami. Aku langsung lunglai di atas tubuh dan pelukan mbak Eliz, kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kami berpelukan dan
saling mendekap tanpa kata, seakan menikmati saat saat nikmat yang baru saja
kami gapai. “Udah dulu ya saying, ntar suamimu tahu” kataku memecahkan keheningan, kuberanikan memanggil kata saying, mengingat saat nikmat yang baru saja kami lalui. “Thanks mas, ini the best sex I have ever had” katanya masih di pelukanku. “Mas Hendra bukan satu satunya selain suamiku, aku memang beberapa kali selingkuh sama teman, tolong pegang rahasia ini ya Mas, tapi inilah yang terbaik dan punya Mas Hendra adalah yang terbesar yang pernah aku tahu selama ini, paling asik deh” katanya pelan tapi mengagetkanku. Sungguh beruntung laki laki yang telah menikmati tubuh sexy dan wajah cantik ini. “Mas Surya tahu ?”
tanyaku sambil menutupi kekagetanku. “Entahlah Mas, mungkin juga sudah tahu tapi
dia belum memergoki secara langsung sih, mau Tanya juga nggak berani dia karena
aku juga tahu dia sering selingkuh, bahkan sekali tertangkap basah” Mbak Eliz
terdiam sejenak. “Kehidupan keluarga kami sih nggak ada masalah, selama masalah
itu tidak dibawa ke rumah, dan kita juga nggak pernah mengungkit ungkit masalah
itu, it just fun, selama ini kami happy-happy saja kok, nothing wrong with my
family. Aku berkata sejujurnya bahwa inilah yang terbaik yang pernah aku alami,
aku jadi pingin lagi lain waktu, terserah Mas Hendra apa dengan mbak Lily atau
Cuma kita berdua, aku sih oke oke saja, yang penting kita bisa menjaga keluarga
kita masing masing” lanjutnya, dia menciumku, lalu turun dan berpakaian. Kami lalu ke ruang tamu, kubuka tirai kamar pertanda kami sudah selesai, kolam renang terlihat sepi, dia membuatkan aku kopi lalu nonton TV bareng sambil menunggu kedatangan istriku dan suaminya yang entah sekarang dimana atau lagi ngapain. Sesekali kami berciuman dan kucuri remasan buah dadanya. “Kamu belum memenuhi janjimu”, kataku asal. “Yang mana ?” “Sebelum istriku keluar” “Emang dia pernah melakukannya ? “Bukan pernah lagi tapi setiap kali kami selesai bercinta” jawabku, melihat keadaan masih aman, kutarik mbak Eliz ke dapur, aku bersandar di dinding dan kulorotkan celanaku hingga lutut dan kuminta dia jongkok. Agak ragu sebentar tapi akhirnya dia menurut, kembali bibir dan lidahnya menyusuri kejantananku, tak lama kemudian penisku sudah keluar masuk
bibir mungilnya, makin lama makin menegang dan membesar. Kupegang rambutnya dan kukocokkan penisku di mulutnya. “Eeeegghhh…eeehhhmmm, gila, tak muat mulutku Mas” Penisku makin cepat keluar masuk mulutnya, tak lebih dari tiga menit kemudian kusemprotkan spermaku ke mulutnya, tak banyak memang, tapi aku sudah bisa merasakan orgasme di mulutnya. Dia berusaha menarik keluar, tapi kutahan kepalanya, dan tertelanlah spermaku itu, dia seperti mau muntah tapi tak kupedulikan, takkan kulepas sebelum aku yakin dia sudah menelannya, kuusap usapkan penisku yang sudah lemas itu ke mukanya, dia menikmatinya. Kami kembali ke ruang tamu menunggu kedatangan mereka, sepuluh menit kemudian muncullah Mas Surya dari balik pintu, sendirian dan masih mengenakan celana dalamnya yang sud ah agak kering, berarti cukup lama dia keluar dari kolam renang, dia terlihat agak terkejut melihat kami berdua di ruangan itu. “Eh, kirain kalian ikut Tea Walk” sapanya agak kaku langsung masuk ke kamarnya. Aku dan mbak Eliz saling berpandangan, dia kemudian menyusul suaminya ke kamar meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Cukup lama aku sendirian menunggu istriku sebelum akhirnya dia dating menenteng pakaiannya, hanya berbalut handuk dan rambutnya basah, padahal dia sudah lama keluar dari kolam. Dia tersenyum dan langsung masuk kamar, kususul dan kutarik handuknya hingga terlepas, ternyata dia tidak mengenakan apa apa dibaliknya, kupeluk dan kudorong dia ke ranjang
yang baru saja aku pakai bercinta dengan mbak Eliz. Sambil berpelukan dia mulai bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata dia membohongi Mas Surya bahwa kami ikut Tea Walk dan di kolam renang tak hentinya Mas Sur memandangi tubuhnya, sering tertangkap basah matanya memandang nakal ke arah buah dadanya yang memang menonjol di balik kaos basahnya, bahkan tak jarang Mas Surya berusaha menggodanya tapi istriku pura pura tak tahu. </p> Mungkin karena merasa usahanya tidak mendapat respon, maka dia i ngin segera ke Pavilliun, entah mau ngapain. Saat Mas Surya bilas di kamar mandi sebelah kolam, istriku menerobos masuk, langsung memeluk dan menciumnya, tentu saja Mas Surya kaget tapi segera membalas dengan penuh nafsu. Ketika istriku memegang kejantanannya yang sudah menegang di balik celana dalamnya yang masih basah, dia terkejut karena tidak sebesar yang dibayangkan, agak kecewa juga dia, apalagi ibandingkan punyaku, tapi ketika dikeluarkannnya ternyata bentuknya yang lurus ke depan, berbeda dengan penisku, dia langsung bergairah, karena bentuk seperti itulah kesukaannya. Istriku langsung jongkok di depan Mas Surya, menjilati sebentar kepala dan batang kemaluannya, lalu mengulumnya, penis kecil Mas Surya masuk semua ke mulutnya hingga hidungnya bisa menyentuh rambut pubic-nya. Mas Surya mendesis dan meremas rambut basah istriku sambil mengocokkan penisnya di mulutnya. Mata Mas Surya menatap tajam penuh kagum ketika istriku melepas pakaian basahnya, sama sama telanjang kembali mereka berpelukan dan berciuman, tangan Mas Surya tiada hentinya meremas buah dada istriku, begitu juga mulutnya seakan tak mau melepaskan putingnya. Mulanya dia menolak ketika istriku minta jilatan di vaginanya, tapi istriku tak peduli, dia memaksa posisi 69 sehingga ketika dia mengulum penis Mas Surya, vaginanya tepat di atas mukanya. Diawali dengan kocokan jari di vagina, tatapi akhirnya lidah Mas Surya mampir juga di vaginanya, bahkan menari nari pada klitoris istriku. Mendapat jilatan di gina, kuluman dan kocokan istriku makin menjadi, membuat Mas Surya sering kali entikan jilatannya untuk merasakan nikmatnya kuluman istriku pada penisnya. Akhirnya mereka bercinta di kamar mandi, dengan hanya beralaskan handuk, istriku engocok Mas Surya yang telentang di bawahnya, tangannya tak pernah bosan menjelajahi kedua bukitnya. Ada rasa aneh ketika penis Mas Surya memasuki liang vagina istriku, tidak biasanya dia merasakan penis yang kecil seperti itu, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati juga gerakan liar dari penis itu di vaginanya, ada kenikmatan berbeda antara ukuran besar dan kecil. Mereka kemudian berganti posisi, gantian istriku telentang, Mas Surya menindih dan mengocoknya, seperti kata istrinya, permainan suaminya tidak terlalu banyak improvisasi, justru istriku yang banyak mengambil inisiatif, kedua kakinya di tumpangkan ke bahu Mas Surya, penisnya lebih dalam masuk ke vagina istriku, tidak lebih dari 7 kocokan kemudian, Mas Surya menyemprotkan spermanya dalam vagina istriku, tanpa permisi lagi, seenaknya saja dia menyemburkan cairannya di dalam, denyutannya cukup kuat untuk membuat istriku menjerit kaget bercampur nikmat, lalu tubuh Mas Surya melemas terkulai di atas tubuh istriku, agak kecewa juga dia karena belum mencapai orgasme tapi Mas Surya sudah selesai terlebih dahulu, dan sialnya lagi dia tidak berhasil membangkitkan kembali gairah Mas Surya, tubuhnya semakin berat menindih badannya, apalagi di atas lantai yang keras. “Kamu memang hebat, pintar dan liar” bisik Mas Surya ketika istriku mendorong tubuhnya turun. “Baru segitu aja sudah memuji, kamu akan kaget bagaimana istrimu mendapatkan kenikmatan dari suamiku di sana” teriak batin istriku, tapi dia menutupi dengan senyuman. “Ingin aku mengulangi lagi di tempat dan suasana yang lebih nyaman, entah kapan, kalau kamu nggak keberatan” lanjut Mas Surya ketika mereka mengenakan kembali pakaiannya. “Boleh asal Mas dengan syarat dan aturan
main yang kutetapkan, ntar aku kasih tahu bila saatnya tiba, kalau bisa ketika
di puncak ini” jawab istriku nakal. Akhirnya mereka berdua keluar kamar mandi, istriku melihat tirai sudah terbuka pertanda kami sudah selesai dan keadaan aman, tugas sudah diselesaikan dengan baik. Ketika menuju Pavilliun, istriku teringat k alau celana dalamnya tertinggal di kamar mandi, segera dia kembali, langsung saja dia masuk. Ternyata si Bobby salah satu adik tetanggaku yang baru tamat kuliah berada di dalam, mereka berdua sama sama kaget, apalagi terlihat Bobby memegang celana dalam istriku sambil meremas selangkangannya. “Ada apa Bob ?” Tanya istriku menutupi kekagetannya “Aku tahu yang mbak lakukan sama Mas Surya barusan, aku sudah intip sejak Mbak mengikutinya masuk sini, jadi aku tahu semuanya” kata Bobby dengan pandangan nakal “Lalu ?” Tanya istriku
menyelidik “Apa Mas Hendra atau mbak Eliz tahu ? bagaimana kalau mereka
mengetahuinya ?” ada nada ancaman. “Jangan bilang mereka ya Bob, please” kata
istriku pura pura terkejut dan takut untuk mengetahui apa maunya “Aku akan tutup
mulut kalau ada imbalannya” Bobby berkata dengan angkernya “OK, berapa yang kamu mau asal keep this secret” tantang istriku “Aku nggak butuh duit dari mbak meski aku tidak punya duit, aku Cuma minta hal yang sama dengan Mas Surya” jawab Bobby, tentu saja mengagetkan istriku. “Bobby !!!, apa maksudmu” Tanya istriku pura pura bodoh “Ya apa yang mbak lakukan sama Mas Sur, aku minta yang sama, tapi aku nggak maksa kok, terserah mbak Lily saja” jawab Bobby enteng menggoda. Bobby sebenarnya tampan, hitam manis dan badannya atletis karena dia punya hobby aerobik, sebenarnya bisa saja istriku melayani kemauan Bobby, toh beberapa gigolo yang kami booking banyak yang usianya tak beda dari dia, bahkan lebih muda, masih kuliah lagi, tapi istriku tak mau merusak hubungan dengan kakaknya, ada rasa segan. Istriku terdiam mempertimbangkan, sebenarnya bukan takut dia cerita ke aku atau mbak Eliz, tapi lebih banyak pada etika berteman dan bertetangga. “Mbak gak rugi deh, aku masih perjaka kok, belum pernah melakukan yang gituan, paling juga onani” bujuk Bobby “Bobby, kalau kamu benar masih perjaka, mbak malah nggak mau melayani, sebaiknya kamu berikan pada orang yang kamu cintai, istrimu kelak, tapi mbak akan memberi imbalan tutup mulutmu dengan cara mbak sendiri dan mbak jamin kamu pasti menyukainya, tapi yang pasti bukan yang satu itu, asal kamu melupakan semua yang pernah terjadi di sini, baik antara aku dan Mas Surya maupun aku sama kamu, tidak pernah terjadi apa apa disini, oke ?” istriku yang nakal mencoba bernegosiasi sambil mendekati Bobby. Dia masih terdiam ketika istriku memeluk dan mencium kedua pipinya, terasa jantungnya yang berdetak kencang, apalagi ketika istriku mendekapnya erat, buah dadanya menempel rapat di dada Bobby. Dia diam saja dan membalas ketika bibir Bobby melumat bibirnya, tangan istriku segera menjelajah di selangkangan Bobby ketika Bobby mulai menjamah buah dadanya. “Aku belum pernah melakukan ini” katanya terbata bata, tangannya agak gemetaran ketika meremas buah dada istriku. Istriku bersandar di dinding, dia nurut saja ketika Bobby melepas kaosnya, bahkan dia mulai mendesis ketika Bobby meremas dan mengulum kedua buah dada dan putingnya. Terasa kaku dan kasar remasan dan kuluman Bobby, tapi istriku menikmati permainan perjaka ini, dibiarkannya Bobby menikmati seluruh tubuhnya, bibirnya, lidahnya, elusannya, tak sejengkalpun tubuh istriku luput dari jamahannya, kecuali bagian selangkangan yang masih tertutup celana pendek. Berulang kali Bobby berusaha melepasnya tapi istriku selalu menolak, dan terus mencoba lagi hingga akhirnya istriku menyerah. “OK, kamu boleh melakukannya tapi tetap tidak yang satu itu” tegas istriku, dan tak lama kemudian istriku kembali telanjang di kamar itu, di depan orang yang berbeda, konyolnya lagi kini dia telanjang di depan orang yang masih berpakaian lengkap dan bersepatu cats. Rupanya Bobby Cuma mengelus dan menciumi paha dan pantat istriku, dia tidak melakukan jilatan di vagina maupun sentuhan di klitoris seperti perkiraan istriku semula. Bobby paling suka menciumi pipi, leher dan melumat bibir istriku, juga meremas dan mengulum kedua buah dadanya. Sambil saling melumat bibir, istriku membuka resliting celana Bobby dan mengeluarkan kejantanannya, terkaget dia mendapati kenyataan bahwa penis Bobby cukup besar, mungkin sama dengan punyaku, dia jongkok di depan Bobby dan mengocok dengan tangannya. “It’s show time” kata istriku, lalu dia mulai menjilati sekujur penis Bobby, jilatan nakalnya menjelajah ke seluruh bagian kejantanannya, membuat Bobby mendesis desis dan meremas rambut istriku. “Oooooooohhhhh… . sssssssshhhhhh” desisan keluar dari mulutnya ketika istriku memasukkan penis itu ke mulutnya, penis yang besar itu makin tegang dan membesar dalam genggaman dan kocokan mulut istriku. Kalau tidak mengingat siapa Bobby dan hubungan baik dengan kakaknya, ingin rasanya memasukkan penisnya ke vagina, untuk melampiaskan birahi yang tidak elesaikan dengan Mas Surya tadi. Sambil mengocok dengan mulut, tanpa setahu Bobby istriku mempermainkan jarinya di klitoris, dia memerlukan sesuatu di vaginanya, ingin rasanya mengajak ber-69 supaya sama sama nikmat. Belum lima menit istriku mengocoknya, tiba tiba Bobby teriak dan langsung menyemprotkan spermanya di mulut istriku, segera ditariknya keluar penisnya hingga beberapa semprotan sperma mengenai muka dan rambutnya, dimasukkannya kembali penis Bobby ke mulutnya, beberapa tetesan masih keluar mengisi mulut istriku, banyak juga sperma yang disemprotkan Bobby, maklum baru pertama kali melakukan seperti ini. Istriku bukannya mengeluarkan penis dari mulutnya ketika semprotannya habis, tapi justru mempermainkan dengan lidahnya, kontan saja Bobby teriak kegelian dan mencabut dengan paksa penisnya dari mulut istriku. “Gimana ? puas nggak ?” goda istriku sambil mengusap sisa sperma yang ada di bibirnya. “Gila, 100% mbak” jawab Bobby dengan nada puas “Udah keluar sana, mbak mau mandi bersihin spermamu yang ada di tubuh mbak ini, lagian ntar mereka tahu” kata istriku sambil berdiri dan menyalakan shower. “Aku di sini aja mbak, sambil lihat mbak mandi” kata Bobby “Ah nggak nggak nggak bisa, ini diluar perjanjian” jawab istriku ketus, sebenarnya dia khawatir kalau Bobby bisa segera recovery dan minta kelanjutannya, kan bisa berabe, maklum masih darah muda, disamping itu dia juga takut terhanyut emosi dan nafsu birahi dengan melayani permintaan Bobby untuk bercinta. Akhirnya Bobby keluar dan istriku melanjutkan mandi, itulah sebabnya ketika dia dating dengan menenteng pakaian, rambutnya basah dan hanya berbalut handuk. Mendengar ceritanya barusan, kuceritakan juga pengakuan dari Mbak Eliz tentang keluarga yang saling selingkuh, kulihat pandangan isriku berbinar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Nafsuku naik kembali ingin aku menuntaskan birahi istriku yang tak terselesaikan, tapi dia menolak. “Jangan sekarang Pa, ntar aja, aku ingin ngerjain Mas Surya, kita bertiga, Papa setuju kan” pinta istriku, tak ada alasan bagiku untuk menolak karena dia sudah membantuku dengan mbak Eliz. “Sekarang kita harus pikirkan bagaimana menyingkirkan mbak Eliz sementara, Papa ada ide nggak ?” kata istriku. “Aku bisa aja mengajak mbak Eliz jalan jalan keluar, tapi kalau kamu minta kita bertiga ya kita harus pikirkan lagi alasannya” jawabku “Kita pikir nanti deh, sekarang kita keluar cari makan, sekarang sudah hampir jam 1 saatnya makan, siapa tahu kita dapat ide” usul istriku setelah kami saling terdiam berpikir beberapa lama. Setelah berpakaian sewajarnya kami keluar kamar, ternyata Mas Surya dan istrinya sudah berada di teras depan Pavilliun, kami saling menyapa seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kami, semuanya berjalan normal separti biasa, tak ada rasa canggung ataupun segan, padahal diantara kami sudah saling menikmati pasangan masing masing. Bedanya, kini seringkali mbak Eliz memandangku dengan sorot mata yang penuh gairah, dan kubalas dengan senyum penuh arti, tentu hal ini hanya kami berdua yang tahu. Mungkin juga hal yang sama dilakukan Mas Sur dan istriku. Kami berempat ke Bangunan utama yang letaknya di depan melintas kolam renang, berbaur dan ngobrol dengan penjaga dan mereka yang tidak ikut Tea Walk, ternyata 3 orang tidak ikut termasuk Bobby. Anak anak dan lainnya belum pada dating, mungkin mereka langsung makan siang. “Pa, sepertinya susah menyingkirkan mbak Eliz, nggak ada alasan yang kuat, agaimana kalau kita ajak aja mereka bersamaan, kita berempat” usul istriku ketika kami berdua di dapur. “Aku sih oke saja, toh kita sudah sering melakukannya, tapi gimana ngajaknya ?” tanyaku “Serahkan padaku, panggil mbak Eliz kemari” jawab istriku meyakinkan, kutinggalkan istriku yang sedang membuat bandrek untuk kami semua, aku bergabung kembali dengan mereka di teras, dan mbak Eliz segera ke dapur setelah kuberi tahu. Kulihat mereka berbicara serius sambil berbisik, terkadang tertawa renyah, entah apa yang dibicarakan, aku yakin istriku sedang me-lobby mbak Eliz dan percaya cara lobby istriku yang seringkali membawa hasil. Tak lama kemudian kuhampiri mereka, ingin tahu hasilnya. “Mulanya dia keberatan kalau suaminya ikutan, apalagi dengan aku, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau, asal aku yang memberitahu ke Mas Surya. Pa tahu nggak, ternyata dia pernah melakukannya dengan dua laki laki……” Percakapan kami terhenti ketika salah seorang pembantu mendekat. “Aku yakin Mas Surya akan
menyetujui rencana ini, dia bukan halangan yang berarti” lanjutnya setelah
pembantu itu pergi. Kami bergabung kembali sambil membawa beberapa cangkir
Bandrek, kulihat mbak Eliz duduk di samping suaminya dengan pandangan penuh
Tanya. Kami terlalu asyik ngobrol sehingga istriku sepertinya agak kesulitan
mencari kesempatan membicarakan rencananya dengan Mas Surya. “Mas Surya, bisa
Bantu aku sebentar” pinta istriku lalu meninggalkan kami menuju Pavilliun, Mas
Surya mengikutinya, kulihat mbak Eliz memandangku dan kubalas dengan senyuman
dan anggukan. Entah yang lainnya curiga atau enggak, kenapa istriku minta
bantuan Mas Surya dan bukan aku, suaminya. “Mungkin istriku perlu bantuan lagi”
kataku seraya beranjak meninggalkan ruangan. “Aku ikut Mas” kata mbak Eliz
mengikutiku. “Aku nggak yakin apakah Mas Surya mau menyetujui rencana istri Mas,
aku juga masih ragu apakah bisa melihat kenyataan suamiku sedang mencumbu istri
Mas” kata Eliz ketika kami melintas dekat kolam renang. “Aku yakin kamu pasti
bisa, terbukti kamu makin bergairah ketika melihat suamimu sedang bermain dengan
istriku di kolam renang tadi pagi” jawabku meyakinkannya. Pavilliun C seperti sebelumnya terlihat sepi, tirai kamar tertutup repat, kami
curiga, kuberi tanda pada mbak Eliz untuk masuk dengan cara mengendap endap,
sayup sayup kudengar desahan istriku dari kamar Mas Surya yang sedikit terbuka.
Berdua kami mendekati dan mengintip apa yang sedang terjadi, kami melihat Mas
Surya sedang berlutut di depan istriku yang duduk di tepi ranjang, keduanya
tidak mengenakan celana lagi, istriku sedang menggeliat menerima jilatan dari
suami mbak Eliz, tangannya meremas remas rambut Mas Surya, aku yakin istriku
sudah memberikan kuluman penis padanya. Kurasakan mbak Eliz menggenggam tanganku erat, entah dia cemburu atau makin bergairah. “dia tak pernah melakukannya padaku” bisik mbak Eliz, kuberi tanda supaya tidak bersuara. Sambil menjilati vaginanya, tangan Mas Surya menjelajah ke daerah dada istriku yang ternyata sudah tidak mengenakan bra, desah istriku terdengar tertahan. Kuelus pundak mbak Eliz, untuk menenangkan gejolak emosinya, melihat suaminya
memberi istriku apa yang belum pernah diberikan padanya. Dia membalas dengan
elusan dan remasan di selangkanganku, kejantananku makin menegang. Mbak Eliz
menarikku ke samping, aku bersandar di dinding, dia langsung melorotkan celana
pendekku dan berlutut di antara kedua kakiku, dipegang dan dikocoknya sebentar
kejantananku yang sudah menegang lalu dijilatinya dengan penuh nafsu, tak lama
kemudian kejantananku sudah keluar masuk mulut mbak Eliz. Aku tidak berani
mendesah, sementara di dalam kamar desahan istriku masih terdengar penuh gairah
meskipun lirih. Kukocok mulut mbak Eliz, dia jauh lebih bergairah mengulumku dibandingkan sebelumnya, mungkin karena cemburu atau dendam, makin cepat aku mengocoknya. Aku tak berani terlalu bernafsu, perhatianku sesekali tertuju keluar, takut kalau ada yang lewat pasti bisa melihat kami karena tirai ruang tamu belum sempat kami tutup. Desahan istriku sudah berubah, aku hapal betul desahan itu, pasti Mas Surya sudah melesakkan penisnya ke vagina istriku. Sungguh berani mereka melakukannya tanpa melihat situasi, sungguh nekat tanpa perhitungan, pikirku. Kuminta mbak Eliz untuk pindah ke dapur, tapi dia tak mau, sepertinya ada rasa cemburu dan menikmati mendengar istriku mendesah bersama suaminya, ternyata aku mengalami hal yang sama, makin mendesah istriku makin aku bernafsu mengocokmulutnya. Ingin rasanya kulesakkan segera penisku ke vagina mbak Eliz, tapi keadaan tidak memungkinkan, mbak Eliz tetap menolak ketika kuberi isyarat untuk pindah ke kamarku, dia masih menikmati desahan istriku yang kini sudah bergantian dengan desahan suaminya dari dalam kamar, jilatan dan kulumannya tak henti dari penisku. Mbak Eliz melepaskan penisku, dia merangkak mengintip ke dalam kamar, begitu juga aku. Dugaanku benar, kami lihat Mas Surya sedang menindih tubuh istriku sambil menciumi lehernya, pantatnya turun naik mengocok vaginanya, sementara kaki istriku menjepit pinggang Mas Surya, mereka saling memeluk erat mengunci. Mbak Eliz diam saja ketika kusingkapkan rok-nya, begitu asyik dia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan istriku, aku tertegun sejenak melihat celana dalamnya hijau tua yang menutupi pantatnya, lebih tepat menghiasi pantatnya karena hanya seutas tali, celana dalam model String, sungguh sexy pantatnya yang mulus dan padat berhias itu. Tak perlu membukanya, hanya menyisihkan tali itu sudah cukup bagi penisku untuk mencapai vaginanya. Kuciumi dan kujilat pantatnya, dari lubang anus hingga ke vaginanya, dia menungging makin tinggi pantatnya. Mbak Eliz diam saja ketika kusapukan kepala penis ke vaginanya yang sudah basah, perlahan sekali aku mendorong masuk penisku, takut kalau mbak Eliz menjerit, tapi tak luput juga dia menjerit kecil ketika penisku tertanam semua dan menyentuh dinding dalam vaginanya. Untungnya jeritan kecil itu tertutup desah mereka hingga belum menyadari keberadaan kami di luar kamar. Pelan pelan mulai kukocok mbak Eliz dari belakang, dogie style, aku bisa merasakan dia kurang enjoy karena harus bercinta tanpa desahan sedikitpun, tapi tetap menolak untuk berpindah ke kamar. Disamping itu aku harus tetap waspada dengan keadaan di luar, sebenarnya ini terlalu ceroboh, tak pernah aku melakukan seceroboh ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmati ketegangan ini, baik ketegangan dari dalam kamar maupun dari luar. Seringkali mbak Eliz menengok ke dalam kamar ketika kukocok, terutama ketika desahan istriku meninggi, aku tak tahu posisi apa di dalam. Tiba tiba terdengar jerit orgasme dari Mas Surya, cepat juga padahal belum 10
menit mereka bercinta, mungkin karena terburu buru. Aku tak tahu harus berbuat
apa, ingin menyelesaikan tapi takut mereka segera keluar, akirnya kucabut
penisku dari mbak Eliz, dia tidak protes berarti setuju untuk menghentikannya.
Kami merapikan pakaian dan duduk di ruang tamu menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian Mas Surya dan istriku keluar kamar, tampak expresi terkejut dari Mas Surya tapi istriku hanya senyum senyum saja mengetahui keberadaan kami. “Eh.. Mas Hendra, udah lama ?” terlihat kegugupan pada pertanyaannya. “Cukup
lama untuk mengetahui Mas dan mbak Lily di kamar” jawab istrinya ketus tanpa
memandang ke arah suaminya, aku yakin cuma pura pura saja untuk memperkuat posisinya. “Kami hanya……” “Berdua dengan mbak Lily dan memuaskannya” potong istrinya tetap dengan nada tinggi. Mas Surya diam saja, memandang ke arahku seakan meminta bantuan, karena tidak tahu hasil pembicaraanku dengannya sebelumnya maka aku tak berani komentar dan kualihkan pandanganku keluar, istriku juga diam dan duduk di sebelahku melihat perlakuan mbak Eliz pada suaminya, kami semua terdiam. Mbak Eliz berdiri, menggandeng tanganku dan istriku, kami bertiga masuk kamar yang tadi dipakai Mas Surya dan istriku, pintu sengaja tidak ditutup, tanpa mempedulikan suaminya lagi dia memeluk dan menciumku. Mbak Eliz langsung jongkok di depanku dan mengeluarkan kejantananku, dijilati dan dikulum seperti yang dia lakukan tadi, kutarik istriku ke pelukanku dan kami berciuman sementara penisku
sudah meluncur nikmat di mulut mbak Eliz. Cukup demonstratif dia mengulumku di
depan suaminya, sambil memeluk dan berciuman dengan istriku, kupegang rambut
mbak Eliz dan mengocoknya. Mbak Eliz mendorongku hingga telentang di ranjang, setelah melepas rok dan celana dalam mininya, segera membuat posisi 69 di atasku, seolah dia juga ingin memberikan apa yang belum pernah diberikan pada suaminya, kusambut vaginanya dengan jilatan lidah penuh gairah, dan dia mulai mendesah lepas penuh kenikmatan. Istriku lalu ikutan mbak Eliz mengulum penisku secara bergantian, dua lidah wanita cantik bekerja di daerah kejantananku, membuatku mendesis desis nikmat. Mas Surya berdiri di depan pintu melihat istriku dan istrinya menjilati kejantananku yang jauh lebih besar dari punya-nya. Dia tidak berani masuk, mungkin ada perasaan bersalah. Desah kenikmatan dan gairah mbak Eliz sungguh jauh lebih menggairahkan dibanding tadi, seolah dia ingin memamerkan kenikmatannya pada suaminya, bahwa dia bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih dari orang lain, suami dari wanita yang tadi disetubuhinya. Mbak Eliz turun dari tubuhku, dikocoknya penisku yang masih dalam kuluman istriku, dia memandang suaminya sejenak lalu naik ke atasku, kembali dia menoleh ke suaminya sebelum menyapukan penisku ke vaginanya dan desahan keras keluar dari mulutnya tanpa tertahan ketika penisku masuk ke vaginanya. “AAAAauuuugggghhhhhh… ssssssshhhhh… yessss…enak Massssss”, desahnya sambil bergoyang pinggul dan turun naik di atasku sambil melepas kaos dan bra-nya. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang bergoyang goyang. Aku tak berani melihat ke arah Mas Surya, ada rasa kasihan dan perasaan bersalah mempermainkan dia seperti ini. Istriku beralih ke kepalaku, aku menolak ketika dia mau engangkangiku karena masih ada sisa sperma Mas Surya di vaginanya. Kutarik tubuh mbak Eliz dalam pelukanku dan kudekap erat tubuh telanjangnya di depan suaminya, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya ketika aku mulai mengocoknya dari bawah, desahan demi desahan nikmat keluar dari mulutnya, kami saling melumat bibir, istriku mengelus kantong bolaku membuat aku makin bergairah mengocok. Kami berganti posisi, dogie style menghadap ke Mas Surya sesuai permintaan
istrinya, istriku memelukku dari belakang, ternyata dia sudah ikutan telanjang,
bauh dadanya di gesek gesekkan ke punggungku sementara tangannya memegang penisku, yang sedang keluar masuk vagina mbak Eliz. Sungguh nikmat dan ada sensasi yang tak terlukiskan bercinta dengan wanita di depan suaminya yang tak berdaya. Aku mengocok dan menjamah seluruh badan mbak Eliz, tapi masih tetap tak berani memandang ke arah mas Surya, pandanganku justru aku fokuskan ke tubuh mulus mbak Eliz. “Ouuuuhhhh…yesss… yaaa…fish me harder…yessss… trus mas…ya…enak masss” desahnya demonstratif dan kuturuti dengan kocokan yang makin cepat dan keras, terkadang kuhentakkan penisku ke vaginanya membuat dia menjerit dalam kenikmatan yang tinggi. Tak lama kemudian kurasakan tubuh mbak Eliz menegang, dia lalu menjerit keras bersamaan denyutan dan remasan vaginanya pada penisku. Mbak Eliz mencapai orgasme yang tertunda dari tadi, kudiamkan sejenak menikmati remasan vaginanya lalu kuteruskan lagi, dia menggeliat, kutarik rambutnya kebelakang hingga kepalanya terdongak dan kukocok dengan keras. Aku tak mau menghentikan meskipun dia sudah orgasme, puncak kenikmatan sudah di depan mata, desahan mbak Eliz tak kuhiraukan lagi, kocokanku makin cepat dan tidak beraturan, hingga akhirnya menyemprotlah spermaku di vaginanya. Aku dan mbak Eliz teriak hampir bersamaan, semburan spermaku membuat mbak Eliz menggelinjang nikmat menerimanya, dia menoleh ke arahku dengan senyuman puas, lalu dicabutnya penisku dari vaginanya. Tangannya meraih penisku, dipegangnya dan menoleh ke arah suaminya lalu dimasukkan ke mulutnya, dia mengulum penisku yang masih banyak spermanya, dikulum dan dijilatinya seperti membersihkan sperma dari penisku, aku kembali mendesis tak menyangka mendapatkan kenikmatan ini. Kuraih buah dada mbak Eliz dan kuremas remas saat dia menjilati dan mengulum. Kami sama sama telentang dalam kelelahan yan g nikmat. Istriku yang masih telanjang turun dari ranjang dan mendekati Mas Surya. “sekarang giliran kita” katanya sembari meremas remas di selangkangannya yang disambut dengan remasan di dada. “jangan di sini, kurang aman, kita keluar saja, cari hotel yang lebih enak” usulku sembari turun dari ranjang mengambil pakaian, kulemparkan kaos dan rok mbak Eliz tanpa pakaian dalam. Dia mengenakannya kembali sambil tersenyum ketika mengetahui tidak ada bra dan celana dalam di situ. Pasangan Surya-Eliz sudah masuk perangkap kami. Berempat kami meninggalkan Villa, tentu saja tak ada yang curiga akan kepergian
kami berempat, tak lama kemudian Carnival kami sudah berada dalam antrian
kemacetan jalanan di puncak. Aku dan mbak Eliz di depan sementara Mas Surya
dengan istriku duduk di jok paling di belakang karena jok tengah memang di
lepas, membuat ruangan menjadi lebih lapang, kaca film yang gelap ditambah tirai
tertutup rapat sungguh cocok dengan keadaan kami yang sama sama dibakar birahi,
dari kaca spion dalam bisa kulihat Mas Surya berciuman dengan istriku, tangannya
meremas remas kedua buah dadanya. Melihat suaminya berciuman di belakang, mbak Eliz menggapai penisku dan meremasnya, jalanan macet tidak memerlukan konsentrasi penuh, aku bisa menikmati remasan mbak Eliz sambil memandang istriku dan Mas Surya di belakang. Remasan Mas Sur berganti dengan kuluman di putting istriku, dia mulai mendesah menikmati kuluman suami mbak Eliz, tangannya meraih penis dan meremasnya. Kubelokkan Carnival menuju salah satu warung sate, kudengar suara protes dari belakang ketika mengetahui mobil sudah parkir di depan warung itu, kami keluar saling bergandengan, tentu orang tidak menyangka kalau yang digandeng itu bukan pasangan resminya, sama sama mesra, buah dada mbak Eliz yang montok tanpa bra terlihat jelas bagiku, entah orang lain. Selama makan mbak Eliz memperlakukanku layaknya suaminya begitu juga istriku terhadap mas Surya, Mas Surya sepertinya sudah menikmati permainan ini. Sungguh sulit mendapatkan hotel atau villa yang masih kosong saat liburan
seperti ini, dari hotel, cottage maupun orang sekitar yang biasa menyewakan
villa, semuanya penuh, fully occupied. Setelah melewati Puncak Pass akhirnya
kami mendapatkan kamar yang masih kosong, dengan terpaksa kami ambil kamar yang suite dengan 3 kamar yang harganya minta ampun mahalnya, apalagi hanya untuk dipakai dalam waktu yang tidak lama, sekedar pelampiasan nafsu liar kami, tapi uang bukanlah masalah kalau hati lagi senang, kami hanya ingin segera mencapai tempat dan melampiaskan hasrat masing masing. Kutinggalkan Mas Surya dan istriku yang sedang menyelesaikan administrasinya, aku langsung menggandeng mbak Eliz menuju kamar mengikuti Room Boy. Kami duduk di sofa menunggu kedatangan mereka, mbak Eliz duduk di pangkuanku
lalu merosot bersimpuh di depanku sambil melepas celana pendekku, dia meraih
kejantananku dan mengusap usapkan di wajah sambil menciuminya dengan gemas. “Ini penis kok segede ini, enak deh, sungguh beruntung mbak Lily tiap hari bisa
merasakannya” komentarnya sambil mulai menjilati kepala penisku. “Kamu juga
beruntung telah merasakannya” jawabku Dia tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh terisi penisku, meski hanya setengahnya yang bisa dia kulum, tapi dia berusaha dengan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mbak Eliz sedang asyik mengocokku ketika suaminya datang menggandeng istriku. “Wah sudah mulai duluan nih, udah nggak tahan ya” goda istriku. Tanpa menunggu jawaban kami, istriku menghampiriku, kami berciuman, Mas Surya memeluknya dari belakang, menyelipkan tangannya ke dalam kaos istriku dan meremas remas kedua buah dadanya sambil mencium tengkuknya membuat istriku menggeliat. Mbak Eliz hanya tersenyum sambil tetap mengulum penisku melihatnya, Mas Surya
melepas kaos istriku, buah dadanya yang padat menantang langsung kukulum, tak
kupedulikan tangan Mas Surya yang sedang meremasnya. Istriku menggeliat dan
mendesah mendapat kuluman dan ciuman di tengkuk. Dia duduk di sampingku dan Mas Surya duduk di antara kedua kakinya, bersebelahan dengan istrinya. Kedua suami istri itu memainkan mulut dan lidahnya di daerah kenikmatan kami dengan cara yang berbeda, istriku melumat bibirku, sambil menikmati permainan lidah Mas Surya yang sedang lincah bergerak liar di vaginanya, kepala Mas Surya seolah
tertancap di selangkangan istriku, begitu juga mbak Eliz yang kepalanya terjepit
di antara kakiku.. Tak lama Mas Surya dalam jepitan selangkangan istriku, dia lalu berlutut, melepas pakaian dan menyapukan penisnya ke vagina Lily, dengan sekali dorong masuklah penisnya mengisi liang kenikmatannya dan langsung mengocok cepat, membuat istriku mulai mendesah. Melihat suaminya sudah duluan menikmati istriku, mbak Eliz berdiri melepas semua pakaiannya hingga telanjang, lalu ke pangkuanku, menyodorkan kedua buah dadanya ke mukaku yang langsung kusambut dengan kuluman penuh gairah, perlahan dia menurunkan tubuhnya, perlahan pula penisku memenuhi vaginanya. Kupeluk tubuh telanjangnya yang sexy ketika semua penisku tertanam ke dalam, dia membalas pelukanku dengan rapat sambil menggoyangkan pantatnya. “Ouh yaaa…yaaaa…enak masssss” desahnya bersautan dengan desahan istriku yang sedang menerima kocokan Mas Surya. Aku diam menerima kocokan mbak Eliz sambil mengulum kedua bukit montoknya, satu tangan meremas mbak Eliz sedang tangan lainnya meremas buah dada istriku, sama sama kenyal dan padat meski punya mbak Eliz lebih besar dan montok. Mereka berganti posisi meniru kami, kedua wanita bergoyang di pangkuan pasangan masing masing, desah dan jeritannya seolah
berpacu dalam birahi, kukulum dan kusedot putting mbak Eliz, dia menggelinjang
dengan jeritan nikmat tanpa menghentikan goyangannya, terkadang kedua wanita
saling berpandangan dan tersenyum nikmat, tangannya saling berpegangan. Mas Surya membenamkan kepalanya di antara kedua bukit di depannya, istriku
meremas rambutnya. Istriku memandang mbak Eliz lalu mengangguk memberi isyarat, tiba tiba secara bersamaan mereka berdiri, kami tidak sempat protes, ternyata mereka bertukar tempat kembali ke suaminya masing masing. Sementara istriku harus menyesuaikan kembali dengan ukuran penisku pelan pelan melesakkan ke vaginanya, Mbak Eliz langsung melesakkan penis suaminya ke vaginanya dan bergoyang dengan liarnya. Istriku memelukku setelah berhasil memasukkan semua penisku ke vaginanya. “Gila, sepertinya jauh lebih besar dari biasanya, terasa pennnnnnnuh” bisiknya
sambil mendesah “Lebih enak kan, dia gimana ?” balasku berbisik “Punya Papa
lebih besar tapi dia lebih keras dan tegang lurus, sama sama enak sih” Kuraih
dan kuremas buah dada mbak Eliz yang bergoyang goyang di depan muka suaminya, kupermainkan putingnya membuat dia menggeliat dan mendesah sambil pantatnya turun naik di pangkuan sang suami. Kubiarkan istriku turun naik di pangkuanku sambil memandangi wajah mbak Eliz yang makin cantik menggairahkan terbakar nafsu. “Aku mau ngerjain mbak Eliz, biar dia merasakan two in one dengan suaminya” bisikku pada istriku tak lama kemudian, dia memandangku dan turun dari pangkuan. Aku berdiri di belakang mbak Eliz, sepertinya dia belum menyadari kehadiranku, kupeluk dari belakang, kudekap erat dan kuremas buah dadanya sambil menciumi tengkuknya, dia menggelinjang hebat, apalagi bersamaan dengan kuluman suaminya pada putingnya, desahannya berubah menjadi jeritan liar nan nikmat menggairahkan. “Aaaaaagggghhh… sssssshhhh… ehhhhhmmmmm” sambil menggoyang goyangkan kepalanya, rambut indahnya tergerai menutupi wajahnya yang kemudian disibakkan suaminya. Aku berdiri di atas sofa, posisi penisku sejajar kepala mbak Eliz, kusodorkan
penisku yang tegang ke mulutnya, dia meraih dan mengocoknya, kulihat mbak Eliz
memandang ke arah suaminya sebelum akhirnya memasukkan penisku ke mulutnya, tanpa mengentikan goyangan pinggulnya. Penisku segera keluar masuk mulut mbak Eliz, tepat di muka suaminya yang sedang meremas remas kedua buah dadanya, kini mbak Eliz mendapat dua penis di atas dan dibawah. Istriku hanya berdiri tersenyum melihat kami bertiga dan memandangku saat merasakan nikmatnya kuluman mbak Eliz. Kupegang rambut indah mbak Eliz yang tergerai di mukanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya membuat dia tidak bisa bebas bergerak kecuali hanya bergoyang pinggul. Aku sudah tak mempedulikan lagi inya, yang hanya menonton bagaimana penisku mengisi mulut istrinya tercinta. Hanya beberapa menit kami mengeroyok mbak Eliz, ternyata sensasinya terlalu tinggi baginya, tak lama kemudian kurasakan cengkramannya pada penisku mengeras , gerakannya tidak beraturan dan, “Ooooouuugghhhh… yesssss…yaaaa… yaaaaaaa. .. oh Massssss” jeritnya orgasme, dia menggeliat di pangkuan suaminya sambil tetap mencengkeram penisku. Tubuh mbak Eliz melunglai memeluk suaminya, aku turun dan kucium pipinya yang masih bersandar di bahu sang suami, napasnya masih menderu, sempat kudengar dia berucap “terima kasih Mas”, entah ditujukan ke aku atau suaminya. “Giliranku” kata Lily, aku duduk di samping Mas Surya yang masih memangku istrinya. Lily berlutut di selangkanganku dan memasukkan penisku ke mulutnya, mbak Eliz turun dari suaminya, menggenggam dan mengocok penisnya yang masih tegang dan basah karena vaginanya, dikulumnya penis itu seakan membersihkan dari cairannya. Istriku sambil mengulumku meraih penis Mas Surya yang masih dalam kuluman istrinya, lalu mengocoknya setelah ditinggalkan mbak Eliz ke kamar mandi. Mas Surya beralih ke belakang istriku, mengatur posisinya bersiap untuk doggie. Tak lama kemudian istriku sudah menerima kocokannya dari belakang, dengan liarnya menghentakkan tubuhnya ke tubuh istriku yang masih bergairah mengulumku, sesekali kulumannya terlepas karena sodokan keras Mas Surya. Desahannya tertahan penisku yang ada di mulutnya, gerakan Mas Surya makin ganas, ditariknya rambut istriku dan menyodoknya dengan keras, tubuh istriku terdongak karena sodokannya,
tapi dia tidak pedulikan, sodokan kerasnya tidak melemah, semakin istriku
menggeliat nikmat membuatnya semakin bersemangat. Sambil mengocok, tangannya tak pernah lepas dari tubuh istriku, dielusnya punggung dan pantatnya lalu diremasnya kedua buah dadanya yang menggantung bebas. Dengan cepat istriku sudah bisa menyesuaikan dengan gaya permainan liar Mas Surya, kembali dia mengulum penisku, kupegang dan kuelus rambutnya, sesekali kutekan ke arah penis supaya masuk ke mulutnya sebanyak mungkin, meski dia tidak pernah bisa memasukkan semuanya. Kami berganti posisi, istriku duduk di pangkuanku, tapi sebelum dia memasukkan penisku ke vaginanya, Mas Surya sudah mendahului menyapukan kepala penisnya, dan melesak kembali ke vaginanya. Istriku menoleh ke Mas Surya, dia hanya membalas dengan senyuman, kini Mas Surya mengocok istriku yang duduk di pangkuanku. Dia mendesis di pelukanku menerima kembali kocokan Mas Surya. “Mbak suaminya nakal nih, merebut jatah suamiku” teriak istriku sambil mendesah ketika melihat mbak Eliz keluar kamar mandi. Mbak Eliz terlihat makin cantik dengan rambutnya yang tergerai basah dan hanya berbalut handuk, buah dadanya makin kelihatan montok berisi tertutup handuk putih. “Biarin aja, itulah balasan kalau kalian menggoda istri orang, tetangga lagi, bikin mereka kapok mas” jawab mbak Eliz mencium suaminya lalu duduk di sampingku. Tak kuperhatikan buah dada istriku yang berayun-ayun di mukaku, kutarik tubuh mbak Eliz mendekat, kulempar handuk penutup tubuhnya, aroma wangi tercium dari tubuh segarnya ketika kucium leher dan bibirnya, kami saling mengulum sambil aku memangku istriku yang menerima kocokan Mas Surya. “Pindah ke kamar yuk, disini kurang bebas” usul mbak
Eliz Tanpa menunggu jawaban, kudorong istriku turun dari pangkuanku lalu
kutuntun mbak Eliz menuju kamar, sekilas masih kulihat Mas Surya meneruskan
kocokannya terhadap istriku, dia menyetubuhi istriku dari belakang sama sama
berdiri, berpelukan dan berciuman. Sesampai di kamar, kurebahkan tubuh telanjang mbak Eliz dan langsung kutindih, kususuri tubuhnya yang segar sehabis mandi, terasa lebih menggairahkan, aku paling menyukai membenamkan mukaku di antara kedua bukit di dadanya yang montok. Tak lama kemudian istriku dan Mas Surya masuk kamar, ketika kami sedang ber-69 dengan mbak Eliz di atas, mereka langsung mengambil posisi doggie. Istriku mengatur posisi tubuhnya hingga kepalanya di antara kakiku dan bisa mengulumku bergantian dengan mbak Eliz ketika suaminya mengocoknya dari belakang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa merasakan ketika dua mulut dan dua lidah sedang berada di kejantananku baik secara bersamaan maupun bergantian, terasa kenikmatan yang berlebihan. Ranjang serasa bergoyang ketika kudengar jeritan nikmat istriku akibat hentakan
kuat dari Mas Surya, kulihat dari celah paha mbak Eliz, Mas Surya menjambak
rambut istriku hingga dia terdongak ke belakang dan menyodoknya dengan keras,
buah dada istriku berayun-ayun tak beraturan karena sodokan itu. “Mas, gantian dong” pinta mbak Eliz pada suaminya, tanpa menunggu jawaban dia
langsung turun dan nungging di samping istriku. Mas Surya melepaskan istriku dan
bergeser di belakang istrinya, langsung penisnya melesak ke vagina mbak Eliz
dengan kecepatan tinggi seperti yang dia lakukan pada istriku, kontan mbak Eliz
menjerit seperti terkaget menerima perlakuan suaminya yang kasar itu, tapi tak
ada tanda protes, justru kulihat expresi kenikmatan di wajahnya yang cantik.
Kuraih buah dadanya yang montok berayun ayun dan kuremas sambil kupermainkan putingnya, membuat mbak Eliz makin histeris dalam desahannya. Istriku yang ditinggal Mas Surya, beralih ke atasku, mengatur posisinya sebelum
akhirnya melesakkan penisku ke liang vaginanya. Jeritan nikmat keluar dari
mulutnya saat penisku menerobos masuk. Setelah terdiam sesaat, mulailah goyangan
pinggulnya di atasku, penisku terasa di remas remas, gerakan istriku semakin
liar, kunikmati sambil meremas remas buah dada mbak Eliz yang sedang mendapat
kocokan dari suaminya. Melihat istriku bergoyang liar dan menggairahkan, Mas Surya rupanya tergoda juga untuk kembali menikmati istriku yang memang lebih liar dibandingkan istrinya, ditinggalkannya istrinya yang sedang mendesah nikmat, tak dipedulikannya suara protes dan kecewa dari mbak Eliz. Dia berdiri di samping Lily yang sedang terbakar kenikmatan, menyodorkan penisnya yang masih basah dari mbak Eliz ke mulutnya, istriku segera meraih penis itu dan langsung mengulumnya sambil tetap bergoyang pinggul dan turun naik di atasku. Penis mas Surya yang tidak terlalu besar segera masuk semua ke mulutnya tanpa
hambatan, dia tidak mengalami kesulitan meng-handle dua penis secara bersamaan.
Kedua penis mengocoknya di atas dan dibawah secara bersamaan, mbak Eliz yang
cemberut segera kutarik dalam dekapanku, dia merebahkan kepalanya di dadaku
sambil memandangi penis suaminya meluncur di mulut istriku. Mbak Eliz berlutut
di sisi istriku, kedua wanita itu bergantian mengulum dan menjilati penis Mas
Surya dengan rakusnya. Kami berimprovisasi dengan berbagai gaya dan posisi di semua tempat di kamar itu, sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa aku lebih sering menikmati mbak Elis dan mas surya lebih menyukai istriku. Tak ada aturan, yang capek boleh berhenti yang masih kuat silahkan melanjutkan, permainan selalu bervariasi, kadang MMF, FFM atau MMFF. Anehnya, Mas Surya yang tadi cepat orgasme, dengan berame rame seperti ini justru bisa bertahan lebih lama, bahkan istriku sempat dibuat kewalahan. Kami saling mereguk dan memberi kenikmatan yang seolah tak pernah habis dinikmati. Selama di kamar tak seutas benang menutupi tubuh kami, bahkan ketika Room Boy mengantar makan malam, hanya Mas Surya yang berbalut handuk yang menerimanya, karena aku lagi sibuk mereguk kenikmatan dengan istriku dan istrinya. Setelah memberi tahu teman teman di Villa bahwa mungkin kami pulang pagi karena
terjebak kemacetan di Cianjur, malam itu kami habiskan dengan pesta penuh nafsu
seakan there is no tomorrow. Kami bebas melakukan dengan siapa saja, dimana
saja, posisi apa saja, its wild sex, meski cuma kami berempat. Yang paling mengesankan adalah bercinta bertukar pasangan di keremangan malam
yang dingin di udara terbuka, karena tempat kami memang jauh di pojok yang
jarang dilewati orang. Dinginnya angin malam tak mampu mengusir gairah nafsu
kami yang memang sedang memuncak. Keesokan harinya kami kembali ke Villa pukul 11 pagi, beberapa pertanyaan muncul mengiringi kedatangan kami, karena memang hp kami matikan untuk menghindari gangguan. Tak ada yang curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam, bahkan
beberapa ibu ibu kasihan melihat kami yang kelihatan kurang tidur dan capek,
mereka mengira kita kecapekan karena terjebak macet sehingga menginap di
Cianjur, padahal itu jauh dari realita, justru kami kurang tidur dan capek
karena nikmat. Akhirnya kami kembali membaur dengan tetangga lainnya, terhadap Mas Surya dan mbak Eliz kami bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa apa, begitu juga mereka, tidak ada perubahan sikap kami pada mereka, paling tidak didepan banyak orang. Sesekali aku masih bisa mencuri cium ataupun pelukan ataupun rabaan dari Mbak Eliz saat berdua, istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakuku itu. Kami masih berkeinginan untuk melakukannya lagi di lain waktu dan kesempatan, tak perlu menunggu liburan atau di puncak.


Admin Mesum - 06.25
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved