;

Rabu, 29 Mei 2013

ABG Tetangga

Rabu, 29 Mei 2013

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku
tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak
kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan
anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan
mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya.
Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno
seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu
menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada
video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah,
belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat
kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang
belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku
terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku
uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta
jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan
membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan
ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong
sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil
menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai
menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di
ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di
sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di
situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang.
Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya
membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja
bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku.
Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak
tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny
yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku,
"inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih
kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting
birahimu terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok
membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan
CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap
tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang
bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha
memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari
lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun
aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-
jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap
menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih
dibalut celana warna hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.
Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas.
Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil,
berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya
juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya.
Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih
perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang
keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta
dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang
mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan
mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik.
Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32.
Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan
kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua
kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah
tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih
perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-
main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah
tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai
Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang
masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak
ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya.
Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan
kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher
penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang
berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya.
Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi.
Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat
ada sepercik darah membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan.
Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di
atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras.
Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme.
Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit
lengan atau pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk
kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku
muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi
perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya
yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil
dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa
meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi
menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG
tetangga.
TAMAT

Anda sedang membaca artikel tentang ABG Tetangga dan anda bisa menemukan artikel ABG Tetangga ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/abg-tetangga_29.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel ABG Tetangga ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link ABG Tetangga sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 03.54
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved