;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com
Tampilkan postingan dengan label Tante. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tante. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Pegawai Bank Yang Cantik

Minggu, 01 Februari 2015


Pegawai Bank Yang Cantik

Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi;

Sebagai Sinta

Sebagai Tejo

Bagian Satu : Menunggu Dor Prize undian

Sinta, seorang wanita muda berusia 25 tahun, dengan langkah gontai menembus kerumunan para peserta jalan sehat yang masih terus mondar-mandir kesana kemari dengan ramai menunggu hasil pengumuman door prize undian. Sejak tadi malam, kondisi badan Sinta memang sedang kurang fit, namun karena ia telah berjanji dengan temannya untuk mengikuti acara ini, ia pun memaksakan diri untuk mengikuti acara ini. Berbeda dengan hari kemarin yang terus menerus dirundung hujan, Kota Jakarta hari ini benar-benar terbasuh dengan terik mentari yang begitu dahsyat. Akibat perubahan cuaca yang begitu ekstrim ini, dapat dipastikan kondisi tubuh Sinta kian bertambah parah. Untuk mengistirahatkan diri, ia pun terduduk sejenak di pinggiran trotoar di sekitar lapangan tempat berkumpulnya peserta jalan sehat. Tas punggung yang hanya berisi barang seadanya itu, ia sampirkan di sampingnya.

Sinta  adalah seorang supervisor call center bank swasta terkemuka di indonesia. Ia adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Hari ini ia memakai setelan kaus dan celana training berwarna ungu yang memanjang hingga ke mata kakinya yang terbungkus kaus kaki berwarna krem yang agak transparan. Selain itu ia juga menali rambutnya gaya ekor kuda , sehingga tampak lehernya yang putih dan jenjang. Wajahnya bulat dihiasi dengan poni rambut, kulitnya kuning langsat, bola matanya hitam tajam. Tampak begitu manis walaupun dengan mimik yang lesu seperti itu. Hidungnya yang sedikit mancung nampak begitu mempesona. Sesaat ia mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir bawahnya, ia tampak kehausan.

Tanpa ia sadari, seorang lelaki bertubuh gempal telah mengawasinya sejak awal acara jalan sehat. Lenggak-lenggok tubuh Sinta di balik baju sportinya telah mampu membuat darah muda lelaki berusia 20 tahunan itu menggelegak. Tejo namanya, Ia hanya cleaning service di gedung tempat Sinta bekerja. Jabatannya hanya sebagai pegawai biasa yg kerjanya bersih-bersih kantor, ia ikut gerak jalan ini karena ajakan rekan kerjanya yang lain dan ia mendengar Sinta ikut serta. Selama ini Tejo memendam rasa tertarik pada Sinta tapi segan karena perbedaan status yang mencolok. Namun kali ini, kemolekan body pegawai bank yang memang aduhai ini, ditambah dengan wajahnya yang mempesona, membuat rasa haus dan lapar Tejo hilang seketika. Berkali-kali ia meneguk liurnya sendiri memandang Sinta dari belakang. Perlahan ia mendekati Sinta dan menyapanya, “Kenapa Mbak, tampangnya pucat begitu? Mau diambilkan air?“

“Eemmm, tak usah Mas. Nanti biar saya cari minum sendiri“ jawab Sinta sekenanya.

“Nggak apa-apa Mbak, sebentar ya” Secepat kilat Tejo si pria muda itu telah kembali dari tempat pembagian air minum. Ia membawa dua botol Aqua sekaligus, satu untuk dirinya dan satu untuk Sinta, yang telah menggoda imannya.

“Terima kasih banyak ya Mas” Tanpa persetujuan Sinta terlebih dahulu, Tejo langsung duduk tepat di samping pegawai bank cantik tersebut. Sinta pun menjadi sedikit risih dibuatnya. Ia sedikit menggeser pantatnya ke arah berlawanan. Karena merasa tidak enak sudah diambilkan minum, ia pun membiarkan lelaki itu duduk bersebelahan dengannya walaupun tetap dengan menjaga jarak. Karena ia telah demikian haus, ia pun menenggak air minum itu hingga setengah botol. Entah mengapa mendadak kepala Sinta menjadi pusing. Matanya berkunang-kunang, pandangannya kabur dan tenaganya melemah.

Terdengar cekikikan dari mulut Tejo. Ternyata pria muda itu telah mencampurkan sesuatu di minuman Sinta sebelum ia menyantapnya. Dengan santainya ia mengalungkan tangannya ke leher Sinta dan menarik tubuh molek si pegawai bank yang cantik itu ke dalam pelukannya. Orang-orang masih sibuk lalu-lalang mengikuti menunggu pengumuman door prize undian. Walaupun ada orang melihat Tejo yang memeluk Sinta, mereka hanya menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih, karena umur keduanya tidak terpaut begitu jauh, selain itu karena akting Tejo yang meyakinkan. Apalagi wajah Sinta yang demikian lemah membuat para peserta lain tak berani mengganggu pasangan itu.

Sinta merasa geli merasakan usapan-usapan tangan kasar Tejo di pipinya. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa lemah dan kaku. Ia merasa bingung akan apa yang terjadi padanya. Setelah minum air mineral tadi, kesadarannya terasa tertahan. Ia tidak bebas menggerakkan anggota badannya padahal ia masih dapat melihat dan merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. Keringat semakin deras membasahi wajah dan kaus yang dikenakannya. Hampir-hampir pegawai bank nan molek itu basah kuyup oleh keringatnya sendiri.

Melihat hewan buruannya telah begitu jinak di pelukannya, Tejo malah makin bernafsu. Kemaluan yang sudah beberapa bulan tidak dipakai itu kini berontak dengan dahsyat dari balik celana panjangnya. Bau keringat Sinta yang semakin menyengat membuat gelegak birahi Tejo makin meletup-letup. Ia membayangkan dirinya menyetubuhi pegawai bank cantik dan menawan itu dengan liar hingga Sinta bergetar hebat dibuatnya. Ia dekap tubuh indah itu lebih erat dan diciuminya bau keringat Pegawai bank yang merangsang itu. Ditempelkannya hidungnya di pipi Sinta dan sesekali Tejo mengeluarkan lidahnya dan menjilati wajah Sinta. Sinta pun hanya bisa meringis dan menikmati perlakuan Tejo pada dirinya.

“Akkhhh …” terdengar sedikit lenguhan Sinta begitu pelan namun telah cukup membuat denyut nadi Tejo berdenyut-denyut. Pegawai bank yang kini makin basah bermandikan keringat itu, campuran dari keringat bekas mengikuti acara jalan sehat dan keringat dingin akibat dijamah oleh Tejo, itu terlihat begitu gelisah. Tubuhnya yang basah menjadi makin menggiurkan bagi pria muda yang tengah meraba-raba tubuhnya. Kegiatan mereka makin mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Tejo sedikit khawatir dengan hal itu, ia pun memikirkan jalan agar bisa menikmati tubuh Sinta dengan lebih leluasa.

Tejo pun memutuskan untuk membawa Sinta ke sebuah tempat sepi, mumpung pegawai bank nan menawan itu masih dalam pengaruh bayang-bayang campuran obat bius dan obat perangsang yang tadi diberikannya. Dengan cepat ia melepas pelukannya pada Sinta dan bergegas mengambil motor bebeknya yang diparkir tak jauh dari situ. Ia pun membimbing Sinta untuk berdiri dari trotoar dan mengajaknya untuk naik motor bersamanya. Dengan lembut Tejo membisikkan sesuatu di telinga Sinta, “Sayang, bila kau ingin merasakan kenikmatan yang jauh lebih indah dari ini, ikutilah kata-kataku. Sekarang naiklah ke motor ini dengan membonceng padaku”

Layaknya seorang kerbau yang dicocok hidungnya, Sinta pun menuruti semua yang diperintahkan Tejo. Ia merasakan adanya dorongan yang begitu dalam dari dirinya untuk merasakan kembali sentuhan dan belaian seorang Tejo. Ia merasakannya seperti gairah. Mungkin ini adalah efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Tejo tadi. Sinta yang tadinya merupakan seorang pegawai bank yang anggun, menawan, cantik, dan santun kini telah tergila-gila dengan perbuatan cabul Tejo. Setelah Tejo naik motor pun, Sinta dengan pasrah menurutinya dan duduk menyamping sambil memeluk pinggang Tejo dengan erat.

Merasakan hal tersebut, Tejo begitu girang. Selama perjalanan ia hanya memakai tangan kanan untuk menarik gas dan mengerem, sementara tangan kirinya terus mengelus-elus tangan perawan nan cantik yang melingkari pinggangnya. Sinta telah begitu jauh terperosok ke dalam jebakan yang dibuat Tejo. Mereka berdua begitu dilanda birahi yang menggebu-gebu di atas motor tua itu. Mereka sudah sama-sama tidak sadar untuk melampiaskan nafsunya masing-masing. Tanpa sadar tangan Sinta pun dengan lembut mengelus-elus bagian perut Tejo membuat pria muda itu belingsatan dibuatnya. Untung rumah kontrakan Tejo tidak begitu jauh sehingga 10 menit kemudian mereka telah sampai.

Begitu sampai di dalam rumah, Tejo langsung menyiapkan segalanya. Pintu rumah ia kunci, motor ia masukkan, dan Sinta ia baringkan di atas kasur rumah kontrakannya. Kini hidangan lezat telah menantinya di atas ranjang itu dengan gairah yang menggelora.

Tejo pun langsung membuka kaus dan celana panjangnya. Tinggal celana dalam saja yang tersisa ia pakai. Ia terlihat begitu sangat bernafsu dengan wanita yang tengah tergolek lemas di hadapannya. Ia pun merangkak di atas wanita itu dan membelai wajah Sinta yang cantik itu. “Siapa namamu manis?”

“Sinta, Mas” jawab Sinta sambil menggigit bibir bawahnya. Ia juga tampak telah begitu tegang dengan Tejo yang telah menanggalkan busananya. Ia sadar semua ini sudah tidak bisa ditolak lagi. Pergolakan batin terus berlomba di dalam hatinya. Ia begitu bingung untuk memilih lari, karena raganya mengatakan sebaliknya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini, dan baru kali ini seorang pria menanggalkan busana di hadapannya dan mendekatinya hingga begitu dekat di atas ranjang.

“Nama yang bagus, Sayang. ”

“Terima Kasih, Mas” Tejo pun menurunkan jari-jemarinya ke bawah menuju bagian buah dada Sinta yang menggunung. Besarnya ia taksir sekitar ukuran 36. Sinta memang mempunyai ukuran payudara yang lebih besar dari teman-teman sesama pegawai bank. Bisa dibilang ialah pegawai bank terseksi di antara rekan kerjanya. Sebenarnya itu bukan masalah di kalangan rekan kerjanya, tapi setelah bertemu orang seperti Tejo yang begitu menggilai payudara besar, Sinta sadar bahwa itu adalah bahaya besar.

Perlahan Tejo meremas-remas payudara yang masih tertutup kaus Sinta itu dengan nafsu yang begitu menggebu. Ia merasakan puting di payudara Sinta yang sebelah kanan, puting itu telah begitu tegang sehingga nampak menonjol dari balik kausnya. “Kamu udah horny yah say?”
Sinta hanya diam saja diperlakukan seperti itu, ia tak mampu menyangkal bahwa ia telah takluk dalam dekapan pria muda yang lebih layak menjadi adiknya itu. Ia pun tetap diam ketika tangan Tejo mampir ke ujung celama panjangnya dan menariknya perlahan ke atas. Tangan yang kasar itu pun dengan lancangnya menjamah betis dan paha mulus Sinta yang belum pernah dilihat sekalipun oleh lelaki lain. Tangan itu bergerak naik turun sehingga membuat Sinta akhirnya mengeluarkan desahan yang begitu menggairahkan, “Aaaahhhh … “

Tejo begitu senang mendengarnya. kemaluannya pun semakin keras dan tegang. Ia makin berani mengerjai pegawai bank nan cantik itu dengan menurunkan celana dalam Sinta ke bawah. Ia pun kini mengelus-elus lembut kemaluan yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi itu dari balik celana panjang yang masih terpasang. Tejo memang belum berniat melepas pakaian Sinta, ia makin terangsang dengan mengerjai Sinta dalam keadaan masih lengkap berpakaian sporty.

Tejo pun mendekati wajah sang pegawai bank nan anggun tersebut. Bibir mereka telah begitu dekat. Sinta pun dapat merasakan bau badan Tejo yang begitu tak sedap, tapi entah kenapa Sinta pun ikut mendekatkan bibirnya yang indah itu ke bibir pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Tejo membelai mesra rambut Sinta dan memagut bibir sang pegawai bank dengan lembut dan penuh nafsu serta gairah. Pria muda itu pun semakin berani dengan mengeluarkan lidahnya agar dijilat oleh Sinta. Sinta pun tanpa malu menyambutnya dengan gairah yang tidak kalah besarnya. Persetubuhan serasa tinggal menunggu waktu bagi mereka berdua.

Sambil memagut bibir indah nan seksi itu, tak lupa Tejo pun meremas-remas payudara Sinta dari kausnya. Bergantian dari kanan ke kiri dan sesekali memelintir putingnya. Sinta pun merasakan sensasi yang begitu menakjubkan.

Serasa tak ada waktu lagi, dengan buasnya Tejo melumat bibir suci nan menawan milik seorang pegawai bank ternama itu. Sinta , sang pegawai bank rupawan, kini sedang berpacu dengan gairah dan birahinya sendiri. Campuran dari obat perangsang yang diminumkan saat menunggu pengumuman door prize undian tadi dan jamahan yang terus dilakukan Tejo membuat jantungnya berdenyut begitu cepat. Ia seperti lupa rasa bencinya pada laki-laki sudah ia rasakan sejak lama. Padahal dalam setiap kesempatan, ia selalu menghindari hubungan cinta dengan laki-laki karena trauma pernah dikhianati mantan tunangannya yang sangat ia cintai. Tapi kini Sinta tampak malah meminta tubuhnya sendiri untuk dijamah oleh lelaki bejat seperti Tejo yang sedari tadi telah menanggalkan pakaiannya.

Sinta meletakkan tangannya di punggung Tejo. Dielus-elusnya punggung pria muda yang telah mengundang birahi jalangnya untuk keluar itu. Tejo pun makin panas merasakan elusan sang pegawai bank idaman itu di bagian tubuhnya yang cukup sensitive. Namun ia tak mau kehilangan tempo, ia akan berusaha memancing gairah Sinta agar ia bertingkah lebih binal lagi. Ia ingin Sinta tak hanya menyerahkan keperawanannya namun juga bisa merasakan puncak kenikmatan dunia darinya, siapa tahu nanti Sinta menjadi ketagihan dan mau menjadi pemuas nafsu seksual dirinya yang sewaktu-waktu bisa meledak.  Apalagi ia sudah jarang menikmati tubuh bibinya karena ngak enak mengkhianati kepercayaan pamannya dan bibinya terlalu banyak selingkuhan jadi memeknya ngak seret lagi.

Sehingga selepas SMU ia memilih tinggal sendiri dan berkerja sebagai cleaning service sambil kuliah di dekat tempatnya bekerja.  Sesekali memang ia masih berkunjung ke rumah pamannya untuk mendapat uang saku tapi ia selalu berusaha menghindari ajakan bibinya untuk selingkuh.  Memang sesekali ia masih meladeni godaan bibinya tapi jauh menurun drastis daripada saat ia masih menumpang di rumahnya pamannya.  Kadang-kadang Tejo dan rekan kerjanya juga main dengan kenalan mereka yang bisa dipakai tapi jarang yang bisa memuaskan Tejo.  

“Sebentar ya Mbak,” Tejo dengan nekat memasukkan tangannya yang hitam legam ke kaus putih Sinta. Tangan Tejo pun langsung bergerilya di daerah itu. Payudara Sinta yang besar dan sensitive itu diremasnya dari balik kausnya. Sinta pun mendesah ringan sebelum kausnya disingkap hingga diatas dada dan tubuhnya resmi dimasuki oleh tangan nakal Tejo.

“Mass, ohhh, geli mas” begitulah erangan Sinta ketika Tejo mulai intens meremas-remas payudara pegawai bank muda yang begitu ranum itu. Segaris senyum menempel di bibir mesum Tejo ketika Sinta menekan kepalanya begitu kencang ke arah payudaranya sendiri. “Ufhhh, ampunn Mas …. !”

Tanpa pikir panjang lagi, Tejo langsung memasukkan kepalanya ke balik kaus putih Sinta. Disingkapnya pakaian terusan Sinta, kemudian dengan perlahan ia mengeluarkan payudara Sinta yang telah begitu membuncah dari bra krem yang masih menempel di tubuhnya. “Mbak, toketnya ca’em banget … warnanya pink, lagi tegang gitu, ukurannya berapa sih?” Ledek Tejo sambil terus meremas-remas dan memainkan putting payudara Sinta.

Ucapan kotor Tejo semakin membangkitkan birahinya. Satu persatu pertahanan keimanannya telah runtuh. Mimik wajahnya yang biasanya penuh keanggunan kini perlahan berubah menjadi begitu erotis dan merangsang. “Iya mas, ukurannya 36 … ohhh, enak mas diremes gitu”

“Ohh, Mbak cantik suka yah? Kenapa gak bilang tadi waktu di monas, kan bisa sekalian mas entot di sana?” Jawab Tejo makin berani.

“Apa mas? Entot ?? ahh …” Sinta lemas begitu Tejo mengucapkan kata-kata kotor itu. Ia sadar kalau dirinya sudah di ambang birahi, dan Tejo pun sudah tidak tahan untuk melepaskan gairahnya. Ia pun memperbaiki posisi berbaringnya agar Tejo bisa lebih mudah menyetubuhi dirinya. Ia telah benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Merasakan geliat tubuh indah yang ada dalam dekapannya, Tejo pun ikut bergeser hingga wajahnya tepat berada di atas payudara Sinta. “Liat deh Mbak, toketnya dah penuh neh, Mas kurangin sedikit yah susunya …” Ujar Tejo sambil menyibak sedikit kaus Sinta hingga ia bisa melihat payudaranya sendiri.

“Ahh Mas …” Sinta pun mendesah ketika bibir Tejo mulai menyentuh putting payudaranya. Seketika selembar lidah nan panas dan kasar menjulur keluar dan menggerayangi payudara Sinta yang begitu mulus, belum terjamah seorang pria pun. Sinta pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menahan desakan birahi yang begitu menggebu. Erangannya sudah tak bisa dibendung, matanya memejam menunggu ledakan gairah dari dalam tubuh seksinya.

Tejo melakukannya dengan begitu perlahan-lahan. Ia ingin ini menjadi sesuatu yang tak akan ia lupakan seumur hidup. Kapan lagi kan, bisa menyetubuhi seorang pegawai bank cantik seperti Sinta ini. Dengan ganasnya Tejo mengulum putting payudara Sinta  mulai dari yang sebelah kiri, kemudian berlanjut ke payudara sebelah kanan.

“Ahhh, Mas. Geli banget …”

“Mbak suka kan, kalo suka Mas kulum terus yah.” Tejo sudah tidak segan-segan lagi mengatakan kata-kata cabul di hadapan Sinta. Dan respon Sinta pun bukannya berusaha memberontak, tapi malah seakan membuka pintu lebar-lebar bagi Tejo untuk merobek keperawanannya di sebuah rumah yang terkesan sedikit kumuh itu.

“Iya, Mas. Suka.” Mendengar kata-kata itu, Tejo pun menganggapnya sebagai sebuah izin untuk melakukan hal yang lebih jauh. Ia pun melepaskan kulumannya di payudara Sinta sang pegawai bank manis, dan kemudian diikuti lenguhan panjang Sinta yang menandakan kekecewaannya akan perlakuan Tejo itu. Dengan langkah cepat, Tejo langsung turun ke bagian bawah tubuh Sinta dan kemudian menarik perlahan celana panjang Sinta.

Ternyata Sinta masih memakai celana dalam, celana dalam itu berwarna biru muda dan terbuat dari bahan yang tipis. “Mas buka ya Mbak, celana dalamnya.” Sinta yang telah dilanda birahi yang benar-benar menggelegak itu pun hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.

Dengan sekali tarik, celana dalam itu pun terlepas dari tempatnya. Selain karena bahannya yang tipis dan kekuatan Tejo, Sinta pun ikut memberikan sedikit bantuan dengan mangangkat bokongnya untuk memudahkan Tejo. Ia seperti telah pasrah, bahkan malah benar-benar menginginkan untuk disetubuhi untuk pertama kalinya oleh Tejo.

Dalam sekejap, betis dan paha mulus Sinta pun terpampang dengan jelas di hadapan Tejo. Bagian bawah tubuh indah pegawai bank itu benar-benar putih terawat. Mungkin karena tak pernah terkena sinar matahari langsung atau memang Sinta sengaja merawat bagian bawah tubuhnya tersebut. Selama ini para kekasih lesbinya selalu kagum dengan keindahannya, tapi kini seorang pria muda sedang memandanginya tanpa sehelai pun pembatas.

Tejo semakin merasa takjub melihat Sinta dalam keadaan telanjang bagian bawah badannya. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat kemulusan badan Sinta yang selama ini ia perhatikan dari jauh. Pertama kali Tejo melihat Sinta, pria ini memang sudah tergetar dengan kecantikan wanita berkulit putih ini walaupun sebenarnya Tejo juga punya beberapa kenalan wanita, tapi tidak apa-apanya apabila dibandingkan Sinta.

“Mbak, pahanya mulus banget sih, Mas elus-elus yah?” Sebuab pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Tejo langsung mulai menjamah bagian terlarang dari seorang pegawai bank yang cantik seperti Sinta.

Namun Sinta sendiri pun tidak melakukan perlawanan dan malah menyodorkan paha dan betis indahnya untuk dinikmati sang penjantan muda itu. “Iya Mas. Sinta selalu perawatan di salon. Ahhh, Mas, Udah yah, Sinta malu”

Sebuah penolakan yang tampaknya tak berarti mengingat Sinta tak berusaha sedikitpun untuk menutupi bagian terlarang yang sudah terbuka lebar dan siap untuk dinikmati. Tejo langsung meraba-raba paha putih itu dan menjilat-jilat betis Sinta yang mulus. “Hmm, Mbak Sinta bener-bener kayak bidadari yah. Orangnya cantik, tubuhnya indah banget pula”

“Ahh, ahhh, Mas … “ Desahan Sinta pun akhirnya keluar begitu saja tanpa mampu ia bendung.

“Ada apa Mbak? Udah gak tahan yah …” Tejo pun tak mau berbasa-basi lagi, ia pun langsung mengangkangi bagian pinggul pegawai bank yang manis tersebut. Dengan bersemangat, ia pun menggesek-gesekkan kontolnya di memek Sinta, yang tampaknya sudah basah oleh lendir gairah itu.

“Akhhh, geli banget Mas,” Sinta pun merasakan sensasi yang benar-benar baru dan luar biasa. Dalam kehidupan cintanya, ia tidak pernah berhubungan cinta dengan lawan jenis, apalagi menyentuh kemaluan lawan jenisnya. Namun kini, seorang pria muda tengah mengangkanginya, sambil menggesek-gesekkan kontolnya ke memek Sinta, membuaat Sinta benar-benar hilang akal. Ia pun hanya bisa pasrah ketika Tejo melepas kausnya, hingga payudaranya yang besar dan indah itu pun telah terpampang dan siap untuk dinikmati.

Tejo pun terkesiap dengan apa yang ada di hadapannya. Sinta , seorang pegawai bank cantik dan jelita yang berstatus sebagai supervisor, kini sedang mengerang dan mendesah dengan banal di hadapannya. Dilihatnya kemaluan sang pegawai bank yang tanpa bulu sehingga dapat terlihat dengan jelas olehnya di mana letak klitoris dan lubang kelamin suci sang wanita. Memek Sinta ternyata telah berdenyut-denyut kencang tanpa bisa dikontrol si empunya, tanda bahwa empunya sedang mengalami gejolak birahi yang luar biasa.

Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Tejo langsung mendorong penisnya ke dalam memek suci Sinta . Diperlakukan seperti itu, Sinta tambah bergairah dan sedikit berteriak, “Ahhhhh, Massss ….” Tangannya menggenggam ujung seprei tempatnya berbaring sekarang, tempatnya dikerjain oleh seorang pria seperti Tejo yang sedang mengangkangi keperawanannya.

“Mbak, toketnya nganggur tuhh, Mas remes-remes yahh …”

“Ohhh, ohhh, tolong Mas, jangan lanjutkan ini … kasihani saya” Tampaknya Sinta telah berangsur-angsur sadar dari efek obat perangsang yang telah diminumnya. Namun sayangnya itu semua telah terlambat, dan keperawanannya telah di ujung penis Tejo.

“Tanggung, Mbak, dikit lagi masuk neh. Sekali Mbak ngerasain kontol Tejo, pasti minta nambah deh nanti,” Tejo cekikikan ketika merasakan selaput dara pegawai bank itu telah berada tepat di depan kontolnya. Dengan menambah kekuatan remasan pada payudara Sinta, sehingga membuat Sinta sedikit menggelinjang, Tejo pun memusatkan konsentrasinya pada memek Sinta dan … “Akhhhhh, memek Mbak Sinta memang mantap …. Akhhhhh”

“Akhhhhh, Masss …” Merasakan selaput daranya telah jebol, Sinta pun belingsatan. Rangsangan yang diberikan Tejo kepadanya begitu hebat. Bukannya berontak, Sinta memilih untuk melanjutkan persetubuhan ini sampai akhir, ia merasakan semuanya sudah terlanjur baginya.  Selain itu ia tidak mengira kalau persetubuhan dengan lelaki ternyata sangat nikmat sekali.

Tejo merupakan lelaki yang berpengalaman dalam masalah seks. Ketika merasakan aliran darah merembes di sela-sela kontolnya dan dinding vagina Sinta, Tejo pun sedikit menarik kontolnya keluar dari sarang yang hangat itu. Sinta pun terkesiap dan berusaha memasukkan kembali burung nakal Tejo kembali ke dalam tubuh seksinya. Mimik wajah Sinta telah berubah menjadi begitu banal dan jalang. Namun rambut yang dikuncir ekor kuda serta poni rambutnya nampak rapi tetap menghiasi paras manis dan cantik khas pegawai bank ini. Tejo benar-benar tak tahan akan mangsanya kali ini. Ia pun kehilangan control dan langsung menyambar bibir Sinta dengan bibirnya.

Sekitar 15 menit lamanya Tejo menyetubuhi Sinta dengan posisi konvensional. Dengan buas ia melumat bibir dan lidah Sinta. Sinta pun tak kalah liar membalas kuluman bibir pria muda itu. Sementara itu, kontol Tejo terus mengocok vagina Sinta tanpa henti. Sinta pun membantu sang pejantan dengan mengangkat pinggulnya yang gemulai itu menjemput kontol Tejo yang berukuran dua kali ukuran normal ini. Dua insan berbeda jenis kelamin dan status social itu tampak menikmati persetubuhan terlarang itu. Sinta dengan tanpa malu mendesah-desah kenikmatan ditindih mesra oleh Tejo yang kekar dan gempal itu.

“Ahhh, Ahhh, Ahhh, Mass, enakk Mas, enakk, Ohhh, Ohhh …”

“Enakk ya Mbak, Ahhh, Ahhh, memek Mbak Sinta legit banget, Akhh, Tejo mau keluar Mbak …”

“Ahh, iya Mas, kontolnya enakk Mas … Apanya yang mau keluar mas?”

“Spermaaa Mbak, Pejuu Tejo …”

Tiba-tiba Sinta bagai tersambar petir. Ia sadar betul bila sperma Tejo sampai masuk ke dalam rahimnya, maka besar kemungkinan ia akan hamil dan mengandung anak Tejo. Ketika terpikir hal itu, Sinta pun hendak berontak, Tapi saat itu juga ia mengalami orgasme. Cukup lama sekali Sinta menahan nafsunya karena sibutk dikejar target menggaet nasabah untuk program asuransi. Kini tiba-tiba ada penis yang memasuki memeknya, apalagi memang dia dalam keadaan birahi tinggi, akibat pengaruh obat perangsang serta pemainan Tejo yang sudah cukup berpengalaman, dan sudah hampir klimaksnya, maka ketika Tejo menghujamkan penisnya dalam-dalam, maka Sinta mencapai orgasme yang begitu hebat yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

Tejo merasa dirinya di surga ketujuh. Kini kontolnya sudah ambles masuk ke memek sinta. Dirasakannya liang senggama Sinta menjadi begitu sempit meremas batang kontolnya. Dinding liang senggama Sinta basah oleh cairan kewanitaan dan terasa seperti pipa lembut yang menjepit keras kontolnya. Apalagi sekarang Sinta sedang orgasme.

Tejo dapat merasakan pinggul Sinta yang sedikit bergetar seperti menggigil, sementara dinding lubang kencing Sinta berdenyut-denyut meremas kontolnya seakan ingin menyedot habis isi kontolnya. Tejo terus mengaduk lubang memek Sinta dengan lembut dan membuat Sinta makin terbuai. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan kontolnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan pegawi bank yang seksi ini.

“Ohhh …mmhhh …enghhh”desah Sinta ketika sekali cairan kemaluannya menyembur menyiram penis Tejo yang sedang mengaduk aduk kemaluannya.

Sinta yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam lubang memeknya gantian disembur cairan hangat mani dari penis Tejo yang terasa banyak membanjiri lubang lubang memeknya. Sinta kembali merintih, saat perlahan Tejo menarik keluar kontolnya yang lunglai.



Admin Mesum - 04.51

Tetangga Muda Yang Binal


Tetangga Muda Yang Binal

Kisah ini bercerita tentang gue dan seorang anak tetangga gue yang lebih kecil dari gue, sebut saja namanya Sheila, dia berusia 2 tahun lebih muda daripada gue, sheila sangatlah cantik untuk ukuran anak seusianya, bibirnya yang sensual, kulitnya yang putih bersih, rambut panjang bergelombang, dan tentu saja dadanya sangat padat dan berisi. Gue sendiri Dimas, mahasiswa semester 2 di kampus swasta di daerah Kuningan.
Pada suatu sore, gue sedang online dengan menggunakan komputer kesayangan gue, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pagar rumah gue dan mengucapkan salam, ternyata pak widodo tetangga gue, dia meminta tolong intallin ulang OS laptopnya sama gue yang notabenenya dewa IT di lingkungan gue.

Tanpa banyak omong, gue pergi kerumah dia. Dirumahnya sedang ada 2 orang anaknya yaitu rama dan sheila, rama sedang bermain PS dikamarnya dan sheila menonton televisi diruang keluarga
Sheila adalah anak bungsu pak widodo, dia masih SMA tapi perawakannya ngga kalah dengan teman teman satu angkatan gue. Dari dulu dia selalu jadi target bacol gue dikamar mandi hehe.
2 jam gue install ulang laptop pak widodo, sekaligus memasukkan program-program penting yang akan dia gunakan. Selama 2 jam itu pula lah gue mesti nahan sange diruang keluarga pak widodo karena ngeliat sheila duduk di sofa dengan kaki terangkat ke meja dan hanya mengenakan hotpants dan tanktop yang super sexy.
Mungkin karena bosan menonton televisi, sheila pindah duduk ke sofa didepan gue, dia mulai ngajak ngobrol gue.

“Masih lama ya mas?”
“Ngga kok dikit lagi, tinggal install winamp doang.” Gue membalas.
“Oohh, soalnya sheila mau make laptopnya, ada tugas sekolah yang mesti dikerjain.”
“Lah, malem minggu masih aja ngerjain tugas sekolah, jalan-jalan dong shel, emang cowonya sheila kemana ngga ngajak jalan?” gue nyoba bercandain dia.
“Ah gue ga punya cowo mas, baru putus. Makanya males kemana mana.” sheila menjawab.
“Masa sih? Biasanya pada ngantri, hahaha, yaudah gue selesaiin dulu ya!”
Lalu gue pun kembali berkonsentrasi pada laptop pak widodo. Akhirnya setengah jam kemudian selesai juga, dan gue persilahkan sheila buat make laptop itu, sedangkan gue diajak makan oleh pak widodo. Setelah makan gue ngobrol-ngobrol dengan pak widodo, ternyata malam itu dia akan berangkat dinas ke luar kota, sedangkan istrinya sedang rapat perusahaan di bogor, sehingga harus menginap di rumah orang tuanya. Gue pun cuma cengar-cengir aja denger cerita dia soal pusingnya mikirin proyek. Ngga beberapa lama setelah itu sheila masuk ke ruang makan.
“Mas, itu kok internetnya ngga bisa nyala?”
“Hah? Masa? Coba sini gue liat.” Gue pun segera menuju ke ruang keluarga.
“Yah ini sih emang koneksinya aja lagi down, namanya juga modem CDMA.” Gue menerangkan kepada sheila.
“Yaahh, terus gimana dong mas, gue besok mau jalan, mesti ngerjain tugasnya sekarang.”
“Hmmm, gimana ya? Kalo gini sih paling lo kerjain di warnet, atau kalo mau dirumah gue.”
“Yaudah gue kerumah lo deh mas.”
Sheila pun menghampiri ayahnya buat minta izin kerumah gue. Dengan santai pak widodo mengizinkan putri kerumah gue. Maklumlah pak widodo dan gue udah sangat dekat, dia percaya samague. Lalu gue dan sheila pun langsung menuju rumah gue.
Malam ini rumah gue sepi, soalnya semuanya lagi pada ke luar kota buat mengikuti acara nikahan paman gue, sheila gue ajak masuk kamar gue, soalnya komputer gue ada di kamar gue. Disaat sheila mengerjakan tugasnya, gue tiduran di kasur double bed gue.
Setengah mampus nahan sange ngelihat perawakan tubuh sheila didepan gue. Sekarang pun pakaiannya tetep bikin kontolgue keras banget. Dia tetep pake hotpants tapi sekarang pake sebuah baju bali yang longgar dilapisi hoddie berzipper yang ngga dikancingin. Satu setengah jam gue nungguin dia ngerjain tugasnya sambil dengerin lagu dari ipod. Setelah selesai, gue ajak dia makan.
“Shel, lo belom makan kan? Makan dulu yuk!”
“Ngga ah mas, masih kenyang gue. Eh iya, gue boleh nginep disini ngga?”
“ah gila lo, ntar om wido ngomelin gue lagi.” Padahal sebenarnya gue makin sange denger omongan dia.
“Ngga apa-apa mas, males gue dirumah, cuma ada bang rama sama si mbak, ayah paling udah jalan dinas. betegue!”
“Yaudah, tapi ngga apa-apa kan?” gue memastikan daripada kena omel pak widodo.
“Iya mas ngga apa-apa, emm, ngapain kek mas biar asik nih, bosen gue.”
Gue pun duduk di depan komputer, awalnya gue mau nyalain MP3 gue, tapi tiba-tiba terbersit niat kotor gue, akhirnya gue buka koleksi bokep gue.
“Mas apaan tuh? Wah gila lo malah nonton begituan.” Sheila protes ke gue.
“Lah kan kata lo tadi mau yang seru, ini seru banget malah, yaudah deh kalo ngga mau gue matiin.”
“yah jangan dulu mas, pengen liat gue, penasaran.”
Lima menit nonton bokep jepang, muka sheila semakin mirip dengan pemeran wanitanya, terlihat dia sange berat. Gue pun terus memandangi dia mencari momentum yang tepat agar bisa ngerasain memeknya, ngga beberapa lama dia menaikan kaki ke bangku dan melipatnya didepan dadanya. Gue mulai mencoba memegang pahanya dan mengelus-elus, rasa takut kepada pak widodo lenyap semua, yang penting gue bisa ngerasain memek bacol gue hari ini. Terus gue elus-elus paha sheila dan mulai menjalar ke pinggulnya, dia masih ngga peduli sama tangan gue dan serius menonton adegan bokep tersebut. Hingga ketika gue memegang pinggangnya dia menurunkan kakinya dan menatap gue, tanpa berkata dia memejamkan matanya dan buka sedikit bibirnya, ngga pake basa-basi gue cium bibirnya dengan ganas, dia pun membalas dengan binalnya, ternyata dia udah biasa ciuman. ‘karbitan juga ya” pikir gue dalam hati. Gilanya dia main sangat binal, lidah gue dipagut, air liurnya menetes kemulut gue, dan napasnya sangat memburu.
Puas ngehajar bibirnya, gue mulai turun ke lehernya, dengan napas yang masih memburu dia mendekatkan bangkunya ke dekat bangku gue, kepala gue diremasnya. Jilatan gue pun turun ke dadanya, dengan mudahnya baju bali dia yang longgar dapat gue buka, OMG ternyata dia ngga pake BH, wah binal juga ini anak. Langsung aja gue hajar payudaranya yang telah berukuran sekitar 34B, kiri kanan gue isep dan main mainin. Puas dengan payudaranya, gue pindah posisi, dari yang tadi duduk di bangku sekarang gue berlutut menghadap dia, gue mulai ngejilatin perutnya hingga bagian atas selangkangannya, muka sheila sange berat, gue pun terus nahan-nahan hingga dia yang meminta untuk gue jilatin vaginanya. Ngga berapa lama, dia berkata.
“Mas, bukain aja celana gue, udah ngga tahan mas.”
Tanpa banyak cingcong gue buka celana dia, sekarang terhampar G-string merah muda didepan gue. anjir karbitan abis ini anak SMA.
Langsung dengan semangat 45 gue isap vaginanya yang udah super becek. Dia terus melenguh kencang, gue isap clitorisnya dengan perlahan lahan. Ngga beberapa lama, akhirnya dia orgasme.
Lalu gue angkat dia ke kasur gue dan gue terlentangkan, gue buka semua baju gue. posisi dia gue bikin duduk bersandar di kepala tempat tidur gue, dan gue berlutut dengan penis yang tepat dimuka dia.“shel, gantian dong.”
Dia mulai isep kontolgue, gue mengajari perlahan-lahan, sepertinya dia masih belum terbiasa menghisap penis, 5 menit kemudian dia sudah cukup mahir dan gue merasakan kenikmatan di BJ oleh bacol idaman gue.
Sebelum orgasme, gue tarik keluar kontolgue dari mulutnya, takutnya kalo dikeluarin didalam dia jijik dan ilfeel.
Gue beranjak ke lemari pakaian gue. Gue cari kondom yang gue simpen dibawah tumpukan baju gue. Kondom merah ini gue punya dari mantan gue sebelumnya, sayang kalau cuma disimpen doang hehehe.
Dengan cepat, gue pasangkan kondom tipis itu ke kontol gue dan mengarahkan kontol gue ke memek sheila.
Gue berusaha penetrasi ke memek yang masih sempit, kemerahan dan tanpa jembut itu. Dia berkata, “Mas, pelan-pelan, gue takut sakit.”
Wah anjir lampu ijo banget, mulailah gue memasukan ujung penis gue kedalam vagina dia, dia menahan sakit, kembali gue coba ulangi hingga sekitar 10 menit, pada akhirnya masuk juga semua kontolgue, dia terlihat kesakitan dan mengeluarkan air mata, gue tahan kontol gue dalam memeknya. Setelah terlihat agak baikkan gue mulai keluar masukkan kontolgue dengan gaya missionary, aaahhh enak banget seperti dipijat, tetesan darah merah keluar dari vaginanya.
Duapuluh menit bersenggama dengan dia, gue mengubah posisi, sekarang kita main dengan gaya doggie, penetrasi gue pun makin maksimal bikin dia kelojotan, erangan dan desahan sheila makin menjadi.
“ahh, mmm aaa sss, ttteeerrruu ssssss massss, nikmatttttt” Desahan sheila makin bikin gue sange
“shel, coba lo diatas deh.”
Akhirnya gue mencoba WOT tanpa mengeluarkan penis gue dari memek sheila, dia memduduki selangkangan gue, mukanya yang sangat eksotis itu bikin nafsu gue membara, dia mulai maju mundur. Ngga beberapa lama akhirnya dia mengalami orgasme kedua, badannya kejang dan lemas dia tiduran diatas dada gue, kontolgue merasakan cairan hangat mengalir mengikuti alur urat di kontol gue.
Akhirnya gue kembali ngegenjot dia, sepuluh menit kemudian akhirnya gue orgasme didalam memeknya, sangat banyak sperma gue keluar, hingga memenuhi kondom yang gue pake, “Untung gak bocor, kalau sampe bocor bisa repot” Kata gue dalam hati.

Keesokan paginya sheila pulang setelah sarapan, dia membisikkan terima kasih setelah mencium gue, setelah malam itu pun kami jadi sering melakukan hubungan sex, mau di mobil, hotel, rumah sheila, rumah gue, bahkan di sekolah sheila.
Kami pun terus menjadi TTMan sampai guelulus kuliah sekarang.



Admin Mesum - 04.37

Kamis, 04 Desember 2014

Pesta Seks Bersama Tante Sexy dan Anakmya

Kamis, 04 Desember 2014

Pesta Seks Bersama Tante Sexy dan Anaknya.

Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata,
Hey.. kok.. melamun? katanya.
Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik.
Eee.. Ditanya kko masih diam sih? wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,
Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?
Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?
Kemana Tante? tanyaku.
Gimana kalau ke rumah Tante aja yah? karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.
Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.
Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,
Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam? yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30.
Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai, kata Mbak Hanny.
Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku.
Nah dewa sekarang tinggal kita berdua, katanya.
Mrmangnya ada apa tuh Tante? kataku heran.
Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak, begitu timbalnya.
Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki, sambil memeluk aku dan memohon,
Yah sayang? Mau kan? katanya lagi
Ii.. Yaa, mau.. Tante? jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.
Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah? gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.
Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh.. desahku.
Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta, kata Tante Mey.
Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang.
Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?
Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya.
Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?
Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya.
Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta? Tante Mey meringis memohon.
Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?
Kenapa Tante?
Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?
Ooohh..? jawabku.
Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis, katanya.
Selang beberapa menit,
Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?
Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?
Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit.
Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang? lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah.
Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..? ceracaunya.
Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan? timbalku.
Tiba-tiba, Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?
Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?
Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali.
Tante aku mau keluar nih..? kataku, Dimana nih keluarinnya..?
Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?
Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott..
Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..? erangku.
Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny,
Ada apa Mbak? tanyaku.
Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata,
Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..
Dia mempertegas, Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngentot lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak, sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.
Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku, jawabku vulgar.
Kita entotannya dilantai karpet aja yah? kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngentotnya diranjang, dia mempertegas.
Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngentotin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess..
Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..? erangnya.
Sakit Mbak? tanyaku.
Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?
Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..?
Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..? sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.
Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?
Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara.
Iiihh.. Kakak lagi ngapain? mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngentot sama kakaknya.
Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata,
Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?
Ii.. ittuu.. ada..?
Ada apa? katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara,
Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!
Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang? kata Mbak Hanny.
Kak aku ingin ngerasain dientot yah? tanya Shelly sama kakaknya.
Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa, timbal poppy.
Iyah kan Kak? tanya poppy pada Shelly.
Iyah nih.. Gimana sih..? timbal Shelly.
Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut? terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngentot dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya.
Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?
Sini jangan ribut.. kata Kakaknya lagi, Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis Tanya kakaknya.
Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..
Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngentotnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan.
Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..? erangan Mbak Hanny.
Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali
Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang.
Akhirnya kembali lagi aku ngentotin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi.
Benar nih, vagina kamu mau aku masukin? tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang.
Mau sekali Kak..? jawabnya.
Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngentotin dia? jawab polosnya.
Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess..
Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..? sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.
Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?
Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya.
Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak? katanya.
Iyah Shelly sayang, gimana enak kan? tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.
Enak.. sekali.. Kak Dewa..
Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi? lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott..
Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh.. eranganya.
Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny.
Sudah dong kak..? kataku pada Mbak Hanny.
Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini? kataku lagi
Iyah Kak Hanny, sudah dong kak? kata Poppy.
Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali? katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya.
Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi.
Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.
Bleess.. Bless.. Bleess..
Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh.. Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku.
Sakit yah? tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya.
Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut, katanya.
Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya.
Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah.. ceracaunya.
Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.
Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..
Dan akhirnya aku ngentot vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata,
Aku mau keluar nih?
Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..
Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan..
Crott.. Croott..
Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..? eranganya.
Makasih.. Yah kak..? sambil dia tersenyum.
Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.
Aku mau keluar nih, dimana sayang? tanyaku.
Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..
Ccrroott.. Crroott.. Crott..
Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly.
Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.


Admin Mesum - 01.47

Ibu RT Ku, Bu Harjono

Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.

Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut.

Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantumenemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.

Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,? Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya.

Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah.

Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har, kataku menenangkan.

Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari sayatidak sempat mandi, katanya kepada rekan-rekannya.

Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar.

Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas.

Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit, katanya.

Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai, suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang.

Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah,.. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam.

Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin.

Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harusmembungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini).

Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna , putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya.

Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit.

Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu kewaktu.

Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan. Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.

Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian, katanya.Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi, jawabku.Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetisitu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.

Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?Kata siapa, Rid?Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran, jawabku agak tergagap.Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua, ujarnya lirih.Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.

Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut, katanya lirih.Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya.

Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.

Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh.

Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.

Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi dibagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya.

Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan.

Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.

Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang, katanya lirih.Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan.

Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya.

Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman.

Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasannikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.

Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,Aku juga enak Rid, uh.. uh uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah,Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah, .. ah,Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah,

Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat, kata Ia sambil masih tiduran di dekatku.Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.Ya Maaf,.. soalnya tadi,..Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu danmenimbulkan aib diantara kita, ujarnya lirih.

Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian.


Admin Mesum - 01.26

Sekolah Penuh Gairah : 04 Sekolah Mesum

Hari itu pak Risman tampak sumringah, wajah mesumnya terlihat berseri-seri. Terdengar ia bersiul-siul mengungkapkan kegembiraannya. Tangan kanannya memegang sebuah proposal pengajuan kerjasama dari perusahaan dimana bu Melisa bekerja. 
"Sungguh beruntungnya aku ini, sudah dapat memek gratis..dapat duit pula..haha" gumamnya "tapi..ngomong-ngomong soal memek...aku jadi ingat guru-guru yang belum aku cicipi..hmm" kembali pak Risman menggumam. 
Ia baru ingat kalau rencananya baru setengah jalan. Pak Risman keluar dari ruangannya, ia kini berjalan-jalan berkeliling sekolah tersebut. Beberapa staff, guru, dan juga murid yang berpapasan tampak menyapanya yang ia tanggapi dengan ramah. 
"Ternyata gak cuma guru-guru yang cantik...di sekolahku ini juga banyak siswi-siswi sexy" itulah hal yang terbersit dalam benaknya ketika melihat murid-murid perempuan di sekolah itu.
Pak Risman terus melangkahkan kakinya berjalan-jalan di areal sekolah itu, hingga suatu ketika langkah kakinya terhenti. Sayup-sayup telinganya mendengar suara-suara yang tak asing di telinganya. Suara itu berasal dari ruangan konseling, dimana ruangan itu diapit oleh dua bangunan laboratorium, sehingga letaknya agak tersamarkan. Dengan hati-hati pak Risman melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan itu. Telinganya ia tempelkan di pintu itu seolah-olah ingin mendengarkan lebih jelas suara-suara yang keluar dari dalam ruangan tersebut. Ketika pak Risman sedang serius menguping, ia dikagetkan obrolan orang dari dalam ruangan tersebut. 
"Ayoh bu...puaskan kontol sayah...oh..sebelum pak Risman menikmati jepitan memek ibu...yah..goyangh.." 
Itulah yang terdengar oleh pak Risman dari dalam ruangan tersebut. Ia semakin penasaran, siapa orang yang tengah berada diruangan itu, dan kenapa ia tahu tentang skandalnya yang senang menikmati tubuh para guru perempuan di sekolah itu. Ingin sekali pak Risman mengetuk pintu ruangan itu dan melihat siapa orang yang berani melakukan hal mesum di sekolah itu selain dirinya. Namun pak Risman mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, ia lebih memilih menunggu persetubuhan itu selesai dan orang dari dalam ruangan itu keluar. Pak Risman terlihat cemas menunggu di depan ruangan konseling tersebut, hingga setelah menunggu hampir setengah jam, terdengar suara kunci dari pintu itu dibuka dari dalam. "Cklek.." Pintu itu terbuka, terlihat seorang murid laki-laki keluar dari dalam ruangan tersebut. Anak laki-laki itu tampak kaget ketika matanya bertemu pandang dengan sosok buncit kepala sekolahnya, mulutnya terbuka tak bisa berucap sepatah katapun.

Sementara dari dalam terdengar suara perempuan yang memanggil anak laki-laki itu dengan mesra bahkan agak jorok, karena tidak mengetahui kalau di depan ruangan tersebut anak laki-lakinya tengah gemetar di hadapan kepala sekolahnya. 
"Aldo sayang..jangan lupa nanti sore ke rumah Firman ya...ibu pengen dientot rame-rame lagi sama kall..". Kata-kata dari perempuan itu terpotong ketika mendapati pak Risman telah berada di depan ruangan tersebut bersama murid laki-lakinya yang tak lain adalah Aldo, salah satu dari gerombolan anak-anak bengal yang tempo hari memperkosanya yang kini tengah gemetar di hadapan pak Risman kepala sekolahnya.
"Oh...jadi rupanya bu Indah punya peliharaan" sambil terkekeh menjijikan pak Risman mulai mengeluarkan suara. 
"Ma..maksud bapak?" tanya bu Indah pura-pura tak mengerti. 
"Gak baik bicara di luar bu, ayo masuk..kamu juga nak" jawab pak Aldo sambil merangkul bahu anak laki-laki itu dan mengajaknya masuk kembali ke dalam ruangan konseling.
Pak Risman berpikir cepat, ia tidak bisa membiarkan anak ini. Ia takut rahasianya akan terbongkar.
Setelah di dalam ruangan, pak Risman lalu duduk di sofa kecil yang disediakan di ruang tersebut. Ia juga mempersilahkan Aldo dan bu Indah duduk. Dengan tenang pak Risman menginterogasi Aldo. Ia bertanya tentang awal mula anak itu bisa menyetubuhi bu Indah dan dari mana anak itu tau skandal tentangnya dengan para guru. Aldo dengan gemetar menceritakan semuanya. Sementara bu Indah hanya bisa menunduk malu karena dirinya ketahuan senang disetubuhi murid-muridnya sendiri. Selesai Aldo berbicara, pak Risman terlihat memikirkan sesuatu. Lalu sesaat kemudian ia mulai angkat bicara. 
"Begini do..kamu gak perlu takut...cukup tutup mulut.." Ucap pak Risman kepada Aldo. 
"Ma..maksud bapak apa?" Aldo bertanya heran tak tahu apa yang dimaksudkan pak Risman. 
Lalu pak Risman menjelaskan tentang perjanjian yang ia tawarkan kepada Aldo dan teman-temannya. "Gimana menurut kamu..deal?" tanya pak Risman kepada Aldo mengakhiri penjelasannya. 
"Jadi beneran pak saya boleh..kapan aja sama bu Indah?" Aldo malah balik bertanya, kali ini dengan raut muka sumringah. 
Pak Risman hanya mengangguk dan tertawa mendengar pertanyaan Aldo, seakan-akan dialah yang berhak menentukan nasib bu Indah.
"Sampaikan penawaran bapak ini sama temen-temen kamu.." Kembali pak Risman memberikan perintah pada anak itu, "dan jangan lupa hari senin pulang sekolah kita bicarakan di ruangan saya" lanjut pak Risman yang ditanggapi dengan gembira oleh Aldo.
Saking gembiranya Aldo saat itu hendak merangkul bu Indah, Namun pak Risman mencegah anak itu. "Hey..tadi kan kamu udah..sekarang giliran saya" cegah pak Risman.
"Yaelah pak...kita bareng-bareng aja napa...udah sange lagi saya" jawab Aldo yang kini sudah merasa lega, bahkan kini seakan tengah berbicara dengan teman sebayanya. 

Pak Risman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aldo. Sementara bu Indah nampak tersipu malu mendengar dirinya diperebutkan oleh kedua laki-laki beda usia ini. 
"Gini aja..kamu sekarang jangan ganggu bapak dulu sama si cantik ini ya" kembali pak Risman memberi tawaran kepada Aldo. 
"Terus saya sama siapa pak?" Aldo kembali bertanya.
Sejenak pak Risman berpikir lalu mengeluarkan Hp dari sakunya dan mengetik pesan yang ia kirimkan kepada seseorang. Lalu beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruangan tersebut. Pak Risman segera beranjak untuk membukakan pintu, ia tampak berbincang dengan orang yang berada di luar sana. Sesaat kemudian pak Risman kembali masuk dan menghampiri Aldo dan bu Indah yang tengah duduk di sofa.
 "Aldo..ini hadiah dari bapak buat kamu.." ucap pak Risman sambil mempersilahkan orang yang di luar itu masuk.
Aldo dan bu Indah tampak kaget, keduanya seolah tak percaya.
"Bbb..bu Astri.." Ucap bu Indah sambil kedua tangannya seakan-akan ingin menutup mulutnya. Sementara Aldo hanya bisa melongo dan beberapa kali menelan ludah melihat sosok bu Astri yang berlenggak-lenggok genit bak peragawati memamerkan tubuhnya memasuki ruangan. Bu Astri lalu berhenti di depan Aldo Muridnya, ia lalu menggoyangkan badannya layaknya biduan dangdut memamerkan keindahan pinggulnya. Dengan jari-jari tangan memainkan ujung rambutnya dan lidah yang memainkan bibir ranumnya, bu Astri nampak binal di hadapan Aldo, pak Risman dan bu Indah.
"Aldoo...sekarang belajarnya sama ibu ya..." ucap bu Astri dengan suara mendesah manja sambil mengulurkan tangannya kepada Aldo. 
Seperti kerbau dicucuk hidung Aldo hanya menuruti ketika tangannya digandeng bu Astri yang membawanya keluar ruangan tersebut. Sebelum keluar ruangan bu Astri menengok, ia mengedipkan matanya. 
"Bu Indah...selamat menikmati" ucapnya masih dengan gaya genit yang berbeda dengan kesehariannya. 
Pak Risman hanya terkekeh melihat kelakuan bu Astri. Ia sangat puas dengan hasil yang didapatkan buah dari kekuasaan yang ia miliki di sekolah ini. Sepeninggal bu Astri dan Aldo, pak Risman yang telah tinggi birahinya menyuruh bu Indah untuk duduk mendekat di sampingnya. Nampak saat itu bu Indah sangat gugup, karena walaupun ia mengetahui kalau dirinya akan menjadi hidangan bagi pak Risman, ini adalah kali pertama ia bermesraan dengan laki-laki yang lebih tua darinya selain suaminya.

"Jangan gugup seperti itu bu Indah..relax saja" ungkap pak Risman sambil merangkul bahu bu Indah sesaat setelah ia mendaratkan pantatnya di atas sofa berdampingan dengan kepala sekolahnya.
Tangan pak Risman mulai mendorong bahu bu Indah mendekat ke tubuhnya, mata mereka saling memandang memancarkan birahi. Kini pak Risman mendekatkan bibirnya ke arah bibir bu Indah yang merah merakah. Ketika ujung kulit bibir mereka bertemu, bu Indah tampak langsung memejamkan mata. Ia tampak pasrah menerima pagutan pak Risman, sesekali lidahnya membalas lumatan lidah pak Risman yang kini nampak sangat menikmati kepasrahan bu Indah yang menyerahkan tubuhnya dengan total untuk dinikmati kepala sekolahnya yang mesum. Desah kenikmatan tertahan bu Indah terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Kesehariannya sebagai seorang guru sangat kontras dengan kelakuannya. Ia takluk takluk pada kenikmatan seksual, hingga dirinya rela disetubuhi kepala sekolahnya bahkan disetubuhi murid-muridnya.  Kini bu Indah dan pak Risman sudah bertelanjang bulat. Pakaian yang tadi mereka kenakan kini tampak berserakan diruangan tersebut. Tubuh proporsional bu Indah yang putih mulus sungguh menggugah hasrat kelelakian pak Risman. Rambutnya yang dipotong pendek sebahu menambah aura kecantikan bu Indah yang kini tengah duduk menyender di atas sofa dan mengangkangkan kakinya. Membiarkan vaginanya yang merekah merah muda dijilati oleh lidah kasar pak Risman. 
"Ouh...yeah...it..tilnyah diemuth..pakh..yaaahhh.." desah kenikmatan keluar dari mulut bu Indah sampai ketika orgasmenya tiba.
Sesaat kemudian giliran batang kemaluan pak Risman yang dimanjakan oleh bibir bu Indah. Sungguh luar biasa kenikmatan yang pak Risman dapat dari guru sekaligus pengantin baru ini. Kulumannya benar-benar hebat, seakan-akan ia sudah mahir memanjakan batang kemaluan laki-laki dengan bibirnya. 
"Ouwh...bu Indah sudah mahir rupanya..aaahhh" ungkap pak Risman mengomentari service mulut bu Indah.
Pak Risman lalu menghentikan bu Indah yang tengah asik menikmati batang kemaluannya. 
"Sudah bu...sekarang layani saya dengan memek ibu" ucap pak Risman sambil menjambak rambut panjang bu Indah yang hitam dan menyuruhnya terlentang di sofa.
Bu Indah terlihat tak sabar untuk menikmati batang kejantanan pak Risman yang hitam, panjang, dan besar serta dipenuhi urat-urat yang melingkar. Dimana hampir setiap perempuan yang pak Risman setubuhi pasti ketagihan. Bu Indah membimbing batang itu memasuki vaginanya yang licin, basah dan sempit. Ia sampai merem melek ketika merasakan batang itu memasuki vaginanya.
Pak Risman yang ingin menunjukan kejantannannya langsung menggenjot vagina sempit bu Indah hingga membuat bu Indah mengerang-ngerang. Bunyi kulit yang bertumbukan saling bersahutan dengan suara desahan dan jeritan-jaeritan tertahan bu Indah. Hingga tak lebih dari sepuluh menit kembali orgasme menimpanya.

Belum reda orgasme yang didapat oleh bu Indah, pak Risman sudah memaksanya menungging. Ia langsung kembali menusukan batang besarnya kedalam vagina bu Indah yang sempit dan tanpa ampun menggenjotnya dengan tempo cepat dan dengan kedua tangan meremas payudara bu Indah. Tak ayal lagi, orgasme bu Indah kembali datang dan semakin menenggelamkannya dalam lautan kenikmatan.
"Auhhh...ampun...enakh...ampun" racau bu Indah ketika orgasmenya tiba. "Apanya yang enak bu Indah" tanya pak Risman tanpa menghentikan genjotannya, walaupun saat itu bu Indah sudah berkelojotan.
"Kon...tooolll...konhhh..tolll...enak..ouh" ucap bu Indah terputus-putus menanggapi pertanyaan pak Risman, yang rupanya mengalami hal yang sama. 
Saat itu pak Risman hampir mendapatkan orgasmenya hingga ia tak menghentikan genjotannya. Dan ketika orgasmenya tiba ia tancapkan batangnya dalam-dalam di lubang vagina bu Indah, tubuhnya berkelojotan dan menyemburlah spermanya di dalam rahim bu Indah. 
"Annjingh..oh...terima ini guru pelacur" racaunya ketika orgasme. 
Bu Indah yang mendengar perkataan tak senonoh dari kepala sekolah tersebut hanya memejamkan mata sambil tersenyum menikmati semburan-semburan sperma di rahimnya. Akhirnya tubuh buncit pak Risman ambruk diatas tubuh bu Indah. Nafas mereka berdua terengah-engah dengan tubuh bermandikan keringat. Namun mereka melupakan sesuatu. Tadi pak Risman lupa untuk mengunci pintu ruangan tersebut, hingga "cklek.." Suara pintu yang dibuka mengagetkan mereka. Saat itu pak Risman tengah memeluk bu Indah yang menelungkup di atas sofa masih dalam keadaan telanjang. Nafas mereka berdua terengah-engah. Sekilas tampak terlihat senyum dari bibir bu Indah. "Cklek..." Pintu itu terdengar dibuka dari luar, yang tentu saja menimbulkan kepanikan bu Indah dan pak Risman. Bu Indah menutupi payudara bulat miliknya dengan seragam yang ia pungut dari atas meja yang berada di depan sofa tempatnya barusan mengadu birahi bersama pak Risman. Wajahnya pucat ketakutan. Dengan bibir menganga tak mampu mengucap sepatah katapun. Namun orang yang baru saja membuka pintu tampak santai. Seperti tak pernah melihat kejadian apapun di ruangan tersebut.
"Bb..bu..Linda.." Ucap pak Risman memberanikan diri memanggil orang yang baru saja datang. 
Sementara orang yang dia panggil tak lantas menjawab panggilan pak Risman. Dengan tenang ia masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengunci pintunya. Bu Linda lalu berjalan menghampiri pak Risman yang tengah duduk di sofa dengan tubuh yang masih telanjang. 
"Jangan mentang-mentang ini jam bubaran sekolah pak..masa mau ngeseks tapi pintunya gak dikunci" ucap bu Linda sambil duduk di atas meja di depan pak Risman dan bu Indah sambil menyilangkan kakinya. "ternyata gini yah kelakuan bu Indah..." kembali bu Linda berkata sambil matanya menatap tajam bu Indah yang menunduk dengan badan gemetar.
"Tt..tolong bu..jangan bilang sama siapa-siapa" ucap bu Indah yang kini mulai terlihat akan menangis. Mendengar ucapan bu Indah, terlihat senyuman mengembang di bibir sensual bu Linda. 
"Saya gak bakalan bilang sama siapa-siapa bu Indah...assal.." ucapan bu Linda terhenti. 
"Asal apa bu?" Kini bu Indah nampak penasaran dengan apa yang akan diucapkan bu Linda. "Asal saya juga dikasih jatah kontol sama pak Risman" jawab bu Linda malu-malu sambil mengerlingkan matanya terhadap pak Risman.
Terdengar dengus nafas dari pak Risman dan bu Indah, keduanya merasa lega mendengar ucapan bu Linda. 
"Dengan senang hati bu..kemarilah.." Ajak pak Risman sambil menarik tangan bu Linda.
"Bu Indah..saya pinjam pak Risman ya" bu Linda meminta izin terhadap rekannya. 
"Eh..silahkan bu..tapi sisain ya" jawab bu Indah genit. 

Lalu bu Linda duduk menyamping di pangkuan pak Risman, ia langsung menggapai kepala pak Risman dan memagut bibirnya penuh birahi. Rupanya sebelum bu Linda masuk ke ruangan itu ia telah mengintip persetubuhan pak Risman dan bu Indah, hingga ia terangsang dan memberanikan diri untuk ikut ambil bagian dalam persetubuhan itu. Sesaat pak Risman menghentikan pagutannya.
"Kalau mau saya entot ya dilepas dong bajunya" ucap pak Risman sambil tangannya sibuk melolosi pakaian bu Linda. 
Setelah semua pakaian bu Linda terlepas, kembali pak Risman menggumuli tubuh semok janda muda ini. Ia tampak gemas memainkan payudara besar bu Linda. Tubuh aduhai bu Linda yang didukung paras wajah sensualnya memang menjadi daya pikat bagi semua lelaki. Kini tampak bu Linda yang menikmati bagaimana tubuhnya dirangsang pak Risman sedemikian rupa.
"Bu..kontol saya udah gak tahan pengen nyoblos" bisik pak Risman sambil bibirnya mengulum telinga bu Linda. mendengar itu bu Linda lalu turun dari pangkuan pak Risman, ia lalu bersimpuh di depan pak Risman yang duduk mengangkang memperlihatkan batang kejantananya yang sudah tegak.
Tangan bu Linda lalu menggapai batang pak Risman yang telah berdiri tegak tersebut, ia mengocoknya perlahan seolah-olah sedang meresapi betapa kerasnya batang kemaluan pak Risman. Setelah beberapa detik ia lalu melumuri kemaluan pak Risman dengan ludahnya lalu mengulumnya.
Nampak sekali bu Linda sangat mahir dalam melakukan oral seks. Sesekali matanya beradu pandang dengan pak Risman yang nampak hanya bisa mengerang keenakan. Bu Indah yang saat itu hanya menonton mulai merasakan birahinya muncul kembali. Ia kemudian merebahkan dirinya di samping pak Risman dan meminta pak Risman memainkan vaginanya dengan jari-jari tangan gemuk kepala sekolah tersebut.  Setelah beberapa menit, pak Risman menyudahi kegiatan oral seks yang dilakukan bu Linda terhadap batang kejantanannya. Ia lalu menyuruh bu Linda menungging dengan wajah tepat di hadapan vagina bu Indah yang mengangkang. Mengerti dengan maksud pak Risman, bu Linda lalu menjulurkan lidahnya kearah rekahan vagina bu Indah. Ia dengan telaten menjilati vagina bu Indah yang kini mendesah penuh kenikmatan dengan tangan yang meremas-remas payudaranya sendiri. Di tengah-tengah asiknya bu Linda menjilati vagina bu Indah, ia tampak mengerang merasakan penetrasi batang besar pak Risman memasuki vaginanya.
"Aaaaaarrrggghhh...hmmm..." Erang bu Linda tertahan karena bu Indah kembali mendorong kepalanya tenggelam di vaginanya. 
Pak Risman sangat menikmati mengocok vagina bu Linda dari arah belakang. Apalagi ketika bu Linda menggoyangkan pinggulnya memutar, terasa batangnya seperti dipelintir oleh vagina lembut bu Linda. Namun goyangan pinggulnyapun tidak hanya memberikan kenikmatan kepada pak Risman, bu Linda pun merasa batang kejantanan berotot itu menyentuh semua bagian di dalam rongga vaginanya hingga ia orgasme. Pak Risman merasa batangnya semakin terjepit lubang vagina bu Linda. Cairan putih tampak melumuri batangnya yang keluar masuk di vagina guru tersebut. Beberapa saat kemudian giliran bu Indah yang mendapatkan orgasme. Tubuhnya menenggang, kepalanya terangkat dan dari vaginanya mengalir cairan putih kental yang dengan cekatan dijilati bu Linda.
Kemudian pak Risman mengganti gaya. Ia kini membalikan bu Linda terlentang di atas sofa, dengan kaki bu Linda yang ia angkat di bahunya, pak Risman kembali menggenjot vagina sempit bu Linda dengan tempo cepat.
"Ouh pa..en..nak..iyah en..naak.." terdengar kini bu Linda merengek-rengek.
Semakin cepat pak Risman menggenjot, maka semakin dekat pula orgasme yang menghampiri bu Linda. Maka dengan satu hentakan yang dalam dari batang pak Risman, vagina bu Linda pun memuncratkan cairan orgasmenya. Pak Risman yang juga sudah hampir mencapai orgasme segera mencabut batang kejantannanya, yang kini terlihat diperbutkan oleh bu Linda dan bu Indah.
"Crottt...crott...crot.." sperma menyembur mengenai wajah-wajah cantik kedua guru tersebut. 

#####################
Pagi hari yang cerah jam 06.30

Seorang laki-laki berbadan buncit usia 45 tahun masih terlelap di kamar tidurnya dengan tubuh telanjang ditutupi selimut hangat. Disampingya seorang perempuan berusia 37 tahun berparas cantik khas ibu-ibu masa kini dengan rambut pendek sebahu masih menggelayut manja memeluk tubuh suaminya. Sinar matahari yang mulai masuk menyilaukan mata laki-laki itu mengganggu tidur lelapnya. 
"Hoaaaammm...jam berapa ini" ucap laki-laki itu sambil menggeliatkan badannya dan tangan meraba-raba meja yang terletak di samping tempat tidurnya. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, laki-laki itu sontak kaget. 
"Hahhh...mah bangun...papah kesiangan" dengan setengah berteriak laki-laki itu beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.
15 Menit kemudian acara ritual mandi pagi laki-laki tersebut selesai. Ketika ia keluar dari pintu kamar mandi, nampak istrinya tengah menyisir rambut di depan meja rias dengan tubuh yang hanya dibalut kimono berwarna merah pendek menggantung di atas lutut, sehingga paha putih mulusnya terlihat dengan jelas menggoda laki-laki tersebut.
"Hmmm...Yunitha, tak salah memang aku mengawinimu" ucap laki-laki tersebut sambil memeluk wanita itu dari belakang dan tangan yang menyusup kedalam kimono wanita tersebut meremas nakal payudara berukuran sedang istrinya.
"Kalau bukan karena uangmu..aku gak bakalan mau kamu kawini Risman" pikir wanita itu. "Udah pahhh...katanya kesiangan" ucap wanita itu sambil menggeliat dengan suara mendesah melepaskan diri dari rabaan suaminya.
Yunitha Silviani, sebenarnya wanita itu adalah istri kedua pak Risman yang belum genap 3 tahun dinikahi. Perkawinan pertama pak Risman berakhir dengan perceraian, dikarenakan istri pertamanya tak kuat menghadapi sifat buruk suaminya yang hidung belang. Dari perkawinan pertamanya pak Risman dikaruniai dua orang anak laki yang hak asuh keduanya diambil mantan istrinya. Yunitha sendiri dulunya adalah seorang penyanyi cafe yang selama 8 tahun menjadi simpanan pak Risman, sebelum akhirnya dinikahi oleh kepala sekolah mesum tersebut. Selesai mematut dirinya pak Risman keluar dari kamarnya, diiringi istri cantiknya yang menggelayut manja di lengan kirinya. 
"Selamat pagi juragan...sarapannya udah si mbok siapin di meja makan gan" ucap wanita setengah baya sambil membungkuk kepada pak Risman dan istrinya. 
"Hari ini saya gak sarapan mbok..udah kesiangan ni" jawab pak Risman sambil mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam tangannya. 
"O iya mbok, kalau mau ke pasar sekarang aja ikut sama bapak...kan searah...gak apa-apa kan pah" timpal Yunitha kepada pembantunya yang dilanjutkan dengan pertanyaan kepada suaminya. 
"Iya..boleh-boleh...ayo mbok..udah siap kan" jawab pak Risman yang ditanggapi dengan anggukan pembantunya.
"Met pagi gan...mobilnya udah siap" suara laki-laki hitam berbadan tegap usia tiga puluhan di teras rumah besar milik pak Risman. 
"O iya mang Udin makasih ya...ini buat rokok mang" jawab pak Risman sambil memberikan selembar uang kepada tukang kebun sekaligus supir istrinya itu. "Mah..papah berangkat ya.." ucap pak Risman berpamitan kepada istrinya, sambil tak lupa mencium pipi kanan dan kiri istri cantiknya. 
Sementara itu mang Udin yang ada di depan suami-istri tersebut nampak beberapa kali menelan ludahnya melihat kesintalan tubuh istri majikannya. Bagaimana tidak, Yunitha yang mengantar keberangkatan suaminya tersebut masih mengenakan kimono merah sexynya. Pahanya yang putih mulus terlihat menggoda, apalagi ikatan tali kimono dipinggangnya yang tidak kencang memperlihatkan belahan dadanya yang tidak memakai BH. Baru saja mang Udin menutup pintu gerbang selepas kepergian pak Risman, dari teras rumah tersebut terdengar suara yang memanggilnya. 
"Mang...di rumah sekarang kosong...saya tunggu di kamar yah..." ucap Yunitha dengan desahan manja. "Ingat...mamang mesti telanjang" lanjut Yunitha sambil mengacungkan jari telunjuknya menggoda tukang kebun sekaligus supir pribadinya, yang kemudian berlalu memasuki rumahnya.
Mang Udin yang mendapat undangan dari nyonya rumahnya sangat senang bukan main. Dengan terburu-buru ia mengunci gerbang rumah tersebut. 
"Nyah...aku datang..haha.." ucap mang Udin sambil setengah berlari mengejar sang majikan.

###########################
Sementara itu, pukul 07.20 

Pak Risman tiba di sekolah. Hari itu hari senin dimana pada waktu itu upacara bendera yang rutin dilaksanakan pada hari senin masih berlangsung. Pak Risman lalu bergabung dengan barisan guru-guru dan staff yang sedang mengikuti upacara tersebut. Hampir semua guru dan staff menyapanya, tak terkecuali dengan para guru-guru muda cantik yang telah berhasil ditaklukannya. Bu Ernita, Bu Astri dan Bu Linda terdengar genit menyapanya.
"Bentar-bentar...bu Indah mana" pikir pak Risman setelah mengamati guru dan staff di sekolahnya satu-persatu.
Hari itu pak Janudi sebagai wakil kepala sekolah menggantikan pak Risman yang terlambat datang sebagai pembina upacara. Ia berceramah tentang moral bangsa yang kian hari kian hancur di depan ratusan siswa-siswi sekolah tersebut.
"Ahhh...munafik kau ini Janudi...pake ngomongin moral...kalau udah ngerasain memek guru-guru disini pasti lu ketagihan" cibir pak Risman dalam hatinya, mendengar ceramah pak Janudi yang secara tak langsung seperti menyindir kelakuannya.
Sementara ketika upacara tengah berlangsung, di ruang penjaga sekolah atau lebih tepatnya disebut gudang di sekolah itu tengah terjadi pertarungan birahi. Terlihat satu orang guru cantik melawan dua murid laki-laki dan satu orang laki-laki paruh baya. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan bu Indah yang tadi tampak tidak mengikuti upacara. Sementara dua orang murid laki-laki itu tak lain adalah Rizal dan Reska, dimana beberapa hari yang lalu ikut memperkosa bu Indah bersama teman-temannya. Sedangkan laki-laki paruh baya itu adalah mang Yono, yang hari itu sangat beruntung diizinkan mencicipi tubuh satu orang lagi guru hasil penaklukan pak Risman. Saat itu bu Indah sedang duduk mengangkang diatas kursi yang tak terpakai di gudang sekolah tersebut. Celana dan celana dalamnya telah terlepas memperlihatkan vaginanya yang sedikit berbulu, merekah dan menggiurkan yang kini tengah dijilati mang Yono sambil berjongkok di depannya. Mulut merah bu Indah tengah mengemut batang kemaluan Reska di samping kanan tubuhnya, sementara tangan kirinya tengah mengocok lembut batang kemaluan besar berotot milik Rizal. Baju seragam mengajar bu Indah telah terbuka semua kancingnya, begitu pula dengan cup BH-nya yang kini terangkat ke atas, memperlihatkan payudaranya yang bulat yang kini tengah diremas kedua muridnya. Lenguhan tertahan bu Indah serta bunyi kecipak dari lumatan mang Yono di vagina guru itu menandakan birahinya yang semakin tinggi. Kini mulut bu Indah beralih ke batang kemaluan milik Rizal, ia sangat mengagumi batang muridnya tersebut, dimana beberapa hari yang lalu batang kemaluan Rizal lah yang akhirnya membuat bu Indah menyerah dan takluk pada kenikmatan.
"Mmmhhh...ayo jagoan...ibu pengen dientot lagi" ucap bu Indah disela-sela kesibukannya memanjakan batang kemaluan muridnya. 
"I..iyaah bu...gak percuma...sayyah..bolos" jawab Rizal terpatah-patah sambil mengelus kepala gurunya yang berparas cantik tersebut.
Selang beberapa menit mang Yono menyudahi kegiatannya menikmati cairan birahi yang keluar dari vagina bu Indah. Ia mencari beberapa lembar kardus bekas, lalu menggelarnya di lantai gudang tersebut. Kemudian ia sendiri membuka celana berikut celana dalam dekilnya dan rebahan di atas kardus-kardus yang barusan ia gelar. 

"Ayo bu Indah sini...Lihat ni kontol mamang udah ngaceng pengen nusuk memek ibu" ucap mang Yono memanggil bu Indah sambil menunjukan batang kemaluannya yang hitam, panjang dan besar, dihiasi urat-urat yang melingkar disisi-sisinya.
Bu Indah yang mendengar ajakan mang Yono segera bangkit. Ia membuka baju seragam dan juga pakaian dalamnya yang menjadi kain penutup terakhir di tubuhnya. Lalu guru cantik itu menghampiri mang Yono diikuti kedua murid-muridnya. Lalu bu Indah mengakangi tubuh mang Yono, dengan kedua tangannya sendiri ia menyibakan vaginanya, memperlihatkan lubang merah sempit yang basah di hadapan mang Yono yang kini terlihat mengurut-ngurut batang  kejantannannya yang semakin membengkak. 
"Mamanghhh...mau memek saya mang...ssshhh" ucap bu Indah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya menggoda si penjaga sekolah, yang kini hanya bisa mengangguk sambil menenggak air liurnya sendiri seperti orang idiot.
Rizal yang tak sabar langsung menekan bahu gurunya tersebut untuk segera memasukan batang kemaluan mang Yono ke dalam vaginanya. Anehnya bu Indah tak marah diperlakukan seperti budak yang harus menuruti perintah tuannya oleh muridnya sendiri. Sebelum menusukan batang kemaluan besar mang Yono, bu Indah tampak beberapa kali meludahi telapak tangannya. Lalu air ludahnya itu ia balurkan ke seluruh batang kemaluan mang Yono. Setelah itu ia genggam batang kemaluan mang Yono dan membimbingnya masuk ke dalam vaginanya. 
"Ahhh..ssshhh...besssar.." desah bu Indah menikmati penetrasi kemaluan mang Yono yang menembus memasuki vaginanya.
Rizal dan Reska tak tinggal diam. Mereka berdua langsung menyodorkan kemaluan masing-masing di depan wajah penuh birahi gurunya. 
"Ayo bu...perlihatkan sepongan hebatnya" ucap Reska sambil menjambak rambut bu Indah dan mendorongnya mendekati selangkangannya.
Bu Indah yang diperlakukan kurang ajar oleh muridnya itu malah tersenyum. Sambil menatap binal, ia menjulurkan lidahnya yang basah menyapu batang kemaluan Reska dari biji pelir sampai ke ujung kepalanya, yang walaupun tidak besar tetapi sangat panjang dan keras seperti kayu.
"Reska...tempat kontolmu di lubang pantat ibuh...hhh...ayo nak...tusuk pantat ibu...ssshhh" desah binal dan genit bu Indah meminta kepada muridnya melakukan anal seks terhadapnya.
Reska akhirnya menuruti apa yang dikehendaki gurunya tersebut. Dengan sedikit bantuan dari cairan vagina bu Indah yang kini tengah menggenjot batang kemaluan mang Yono, ia melumasi lubang pantat gurunya dan menusukan batang kerasnya. Kini bu Indah benar-benar seperti wanita murahan. Vaginanya menggenjot batang besar mang Yono ketika anusnya disodok dengan ganas oleh Reska muridnya. Mulut bu Indah pun tidak bebas untuk mengerang karena Rizal menugaskan gurunya tersebut untuk menservice batangnya.
"Ohhh...mantaps..goyangannyahhh..gak kalah sama perek" ucap mang Yono berkomentar ketika bu Indah menggoyang batang kemaluannya. 
"Ahhh...ini kan guru yang sampinganyah jadi perek mangh..oh" Reska pun menimpali ucapan mang Yono. 
Sementara Rizal hanya dapat melenguh-lenguh sambil menjambak rambut gurunya, menikmati kuluman dan sedotan bibir merah bu Indah di batang kemaluan besarnya.

Mendengarkan celoteh mang Yono dan Reska muridnya, bu Indah malah semakin bersemangat memberikan pelayannan seks kepada ketiga pejantannya. Pikirannya menerawang, membayangkan dirinya berdandan menor ala wanita-wanita penghibur dan menjajakan dirinya di pinggir jalan menggoda para lelaki hidung belang.  Rupanya bayangan nakal bu Indah mampu menyeretnya kedalam orgasme yang dahsyat. Tubuhnya menegang berkelojotan, dari vaginanya memuntahkan cairan putih kental yang melumuri batang kejantanan mang Yono. Sejenak ia melepaskan kulumannya terhadap batang kemaluan Rizal untuk mengekspresikan pencapaiannya ketika mendapatkan orgasme. 
"Sssshhh...Oughhh..yeaaahhh...nikkkmaaattt..aa hh".
Orgasme bu Indah ternyata ikut menyeret Reska yang masih belum banyak pengalaman mendapatkan klimaksnya. Ia tak mampu bertahan ketika bu Indah mengejang, otot lubang anusnya seakan-akan menggigit lembut batang kemaluan Reska yang ikut memuncratkan cairan spermanya di dalam anus bu Indah. Reska mencabut batang kemaluannya perlahan dari lubang anus bu Indah. Ia lalu duduk mengistirahatkan dirinya di atas kursi yang tadi diduduki bu Indah. 
"Gile men...pantatnya asoy guru kita ini" ucap Reska sambil terengah-engah mengomentari kenikmatan yang dia dapat dari lubang pantat bu Indah.
"Beneran men?..kalau gitu gua juga pengen nyicip.." Ungkap Rizal sambil beranjak ke arah pantat bulat bu Indah.
Bu Indah yang merasakan kembali anusnya disodok melenguh. Kali ini batang yang menusuk anusnya lebih besar dan berotot. 
"Pelan-pelan nak...kasihani gurumu ini" ucap bu Indah memohon sambil menengokan kepalanya ke arah Rizal yang kini tengah serius menyodok-nyodokan batang kemaluan besar di anus gurunya. 
Namun Rizal tak perduli, Ia malah dengan ganas menggenjot pantat bu Indah. 
"Amppppun...Ampunh nakh..ohhhh...panas" bu Indah mengerang meminta ampun karena bibir lubang anusnya terasa panas merasakan gesekan kencang batang kemaluan Rizal muridnya. 
Namun di balik kesakitan yang dirasakan bu Indah, ternyata diam-diam ia menikmati perlakuan kasar para pejantannya. 
"Ough...inikah yang dirasakan para pelacur,sakit tapi puas" itulah yang ada dipikiran bu Indah, ketika Rizal dan mang Yono menggenjot lubang-lubangnya dengan brutal. Hingga orgasme menimpanya, Rizal dan mang Yono tak berhenti menikmati tubuh sintal guru cantik itu.
"Praaang...brsssssk.." terdengar suara benda terjatuh yang mengagetkan keempat orang di dalam gudang tersebut, dan sontak mereka menghentikan kegiatannya. Reska segera mencari tahu ke arah suara itu. Beberapa menit kemudian ia datang menyeret seorang gadis yang meronta, masih berseragam lengkap dengan tas gendongnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Reska yang menyeretnya.
"Tifany..." Bibir bu Indah mengucap satu nama dengan kaget, Ia berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kedua tangannya.

Rupanya anak perempuan itu bernama Tifany, murid kelas dua di sekolah itu. Ia bermaksud bersembunyi di gudang sekolah menunggu upacara selesai karena ia kesiangan. Tak disangka ia malah memergoki gurunya tengah berbuat mesum dengan kedua murid dan penjaga sekolah di gudang tersebut. Karena kaget ia lantas menyenggol kaleng-kaleng bekas cat, sehingga keberadaannya diketahui dan Reska menangkapnya.
"Ma..maaf bu saya gak maksud ngintip" ucap Tifany panik dihadapan gurunya. "Wah bisa-bisa ni anak ember ngomong kemana-mana" Rizal angkat bicara. "Ngga...engga...saya gak bakal ngomong ke siapa-siapa..lepasin saya" kembali anak gadis itu panik.
Bu Indah yang masih telanjang akhirnya tersenyum karena mendapat ide dikepalanya. Dengan langkah gemulai ia mendekati Tifany yang dengan erat dipegangi Reska.
"Kamu janji gak bakalan ngomong sama siapa-siapa?" Tanya bu Indah dihadapan gadis itu, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Tifany yang kaget melihat gurunya mendekati dalam keadaan telanjang.
"Tapi sayangnya ibu gak percaya nak...ibu perlu jaminan" kembali bu Indah berucap kepada gadis itu sambil jari-jari tangannya membelai pipi gadis itu.
Lalu tanpa disangka-sangka tangan kiri bu Indah menyelusup dari bawah rok abu-abu di atas lutut gadis itu. Jari-jari lentiknya membelai lembut vagina sang gadis. Sambil terisak gadis itu memohon "TIIIDAAAKKK..." 
Jerit dan tangisan tertahan terdengar di dalam gudang sekolah. Seorang gadis remaja usia 17 tahun yang pakaian seragamnya telah dilucuti tak bisa mempertahankan kehormatannya. Gadis itu bernama Tifany, murid kelas 2 SMA yang memiliki wajah cantik dengan ditunjang postur tubuh ideal khas remaja SMA. Kini tubuhnya tengah duduk mengangkang di atas kursi di dalam sebuah gudang. Di kanan dan kirinya berdiri dua orang laki-laki dengan celana yang sudah ditanggalkan memegangi kedua tangan dan menahan tubuhnya yang telanjang. Di depannya, seorang laki-laki paruh baya tengah asik menjilati harumnya vagina gadis itu. Sementara itu, seorang guru cantik tengah berdiri dengan tubuh telanjang, tangannya memegang handphone yang ia gunakan untuk merekam kegiatan yang tengah terjadi didepan matanya. Tubuh Tifany sudah menyerah untuk melawan. Ia hanya bisa menangis dan mengerang tertahan karena mulutnya telah disumpal oleh celana dalamnya sendiri.
"Hmmm...hmmm..." Tifany bergumam ketika merasakan lidah mang Yono tengah mengorek liang sempit vaginanya. 
"Menyerah saja sayang...nikmati..ini enak ko.." Ucap bu Indah, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala yang lemah dari Tifany, seolah-olah memohon belas kasihan dari gurunya itu. 
"Iya fan..lu mending nikmatin...tuh bu Indah aja jadi doyan" timpal Rizal menimpali ucapan gurunya.

Kini tubuh Tifany direbahkan di atas kardus bekas, tempat dimana sebelumnya bu Indah digauli tiga laki-laki yang kini mengerubuti gadis itu. Tangan kanan dan kirinya kembali mencoba untuk meronta. Akan tetapi tenaganya bukanlah tandingan Rizal dan Reska yang kini tengah memegangi tangan kanan dan kirinya. Di bawahnya mang Yono mengangkangkan kedua paha gadis tersebut dengan batang kemaluan yang sudah menempel di belahan vaginanya yang putih dan bersih dari bulu. Beberapa kali penetrasi mang Yono meleset karena rontaan gadis itu, hingga bu Indah yang masih tetap merekam kejadian itu membantu mengarahkan batang kemaluannya. Dengan perlahan batang besar mang Yono memasuki lubang sempit vagina Tifany. 
"Hkkkkkk..." tiba-tiba Tifany mengernyitkan dahinya, matanya yang bulat terlihat menyipit. Dari bibirnya yang tersumpal celana dalamnya sendiri terdengar rengekan seperti tengah merasakan kesakitan.
Bu Indah mengabadikan momen tersebut dengan handphonenya, dimana batang kemaluan mang Yono telah tertelan semuanya oleh vagina Tifany. Mang Yono sangat menikmati jepitan vagina yang diperawaninya. 
"Ahhh...mantap bener ni memek si neng.." Ungkap mang Yono sambil dengan perlahan mengeluarkan batang kemaluannya, terlihat darah segar yang melumuri batang kemaluan mang Yono. 
"Ini sudah terlanjur sayang...nikmati saja...jangan coba-coba melapor..ibu punya rekamannya.." Ucap bu Indah sambil membelai-belai rambut panjang gadis tersebut.
Mendengar ucapan gurunya itu Tifany semakin terisak. Ia tidak percaya jika gurunya sendiri menjerumuskan dirinya. Keperawannan yang ia jaga telah direnggut dengan paksa. Andai saja hari itu dirinya tidak kesiangan untuk berangkat ke sekolah, pasti kejadian ini bisa dihindari. Pikiran Tifany mulai buyar ketika dengan perlahan mang Yono mulai menggoyang dan memaju mundurkan batang kemaluan besarnya. Semakin lama semakin meningkat tempo genjotan mang Yono. Tifany semakin gelisah, apalagi kini tangan kedua temannya menjamah payudaranya yang bulat dan sedang secara berebutan. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menahan rasa sakit di lubang vaginanya. Lama-kelamaan kesakitan yang dirasakan Tifany mulai sirna digantikan rasa nikmat yang baru kali ini ia rasakan. 
"Ouh...kenapa jadi gini...ko jadi enak banget" pikir Tifany ketika merasakan vaginanya berkedut. 
Tubuhnya melengkung ke atas membusungkan dadanya, dari mulutnya terdengar erangan panik ketika gadis itu tanpa disangka mendapatkan orgasme pertama dalam hidupnya yang ia dapatkan dari pemerkosanya. Gelak tawa terdengar dari ketiga laki-laki diruangan itu, karena melihat gadis yang mereka perkosa mendapatkan orgasme yang hebat. Bu Indah menghampiri gadis itu yang kini matanya tengah terpejam menikmati apa yang baru saja ia rasakan. Lalu bu Indah melepas celana dalam yang menyumpal mulut gadis tersebut, dengan penuh kasih ia membelai rambut gadis itu yang kini tidak lagi meronta. Sementara itu, Rizal mulai beralih menjamah payudara telanjang bu Indah yang berada dekat dengannya. Bu Indah hanya memandang penuh birahi kepada muridnya tersebut sambil mengeluarkan lidahnya menjilati bibirnya sendiri menggoda Rizal.

"gimana sayang..enak kan" tanya bu Indah kepada Tifany sambil membelai rambut panjang muridnya tersebut, yang mulai kembali mendesah merasakan vaginanya kembali digenjot mang Yono. 
Gadis itu hanya mengangguk menanggapi pertanyaan gurunya tersebut. Kini Tifany terlihat pasrah menerima tubuhnya digumuli ketiga pemerkosanya. Malah kini ia tidak menolak ketika Reska menyuruhnya untuk mengulum batang kemaluan panjang miliknya. Sementara, di samping gadis tersebut bu Indah juga tengah menjilati batang kemaluan Rizal sambil menungging mengarahkan bokongnya di hadapan mang Yono. Mang Yono yang melihat pantat bulat bu Indah dihadapannya tak kuasa untuk tidak menjamahnya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan mengocok vagina guru cantik tersebut dengan dua jarinya. Kini yang terlihat di ruangan tersebut bukanlah adegan pemerkosaan, akan tetapi yang kini terlihat adalah pergumulan tiga orang laki-laki dengan dua orang perempuan cantik beda usia yang terlihat menikmati perlakuan para pejantannya. Tifany kini terlihat bergairah menggoyangkan pinggulnya diatas tubuh Reska yang tengah duduk di atas kursi. Gadis itu nampak sudah melupakan kejadian pemerkosaan terhadap dirinya. Kini ia tengah bergoyang di atas tubuh Reska, rambutnya yang panjang terlihat acak-acakan. Kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri yang dipenuhi bekas-bekas cupangan ketiga laki-laki di ruangan tersebut. Sementara itu bu Indah tengah disandwich oleh Rizal dan mang Yono. Ketiganya nampak hanyut dalam kenikmatan birahi dan berlomba-lomba untuk mencapai kepuasan.
"Adduh..ahh..bu Indah...lobang bo'olnya kenceng jepit kontol mamangh.." Ucap mang Yono terengah, yang kala itu tengah menggenjot kencang pantat bu Indah. 
"Iyya..mang..ni memeknyah juga sama..oh" Rizal menimpali ucapan mang Yono. 
"Ahhh...konthol...kalian..nyah gede..gede..hmmm" jawab bu Indah menanggapi komentar orang-orang yang tengah menikmati tubuhnya. 
Entah berapa kali bu Indah dan Tifany mendapatkan orgasme dari persetubuhan itu. Hingga pada akhirnya tubuh mereka berdua berpelukan lemas diatas kardus bekas, Setelah sebelumnya ketiga laki-laki tersebut secara bersamaan memandikan bu Indah dan Tifany dengan sperma yang mereka tumpahkan sembarangan di wajah keduanya. Setelah merapihkan diri dan memperbaiki make up-nya, bu Indah keluar dari gudang tersebut bersamaan dengan bubarnya para murid di sekolah itu karena upacara telah usai. Tifany berjalan agak tertatih karena rasa nyeri dari selangkangannya yang baru saja diperawani. Di persimpangan jalan menuju kantor guru mereka berpisah. Tifany berjalan tanpa pamit pada bu Indah menuju kelasnya. Hari masih pagi ketika Tifany menyadari dirinya sudah tidak perawan lagi. Ketika tengah berjalan, langkah gadis itu terhenti. Tanpa menoleh ia mendengar suara orang yang memanggilnya. 
"Tifany...maafkan ibu..." 

######################
Tanpa terasa jam pelajaran terakhir sudah dilewati. 
"Huft...akhirnya selesai juga" pikir perempuan cantik berpakaian seragam khas pengajar. 
Ia kini tengah berjalan menuju ruang guru, ketika langkahnya terhenti karena dikagetkan oleh seseorang yang mencolek pantat bahenolnya. 
"Kurang ajar...ini kan tempat umum" pikirnya. Perempuan itu lalu menoleh ke arah sosok yang telah kurang ajar terhadapnya.
"met siang bu Astri" sapa orang yang mencolek pantat bu Astri tadi, sambil cengar-cengir memuakan. 
"Ih mang Yono...kalau ada yang lihat gimana...jangan gitu ah mang" jawab bu Astri kepada orang yang telah berani mencolek pantat bahenol kebanggaannya. 
"Hehe...iya bu maaf...abisnya ibu nggemesin...bikin saya gak bisa nahan" kembali mang Yono berucap dengan masih bergaya cungar-cengir yang sama sekali tidak bisa menambah ganteng wajahnya. 
"Huuuu...gombal...bilang aja kalau kontol mamang mau minta jatah memek ke saya" jawab bu Astri tanpa tendeng aling-aling.
Mang Yono yang mendengar jawaban bu Astri senang bukan main, ternyata kenikmatan dari batang kejantanan laki-laki telah mampu merubah kepribadian seorang guru yang dikenal alim ini. "Hmmm...dasar pelacur doyan banget sama kontol" pikir mang Yono sambil menatap lekat tubuh sintal bu Astri.
"Jadi mau dimana mamang ngentotin saya...saya gak punya banyak waktu nih mang" ucap bu Astri sambil melihat jam tangannya yang sontak mengagetkan mang Yono.
Mang Yono lalu mengajak bu Astri ke bagian paling belakang dari sekolah itu. Rupanya si penjaga sekolah tersebut berniat mengambil jatahnya dari bu Astri hari itu di ruang kepramukaan yang tempo hari digunakan empat orang murid-murid bengal untuk menaklukan bu Indah. Sesampainya di ruangan itu mereka malah dikagetkan oleh suara-suara lenguhan dari dalam ruangan tersebut. "Wadduh...udah ada yang ngeduluin kita bu" ucap mang Yono setengah berbisik kepada bu Astri, sambil tangannya menggandeng tangan bu Astri mengajak untuk mengintip kegiatan di dalam ruangan tersebut.
"Bu Linda..." Bisik bu Astri ketika mengetahui orang yang tengah berada di dalam ruangan itu. Nampak di depan mata bu Astri, saat itu bu Linda tengah menikmati batang kemaluan seorang laki-laki yang menyodok vaginanya dari belakang. Dengan posisi tangan bertumpu pada tembok bu Linda menggoyangkan pantatnya menerima sodokan batang besar milik seorang laki-laki. 
"Ouuugh...terus pak Arif...yahhh" racau bu Linda.
Ternyata laki-laki yang tengah menggenjot bu Linda itu adalah pak Arif, seorang guru mata pelajaran olahraga yang memang menurut gosip yang beredar, dirinya mempunyai hubungan khusus dengan bu Linda. Batang kemaluan pak Arif yang menyodok-nyodok vagina bu Linda tidak bisa tidak akhirnya menimbulkan birahi bu Astri. 
"Hmmm...mang udah yu ikutan aja...memek saya udah gatel" ajak bu Astri kepada mang Yono, karena tak kuat menahan birahinya sambil menarik tangan mang Yono. 
"Pak Arif, bu Linda...kita ikut numpang yah.." ucap bu Astri ketika memasuki ruangan itu, membuat pasangan yang tengah berasyik masyuk itu tampak kaget. Setelah tahu orang yang masuk adalah bu Astri dan mang Yono, nampak sekali perasaan lega di wajah bu Linda. Tetapi hal itu berbeda dengan pak Arif, ia masih kaget melihat rekan kerjanya sesama pengajar itu berpagutan liar dengan seorang penjaga sekolah. Malah kini nampak bu Astri dengan sukarela mengulum dan memanjakan batang kemaluan mang Yono.
"Ohhh...gila...sejak kapan bu Astri jadi liar gitu...beruntung sekali mang Yono..." pikir pak Arif ketika matanya bertemu pandang dengan bu Astri yang kini tengah asik menikmati batng kemaluan mang Yono dengan bibir ranumnya. 
"Udah pak...sekarang puasin saya dulu...nanti pak Arif boleh ngentotin bu Astri" ucap bu Linda membuyarkan lamunan pak Arif. 
Dengan perasaan iri terhadap mang Yono, pak Arif kembali menggenjot vagina bu Linda. Lenguhan-lenguhan bu Linda pun terdengar kembali di ruangan itu. Sedangkan di samping mereka kini terlihat bu Astri yang sudah bertelanjang bulat tengah mengangkang, vaginanya yang segar tengah dijilati mang Yono.
"Auuuh...iyah...ennakh mang.." racau bu Astri tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan lidah mang Yono yang mengorek dalam liang vaginanya. 
"Haaai pakh Arifh...kalau buh Linda..udah puashhh...tolong entotin Astri jugah ya pakhhh.." pinta bu Astri menggoda ketika matanya bertemu dengan tatapan pak Arif. 
Sedangkan pak Arif yang mendengar permintaan bu Astri itu langsung meningkatkan tempo genjotannya terhadap bu Linda, yang tentu saja membuat bu Linda semakin melenguh-lenguh nikmat. Keempatnya menghabiskan jam usai sekolah dalam birahi liar di ruangan itu selama sejam lebih hingga akhirnya mereka pulang dengan rasa puas.

To be continued...
By: Lagimabok


Admin Mesum - 00.38
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved