;

Kamis, 24 Mei 2012

Terjebak Profesi II

Kamis, 24 Mei 2012

Cerita ini merupakan kelanjutan dari pengalaman salah seorang teman. Jika ada yang
belum tahu, teman saya ini namanya, sebut saja, Meli. Dia adalah salah seorang “escort
girl” high class yang saya kenal. Kalo ketemu dia, jangan pernah keluar kata “pelacur”
atau “bispak” atau “bisyar” lho. Bisa-bisa BT tuh si doi dan loe-loe pada batal crot dah.

Sore itu, saya mengantar pulang Meli sehabis dari Gym. Waktu itu dia memakai tanktop
setali berwarna hitam polos ketat dengan celana pendek. Seksi deh pokoknya. Sesampainya
didepan rumah, tiba-tiba meli memegang tanganku dan berkata, “Jim, muter-muter dulu
yuk.”. Dia menatap rumahnya yang masih banyak para tukang kayu ayahnya bekerja.
“Ha? Kenapa memangnya? emang loe kagak capek neh?”, tanyaku heran.
“Wis ta. Muter-muter aja dulu disini, atau kemana kek.”, ujarnya sedikit gusar.

Weleh…weleh…memangnya kenapa sih kalau langsung pulang? Pake acara muter-muter
segala. Mana BBM mahal lagi. Hehehe…Tapi biarpun aku ngomel2 dalam hati, tetap aku
turuti dia muter-muter didalam kompleks perumahan yang memang luas itu. Perumahan ini
terletak di sebelah barat kota S, cukup terkenal.

Setelah hampir 1 jam muter-muter, kami memutuskan untuk kembali kerumah. Mungkin dia
kasihan juga melihat aku yang kecapaian sehabis fitnes. Belum maem lagi neh…
Begitu sampai didepan, nampak dia menghela nafas.

“Emang kenapa sih, Mel? Sampe rumah kok malah ga suka. Kan enak bisa tidur…”.
“Itu kan menurutmu, Jim. Tuh lemburannya belum selesai. Si Didik dkk pasti belom

pulang.”.

Oh. Aku langsung mengerti.

“Gini aja. Apa mau gua temani kamu? Pasti mereka ga bakal berani macam-macam lagi.”,
tawarku. Meli diam saja, lalu dia menyahut, “Ga usah deh, Jim. Paling ya gapapa.”.
“Are you sure, gorgeous?”, godaku. Meli tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
Dia lalu turun dari mobil dan aku segera pulang kerumah. Pikiranku cuman satu
waktu itu: T I D U R !!! Capek tau…

Meli melepas sandalnya lalu kemudian masuk kedalam rumah dan cepat-cepat melangkah menuju
kamarnya yang berada di lantai 2. Dia berjalan dengan cepat namun tanpa suara, berjinjit.
Meli berharap tak seorangpun dari karyawannya menyadari bahwa dia telah pulang.
Bisa repot kalo mandor-mandor gatel yang mengerjainya dulu tahu kalo dia udah pulang.

Tetapi begitu sampai dilantai atas, ternyata dia melihat Didik, Soleh dan seseorang yang
tidak dikenal sedang duduk-duduk di lantai atas. Mereka masih tahu diri rupanya, tidak
duduk di sofa ruang tamu atas. Hehehe…
Begitu melihat Meli naek, ketiga lelaki itu langsung berdiri dan menyapa dengan ramah.
“Sore, Non.”, sapa Didik ramah. Soleh dan temannya juga menyapa ramah.
Meli cuman diam saja. Dia lalu berjalan semakin cepat menuju kamarnya.
“Pokoknya gua masuk kamar lalu dikunci, beres deh.”, pikirnya.

Namum Didik segera menghadang langkahnya, dan berkata, “Duh, jangan kesusu non.
Bentar aja.”. Kedua teman Didik yang lain tetap berdiri sambil menatap mereka
dengan tegang.

“Mau apa sih?”, ujar Meli ketus.
“Duh. Non ini ketus banget. Kita cuman mau pake non kok. Mereka sih, bukan saya. Pengen
nyoba katanya.”, sahut Didik.
“Ga ah. Gue lagi ga mood.”, kata Meli dingin.
“Lho…Trus kapan non mood? Kita sekarang bayar full kok.”, ujar Didik, sedikit memelas.

Dia lalu berpaling kepada temannya dan berkata, “Ayo. Ndi duitnya?”.
Soleh segera merogoh koceknya dan mengeluarkan beberapa lembar 50ribuan. Teman Didik yang
lain juga mengambil sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan pecahan 100ribuan.

“Nih, non. Mereka udah siap, masing-masing 600rb. Malam ini non ga ngapa-ngapain udah
dapat 1,2 juta. Lumayan toh.”, ujar Didik sambil tersenyum. Sambil mengumpulkan uang
dari teman-temannya dia menambahkan, “Mereka udah mandi kok non. Jadi udah bersih. Aku
tahu sampeyan suka cowok yang bersih kan?”. Didik lalu mendekat menyerahkan segepok
uang yang cukup tebal.

Dengan segan Meli menerima uang itu, lalu dihitungnya. Ketiga lelaki hidung belang
itupun menunggu dengan tegang. Yap, tepat satu juta dua ratus ribu rupiah.

“Nah, bagaimana non?”, ujar Didik pelan.

Meli lalu berpaling kepada mereka dan berkata, “Ya udah. Nang cepet muncrat sana.”
sambil masuk kedalam kamar. Sontak terdengar tawa dari ketiga cowok tersebut. Didik
berkata kepada Soleh, “Wes, dijamin uenak. Putih, seksi lagi. Hahaha…”. Lalu mereka
ikutan masuk kedalam kamar.

“Non, kenalin. Ini koncoku, bukan karyawan sini sih. Dia nyambut gawe di kontraktor,
staf pembelian. Namanya Rahmat. Ga cocok ama orangnya ya mbak? Jeneng keren wong ga
keren.”, sahut Didik sambil tertawa.

Meli cuman tersenyum kecil. Mereka lalu bersalaman.

“Wah, mbak-nya cakep dan seksi, apalagi pake baju begitu. Saya jadi adem panas.”, ujar
Rahmat spontan. Terdengar teman-temannya cekikikan. Meli lalu memasukkan segepok uang
itu kedalam dompetnya. Kedua “calon pelanggannya” menunggunya dengan gelisah.

Setelah selesai, Meli cuman berdiri saja memandang mereka. Ketiga cowok gatel itu nampak
juga bingung dan ragu-ragu mau ngapain. Bisikan demi bisikan sayup bisa didengar oleh

Meli.
“Ayo, wes nang maen sana.”
“Sopo dhisik?”
“Wah, emboh. Wes sampeyan dhisik Dik.”
“We…aku ora melu bayar kok. Duit entek.”, ujar Didik sambil meringis.
“Sampeyan lak durung pernah. Wes dhisikan.”
“Lha trus piye?”, ujar Soleh bingung.
“Yo mboh.”
Meli cuman diam saja memandangi para lelaki itu berbisik-bisik sendiri. Bah, kayak anak
kecil aja mereka ini. “Jadi ga nih? gue mau pigi.”, ujar Meli enteng.
“Ya bentar non. Awak dhewe jek rembukan.”, sahut Soleh gugup. Waduh, mau crot aja pake
musyawarah. Hehehe…Meli sebel juga melihat ketiga cowok itu. Kok pake acara malu-malu.

Mungkin Didik jadi BT juga melihat ulah teman-temannya. Dia lalu dengan tegas berkata,
“Wes. Ngewe wae. Rahmat, sampeyan dhisik. Sampeyan lak jek joko. Jarene pengen pertama
kali ama amoy. Tuh, wes keturutan. Nang cepet maen sono.”. Soleh tergelak mendengarnya,
sedang Rahmat cuman meringis.

“Non, Mas Rahmat iki jek joko. Jadi durung pengalaman. Sampeyan alon-alon ae ya?”, ujar
Didik. “Gombal jek joko. Bullshit !”, sahut Meli ketus.
“Lhe, beneran mbak. Sumpah. Elek-elek ngene aku jek joko iki.”, ujar Rahmat serius.
Meli diam saja.

“Wes. Kalian segera maen. Aku dan Soleh cuman melihat aja dulu.”, ujar Didik sambil
diiyakan Soleh. Mereka lalu duduk di lantai sambil memandangi Rahmat yang nampak gugup.
Meli diam saja sambil berkacak pinggang.

Tak lama kemudian, dengan kikuk Rahmat mendekati Meli dan mulai menciuminya. Kedua
tangannya memeluk punggung gadis itu sambil diusap-usap. Entah maksudnya apa. Soleh dan
Didik tertawa kecil menyaksikan pertunjukan hot itu sudah dimulai.

Mereka berciuman bibir selama beberapa saat. Meli cuman menanggapi dengan pasif saja.
Setelah puas melumat bibir gadis ini, Rahmat lalu menciumi payudaranya yang masih
dibalut tanktop ketat. Diremas-remasnya dengan gemas, lalu Rahmat menjilati belahan
payudara Meli yang tidak tertutup tanktop. Nafasnya semakin memburu.

“Mbak, buka baju donk.”, pinta Rahmat yang lalu disoraki oleh kedua temannya yang sedang
asyik mengamati mereka. Meli memperingatkan mereka agar tidak terlalu ribut, takutnya
banyak orang yang dengar. Didik dan Soleh lalu tersadar dan meminta maaf.

Perlahan Meli menarik tanktop hitamnya itu dan melepasnya, lalu meletakkannya perlahan
diatas meja rias. Dia juga melepas celana pendek jeans yang dipakainya. Rahmat
membelalakan mata. Didepannya ada seorang gadis yang seksi, memakai bra merah dengan cd
merah juga. Yang bikin menggoda, baik BH maupun CD-nya itu transparan dan berenda.

“Wow, seksi sekali mbak ini.”, celutuk Rahmat sambil menelan ludah. Dia lalu mendekat dan
mencium habis seluruh belahan payudara Meli. Setelah puas dia lalu berusaha melepas
kaitan BH dibagian belakang, namun beberapa kali mencoba tidak bisa.

“Yo ngene iki nek ga pengalaman. Lepas BH ae ora iso.”, tawa Soleh dan Didik bersamaan.
Meli cuman tersenyum lalu melepas sendiri kait BH-nya, tak lupa dia juga melepas CD-nya.
Biar cepet selesai, mungkin demikian pikir Meli. Rahmat nampak terpesona untuk yang kedua
kalinya. Dia lalu dengan segera melepas kemeja kerjanya dan celananya. Nampak penisnya
sudah menggantung keras.

Rahmat lalu menidurkan Meli keatas ranjang dan mulai menindihnya. Dengan bibirnya, Rahmat
menjilati tubuh gadis seksi ini dari atas kebawah. Disedotnya puting Meli dengan penuh

nafsu, sampai Meli berteriak kesakitan.

Mungkin karena tidak sabar ingin melepas keperjakaannya, Rahmat segera memposisikan
penisnya yang sudah menegang itu pas didepan vagina “escort girl” ini. Lalu hanya dengan
sekali dorong, dia sudah berhasil menyetubuhi gadis amoy ini. “Oh……”, erang Rahmat
penuh nikmat. Meli cuman menggigit bibirnya, merasakan sebuah penis asing memasuki liang
vaginanya.

Diliputi rasa nikmat yang tiada tara, Rahmat segera menggenjot Meli dengan penuh nafsu.
Dengan ganas dia mengkocok penisnya didalam vagina Meli sambil mengerang penuh nikmat.
Dia memegang pinggang Meli dan menariknya kedepan dan kebelakang, disesuaikan dengan
irama kocokan penisnya. Meli hanya bisa mengerang, merasakan sedikit sakit di
selangkangannya.

Dari ceritanya, tidak sampai 2 menit, Rahmat tiba-tiba mengejang dan berteriak
“Oh…Ah…” dan menyambut orgasmenya.

Penisnya menyemprotkan sperma dengan cepat didalam vagina Meli ini. Ya, dia mencapai
orgasme. Meli hanya mengerutkan dahi, menahan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
Rahmat menggoyangnya terlalu kasar sehingga dia tidak bisa ikut menikmati.

Setelah puas, dia lalu mencabut penisnya dan tidur merebah disebelah Meli.
“Oh, nikmat sekali anumu Mbak. Sip…”, ujarnya terengah-engah.

Meli diam saja. Dia lalu bangun dan mengambil beberapa tissue dan hendak membersihkan
vaginanya yang dipenuhi oleh cairan sperma Rahmat. Tiba-tiba Soleh yang sudah bugil naik
keatas ranjang dan berkata, “Mbak, ga usah dibersihkan. Biarin aja. Biar tambah becek.”.
Meli cuman memandang lelaki ini dengan heran. Tapi tanpa banyak bicara, Soleh segera
menindih Meli dan mendorong Rahmat agar turun dari ranjang.

“Wes. Minggiro sampeyan. Iki giliranku.”, kata Soleh sambil terkekeh-kekeh. Dengan loyo
Rahmat segera turun dari ranjang dan tiduran dilantai sambil tetap bugil. Rasa nikmat
masih melekat diseluruh tubuhnya.

Sama seperti Rahmat, Soleh nampaknya juga tidak sabar ingin menikmati anak gadis
majikannya ini. Lalu dia menusukkan penisnya kedalam vagina Meli dan setelah masuk
kedalam, dia segera mengkocoknya dengan cepat.

Meli hanya mengerang. Dia merasakan sedikit nikmat sekaligus nyeri. Soleh dengan ganas
menggoyang tubuhnya. Kedua tangan lelaki ini merengkuh payudaranya dan meremasnya dengan
gemas, sambil terus menyetubuhinya. Erangan demi erangan memenuhi kamar tidur Meli.

Soleh lalu mengangkat kedua lengan Meli dan menciumi ketiaknya dengan penuh nafsu. Dia
menjilati daerah itu dengan lidahnya, menikmati setiap incinya. Lalu dia mengarahkan
lidahnya dan menjilati puting buah dada Meli dengan cepat, memilin puting yang satunya,
sambil terus mengkocok penisnya. Meli hanya mengerang sambil menggigit bibirnya. Rasa
nyeri di selangkangannya masih belum hilang.

Setelah puas memainkan payudara Meli, Soleh segera memeluknya dari atas, lalu dengan
tempo yang semakin cepat, dia menyetubuhi anak majikannya ini dengan ganas.

“Ah…Ah…aduh…”, erang Meli merasakan nyeri yang semakin menyengatnya. Soleh tidak
memperdulikan hal itu, dia terus saja menyetubuhi gadis itu sambil menciumi lehernya.
Sekilas Meli melihat Didik sudah bugil juga namun dia tidak mendekat. Dia hanya duduk di
kursi sambil mengkocok penisnya sendiri, bermasturbasi. Rahmat masih tetap tidur di
lantai kamar, berharap bisa segera memulihkan tenaganya. Penisnya yang loyo terkulai
dan mengecil dipahanya.

Nah, kemudian ini nih bagian yang paling seru.

Saat mereka lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba pintu kamar Meli terbuka lebar. Adik perempuan
Meli, sebut saja Meiling, nyelonong masuk sambil membawa beberapa buku kuliah.
“Cie, kamu jek inget integral double nggak? Aku ajarin ….”

Rekan-rekan, bayangkan betapa kagetnya si Meiling, SEKALIGUS para cowok dan Meli itu

sendiri.

Meiling melihat kakak perempuannya (dipanggilnya “Cie Cie”) sedang disetubuhi
oleh seorang lelaki. Dia mengenal lelaki itu, namanya Soleh, salah seorang mandor tukang
yang bekerja pada ayahnya.

Rahmat yang sedang tiduran dilantai langsung bangun sambil mengambil apa aja yang bisa
digunakan untuk menutup bagian bawah tubuhnya. Terlihat dia hanya berhasil mengambil
tanktop hitam Meli dan menutup bagian penisnya.

Soleh, saking terkejutnya, dia langsung mengumpat dan mencabut penisnya dari vagina Meli
dan menggunakan bantal untuk menutup tubuhnya. Didik, yang posisinya paling dekat dengan
pintu sempat terjungkal kelantai saking kagetnya. Dia lalu dengan cepat membanting pintu
untuk menutupnya. Suasana didalam kamar yang tadinya penuh nafsu seksual sekarang berubah
menjadi tegang. Semua mata memandang Meiling.

“Cie…?”, ujar Meiling pelan. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Meli segera
duduk diranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut dan memandang adiknya dengan mata yang
berkaca-kaca.

“Cie ?”, tanya Meiling lagi. Kali ini nadanya bergetar. Tak lama kemudian meleleh air
matanya. Soleh dan Rahmat memandang Meiling dengan tegang, begitu juga dengan Didik.
Lalu Meiling segera membalikkan badan dan hendak keluar kamar. Namun Didik dengan cepat
memegang lengannya dan menariknya dengan keras sehingga dia jatuh ke lantai.

“Me…Meme. Didik, kamu jangan apa-apakan memeku ya. Awas kamu ya !”, teriak Meli
dengan keras. Didik diam saja, pandangannya tajam kearah Meiling.
“Cie…”, tangis Meiling sambil menutup kedua mata dengan tangannya. Didik berdiri pas
didepan dia, sambil bugil tentunya. Meli dengan cepat turun dari ranjang dan memeluk
adik wanitanya itu.

“Jangan kamu sentuh adikku.”, Teriak Meli dengan ketus. Meiling menangis sesenggukan.

“Didik, piye? Pengen coba adiknya pisan?”, goda Soleh. Meli memandang Soleh dengan tajam.

“Hei. Apa kamu kayak cie cie kamu juga?”, tanya Didik dengan agak keras.
Meiling tidak menjawab, dia tetap menangis sesenggukan.
“Hei. Jawab. Kamu kayak cie cie kamu juga apa nggak?”, tanya Didik lagi, lebih keras.
“Kayak apa seh…Aku ini ngga ngerti…”, teriak Meiling sambil menangis.

“Cie cie kamu kan cewek bayaran. Kami lagi pake dia.”, sahut Soleh enteng.
Ucapan Soleh itu membuat jantung Meiling seakan berhenti berdetak. Dia memandang

kakaknya,
hendak meminta jawaban, sekaligus kebenaran. Kedua bersaudara itu saling berpandangan
sesaat. Tanpa menjawab, Meli kembali memeluk adiknya sambil menangis.

“Tuh. Kami nggak memperkosa kakak kamu. Jadi kamu ga boleh marah sama kita.”, ujar Didik
yang kemudian diiyakan dengan cepat oleh Rahmat dan Soleh.
“Nah, kamu kayak kakak kamu apa nggak?”, ujar Didik lagi, sekarang nadanya lebih lembut.
Meiling menggeleng dengan lemah. Wong memang dia ini gadis baik-baik kok. Saya tau betul.

Didik lalu menarik Meli dan mendorongnya ke ranjang. Soleh segera mendekapnya sambil
menciuminya. Meli berusaha meronta, tetapi Didik mengancam akan menyakiti adiknya kalo
dia terus melawan. Akhirnya dia diam saja. Soleh tentu segera “bekerja” lagi, dia kembali
menciumi leher Meli dan meremasi kedua payudaranya dengan gemas.
Meiling merasa muak melihat pemandangan itu dan dia membuang muka. Hatinya hancur. Kakak
perempuan yang selama ini dia sayangi ternyata seorang pelacur. Hm…

“Apa kamu masih perawan?”, tanya Didik dengan tegas. Meiling memandang lelaki itu dengan
jijik sambil berkata, “Apa urusanmu?”.

BRAK !
Tiba-tiba Didik dengan keras menghantamkan tinjunya ke kursi sehingga membuat kaget

seluruh isi kamar. Soleh pun sampai menghentikan cumbuannya ke Meli.

“Jawab ! Apa kamu masih perawan?”, tanya Didik lagi dengan keras.

Dengan menangis, Meiling menganggukkan kepala. Yah. Dia memang gadis baek-baek, Dik.

“Wo..Sip, Dik. Entuk perawan amoy malam iki.”, celutuk Soleh ringan, disambut tawa

Rahman.
Meli berusaha berontak tetapi pelukan Soleh terlalu kuat.

Melihat jawaban Meiling, Didik lalu berkata, “Ya udah. Kamu keluar sana. Tapi jangan
bilang sama papa kamu apa yang kamu liat malam ini. Ngerti?”. Meli langsung menatap Didik
seakang tidak percaya. Tidak hanya dia, tetapi semua orang menatapnya dengan tidak
percaya. Meiling segera bangun dari duduknya. Dia memberesi buku-buku kalkulus yang tadi
berserakan sambil menangis sesenggukan.

Soleh segera protes, “Lho…kok dilepas, Dik? ono perawan dilepas. kon iki gob…”.
Belum selesai berbicara, Didik menjawabnya dengan keras, “Hei. Kita ini mungkin brengsek,
tetapi bukan Bajingan. Ngerti? Aku ga mau merusak gadis baek-baek. Inget, sampeyan juga
dhuwe anak perempuan neng deso. Gelem ta anak sampeyan diperkosa?”. Soleh langsung diam.
Ucapan Didik tadi benar-benar Skak-mat.

“Udah, kamu keluar saja. Ingat, jangan bilang papa kamu. Ngerti?”, ujar Didik.
Meiling hanya mengangguk lalu dengan cepat keluar kamar. Dia lalu duduk di kursi sofa
ruang tamu atas sambil menangis, dia menunggu kakaknya.

Didalam kamar, terlihat Soleh sudah mulai menyetubuhi Meli, menuntaskan apa yang tadi
tertunda sesaat. Meli diam saja membiarkan tubuhnya dinikmati oleh pegawai papanya. Dia
merasa sangat lega, adik perempuannya aman dari serangan, setidaknya untuk saat ini.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar Meli terbuka. Meiling melihat ketiga lelaki tersebut
keluar dari sana, Soleh, Didik dan Rahmat. Soleh keluar ruangan sambil menjilati jari
tengahnya, yang dipenuhi lendir.

“Lho, kok masih disini mbak?”, sapa Didik. Meiling diam saja sambil membuang muka.
Didik lalu duduk disebelah Meiling. Merasa jijik, Meiling segera memposisikan duduknya
agar menjauh. Soleh dan Rahman tertawa kecil. “Dik, jok sampeyan badhok dhewe yo.
Bagi2.”. Keduanya pun segera turun tangga, meninggalkan Dik dan Meiling sendirian di
lantai atas.

Merasa tidak nyaman, Meiling segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar

Meli. Didik menghela napas.

“Mbak, jaga baek-baek tuh perawan. Jangan diumbar kayak cie cie kamu.”. Meiling lalu
menghentikan langkahnya dan memandang Didik dengan tajam.
“Maksudmu?”

“Ya nggak ada.”, ujar Didik sambil berdiri lalu menuju tangga.
“Jangan jadi pelacur kayak cie cie kamu. Cari lelaki yang baik dan jadikan suami. OK?”.
Meiling hanya diam saja, memandang Didik yang langsung turun tangga.

Setelah itu, dia masuk kedalam kamar dan melihat Meli, yang masih bugil, sedang menangis.
Dia lalu mendekat dengan perasaan haru. Dibelainya kepala kakak perempuannya itu. Tak
terasa, dia ikut hanyut dalam suasana haru dan dia meneteskan air matanya. Mereka berdua
lalu menangis.

TAMAT


Anda sedang membaca artikel tentang Terjebak Profesi II dan anda bisa menemukan artikel Terjebak Profesi II ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2012/05/terjebak-profesi-ii.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Terjebak Profesi II ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Terjebak Profesi II sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 01.25
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved