;

Kamis, 24 Mei 2012

Pengobat Luka

Kamis, 24 Mei 2012

“Secara umum, luka anda sudah sembuh. Hampir dipastikan tidak ada infeksi” kata dokter. Ucapan dokter yang sudah beruban itu melegakanku. Novita, temanku yang menungguiku selama tiga hari opname juga terlihat lega. Sekilas, dia melirik luka dibahuku yang masih terbungkus perban.

“Namun untuk masalah fungsi alat vital, lebih baik disiapkan dulu saja beayanya,” kata dokter terus berbicara. Napasku menjadi sedikit sesak. Bukan hanya gara-gara problem itu, tapi dokter satu ini membicarakan masalah pribadiku di depan teman kuliahku tanpa merasa berdosa. Mungkin dia mengira jika Novita adalah keluargaku, lantaran dia menungguiku selama dirawat.

“Kira-kira butuh berapa dok,” tanyaku. Sudah kepalang tanggung, Novita sudah mengetahui kondisiku yang harusnya jadi rahasia itu. Dokter menjawab, “Barangkali Rp 8 juta hingga Rp 13 juta. Kami berlu melakukan observasi secara menyeluruh, untuk menentukan tindakan pengobatan yang tepat,” katanya. Tidak butuh waktu yang lama untuk memutuskan, mengingat beaya yang belum mampu ku jangkau itu. Beberapa jam setelah itu, sebuah taksi mengantarku pulang ke kost setelah tiga hari menginap di rumah sakit.

******
Siang itu memang menjadi hari yang buruk bagiku. Sepeda motorku mogok saat akan berangkat ke kampus. Padahal motor itu belum lama diservis. Terpaksa, motor aku tinggal di kost dan berangkat ke kampus naik bus kota. Rasanya, lumayan lama aku tidak merasakan pengapnya bus berasap tebal itu.

Bus itu tidak terlalu penuh dengan penumpang. Meski begitu, sejumlah penumpang, termasuk aku harus berdiri lantaran tidak memperoleh tempat duduk. Terpaksa aku menerima keadaan tersebut meski perjalanan dari kost menuju kampus membutuhkan waktu lebih dari setengah jam.

Sangat kebetulan, di dalam bus kota tersebut aku bertemu dengan Novita, kawan kuliahku. Dia duduk dibangku bagian tengah. “Lumayan, ada kawan ngobrol,” pikirku. Aku beringsut dari tempatku berdiri untuk mendekati Novita.

Seperti halnya aku, sebenarnya dia biasa naik sepeda motor ke kampus. “STNK aku kirim ke kampung untuk perpanjangan pajaknya,” katanya saat aku tanya alasannya tidak naik motor. Mungkin lantaran sedang musim razia, dia tidak berani menggunakan motornya.

Karena sudah akrab sebelumnya, kami asyik ngobrol. Novita adalah teman kuliahku satu angkatan. Orangnya kecil, imut dan sedikit cerewet, tapi itu yang justru membuat teman-teman sering gemas. Apalagi, dia sering ngomong ngaco dan ceplas ceplos.

Obrolan kami terhenti saat Novita tiba-tiba menjerit. Luput dari perhatianku, tangan seorang pria berhasil mengambil dompet yang ada di dalam tas Novita. Melihat korbannya teriak, lelaki itu bergegas jalan ke belakang mendekati pintu bus kota. “copet....copet....,” teriak Novita.

Aku pun tidak mungkin tinggal diam melihat dompet kawanku diambil oleh pencoleng itu. Terlebih, penumpang lain terlihat cuek, seakan aksi pencopetan bukanlah tindak kriminal. Aku pun menjulurkan kaki menghalangi langkah pencopet. Dia pun terjerembab dengan posisi telungkup. Maklum, sejak SMA hingga kuliah aku selalu berlatih karate. Hobby ini memang sangat berguna, terutama di saat genting seperti itu.

Aku pun menginjak lehernya. “Kembalikan dompetnya,” kataku menggertak. Dalam posisi terpojok seperti itu, mustahil dia akan melawan. Sebab, satu hentakan kaki bisa membuat tulang lehernya patah. Pencopet itu segera mengulurkan dompetnya, yang langsung saja aku rebut. Setelah dompet aku lemparkan ke Novita, injakan kaki mulai aku longgarkan.

Tiba-tiba dia memukul kakiku dengan cukup keras. Meski bisa membebaskan tubuhnya, namun serangannya tidak mampu menjatuhkanku. Dia berdiri. Tanpa kuduga, dia mengambil sebuah belati dan mencoba menusukku. Dengan tangan berputar, aku berusaha meringkus tangannya yang memegang belati. “Cressss,” belati berhasil aku rebut, namun sempat mengenai bahuku cukup dalam. Darah mengucur cukup deras.

Luka dibahu ini membuatku emosi. “Bajingan kau,” teriakku sembari mencoba menyerangnya. Wajah pencopet itu pucat pasi sembari terus bergerak menuju pintu, mencari kesempatan untuk lari. Tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja.

Sekali lagi, tanpa sempat kuduga, pencopet itu melakukan serangan terakhir sebelum akhirnya melompat dari bus yang masih melaju. Tendangannya mengenai tepat di selangkanganku. Kejadian itulah yang akhirnya membawaku ke rumah sakit selama tiga hari. Merasa berhutang budi, Novita lah yang menungguiku selama di rumah sakit.

****
Di kamar kost, aku mendesah galau. Ini adalah CD blue film ketiga yang aku stel. Dan, penisku sama sekali tidak bereaksi melihat tayangan panas tersebut. Aku berharap keajaiban melalui kaset keempat. Isinya adalah film favoritku, yang berisi adegan perkosaan yang dimainkan artis porno dari jepang.

Aku loloskan celana kolor yang aku pakai, sembari mataku terus melihat ke layar kaca. Adegan dalam film tersebut sudah sedemikian panas. Napasku pun mulai tersengal. Nafsuku menggelora. Namun, penis ini tetap mengkerut tanpa ada reaksi.

Aku mencoba membelai bagian tubuh kesayanganku ini dengan lembut. Aku sentuh bagian yang paling sensitif. Masih tidak ada reaksi. Aku pun menggenggamnya, dan mulai mengocoknya. Aku coba mengocok dengan lembut, dan terus aku percepat dengan genggaman yang lebih erat, sesuai gerakan kasar pemerkosa dalam film saat mengobok-obok vagina korbannya dengan penisnya. “Bangsaaaat...!!!” teriakku. Penis ini benar-benar sudah impoten.

****
“Tommy, dicari temanmu tuh,” kata salah satu kawan kost-ku pada suatu sore.
“Siapa?” tanyaku sembari membuka pintu.
“Nggak kenal. Tapi orangnya manis, imut,hehe. Tuh, dia nunggu di depan,” kata temanku. Aku pun beranjak ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata dia adalah Novita.

Segera saja, aku mengajaknya ke kamar. Kost-ku memang cukup bebas. Tidak ada induk semang yang menjaga kost. Rumah ini hanya memiliki seorang pembantu yang hanya datang pada pagi hari untuk bersih-bersih. Beberapa teman kost-ku sering mengajak pacarnya menginap.

“Dari mana Nov?” tanyaku setelah kami masuk kamar. “Ya dari kampus lah, terus langsung ke sini. Aku mengkhawatirkanmu Tom. Kamu belum pernah masuk sejak kau keluar dari rumah sakit,” kata Novita. Ya, aku memang belum mood untuk pergi ke kampus lantaran terlalu sibuk memikirkan batangku yang layu ini.

“Eittt, tumben kamu bisa bicara serius,haha,” kataku mencoba bergurau. Selama ini, gadis imut di depanku ini memang susah diajak serius. Bawaannya bercanda melulu. Di kalangan satu angkatan, semua sepakat menganggapnya sebagai ‘anak bungsu’. Terlebih, dengan siapapun dia manja setengah mati.

“Tom, aku serius nih. Aku merasa berdosa sekali. Kau kan sakit gara-gara aku,” katanya terus mencoba serius. “Sakit apa? Aku kan sudah sembuh. Lihat nih lukaku sudah kering,” kataku sembari menunjukkan bahuku. Bagaimanapun, aku tidak ingin dia merasa bersalah. Sebab, semua ini memang bukan salahnya, Mungkin memang takdir.

“Tom, emmmm,” katanya sembari beringsut duduk di kursi kamarku. “Emm apa?” tanyaku menyahut. Dia jadi sedikit salah tingkah. Dengan sedikit ragu dan malu, dia bertanya,” Maksudku, sakit yang satunya bagaimana Tom,” tanyanya yang membuatku langsung terdiam. Aku memang tidak bisa menjawab. Tapi dia pun bisa langsung menebak jawabanku.

“Tom, sumpah, aku merasa sangat berdosa lho. Kau menjadi seperti ini gara-gara menolongku. Aku sangat ingin membantumu, tadi tidak tahu harus mengobatkanmu kemana,” kata Novita nyerocos.
“Sudahlah Nov. Aku seperti ini juga ada manfaatnya juga kok,” kataku mencoba menghibur.
“Maksudmu?” tanyanya.
“Ya paling tidak aku, tidak akan memperkosamu di kamarku ini,hahaha,” kataku sembari mencoba bercanda. Tapi ternyata, Novita yang selama ini centil sama sekali tidak tertawa. Bahkan tersenyum pun tidak.

“Sama sekali tidak ada perubahan Tom?” tanyanya tetap serius. Lalu aku tunjukkan empat kaset blue yang ada di ranjangku. “Aku mencoba menonton film-film ini. Tidak ada reaksi. Padahal dulu, baru semenit nonton, anuku sudah bengkak,” kataku kembali mengajaknya berkelakar.

“Barangkali perlu rangsangan yang lain lho Tom. Aku coba yah,” katanya tiba-tiba. “Siapa tau ada reaksi Tom,” katanya melanjutkan. Ucapan dari mulut mungil itu membuatku bergetar. Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk berbuat mesum dengan Novita yang selama ini aku anggap kekanak-kanakan itu.

Aku sama sekali belum menjawab tawarannya. Jujur, selama hidup aku belum pernah menyentuh tubuh seorang wanita. Apalagi dengan Novita, yang selama ini aku anggap sebagai adikku. Tapi, tiba-tiba Novita sudah duduk disampingku, ditepi ranjang. Berlahan, dia melingkarkan tangannya ke leherku, dan memain-mainkan kupingku.

Aku pun tergagap. Belum pernah aku merasakan suasana seperti ini. Seorang gadis mungil tengah memelukku. Dadaku berdegup kencang. Meski mengalami disfungsi ereksi, aku masih tetap punya nafsu seperti layaknya lelali normal.

Tidak tahan dengan dorongan nafsu, langsung saja aku dorong tubuhnya. Aku rebahkan dia di atas ranjang. Tubuh ini serasa meledak-ledak. Aku menghimpit tubuhnya dengan tubuhku, hingga dia kesulitan untuk bergerak. Aku ciumi bibir, dagu hingga lehernya. Ku cumbu dia seperti kesetanan.

Secara naluri, tanganku pun mencoba mengelus payudaranya. Tidak sekedar mengelur, aku remas dengan kasar susunya yang terbungkus kaos ketat itu. Selama ini, aku memang selalu berfantasi tentang perkosaan. Aku memperlakukannya dengan kasar sesuai naluriku. Aku merasakan nafas ini semakin tersengal. Aku gesek-gesekkan selangkanganku ke pangkal pahanya.

Satu per satu, pakaian kami pun terlepas. Bagian terakhir, celana dalam kami juga sudah melayang. Tiba-tiba terasa sesuatu yang hangat di kemaluanku. Tangannya yang mungil ternyata sudah menggenggam kemaluanku. Aku pun terus menyerangnya dengan lumatan bibir di susunya yang sudah mulai mengeras. Napasku semakin memburu dikejar nafsu.

Darahku sudah di ubun-ubun. Dorongan keinginan untuk segera menusukkan penis ke liang senggamanya sudah sedemikian kuat. Ini adalah pengalaman pertamaku. Aku renggangkan pahanya. Satu yang ada dalam pikiranku, aku akan memperkosanya di sore hari ini.

Tiba-tiba, aku pun berguling. Nafsuku hilang seketika, melihat burung ini masih tetap saja tidur. Nafsu yang menggelora ini tidak direspon oleh kejantananku. “Sudahlah Nov, tidak ada gunanya. Cara ini justru membuatku lebih sakit,” kataku putus asa. “Aku sudah tidak bisa lagi,” kataku melanjutkan. Menahan sedih, aku pejamkan mataku sembari tidur telentang. Aku meratapi takdirku.

Tiba-tiba, aku rasakan sesuatu yang basah di kemaluanku. “ohhhhhhh,” ternyata Novita tengah menjilati kemaluanku. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan bisa mengalaminya. “Tom, rileks aja kamu,” katanya membisikiku.

Bibir mungilnya dengan mudah mengulum seluruh batang kejantananku yang berkerut kecil ini. Rasanya sangat aneh. Aku belum bisa merasakan kenikmatan, selain rasa geli. Di dalam mulutnya, dia melilit batang kontol ini dengan lidahnya. Lidah selembut beledu itu seakan mengurut batang penisku.

Novita terus memainkan batang penisku di mulutnya, meski tidak terlihat adanya perubahan sedikitpun. Dia terus mengurut penisku dengan mulut mungilnya, dari kepala penis menuju ke pangkal penis. Kemudian, dia meneruskannya dengan menggelitiki buah zakarku dengan lidahnya.

Sebuah sengatan tiba-tiba membuat darahku berdesir. Gelitikan lidah itu membuatku melayang. Perlahan, penisku menggeliat. “Tom, penismu bergerak,” katanya kegirangan. Namun, perubahannya masih sangat sedikit. Penis ini masih jauh dari tegang, hanya terlihat sedikit menggembung.

Novita belum putus asa. Lidahnya tetap tersapu ke kulit kantong testisku yang sensitif. Lidah itu terus turun dan mengarah ke lubang anus. “Geli Nov....ughhh...” kataku. Tapi dia tidak peduli. Dia menggerakkan lidahnya memutar, mengelilingi lobang anusku.

Aku kembali merasakan sengatan. Kali ini, rasanya cukup kuat. Sapuan lidahnya di lobang anus ini memang luar biasa. Perlahan namun pasti, penisku mulai bergerak dan mendongak, meski sama sekali tidak terasa keras. “Nov, bajingan kau...teruskan sayang,” desahku dengan penuh nafsu.

Novita merasa senang melihat usahanya sedikit membuahkan hasil. Dia kembali menyerang penisku yang mulai mengembang. Dia sapu seluruh batangnya dengan lidahnya.

Ya, usaha ini sudah separuh berhasil. Novita berhasil membuat penisku bangun. Namun, penis ini belum seratus persen tegang, baru separuhnya. Padahal, Novita sudah merangsangku dengan semua kemampuannya. Sekali lagi, dia belum putus asa.

“Tommy sayang, aku mau kontolmu sayang...sodok mulutku dengan kontolmu say...,” katanya merancau sembari mendesah. Dari cumbuan selama beberapa menit itu, nampaknya dia mulai tahu kalau aku sangat terobsesi dengan adegan perkosaan. Rancauan itu membuatku terangsang hebat. Aku gerakkan pantatku, menyodok mulutnya dengan penis yang mulai menggembung ini.

Dengan kasar, aku mendorongnya untuk tidur telentang. Kemudian, aku telungkup diatasnya. Aku arahkan penisku ke mulutnya, aku sodok dengan kasar. Aku mulai memperkosa mulutnya. Aku semakin menyodoknya dengan liar dan kasar. “Tommm...hufffff.....,” katanya kelabakan.

Badan kekarku membuat Novita kesulitan bergerak. Dia sudah terkunci di bawahku. Kurasakan, dia tersengal kesulitan bernapas. Sesekali, dia menjerit kecil minta untuk aku bebaskan dari himpitan kasarku.

Suasana ini membuatku semakin terangsang. Obsesi perkosaan yang selama ini menjadi fantasiku seakan jadi kenyataan. Ya, aku memperkosa mulutnya dengan sangat kasar. Tanpa aku sadari, penisku semakin keras. Di bawah sana, Novita semakin kewalahan lantaran mulutnya aku hunjam dengan gerakan liar. Tidak aku hiraukan bahwa penisku menyodok hingga ke kerongkongannya. Matanya yang mendelik membuatku lebih bergairah.

Aku pun mencoba merubah posisiku dengan duduk di tepi ranjang bersandar dengan tembok. Novita mengambil kesempatan itu untuk mengambil nafas. Tidak sabar, aku tarik kepalanya, aku dekatkan dengan batang kemaluanku yang sudah tegak penuh. Aku jambak rambutnya. Aku dorong kepalanya maju dan mundur. Dia tidak bisa teriak lantaran mulut mungilnya penuh dengan batang kejantananku.

Sebuah desakan yang dahsyat terasa di bagian bawah, di sekitar anus. Cairan sperma bersiap untuk meledak. Aku semakin tidak terkendali. Jambakan di rambutnya semakin kuat. “Rasakan kontolku anjiiiiiing,” kataku merancau. “Crottt...crotttt....” air mani memuncrat dalam mulutnya. Aku tetap menjambaknya agar dia tidak melepas penisku yang ada dalam mulutnya. Aku ingin dia meminum maniku.

****
“Maafkan aku Nov....Aku malah menyiksamu,” kataku sembari memeluknya dengan tubuh yang telanjang bulat. Dia hanya tersenyum. Sekali lagi, dia mengecup bibirku. “Yang penting kau sembuh, Tom,” katanya

Anda sedang membaca artikel tentang Pengobat Luka dan anda bisa menemukan artikel Pengobat Luka ini dengan url http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com/2012/05/pengobat-luka.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Pengobat Luka ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Pengobat Luka sumbernya.

Keyword : cerita seks,cerita dewasa,cerita,kumpulan cerita,mendesah,selingkuh,nikmat,sumber cerita,kumpulan cerita seks,hot story



Selamat Datang Di Cerita Seks Terbesar di Indonesia

Admin Mesum - 01.23
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved