;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Kamis, 04 Desember 2014

Ibu RT Ku, Bu Harjono

Kamis, 04 Desember 2014

Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.

Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut.

Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantumenemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.

Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,? Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya.

Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah.

Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har, kataku menenangkan.

Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari sayatidak sempat mandi, katanya kepada rekan-rekannya.

Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar.

Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas.

Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit, katanya.

Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai, suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang.

Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah,.. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam.

Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin.

Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harusmembungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini).

Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna , putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya.

Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit.

Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu kewaktu.

Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan. Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.

Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian, katanya.Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi, jawabku.Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetisitu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.

Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?Kata siapa, Rid?Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran, jawabku agak tergagap.Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua, ujarnya lirih.Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.

Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut, katanya lirih.Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya.

Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.

Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh.

Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.

Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi dibagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya.

Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan.

Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.

Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang, katanya lirih.Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan.

Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya.

Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman.

Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasannikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.

Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,Aku juga enak Rid, uh.. uh uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah,Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah, .. ah,Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah,

Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat, kata Ia sambil masih tiduran di dekatku.Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.Ya Maaf,.. soalnya tadi,..Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu danmenimbulkan aib diantara kita, ujarnya lirih.

Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian.


Admin Mesum - 01.26

Si Amoy dan Para Kuli Bangunan

Istriku bernama Diana, aku sudah menikah 3 tahun denganya. Ia seorang perempuan keturunan chinese yang berpenampilan sangat menarik. Umurnya 26 tahun, tinggi 165 cm, berat 50 kg, dada 34c, wajah sangat cantik dan kulit putih bersih. Kami belum dikaruniai anak. Ini dikarenakan aku tidak mencoba. Karena aku terlalu sibuk mengurus bisnis kecilku sehingga tidak ada waktu untuk istri. Aku ingin membuktikan kepada keluarganya, yang kebetulan lebih mapan dari keluargaku, bahwa aku mampu menghidupi istriku.

Kenakalan istriku dimulai sekitar 4 bulan lalu. Kami baru saja pindah rumah, tadinya kami tinggal bersama orang tuaku. Rumah baruku berada di komplek yang baru, sehingga belum banyak rumah yang terbangun. Di gang kami hanya ada 5 rumah jadi dan 2 rumah sedang dibangun. Pada suatu hari ketika sore sore kami melintas di depan salah satu rumah yang sedang dibangun, aku melihat seorang tukang bangunannya sedang membersihkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat. Aku melihat ke arah istriku yang ternyata juga melihat kejadian tersebut.
"hey jangan dilihatin aja entar nafsu lagi" candaku.
Istriku hanya tersipu malu. Aku tak terpikir istriku terangsang melihat hal seperti itu. Karena pertama, istriku tidak terlalu menikmati hubungan seks. Jadi dia bukan "sex oriented". Kedua, yang dilihat itu kan abang abang yang kasarnya adalah kuli bangunan, masa iya dia terangsang pikirku.

Sekitar 1 bulan setelah kejadian diatas, aku pulang cepat dari kantor karena kurang enak badan. Selama tinggal di rumah baru aku belum pernah pulang lebih cepat dari jam 10 malam. Seringnya aku pulang saat istri sudah tidur. Hari itu aku jam 5 sore sudah sampai di rumah. Ketika aku tiba, kutanya ke pembantu rumah tangga ku kemana istriku.
"ibu jalan jalan sore pak" kata pembantuku
"jalan sore? Emangnya dia sering jalan sore mbak?" tanyaku
"tiap hari pak" jawab pembantuku

Aku bingung, kenapa tidak pernah cerita ke aku. Terus aku berjalan keluar pagar, ku lihat kiri dan kanan, tidak ada penampakan istriku sama sekali. Kemudian aku berjalan ke arah ujung gang melewati rumah yang baru dibangun tersebut. Saat melintas di depannya aku agak sedikit heran, biasanya tukang tukangnya kalau malam pada ngumpul di depan. Tetapi hari ini tidak terlihat satupun. Aku terus berjalan ke arah ujung gang, sampai disana aku menoleh kiri kanan, juga tidak terlihat penampakan istriku. Yah sudah pikirku, entar juga balik. Aku kembali menuju rumah. Sesampai di depan rumah yang baru dibangun tersebut, samar samar aku mendengar suara tawa. Entah mengapa aku penasaran, sehingga aku melangkah masuk ke arah rumah tersebut. Kulihat pintu kayu utama tertutup rapat, sedangkan pintu samping yang berada di dalam garasi terbuka. Jadi aku menuju ke pintu itu perlahan lahan. Makin dekat ke pintu makin jelas suaranya. Terdengar seperti ada suara perempuan. Ketika aku berhenti pas disamping pintu dan menguping, jelas terdengar itu adalah suara istriku.
"kontol bang joko gede banget sih, aku selalu sakit kalo abis dientot bang joko. Pelan pelan masukinnya bang, kan kalo lecet kasian temen temennya nanti ngak ngerasain aku hari ini." kata istriku manja.
"ini mah memeknya neng diana aja yang peret, jarang dipake suami sih" kata si joko
Terus terdengarlah suara desahan istriku antara menahan sakit atau menikmati.

Aku mencoba bersabar dulu, aku berjongkok dan mengintip ke dalam pelan pelan. Alangkah kagetnya aku melihat adegan mesum istriku dengan si joko dan yang membuat ku lebih kaget lagi ternyata tidak hanya satu abang tetapi ada 6 abang. Di dalam terdapat sebuah matras tipis, istriku nungging di atasnya. Joko menyodoknya dari belakang "doggie style". Joko mungkin berumur sekitar 40 an, hitam berotot dan memiliki wajah yang sangar, mirip bandit. Kemaluannya memang terlihat sangat besar dan hitam. sangat kontras dengan istriku yang putih bersih. Di sekeliling istriku terdapat 3 abang abang yang sibuk mengelus elus tubuh istriku dan memainkan buah dadanya. Yang dua orang lagi sibuk onani sambil menonton.
"bang wawan sini kontolnya aku sepongin" minta istriku sambil terengah engah disodok oleh joko.
Tanpa ragu wawan langsung menyodorkan kemaluannya dan langsung dilahap buas oleh istriku. Padahal biasanya istriku tidak suka oral seks. Wawan kelihatan seperti masih 20 an, agak kurus tapi tinggi, cukup berotot, rambut panjang, kulit hitam dan tampang tidak terlalu jelek. Kemaluannya tidak sebesar joko tapi cukup panjang.
"sepongannya neng diana mantab" kata wawan sambil mendesah menikmati

Tidak lebih dari 5 menit wawan terlihat kelojotan kegelian.
"ah neng abang keluar ah ah" teriak wawan sambil kedua tangannya memegang erat kepala istriku seolah olah ia berusaha agar tidak ada spermanya yang menetes keluar. Gilanya istriku tidak terlihat menolak, malah waktu si wawan mencabut kemaluannya, kepala kemaluannya tersebut dijilat jilat sampe bersih oleh istriku.
"bang wawan pejunya enak deh" kata istriku manja

Sampai disini aku heran juga terhadap diriku. Aku bukannya marah malah terangsang untuk nonton terus. Sepertinya aku malah menikmati kejadian ini. Kemudian joko minta berganti gaya, ia terbaring telentang dan istriku menungganginya.
"ayo siapa lagi yang mau disepongin, mulutku nganggur nih" kata istriku
"giliran gue yah" kata seseorang
"ayo sini bang tatang" kata istriku
Tatang berperawakan agak pendek gemuk. Umur mungkin hampir 30, kulit hitam, rambut cepak. Kemaluannya tidak terlalu panjang tapi agak tebal.
"tang elu jangan kaya si wawan lu, masa baru disepong gitu aja dah ngak kuat" ledek joko.
"tenang bang, pokoknya kalo belom ngentotin neng diana ane belum mau keluar" sahut tatang
"iya dong bang aku kan pengennya dientot kontol banyak" kata istriku
Tak lama kemudian joko terlihat kegelian
"ah neng abang puas ah neng ah ah" teriak joko
"abang ah geli ah ah ah" teriak istriku yang ternyata juga orgasme berbarengan
Istriku kemudian berdiri dan terlihat spermanya joko menetes ke arah paha dan selangkangan istriku basah dengan sperma.
"sekarang bang tatang yah yang entot aku" kata istriku

Kemudian istri kembali mengambil posisi nungging, meminta tatang sodok dari belakang
"bang tarjo sini aku sepongin" pinta istriku
"dia aja dulu nih neng, anak baru. Si adang kan belum pernah ngerasain neng diana" kata tarjo
"ini mah masih perjaka kali yah?" canda istriku
Adang tersipu malu. Memang adang terlihat masih sangat muda, kayaknya masih belasan. Tapi kalau soal ukuran kemaluan tidak malu maluin.
"tahan yah jangan cepet cepet keluar" kata istriku
Mulailah istriku menghisap dan mengulum kemaluan si adang. Sedangkan tatang tetap sibuk menyodok dari belakang.
Tidak bertahan lama si adang teriak teriak kegelian dan muncratlah spermanya ke dalam mulut istriku.
"gila banyak bangat sih nih peju, memang bener nih masih perjaka" ledek istriku
Adang hanya tersipu malu. Lalu berselang semenit tatang pun puas
"ah neng enaknya nih memek ah ah" teriak adang

Setelah memuaskan empat abang abang istriku tetap terlihat semangat. Kemudian ia berbaring terlentang dengan keadaan ngengkang, memeknya penuh sperma dan mulutnya juga belepotan sperma.
"bang tarjo gagahin aku dari atas yah" minta istriku
Kemudian tanpa ragu tarjo langsung menerkam dan menindih istriku. Tarjo berbadan tegap berotot dan penuh tato, dengan kemaluan cukup besar. Ia mulai mengatur ritme. Perlahan lahan kemudian dipercepat genjotannya. Terdengar suara terengah engah dari keduanya. Dari tampangnya istriku tampak sangat menikmatinya. Tarjo pun demikian tanpa henti ia mengenjot istriku. Tak lama kemudian hampir berbarengan mereka mencapai puncak.
"neng diana bener bener nikmat" kata tarjo
"ah bang tarjo bisa aja, kontol bang tarjo juga nikmat" kata istriku

Kemudian adegan dilanjutkan oleh abang yang terakhir.
"nah giliran gue yah sekarang"
"bang yanto genjot aku dari atas aja yah kayak bang tarjo tadi" kata istriku
Mungkin dari semuanya yang paling mending hanya si yanto ini. Ia terlihat agak alim dengan badan sedang sedang saja. Setelah sekitar sepuluh menitan akhirnya mereka berdua puas mencapai puncak. Setelah selesai memuaskan enam abang abang istriku berbaring di atas matras, disampingna ada tarjo. Istriku menyenderkan kepalanya di ada tarjo yang idang dan penuh tato dengan manjanya. Tarjo memeluk istriku dengan mesra ayaknya sepasang kekasih. Yang lain pun turut bergabung dengan sebagian sibuk mengelus els istriku.
"neng diana bener bener mantab" kata joko
"iya betul, kalo neng diana istri gue pasti udah gue entot berkali kali dalem sehari" kata tatang
"nanti dower dong memekku" kata istriku
"lah sekarang aja kan udah beberapa kontol sehari, tetep aja tuh peret dan enak" sahut tatang sambil diikuti oleh tawa dari semuanya

Setelah sepuluh menit istirahat dan berbincang bincang, istriku minta pamit pulang.
"aku pulang dulu yah abang semua" kata istriku
"besok lagi yah neng, kayak biasa jamnya" kata joko
"pasti dong, aku mana tahan ngak dientot abang semua walau sehari aja" kata istriku
Aku pun segera berlari pulang, tetapi sebelumnya sempat kulihat istriku langsung mengenakan celana dalamnya. Ia tidak membersihkan bekas sperma di selangkangannya. Sesampai di rumah aku segera mandi. Selesai mandi, istriku pas saja baru masuk ke kamar tidur kami. Tanpa tanya tanya aku langsung telanjang dan menarik istriku ke ranjang.
"jangan sayang, biar aku mandi dulu. Aku keringetan dan kotor abis jalan jalan" kata istriku yang tidak mengetahui bahwa aku sudah tahu rahasia nakalnya.
"nak apa say, aku mau ngentotin kamu dalam keadaan kotor gini" jawabku
Entah kenapa aku terangsang mensetubuhi istriku dalam keadaan kotor, mungkin ia terlihat binal seperti pelacur. Yang pasti malam itu ku garap istriku sampai tiga kali.



Admin Mesum - 00.44

OfficeBoy Yang Beruntung

Perlahan-lahan motor Honda berwarna hitam itu memasuki sebuah jalan cukup lebar di kompleks perumahan di BSD. Pengemudinya yang berkulit coklat tua menjurus hitam itu kelihatan sedang mencari-cari nomor rumah tertentu, menandakan bahwa ia bukan penghuni di jalan itu. Akhirnya ditemukannya nomor yang dicarinya, motornya dihentikan didepan rumah cukup besar dan terletak agak tinggi dibandingkan jalanan. Si pengemudi yang terlihat masih muda sekitar duapuluhan dengan ciri biologis pribumi asli itu lalu turun dan mematikan motornya, agaknya ragu-ragu namun kemudian mengajukan langkahnya mendekati pagar pintu besi, dan dicarinya tombol bel yang seperti pada umumnya rumah-rumah baru di situ agak tersembunyi di belakang pintu besi itu. Setelah memencet ketiga kalinya maka pintu rumah itu terbuka, muncullah pemuda yang agaknya si penghuni rumah berusia sekitar akhir dupuluh atau awal tiga puluhan tahun.
"Selamat sore pak Ridwan", tegur sang pemuda tamu setelah melepaskan helm penutup kepalanya sehingga terlihat rambutnya yang tebal agak bergelombang dengan wajahnya lumayan cukup keren berkumis, disertai senyum agak malu dan menoleh ke kiri ke kanan, ternyata jalanan itu cukup sepi.
Selamat sore dik Reza, ayo masuk tak usah malu dan sungkan, bawa masuk aja motornya, biarpun disini biasanya cukup aman tapi kan engga tahu kalau yang niat jahat bisa ada dimana saja", demikian sambutan ramah sang tuan rumah yang berkulit jauh lebih bersih dengan raut wajah khas keturunan.
Reza mengangguk setuju lalu membawa motornya melewati pintu pagar besi itu, kemudian didorong menaiki jalur masuk kedepan garasi yang memang terletak agak tinggi dibandingkan jalan di depannya.
"Adik Reza sudah makan belum ?", tanya tuan rumah Ridwan.
"Sudah pak, ditengah jalan saya mampir di warung gudeg kesenangan saya", jawab Reza, "ini pesanan bapak saya bawakan", lanjutnya lagi sambil menyerahkan bungkusan kecil kepada Ridwan.
"Oh ya, terima kasih , ayoh masuk dan minum dulu, kan capek dijalan pasti macet tadi, kita ngobrol-ngobrol sebentar, jangan malu-malu engga ada siapa-siapa hanya istri saya di rumah, tapi dia lagi mandi", lanjut Ridwan dan menatap Reza disertai kedipan mata penuh arti.
"Iya deh pak , tapi engga lama nanti takut hujan nih", Reza mengikut dibelakang Ridwan yang masuk melewati pintu rumahnya menuju ruang terima tamu.
"Ayoh silahkan duduk, kalau hujan ya tak apa-apa, kan kini di bawah atap jadi engga basah kalau nunggu disini, dik Reza mau minum hangat atau dingin segar ?", tanya Ridwan.
"Engga usah repot-repot pak, seadanya saja", jawab Reza masih agak sungkan.
"Biasanya kalau jam-jam segini enak minum teh jahe, pasti adik senang teh jahe ginseng nanti - badan jadi terasa hangat, segar dan dapat tambah enersi", lanjut Ridwan, kembali dengan kalimat yang rupanya menjurus ke arah maksud tertentu.
"Nanti saya cari dan lihat dulu dimana letaknya bungkusan teh itu, maklum pembantu lagi sakit dan yang biasanya bikin teh ginseng ini istri saya, tapi mungkin dia sudah selesai mandi", demikian Ridwan sambil melanjutkan langkahnya menuju kebagian dalam rumah yang cukup besar itu.
"Baiklah pak, saya ikut aja apa yang biasanya bapak dan ibu minum di waktu sore", jawab Reza.

Ridwan melangkah masuk kedapur dan ternyata disitu berdiri Vonny istrinya yang telah selesai mandi, dengan rambut masih agak tergerai di pundaknya, memakai baju rumah tanktop pendek yang hanya menutup setengah pahanya, berwarna coklat tua tipis cukup merayang tanpa BH sehingga dengan nyata terlihat puting buah dadanya dan celana dalamnya yang berbentuk string. Vonny rupanya sedang membuat kopi dengan alat Philips Senseo sehingga aroma harum memenuhi dapur itu. Ridwan memeluk istrinya Vonny dari belakang, menciumi pundak serta lehernya yang putih jenjang, jari jemarinya yang iseng meraba raba pinggang Vonny merantau ke depan lalu meremas ketiaknya, mulai meremas remas gundukan gunung kembar yang tak tertutup BH sehingga terasa sangat padat kenyal itu. Tak sampai di situ saja Ridwan mulai menarik tanktop yang dipakai istrinya sehingga naik ke atas mencapai bulatan pinggulnya, menyebabkan betis dan kedua pahanya terpampang jelas, kemudian mulai pula diraba dan dielus-elus paha serta bulatan pinggul Vonny.
"Von, tuh si office boy udah datang, lagi nunggu di ruang tamu, rupanya kehausan juga dia, bolehlah diajak minum sekalian", ujar Ridwan sambil terus menerus menggerayangi tubuh Vonny.
"Udah ah, geli kan, mau ngapain sih dia dateng sore begini ?", tanya Vonny sambil menggeliat geliat.
"Kan dia nganterin barang pesenan, lagian mungkin udah kangen ngkali pengen liat nyonya bahenol", jawab Ridwan yang sebelumnya memang telah merencanakan untuk "mempersembahkan" istrinya.
"Ngga usah ya, emangnya dia sendiri engga punya bini atau simpenan", sahut Vonny yang sebenarnya masih agak ragu dengan petualangan swinger, walaupun sudah mengetahui bahwa Reza selalu "lapar" mata dan mengawasi tubuhnya jika ia datang ke kantor dimana Ridwan bekerja.
Vonny dan Ridwan adalah pasangan muda sangat modern dengan prinsip hidup liberal kebebasan sepenuhnya, juga termasuk dalam hubungan pasutri. Keduanya sering membaca bersama cerita erotis dalam weblog semarak di internet saat ini, dimana soal tukar pasangan dengan persetujuan kedua belah fihak juga merupakan salah satu thema yang mengundang banyak pembaca. Mereka berdiskusi dengan terus terang dan saling menanyakan apakah misalnya Vonny keberatan jika Ridwan menggauli seorang wanita lain , dan juga sebaliknya apakah Ridwan bersedia "membagi" kebebasan serupa jika ada lelaki asing yang ingin mencicipi tubuh Vonny. Mula mula Vonny sangat terkejut dengan diskusi itu, namun rupanya gairah tubuh mudanya disertai rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa malunya.
Tentu saja sebagai seorang wanita dan istri yang menjaga diri dan tak mau disebut "murahan" begitu saja Vonny tak langsung mengatakan setuju, hanya jika ditanyakan dan didesak apakah mau digauli oleh si office-boy dikantor, maka jawabannya selalu mengelak dan tak langsung setuju.
揈ngga ah, ntar jadi ketahuan orang lain, belum tentu si Reza bisa dipercaya mau tutup mulut, lagian mau ngapain sih", demikian selalu jawaban Vonny mengelak. Setelah beberapa minggu dirayu dan dipancing dan "dipanasi" terus menerus dengan pelbagai cara, jawaban Vonny berubah menjadi :
"Engga tahu lah, lihat aja deh gimana, belum tentu juga dia ada minat, mungkin dia cuma senang ngawasin dan ngeliat aja, kan biasa mata lelaki begitu semua, kayak kamu juga gitu".
Dari jawaban ini Ridwan mulai merasa yakin bahwa istrinya tidak menolak mentah mentah dan ingin tahu juga apakah kesan melakukan perselingkuhan dengan izin suami sendiri. 


"Udah selesai kan kopinya buat tiga orang, coba bawa deh keruang tamu, taruhan yuk si Reza bakalan melotot ngeliat kamu pakai baju kaya begini", demikian kelakar Ridwan semakin menghasut istrinya.
"Kamu aja yang bawain, mau tukar pakaian yang lain", jawab Vonny pura-pura, padahal dia sengaja pakai baju tanktop pendek dan merayang itu karena tahu OB Reza di sore itu akan datang.
"Ayolah, pake malu malu gitu, abis mandi kan kelihatan seger banget, pasti kecium badannya si nyonya amoy bahenol wangi merangsang", desak Ridwan kepada istrinya.
Di sore itu memang pembantu mereka sengaja diberikan bebas jalan-jalan dan nonton film di mall ditambah uang jajanan, yah mana ada pembantu muda zaman sekarang yang menolak extra bonus begitu. Dengan langkah masih agak ragu namun tetap terlihat lemah gemulai disertai lenggokan menawan tatapan pria Vonny perlahan lahan keluar dari dapur dengan membawa nampan dengan diatasnya tiga cangkir kopi dan beberapa potong coklat serta kueh kering sebagai snacks. Meskipun agak menundukkan matanya karena harus memperhatikan cangkir kopi yang penuh namun Vonny melihat Reza langsung berdiri melihat kedatangannya dengan mata tak berkedip sama sekali. Di saat meletakkan nampan dengan cangkir kopi dan snacks di meja tamu yang terlapis kaca itu Vonny mau tak mau harus membungkuk sehingga bagian atas baju tanktopnya terbuka untuk mata tatapan mata Reza yang melotot melihat betapa putih dan montoknya belahan buah dada Vonny dan di tengah kedua gundukan itu mencuat puting yang rupanya agak mengeras entah karena dinginnya AC. Setelah meletakkan dan membagi ketiga cangkir kopi Vonny dan Ridwan kemudian duduk bersama berdampingan di kursi salon lebar , sementara Reza duduk langsung di hadapan Vonny yang berpura-pura malu menarik ujung rok tanktop yang dalam posisi duduk hanya menutup setengah pahanya. Mereka kemudian bercakap cakap dan ngobrol ke kiri ke kanan sampai di suatu saat Ridwan bertanya apakah Reza sudah berkeluarga, dan dijawab olehnya "belum". Masih nyari pasangan yang cocok susah zaman sekarang katanya, belum lagi suasana keuangan belum mantap, untuk sendiri aja tak cukup apalagi harus menanggung keluarga lanjutnya. Mendadak HP Ridwan yang terletak di meja kerja di ruangan sebelah dalam berbunyi, sehingga Ridwan permisi masuk meninggalkan Vonny dan Reza. Kini keduanya hanya berdua dan terlihat bahwa Vonny agak kikuk, karena dirasakannya mata Reza semakin binal mengincar tubuhnya yang merayang di bawah baju tanktop tipis. Terutama bagian buah dada serta pahanya menjadi sasaran menyebabkan Vonny ingin lebih menarik ujung tanktop ke bawah serta berusaha merapatkan belahan pahanya agar tak bisa di"intip". Agaknya Reza makin berani dan mulai yakin bahwa wanita muda di hadapannya "kepanasan" menantikan kegiatan yang lebih menjurus maksud tertentu. Ketika Reza ingin menggeser duduknya lebih maju kearah meja untuk meletakkan cangkir kopinya, maka muncullah Ridwan yang ternyata telah menukar bajunya dan telah memegang kunci mobil.
"Eeh, mau kemana koq udah tukar baju ?, tanya Vonny kaget dan menjadi agak gugup karena hal ini di luar dugaan dan tak pernah dibicarakan lebih dahulu, padahal ini sudah termasuk rencana Ridwan dan Reza sejak kemarin dikantor.
"Harus balik ke kantor sebentar say, ada transaksi Forex dan hedge funds tak dapat ditunda, kalau engga rugi", jawab Ridwan, "setengah jam pasti udah balik, Reza tolong temani istri saya sebentar, nanti makan malam sama sama, saya ntar mau beli sate kambing, Reza doyan kan ?", lanjut Ridwan.
Vonny kini sadar bahwa hal ini pasti diatur oleh Ridwan dan agak jengkel juga "dijebak" namun sebelum ia sempat protes Ridwan telah bergegas keluar kedepan garasi, masuk ke dalam mobil Nissan Qashqai Trail dan kemudian melaju ke arah jalan setelah menutup pintu garasi di belakangnya, meninggalkan istrinya Vonny yang sangat terombang ambing di antara rasa tak nyaman, agak takut tapi juga tergoda oleh kenyataan bahwa kesempatan untuk selingkuh kini terbuka lebar !!! Ridwan memang telah agak lama merayu dan akhirnya berhasil membujuknya sejauh mungkin antara lain dengan mengajaknya membaca pelbagai kisah sangat erotis yang semarak di pelbagai weblog,  sehingga rasa ingin tahu untuk mencoba bagaimana rasanya ML dengan lelaki asing tergugah tinggi, juga dengan lelaki pribumi asli berkulit hitam legam kasar sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih sebagaimana khasnya orang keturunan.

Hanya diperkirakannya bahwa semua akan berlangsung tahap demi tahap, kenalan, ketemu dan ngobrol basa basi dulu beberapa kali sebelum memasuki taraf lebih lanjut, tidak langsung sedemikian cepatnya. Vonny ingin rasanya lari keluar tapi mana mungkin dengan pakaian seperti itu selain itu untuk mundur dari permainan "sandiwara" yang tak langsung telah disetujuinya sendiri juga terlambat. Dari sudut matanya Vonny melihat senyum mesum Reza. Reza yang memang sudah bersepakat dengan Ridwan kini memperoleh kesempatan seluasnya untuk mulai melakukan aksinya. Telah disepakati dengan Ridwan bahwa ia boleh menggarap Vonny asalkan tidak disakiti apalagi dilukai. Boleh dibujuk, dirayu, didesak dan yah sedikit dipaksa bolehlah, selama satu jam penuh Ridwan belum akan kembali, demikian perjanjiannya, jadi Reza lumayan punya waktu. Apa yang tak diketahui oleh Reza bahwa sebenarnya Ridwan berniat untuk beberapa menit kemudian kembali lagi ke rumahnya, mobil akan di parkir di depan rumah sebelah, masuk diam-diam lewat pintu kecil samping garasi, lalu mengintip peristiwa swinger Vonny dengan Reza si Office Boy yang beruntung. Reza melihat betapa gugupnya Vonny menghadapi situasi yang sama sekali tak diduganya itu, oleh karena itu Reza berusaha sedikit mengalihkan pembicaraan sehingga lebih mudah untuk mendekati.
"Ibu senang bunga ya, bagus amat anggreknya yang dipasang dekat jendela, ngerawat sendiri bu ?", Reza pura-pura menunjuk ke arah bunga anggrek merah muda berbintik-bintik yang memang dipasang dekat jendela.
Vonny merasakan bahwa ini kesempatan untuk sedikit menghindar tatapan mata Reza yang sangat haus selama ini, dan bangun dari tempat duduknya untuk berjalan ke arah bunga anggreknya.
"Iya, saya coba coba sendiri, baru mulai bulan lalu entahlah bisa tahan apa engga", Vonny telah berdiri didepan jendela dengan hiasan anggrek kesayangannya.
Tapi justru dengan berdiri di hadapan jendela itu maka sinar matahari semakin menyorot dan menyebabkan silhouette tubuhnya semakin jelas di balik tanktop tipisnya. Selain itu Reza malahan memperoleh kesempatan untuk ikut berjalan dan kini telah berdiri di belakang Vonny, semakin lama semakin dekat sehingga tubuh mereka hampir berdempetan dan Vonny merasakan hembusan nafas hangat Reza di belakang lehernya. Kemudian dirasakannya tangan Reza berada di atas pundaknya , berdiam sejenak disitu kemudian mengelus serta meraba kulitnya yang mulai merinding, sebelum bibir hangat Reza menyentuh leher dan bahunya.
"Wah relax bu relax dikit, pundak ibu terasa sangat tegang otot ototnya, coba duduk lagi di sofa panjang bu, nanti saya pijat pasti ibu senang dan hilang tegangnya" ujar Reza meneruskan usahanya.
Vonny ingin membalikkan tubuhnya namun dengan sigap Reza telah memeluk pinggangnya yang ramping dengan tangan kirinya, sementara ciumannya dileher dan belakang telinga Vonny semakin gencar. Sejenak kemudian Vonny merasakan kedua tangan Reza memegang pundak dan belakang lehernya yang lalu diurut dan dipijat sehingga dirasakan sedikit nyaman mengurangi ketegangan. 

"Ennngmmh, udaaah ah, jangan mas, saya kan istri orang, tak baik kalau ini ketahuan orang", protes Vonny masih berusaha mengendalikan diri, walaupun ia tahu bahwa penolakannya tak sepenuh hati.
"Emmmh, saya engga tahan lihat badan ibu, sudah lama saya pingin meraba, kini kan kita berdua, tak ada yang tahu, nikmati bu, kehausan ibu nanti akan hilang", suara Reza mendesah di telinga Vonny.
Sementara terus memijit dan mengurut dengan tangan kanannya Reza melingkarkan lengan kirinya di pinggang Vonny dan perlahan lahan ditariknya mundur selangkah demi selangkah menjurus kearah sebuah bangku panjang, semacam sofa yang empuk dan cukup lebar. Vonny menengadahkan kepalanya dan menghembuskan nafas lembut yang lama kelamaan menderu semakin cepat, kedua tangannya meraih kebelakang memegang kepala Reza yang berada di belakang lehernya sambil terus menciumi bergantian kedua telinganya, menyebabkan Vonny semakin kegelian. Langkah demi langkah Reza setengah menyeret Vonny kebelakang dan keduanya telah mencapai sofa empuk yang panjang itu dimana Reza langsung menghempaskan dan meletakkan "mangsanya" yang masih berusaha segera bangun dan berdiri. Namun Reza lebih sigap dan tubuhnya yang cukup tegap berat telah menindih Vonny, dan karena rontaannya itu maka justru ia kini dalam posisi tertelungkup. Dengan keadaan ini maka Reza dengan mudah menindihinya dan secara sangat pandai ia tetap memijit dan mengurut leher pundak Vonny, sementara pinggul yang begitu bulat menggairahkan ditindihnya.
Vonny tak sanggup banyak bergerak atau berontak dalam keadaan tak menguntungkan itu, hanya kedua tangannya saja terkadang menggapai ke belakang berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh yang menindihnya. Semua sia sia saja, bahkan dengan pergulatan itu tanktop yang dipakainya telah tersingkap naik ke pinggangnya, menyebabkan punggungnya jelas terpampang. Sebagaimana umumnya wanita pemakai tanktop tidak mempunyai perlindungan BH di bawahnya, dan ini diketahui pula oleh Reza, tangannya yang memijit leher pundak Vonny kini mulai berani turun ke bagian depan.
"Aaiiih, ooooooh, mas udah dong, jangan terusin, suami saya pasti sebentar lagi pulang, jangan aah, lepas dong, tolong saya, enggga mauuu", Vonny semakin liar menggeliat ketika dirasakannya jari-jari Reza menaiki lereng bukit kembarnya dari samping dan mulai bergerilya menekan meremas remas.
Menduga bahwa perlawanan Vonny sudah sangat menurun maka Reza semakin berani, ditarik serta disingkapnya tanktop berwarna merah muda itu dengan sigap melawati bahu dan kepala Vonny dan hanya dalam waktu beberapa detik bagian atas tubuh Vonny telah telanjang tanpa penutup apapun. Tanktop itu sengaja dibiarkan oleh Reza menyelubungi kedua bahu dan lengan Vonny menyebabkan mangsanya itu sementara agak "terjirat-terbelenggu" sehingga sukar berontak melepaskan diri. Vonny semakin panik dan meronta ronta, tak diduganya bahwa Reza begitu berani melangkah sejauh itu, tapi semua usahanya tidak memberikan hasil, sementara tubuhnya kini hanya tinggal memakai CD string.

"Tenaaaang aja bu, tenaaaang, relaaaax, pasti ibu engga nyesel, pak Ridwan pasti masih sibuk, apalagi mau beli makanan dulu, ibu nikmati aja permainan saya, engga ada yang tahu bu", Reza menghibur sambil meneruskan aksinya, kini telah ditemukannya puting yang segera dipilin dan dicubit cubitnya.
Vonny tak berdaya menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu, hanya kedua betis kakinya menekuk menghentak hentak, sementara kedua tangannya yang berusaha mencakar ke belakang kini dipegangi dan ditelikung oleh tangan kiri Reza, dan ini sangat menambah nafsunya sehingga si otongnya berdiri.
Mendadak Reza bangun dan membalikkan tubuh Vonny sehingga terlentang yang segera ditindihnya lagi, kedua pergelangan tangan Vonny yang langsing diletakkan diatas kepala dan dicekalnya dengan hanya satu tangan kiri, sementara tangan kanannya menggerayangi dan meremas buah dada Vonny. Mulut Reza yang cukup besar dengan bibir tebal itu segera mencakup mulut Vonny yang jauh lebih kecil sehingga gelagapan, terutama ketika dirasakannya lidah Reza yang berbau rokok berusaha membelah bibirnya untuk memasuki rongga mulutnya. Karena Vonny tidak mau langsung membuka mulutnya maka Reza menarik dan mencubit puting buah dada yang telah mencuat itu, menyebabkan Vonny merasa amat kengiluan dan tak sadar meringis ingin berteriak, disaat mana lidah Reza menerobos masuk !.
"Auuuuw, eemmppfhh, sshhhh", hanya desis itu yang keluar dari mulut Vonny yang kini dirajah Reza.
Vonny semakin kewalahan menghadapi serangan Reza, tubuhnya yang baru mandi kini mulai dibasahi kembali keringat karena pergumulannya dan perlawanannya yang sia-sia, tanpa disadari lidahnya mulai ikut "bersilat" melayani lidah Reza, ludah keduanya semakin tercampur, bau rokok yang sebenarnya tidak disenangi Vonny sudah tak diperdulikannya lagi, sapuan lidah Reza kini menyapu langit� rongga mulut Vonny menyebabkan timbul rasa geli, apalagi disertai remasan cubitan Reza di puting susunya. Reza merasakan di cekalan tangan kirinya bahwa geliatan pergelangan tangan Vonny berkurang, entah memang Vonny sudah mulai lelah, atau memang nafsu birahinya sendiri sudah terbangun sehingga tak mempunyai semangat untuk melawan. Kesempatan ini segera dipergunakan sebaik-baiknya oleh Reza dengan sigap dan tak terduga menarik celana dalam string Vonny sebagai penutup aurat terakhirnya. Vonny memekik kecil sambil meronta namun semuanya telah terlambat, kini sempurnalah tubuhnya yang kuning langsat putih terbuka di depan mata Reza, disertai dengan senyuman lebar kemenangan. Merasa yakin bahwa Vonny tak akan melawan lagi Reza melepaskan cekalan tangan kirinya di kedua nadi mangsanya dan segera tangan Vonny secara refleks melintang didadanya dan berusaha menutup celah selangkangannya. Sambil menatap naik turunnya buah dada montok Vonny akibat memburunya nafas sebagai tanda ketegangan akan apa yang terjadi selanjutnya Reza melepaskan kemaja dan kaos serta sekaligus jeans serta celana dalamnya. Kini dua insan berlainan jenis telah bugil bagai Adam dan Hawa ditaman firdaus : wanita keturunan muda belia dengan kulit putih kuning langsat tubuh montok terlentang disofa dalam posisi tak berdaya menghadapi seorang lelaki pribumi bertubuh kekar, berkulit hitam gelap dengan alat kejantanan telah tegang mengacung siap tembak membantainya.
"Udah mas, jangan diterusin, saya engga mau, nanti ketahuan orang, saya kan bersuami dan sebentar lagi pulang, jangan mas, saya akan rahasiakan peristiwa ini, tapi hentikan dong", Vonny berusaha tenang walaupun degup jantungnya telah sangat cepat karena menahan emosi yang tak terkekang.
"Jangan takut, ibu tak akan saya sakiti, ibu sebenarnya kepingin merasakan petualangan juga, tak usah malu lah bu, semua biasa saja, tubuh ibu yang muda juga ibarat bunga harus banyak disiram air", Reza berusaha menenangkan Vonny sambil kini tubuhnya mulai menindih mangsanya yang terlentang.

Reza yang nafsunya telah sangat memuncak itu ragu sebentar: apakah istri boss-nya di kantor ini akan dipaksanya untuk menyepong alat kejantanannya, tapi setelah beberapa detik diputuskannya untuk tidak melakukan hal itu saat ini, mungkin dalam kesempatan berikutnya.
揕ebih baik sekarang justru gue yang jilatin memeknya si amoy bahenol ini  agar dia betul-betul terangsang sehingga menggeliat kehausan bagaikan hysteris mohon dipuaskan, ya ini siasat terbaik saat ini�, demikian keputusan Reza.
Reza menurunkan kembali wajahnya dan mulai menciumi leher Vonny, menjalar mengendus meniup-niup telinga kiri kanan, sementara tangan kiri meremas memijit dua gundukan daging putih di dada sambil memilin putingya, sedangkan tangan kanan turun ke arah pusar, bermain sebentar disitu lalu semakin turun mendekati bukit venus yang dihiasi rambut halus yang jelas sangat dirawat dan sering dicukur. Vonny berusaha menggeliat dan meronta namun terlihat bahwa perlawanannya tidaklah sepenuh hati seperti seorang wanita yang sedang mempertahankan mati-matian kehormatannya. Ketika mulut Reza dari leher turun ke buah dadanya untuk menggigiti putingnya, terlihat Vonny hanya memalingkan wajahnya ke samping sambil mendesah lembut, sementara kedua tangannya bahkan memegangi rambut Reza. Ciuman dan cupangan Reza beralih dari kedua puting kemerah-merahan yang telah terlihat mengkilat basah mencuat ke atas kini menurun pusar yang disedotnya dengan rakus, lalu semakin merantau mendekati pusat kewanitaan Vonny. Tangan kiri Reza tetap aktif di puting yang semakin mengacung dan peka, sementara tangan kanannya meraba mengusap bagian dalam paha Vonny yang putih merangsang itu.
"Aaaah, udaaah dong, geliii, bapak nakal amat sih, udaah dong suami saya pulang nih, ntar ketahuan", Vonny mendesah sambil berusaha mengatur nafasnya yang semakin memburu menahan nafsu.
"Udah tanggung bu, kepalang basah, nikmati aja lah, bapak masih sibuk di kantor", Reza menghibur dan sekaligus melanjutkan penjelajahannya - sementara wajahnya telah menempel di daerah lipatan bagian dalam paha Vonny, mengecup dan menyupanginya dengan mesra sehingga memerah jambu.
Vonny tetap memalingkan wajahnya , dengusan nafasnya bersilih ganti dengan pekikan kecil kegelian jika Reza menggigit bagian dalam pahanya yang sangat peka itu. Geliatan dan liukan serta rontaannya makin menjadi ketika Reza mulai mencium daerah bukit kemaluannya. lidah Reza yang lebar kasar menjulur-julur keluar bagaikan ular mencari mangsa, mendekati celah sempit yang tersembunyi. Setelah di temukan maka lidah itu menjilati tepi bibir pelindung vagina Vonny, membasahinya dan akhirnya berusaha menyelinap masuk ke bagian lebih dalam. Sambil melakukan kegiatannya itu Reza telah berhasil menaikkan kedua paha Vonny dan ditekuknya dibagian lutut serta diletakkannya di pundak kiri kanannya. Kini terpampanglah bukit kemaluan Vonny didepan wajahnya, sementara mangsanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan sambil menggigit bibir bawahnya.
"Hmmmmh, memeknya wangi amat bu, bukan wangi sabun tapi harum wanita yang pengen digituin", celoteh Reza bagaikan perayu ahli dalam film bokep, menyebabkan pipi Vonny semakin memerah.
Menduga bahwa Vonny sudah ikut terbangun gairahnya dan tak akan melawan maka Reza tanpa ragu menjulurkan lidahnya menyelinap masuk ketengah liang surgawi yang telah dicium sebelumnya. Lidah yang kasap itu mengusap menjilat dinding vagina Vonny semakin lama semakin dalam, menerobos ke atas ke bawah, selintas menyentuh lubang saluran air kemih yang kecil namun cukup peka. Akibatnya Vonny menggelinjang kegelian - hal mana tak pernah dialami sebelumnya dengan Ridwan suaminya sendiri, dan tak diduganya bahwa office boy suaminya yang kini tanpa rasa jijik melakukan hal ini.

Reza semakin meningkatkan usahanya untuk memanjakan istri boss-nya, setelah liang kecil itu maka berikutnya lidahnya merantau keatas diantara lipatan bibir kemaluan Vonny untuk mencari sebutir daging kecil yang tersembunyi. Setelah ditemukannya maka dengan lahap namun hati-hati disentuhnya daging merah itu dengan ujung lidahnya, disapu, diusapinya, dijilatnya, di-emut-emut dengan bibirnya sendiri, kemudian dijepitnya mesra di antara giginya, kemudian dijilatinya kembali. Ibarat terkena aliran listrik Vonny meronta menggeliat-geliat menahan rasa geli tak terkira sambil memekik manja.
"Ooooh, udaaah bang, geliiiii, auuuuw, geliiii bang , saya ngga tahaan lagi, aaaaah , saya mau pipiiiis", Vonny mendesah dan mendengus sambil memekik ketika dirasakannya cairan lendir keluar mengalir membasahi vaginanya, menandakan bahwa ia telah mencapai orgasmus dan liang kenikmatannya kini siap menerima batang kemaluan sang pejantan yang sedang menjarahnya.
Reza juga merasakan bahwa bibirnya yang melekat di dinding vagina Vonny semakin basah lengket-lengket terulasi oleh air mazi pelumas wanita, dan kini tibalah saatnya untuk memasuki lubang sengama Vonny. Dengan penuh kepuasan Reza menatap wajah Vonny yang agak mengkilat karena keringat, penisnya yang telah menegang itu dipegangnya dengan tangan kiri kemudian diarahkannya ke liang surgawi, dan...... perlahan namun pasti, milimeter demi milimeter batang rudal itu memasuki tubuh Vonny..
"Ooooooh, aaaauh, aaaaah, pelaaan pelaaaan ya bang, aaaahh, ssssh, oooooh bang Rezaaaaa", Vonny mendesah dan mengeluh ketika dirasakannya kemaluan office boy itu menusuk dan menggali semakin dalam sehingga akhirnya amblas semua, bulu kemaluannya telah bersatu dengan bulu kemaluan Reza.
"Hhhmmmhhh, ooooh nikmaaaatnya, ibu masih peret gini, latihan kegel tiap hari ya bu ?", tanya Reza sambil mulai dengan gerakan pinggulnya maju mundur yang disambut oleh Vonny dengan putaran pinggulnya, membuat Reza semakin bergairah menumbuk-numbuk rahim istri boss-nya.
Kedua insan berlainan jenis itu telah mandi keringat, sangat mengasyikkan melihat kontras-nya warna kulit merek, Vonny dengan kulit yang halus kuning langsat sedang ditindih digeluti oleh pria berkulit kasar dengan warna coklat tua kehitaman. Namun pada saat ini tak ada perbedaan atau pemisahan antara keduanya, yang ada hanyalah gairah nafsu birahi menguasai keduanya, desahan, dengusan, rengekan, rintihan dan geraman keduanya silih berganti. Semakin lama terlihat keduanya melupakan segalanya, gerakan maju mundur pinggul Reza semakin cepat walaupun pinggangnya telah dijepit paha Vonny. Kedua tangan Vonny telah memeluk tubuh Reza seolah tak ingin melepaskannya, rasa panas dan gatal menguasai vaginanya ketika terus menerus digesek dengan cepat , akhirnya...............
"Oooohh, ibuuu , aaaah, nyonya bahenooool, abang mau banjir nih", dengusan Reza di telinga Vonny.
"Iyyaaaaahhh, ooooooohh, sssssshhhhh, teruuuuuuusss, iyaaaaaa, masukiiiiiiin teruuuuus, iyyyyaaaa", bagai histeris Vonny mencakar lengan Reza dan menggigit bahunya ketika mereka bersama mencapai klimaks dan office boy itu menyemburkan lahar panasnya berulang ulang kedalam rahim Vonny.

Sepuluh menit kemudian keduanya bergegas ke kamar mandi untuk mengeringkan keringat dari tubuh mereka, Vonny kembali merapihkan baju tank-top-nya, sedangkan Reza memakai lagi seragam kantornya. Satu jam kemudian mereka makan bersama hidangan yang di beli oleh Ridwan, ketiganya ngobrol dengan santai dan tanpa ada rasa risih, seolah-olah tak ada yang terjadi sama sekali. Vonny juga merasakan sangat puas dengan petualangannya itu, meskipun dalam hati kecilnya muncul keraguan apakah lebih baik berterus terang kepada suaminya mengenai kenikmatan terlarang yang dialaminya. Namun disudut lain di hatinya pun bertanya-tanya apakah ia akan tahan godaan untuk menolak keinginan Reza seandainya ia kembali datang secara tak terduga ketika suaminya Ridwan sedang keluar. Pepatah mengatakan bahwa sesuatu yang terlarang justru mempunyai daya tarik untuk dilakukan. Yang tidak diduga oleh Vonny bahwa suaminya Ridwan - setelah mendengar sendiri dari Reza bagaimana mula-mula perlawanan Vonny berubah menjadi sambutan gairah - bahkan merencanakan swinger berikutnya: tak hanya dengan seorang, namun dua office boys sekaligus! Kalau selingkuh hanya dengan satu lelaki memang dapat dianggap bahwa seorang istri yang kesepian mencari pengganti sejenak, artinya satu tubuh digantikan dengan satu tubuh. Tapi satu tubuh seorang suami kan tak mungkin bisa digantikan dengan dua tubuh lelaki - apakah reaksi Vonny, setuju dan akan menyerah dikuasai dua lelaki ataukah ia akan memutuskan bercerai meninggalkan Ridwan ???.


Admin Mesum - 00.41

Sekolah Penuh Gairah : 04 Sekolah Mesum

Hari itu pak Risman tampak sumringah, wajah mesumnya terlihat berseri-seri. Terdengar ia bersiul-siul mengungkapkan kegembiraannya. Tangan kanannya memegang sebuah proposal pengajuan kerjasama dari perusahaan dimana bu Melisa bekerja. 
"Sungguh beruntungnya aku ini, sudah dapat memek gratis..dapat duit pula..haha" gumamnya "tapi..ngomong-ngomong soal memek...aku jadi ingat guru-guru yang belum aku cicipi..hmm" kembali pak Risman menggumam. 
Ia baru ingat kalau rencananya baru setengah jalan. Pak Risman keluar dari ruangannya, ia kini berjalan-jalan berkeliling sekolah tersebut. Beberapa staff, guru, dan juga murid yang berpapasan tampak menyapanya yang ia tanggapi dengan ramah. 
"Ternyata gak cuma guru-guru yang cantik...di sekolahku ini juga banyak siswi-siswi sexy" itulah hal yang terbersit dalam benaknya ketika melihat murid-murid perempuan di sekolah itu.
Pak Risman terus melangkahkan kakinya berjalan-jalan di areal sekolah itu, hingga suatu ketika langkah kakinya terhenti. Sayup-sayup telinganya mendengar suara-suara yang tak asing di telinganya. Suara itu berasal dari ruangan konseling, dimana ruangan itu diapit oleh dua bangunan laboratorium, sehingga letaknya agak tersamarkan. Dengan hati-hati pak Risman melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan itu. Telinganya ia tempelkan di pintu itu seolah-olah ingin mendengarkan lebih jelas suara-suara yang keluar dari dalam ruangan tersebut. Ketika pak Risman sedang serius menguping, ia dikagetkan obrolan orang dari dalam ruangan tersebut. 
"Ayoh bu...puaskan kontol sayah...oh..sebelum pak Risman menikmati jepitan memek ibu...yah..goyangh.." 
Itulah yang terdengar oleh pak Risman dari dalam ruangan tersebut. Ia semakin penasaran, siapa orang yang tengah berada diruangan itu, dan kenapa ia tahu tentang skandalnya yang senang menikmati tubuh para guru perempuan di sekolah itu. Ingin sekali pak Risman mengetuk pintu ruangan itu dan melihat siapa orang yang berani melakukan hal mesum di sekolah itu selain dirinya. Namun pak Risman mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, ia lebih memilih menunggu persetubuhan itu selesai dan orang dari dalam ruangan itu keluar. Pak Risman terlihat cemas menunggu di depan ruangan konseling tersebut, hingga setelah menunggu hampir setengah jam, terdengar suara kunci dari pintu itu dibuka dari dalam. "Cklek.." Pintu itu terbuka, terlihat seorang murid laki-laki keluar dari dalam ruangan tersebut. Anak laki-laki itu tampak kaget ketika matanya bertemu pandang dengan sosok buncit kepala sekolahnya, mulutnya terbuka tak bisa berucap sepatah katapun.

Sementara dari dalam terdengar suara perempuan yang memanggil anak laki-laki itu dengan mesra bahkan agak jorok, karena tidak mengetahui kalau di depan ruangan tersebut anak laki-lakinya tengah gemetar di hadapan kepala sekolahnya. 
"Aldo sayang..jangan lupa nanti sore ke rumah Firman ya...ibu pengen dientot rame-rame lagi sama kall..". Kata-kata dari perempuan itu terpotong ketika mendapati pak Risman telah berada di depan ruangan tersebut bersama murid laki-lakinya yang tak lain adalah Aldo, salah satu dari gerombolan anak-anak bengal yang tempo hari memperkosanya yang kini tengah gemetar di hadapan pak Risman kepala sekolahnya.
"Oh...jadi rupanya bu Indah punya peliharaan" sambil terkekeh menjijikan pak Risman mulai mengeluarkan suara. 
"Ma..maksud bapak?" tanya bu Indah pura-pura tak mengerti. 
"Gak baik bicara di luar bu, ayo masuk..kamu juga nak" jawab pak Aldo sambil merangkul bahu anak laki-laki itu dan mengajaknya masuk kembali ke dalam ruangan konseling.
Pak Risman berpikir cepat, ia tidak bisa membiarkan anak ini. Ia takut rahasianya akan terbongkar.
Setelah di dalam ruangan, pak Risman lalu duduk di sofa kecil yang disediakan di ruang tersebut. Ia juga mempersilahkan Aldo dan bu Indah duduk. Dengan tenang pak Risman menginterogasi Aldo. Ia bertanya tentang awal mula anak itu bisa menyetubuhi bu Indah dan dari mana anak itu tau skandal tentangnya dengan para guru. Aldo dengan gemetar menceritakan semuanya. Sementara bu Indah hanya bisa menunduk malu karena dirinya ketahuan senang disetubuhi murid-muridnya sendiri. Selesai Aldo berbicara, pak Risman terlihat memikirkan sesuatu. Lalu sesaat kemudian ia mulai angkat bicara. 
"Begini do..kamu gak perlu takut...cukup tutup mulut.." Ucap pak Risman kepada Aldo. 
"Ma..maksud bapak apa?" Aldo bertanya heran tak tahu apa yang dimaksudkan pak Risman. 
Lalu pak Risman menjelaskan tentang perjanjian yang ia tawarkan kepada Aldo dan teman-temannya. "Gimana menurut kamu..deal?" tanya pak Risman kepada Aldo mengakhiri penjelasannya. 
"Jadi beneran pak saya boleh..kapan aja sama bu Indah?" Aldo malah balik bertanya, kali ini dengan raut muka sumringah. 
Pak Risman hanya mengangguk dan tertawa mendengar pertanyaan Aldo, seakan-akan dialah yang berhak menentukan nasib bu Indah.
"Sampaikan penawaran bapak ini sama temen-temen kamu.." Kembali pak Risman memberikan perintah pada anak itu, "dan jangan lupa hari senin pulang sekolah kita bicarakan di ruangan saya" lanjut pak Risman yang ditanggapi dengan gembira oleh Aldo.
Saking gembiranya Aldo saat itu hendak merangkul bu Indah, Namun pak Risman mencegah anak itu. "Hey..tadi kan kamu udah..sekarang giliran saya" cegah pak Risman.
"Yaelah pak...kita bareng-bareng aja napa...udah sange lagi saya" jawab Aldo yang kini sudah merasa lega, bahkan kini seakan tengah berbicara dengan teman sebayanya. 

Pak Risman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aldo. Sementara bu Indah nampak tersipu malu mendengar dirinya diperebutkan oleh kedua laki-laki beda usia ini. 
"Gini aja..kamu sekarang jangan ganggu bapak dulu sama si cantik ini ya" kembali pak Risman memberi tawaran kepada Aldo. 
"Terus saya sama siapa pak?" Aldo kembali bertanya.
Sejenak pak Risman berpikir lalu mengeluarkan Hp dari sakunya dan mengetik pesan yang ia kirimkan kepada seseorang. Lalu beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruangan tersebut. Pak Risman segera beranjak untuk membukakan pintu, ia tampak berbincang dengan orang yang berada di luar sana. Sesaat kemudian pak Risman kembali masuk dan menghampiri Aldo dan bu Indah yang tengah duduk di sofa.
 "Aldo..ini hadiah dari bapak buat kamu.." ucap pak Risman sambil mempersilahkan orang yang di luar itu masuk.
Aldo dan bu Indah tampak kaget, keduanya seolah tak percaya.
"Bbb..bu Astri.." Ucap bu Indah sambil kedua tangannya seakan-akan ingin menutup mulutnya. Sementara Aldo hanya bisa melongo dan beberapa kali menelan ludah melihat sosok bu Astri yang berlenggak-lenggok genit bak peragawati memamerkan tubuhnya memasuki ruangan. Bu Astri lalu berhenti di depan Aldo Muridnya, ia lalu menggoyangkan badannya layaknya biduan dangdut memamerkan keindahan pinggulnya. Dengan jari-jari tangan memainkan ujung rambutnya dan lidah yang memainkan bibir ranumnya, bu Astri nampak binal di hadapan Aldo, pak Risman dan bu Indah.
"Aldoo...sekarang belajarnya sama ibu ya..." ucap bu Astri dengan suara mendesah manja sambil mengulurkan tangannya kepada Aldo. 
Seperti kerbau dicucuk hidung Aldo hanya menuruti ketika tangannya digandeng bu Astri yang membawanya keluar ruangan tersebut. Sebelum keluar ruangan bu Astri menengok, ia mengedipkan matanya. 
"Bu Indah...selamat menikmati" ucapnya masih dengan gaya genit yang berbeda dengan kesehariannya. 
Pak Risman hanya terkekeh melihat kelakuan bu Astri. Ia sangat puas dengan hasil yang didapatkan buah dari kekuasaan yang ia miliki di sekolah ini. Sepeninggal bu Astri dan Aldo, pak Risman yang telah tinggi birahinya menyuruh bu Indah untuk duduk mendekat di sampingnya. Nampak saat itu bu Indah sangat gugup, karena walaupun ia mengetahui kalau dirinya akan menjadi hidangan bagi pak Risman, ini adalah kali pertama ia bermesraan dengan laki-laki yang lebih tua darinya selain suaminya.

"Jangan gugup seperti itu bu Indah..relax saja" ungkap pak Risman sambil merangkul bahu bu Indah sesaat setelah ia mendaratkan pantatnya di atas sofa berdampingan dengan kepala sekolahnya.
Tangan pak Risman mulai mendorong bahu bu Indah mendekat ke tubuhnya, mata mereka saling memandang memancarkan birahi. Kini pak Risman mendekatkan bibirnya ke arah bibir bu Indah yang merah merakah. Ketika ujung kulit bibir mereka bertemu, bu Indah tampak langsung memejamkan mata. Ia tampak pasrah menerima pagutan pak Risman, sesekali lidahnya membalas lumatan lidah pak Risman yang kini nampak sangat menikmati kepasrahan bu Indah yang menyerahkan tubuhnya dengan total untuk dinikmati kepala sekolahnya yang mesum. Desah kenikmatan tertahan bu Indah terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Kesehariannya sebagai seorang guru sangat kontras dengan kelakuannya. Ia takluk takluk pada kenikmatan seksual, hingga dirinya rela disetubuhi kepala sekolahnya bahkan disetubuhi murid-muridnya.  Kini bu Indah dan pak Risman sudah bertelanjang bulat. Pakaian yang tadi mereka kenakan kini tampak berserakan diruangan tersebut. Tubuh proporsional bu Indah yang putih mulus sungguh menggugah hasrat kelelakian pak Risman. Rambutnya yang dipotong pendek sebahu menambah aura kecantikan bu Indah yang kini tengah duduk menyender di atas sofa dan mengangkangkan kakinya. Membiarkan vaginanya yang merekah merah muda dijilati oleh lidah kasar pak Risman. 
"Ouh...yeah...it..tilnyah diemuth..pakh..yaaahhh.." desah kenikmatan keluar dari mulut bu Indah sampai ketika orgasmenya tiba.
Sesaat kemudian giliran batang kemaluan pak Risman yang dimanjakan oleh bibir bu Indah. Sungguh luar biasa kenikmatan yang pak Risman dapat dari guru sekaligus pengantin baru ini. Kulumannya benar-benar hebat, seakan-akan ia sudah mahir memanjakan batang kemaluan laki-laki dengan bibirnya. 
"Ouwh...bu Indah sudah mahir rupanya..aaahhh" ungkap pak Risman mengomentari service mulut bu Indah.
Pak Risman lalu menghentikan bu Indah yang tengah asik menikmati batang kemaluannya. 
"Sudah bu...sekarang layani saya dengan memek ibu" ucap pak Risman sambil menjambak rambut panjang bu Indah yang hitam dan menyuruhnya terlentang di sofa.
Bu Indah terlihat tak sabar untuk menikmati batang kejantanan pak Risman yang hitam, panjang, dan besar serta dipenuhi urat-urat yang melingkar. Dimana hampir setiap perempuan yang pak Risman setubuhi pasti ketagihan. Bu Indah membimbing batang itu memasuki vaginanya yang licin, basah dan sempit. Ia sampai merem melek ketika merasakan batang itu memasuki vaginanya.
Pak Risman yang ingin menunjukan kejantannannya langsung menggenjot vagina sempit bu Indah hingga membuat bu Indah mengerang-ngerang. Bunyi kulit yang bertumbukan saling bersahutan dengan suara desahan dan jeritan-jaeritan tertahan bu Indah. Hingga tak lebih dari sepuluh menit kembali orgasme menimpanya.

Belum reda orgasme yang didapat oleh bu Indah, pak Risman sudah memaksanya menungging. Ia langsung kembali menusukan batang besarnya kedalam vagina bu Indah yang sempit dan tanpa ampun menggenjotnya dengan tempo cepat dan dengan kedua tangan meremas payudara bu Indah. Tak ayal lagi, orgasme bu Indah kembali datang dan semakin menenggelamkannya dalam lautan kenikmatan.
"Auhhh...ampun...enakh...ampun" racau bu Indah ketika orgasmenya tiba. "Apanya yang enak bu Indah" tanya pak Risman tanpa menghentikan genjotannya, walaupun saat itu bu Indah sudah berkelojotan.
"Kon...tooolll...konhhh..tolll...enak..ouh" ucap bu Indah terputus-putus menanggapi pertanyaan pak Risman, yang rupanya mengalami hal yang sama. 
Saat itu pak Risman hampir mendapatkan orgasmenya hingga ia tak menghentikan genjotannya. Dan ketika orgasmenya tiba ia tancapkan batangnya dalam-dalam di lubang vagina bu Indah, tubuhnya berkelojotan dan menyemburlah spermanya di dalam rahim bu Indah. 
"Annjingh..oh...terima ini guru pelacur" racaunya ketika orgasme. 
Bu Indah yang mendengar perkataan tak senonoh dari kepala sekolah tersebut hanya memejamkan mata sambil tersenyum menikmati semburan-semburan sperma di rahimnya. Akhirnya tubuh buncit pak Risman ambruk diatas tubuh bu Indah. Nafas mereka berdua terengah-engah dengan tubuh bermandikan keringat. Namun mereka melupakan sesuatu. Tadi pak Risman lupa untuk mengunci pintu ruangan tersebut, hingga "cklek.." Suara pintu yang dibuka mengagetkan mereka. Saat itu pak Risman tengah memeluk bu Indah yang menelungkup di atas sofa masih dalam keadaan telanjang. Nafas mereka berdua terengah-engah. Sekilas tampak terlihat senyum dari bibir bu Indah. "Cklek..." Pintu itu terdengar dibuka dari luar, yang tentu saja menimbulkan kepanikan bu Indah dan pak Risman. Bu Indah menutupi payudara bulat miliknya dengan seragam yang ia pungut dari atas meja yang berada di depan sofa tempatnya barusan mengadu birahi bersama pak Risman. Wajahnya pucat ketakutan. Dengan bibir menganga tak mampu mengucap sepatah katapun. Namun orang yang baru saja membuka pintu tampak santai. Seperti tak pernah melihat kejadian apapun di ruangan tersebut.
"Bb..bu..Linda.." Ucap pak Risman memberanikan diri memanggil orang yang baru saja datang. 
Sementara orang yang dia panggil tak lantas menjawab panggilan pak Risman. Dengan tenang ia masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengunci pintunya. Bu Linda lalu berjalan menghampiri pak Risman yang tengah duduk di sofa dengan tubuh yang masih telanjang. 
"Jangan mentang-mentang ini jam bubaran sekolah pak..masa mau ngeseks tapi pintunya gak dikunci" ucap bu Linda sambil duduk di atas meja di depan pak Risman dan bu Indah sambil menyilangkan kakinya. "ternyata gini yah kelakuan bu Indah..." kembali bu Linda berkata sambil matanya menatap tajam bu Indah yang menunduk dengan badan gemetar.
"Tt..tolong bu..jangan bilang sama siapa-siapa" ucap bu Indah yang kini mulai terlihat akan menangis. Mendengar ucapan bu Indah, terlihat senyuman mengembang di bibir sensual bu Linda. 
"Saya gak bakalan bilang sama siapa-siapa bu Indah...assal.." ucapan bu Linda terhenti. 
"Asal apa bu?" Kini bu Indah nampak penasaran dengan apa yang akan diucapkan bu Linda. "Asal saya juga dikasih jatah kontol sama pak Risman" jawab bu Linda malu-malu sambil mengerlingkan matanya terhadap pak Risman.
Terdengar dengus nafas dari pak Risman dan bu Indah, keduanya merasa lega mendengar ucapan bu Linda. 
"Dengan senang hati bu..kemarilah.." Ajak pak Risman sambil menarik tangan bu Linda.
"Bu Indah..saya pinjam pak Risman ya" bu Linda meminta izin terhadap rekannya. 
"Eh..silahkan bu..tapi sisain ya" jawab bu Indah genit. 

Lalu bu Linda duduk menyamping di pangkuan pak Risman, ia langsung menggapai kepala pak Risman dan memagut bibirnya penuh birahi. Rupanya sebelum bu Linda masuk ke ruangan itu ia telah mengintip persetubuhan pak Risman dan bu Indah, hingga ia terangsang dan memberanikan diri untuk ikut ambil bagian dalam persetubuhan itu. Sesaat pak Risman menghentikan pagutannya.
"Kalau mau saya entot ya dilepas dong bajunya" ucap pak Risman sambil tangannya sibuk melolosi pakaian bu Linda. 
Setelah semua pakaian bu Linda terlepas, kembali pak Risman menggumuli tubuh semok janda muda ini. Ia tampak gemas memainkan payudara besar bu Linda. Tubuh aduhai bu Linda yang didukung paras wajah sensualnya memang menjadi daya pikat bagi semua lelaki. Kini tampak bu Linda yang menikmati bagaimana tubuhnya dirangsang pak Risman sedemikian rupa.
"Bu..kontol saya udah gak tahan pengen nyoblos" bisik pak Risman sambil bibirnya mengulum telinga bu Linda. mendengar itu bu Linda lalu turun dari pangkuan pak Risman, ia lalu bersimpuh di depan pak Risman yang duduk mengangkang memperlihatkan batang kejantananya yang sudah tegak.
Tangan bu Linda lalu menggapai batang pak Risman yang telah berdiri tegak tersebut, ia mengocoknya perlahan seolah-olah sedang meresapi betapa kerasnya batang kemaluan pak Risman. Setelah beberapa detik ia lalu melumuri kemaluan pak Risman dengan ludahnya lalu mengulumnya.
Nampak sekali bu Linda sangat mahir dalam melakukan oral seks. Sesekali matanya beradu pandang dengan pak Risman yang nampak hanya bisa mengerang keenakan. Bu Indah yang saat itu hanya menonton mulai merasakan birahinya muncul kembali. Ia kemudian merebahkan dirinya di samping pak Risman dan meminta pak Risman memainkan vaginanya dengan jari-jari tangan gemuk kepala sekolah tersebut.  Setelah beberapa menit, pak Risman menyudahi kegiatan oral seks yang dilakukan bu Linda terhadap batang kejantanannya. Ia lalu menyuruh bu Linda menungging dengan wajah tepat di hadapan vagina bu Indah yang mengangkang. Mengerti dengan maksud pak Risman, bu Linda lalu menjulurkan lidahnya kearah rekahan vagina bu Indah. Ia dengan telaten menjilati vagina bu Indah yang kini mendesah penuh kenikmatan dengan tangan yang meremas-remas payudaranya sendiri. Di tengah-tengah asiknya bu Linda menjilati vagina bu Indah, ia tampak mengerang merasakan penetrasi batang besar pak Risman memasuki vaginanya.
"Aaaaaarrrggghhh...hmmm..." Erang bu Linda tertahan karena bu Indah kembali mendorong kepalanya tenggelam di vaginanya. 
Pak Risman sangat menikmati mengocok vagina bu Linda dari arah belakang. Apalagi ketika bu Linda menggoyangkan pinggulnya memutar, terasa batangnya seperti dipelintir oleh vagina lembut bu Linda. Namun goyangan pinggulnyapun tidak hanya memberikan kenikmatan kepada pak Risman, bu Linda pun merasa batang kejantanan berotot itu menyentuh semua bagian di dalam rongga vaginanya hingga ia orgasme. Pak Risman merasa batangnya semakin terjepit lubang vagina bu Linda. Cairan putih tampak melumuri batangnya yang keluar masuk di vagina guru tersebut. Beberapa saat kemudian giliran bu Indah yang mendapatkan orgasme. Tubuhnya menenggang, kepalanya terangkat dan dari vaginanya mengalir cairan putih kental yang dengan cekatan dijilati bu Linda.
Kemudian pak Risman mengganti gaya. Ia kini membalikan bu Linda terlentang di atas sofa, dengan kaki bu Linda yang ia angkat di bahunya, pak Risman kembali menggenjot vagina sempit bu Linda dengan tempo cepat.
"Ouh pa..en..nak..iyah en..naak.." terdengar kini bu Linda merengek-rengek.
Semakin cepat pak Risman menggenjot, maka semakin dekat pula orgasme yang menghampiri bu Linda. Maka dengan satu hentakan yang dalam dari batang pak Risman, vagina bu Linda pun memuncratkan cairan orgasmenya. Pak Risman yang juga sudah hampir mencapai orgasme segera mencabut batang kejantannanya, yang kini terlihat diperbutkan oleh bu Linda dan bu Indah.
"Crottt...crott...crot.." sperma menyembur mengenai wajah-wajah cantik kedua guru tersebut. 

#####################
Pagi hari yang cerah jam 06.30

Seorang laki-laki berbadan buncit usia 45 tahun masih terlelap di kamar tidurnya dengan tubuh telanjang ditutupi selimut hangat. Disampingya seorang perempuan berusia 37 tahun berparas cantik khas ibu-ibu masa kini dengan rambut pendek sebahu masih menggelayut manja memeluk tubuh suaminya. Sinar matahari yang mulai masuk menyilaukan mata laki-laki itu mengganggu tidur lelapnya. 
"Hoaaaammm...jam berapa ini" ucap laki-laki itu sambil menggeliatkan badannya dan tangan meraba-raba meja yang terletak di samping tempat tidurnya. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, laki-laki itu sontak kaget. 
"Hahhh...mah bangun...papah kesiangan" dengan setengah berteriak laki-laki itu beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.
15 Menit kemudian acara ritual mandi pagi laki-laki tersebut selesai. Ketika ia keluar dari pintu kamar mandi, nampak istrinya tengah menyisir rambut di depan meja rias dengan tubuh yang hanya dibalut kimono berwarna merah pendek menggantung di atas lutut, sehingga paha putih mulusnya terlihat dengan jelas menggoda laki-laki tersebut.
"Hmmm...Yunitha, tak salah memang aku mengawinimu" ucap laki-laki tersebut sambil memeluk wanita itu dari belakang dan tangan yang menyusup kedalam kimono wanita tersebut meremas nakal payudara berukuran sedang istrinya.
"Kalau bukan karena uangmu..aku gak bakalan mau kamu kawini Risman" pikir wanita itu. "Udah pahhh...katanya kesiangan" ucap wanita itu sambil menggeliat dengan suara mendesah melepaskan diri dari rabaan suaminya.
Yunitha Silviani, sebenarnya wanita itu adalah istri kedua pak Risman yang belum genap 3 tahun dinikahi. Perkawinan pertama pak Risman berakhir dengan perceraian, dikarenakan istri pertamanya tak kuat menghadapi sifat buruk suaminya yang hidung belang. Dari perkawinan pertamanya pak Risman dikaruniai dua orang anak laki yang hak asuh keduanya diambil mantan istrinya. Yunitha sendiri dulunya adalah seorang penyanyi cafe yang selama 8 tahun menjadi simpanan pak Risman, sebelum akhirnya dinikahi oleh kepala sekolah mesum tersebut. Selesai mematut dirinya pak Risman keluar dari kamarnya, diiringi istri cantiknya yang menggelayut manja di lengan kirinya. 
"Selamat pagi juragan...sarapannya udah si mbok siapin di meja makan gan" ucap wanita setengah baya sambil membungkuk kepada pak Risman dan istrinya. 
"Hari ini saya gak sarapan mbok..udah kesiangan ni" jawab pak Risman sambil mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam tangannya. 
"O iya mbok, kalau mau ke pasar sekarang aja ikut sama bapak...kan searah...gak apa-apa kan pah" timpal Yunitha kepada pembantunya yang dilanjutkan dengan pertanyaan kepada suaminya. 
"Iya..boleh-boleh...ayo mbok..udah siap kan" jawab pak Risman yang ditanggapi dengan anggukan pembantunya.
"Met pagi gan...mobilnya udah siap" suara laki-laki hitam berbadan tegap usia tiga puluhan di teras rumah besar milik pak Risman. 
"O iya mang Udin makasih ya...ini buat rokok mang" jawab pak Risman sambil memberikan selembar uang kepada tukang kebun sekaligus supir istrinya itu. "Mah..papah berangkat ya.." ucap pak Risman berpamitan kepada istrinya, sambil tak lupa mencium pipi kanan dan kiri istri cantiknya. 
Sementara itu mang Udin yang ada di depan suami-istri tersebut nampak beberapa kali menelan ludahnya melihat kesintalan tubuh istri majikannya. Bagaimana tidak, Yunitha yang mengantar keberangkatan suaminya tersebut masih mengenakan kimono merah sexynya. Pahanya yang putih mulus terlihat menggoda, apalagi ikatan tali kimono dipinggangnya yang tidak kencang memperlihatkan belahan dadanya yang tidak memakai BH. Baru saja mang Udin menutup pintu gerbang selepas kepergian pak Risman, dari teras rumah tersebut terdengar suara yang memanggilnya. 
"Mang...di rumah sekarang kosong...saya tunggu di kamar yah..." ucap Yunitha dengan desahan manja. "Ingat...mamang mesti telanjang" lanjut Yunitha sambil mengacungkan jari telunjuknya menggoda tukang kebun sekaligus supir pribadinya, yang kemudian berlalu memasuki rumahnya.
Mang Udin yang mendapat undangan dari nyonya rumahnya sangat senang bukan main. Dengan terburu-buru ia mengunci gerbang rumah tersebut. 
"Nyah...aku datang..haha.." ucap mang Udin sambil setengah berlari mengejar sang majikan.

###########################
Sementara itu, pukul 07.20 

Pak Risman tiba di sekolah. Hari itu hari senin dimana pada waktu itu upacara bendera yang rutin dilaksanakan pada hari senin masih berlangsung. Pak Risman lalu bergabung dengan barisan guru-guru dan staff yang sedang mengikuti upacara tersebut. Hampir semua guru dan staff menyapanya, tak terkecuali dengan para guru-guru muda cantik yang telah berhasil ditaklukannya. Bu Ernita, Bu Astri dan Bu Linda terdengar genit menyapanya.
"Bentar-bentar...bu Indah mana" pikir pak Risman setelah mengamati guru dan staff di sekolahnya satu-persatu.
Hari itu pak Janudi sebagai wakil kepala sekolah menggantikan pak Risman yang terlambat datang sebagai pembina upacara. Ia berceramah tentang moral bangsa yang kian hari kian hancur di depan ratusan siswa-siswi sekolah tersebut.
"Ahhh...munafik kau ini Janudi...pake ngomongin moral...kalau udah ngerasain memek guru-guru disini pasti lu ketagihan" cibir pak Risman dalam hatinya, mendengar ceramah pak Janudi yang secara tak langsung seperti menyindir kelakuannya.
Sementara ketika upacara tengah berlangsung, di ruang penjaga sekolah atau lebih tepatnya disebut gudang di sekolah itu tengah terjadi pertarungan birahi. Terlihat satu orang guru cantik melawan dua murid laki-laki dan satu orang laki-laki paruh baya. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan bu Indah yang tadi tampak tidak mengikuti upacara. Sementara dua orang murid laki-laki itu tak lain adalah Rizal dan Reska, dimana beberapa hari yang lalu ikut memperkosa bu Indah bersama teman-temannya. Sedangkan laki-laki paruh baya itu adalah mang Yono, yang hari itu sangat beruntung diizinkan mencicipi tubuh satu orang lagi guru hasil penaklukan pak Risman. Saat itu bu Indah sedang duduk mengangkang diatas kursi yang tak terpakai di gudang sekolah tersebut. Celana dan celana dalamnya telah terlepas memperlihatkan vaginanya yang sedikit berbulu, merekah dan menggiurkan yang kini tengah dijilati mang Yono sambil berjongkok di depannya. Mulut merah bu Indah tengah mengemut batang kemaluan Reska di samping kanan tubuhnya, sementara tangan kirinya tengah mengocok lembut batang kemaluan besar berotot milik Rizal. Baju seragam mengajar bu Indah telah terbuka semua kancingnya, begitu pula dengan cup BH-nya yang kini terangkat ke atas, memperlihatkan payudaranya yang bulat yang kini tengah diremas kedua muridnya. Lenguhan tertahan bu Indah serta bunyi kecipak dari lumatan mang Yono di vagina guru itu menandakan birahinya yang semakin tinggi. Kini mulut bu Indah beralih ke batang kemaluan milik Rizal, ia sangat mengagumi batang muridnya tersebut, dimana beberapa hari yang lalu batang kemaluan Rizal lah yang akhirnya membuat bu Indah menyerah dan takluk pada kenikmatan.
"Mmmhhh...ayo jagoan...ibu pengen dientot lagi" ucap bu Indah disela-sela kesibukannya memanjakan batang kemaluan muridnya. 
"I..iyaah bu...gak percuma...sayyah..bolos" jawab Rizal terpatah-patah sambil mengelus kepala gurunya yang berparas cantik tersebut.
Selang beberapa menit mang Yono menyudahi kegiatannya menikmati cairan birahi yang keluar dari vagina bu Indah. Ia mencari beberapa lembar kardus bekas, lalu menggelarnya di lantai gudang tersebut. Kemudian ia sendiri membuka celana berikut celana dalam dekilnya dan rebahan di atas kardus-kardus yang barusan ia gelar. 

"Ayo bu Indah sini...Lihat ni kontol mamang udah ngaceng pengen nusuk memek ibu" ucap mang Yono memanggil bu Indah sambil menunjukan batang kemaluannya yang hitam, panjang dan besar, dihiasi urat-urat yang melingkar disisi-sisinya.
Bu Indah yang mendengar ajakan mang Yono segera bangkit. Ia membuka baju seragam dan juga pakaian dalamnya yang menjadi kain penutup terakhir di tubuhnya. Lalu guru cantik itu menghampiri mang Yono diikuti kedua murid-muridnya. Lalu bu Indah mengakangi tubuh mang Yono, dengan kedua tangannya sendiri ia menyibakan vaginanya, memperlihatkan lubang merah sempit yang basah di hadapan mang Yono yang kini terlihat mengurut-ngurut batang  kejantannannya yang semakin membengkak. 
"Mamanghhh...mau memek saya mang...ssshhh" ucap bu Indah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya menggoda si penjaga sekolah, yang kini hanya bisa mengangguk sambil menenggak air liurnya sendiri seperti orang idiot.
Rizal yang tak sabar langsung menekan bahu gurunya tersebut untuk segera memasukan batang kemaluan mang Yono ke dalam vaginanya. Anehnya bu Indah tak marah diperlakukan seperti budak yang harus menuruti perintah tuannya oleh muridnya sendiri. Sebelum menusukan batang kemaluan besar mang Yono, bu Indah tampak beberapa kali meludahi telapak tangannya. Lalu air ludahnya itu ia balurkan ke seluruh batang kemaluan mang Yono. Setelah itu ia genggam batang kemaluan mang Yono dan membimbingnya masuk ke dalam vaginanya. 
"Ahhh..ssshhh...besssar.." desah bu Indah menikmati penetrasi kemaluan mang Yono yang menembus memasuki vaginanya.
Rizal dan Reska tak tinggal diam. Mereka berdua langsung menyodorkan kemaluan masing-masing di depan wajah penuh birahi gurunya. 
"Ayo bu...perlihatkan sepongan hebatnya" ucap Reska sambil menjambak rambut bu Indah dan mendorongnya mendekati selangkangannya.
Bu Indah yang diperlakukan kurang ajar oleh muridnya itu malah tersenyum. Sambil menatap binal, ia menjulurkan lidahnya yang basah menyapu batang kemaluan Reska dari biji pelir sampai ke ujung kepalanya, yang walaupun tidak besar tetapi sangat panjang dan keras seperti kayu.
"Reska...tempat kontolmu di lubang pantat ibuh...hhh...ayo nak...tusuk pantat ibu...ssshhh" desah binal dan genit bu Indah meminta kepada muridnya melakukan anal seks terhadapnya.
Reska akhirnya menuruti apa yang dikehendaki gurunya tersebut. Dengan sedikit bantuan dari cairan vagina bu Indah yang kini tengah menggenjot batang kemaluan mang Yono, ia melumasi lubang pantat gurunya dan menusukan batang kerasnya. Kini bu Indah benar-benar seperti wanita murahan. Vaginanya menggenjot batang besar mang Yono ketika anusnya disodok dengan ganas oleh Reska muridnya. Mulut bu Indah pun tidak bebas untuk mengerang karena Rizal menugaskan gurunya tersebut untuk menservice batangnya.
"Ohhh...mantaps..goyangannyahhh..gak kalah sama perek" ucap mang Yono berkomentar ketika bu Indah menggoyang batang kemaluannya. 
"Ahhh...ini kan guru yang sampinganyah jadi perek mangh..oh" Reska pun menimpali ucapan mang Yono. 
Sementara Rizal hanya dapat melenguh-lenguh sambil menjambak rambut gurunya, menikmati kuluman dan sedotan bibir merah bu Indah di batang kemaluan besarnya.

Mendengarkan celoteh mang Yono dan Reska muridnya, bu Indah malah semakin bersemangat memberikan pelayannan seks kepada ketiga pejantannya. Pikirannya menerawang, membayangkan dirinya berdandan menor ala wanita-wanita penghibur dan menjajakan dirinya di pinggir jalan menggoda para lelaki hidung belang.  Rupanya bayangan nakal bu Indah mampu menyeretnya kedalam orgasme yang dahsyat. Tubuhnya menegang berkelojotan, dari vaginanya memuntahkan cairan putih kental yang melumuri batang kejantanan mang Yono. Sejenak ia melepaskan kulumannya terhadap batang kemaluan Rizal untuk mengekspresikan pencapaiannya ketika mendapatkan orgasme. 
"Sssshhh...Oughhh..yeaaahhh...nikkkmaaattt..aa hh".
Orgasme bu Indah ternyata ikut menyeret Reska yang masih belum banyak pengalaman mendapatkan klimaksnya. Ia tak mampu bertahan ketika bu Indah mengejang, otot lubang anusnya seakan-akan menggigit lembut batang kemaluan Reska yang ikut memuncratkan cairan spermanya di dalam anus bu Indah. Reska mencabut batang kemaluannya perlahan dari lubang anus bu Indah. Ia lalu duduk mengistirahatkan dirinya di atas kursi yang tadi diduduki bu Indah. 
"Gile men...pantatnya asoy guru kita ini" ucap Reska sambil terengah-engah mengomentari kenikmatan yang dia dapat dari lubang pantat bu Indah.
"Beneran men?..kalau gitu gua juga pengen nyicip.." Ungkap Rizal sambil beranjak ke arah pantat bulat bu Indah.
Bu Indah yang merasakan kembali anusnya disodok melenguh. Kali ini batang yang menusuk anusnya lebih besar dan berotot. 
"Pelan-pelan nak...kasihani gurumu ini" ucap bu Indah memohon sambil menengokan kepalanya ke arah Rizal yang kini tengah serius menyodok-nyodokan batang kemaluan besar di anus gurunya. 
Namun Rizal tak perduli, Ia malah dengan ganas menggenjot pantat bu Indah. 
"Amppppun...Ampunh nakh..ohhhh...panas" bu Indah mengerang meminta ampun karena bibir lubang anusnya terasa panas merasakan gesekan kencang batang kemaluan Rizal muridnya. 
Namun di balik kesakitan yang dirasakan bu Indah, ternyata diam-diam ia menikmati perlakuan kasar para pejantannya. 
"Ough...inikah yang dirasakan para pelacur,sakit tapi puas" itulah yang ada dipikiran bu Indah, ketika Rizal dan mang Yono menggenjot lubang-lubangnya dengan brutal. Hingga orgasme menimpanya, Rizal dan mang Yono tak berhenti menikmati tubuh sintal guru cantik itu.
"Praaang...brsssssk.." terdengar suara benda terjatuh yang mengagetkan keempat orang di dalam gudang tersebut, dan sontak mereka menghentikan kegiatannya. Reska segera mencari tahu ke arah suara itu. Beberapa menit kemudian ia datang menyeret seorang gadis yang meronta, masih berseragam lengkap dengan tas gendongnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Reska yang menyeretnya.
"Tifany..." Bibir bu Indah mengucap satu nama dengan kaget, Ia berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kedua tangannya.

Rupanya anak perempuan itu bernama Tifany, murid kelas dua di sekolah itu. Ia bermaksud bersembunyi di gudang sekolah menunggu upacara selesai karena ia kesiangan. Tak disangka ia malah memergoki gurunya tengah berbuat mesum dengan kedua murid dan penjaga sekolah di gudang tersebut. Karena kaget ia lantas menyenggol kaleng-kaleng bekas cat, sehingga keberadaannya diketahui dan Reska menangkapnya.
"Ma..maaf bu saya gak maksud ngintip" ucap Tifany panik dihadapan gurunya. "Wah bisa-bisa ni anak ember ngomong kemana-mana" Rizal angkat bicara. "Ngga...engga...saya gak bakal ngomong ke siapa-siapa..lepasin saya" kembali anak gadis itu panik.
Bu Indah yang masih telanjang akhirnya tersenyum karena mendapat ide dikepalanya. Dengan langkah gemulai ia mendekati Tifany yang dengan erat dipegangi Reska.
"Kamu janji gak bakalan ngomong sama siapa-siapa?" Tanya bu Indah dihadapan gadis itu, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Tifany yang kaget melihat gurunya mendekati dalam keadaan telanjang.
"Tapi sayangnya ibu gak percaya nak...ibu perlu jaminan" kembali bu Indah berucap kepada gadis itu sambil jari-jari tangannya membelai pipi gadis itu.
Lalu tanpa disangka-sangka tangan kiri bu Indah menyelusup dari bawah rok abu-abu di atas lutut gadis itu. Jari-jari lentiknya membelai lembut vagina sang gadis. Sambil terisak gadis itu memohon "TIIIDAAAKKK..." 
Jerit dan tangisan tertahan terdengar di dalam gudang sekolah. Seorang gadis remaja usia 17 tahun yang pakaian seragamnya telah dilucuti tak bisa mempertahankan kehormatannya. Gadis itu bernama Tifany, murid kelas 2 SMA yang memiliki wajah cantik dengan ditunjang postur tubuh ideal khas remaja SMA. Kini tubuhnya tengah duduk mengangkang di atas kursi di dalam sebuah gudang. Di kanan dan kirinya berdiri dua orang laki-laki dengan celana yang sudah ditanggalkan memegangi kedua tangan dan menahan tubuhnya yang telanjang. Di depannya, seorang laki-laki paruh baya tengah asik menjilati harumnya vagina gadis itu. Sementara itu, seorang guru cantik tengah berdiri dengan tubuh telanjang, tangannya memegang handphone yang ia gunakan untuk merekam kegiatan yang tengah terjadi didepan matanya. Tubuh Tifany sudah menyerah untuk melawan. Ia hanya bisa menangis dan mengerang tertahan karena mulutnya telah disumpal oleh celana dalamnya sendiri.
"Hmmm...hmmm..." Tifany bergumam ketika merasakan lidah mang Yono tengah mengorek liang sempit vaginanya. 
"Menyerah saja sayang...nikmati..ini enak ko.." Ucap bu Indah, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala yang lemah dari Tifany, seolah-olah memohon belas kasihan dari gurunya itu. 
"Iya fan..lu mending nikmatin...tuh bu Indah aja jadi doyan" timpal Rizal menimpali ucapan gurunya.

Kini tubuh Tifany direbahkan di atas kardus bekas, tempat dimana sebelumnya bu Indah digauli tiga laki-laki yang kini mengerubuti gadis itu. Tangan kanan dan kirinya kembali mencoba untuk meronta. Akan tetapi tenaganya bukanlah tandingan Rizal dan Reska yang kini tengah memegangi tangan kanan dan kirinya. Di bawahnya mang Yono mengangkangkan kedua paha gadis tersebut dengan batang kemaluan yang sudah menempel di belahan vaginanya yang putih dan bersih dari bulu. Beberapa kali penetrasi mang Yono meleset karena rontaan gadis itu, hingga bu Indah yang masih tetap merekam kejadian itu membantu mengarahkan batang kemaluannya. Dengan perlahan batang besar mang Yono memasuki lubang sempit vagina Tifany. 
"Hkkkkkk..." tiba-tiba Tifany mengernyitkan dahinya, matanya yang bulat terlihat menyipit. Dari bibirnya yang tersumpal celana dalamnya sendiri terdengar rengekan seperti tengah merasakan kesakitan.
Bu Indah mengabadikan momen tersebut dengan handphonenya, dimana batang kemaluan mang Yono telah tertelan semuanya oleh vagina Tifany. Mang Yono sangat menikmati jepitan vagina yang diperawaninya. 
"Ahhh...mantap bener ni memek si neng.." Ungkap mang Yono sambil dengan perlahan mengeluarkan batang kemaluannya, terlihat darah segar yang melumuri batang kemaluan mang Yono. 
"Ini sudah terlanjur sayang...nikmati saja...jangan coba-coba melapor..ibu punya rekamannya.." Ucap bu Indah sambil membelai-belai rambut panjang gadis tersebut.
Mendengar ucapan gurunya itu Tifany semakin terisak. Ia tidak percaya jika gurunya sendiri menjerumuskan dirinya. Keperawannan yang ia jaga telah direnggut dengan paksa. Andai saja hari itu dirinya tidak kesiangan untuk berangkat ke sekolah, pasti kejadian ini bisa dihindari. Pikiran Tifany mulai buyar ketika dengan perlahan mang Yono mulai menggoyang dan memaju mundurkan batang kemaluan besarnya. Semakin lama semakin meningkat tempo genjotan mang Yono. Tifany semakin gelisah, apalagi kini tangan kedua temannya menjamah payudaranya yang bulat dan sedang secara berebutan. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menahan rasa sakit di lubang vaginanya. Lama-kelamaan kesakitan yang dirasakan Tifany mulai sirna digantikan rasa nikmat yang baru kali ini ia rasakan. 
"Ouh...kenapa jadi gini...ko jadi enak banget" pikir Tifany ketika merasakan vaginanya berkedut. 
Tubuhnya melengkung ke atas membusungkan dadanya, dari mulutnya terdengar erangan panik ketika gadis itu tanpa disangka mendapatkan orgasme pertama dalam hidupnya yang ia dapatkan dari pemerkosanya. Gelak tawa terdengar dari ketiga laki-laki diruangan itu, karena melihat gadis yang mereka perkosa mendapatkan orgasme yang hebat. Bu Indah menghampiri gadis itu yang kini matanya tengah terpejam menikmati apa yang baru saja ia rasakan. Lalu bu Indah melepas celana dalam yang menyumpal mulut gadis tersebut, dengan penuh kasih ia membelai rambut gadis itu yang kini tidak lagi meronta. Sementara itu, Rizal mulai beralih menjamah payudara telanjang bu Indah yang berada dekat dengannya. Bu Indah hanya memandang penuh birahi kepada muridnya tersebut sambil mengeluarkan lidahnya menjilati bibirnya sendiri menggoda Rizal.

"gimana sayang..enak kan" tanya bu Indah kepada Tifany sambil membelai rambut panjang muridnya tersebut, yang mulai kembali mendesah merasakan vaginanya kembali digenjot mang Yono. 
Gadis itu hanya mengangguk menanggapi pertanyaan gurunya tersebut. Kini Tifany terlihat pasrah menerima tubuhnya digumuli ketiga pemerkosanya. Malah kini ia tidak menolak ketika Reska menyuruhnya untuk mengulum batang kemaluan panjang miliknya. Sementara, di samping gadis tersebut bu Indah juga tengah menjilati batang kemaluan Rizal sambil menungging mengarahkan bokongnya di hadapan mang Yono. Mang Yono yang melihat pantat bulat bu Indah dihadapannya tak kuasa untuk tidak menjamahnya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan mengocok vagina guru cantik tersebut dengan dua jarinya. Kini yang terlihat di ruangan tersebut bukanlah adegan pemerkosaan, akan tetapi yang kini terlihat adalah pergumulan tiga orang laki-laki dengan dua orang perempuan cantik beda usia yang terlihat menikmati perlakuan para pejantannya. Tifany kini terlihat bergairah menggoyangkan pinggulnya diatas tubuh Reska yang tengah duduk di atas kursi. Gadis itu nampak sudah melupakan kejadian pemerkosaan terhadap dirinya. Kini ia tengah bergoyang di atas tubuh Reska, rambutnya yang panjang terlihat acak-acakan. Kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri yang dipenuhi bekas-bekas cupangan ketiga laki-laki di ruangan tersebut. Sementara itu bu Indah tengah disandwich oleh Rizal dan mang Yono. Ketiganya nampak hanyut dalam kenikmatan birahi dan berlomba-lomba untuk mencapai kepuasan.
"Adduh..ahh..bu Indah...lobang bo'olnya kenceng jepit kontol mamangh.." Ucap mang Yono terengah, yang kala itu tengah menggenjot kencang pantat bu Indah. 
"Iyya..mang..ni memeknyah juga sama..oh" Rizal menimpali ucapan mang Yono. 
"Ahhh...konthol...kalian..nyah gede..gede..hmmm" jawab bu Indah menanggapi komentar orang-orang yang tengah menikmati tubuhnya. 
Entah berapa kali bu Indah dan Tifany mendapatkan orgasme dari persetubuhan itu. Hingga pada akhirnya tubuh mereka berdua berpelukan lemas diatas kardus bekas, Setelah sebelumnya ketiga laki-laki tersebut secara bersamaan memandikan bu Indah dan Tifany dengan sperma yang mereka tumpahkan sembarangan di wajah keduanya. Setelah merapihkan diri dan memperbaiki make up-nya, bu Indah keluar dari gudang tersebut bersamaan dengan bubarnya para murid di sekolah itu karena upacara telah usai. Tifany berjalan agak tertatih karena rasa nyeri dari selangkangannya yang baru saja diperawani. Di persimpangan jalan menuju kantor guru mereka berpisah. Tifany berjalan tanpa pamit pada bu Indah menuju kelasnya. Hari masih pagi ketika Tifany menyadari dirinya sudah tidak perawan lagi. Ketika tengah berjalan, langkah gadis itu terhenti. Tanpa menoleh ia mendengar suara orang yang memanggilnya. 
"Tifany...maafkan ibu..." 

######################
Tanpa terasa jam pelajaran terakhir sudah dilewati. 
"Huft...akhirnya selesai juga" pikir perempuan cantik berpakaian seragam khas pengajar. 
Ia kini tengah berjalan menuju ruang guru, ketika langkahnya terhenti karena dikagetkan oleh seseorang yang mencolek pantat bahenolnya. 
"Kurang ajar...ini kan tempat umum" pikirnya. Perempuan itu lalu menoleh ke arah sosok yang telah kurang ajar terhadapnya.
"met siang bu Astri" sapa orang yang mencolek pantat bu Astri tadi, sambil cengar-cengir memuakan. 
"Ih mang Yono...kalau ada yang lihat gimana...jangan gitu ah mang" jawab bu Astri kepada orang yang telah berani mencolek pantat bahenol kebanggaannya. 
"Hehe...iya bu maaf...abisnya ibu nggemesin...bikin saya gak bisa nahan" kembali mang Yono berucap dengan masih bergaya cungar-cengir yang sama sekali tidak bisa menambah ganteng wajahnya. 
"Huuuu...gombal...bilang aja kalau kontol mamang mau minta jatah memek ke saya" jawab bu Astri tanpa tendeng aling-aling.
Mang Yono yang mendengar jawaban bu Astri senang bukan main, ternyata kenikmatan dari batang kejantanan laki-laki telah mampu merubah kepribadian seorang guru yang dikenal alim ini. "Hmmm...dasar pelacur doyan banget sama kontol" pikir mang Yono sambil menatap lekat tubuh sintal bu Astri.
"Jadi mau dimana mamang ngentotin saya...saya gak punya banyak waktu nih mang" ucap bu Astri sambil melihat jam tangannya yang sontak mengagetkan mang Yono.
Mang Yono lalu mengajak bu Astri ke bagian paling belakang dari sekolah itu. Rupanya si penjaga sekolah tersebut berniat mengambil jatahnya dari bu Astri hari itu di ruang kepramukaan yang tempo hari digunakan empat orang murid-murid bengal untuk menaklukan bu Indah. Sesampainya di ruangan itu mereka malah dikagetkan oleh suara-suara lenguhan dari dalam ruangan tersebut. "Wadduh...udah ada yang ngeduluin kita bu" ucap mang Yono setengah berbisik kepada bu Astri, sambil tangannya menggandeng tangan bu Astri mengajak untuk mengintip kegiatan di dalam ruangan tersebut.
"Bu Linda..." Bisik bu Astri ketika mengetahui orang yang tengah berada di dalam ruangan itu. Nampak di depan mata bu Astri, saat itu bu Linda tengah menikmati batang kemaluan seorang laki-laki yang menyodok vaginanya dari belakang. Dengan posisi tangan bertumpu pada tembok bu Linda menggoyangkan pantatnya menerima sodokan batang besar milik seorang laki-laki. 
"Ouuugh...terus pak Arif...yahhh" racau bu Linda.
Ternyata laki-laki yang tengah menggenjot bu Linda itu adalah pak Arif, seorang guru mata pelajaran olahraga yang memang menurut gosip yang beredar, dirinya mempunyai hubungan khusus dengan bu Linda. Batang kemaluan pak Arif yang menyodok-nyodok vagina bu Linda tidak bisa tidak akhirnya menimbulkan birahi bu Astri. 
"Hmmm...mang udah yu ikutan aja...memek saya udah gatel" ajak bu Astri kepada mang Yono, karena tak kuat menahan birahinya sambil menarik tangan mang Yono. 
"Pak Arif, bu Linda...kita ikut numpang yah.." ucap bu Astri ketika memasuki ruangan itu, membuat pasangan yang tengah berasyik masyuk itu tampak kaget. Setelah tahu orang yang masuk adalah bu Astri dan mang Yono, nampak sekali perasaan lega di wajah bu Linda. Tetapi hal itu berbeda dengan pak Arif, ia masih kaget melihat rekan kerjanya sesama pengajar itu berpagutan liar dengan seorang penjaga sekolah. Malah kini nampak bu Astri dengan sukarela mengulum dan memanjakan batang kemaluan mang Yono.
"Ohhh...gila...sejak kapan bu Astri jadi liar gitu...beruntung sekali mang Yono..." pikir pak Arif ketika matanya bertemu pandang dengan bu Astri yang kini tengah asik menikmati batng kemaluan mang Yono dengan bibir ranumnya. 
"Udah pak...sekarang puasin saya dulu...nanti pak Arif boleh ngentotin bu Astri" ucap bu Linda membuyarkan lamunan pak Arif. 
Dengan perasaan iri terhadap mang Yono, pak Arif kembali menggenjot vagina bu Linda. Lenguhan-lenguhan bu Linda pun terdengar kembali di ruangan itu. Sedangkan di samping mereka kini terlihat bu Astri yang sudah bertelanjang bulat tengah mengangkang, vaginanya yang segar tengah dijilati mang Yono.
"Auuuh...iyah...ennakh mang.." racau bu Astri tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan lidah mang Yono yang mengorek dalam liang vaginanya. 
"Haaai pakh Arifh...kalau buh Linda..udah puashhh...tolong entotin Astri jugah ya pakhhh.." pinta bu Astri menggoda ketika matanya bertemu dengan tatapan pak Arif. 
Sedangkan pak Arif yang mendengar permintaan bu Astri itu langsung meningkatkan tempo genjotannya terhadap bu Linda, yang tentu saja membuat bu Linda semakin melenguh-lenguh nikmat. Keempatnya menghabiskan jam usai sekolah dalam birahi liar di ruangan itu selama sejam lebih hingga akhirnya mereka pulang dengan rasa puas.

To be continued...
By: Lagimabok


Admin Mesum - 00.38
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved