;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Kamis, 04 Desember 2014

Sekolah Penuh Gairah : 01 Kepsek Mesum

Kamis, 04 Desember 2014

Suatu hari di suatu sekolah menengah atas tepatnya di ruang kepala sekolah tampak seorang pria berumur 45 tahun sedang merenung, entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajahnya tampak gelisah, dengan raut muka serius duduk di belakang meja kerjanya yang nyaman. Namanya Pak Risman Kusbiantoro, berkulit sawo matang berperawakan tinggi dengan perut yang agak buncit. Sudah dua tahun Pak Risman menjadi kepala sekolah di SMA tersebut. Namun entah mengapa baru hari ini dia mulai berpikir mesum. 

"Mungkin ini gara-gara film porno yang aku tonton tadi malam", begitulah pikirnya. 
Sejak pagi tadi Pak Risman tidak hentinya berpikiran jorok ketika bertemu dengan para guru-guru perempuan di sekolah tersebut. 
"Aku rasanya ingin sekali mencicipi tubuh-tubuh sexy mereka" kata-kata itu selalu muncul ketika Pak Risman bertemu dengan para guru perempuan di sekolah itu yang rata-rata masih muda. 
Hingga suatu saat dia mulai tersenyum, terbersit dalam pikirannya bagaimana cara untuk bisa menikmati para guru tersebut. Dia mulai berpikir jika kekuasaan yang dia miliki di sekolah itu bisa dia jadikan senjata untuk mengajak para guru wanita di sekolah tersebut naik ranjang. 

##############


Jam istirahat sekolah telah tiba dengan ditandai bunyi nyaring bel tanda istirahat. Murid-murid berhamburan menuju kantin sekolah, begitupun para guru mulai berkumpul di ruangan kantor guru. Begitupun tak ketinggalan dengan Bu Ernita, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa inggris di sekolah itu, berusia 28 tahun, berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dengan rambut sebahu yang biasanya disanggul kalau sedang mengajar, tak ketinggalan kacamata yang menambah anggun wajahnya. Hari itu Bu Ernita tengah berbincang dengan sesama rekannya di kantor guru. Ada Pak Hamdan dari bagian kurikulum dan juga Bu Astri yang mengajar mata pelajaran matematika. Ketika sedang asik berbincang-bincang datanglah Mang Yono yang merupakan penjaga sekolah di sekolah tersebut. 
"Maaf ganggu nih, Bu Ernita dipanggil sama Pak Risman katanya bu" Mang Yono langsung memotong pembicaraan mereka. 
"Wah ada apa ya mang? Tumben nih Pak Risman panggil saya" sahut Bu Ernita dengan senyuman manisnya. 
"Waduh bu,saya juga kurang tau" jawab Mang Yono sambil garuk-garuk kepala cengengesan namun matanya tanpa disadari guru-guru yang ada disitu tengah melirik gumpalan payudara Bu Ernita yang walaupun tertutup baju seragam mengajarnya tetap terlihat membusung menggemaskan. 
"Hmmm...baik Mang saya sebentar lagi ke sana" sahut Bu Ernita sambil kemudian berpamitan kepada Bu Astri dan Pak Hamdan.
"Tok...tok...tok.." Pintu ruangan kepala sekolah itu diketuk dari luar, sesaat kemudian masuklah seorang wanita cantik berseragam abu-abu khas pengajar dan rambut disanggul dengan kacamata yang menghiasi wajahnya. 
"Oh...Bu Ernita, mari silakan duduk bu" suara berat menyambutnya. 
"Bapak panggil saya ada keperluan apa ya?" sahut Bu Ernita sambil duduk di depan meja kepala sekolah tersebut. 
"Eh anu bu ada hal penting yang harus saya sampaikan sama ibu dan rekan-rekan lainnya, nanti akan saya panggil satu persatu" kata Pak Risman dengan nada bicara dibuat seberwibawa mungkin. 
"Oh...hal penting apa pak?" Bu Ernita tampak penasaran.
Pak Risman mulai menjelaskan tentang hal yang harus dia sampaikan kepada para guru khususnya para guru honorer di sekolah tersebut. Menurutnya pihak yayasan sudah memberikan keputusan jika di sekolah tersebut harus mulai berhemat dalam segi pengeluaran, yang berimbas terhadap pengurangan staff pengajar.
"Jadi artinya saya diberhentikan pa"? Bu Ernita mulai bertanya. 
"Bisa ya bisa juga tidak" jawab Pak Risman tenang. 
"Jadi bagaimana Pa?" Bu Ernita mulai penasaran. 
"Saya akan menyeleksi para guru disini bu, karena saya diberi wewenang dalam mengambil keputusan itu" jawab Pak Risman dengan jumawa.
Lalu Pak Risman mulai menjelaskan secara mendetail tahapan-tahapan seleksi tersebut, bagaimana cara penilainnya dan sebagainya. Bu Ernita tampak serius mendengarkan penjelasan dari Pak Risman, hingga suatu saat bu Ernita mulai penasaran dengan apa yang dikatakan kepala sekolah tersebut.


"Tapi jika ibu tak keberatan saya punya cara lain agar ibu bisa lolos seleksi dan tetap mengajar di sekolah ini" itulah kata-kata terakhir dari penjelasan pak Risman yang panjang lebar. 
Dengan penasaran dan wajah bersinar bu Ernita pun bertanya, "apa itu pa?". 
"Ibu harus mau tidur dengan saya" jawab pak Risman dengan tenang dan senyum menjijikan.
Bagai petir di siang bolong bu Ernita mendengar kata-kata itu, ia tak menyangka jika orang yang selama ini ia anggap sangat terhormat bisa berkata semenjijikan itu. 
"Jangan harap itu terjadi Risman" ucap guru bahasa inggris tersebut dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu. "Ternyata anda sangat menjijikan" lanjutnya.
Namun amarah bu Ernita ditanggapi dengan sangat tenang oleh pak Risman, ia telah mengantisipasi jika hal itu akan terjadi. 
"Hmmm...baik kalau itu mau bu Ernita, saya tidak apa-apa jika ibu menolak" ungkapnya dengan tenang. 
Lalu sambil beranjak dari tempat duduknya dia memaparkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika ajakannya itu mendapat penolakan. 
"Saya tidak apa-apa bu, silahkan ibu mengikuti seleksi akan tetapi saya pastikan kalau ibu akan jadi orang pertama yang saya nyatakan gagal" ungkapnya dengan senyum memuakan. "Silahkan ibu pikirkan kembali".
Bu Ernita tampak merenung, pikirannya kacau balau. Ia mulai memikirkan masa depannya, bagaimana keluarganya, anak semata wayangnya yang baru berusia empat tahun, dan suaminya yang saat ini tengah menganggur akibat terkena PHK dari tempatnya bekerja. 
"Siapa yang akan menafkahi keluargaku?" Pikirnya. 
Pikiran bu Ernita seketika buyar ketika mendengar bel tanda masuk berbunyi. Tanpa ia sadari sudah 1 jam ia berada di ruangan kepala sekolah mesum ini.
"Bagaimana bu Ernita? Mau terima tawaran saya atau anda akan mengikuti seleksi yang sia-sia itu?" Tanya pak Risman dengan senyum yang menjijikan. "Silahkan ibu kembali mengajar, saya tunggu sepulang sekolah disini ya bu" ujarnya dengan masih mengembangkan senyum khasnya.

Dengan tak berkata apapun bu Ernita meninggalkan ruangan kepala sekolah tersebut, langkahnya lemah tak bergairah. Beberapa murid dan sesama guru yang menyapanya ia jawab seadanya dan dengan senyum yang dipaksakan. Sampai pada suatu ketika ia berpapasan dengan bu Linda, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa Indonesia yang juga seorang janda muda belum mempunyai anak yang dikenal banyak orang sebagai wanita yang gampang diajak naik ranjang. Dalam pikiran bu Ernita terbersit jika bu Linda ini bisa jadi orang yang lolos seleksi kepala sekolah mesum itu. Lalu mulai timbul rasa iri di hati bu Ernita. 
"Ini dia sainganku" begitulah kira-kira pikirnya.
"Eh bu Erni, katanya tadi pak Risman manggil ibu? Ada apa ya? Terus katanya semua guru juga akan dipanggil menghadap, ada apa bu?" Tanya bu Linda nyerocos. 
Lalu bu Ernita pun menceritakan hal yang dibicarakan bapak kepala sekolah itu tadi akan tetapi iya tidak menceritakan semuanya apalagi tentang ajakan jalan pintas pak Risman terhadap dirinya.
"Wah...bu Erni bisa jadi sainganku nih" ucap bu Linda jujur. 
"Ah bu Linda saya pamit dulu, anak-anak sudah nunggu pelajaran saya di kelas" jawab bu Ernita tak menanggapi ucapan bu Linda sambil beranjak menuju ke kelasnya.
Waktu tak terasa berlalu, bel tanda jam pelajaran terakhirpun sudah berbunyi. Para murid berhamburan meninggalkan sekolah tersebut, begitu pula para guru. Di ruang guru hanya tersisa beberapa orang guru saja yang sekarang tengah bersiap pulang tak terkecuali bu Ernita. 
"Bu Erni yuk pulang bareng, kebetulan suami saya jemput bawa mobil" ajak bu Indah seorang guru cantik yang baru saja menikah. "Oh..engga..eh silahkan bu duluan saya masih ada kerjaan ngoreksi hasil ulangan anak-anak" jawab bu Ernita tergagap karena pikirannya sedang menerawang. 
"Kalau gitu saya duluan ya bu" ungkap bu Indah yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis bu Ernita.
Bu Ernita mengambil ponselnya dan memberi tahu suaminya di rumah jika ia kemungkinan pulang agak sore dikarenakan ada rapat dengan staff guru di sekolah, dan tentu saja itu berbohong. Ia keluar dari ruang guru, namun ia berbelok ke ruang kepala sekolah setelah melihat-lihat kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatnya ia mulai mengetuk pintu ruang kepala sekolah tersebut. 

"Masuk bu Ernita" suara dari dalam menjawab ketukan di pintu ruangan tersebut seakan-akan yang di dalam tahu kalau yang datang itu dirinya.
"Hmmm...bu Ernita,mari bu sini dan kunci pintunya" ucap pak Risman yang melihat bu Ernita masuk ruangannya. 
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya bu Ernita menurut mengunci pintu dan menghampiri pak Risman yang tengah duduk di sofa ruangan kepala sekolah tersebut sambil menikmati sebatang rokok. Hatinya menjerit lirih, hari ini ia akan menghianati suaminya dan menyerahkan kehormatannya. 
"Maafkan mamah pah" begitulah kata hatinya ketika mengingat suaminya.
"Oh bukan disitu bu duduknya,tapi disini" ungkap pak Risman sambil menepuk-nepuk pahanya ketika melihat bu Ernita hendak duduk di sofa. 
Dengan gontai bu Ernita melangkah mendekati pak Risman dan mendaratkan pantatnya yang semok itu menyamping di pangkuan pak Risman. 
"Sudah lama saya menginginkan ini bu Ernita, ibu terlihat sangat sexy dan menggairahkan" ucap kepala sekolah tersebut sambil merangkulkan tangan kirinya di pinggang bu Ernita dan mengelus bongkahan pantatnya yang semok. 
Tak ketinggalan tangan kanannya mengelus pipi bu Ernita dan mengusap air matanya lalu berakhir di daun telinga, jari gemuknya mengelus leher jenjang wanita itu yang menggiurkan.
"Tak usah menangis bu, nikmati saja" ucap pak Risman sambil kembali mengusap air mata bu Ernita. 
Dengan suara bergetar bu Ernita akhirnya angkat bicara "sudahlah pak jangan merayu, kita mulai saja agar semuanya cepat selesai dan bapa puas".
Pak Risman menyeringai penuh kemenangan, lalu dengan tangan kirinya dia mendorong kepala bu Ernita ke arahnya dan mulai mencium bibir ranum dan tipis wanita itu. Tangannya mulai menjamah semua bagian tubuh bu Ernita. Tanpa disadari bu Ernita gairahnya mulai merangkak naik seiring dengan usapan dan jamahan tangan pak Risman di tubuhnya.
Ciuman mulai berubah menjadi pagutan. Air mata bu Ernita mereda, sekarang ia mulai melayani pagutan-pagutan ganas pak Risman. Bunyi kecipak air liur mulai terdengar bahkan sayup-sayup mulai terdengar desahan bu Ernita ketika pak Risman meremas payudarnya dengan kasar dari balik seragam. 
"Ohhhh..ahhh...yaaahhh" desahan bu Ernita mulai keluar. 
Rupanya pak Risman sangat piawai memancing gairah perempuan, terlihat dari gerakan bu Ernita yang tadi tampak terpaksa justru sekarang berbalik menjadi memaksa pak Risman untuk bercumbu dengannya. Tanpa sadar jari-jari lentik bu Ernita mulai mempereteli kancing baju pak Risman. Ia sangat bergairah dan ingin segera mengeluarkan hasrat yang paling liar dari dalam dirinya yang selama ini dikenal sebagai sosok pengajar yang alim. Air liur keduanya bercampur bahkan tampak meleleh di dagu keduanya.

"Oh bu Ernita...kau sangat bergairah sekali" ucap pak Risman di sela-sela pagutannya. 
"Jangan banyak omong pak, mari kita selesaikan" jawab bu Ernita beringas.
Pergumulan itu berlanjut. Pak Risman kini sudah bertelanjang dada. Perut buncit dan dadanya yang berbulu itu kini sedang dijilati bu Ernita dengan buas. Tak ketinggalan tangan kanan pak Risman kini tengah memainkan vagina bu Ernita dari balik celana panjang abu-abu yang senada dengan bajunya. Tangan bu Ernita tanpa sadar mempereteli kancing bajunya sendiri dan membukanya, tak ketinggalan juga ia membuka BH-nya. Seakan mimpi pak Risman memelototi payudara ranum berputing coklat indah yang meloncat di hadapannya. Bu Ernita melepaskan pagutannya, lalu kedua tangannya meraih kedua payudara ranum itu dan meremasnya, pandangan sayu dan senyum menggoda mengembang, dengan kerlingan mata binal ia melirik pak Risman dan dengan desahan lirih ia mulai berkata menggoda 
"ko diliatin terus pak? Inikan jalan pintas buat saya agar tidak bapak pecat? Ayo nikmati pak Risman yang terhormat" seru bu Ernita sambil tidak hentinya meremas payudara ranumnya.
Dengan tangan bergetar pak Risman menggerakan tangannya menggapai payudara bu Ernita yang tadinya sangat terpaksa justru sekarang tampak binal. Ia seperti merasa ini mimpi. Awalnya ia berpikir kalau bu Ernita akan susah untuk ditaklukan. Kini pak Risman tengah asik menyusu di payudara bu Ernita yang sedang mendesah seperti orang kepedesan menikmati lumatan dan sedotan mulut pak Risman di payudaranya. Keduanya mulai tak sabar. Pak Risman menurunkan bu Ernita dari pangkuannya dan dengan terburu menelanjangi dirinya sendiri. Begitupun bu Ernita yang membuka rok dan celana dalam hitamnya dengan gaya yang menggoda sambil duduk di atas sofa ruangan kepala sekolah tersebut yang walaupun ber-AC tapi kini malah terasa sangat panas bagi mereka berdua. Bu Ernita tampak kaget sekaligus kagum ketika pak Risman sang kepala sekolah mesum berdiri di hadapannya sambil mengocok pelan kemaluannya. 
"Hmmm...ah besar sekali pak" ucap bu Ernita sambil menggerakan tangannya menggapai kemaluan pak Risman lalu mengocoknya dengan lembut. 
Dalam pikiran bu Ernita ia sangat mengagumi kemaluan kepala sekolahnya yang besar dan panjang, bahkan telapak tangannya pun tak mampu untuk menggenggamnya, 
"ini sangat berbeda dengan kontol suamiku, ini sangan panjang, besar, hitam dan berotot. Yah...inilah kontol yang selama ini aku inginkan mengobok-obok memekku" itulah pikir bu Ernita. 
"Bu Ernita,maukah ibu nyepong kontol saya?" Pertanyaan pak Risman mengagetkan lamunan bu Ernita lalu ia mengangguk dan tersenyum menggoda. Bu Ernita menyuruh pak Risman duduk di sofa dan menaikan kakinya mengangkang. Lalu ia turun dan berlutut di depan pak Risman yang tengah mengangkang di atas sofa. Bu Ernita mulai memperlihatkan kehebatannya memuaskan kaum pria. Ia jilat semua bagian kemaluan pak Risman mualai dari biji pelir hingga ujungnya dan diakhiri dengan kuluman dan sedotan yang dahsyat. Beberapa menit berselang pak Risman menyudahi bu Ernita yang tengah asik melumat kemaluannya. Ia suruh bu Ernita naik ke atas sofa dengan kepala dan tangan ada di sandaran sofa tersebut dan tubuh menungging menunjukan lubang kemaluan yang berbulu tipis dan lubang anus yang coklat mengerucut menggoda menawarkan berjuta kenikmatan. 

Tanpa disangka wajah ayu guru Bahasa Inggris itu menoleh dan tersenyum ke arah pak Risman yang tengah mengagumi semoknya tubuh telanjangnya. 
"Pak, ko saya jadi kaya pelacur?" Ucap bu Ernita dengan senyum dan desah menggoda. 
"Kamu memang pelacur bu Ernita. Pelacur buat saya" ungkap pak Risman sambil membenamkan wajahnya di pantat semok bu Ernita. 
Dengan buas pak Risman menjilati dan menyedot lubang vagina bu Ernita, bahkan sesekali ia juga menjilat lubang anusnya. Diperlakukan seperti itu bu Ernita sangat senang hatinya malah berbunga dikatakan sebagai pelacur, bahkan ketika jari telunjuk tangan kanan pak Risman menerobos lubang anusnya sambil menyedot lubang vaginanya ia malah mendapatkan orgasme yang hebat sehingga air kenikmatannya menyembur membasahi wajah kepala sekolah tersebut. 
"Ahhhh...ahhh...nikmat sekali pak..hmmm..." Desah bu Ernita ketika orgasmenya tiba.
Dengan lemas bu Ernita membalikan badannya dan duduk menyender di sofa, begitupun dengan pak Risman. Mereka duduk berpelukan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka. Sambil istirahat tak henti-hentinya bu Ernita mengelap wajah pak Risman yang semakin jelek karena terkena semburan air kenikmatan miliknya, dan sesekali menciumi laki-laki mesum tersebut.
"Wah kayanya bu Ernita berbakat jadi pelacur,gimana kalau saya jadi germonya" terang pak Risman dengan cengengesan. Tapi bukannya marah dengan perkataan tersebut bu Ernita malah menanggapinya dengan santai dan nampak senang. 
"Aaa..bapak"," tapi kalau saya jadi pelacur masih boleh kan saya ngajar di sekolah ini pak, siapa tau sambil ngajar saya bisa sambil melacur buat murid,guru dan staff di sekolah ini...kan lumayan".
"Waduh bu Ernita ini jadi seneng ya kalau banyak yang ngentot" tanya lagi pak Risman sambil tangannya tak berhenti meremas payudara bu Ernita.
"Sssst...udah ah pa, denger entot-entotan rame-rame saya jadi pengen ni" jawab bu Ernita dengan kerling menggoda.
Selang beberapa menit merekapun kembali berpagutan panas, dan tak lama kemudian pak Risman mengatur posisi bu Ernita di atas sofa. Ia kembali ditunggingkan. Sementara pak Risman telah siap dibelakang bu Ernita dengan kemaluan tegak mengacung di depan lubang vagina bu Ernita yang menungging menantang. 
"Bu saya tusuk sekarang ya" sambil berkata demikian pak Risman mendorong kemaluannya memasuki vagina legit bu Ernita.
Tampak bu Ernita memejamkan mata dan membuka mulutnya membentuk huruf O merasakan mili demi mili kontol panjang, hitam, besar,dan berurat milik pak Risman memasuki vaginanya. Setelah ujung kemaluan pak Risman terbenam semua di dalam vagina bu Ernita, ia mendiamkannya sesaat untuk meresapi pijatan dan kehangatan vagina guru bahasa Inggris tersebut. Setelah dirasa cukup, pak Risman mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan.

Tiap detik berlalu penuh kenikmatan. Pak Risman terus meningkatkan tempo genjotannya di vagina bu Ernita yang legit, hangat dan basah. Desahan mulai terus terdengar di ruangan tersebut. Bu Ernita mengimbangi kebrutalan genjotan pak Risman dengan goyangan pinggulnya. Selang 5 menit mereka berganti gaya. Kini gantian bu Ernita berada di atas, dia memamerkan goyangan erotisnya dalam memuaskan pak Risman. Sambil meremasi payudaranya ia bergoyang dan selang beberapa menit bu Ernita mendapatkan orgasmenya kembali di atas tubuh pak Risman. Kali ini pak Risman tidak mau memberi bu Ernita kesempatan beristirahat, ia membalikan posisinya dan langsung menghajar vagina bu Ernita dengan kemaluan besarnya.
"Aaaahhh...ohhh...ampun..yah..enak...oh" desahan bu Ernita mulai tak terkendali
Orgasme-orgasme susulan datang bertubi-tubi hingga akhirnya pak Risman menggeram sambil memuntahkan lahar kenikmatannya di dalam tubuh guru bahasa Inggris tersebut, tubuh buncitnya ambruk menindih bu Ernita. Hingga selang beberapa menit ia mencabut kemaluannya tersebut dan berjalan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai ruang kepala sekolah tersebut. Setelah keduanya beristirahat sejenak dan berpakaian tak ada satupun yang berbicara hingga bu Ernita mulai mengeluarkan suara yang terdengar bergetar. 
"Bagaimana, apa bapak puas? Apa saya berhasil melewati seleksi ini pak". 
Pak Risman terkekeh menjijikan, lalu memeluk bu Ernita dan berbisik, "saya sangat puas bu, tapi ibu masih punya lubang satu lagi yang belum saya coba. Sekarang kita pulang bu, suami bu Ernita sudah nunggu pastinya di rumah, mungkin besok atau lusa saya cicipi lagi ya".
Perasaan kesal mulai timbul kembali di hati bu Ernita, ia merasa dipermainkan oleh pak Risman. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa perasaan berbeda di kedua hati mereka. Namun tanpa mereka sadari setelah mereka beranjak dari ruangan itu nampak seseorang cengengesan sambil menonton video dalam ponselnya hasil rekamannya sendiri

####################
Keesokan harinya

Jam menunjukan pukul 09.30. Di waktu yang masih relatif pagi itu dua insan berlainan jenis sudah mengumbar birahi. Tepatnya di ruang kepala sekolah suatu sekolah menengah atas. Ya siapa lagi kalau bukan pak Risman si kepala sekolah mesum dan si semok bu Ernita sang guru bahasa Inggris. Saat itu bu Ernita tengah menungging di sofa ruang kepala sekolah, pakaiannya masih lengkap hanya beberapa kancing baju seragam mengajarnya saja yang terbuka dengan BH tersingkap sehingga menampakan payudara mulusnya bergelantungan ke sana kemari. Rambutnya yang masih dalam keadaan disanggul ke belakang sedikit kusut, beberapa helai nampak telah jatuh di atas dahinya yang telah bercucuran keringat. Rok yang dipakainya telah diangkat menggantung di pinggangnya, sementara celana dalam hitamnya masih menyangkut di lutut wanita itu. Di belakangnya tampak seorang pria buncit berkulit sawo matang berusia 45 tahun tengah menyodok-nyodokan kemaluan besar, hitam dan panjangnya ke lubang nikmat nan legit milik guru bahasa Inggris yang cantik dan seksi tersebut. Kurang lebih sudah 30 menit mereka mengumbar nafsu di ruangan tersebut. Bahkan sudah dua kali bu Ernita mengalami orgasme oleh kemaluan sang kepala sekolah mesum itu. Cairan putih licin dan lengket yang keluar dari vaginanya kini meleleh di paha bu Ernita. Suara kulit paha membentur pantat kenyal terdengar bersahutan dengan suara desahan dan erangan penuh kenikmatan bu Ernita. Ini baru hari kedua bu Ernita digauli pak Risman, dimana kemarin siang untuk pertama kalinya dia menyerahkan kehormatan yang selama ini dia jaga dan hanya dia berikan untuk suaminya kepada pak Risman dengan diiming-imingi lolos seleksi pengajar di sekolah itu yang tentu saja itu hanya akal-akalan pak Risman untuk menikmati tubuh sexy, semok dan menggiurkan bu Ernita. Namun biarpun baru dua kali bu Ernita digagahi kepala sekolahnya tersebut ternyata ia sudah mulai ketagihan dengan ukuran kemaluan pak Risman yang jauh lebih panjang, besar dan lebih perkasa dari suaminya. Ia kini tampak pasrah dan menikmati setiap sodokan kemaluan pak Risman pada lubang kenikmatannya. Kata-kata kotor dan binal keluar dari mulut ranum dan tipis bu Ernita disertai senyuman nakal dan kerling mata menggoda lawan jenisnya.
"Uuuh...yahhh...soddok terushh pak...kontolnya enak" racau bu Ernita ketika pak Risman menggenjotnya dengan kecepatan sedang. 
"Hmmm...bu Ernita ternyata doyan kontol gede.." Jawab pak Risman dengan senyum menjijikannya sambil terus menghujam-hujamkan kemaluan besarnya di lubang legit bu Ernita.
"Ohhh...yah pak...ssaya..suka..kontol gede..seperti punya bapak...ooohhh..yaahhh.." Racau bu Ernita terputus-putus.
Ternyata kenikmatan akhirnya mengubah bu Ernita yang tadinya merupakan seorang istri dan guru yang alim dan terhormat kini malah tampak seperti pelacur binal yang memuja kenikmatan seksual dari lawan jenisnya.

"Ahhh...kontol enak...aku keluar lagi pak..". Bu Ernita mengerang, bola matanya terbalik, kepala menengadah dengan mulut terbuka ketika kemaluannya berdenyut-denyut menyemburkan cairan orgasme yang ketiga kalinya di pagi itu. Namun tanpa ampun pak Risman bukannya menghentikan sejenak genjotannya, akan tetapi ia malah menambah kecepatannya dalam menghentak pantat bu Ernita yang kini mulai tersungkur dan meringis dikarenakan gesekan pada dinding vaginanya mulai terasa panas.
"Oh...ampun pak..cepet keluarin pejuhnya oh" racau bu Ernita sambil meringis-ringis. 
Namun pak Risman malah semakin beringas melihat bu Ernita tersiksa dengan genjotannya. 
"Tenang saja bu...masih ada setengah jam lagi kan sebelum jam istirahat?" ucap pak Risman sambil menaikan ritme genjotannya dan mencengkram pantat putih mulus nan semok bu Ernita.
Ruang kepala sekolah tersebut memang letaknya agak jauh dari ruang-ruang yang lainnya di sekolah tersebut sehingga jarang sekali ada orang yang lewat di depannya. Namun hari itu entah merupakan kesialan atau keberuntungan bagi Rizal Ferianto, seorang murid kelas 2 SMA tersebut. Rizal bermaksud menyerahkan tugas perbaikan kepada bu Ernita dikarenakan nilainya jeblok pada mata pelajaran bu Ernita. Setelah mencari di kantor guru dia tidak mendapati bu Ernita di sana, namun salah satu staff tata usaha di sekolah itu mengatakan kalau bu Ernita tengah menghadap kepala sekolah. Rizal bergegas menyusul bu Ernita ke ruang kepala sekolah karena dia tak ingin ketinggalan mata pelajaran bu Astri guru favoritnya. Namun ketika hendak mengetuk ruangan kepala sekolah tersebut, sayup-sayup Rizal mendengar suara desahan wanita dari dalam ruangan tersebut dan diikuti geraman seorang pria. Rizal yang penasaran akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia kemudian mengintip melalui jendela yang terletak di pinggir ruangan tersebut. Seperti disambar gledek perasaan anak itu kagetnya bukan main melihat adegan yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Guru yang dia cari ternyata tengah berada di atas tubuh buncit kepala sekolahnya yang terlentang di sofa ruangan itu dengan mulut dipenuhi kemaluan kepala sekolahnya. Vaginanya tengah menduduki wajah kepala sekolah itu yang asik menjilat dan menyedot cairan yang keluar dari dalamnya. Adegan demi adegan ia lihat dari balik jendela itu sambil mengelusi kemaluannya sendiri. Ia tak percaya kalau guru yang kesehariannya alim tersebut bisa berlaku binal dengan seorang kepala sekolah bahkan lebih mirip pelacur ketimbang seorang guru.

Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah tersebut kedua insan yang sedang memacu birahi itu tidak menyadari kalau kegiatannya tersebut tengah ada yang mengintip. Mereka semakin panas melakukan persetubuhan itu, bahkan saat ini bu Ernita sedang menghentakan pantanya di pangkuan pak Risman dengan posisi membelakanginya. Tampak sekali senyuman senang dari bu Ernita mendengar pak Risman melenguh-lenguh menikmati goyangan pantat semoknya.
"Ouh...bu Ernita pintar sekali bergoyang...kontol saya tak ku..at lagih bu" ungkap pak Risman ketika kemaluannya akan menyemburkan isinya. 
"Hmmm...baru digoyang memek udah kelojotan pak, gimana kalo di goyang lubang ini" ujar bu Ernita sambil menunjukan lubang pantatnya di hadapan pak Risman dan menusuk-nusukan jari manis tangan kirinya ke lubang pantatnya sendiri.
"Tahan sebentar lagi saya juga nyampe pak...ouuuhhh" ucap bu Ernita lagi sambil memperhebat goyangan erotis di atas kemaluan pak Risman.
Akhirnya dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya mengalami orgasme yang hebat bertepatan dengan bel tanda istirahat sekolah tersebut berbunyi.  Setelah beristirahat beberapa menit tampak di ruangan itu bu Ernita tengah duduk bersimpuh di lantai di hadapan pak Risman yang duduk di sofa masih belum mengenakan celana dan mengelus-elus rambut bu Ernita yang tengah membersihkan kemaluan kepala sekolah tersebut dengan bibir dan lidahnya.
"Kamu hebat bu Ernita" ungkap pak Risman sambil mengelus-ngelus kepala bu Ernita. 
"Terimakasih pak" jawab bu Ernita singkat sambil tersenyum senang dan melanjutkan tugasnya kembali membersihkan kemaluan pak Risman. 
Hatinya sangat berbunga-bunga ketika mendapat pujian itu, entah kenapa ia kini malah senang jika dirinya dilecehkan oleh lawan jenisnya.
"Bu nanti kalau di kantor bertemu bu Astri tolong suruh dia menghadap saya ya" ucap pak Risman sambil tersenyum menerawang membayangkan korban berikutnya yang akan dia nikmati. 
"Baik pak, ta..tapi..." ucap bu Ernita terpotong. 
"Tapi apa bu?" tanya pak Risman yang melihat bu Ernita tertunduk. 
Lalu bu Ernita memandang mata kepala sekolah mesum itu dan tersenyum genit dengan kerlingan mata binalnya, dan berucap "kalau bapak udah dapet jatah dari bu Astri...saya pelacur bapak yang pertama kasih jatah juga ya pak". 
Mendengar itu gelak tawa menjijikan keluar dari mulut pak Risman sambil manggut-manggut dan menepuk-nepuk kepala bu Ernita yang tengah tersenyum nakal. Dan diluar ruangan itu rizal pun ikut tersenyum.

#######################
Bertepatan dengan jam istirahat sekolah bu Ernita keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah berseri-seri, ia tak habis pikir kenapa dirinya jadi sangat menyukai bersetubuh dengan pak Risman. Padahal dari segi penampilan sudah jelas sekali kalau pak Risman bukanlah laki-laki idaman, tapi lain halnya jika bu Ernita berpikir kearah kemaluan dan keperkasaan pak Risman.
"Uuuuh...ko aku jadi ngawur gini...hihihi" gumamnya.
Saat itu di ruang guru memang sedang ramai karena di jam istirahat seperti sekarang ini para guru berkumpul di sana. Mata bu Ernita menyapu sekeliling ruangan mencari-cari seseorang yang tadi diamanatkan pak Risman. 
"Eh bu Ernita, darimana aja dari jam sembilan gak keliatan" sapa seseorang sambil menepuk bahunya. 
Bu Ernita menoleh dan tersenyum kepada orang tersebut yang tak lain adalah bu Linda seorang guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Sepintas tentang bu Linda, ia adalah seorang janda muda yang belum mempunyai keturunan. Tinggi badannya hampir sama dengan bu Ernita, mempunyai wajah oval dan hidung mancung dengan bibir sensual yang selalu ia hiasi dengan lipstik tebal. Namun yang membuat bu Linda jadi pusat perhatian adalah ukuran payudaranya yang besar menonjol di balik baju seragam mengajarnya, yang membuat semua laki-laki berkhayal untuk menjamahnya.
“Eh bu Linda, hmmm tadi aku dipanggil lagi buat test sama bapak kepala sekolah..katanya sih buat seleksi itu" papar bu Ernita menjelaskan.
"Oh...terus-terus gimana testnya bu?" tanya bu Linda penasaran. 
"Yaaa...gitu aja test, nanti juga ibu bakal dipanggil ko" jawab bu Ernita dengan tersenyum ramah pada rekannya, padahal dalam pikirannya ia tengah membayangkan bagaimana nanti bu Linda akan digagahi pak Risman.
"Ngomong-ngomong bu Linda lihat bu Astri gak?" Bu Ernita balik bertanya. "Tuh.." Jawab bu Linda singkat sambil menunjuk kearah wanita cantik berpakaian hijau khas PNS dengan rambut pendek.
"Oh iya, sebentar ya bu saya tinggal dulu..ada yang mau saya sampaikan sama bu Astri" ucap bu Ernita sambil melangkahkan kakinya menghampiri perempuan yang ditunjukan bu Linda.
Bu Astri adalah seorang guru matematika di sekolah itu, usianya satu tahun lebih muda dari bu Ernita, sudah menikah tiga tahun akan tetapi belum mempunyai keturunan. Tinggi badannya sedikit lebih pendek dari bu Ernita namun pantat dan payudaranya tidak kalah menggiurkan dari bu Ernita ataupun bu Linda.
"Bu Astri bisa bicara sebentar?" tanya bu Ernita ketika ia menghampiri bu Astri. 
"Oh tentu bu, ada apa?" Bu astri balik bertanya.
Lalu bu Ernita menjelaskan dengan singkat tentang seleksi yang diadakan kepala sekolah untuk guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. 
"Hmmm...terus testnya gimana bu?" tanya bu Astri penasaran. 
"Cuma test biasa ko bu, sekarang bu Astri disuruh menghadap pak Risman di ruangannya" seru bu Ernita. 
"Oh gitu...kalau begitu saya tinggal ya bu Erni" sahut bu Astri sambil bergegas meninggalkan ruangan itu menuju ruangan kepala sekolah dengan perasaan penasaran diiringi senyuman misterius bu Ernita.


"Tapi jika ibu tak keberatan saya punya cara lain agar ibu bisa lolos seleksi dan tetap mengajar di sekolah ini" itulah kata-kata terakhir dari penjelasan pak Risman yang panjang lebar. 
Dengan penasaran dan wajah bersinar bu Ernita pun bertanya, "apa itu pa?". 
"Ibu harus mau tidur dengan saya" jawab pak Risman dengan tenang dan senyum menjijikan.
Bagai petir di siang bolong bu Ernita mendengar kata-kata itu, ia tak menyangka jika orang yang selama ini ia anggap sangat terhormat bisa berkata semenjijikan itu. 
"Jangan harap itu terjadi Risman" ucap guru bahasa inggris tersebut dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu. "Ternyata anda sangat menjijikan" lanjutnya.
Namun amarah bu Ernita ditanggapi dengan sangat tenang oleh pak Risman, ia telah mengantisipasi jika hal itu akan terjadi. 
"Hmmm...baik kalau itu mau bu Ernita, saya tidak apa-apa jika ibu menolak" ungkapnya dengan tenang. 
Lalu sambil beranjak dari tempat duduknya dia memaparkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika ajakannya itu mendapat penolakan. 
"Saya tidak apa-apa bu, silahkan ibu mengikuti seleksi akan tetapi saya pastikan kalau ibu akan jadi orang pertama yang saya nyatakan gagal" ungkapnya dengan senyum memuakan. "Silahkan ibu pikirkan kembali".
Bu Ernita tampak merenung, pikirannya kacau balau. Ia mulai memikirkan masa depannya, bagaimana keluarganya, anak semata wayangnya yang baru berusia empat tahun, dan suaminya yang saat ini tengah menganggur akibat terkena PHK dari tempatnya bekerja. 
"Siapa yang akan menafkahi keluargaku?" Pikirnya. 
Pikiran bu Ernita seketika buyar ketika mendengar bel tanda masuk berbunyi. Tanpa ia sadari sudah 1 jam ia berada di ruangan kepala sekolah mesum ini.
"Bagaimana bu Ernita? Mau terima tawaran saya atau anda akan mengikuti seleksi yang sia-sia itu?" Tanya pak Risman dengan senyum yang menjijikan. "Silahkan ibu kembali mengajar, saya tunggu sepulang sekolah disini ya bu" ujarnya dengan masih mengembangkan senyum khasnya.

Dengan tak berkata apapun bu Ernita meninggalkan ruangan kepala sekolah tersebut, langkahnya lemah tak bergairah. Beberapa murid dan sesama guru yang menyapanya ia jawab seadanya dan dengan senyum yang dipaksakan. Sampai pada suatu ketika ia berpapasan dengan bu Linda, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa Indonesia yang juga seorang janda muda belum mempunyai anak yang dikenal banyak orang sebagai wanita yang gampang diajak naik ranjang. Dalam pikiran bu Ernita terbersit jika bu Linda ini bisa jadi orang yang lolos seleksi kepala sekolah mesum itu. Lalu mulai timbul rasa iri di hati bu Ernita. 
"Ini dia sainganku" begitulah kira-kira pikirnya.
"Eh bu Erni, katanya tadi pak Risman manggil ibu? Ada apa ya? Terus katanya semua guru juga akan dipanggil menghadap, ada apa bu?" Tanya bu Linda nyerocos. 
Lalu bu Ernita pun menceritakan hal yang dibicarakan bapak kepala sekolah itu tadi akan tetapi iya tidak menceritakan semuanya apalagi tentang ajakan jalan pintas pak Risman terhadap dirinya.
"Wah...bu Erni bisa jadi sainganku nih" ucap bu Linda jujur. 
"Ah bu Linda saya pamit dulu, anak-anak sudah nunggu pelajaran saya di kelas" jawab bu Ernita tak menanggapi ucapan bu Linda sambil beranjak menuju ke kelasnya.
Waktu tak terasa berlalu, bel tanda jam pelajaran terakhirpun sudah berbunyi. Para murid berhamburan meninggalkan sekolah tersebut, begitu pula para guru. Di ruang guru hanya tersisa beberapa orang guru saja yang sekarang tengah bersiap pulang tak terkecuali bu Ernita. 
"Bu Erni yuk pulang bareng, kebetulan suami saya jemput bawa mobil" ajak bu Indah seorang guru cantik yang baru saja menikah. "Oh..engga..eh silahkan bu duluan saya masih ada kerjaan ngoreksi hasil ulangan anak-anak" jawab bu Ernita tergagap karena pikirannya sedang menerawang. 
"Kalau gitu saya duluan ya bu" ungkap bu Indah yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis bu Ernita.
Bu Ernita mengambil ponselnya dan memberi tahu suaminya di rumah jika ia kemungkinan pulang agak sore dikarenakan ada rapat dengan staff guru di sekolah, dan tentu saja itu berbohong. Ia keluar dari ruang guru, namun ia berbelok ke ruang kepala sekolah setelah melihat-lihat kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatnya ia mulai mengetuk pintu ruang kepala sekolah tersebut. 

"Masuk bu Ernita" suara dari dalam menjawab ketukan di pintu ruangan tersebut seakan-akan yang di dalam tahu kalau yang datang itu dirinya.
"Hmmm...bu Ernita,mari bu sini dan kunci pintunya" ucap pak Risman yang melihat bu Ernita masuk ruangannya. 
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya bu Ernita menurut mengunci pintu dan menghampiri pak Risman yang tengah duduk di sofa ruangan kepala sekolah tersebut sambil menikmati sebatang rokok. Hatinya menjerit lirih, hari ini ia akan menghianati suaminya dan menyerahkan kehormatannya. 
"Maafkan mamah pah" begitulah kata hatinya ketika mengingat suaminya.
"Oh bukan disitu bu duduknya,tapi disini" ungkap pak Risman sambil menepuk-nepuk pahanya ketika melihat bu Ernita hendak duduk di sofa. 
Dengan gontai bu Ernita melangkah mendekati pak Risman dan mendaratkan pantatnya yang semok itu menyamping di pangkuan pak Risman. 
"Sudah lama saya menginginkan ini bu Ernita, ibu terlihat sangat sexy dan menggairahkan" ucap kepala sekolah tersebut sambil merangkulkan tangan kirinya di pinggang bu Ernita dan mengelus bongkahan pantatnya yang semok. 
Tak ketinggalan tangan kanannya mengelus pipi bu Ernita dan mengusap air matanya lalu berakhir di daun telinga, jari gemuknya mengelus leher jenjang wanita itu yang menggiurkan.
"Tak usah menangis bu, nikmati saja" ucap pak Risman sambil kembali mengusap air mata bu Ernita. 
Dengan suara bergetar bu Ernita akhirnya angkat bicara "sudahlah pak jangan merayu, kita mulai saja agar semuanya cepat selesai dan bapa puas".
Pak Risman menyeringai penuh kemenangan, lalu dengan tangan kirinya dia mendorong kepala bu Ernita ke arahnya dan mulai mencium bibir ranum dan tipis wanita itu. Tangannya mulai menjamah semua bagian tubuh bu Ernita. Tanpa disadari bu Ernita gairahnya mulai merangkak naik seiring dengan usapan dan jamahan tangan pak Risman di tubuhnya.
Ciuman mulai berubah menjadi pagutan. Air mata bu Ernita mereda, sekarang ia mulai melayani pagutan-pagutan ganas pak Risman. Bunyi kecipak air liur mulai terdengar bahkan sayup-sayup mulai terdengar desahan bu Ernita ketika pak Risman meremas payudarnya dengan kasar dari balik seragam. 
"Ohhhh..ahhh...yaaahhh" desahan bu Ernita mulai keluar. 
Rupanya pak Risman sangat piawai memancing gairah perempuan, terlihat dari gerakan bu Ernita yang tadi tampak terpaksa justru sekarang berbalik menjadi memaksa pak Risman untuk bercumbu dengannya. Tanpa sadar jari-jari lentik bu Ernita mulai mempereteli kancing baju pak Risman. Ia sangat bergairah dan ingin segera mengeluarkan hasrat yang paling liar dari dalam dirinya yang selama ini dikenal sebagai sosok pengajar yang alim. Air liur keduanya bercampur bahkan tampak meleleh di dagu keduanya.

"Oh bu Ernita...kau sangat bergairah sekali" ucap pak Risman di sela-sela pagutannya. 
"Jangan banyak omong pak, mari kita selesaikan" jawab bu Ernita beringas.
Pergumulan itu berlanjut. Pak Risman kini sudah bertelanjang dada. Perut buncit dan dadanya yang berbulu itu kini sedang dijilati bu Ernita dengan buas. Tak ketinggalan tangan kanan pak Risman kini tengah memainkan vagina bu Ernita dari balik celana panjang abu-abu yang senada dengan bajunya. Tangan bu Ernita tanpa sadar mempereteli kancing bajunya sendiri dan membukanya, tak ketinggalan juga ia membuka BH-nya. Seakan mimpi pak Risman memelototi payudara ranum berputing coklat indah yang meloncat di hadapannya. Bu Ernita melepaskan pagutannya, lalu kedua tangannya meraih kedua payudara ranum itu dan meremasnya, pandangan sayu dan senyum menggoda mengembang, dengan kerlingan mata binal ia melirik pak Risman dan dengan desahan lirih ia mulai berkata menggoda 
"ko diliatin terus pak? Inikan jalan pintas buat saya agar tidak bapak pecat? Ayo nikmati pak Risman yang terhormat" seru bu Ernita sambil tidak hentinya meremas payudara ranumnya.
Dengan tangan bergetar pak Risman menggerakan tangannya menggapai payudara bu Ernita yang tadinya sangat terpaksa justru sekarang tampak binal. Ia seperti merasa ini mimpi. Awalnya ia berpikir kalau bu Ernita akan susah untuk ditaklukan. Kini pak Risman tengah asik menyusu di payudara bu Ernita yang sedang mendesah seperti orang kepedesan menikmati lumatan dan sedotan mulut pak Risman di payudaranya. Keduanya mulai tak sabar. Pak Risman menurunkan bu Ernita dari pangkuannya dan dengan terburu menelanjangi dirinya sendiri. Begitupun bu Ernita yang membuka rok dan celana dalam hitamnya dengan gaya yang menggoda sambil duduk di atas sofa ruangan kepala sekolah tersebut yang walaupun ber-AC tapi kini malah terasa sangat panas bagi mereka berdua. Bu Ernita tampak kaget sekaligus kagum ketika pak Risman sang kepala sekolah mesum berdiri di hadapannya sambil mengocok pelan kemaluannya. 
"Hmmm...ah besar sekali pak" ucap bu Ernita sambil menggerakan tangannya menggapai kemaluan pak Risman lalu mengocoknya dengan lembut. 
Dalam pikiran bu Ernita ia sangat mengagumi kemaluan kepala sekolahnya yang besar dan panjang, bahkan telapak tangannya pun tak mampu untuk menggenggamnya, 
"ini sangat berbeda dengan kontol suamiku, ini sangan panjang, besar, hitam dan berotot. Yah...inilah kontol yang selama ini aku inginkan mengobok-obok memekku" itulah pikir bu Ernita. 
"Bu Ernita,maukah ibu nyepong kontol saya?" Pertanyaan pak Risman mengagetkan lamunan bu Ernita lalu ia mengangguk dan tersenyum menggoda. Bu Ernita menyuruh pak Risman duduk di sofa dan menaikan kakinya mengangkang. Lalu ia turun dan berlutut di depan pak Risman yang tengah mengangkang di atas sofa. Bu Ernita mulai memperlihatkan kehebatannya memuaskan kaum pria. Ia jilat semua bagian kemaluan pak Risman mualai dari biji pelir hingga ujungnya dan diakhiri dengan kuluman dan sedotan yang dahsyat. Beberapa menit berselang pak Risman menyudahi bu Ernita yang tengah asik melumat kemaluannya. Ia suruh bu Ernita naik ke atas sofa dengan kepala dan tangan ada di sandaran sofa tersebut dan tubuh menungging menunjukan lubang kemaluan yang berbulu tipis dan lubang anus yang coklat mengerucut menggoda menawarkan berjuta kenikmatan. 

Tanpa disangka wajah ayu guru Bahasa Inggris itu menoleh dan tersenyum ke arah pak Risman yang tengah mengagumi semoknya tubuh telanjangnya. 
"Pak, ko saya jadi kaya pelacur?" Ucap bu Ernita dengan senyum dan desah menggoda. 
"Kamu memang pelacur bu Ernita. Pelacur buat saya" ungkap pak Risman sambil membenamkan wajahnya di pantat semok bu Ernita. 
Dengan buas pak Risman menjilati dan menyedot lubang vagina bu Ernita, bahkan sesekali ia juga menjilat lubang anusnya. Diperlakukan seperti itu bu Ernita sangat senang hatinya malah berbunga dikatakan sebagai pelacur, bahkan ketika jari telunjuk tangan kanan pak Risman menerobos lubang anusnya sambil menyedot lubang vaginanya ia malah mendapatkan orgasme yang hebat sehingga air kenikmatannya menyembur membasahi wajah kepala sekolah tersebut. 
"Ahhhh...ahhh...nikmat sekali pak..hmmm..." Desah bu Ernita ketika orgasmenya tiba.
Dengan lemas bu Ernita membalikan badannya dan duduk menyender di sofa, begitupun dengan pak Risman. Mereka duduk berpelukan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka. Sambil istirahat tak henti-hentinya bu Ernita mengelap wajah pak Risman yang semakin jelek karena terkena semburan air kenikmatan miliknya, dan sesekali menciumi laki-laki mesum tersebut.
"Wah kayanya bu Ernita berbakat jadi pelacur,gimana kalau saya jadi germonya" terang pak Risman dengan cengengesan. Tapi bukannya marah dengan perkataan tersebut bu Ernita malah menanggapinya dengan santai dan nampak senang. 
"Aaa..bapak"," tapi kalau saya jadi pelacur masih boleh kan saya ngajar di sekolah ini pak, siapa tau sambil ngajar saya bisa sambil melacur buat murid,guru dan staff di sekolah ini...kan lumayan".
"Waduh bu Ernita ini jadi seneng ya kalau banyak yang ngentot" tanya lagi pak Risman sambil tangannya tak berhenti meremas payudara bu Ernita.
"Sssst...udah ah pa, denger entot-entotan rame-rame saya jadi pengen ni" jawab bu Ernita dengan kerling menggoda.
Selang beberapa menit merekapun kembali berpagutan panas, dan tak lama kemudian pak Risman mengatur posisi bu Ernita di atas sofa. Ia kembali ditunggingkan. Sementara pak Risman telah siap dibelakang bu Ernita dengan kemaluan tegak mengacung di depan lubang vagina bu Ernita yang menungging menantang. 
"Bu saya tusuk sekarang ya" sambil berkata demikian pak Risman mendorong kemaluannya memasuki vagina legit bu Ernita.
Tampak bu Ernita memejamkan mata dan membuka mulutnya membentuk huruf O merasakan mili demi mili kontol panjang, hitam, besar,dan berurat milik pak Risman memasuki vaginanya. Setelah ujung kemaluan pak Risman terbenam semua di dalam vagina bu Ernita, ia mendiamkannya sesaat untuk meresapi pijatan dan kehangatan vagina guru bahasa Inggris tersebut. Setelah dirasa cukup, pak Risman mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan.

Tiap detik berlalu penuh kenikmatan. Pak Risman terus meningkatkan tempo genjotannya di vagina bu Ernita yang legit, hangat dan basah. Desahan mulai terus terdengar di ruangan tersebut. Bu Ernita mengimbangi kebrutalan genjotan pak Risman dengan goyangan pinggulnya. Selang 5 menit mereka berganti gaya. Kini gantian bu Ernita berada di atas, dia memamerkan goyangan erotisnya dalam memuaskan pak Risman. Sambil meremasi payudaranya ia bergoyang dan selang beberapa menit bu Ernita mendapatkan orgasmenya kembali di atas tubuh pak Risman. Kali ini pak Risman tidak mau memberi bu Ernita kesempatan beristirahat, ia membalikan posisinya dan langsung menghajar vagina bu Ernita dengan kemaluan besarnya.
"Aaaahhh...ohhh...ampun..yah..enak...oh" desahan bu Ernita mulai tak terkendali
Orgasme-orgasme susulan datang bertubi-tubi hingga akhirnya pak Risman menggeram sambil memuntahkan lahar kenikmatannya di dalam tubuh guru bahasa Inggris tersebut, tubuh buncitnya ambruk menindih bu Ernita. Hingga selang beberapa menit ia mencabut kemaluannya tersebut dan berjalan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai ruang kepala sekolah tersebut. Setelah keduanya beristirahat sejenak dan berpakaian tak ada satupun yang berbicara hingga bu Ernita mulai mengeluarkan suara yang terdengar bergetar. 
"Bagaimana, apa bapak puas? Apa saya berhasil melewati seleksi ini pak". 
Pak Risman terkekeh menjijikan, lalu memeluk bu Ernita dan berbisik, "saya sangat puas bu, tapi ibu masih punya lubang satu lagi yang belum saya coba. Sekarang kita pulang bu, suami bu Ernita sudah nunggu pastinya di rumah, mungkin besok atau lusa saya cicipi lagi ya".
Perasaan kesal mulai timbul kembali di hati bu Ernita, ia merasa dipermainkan oleh pak Risman. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa perasaan berbeda di kedua hati mereka. Namun tanpa mereka sadari setelah mereka beranjak dari ruangan itu nampak seseorang cengengesan sambil menonton video dalam ponselnya hasil rekamannya sendiri

####################
Keesokan harinya

Jam menunjukan pukul 09.30. Di waktu yang masih relatif pagi itu dua insan berlainan jenis sudah mengumbar birahi. Tepatnya di ruang kepala sekolah suatu sekolah menengah atas. Ya siapa lagi kalau bukan pak Risman si kepala sekolah mesum dan si semok bu Ernita sang guru bahasa Inggris. Saat itu bu Ernita tengah menungging di sofa ruang kepala sekolah, pakaiannya masih lengkap hanya beberapa kancing baju seragam mengajarnya saja yang terbuka dengan BH tersingkap sehingga menampakan payudara mulusnya bergelantungan ke sana kemari. Rambutnya yang masih dalam keadaan disanggul ke belakang sedikit kusut, beberapa helai nampak telah jatuh di atas dahinya yang telah bercucuran keringat. Rok yang dipakainya telah diangkat menggantung di pinggangnya, sementara celana dalam hitamnya masih menyangkut di lutut wanita itu. Di belakangnya tampak seorang pria buncit berkulit sawo matang berusia 45 tahun tengah menyodok-nyodokan kemaluan besar, hitam dan panjangnya ke lubang nikmat nan legit milik guru bahasa Inggris yang cantik dan seksi tersebut. Kurang lebih sudah 30 menit mereka mengumbar nafsu di ruangan tersebut. Bahkan sudah dua kali bu Ernita mengalami orgasme oleh kemaluan sang kepala sekolah mesum itu. Cairan putih licin dan lengket yang keluar dari vaginanya kini meleleh di paha bu Ernita. Suara kulit paha membentur pantat kenyal terdengar bersahutan dengan suara desahan dan erangan penuh kenikmatan bu Ernita. Ini baru hari kedua bu Ernita digauli pak Risman, dimana kemarin siang untuk pertama kalinya dia menyerahkan kehormatan yang selama ini dia jaga dan hanya dia berikan untuk suaminya kepada pak Risman dengan diiming-imingi lolos seleksi pengajar di sekolah itu yang tentu saja itu hanya akal-akalan pak Risman untuk menikmati tubuh sexy, semok dan menggiurkan bu Ernita. Namun biarpun baru dua kali bu Ernita digagahi kepala sekolahnya tersebut ternyata ia sudah mulai ketagihan dengan ukuran kemaluan pak Risman yang jauh lebih panjang, besar dan lebih perkasa dari suaminya. Ia kini tampak pasrah dan menikmati setiap sodokan kemaluan pak Risman pada lubang kenikmatannya. Kata-kata kotor dan binal keluar dari mulut ranum dan tipis bu Ernita disertai senyuman nakal dan kerling mata menggoda lawan jenisnya.
"Uuuh...yahhh...soddok terushh pak...kontolnya enak" racau bu Ernita ketika pak Risman menggenjotnya dengan kecepatan sedang. 
"Hmmm...bu Ernita ternyata doyan kontol gede.." Jawab pak Risman dengan senyum menjijikannya sambil terus menghujam-hujamkan kemaluan besarnya di lubang legit bu Ernita.
"Ohhh...yah pak...ssaya..suka..kontol gede..seperti punya bapak...ooohhh..yaahhh.." Racau bu Ernita terputus-putus.
Ternyata kenikmatan akhirnya mengubah bu Ernita yang tadinya merupakan seorang istri dan guru yang alim dan terhormat kini malah tampak seperti pelacur binal yang memuja kenikmatan seksual dari lawan jenisnya.

"Ahhh...kontol enak...aku keluar lagi pak..". Bu Ernita mengerang, bola matanya terbalik, kepala menengadah dengan mulut terbuka ketika kemaluannya berdenyut-denyut menyemburkan cairan orgasme yang ketiga kalinya di pagi itu. Namun tanpa ampun pak Risman bukannya menghentikan sejenak genjotannya, akan tetapi ia malah menambah kecepatannya dalam menghentak pantat bu Ernita yang kini mulai tersungkur dan meringis dikarenakan gesekan pada dinding vaginanya mulai terasa panas.
"Oh...ampun pak..cepet keluarin pejuhnya oh" racau bu Ernita sambil meringis-ringis. 
Namun pak Risman malah semakin beringas melihat bu Ernita tersiksa dengan genjotannya. 
"Tenang saja bu...masih ada setengah jam lagi kan sebelum jam istirahat?" ucap pak Risman sambil menaikan ritme genjotannya dan mencengkram pantat putih mulus nan semok bu Ernita.
Ruang kepala sekolah tersebut memang letaknya agak jauh dari ruang-ruang yang lainnya di sekolah tersebut sehingga jarang sekali ada orang yang lewat di depannya. Namun hari itu entah merupakan kesialan atau keberuntungan bagi Rizal Ferianto, seorang murid kelas 2 SMA tersebut. Rizal bermaksud menyerahkan tugas perbaikan kepada bu Ernita dikarenakan nilainya jeblok pada mata pelajaran bu Ernita. Setelah mencari di kantor guru dia tidak mendapati bu Ernita di sana, namun salah satu staff tata usaha di sekolah itu mengatakan kalau bu Ernita tengah menghadap kepala sekolah. Rizal bergegas menyusul bu Ernita ke ruang kepala sekolah karena dia tak ingin ketinggalan mata pelajaran bu Astri guru favoritnya. Namun ketika hendak mengetuk ruangan kepala sekolah tersebut, sayup-sayup Rizal mendengar suara desahan wanita dari dalam ruangan tersebut dan diikuti geraman seorang pria. Rizal yang penasaran akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia kemudian mengintip melalui jendela yang terletak di pinggir ruangan tersebut. Seperti disambar gledek perasaan anak itu kagetnya bukan main melihat adegan yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Guru yang dia cari ternyata tengah berada di atas tubuh buncit kepala sekolahnya yang terlentang di sofa ruangan itu dengan mulut dipenuhi kemaluan kepala sekolahnya. Vaginanya tengah menduduki wajah kepala sekolah itu yang asik menjilat dan menyedot cairan yang keluar dari dalamnya. Adegan demi adegan ia lihat dari balik jendela itu sambil mengelusi kemaluannya sendiri. Ia tak percaya kalau guru yang kesehariannya alim tersebut bisa berlaku binal dengan seorang kepala sekolah bahkan lebih mirip pelacur ketimbang seorang guru.

Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah tersebut kedua insan yang sedang memacu birahi itu tidak menyadari kalau kegiatannya tersebut tengah ada yang mengintip. Mereka semakin panas melakukan persetubuhan itu, bahkan saat ini bu Ernita sedang menghentakan pantanya di pangkuan pak Risman dengan posisi membelakanginya. Tampak sekali senyuman senang dari bu Ernita mendengar pak Risman melenguh-lenguh menikmati goyangan pantat semoknya.
"Ouh...bu Ernita pintar sekali bergoyang...kontol saya tak ku..at lagih bu" ungkap pak Risman ketika kemaluannya akan menyemburkan isinya. 
"Hmmm...baru digoyang memek udah kelojotan pak, gimana kalo di goyang lubang ini" ujar bu Ernita sambil menunjukan lubang pantatnya di hadapan pak Risman dan menusuk-nusukan jari manis tangan kirinya ke lubang pantatnya sendiri.
"Tahan sebentar lagi saya juga nyampe pak...ouuuhhh" ucap bu Ernita lagi sambil memperhebat goyangan erotis di atas kemaluan pak Risman.
Akhirnya dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya mengalami orgasme yang hebat bertepatan dengan bel tanda istirahat sekolah tersebut berbunyi.  Setelah beristirahat beberapa menit tampak di ruangan itu bu Ernita tengah duduk bersimpuh di lantai di hadapan pak Risman yang duduk di sofa masih belum mengenakan celana dan mengelus-elus rambut bu Ernita yang tengah membersihkan kemaluan kepala sekolah tersebut dengan bibir dan lidahnya.
"Kamu hebat bu Ernita" ungkap pak Risman sambil mengelus-ngelus kepala bu Ernita. 
"Terimakasih pak" jawab bu Ernita singkat sambil tersenyum senang dan melanjutkan tugasnya kembali membersihkan kemaluan pak Risman. 
Hatinya sangat berbunga-bunga ketika mendapat pujian itu, entah kenapa ia kini malah senang jika dirinya dilecehkan oleh lawan jenisnya.
"Bu nanti kalau di kantor bertemu bu Astri tolong suruh dia menghadap saya ya" ucap pak Risman sambil tersenyum menerawang membayangkan korban berikutnya yang akan dia nikmati. 
"Baik pak, ta..tapi..." ucap bu Ernita terpotong. 
"Tapi apa bu?" tanya pak Risman yang melihat bu Ernita tertunduk. 
Lalu bu Ernita memandang mata kepala sekolah mesum itu dan tersenyum genit dengan kerlingan mata binalnya, dan berucap "kalau bapak udah dapet jatah dari bu Astri...saya pelacur bapak yang pertama kasih jatah juga ya pak". 
Mendengar itu gelak tawa menjijikan keluar dari mulut pak Risman sambil manggut-manggut dan menepuk-nepuk kepala bu Ernita yang tengah tersenyum nakal. Dan diluar ruangan itu rizal pun ikut tersenyum.

#######################
Bertepatan dengan jam istirahat sekolah bu Ernita keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah berseri-seri, ia tak habis pikir kenapa dirinya jadi sangat menyukai bersetubuh dengan pak Risman. Padahal dari segi penampilan sudah jelas sekali kalau pak Risman bukanlah laki-laki idaman, tapi lain halnya jika bu Ernita berpikir kearah kemaluan dan keperkasaan pak Risman.
"Uuuuh...ko aku jadi ngawur gini...hihihi" gumamnya.
Saat itu di ruang guru memang sedang ramai karena di jam istirahat seperti sekarang ini para guru berkumpul di sana. Mata bu Ernita menyapu sekeliling ruangan mencari-cari seseorang yang tadi diamanatkan pak Risman. 
"Eh bu Ernita, darimana aja dari jam sembilan gak keliatan" sapa seseorang sambil menepuk bahunya. 
Bu Ernita menoleh dan tersenyum kepada orang tersebut yang tak lain adalah bu Linda seorang guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Sepintas tentang bu Linda, ia adalah seorang janda muda yang belum mempunyai keturunan. Tinggi badannya hampir sama dengan bu Ernita, mempunyai wajah oval dan hidung mancung dengan bibir sensual yang selalu ia hiasi dengan lipstik tebal. Namun yang membuat bu Linda jadi pusat perhatian adalah ukuran payudaranya yang besar menonjol di balik baju seragam mengajarnya, yang membuat semua laki-laki berkhayal untuk menjamahnya.
“Eh bu Linda, hmmm tadi aku dipanggil lagi buat test sama bapak kepala sekolah..katanya sih buat seleksi itu" papar bu Ernita menjelaskan.
"Oh...terus-terus gimana testnya bu?" tanya bu Linda penasaran. 
"Yaaa...gitu aja test, nanti juga ibu bakal dipanggil ko" jawab bu Ernita dengan tersenyum ramah pada rekannya, padahal dalam pikirannya ia tengah membayangkan bagaimana nanti bu Linda akan digagahi pak Risman.
"Ngomong-ngomong bu Linda lihat bu Astri gak?" Bu Ernita balik bertanya. "Tuh.." Jawab bu Linda singkat sambil menunjuk kearah wanita cantik berpakaian hijau khas PNS dengan rambut pendek.
"Oh iya, sebentar ya bu saya tinggal dulu..ada yang mau saya sampaikan sama bu Astri" ucap bu Ernita sambil melangkahkan kakinya menghampiri perempuan yang ditunjukan bu Linda.
Bu Astri adalah seorang guru matematika di sekolah itu, usianya satu tahun lebih muda dari bu Ernita, sudah menikah tiga tahun akan tetapi belum mempunyai keturunan. Tinggi badannya sedikit lebih pendek dari bu Ernita namun pantat dan payudaranya tidak kalah menggiurkan dari bu Ernita ataupun bu Linda.
"Bu Astri bisa bicara sebentar?" tanya bu Ernita ketika ia menghampiri bu Astri. 
"Oh tentu bu, ada apa?" Bu astri balik bertanya.
Lalu bu Ernita menjelaskan dengan singkat tentang seleksi yang diadakan kepala sekolah untuk guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. 
"Hmmm...terus testnya gimana bu?" tanya bu Astri penasaran. 
"Cuma test biasa ko bu, sekarang bu Astri disuruh menghadap pak Risman di ruangannya" seru bu Ernita. 
"Oh gitu...kalau begitu saya tinggal ya bu Erni" sahut bu Astri sambil bergegas meninggalkan ruangan itu menuju ruangan kepala sekolah dengan perasaan penasaran diiringi senyuman misterius bu Ernita.


Beberapa menit kemudian bu Astri sudah berada di depan ruang kepala sekolah tersebut. Melihat ruangan itu terbuka dan nampak pak Risman si mpunya ruangan tengah serius melihat ke layar komputer di depannya.
"Selamat pagi pak,permisi" ucap bu Astri. 
Mendengar suara merdu perempuan pak Risman langsung menoleh dan tersenyum. 
"Eh bu Astri..ayo mari silahkan masuk bu" ucapnya dengan nada yang dibuat seberwibawa mungkin. 
Setelah di dalam ruangannya pak Risman dengan sopan mempersilahkan bu Astri duduk di kursi depan mejanya. 
"Katanya bapak ngadain seleksi buat guru-guru disini ya?" Bu Astri langsung bertanya pada pokok permasalahan. 
"Oh iya benar bu" lalu pak Risman menerangkan segala hal seperti yang ia terangkan kepada bu Ernita kemarin di ruangan tersebut. 
Seperti halnya bu Ernita kemarin, bu Astri sangat tidak percaya dengan apa yang diminta oleh kepala sekolah tersebut. Hatinya geram mendengar permintaan atau lebih kasarnya paksaan dari seorang kepala sekolah tersebut untuk menikmati kesintalan tubuhnya. Ia pun mulai memaki pak Risman namun hanya ditanggapi dengan senyum yang sangat menjijikan oleh pak Risman. Bahkan bu Astri sampai menangis karena merasa terhina oleh permintaan kepala sekolah yang seharusnya jadi panutan untuk dirinya dan pengajar-pengajar yang lain.
"Sudahlah...bu Astri tak perlu marah apalagi menangis seperti itu, kalau tak mau ya silahkan angkat kaki dari sekolah ini" ucap pak Risman jumawa. 
Ia merasa wanita ini sudah pasti bisa ia taklukan. 
"Bu Ernita juga sama pertamanya seperti anda..tapi ibu lihat sendiri kan dia hari ini?" Ucap pak Risman enteng. 
Bagai disambar petir bu Astri mendengar kata-kata itu. Ia tak percaya bu Ernita rekan sesama pengajar di sekolah tersebut bisa menerima tawaran kepala sekolah mesum ini.
"Tidak pak...saya bukan wanita seperti itu" ucap bu Astri dengan geram. 
"Baiklah bu, silahkan anda tinggalkan sekolah ini dan jangan kembali lagi...karena anda saya anggap gagal hari ini juga". ucap pak Risman yang sedikit membentak bu Astri.
Akhirnya bu Astri meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa. Di persimpangan jalan antara ruang kepala sekolah dan ruang guru ia berhenti untuk meredakan emosinya agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain. Sementara itu, sepeninggal bu Astri dari ruangan kepala sekolah nampak Mang Yono datang ke ruangan tersebut. 

"Permisi pak Risman, boleh saya bicara sebentar sama bapak?" ucap mang Yono di depan pintu. 
Pak Risman mencoba menyembunyikan kekesalan hatinya karena kejadian barusan dengan bu Astri. 
"Eh..hmmm...iya ada apa mang" jawab pak Risman tergagap. 
"Ini pak langsung aja ya" jawab mang Yono lalu memaparkan maksudnya kepada pak Risman. 
Ya mang Yono telah menyaksikan apa yang kemarin pak Risman dan bu Ernita lakukan di ruangan tersebut bahkan ia sampai mengabadikan kejadian tersebut dengan kamera handphonenya. 
"jadi maksudnya apa mang" tanya pak Risman ketakutan.
"Gak ada maksud apa-apa ko pak, saya cuma pengen dapet bagian juga" jawab mang Yono sambil terkekeh menjijikan. 
Mendengar jawaban mang Yono hati pak Risman merasa lega, ternyata laki-laki ini juga sama mesumnya dengan dirinya. 
"Ha..ha..ha..bilang kek dari tadi mang, kalau itu sih gampang..nanti kita nikmatin bareng-bareng" jawab pak Risman lega. 
"Jadi kapan nih pak saya boleh nyicip memek guru bahenol" tanya mang Yono kurang ajar. 
Tampak pak Risman mengelus-ngelus dagunya sendiri seakan-akan berfikir.
"Oke...nanti sepulang sekolah mamang ke sini aja ya..saya coba hubungi bu Ernita dulu" jawab pak Risman mantap sambil mengeluarkan blackberry dari saku celananya.

Bersambung
By: Lagimabok


Admin Mesum - 00.25

Minggu, 04 Mei 2014

Romantisme Polwan (Lanjutan 02)

Minggu, 04 Mei 2014

Lanjutan :

Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Alex di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu. Disamping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan? Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara dijalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa?? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat dipikiranku.
“Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini??”
Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Alex memberikanku kenikmatan yang tiada tara. Memberi Kenikmatan?? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Alex telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya?? Ah jangan aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
*
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap sms atau telpon dari Alex tidak pernah kujawab. Aku tau dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan. Aku sudah bersih sekarang, tapi Alex tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
“ Mbak Tantri kemana aja?? Alex jadi khawatir nih. Maafin Alex atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak Alex tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Alex hanya terbawa suasana karena cintanya Alex sama Mbak.”
Itu sms darinya. Kumatikan hp yang kupegang, tidak mau kujawab sms yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
“ kamu cantiik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
Terngiang bisikan mesra Alex di sudut stadion pagi itu. Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku. Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi. Turun kebawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Alex sangan sexy. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Alex tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan. Perlahan kucopot satu persatu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan sexy mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Alex mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja dibawah kakiku, meninggalkan CD warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
“Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar sexy”
Kataku dalam hati, sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut BH dan CD warna putih. Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik. Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi. Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
“ dum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa”
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
“ ohhh kenapa aku jadi bergairah” batinku
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit . Ketiakku terlihat jelas, sangat sexy, bersih dan terawatt.
“terus goyang Tantri goyang”
Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang. Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Alex perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru nafasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan CD danBH putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Alex di depanku.
“ Alex gantengku cium aku sayang” fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“oooooooh”
kenapa bisa Tantri?? Kutuk diriku. Kamu mendesah-desah dikamarmu sendiri.
Begitu panas rasanya. Begitu bergelora. Kubuka kaitan BH yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini. Sudah lebih 12 jam dia terpenjara di dalam BH. Sudah saatnya ia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Alex penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisap.
“kamu belum pernah melihat inikan Alex??”batinku
“gimana bila kamu melihat ini??kamu akan terangsang Alex”
Aku semakin meracau. Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis.
Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“ kulum putting susuku Alex, hisap, hisap sesukamu, buat Mbak puas”
“oooooooooooooooh” jeritku.
Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut unttuk dicrootkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku kedalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Alex. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.kuangkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutkuuntuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat keatas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Alex hadir disana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir disana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Alex, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah. Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal keatas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan.
Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“HEggggggh” aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“aaaaggggggh” orgasme itu meledak.vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya . Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan nafas, tidak sanggup bernafas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini
“………………………………………………”
“Huhhhhhhhh” 10 detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh” aku ngos-ngosan sejenak . tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur.
Kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran disana. Hasil dari semburan yang pertama. Tak kuduga;
“ahhhhhhhh ya Tuhann…….”
Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“heggggggggggggggggggggh” kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku .
“aaaaaaaaaa………………………..” begitu nikmat. Sampai bola mataku yang hitam terangkat hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat, menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk
“huuuuuuuuuh” ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
Ooooh akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil nafasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“huhhhh……huhhhh..huuhhhhh” berusaha kuambil nafas lewat hidung dan meghembuskannya lewat mulut.
“Alex ….Alex …Alex belai Mbak sayang.”
Kubayangkan tangan in adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Alex yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak kea rah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang anal itu.
“Alex itu lubang pantat Mbak, ooo nikmatnya”
Kubayangkan terus kehadiran Alex dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir.
oooooh apa yang terjadi??
“ooooo my god……………………………….jangan lagi…….”
Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan nafas
“huuuuuu……………..ooooooooooooooh”
Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku. Begitu deras seperti air bah. Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“uuuuuuh Alex……………….” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“aaaaghhhhhhhhhhhhhhh……………………………”
Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“hahh….hah……hahhhhh” berusaha kukembalikan nafasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat.
“hah hahhh…….Alex….. ”
Lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
*
Pagi harinya
“ Brigadir Tantri persiapan” ujar pelatih berbaju hitam memberi komando.
“siap” jawabku
“ tembak!!”
“dor………….dor………………dor”
“berhenti, pasang pengaman, lepaskan peluru dari senjata, letakkan senjata!”
Pagi itu adalah saat berlatih menembak di lapangan tembak dekat asrama. Pria berbaju hitam itu adalah pelatih khusus menembak yang ditugaskan melatih kami hari ini.
“ ya maju kedepan Brigadir untuk melihat hasilnya!”
Aku maju seperti yang diinstruksikan ke sasaran tembak berjarak 110 meter dari posisi awal yang berbentuk lingkaran bertumpuk dari ukuran kecil sampai yang paling besar.
“lihat tembakanmu sudah menyentuh ring 3 dari 10 ring yang ada. Sangat bagus brigadier. Teruskan berlatih!”
“siap pelatih”
Setelah melihat target, kulepas kacamata khusus menembak dan peredam telinga yang melekat di telingaku.
“huuuufh akhirnya selesai juga”
Batinku lega karena satu tugas telah selesai terlaksana dengan lancar. Tapi dalam hati aku yakin pasti ada tugas lain yang menyusul. Ternyata dugaanku benar.
“ Brigadir tantri anda diminta menghadap kepala bagian”
“ siap senior segera laksanakan.”
Celaka batinku dalam hati. Apa lagi tugas yang akan diberikan kepadaku???atau jangan-jangan aku bikin kesalahan? Jujur aku kurang nyaman ketika dipanggil oleh Kabag unit tugasku. Pria ini sudah berusia pertengahan kepala 4. Badannya tambun, jelek. Terkenal suka main wanita dan kadang melakukan tindak pelecehan kepada anak buahnya. Hahhhh pekerjaan ini benar-benar membuatku tertekan.
*
“tok..tok..tok”
“siapa??”
“siap Brigadir Tantri Komandan ijin menghadap”
“masuk”
Aku masuk ke ruangan berukuran sempit, pengap dan penuh asap rokok itu. Dibalik meja duduk sosok kepala bagian di kursi kerjanya dengan sikap yang sangat menyebalkan. Punggungnya disandarkan di kursinya sampai melengkung tidak tahan menampung beban tubuhnya yang tambun. Tangannya terus menghirup dan menghembuskan asap rokok seperti kereta api. Tatapannya, ini yang paling aku benci, sangat mesum. Seolah menelanjangiku dari atas kebawah.
“ijin menghadap Komandan!” kataku tegas dengan sikap sempurna dan memberi hormat.
“santai aja Tri he he. Gak usah panggil komandan kalo perlu panggil aja Mas Burhan”
“ siap tidak Komandan” jawabku terhadap pria yang bernama Burhan ini.
“ gimana tawaranku untuk ngajak kamu bertugas di ibu kota sudah kamu pikirkan belum???lumayan lho Tri kamu cantik dan cocok tugas disana”
“ siap komandan saya masih belum tertarik”
“Tri..Tri kamu itu kok naïf banget” Burhan bicara sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri aku yang sedang berdiri dalam posisi sikap sempurna tidak jauh dari hadapannya.
“sebentar Bapak tutup dulu pintunya”
Degg berhenti jantungku berdetak dengan komentar bapak mesum ini, dia mau menutup pintu meninggalkan kami berdua. Ooooh tidak .
“krekk” ( bunyi pintu ditutup)
“Tri udahlah jangan terlalu idealis” katanya sambil melangkah menghampiriku dari belakang.
“ kamu itu cantik Tri snif snif snif”. Dia dengan mudah menghirup aroma tubuhku karena posisinya sekarang dekat sekali dengan rambutku.
“snif…snif..rambutmu harum Tri” katanya sambil menghisap aroma rambut pendekku yang memang selalu terawat.
Aku sangat waspada kini. Kukepalkan tanganku menahan geram karena tindakannya yang mesum. Kalo saja dia bukan komandanku.
“ tetap sikap sempurna brigadir!” suruhnya sambil kedua tangannya menempel di kedua pantatku yang terbalut rok kerja ketat.
tangannya memegang erat kedua pantatku yang menonjol dan meremas-remasnya seperti meremas payudara;
“ pantatmu indah Brigadir…….ooh betapa beruntung yang bisa menikmatinya”
Terus dia meremas-remas bongkahan pantat itu , dan aku hanya terdiam. Tidak sanggup melakukan apa-apa karena dia adalah komandanku. Tapi dia sudah kelewatan dan aku harus melawan. Aku masih punya harga diri. Aku kuat.
“ayo Tantri jangan diam saja lawan dia” kata suara hatiku.
Baiklah aku harus lawan perbuatan mesumnya ini.
“kkooooomandan” kataku dengan bergetar namun tegas
“ apa Brigadir???”
“lepaskan tangan komandan dari tubuh saya!!!”
“kamu berani sama aku sekarang Tri??”
“kalo komandan masih menyentuh lagi, Tantri akan laporkan ke markas besar”
“kurang ajar kamu ya Tri, gak tau diuntung kamu, dasar perempuan sundal”
Tertusuk hatiku mendengar ucapannya yang begitu merendahkan itu
“keluar kamu jalang!!!!” teriaknya sambil membanting asbak rokoknya sampai jatuh dari meja.
Segera aku balik kanan dengan perasaan yang begitu hancur setelah menerima tindakan pelecehan yang begitu tragis. Aku melangkah cepat dengan mata yang berkaca-kaca untuk segera menuju parkiran motor. Aku ingin segera pulang untuk menenangkan diri.
“Tri, Tantri mau kemana kamu inikan baru jam 11, belum waktunya pulang” tanya Sinta polwan teman wanita satu asramaku yang melihat aku hendak cabut ke asrama.
“ iya Sinta ada barang yang tertinggal sebentar ya aku pulang dulu” dustaku
Selepas pertemuan dengan Sinta kugeber motorku dengan kecepatan tinggi sambil menangis tersedu sedu. Sesampainya di asrama tangisanku semakin menjadi. Kubanting barang-barang dikamarku sebagai pelampiasan atas emosi akibat peristiwa tadi.
“rrrrrrt….rrrrrrt”
Bunyi sms sejenak menyadarkanku untuk tidak tenggelam dalam emosi berkepanjangan. Kubuka hp ku untuk melihat isinya siapa tau penting, ternyata itu Alex
“ Mbak maafkan alex ya. Mbak sudah menghilang 2 minggu ini. Alex ijin maen ke asrama nanti malam ya Mbak??kalo dibolehin”
Aku masih kesal dengan Alex tapi memerlukan seseorang untuk memelukku, menentramkan hatiku yang sedang sedih akibat pelecehan tadi.
Cepat kuketikkan sms untuK menjawab smsnya:
IYA NANTI MALAM MBAK SENDIRIAN, SINTA LAGI ADA TUGAS MALAM. JAM 7 MBAK TUNGGU KAMU. AWAS JANGAN TELAT !! KALO TELAT KAMU JANGAN BERANI MENGHUBUNGI MBAK LAGI!”
Hahh kutarik nafas panjang.
“Rrrrrrt rrrrt”
datang sms balasan dari Alex
“SIAP MBAK PERCAYA ALEX PASTI TEPAT WAKTU”
Bip (kumatikan hp)
Hufffff kembali kutarik nafas yang lebih pajang dari sebelumya.
“tolong Hibur Mbak Alex”.

bersambung


Admin Mesum - 17.09

Romantisme Polwan

Akhirnya sirine yang kutunggu itupun berbunyi. Dengan iramanya yang khas, sirine itu menjadi sinyal untuk kami agar segera melaksanakan apel sore dan bersiap untuk pulang ke asrama.
“ jaga kondusifitas keamanan sekitar dan setiap anggota wajib memberi tauladan yang baik kepada masyarakat”
kata komandan regu kami mengakhiri amanatnya pada sore hari yang mendung itu.
Akhirnya setelah rutinitas mengisi daftar hadir, aku segera berlari kecil untuk bergegas keparkiran motor, untuk mengambil kendaraanku. Rasanya birahuku sudah sampai diubun-ubun ingin segera menyalurkan hasrat bilogisku yang begitu bergelora.
Namaku Tantri seorang polisi wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu di lakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulitku eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai, rambutku tentu saja pendek sampai ke tengkuk. Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.
“rrrrrrrt,rrrrrrrrrrt”
Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal sms masuk.
Sambil duduk di jok motor aku buka hp dan membaca isinya , “ Hai Mbak sexy kutunggu kamu di kontrakkan sudah kusiapkan kejutan yang manis buat kamu”.
Itu sms dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya.
Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca sms ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama si Alex ini membuatku ketagihan secara seksual.
Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Alex yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal. Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Alex perlahan namun pasti mengajarkanku arti nikmatnya berhubungan badan.
10 menit kemudian sampailah aku di kediaman Alex yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini. Alex sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya 4 tahun dibawahku, Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga. Awal pertemuan kami terjadi di sana.
Sebagai anggota kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari. Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olahraga ataupun stadion kabupaten.
tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuanku dengan Alex. Saat itu, ditengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapa.
“ halo, selamat sore, maaf mengganggu Mbak ini aparat ya?”
“ iya benar, Mas siapa ya??”
Jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
“ perkenalkan nama saya Alex” sambil menjulurkan tangan, tanda ia ingin berkenalan.
“ Tantri” jawabku sambil menjabat tangan Alex
“ Mbak maaf ya gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, ini saya tunjukkan gerakan yang benar”
Alex kemudian mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
“ Untuk latihan kaki gerakan yang benar seperti ini Mbak, harus jongkok sampai kebawah ,dengan ini Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus”
Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya ganteng, dan yang terpenting dia berani untuk mengajak ngobrol seorang anggota. Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun kesexyan polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai KEBERANIAN untuk mendekati kami. itulah yang membuat beberapa diantara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup.
Tapi pemuda ini berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku. Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan diantara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini bagaimana Alex mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.
“ sekarang kita latihan trisep ya Mabak Tantri” alex berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kg yang berada di rak.
“ bagaimana gerakannya??” tanyaku
Jujur olahrafga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan.
“ pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, Seperti ini. Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, trus lengan ditahan, barbell diturunkan kebelakang kepala, satu set hitungan 10 kali”
Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut Gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex. Dia berdiri tepat dibelakangku untu menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Alex terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi keatas.
“ ayo mulai Mbak 1……2………3”
Gerakan latihan trisep itupun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan nafas Alex yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa Dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya. Alex terangsang batinku.
“ Mbak Tantri harum, aku suka bau badan Mbak….10 cukup”
Bisik Alex ketelingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat .
Sambil mengambil nafas karena kelelahan dan sedikit horny kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny. Saat inipun wajahku bersemu merah, orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga tapi jujur sebenarnya aku terangsang. mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat dibelakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.
“ Mbak kenapa ikut fitnes disini?”
“ iya biar badanku gak gemuk”
“ badan udah sexy gini kok dibilang gemuk”
“ hush badan semok gini kalo diliat seniorku masih dibilang gemuk tau”
“ berat ya pekerjaan Mbak”
“ iya makanya jarang ada cowo yang deketin aku”
Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
“ ada aku kok Mbak Tanti yang mau sama kamu he he” kata Alex sambil bercanda
“ ha ha nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowo kebanyakan”
Ujarku sambil melagkah ke ruang ganti untuk berganti baju.
Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang kerumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.
Namun mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Alex, fitnes menjadi semakin rutin kujalani. Setiap sore kudatangi Jos Gym untuk berlatih. Alex juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada disana. Setelah dua mingguan rutin belatih kami baru tahu kalo sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Alex hanya berjarak sekitar 7 menitan dari asramaku.
Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil sexy di hadapan Alex. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat. Penampilanku yang demikian rupanya membuat Alex juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang Alex tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.
Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Alex semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin. Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya.
Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yangmelekat di tubuhku, kadang cd tetap kekenakan kadang juga kutanggalkan . Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benangpun.
Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak. Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Cd yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut. Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi.
Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur akupun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tau artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Alex mengajakku untuk aerobik pagi bersama.
*
“ mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk”
Itu bunyi sms Alex pada saat aku sedang bersiap tidur.
“ ayo kebetulan besok hari sabtu,kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi” jawabku
“horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?”
“request apa ya Lex?”
“besok Mbak pake kaos merah yang sexy itu ya!”
“emang kenapa Lex?”
“gak apa Mbak , Alex senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu”
“yau udah besok Mbak pake baju itu deh”
“ makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama”
“ haa jam lima??? Gak kepagian tuh Lex??”
“ enggak Mbak udah rame kok jam segitu”
“ ya uda jam lima teng mbak sudah disitu, awas kamunya jangan telat ya mbak push up nanti”
“ siap Komandan”
Setelah tidur yang singkat, akupun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
“ pagi Mbak Tantri, mari masuk” seru Alex menaymbutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
“ Alex kamu hebat tepat waktu, tadinya Mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame??”
“ hush sini deh Mbak ada yang Alex mau omongin ama Mbak”
Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.
Alex kemudian terus berjalan mengajakku kesebuah sudut stadion yang remang-remang.
“ Alex awas ya jangan macem2!!! kamu kan tau siapa Mbak”
Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yanglekas curiga dengan modus Alex yang sangat mencurigakan ini.
“ nggak deh Mbak, Alex toh tau Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya . Apalagi kalo dipenjara takut banget deh Mbak. Ini alex Cuma mau jujur saja…..”
“Jujur apa alex???cepet donk ngomongnya!!! Atau mbak panggi l temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!!!” ancamku
“ ampun Mbak jangan donk, Alex Cuma beliin ini kok buat Mbak.” Kata Alex sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
“ ya ampun Alex kejutan apa ini??kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih”
“ dibuka donk Mbak kadonya” kata Alex
Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama. Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.
“ Alex inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak????”
“iya Mbak sejak pertemuan pertama Alex sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang alex sama mbak kok”
“ kamu baik banget Alex.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
“ sini mbak Alex pakein kalungnya, Alex sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku. Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Alex mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.
Alex memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Alex mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang. Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Alex memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.
“ Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak”
Kata Alex singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu. Dengan sabar Alex memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional. Alex sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana.
Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman. Dengan begitu mahir, Alex kemudia melepas pagutannya untuk kemudian berbisik ketelingaku.
“Mbak percaya sama Aku ya, Alex mau bawa Mbak ke langit ketujuh”
Alex membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu katapun. Alex melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Alex langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens disekitarnya. Ciuman untuk merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk meudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendangak sambil berdiri, dengan seorang pria yang asyik mengoral leherku yang jenjang.
“aaaarrrgggghhhhhh”
Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, sambil tanganku mengepal di balik bahu Alex berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan A lex mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi. Alex kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Alex tersenyum melihat wajahku sambil berucap
“Mbak semakin cantik saja kalo begini”
Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Alex memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.
“pegang besinya Mbak!”
Kata alex sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 cm diatasku. Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Alex secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya disekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra. Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.
“hggggggggggggh”
Aku tak tau apa yang terjadi tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai diubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Alex. Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Alex baru memainkan putingku dari luar. Alex memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku. Setelah badai nikmat itu reda. Alex memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai keatas dadaku.
“ jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Alex mau buat Mbak mabuk kenikmatan”.
Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan. Alex turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya
“ aroma Mbak membuatku tergila-gila”
katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari disana. Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku kelangit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang diatasku.
Sambil menjilat pusarku tangan Alex turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Alex menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Alex untuk berdiri berhadapan denganku.
“ jangan Alex Mbak malu”
“gak apa Mbak percaya sama Alex”
“sudah kamu disini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu”
“iya Mbak”
Alex kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumi ku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan cd merah yang menutupi bagian bawah tubuhku. Kembali kedua tangan Alex membuka sela-sela ketiakku dan membawanya keatas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia dibibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Ditengah pagutan itu tangan Alex tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitoris.
“ Youre shaved Mbak, betapa beruntungnya aku”
Itu bisiknya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah kemaluanku dari dalam cd merah. Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku keatas memandang langit.
“ kamu cantik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
“………hgg………………………………………”
Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Alex yang masih di area intimku kujepeit tangan itu. Aku orgasme. Semua aliran darahdalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak disana. Oooooow nikmatnya. Begitu nikamatnya. Tangan Alex tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
“ ayo Mbak Jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!!!!”
Bisik Alex kepadaku.
“hahhhh…………………………………………………………..”
Begitu nikmatnya… pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Alex.
“ ( heh…..heh….hehhh……) A…Alex”
“Ya Mbak” jawab Alex sambil memeluk tubuhku
“nikmat balet Alex”
“bener Mbak?”
Aku mengangguk
“kenapa bisa senikmat ini batinku
“Alex akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya Alex”
Aku kembali mengangguk.
Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Alex. Tentu tidak ada olahraga hari itu. Lututkuq kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Alex setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

bersambung


Admin Mesum - 17.04
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved