;

Rabu, 29 Mei 2013

Gairah Tetanggaku 05

Rabu, 29 Mei 2013

"Tok tok tok.." ada yang mengetuk pintu samping. Kemudian aku ke situ, Tante Ida
pikirku. Waktu itu aku tidak jadi senang mikir sebenarnya karena aku sendirian bisa
main lagi sama Tante Ida di rumahku. Kubuka pintu, ternyata Mbak Icih membawa
nampan dan katanya, "Mas To, ini dari Tante Ida, beliau ada tamu luar kota mesti
ditemenin ke stasiun jemput saudara, katanya gitu dan ini disuruh makan dan
Mbak disuruh nemenin Mas To sampai selesai makan. Bu Etty dan anak-anak juga
ikut semua." Aku bengong dan kupandang Mbak Icih biasa-biasa saja. Aku ambil
nampan dan kukatakan,
"Tidak usah ditemenin deh Mbak, aku bisa."
"Ah jangan Mas To entar saya dimarahin, lagian di rumah tidak ada orang, saya
rada takut sendirian."
"Lho sudah dikunci belum rumahnya," tanyaku.
"Sudah Mas."
"Iya sudah masuk deh Mbak!"
Aku makan dan Mbak Icih duduk di dingklik nonton TV, biasa sinetron "blo'on"
Indonesia. Tiba-tiba Mbak Icih cekikan pelan, aku lihat di TV pas ada iklan,
Srimulat rupanya. Aku masih mikir soal ketangkap tadi. Akhirnya aku ngomong to
the point .
"Mbak Icih jangan cerita siapa-siapa ya soal tadi di kamar Bu Etty."
"Oh itu tidak apa-apa kok Mas To, di rumah situ mah bebas saja. Hanya saya ya
kaget saja karena tadi saya kira tidak ada orang."
"Maksud Mbak gimana, bingung aku."
"Oh gini loh Mas To. Kalau laki perempuan kan lumrah suka gituan."
Aku jadi tambah bengong saja, ini orang ngomong apa sih.
"Mbak Icih kan sudah pernah kawin.." lanjutnya sambil senyum-senyum.
Dan di dingklik itu ia duduk sambil cerita sedikit sembarangan, sehingga sarungnya
tersingkap di tengah. Aku menangkap pemandangan itu kelihatan betisnya, eh.. ini
orang mulus juga. Biasanya orang dari desa suka kurang terawat, aku sekarang
jadi melihat secara sadar, wah ini orang boleh juga.
Aku tidak jelas umurnya berapa, tapi orangnya rapi dan feminin. Buah dadanya
kulihat naik-turun di balik kaos lusuh pemberian majikannya, barangkali kira-kira
separuh Bu Etty dan Tante Ida deh. Si "Ujang" di balik celanaku terasa mulai
bergerak-gerak lagi. Waktu itu sudah jam 07.00-an rasanya. Selesai makan aku
sikat gigi di kamar mandi dan kudengar Mbak Icih beres-beres dan cuci piring.
Keluar dari situ, kulihat Mbak Icih masih nyuci dan kupandang dari belakang. Mak..
pantatnya molek di balik ketatnya sarungnya itu tampak jelas. Aku berdiri di
sampingnya dan kami saling memandang dan seperti ada kontak hati saja.
Suasananya terasa seperti ada listriknya antara kami, dan aku ulurkan tanganku
meraba pantatnya dan naik ke pinggangnya. Kupeluk dari belakang dan
kumasukkan tanganku ke depan di bawah kaosnya, terasa BH-nya yang kasar
menutup buah dadanya. Aku remas-remas dari luar BH-nya, dan terasa pantat
Mbak Icih mundur merapat ke penisku bergeser-geser. Kucium kuduknya dan ia
menggelinjang.
"Entar dulu Mas To, piringnya pecah entar," ujarnya perlahan.
"Taruh saja dulu," jawabku.
Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak tanganku, kedua puting
susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak Icih lemas dan bersandar
ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang keras dan menusuk dari
dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan tanganku dan kulepaskan sarungnya dan
jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal celana dalamnya dari kain bekas terigu itu.
Tangan kananku masuk dan telapak tanganku menangkup di atas vaginanya,
tangan kiriku masih meremas-remas buah dadanya. Celana dalamnya longgar dan
kudorong ke bawah sampai ke lututnya dan kutarik dengan jari kakiku sampai
turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak Icih juga diulur ke belakang dan
mencengkeram batang yang membara sambil ia mendesah kegelian. Kulihat lengan
atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya dia. Aku turunkan celanaku dan
kemudian kuangkat pahanya sebelah dan kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir
bak itu.."
Jadi sekarang vaginanya pas terbuka di depan penisku yang sudah mengacung ke
atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas masukin!" Aku hanya maju-
mundur mengarukkan penisku di sekitar pantatnya dan lubang vaginanya.
Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih berusaha
menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah kencang
desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya dari depan sambil
berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo dong..
masukin..!" keluhnya. Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak
tanganku kedua puting susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak
Icih lemas dan bersandar ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang
dengan keras dan menusuk dari dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan
tanganku dan kulepaskan sarungnya dan jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal
celana dalamnya dari kain bekas terigu itu. Tangan kananku masuk dan telapak
tanganku menangkup di atas vaginanya tangan kiriku masih meremas-remas buah
dadanya. Celana dalamnya longgar dan kudorong ke bawah sampai ke lututnya
dan kutarik dengan jari kakiku sampai turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak
Icih juga diulur ke belakang dan mencengkeram batang yang membara sambil ia
mendesah kegelian, kulihat lengan atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya
dia. Aku turunkan celana dalamku dan kemudian kuangkat pahanya sebelah dan
kubisikkan, "Mbak taruh di atas pinggir bak itu." Jadi sekarang vaginanya pas
terbuka di depan penisku yang sudah ngacung ke atas.
"Ini cara apa Mas To," keluhnya, "Masukin dong Mas, masukin!" Aku hanya maju-
mundur menggarukkan penisku di sekitar pantatnya dan nyundul-nyundul lubang
vaginanya. Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih
berusaha menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah
kencang desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya di depan
sambil berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. "Mass.. Mass.. Ayo
dong.. masukin.." Keluhnya mendesah-desah basah suaranya, menambah seru dan
panas. Aku lepas t-shirt-ku dan kaos Mbak Icih, BH hitamnya yang sudah
tersingkap kurengut dan telanjang bulatlah kami.
Aku terus sengaja hanya menciumi dan menggigiti telinganya, dan tiap kali
merinding bulu tengkuknya, kelihatan pori-pori lengannya meremang dan ia
menggelinjang geli. Penisku tergosok-gosok celah di antara bukit pantatnya tiap ia
menggelinjang. Kupeluk terus dari belakang dan pahanya masih tetap di atas bak
yang sebelah. Penis kugaruk-garukkan ke tepian lubangnya dan banjir cairan kental
dari lubangnya tambah banyak, berkilap-kilap mengalir di sepanjang paha yang
satu. Ia mencoba lagi menggapai penisku tapi aku mundur dan tetap kupelintir
klitorisnya dan kugosok-gosok lembar dalam bibir vaginanya dengan ujung kuku.
Mbak Icih tambah panik dan keluhannya seperti orang yang sudah mau menangis
kepingin sekali. "Ahh Mas To, ayo dong masukinn Mass.. Mbak tidak kuat lagii.."
kepalanya digoyang-goyangnya ke kanan ke kiri (katanya, orang ekstasi juga gitu
ya).
P.S: Aku memang lagi iseng ingin eksperimen setelah dicakar, dicekik kepala
penisku sama Bu Etty pertama kali, pas aku mau muncrat itu.. memang loh bener
lebih enak, gayanya kalau tidak langsung digebrusin muncrat, dan kalau high
dengan narkoba gitu ya. Amit-amit, aku tidak pernah mencoba sekali juga (habis
menurutku goblok tuh yang main narkoba dan obat batuk hitam, apa urusannya, ya
aku yang ngetik).
"Iya.." Mbak Icih membisikkanku dekat sekali telinganya dan mengembus ke
lubang, kugigit juga sedikit anak telinganya. Kumasukkan sedikit dari bawah
penisku ke mulut lubang vaginanya dan kupegang batang panisku dan kuputar-
putar di gerbang itu tanpa aku dorong masuk. Mbak Icih berusaha memasukkan
lebih dalam tapi kutarik kalau dia agak turun. "Mass.. jangan disiksa dong..
tusukkin tusukkinn.." jeritnya agak keras. Aku kaget juga, gila ini Mbak. Nafsunya
sudah tidak terkendali lagi. Ya sudah aku masukkan setengah dan kugoyang
pinggulku dan ia juga segera naik-turun. Tangan kiriku meremas-remas buah
dadanya dan sambil memulir-mulir puting susunya yang sudah keras seperti kerikil.
Erangan Mbak Icih menambah erotisnya, dan busyet.. empotan vaginanya bukan
main, beda sekali dengan Bu Etty atau Tante Ida, agak kering tapi tetap enak
sekali. Kepala penisku terasa digenggam beludru dengan mapan sekali. Berkunang-
kunang rasanya mataku, kugigit lagi sedikit pundaknya sambil kuciumi terus
kuduknya. Tangan Mbak Icih menjulur ke belakang dan meremas-remas bukit
pantatku, sementara tanganku satu lagi juga tidak menganggur memoles-moles,
kupetik-petik biji klitorisnya yang tambah nongol keluar. Gila ada sebesar kacang
Garuda yang belum dikupas. Terasa keluar dari lubang sisi atas vaginanya, keras-
keras empuk. Mbak Icih tambah menggerung-gerung, "Ahh.. ahh.. Mas Mass.." dan
tiba-tiba ia turunkan kakinya dari bak dan menarik pantatku dan masuklah amblas
sedalam-dalamnya penisku. Pantatnya menempel rapat sekali. Terasa lincir karena
keringat kami yang sambil berdiri mengalir. {Bau badan Mbak Icih itu seperti bunga
melati, sama dengan orang Cendana suka melati dia ini). Bersih, biar dia orang
dari kampung tapi sepertinya mengerti kebersihan badan.
Bersambung ke bagian 06

Anda sedang membaca artikel tentang Gairah Tetanggaku 05 dan anda bisa menemukan artikel Gairah Tetanggaku 05 ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2013/05/gairah-tetanggaku-05.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Gairah Tetanggaku 05 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Gairah Tetanggaku 05 sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 05.07
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved