;

Minggu, 04 Mei 2014

Romantisme Polwan (Lanjutan 02)

Minggu, 04 Mei 2014

Lanjutan :

Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Alex di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu. Disamping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan? Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara dijalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa?? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat dipikiranku.
“Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini??”
Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Alex memberikanku kenikmatan yang tiada tara. Memberi Kenikmatan?? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Alex telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya?? Ah jangan aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
*
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap sms atau telpon dari Alex tidak pernah kujawab. Aku tau dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan. Aku sudah bersih sekarang, tapi Alex tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
“ Mbak Tantri kemana aja?? Alex jadi khawatir nih. Maafin Alex atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak Alex tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Alex hanya terbawa suasana karena cintanya Alex sama Mbak.”
Itu sms darinya. Kumatikan hp yang kupegang, tidak mau kujawab sms yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
“ kamu cantiik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
Terngiang bisikan mesra Alex di sudut stadion pagi itu. Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku. Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi. Turun kebawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Alex sangan sexy. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Alex tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan. Perlahan kucopot satu persatu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan sexy mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Alex mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja dibawah kakiku, meninggalkan CD warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
“Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar sexy”
Kataku dalam hati, sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut BH dan CD warna putih. Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik. Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi. Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
“ dum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa”
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
“ ohhh kenapa aku jadi bergairah” batinku
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit . Ketiakku terlihat jelas, sangat sexy, bersih dan terawatt.
“terus goyang Tantri goyang”
Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang. Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Alex perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru nafasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan CD danBH putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Alex di depanku.
“ Alex gantengku cium aku sayang” fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“oooooooh”
kenapa bisa Tantri?? Kutuk diriku. Kamu mendesah-desah dikamarmu sendiri.
Begitu panas rasanya. Begitu bergelora. Kubuka kaitan BH yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini. Sudah lebih 12 jam dia terpenjara di dalam BH. Sudah saatnya ia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Alex penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisap.
“kamu belum pernah melihat inikan Alex??”batinku
“gimana bila kamu melihat ini??kamu akan terangsang Alex”
Aku semakin meracau. Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis.
Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“ kulum putting susuku Alex, hisap, hisap sesukamu, buat Mbak puas”
“oooooooooooooooh” jeritku.
Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut unttuk dicrootkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku kedalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Alex. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.kuangkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutkuuntuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat keatas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Alex hadir disana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir disana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Alex, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah. Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal keatas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan.
Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“HEggggggh” aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“aaaaggggggh” orgasme itu meledak.vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya . Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan nafas, tidak sanggup bernafas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini
“………………………………………………”
“Huhhhhhhhh” 10 detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh” aku ngos-ngosan sejenak . tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur.
Kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran disana. Hasil dari semburan yang pertama. Tak kuduga;
“ahhhhhhhh ya Tuhann…….”
Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“heggggggggggggggggggggh” kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku .
“aaaaaaaaaa………………………..” begitu nikmat. Sampai bola mataku yang hitam terangkat hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat, menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk
“huuuuuuuuuh” ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
Ooooh akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil nafasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“huhhhh……huhhhh..huuhhhhh” berusaha kuambil nafas lewat hidung dan meghembuskannya lewat mulut.
“Alex ….Alex …Alex belai Mbak sayang.”
Kubayangkan tangan in adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Alex yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak kea rah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang anal itu.
“Alex itu lubang pantat Mbak, ooo nikmatnya”
Kubayangkan terus kehadiran Alex dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir.
oooooh apa yang terjadi??
“ooooo my god……………………………….jangan lagi…….”
Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan nafas
“huuuuuu……………..ooooooooooooooh”
Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku. Begitu deras seperti air bah. Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“uuuuuuh Alex……………….” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“aaaaghhhhhhhhhhhhhhh……………………………”
Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“hahh….hah……hahhhhh” berusaha kukembalikan nafasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat.
“hah hahhh…….Alex….. ”
Lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
*
Pagi harinya
“ Brigadir Tantri persiapan” ujar pelatih berbaju hitam memberi komando.
“siap” jawabku
“ tembak!!”
“dor………….dor………………dor”
“berhenti, pasang pengaman, lepaskan peluru dari senjata, letakkan senjata!”
Pagi itu adalah saat berlatih menembak di lapangan tembak dekat asrama. Pria berbaju hitam itu adalah pelatih khusus menembak yang ditugaskan melatih kami hari ini.
“ ya maju kedepan Brigadir untuk melihat hasilnya!”
Aku maju seperti yang diinstruksikan ke sasaran tembak berjarak 110 meter dari posisi awal yang berbentuk lingkaran bertumpuk dari ukuran kecil sampai yang paling besar.
“lihat tembakanmu sudah menyentuh ring 3 dari 10 ring yang ada. Sangat bagus brigadier. Teruskan berlatih!”
“siap pelatih”
Setelah melihat target, kulepas kacamata khusus menembak dan peredam telinga yang melekat di telingaku.
“huuuufh akhirnya selesai juga”
Batinku lega karena satu tugas telah selesai terlaksana dengan lancar. Tapi dalam hati aku yakin pasti ada tugas lain yang menyusul. Ternyata dugaanku benar.
“ Brigadir tantri anda diminta menghadap kepala bagian”
“ siap senior segera laksanakan.”
Celaka batinku dalam hati. Apa lagi tugas yang akan diberikan kepadaku???atau jangan-jangan aku bikin kesalahan? Jujur aku kurang nyaman ketika dipanggil oleh Kabag unit tugasku. Pria ini sudah berusia pertengahan kepala 4. Badannya tambun, jelek. Terkenal suka main wanita dan kadang melakukan tindak pelecehan kepada anak buahnya. Hahhhh pekerjaan ini benar-benar membuatku tertekan.
*
“tok..tok..tok”
“siapa??”
“siap Brigadir Tantri Komandan ijin menghadap”
“masuk”
Aku masuk ke ruangan berukuran sempit, pengap dan penuh asap rokok itu. Dibalik meja duduk sosok kepala bagian di kursi kerjanya dengan sikap yang sangat menyebalkan. Punggungnya disandarkan di kursinya sampai melengkung tidak tahan menampung beban tubuhnya yang tambun. Tangannya terus menghirup dan menghembuskan asap rokok seperti kereta api. Tatapannya, ini yang paling aku benci, sangat mesum. Seolah menelanjangiku dari atas kebawah.
“ijin menghadap Komandan!” kataku tegas dengan sikap sempurna dan memberi hormat.
“santai aja Tri he he. Gak usah panggil komandan kalo perlu panggil aja Mas Burhan”
“ siap tidak Komandan” jawabku terhadap pria yang bernama Burhan ini.
“ gimana tawaranku untuk ngajak kamu bertugas di ibu kota sudah kamu pikirkan belum???lumayan lho Tri kamu cantik dan cocok tugas disana”
“ siap komandan saya masih belum tertarik”
“Tri..Tri kamu itu kok naïf banget” Burhan bicara sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri aku yang sedang berdiri dalam posisi sikap sempurna tidak jauh dari hadapannya.
“sebentar Bapak tutup dulu pintunya”
Degg berhenti jantungku berdetak dengan komentar bapak mesum ini, dia mau menutup pintu meninggalkan kami berdua. Ooooh tidak .
“krekk” ( bunyi pintu ditutup)
“Tri udahlah jangan terlalu idealis” katanya sambil melangkah menghampiriku dari belakang.
“ kamu itu cantik Tri snif snif snif”. Dia dengan mudah menghirup aroma tubuhku karena posisinya sekarang dekat sekali dengan rambutku.
“snif…snif..rambutmu harum Tri” katanya sambil menghisap aroma rambut pendekku yang memang selalu terawat.
Aku sangat waspada kini. Kukepalkan tanganku menahan geram karena tindakannya yang mesum. Kalo saja dia bukan komandanku.
“ tetap sikap sempurna brigadir!” suruhnya sambil kedua tangannya menempel di kedua pantatku yang terbalut rok kerja ketat.
tangannya memegang erat kedua pantatku yang menonjol dan meremas-remasnya seperti meremas payudara;
“ pantatmu indah Brigadir…….ooh betapa beruntung yang bisa menikmatinya”
Terus dia meremas-remas bongkahan pantat itu , dan aku hanya terdiam. Tidak sanggup melakukan apa-apa karena dia adalah komandanku. Tapi dia sudah kelewatan dan aku harus melawan. Aku masih punya harga diri. Aku kuat.
“ayo Tantri jangan diam saja lawan dia” kata suara hatiku.
Baiklah aku harus lawan perbuatan mesumnya ini.
“kkooooomandan” kataku dengan bergetar namun tegas
“ apa Brigadir???”
“lepaskan tangan komandan dari tubuh saya!!!”
“kamu berani sama aku sekarang Tri??”
“kalo komandan masih menyentuh lagi, Tantri akan laporkan ke markas besar”
“kurang ajar kamu ya Tri, gak tau diuntung kamu, dasar perempuan sundal”
Tertusuk hatiku mendengar ucapannya yang begitu merendahkan itu
“keluar kamu jalang!!!!” teriaknya sambil membanting asbak rokoknya sampai jatuh dari meja.
Segera aku balik kanan dengan perasaan yang begitu hancur setelah menerima tindakan pelecehan yang begitu tragis. Aku melangkah cepat dengan mata yang berkaca-kaca untuk segera menuju parkiran motor. Aku ingin segera pulang untuk menenangkan diri.
“Tri, Tantri mau kemana kamu inikan baru jam 11, belum waktunya pulang” tanya Sinta polwan teman wanita satu asramaku yang melihat aku hendak cabut ke asrama.
“ iya Sinta ada barang yang tertinggal sebentar ya aku pulang dulu” dustaku
Selepas pertemuan dengan Sinta kugeber motorku dengan kecepatan tinggi sambil menangis tersedu sedu. Sesampainya di asrama tangisanku semakin menjadi. Kubanting barang-barang dikamarku sebagai pelampiasan atas emosi akibat peristiwa tadi.
“rrrrrrt….rrrrrrt”
Bunyi sms sejenak menyadarkanku untuk tidak tenggelam dalam emosi berkepanjangan. Kubuka hp ku untuk melihat isinya siapa tau penting, ternyata itu Alex
“ Mbak maafkan alex ya. Mbak sudah menghilang 2 minggu ini. Alex ijin maen ke asrama nanti malam ya Mbak??kalo dibolehin”
Aku masih kesal dengan Alex tapi memerlukan seseorang untuk memelukku, menentramkan hatiku yang sedang sedih akibat pelecehan tadi.
Cepat kuketikkan sms untuK menjawab smsnya:
IYA NANTI MALAM MBAK SENDIRIAN, SINTA LAGI ADA TUGAS MALAM. JAM 7 MBAK TUNGGU KAMU. AWAS JANGAN TELAT !! KALO TELAT KAMU JANGAN BERANI MENGHUBUNGI MBAK LAGI!”
Hahh kutarik nafas panjang.
“Rrrrrrt rrrrt”
datang sms balasan dari Alex
“SIAP MBAK PERCAYA ALEX PASTI TEPAT WAKTU”
Bip (kumatikan hp)
Hufffff kembali kutarik nafas yang lebih pajang dari sebelumya.
“tolong Hibur Mbak Alex”.

bersambung


Anda sedang membaca artikel tentang Romantisme Polwan (Lanjutan 02) dan anda bisa menemukan artikel Romantisme Polwan (Lanjutan 02) ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2014/05/romantisme-polwan-lanjutan-02.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Romantisme Polwan (Lanjutan 02) ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Romantisme Polwan (Lanjutan 02) sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 17.09
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved