;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Rabu, 29 Mei 2013

Aku dan Teman Adikku

Rabu, 29 Mei 2013

Pertama kali aku mengenal hubungan sexual yang sebenarnya terjadi pada saat
adik perempuanku memperkenalkan kepadaku seorang teman wanitanya. Sejak
pertama kali aku melihat, memang aku sangat tertarik pada wanita ini, sebut saja
namanya Nuke. Suatu saat Nuke datang ke rumahku untuk bertemu dengan adikku
yang kebetulan tidak berada di rumah. Karena sudah akrab dengan keluargaku,
meskipun di rumah aku sedang seorang diri, kupersilakan Nuke masuk dan
menunggu.
Tapi tiba-tiba ada pikiran nakal di otakku untuk nekat mendekati Nuke, meskipun
rasanya sangat tidak mungkin. Setelah berbasa-basi seperlunya, kutawarkan dia
untuk kuputarkan Blue Film. Mulanya dia menolak karena malu, tapi penolakannya
kupikir hanya basa-basi saja. Dengan sedikit ketakutan akan datangnya orang lain
ke rumahku, aku putarkan sebuah blue film, lalu kutinggalkan dia menonton
seorang diri dengan suatu harapan dia akan terangsang. Benar saja pada saat aku
keluar dari kamar, kulihat wajah Nuke merah dan seperti menahan getaran. Aku
mulai ikut duduk di lantai dan menonton blue film tersebut. Jantungku berdegup
sangat keras, bukan karena menonton film tersebut, tapi karena aku sudah mulai
nekat untuk melakukannya, apapun resikonya kalau ditolak.
Kubilang pada Nuke, "Pegang dadaku.., rasanya deg-degan banget", sambil kutarik
tangannya untuk memegang dadaku. Dalam hitungan detik, tanpa kami sadari,
kami telah berciuman dengan penuh nafsu. Ini pengalaman pertamaku berciuman
dengan seorang perempuan, meskipun adegan seks telah lama aku tahu (dan
kuinginkan) dari berbagai film yang pernah kutonton. Mulutnya yang kecil kukulum
dengan penuh nafsu.
Dengan penuh rasa takut, tanganku mulai merayap ke bagian dadanya. Ternyata
Nuke tidak marah, malah kelihatan dia sangat menikmatinya. Akhirnya kuremas-
remas buah dadanya dengan lembut dan sedikit menekan. Tanpa terasa kami
sudah telanjang bulat berdua di tengah rumah. Setelah puas aku mengulum puting
susu dan meremas-remas buah dadanya, mulutku kembali ke atas untuk mencium
dan mengulum lidahnya. Sebentar kemudian malah Nuke yang turun menciumi
leher kemudian dadaku. Tapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan
seorang Nuke yang usianya relatif masih sangat muda, ia terus turun menciumi
perut sambil mulai meremas-remas kemaluanku. Aku sudah sangat terangsang.
Kemudian mataku hampir saja keluar ketika mulutnya sampai pada batang
kemaluanku. Rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku merasakan kenikmatan
yang sedemikian dahsyat. Ujung kemaluanku kemudian dikulum dengan penuh
nafsu. Nampak luwes sekali dia menciumi kemaluanku, aku tidak berpikir lain selain
terus menikmati hangatnya mulut Nuke di kemaluanku. Kupegang rambutnya
mengikuti turun naik dan memutarnya kepala Nuke dengan poros batang
kemaluanku.
Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat
mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya
agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku
mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku
ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku
tetes demi tetes.
Aku tertidur pulas tanpa ingat lagi bumi alam. Kurang lebih sepuluh menit
kemudian aku terbangun. Aku sangat kaget begitu kulihat tepat dimukaku ternyata
kemaluan Nuke. Rupanya pada saat aku tertidur, Nuke terus menjilati kemaluanku
sambil menggesek-gesekan kemaluannya pada mulutku. Meskipun awalnya aku
takut untuk mencoba menjilati kemaluannya, tapi karena akupun terangsang lagi,
maka kulumat kemaluannya dengan penuh nafsu. Aku segera terangsang kembali
karena pada saat aku menciumi kemaluan Nuke, dia dengan ganas mencium dan
menyedot kemaluanku dengan kerasnya. Aku juga kadang merasakan Nuke
menggigit kemaluanku dengan keras sekali, sampai aku khawatir kemaluanku
terpotong karenanya.
Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk
memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras.
Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya
supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku
menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan
pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu
menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku
melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia
takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa
pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya.
Karena aku sudah tidak bernafsu lagi, kujilati kemaluannya sambil berhitung untuk
supaya aku terus mampu menjilati dalam keadaan tidak bernafsu sama sekali.
Pada hitungan ke 143 lidahku menjilati kemaluannya (terakhir clitorisnya), dia
mengerang dan menekan kepalaku dengan keras dan menjerit. Dia langsung tertidur
sampai aku merasa ketakutan kalau-kalau ada orang datang. Kugendong Nuke ke
tempat adikku dalam keadaan tertidur dan kupakaikan baju, lalu kututup selimut,
lantas aku pergi ke rumah temanku untuk menghindari kecurigaan keluargaku.
Inilah pengalaman pertamaku yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tidak yakin
apakah akan kualami kenikmatan ini lagi dalam hidupku.
TAMAT


Admin Mesum - 04.41

ABG Toket Gede 2

Bosan dengan posisi ini, aku kembali duduk di kursi. Novi lalu duduk
membelakangiku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Kusibakkan
rambutnya yang panjang indah itu dan kuciumi lehernya yang putih mulus.
Sementara itu tubuh Novi bergerak naik turun menikmati kejantananku. Tanganku
tak ketinggalan sibuk meremas payudaranya.
"Ahh.. Ahh.. Ahh.." erang Novi seirama dengan goyangan badannya di atas
tubuhku. Terkadang erangan itu terhenti saat kusodorkan jemariku untuk
dihisapnya.
Beberapa saat kemudian, kuhentikan goyangan badannya dan kucondongkan
tubuhnya agak ke belakang, sehingga aku dapat menghisapi payudaranya. Memang
enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini. Dengan gemas kulahap
bukit kembarnya dan sesekali kujilati puting payudara yang berwarna merah muda.
Erangan Novi semakin keras terdengar, membuat aku menjadi semakin bergairah.
Setelah selesai aku menikmati payudara ranumnya, kembali tubuh belia Novi
mencari pelepasan gairah mudanya dengan memompa penisku naik turun dengan
liar. Tak kusangka seorang gadis SMA dapat begini binal dalam bermain seks.
Cukup lama aku menikmati persetubuhan dengan gadis cantik ini di atas kursi. Lalu
kuminta dia berdiri, dan kembali kami berciuman. Kubuka baju seragam sekolah
berikut BH-nya sehingga sekarang kami berdua telah telanjang bulat. Kembali
dengan gemas kuremas dan kuhisap payudara gadis 17 tahunan itu. Aku ingin
segera menuntaskan permainan ini. Lalu kutuntun dia untuk merebahkan diri di
atas ranjang. Aku pun kemudian mengarahkan penisku kembali ke dalam
vaginanya.
"Ahh.." erang Novi kembali ketika penisku kembali menyesaki liang kewanitaannya.
Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah ini. Erangan nikmat kami
berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah
panas suasana. Kulihat Novi yang cantik menggelengkan kepalanya ke kanan dan
ke kiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.
"Mas.. Novi hampir sampai Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh" jeritnya sambil tubuhnya
mengejang dalam dekapanku.
Tampak dia telah mencapai orgasmenya. Kuhentikan pompaanku, dan tubuhnya
pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kuperhatikan butir keringat mengalir di
wajahnya nan ayu. Payudaranya naik turun seirama dengan helaan nafasnya.
Payudara belia yang indah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas
kembali menikmati payudara itu dengan bernafsu.
Setelah itu, kucabut penisku dan kembali kujepitkan di payudaranya. Kali ini aku
yang menjepitkan daging payudaranya pada penisku. Novi masih tampak terkulai
lemas. Lalu kupompa kembali penisku dalam belahan payudara gadis ini. Jepitan
daging kenyal itu membuatku tak dapat bertahan begitu lama. Tak lama aku pun
menyemburkan spermaku di atas payudara gadis SMA yang seksi ini.
*****
Kami akhirnya menginap di motel tersebut. Selama di sana, aku sangat puas
menikmati tubuh sintal Novi. Berulang kali aku menyetubuhinya, baik di atas
ranjang, di meja rias, di kursi, ataupun di kamar mandi sambil berendam di bathtub.
Sebenarnya ingin aku menginap lebih lama lagi, tetapi hari Senin itu aku harus
menemui klienku di pagi hari, sementara ada bahan yang masih perlu dipersiapkan.
Hari Minggu malam, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini ganti Andi yang menyetir
mobilku. Lisa duduk di kursi penumpang di depan, sedangkan Novi dan aku duduk
di belakang. Dalam perjalanan, melihat Novi yang cantik duduk di sebelahku,
dengan rok mini yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembali bergairah.
Akupun mulai menciuminya sambil tanganku mengusap-usap pahanya. Kusibakkan
celana dalamnya, dan kumainkan vaginanya dengan jemariku.
"Ehmm.." erangnya saat klitorisnya kuusap-usap dengan gemas.
Erangannya terhenti karena mulutnya langsung kucium dengan penuh gairah.
Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya
sehingga payudaranya yang besar itu segera mencuat keluar menantang.
"Suka banget sih Mas.. Nyusuin Novi" ucapnya lirih.
"Iya habis susu kamu bagus banget" bisikku.
Desah Novi kembali terdengar ketika lidahku mulai menari di atas puting
payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhisap dengan gemas gunung kembar
gadis cantik ini hingga membuat tubuhnya menggelinjang nikmat.
"Gantian dong Nov" bisikku ketika aku sudah puas menikmati payudaranya yang
ranum.
Kami pun kembali berciuman sementara tangan Novi yang halus mulai membukai
resleting celanaku. Diturunkannya celana dalamku, sehingga penisku yang telah
membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Novi pun kemudian mendekatkan
wajah ayunya pada kemaluanku itu, dan rasa nikmat menjalar di tubuhku ketika
mulutnya mulai mengulum penisku. Sambil menghisapi penisku, Novi mengocok
perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan nikmatku.
"Ihh.. Gede banget.. Lisa juga pengen dong..". Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara
Lisa yang ternyata entah sejak kapan memperhatikan aktifitas kami di belakang.
"Pindah aja ke sini" kataku sambil mengelus-elus rambut Novi yang masih
menghisapi penisku.
Lisa pun kemudian melangkah pindah ke bangku belakang. Langsung kuciumi
wajahnya, yang walaupun tidak secantik Novi tetapi cukup manis. Lidahku dan
lidahnya sudah saling bertaut, sementara Novi masih sibuk menikmati penisku.
"Di.. Bentar ya nanti gantian.." kataku pada Andi yang melotot melihat dari kaca
spion.
"Oke deh bos.." jawabnya sambil terus melotot melihat pemandangan di bangku
belakang mobilku. Setelah puas berciuman, kucabut penisku dari mulut Novi.
"Ayo Lis.. Katanya kamu suka" kataku sambil sedikit menekan kepala Lisa agar
mendekat ke kemaluanku.
"Iya.. Abis gede banget.." katanya sambil dengan imutnya menyibakkan rambut
yang menutupi telinganya.
"Ahh.. Yes.." desahku saat Lisa memasukkan penisku ke dalam mulutnya.
Dihisapinya batang kemaluanku seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop.
Rasa nikmat yang tak terhingga menjalari seluruh syarafku.
Cukup lama juga Lisa menikmati penisku. Sementara itu Novi kembali
menyodorkan payudara mudanya untuk kunikmati. Setelah beberapa lama kuhisapi
payudaranya, Novi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan
menciumi buah zakarku, sementara Lisa masih sibuk mengulum batang
kemaluanku.
"Nih gantian Nov.." katanya sambil menyorongkan penisku ke mulut Novi yang
berada di dekatnya. Novi pun dengan sigap kembali mempermainkan kemaluanku
dengan mulutnya. Sementara itu, kali ini gantian Lisa yang menjilati dan menciumi
buah zakarku.
Saat itu aku merasa seperti sedang berada di surga. Dua orang gadis SMA yang
cantik sedang menghisapi dan menjilati penisku secara bergantian. Kuelus-elus
kepala gadis-gadis ABG yang sedang menikmati kelelakianku itu. Nikmat yang
kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagi. Tetapi sebelumnya
aku ingin menyetubuhi Lisa. Ingin kurasakan nikmat jepitan vagina gadis hitam
manis ini.
Kuminta dia untuk duduk di pangkuan sambil membelakangiku. Kusibakkan celana
dalamnya, sambil kuarahkan penisku dalam liang nikmatnya. Sengaja tak kuminta
dia untuk membuka pakaiannya, karena aku tak mau menarik perhatian kendaraan
yang melintas di luar sana.
"Ah.." desah Lisa ketika penisku mulai menyesaki vaginanya yang tak kalah sempit
dengan kepunyaan Novi.
Lisa kemudian menaik-turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Novi pun tak
tinggal diam, diciuminya aku ketika temannya sedang memompa penisku dalam
jepitan dinding kewanitaannya. Goyangan tubuh Lisa membuatku merasa akan
segera menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Aku berusaha sekuat tenaga
agar tidak ejakulasi terlebih dahulu sebelum dia orgasme. Sambil menciumi Novi,
tanganku memainkan klitoris Lisa.
"Ah.. Terus Mas.. Lisa mau sampai.." desahnya. Semakin cepat kuusap-usap
klitorisnya, sedangkan tubuh Lisa pun semakin cepat memompa penisku.
"Ahh.." erangnya nikmat saat mengalami orgasmenya.
Tubuhnya tampak mengejang dan kemudian terkulai lemas di atas pangkuanku.
Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasiku dalam vagina
gadis manis ini. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri
dengan tisu yang tersedia.
"Mau gantian Di? " tanyaku pada Andi yang tampak sudah tidak tenang membawa
mobilku.
"So pasti dong" jawab Andi sambil menepikan mobil di tempat yang sepi.
Kami pun berganti tempat. Aku yang membawa mobil, sedangkan Andi pindah
duduk di jok belakang. Rencananya dia juga akan main threesome, tetapi Novi juga
ikut beranjak ke bangku depan.
"Aku cape ah Mas.." katanya.
Andi tampak kecewa, tetapi apa boleh buat. Kami pun segera melanjutkan
perjalanan kami. Kudengar suara lenguhan Andi di jok belakang. Lewat kaca spion
kulihat Lisa sedang mengulum penisnya. Karena sudah puas, aku tak begitu
mempedulikannya lagi.
Sesampainya di Bogor, kedua gadis itu kami turunkan di tempat semula, sambil
kuberi uang beberapa ratus ribu serta uang taksi.
"Kalau ke Bogor hubungi Novi lagi ya Mas.." kata Novi manis saat kami akan
berpisah. Kulihat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin mereka curiga
kok ada dua gadis berseragam SMA di hari Minggu, malam lagi he.. He..
"Wan.. Gue doain lu dapat banyak proyek deh.. Biar lu traktir gue kayak tadi lagi.."
kata Andi ketika aku turunkan di depan rumahnya.
"Sip deh.." jawabku sambil pamit pulang.
Kukebut mobilku menyusuri jalan tol Jagorawi menuju Jakarta. Aku tersenyum
puas. Yang dulu selalu menjadi obsesiku, kini bisa menjadi kenyataan. Ternyata
hidup itu indah.
*****
Untuk pembaca yang ingin berkenalan atau mengetahui rahasia sukses bisnisku,
silakan menghubungiku lewat email di bawah.
E N D


Admin Mesum - 04.36

ABG Toket Gede 1

Bagi para pembaca yang belum membaca ceritaku terdahulu yang berjudul "Beli
Mobil Berbonus Seks", perkenalkan namaku Wawan. Aku sedang kuliah di tingkat
terakhir sebuah PTS di Jakarta. Sambil kuliah, aku berwiraswasta. Terimakasih
untuk temanku yang dulu memperkenalkan aku pada bisnis ini, sehingga keadaan
ekonomiku sudah sangat berubah. Aku merasa sangat bersyukur, di saat banyak
sarjana yang masih menganggur, aku yang masih kuliah sudah mendapatkan
penghasilan besar setiap bulannya.
Kejadian ini berlangsung beberapa minggu yang lalu. Saat itu, hari Jumat sore, aku
sedang mengerjakan salah satu proyekku. Seperti biasa untuk refreshing, sambil
menyeruput secangkir kopi, aku membaca email email yang masuk. Segera kubalas
email permintaan proposal dari pelanggan, dan aku pun kadang tertawa geli
membaca email-email joke dari teman-temanku. Tetapi ada satu email yang
menarik perhatianku, yaitu dari temanku yang tinggal di Bogor, Andi. Dia sedang
suntuk dan mengajakku untuk refreshing ke Puncak saat aku tidak sibuk. Kebetulan
besok aku tidak ada acara, hanya perlu mengambil pembayaran ke salah satu
klienku. Terlebih lagi Monika, pacarku, juga sedang keluar kota bersama
keluarganya.
Aku segera mengambil HP-ku dan menelpon Andi, temanku itu.
"Di.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada"
"Gitu donk.. Bebas ni ye.. Emangnya satpam lu kemana?"
"Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawinan"
"Besok jangan kesiangan ya datangnya.. Jam 11-an deh"
"OK"
Setelah itu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.
*****
Pagi itu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampir ke tempat salah
satu klienku di daerah Tebet, untuk mengambil pembayaran proyek yang telah
kuselesaikan. Setelah mengambil cek pembayaran, segera aku menuju tol
Jagorawi. Sialnya ban mobilku sempat kempes, untungnya hal itu terjadi sebelum
aku masuk jalan tol. Akibatnya, sekalipun aku telah memacu mobilku, baru sekitar
jam 12.30 aku sampai di rumah Andi.
"Sialan lu.. Gue udah tunggu-tunggu dari tadi, baru dateng". Andi berkata sedikit
kesal ketika membuka pintu rumahnya.
"Sorry.. Gue perlu ke klien dulu.. Udah gitu tadi bannya kempes, mesti ganti ban
dulu di tengah jalan"
"Anterin gue tambal ban dulu yuk.. Baru kita cabut" sambungku lagi.
"Bentar.. Gue ganti dulu ya". Andi pun kemudian ngeloyor pergi ke kamarnya.
Sambil menunggu, aku membaca koran di ruang tamu. Tak lama Siska, adik Andi,
datang membawa minuman.
"Kok udah lama nggak mampir Mas?"
"Iya Sis, habis sibuk.. Mesti cari duit nih" jawabku.
"Mentang-mentang udah jadi pengusaha.. Sombong ya" godanya sambil tertawa
kecil. Siska ini memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan
menyenangkan. Kami pun bersenda gurau sambil menunggu kakaknya yang sedang
bersiap.
Setelah Andi muncul, kami segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat.
Setelah beres, aku membawa mobilku menuju sebuah bank swasta untuk
mencairkan cek dari klienku. Antrian lumayan panjang hari itu, akibatnya cukup
lama juga kami menghabiskan waktu di sana.
Saat keluar dari bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, sehingga
aku mengajak Andi mampir ke sebuah restoran fast food untuk makan siang. Di
restoran itu, kami bertemu dengan dua gadis ABG cantik yang masih berseragam
SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manis. Tubuhnya tinggi
langsing, dengan kulit agak hitam, tetapi bersih. Sedangkan yang satu berwajah
cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi
yang paling menarik perhatian adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak
besar menerawang di balik seragam sekolahnya. Kami tersenyum pada mereka dan
mereka pun membalas dengan genit.
"Wan.. Kita ajak mereka yuk.." kata Andi.
"Boleh aja kalau mereka mau" jawabku.
"Tapi lu yang traktir ya bos.., kan baru ngambil duit nih"
"Beres deh"
Andi pun kemudian menghampiri mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andi
ini pemberani sekali dalam hal begini. Dia memang terkenal playboy, punya banyak
cewek. Hal itu didukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.
"Lisa.." kata gadis berambut pendek itu saat mengenalkan dirinya.
"Ini temannya siapa namanya" tanyaku sambil menatap gadis seksi temannya.
"Novi" kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Langsung kusambut jabatan
tangannya yang halus itu.
Aku dan Andi lalu pindah ke meja mereka. Kami berempat berbincang-bincang
sambil menikmati hidangan masing-masing. Ketika diajak, mereka setuju untuk
jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesai makan, waktu berjalan menuju
mobil, kulihat payudara Novi tampak sedikit bergoyang-goyang saat dia berjalan.
Ingin rasanya kulumat habis payudara gadis belia itu.
*****
Setelah berjalan-jalan di Puncak menikmati pemandangan, kami pun cek in di
sebuah motel di sana.
"Lu kan yang traktir Wan.. Lu pilih yang mana?" bisik Andi saat kami sedang
mengurus cek-in. Memang sebelumnya aku yang janji akan traktir, karena aku baru
saja menerima pembayaran dari salah satu proyekku.
"Novi" jawabku pendek.
"Hehe.. Lu nafsu liat bodynya ya?" bisik Andi lagi sambil tertawa kecil. Setelah itu,
kamipun segera cek-in. Kugandeng tangan Novi, sedangkan Andi tampak merangkul
bahu Lisa menuju kamar.
Setelah kukunci pintu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Novi. Langsung
kucium bibirnya dengan penuh gairah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan
payudaranya. Setelah puas menciumi bibirnya, kuciumi lehernya, dan kemudian
segera kubuka kancing baju seragamnya.
"Iih Mas.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?" godanya.
Tak kuhiraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak
kekecilan untuk menampung payudaranya yang besar itu. Langsung kuhisap
dengan gemas daging kenyal milik Novi, gadis SMA cantik ini.
"Ahh.. Ahh" erangnya ketika puting payudaranya yang telah mengeras kujilati dan
kuhisap. Tangan Novi mengangkat payudaranya, sambil tangannya yang lain
menekan kepalaku ke dadanya.
"Enak Mas.. Ahh" erangnya lebih lanjut saat mulutku dengan ganas menikmati
payudara yang sangat menggoda nafsu birahiku.
"Jilati putingnya Mas.." pintanya. Erangannya semakin menjadi dan tangannya
menjambak rambutku ketika kuturuti permintaannya dengan senang hati.
Puas menikmati payudara gadis belia ini, kembali kuciumi wajahnya yang cantik.
Lalu kutekan bahunya, dan diapun mengerti apa yang aku mau. Dengan berjongkok
di depanku, dibukanya restleting celanaku. Tak sabar, kubantu dia membuka
seluruh pakaianku.
"Ih.. Mas, gede banget.." desahnya lirih ketika penisku mengacung tegak di depan
wajahnya yang cantik. Dielusnya perlahan batang kemaluanku itu.
"Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?"
"Belum Mas.. Punya cowok Novi nggak sebesar ini." jawabnya. Tampak matanya
menatap gemas ke arah kemaluanku.
"Arghh.. Enak Nov.." erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
Dijilatinya lubang kencingku, dan kemudian dikulumnya penisku dengan bernafsu.
Sementara itu tangannya yang halus mengocok batang penisku. Sesekali
diremasnya perlahan buah zakarku. Rasa nikmat yang tiada tara menghinggapi
tubuhku, ketika gadis cantik ini memompa penisku dengan mulutnya. Kulihat
kepalanya maju mundur menghisapi batang kejantananku. Kuusap-usap rambutnya
dengan gemas. Karena capai berdiri, akupun pindah duduk di kursi. Novi kemudian
berjongkok di depanku.
"Novi isap lagi ya Mas.. Novi belum puas.." katanya lirih.
Kembali mulut gadis belia ini menghisapi penisku. Sambil mengelus-elus
rambutnya, kuperhatikan kemaluanku menyesaki mulutnya yang mungil. Ruangan
segera dipenuhi oleh eranganku, juga gumaman nikmat Novi saat menghisapi
kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang
menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan daging kenyal itu.
"Nov.., jepit pakai susumu Nov.." pintaku.
Novi langsung meletakkan penisku di belahan payudaranya, dan kemudian kupompa
penisku. Sementara itu tangan Novi menjepitkan payudaranya yang besar, sehingga
gesekan daging payudaranya memberikan rasa nikmat luar biasa pada penisku.
"Yes.. Yes.." akupun tak kuasa menahan rasa nikmatku. Setelah beberapa lama,
kusodorkan kembali penisku ke mulutnya, yang disambutnya dengan penuh nafsu.
Setelah puas menikmati mulut dan payudara gadis SMA ini, kuminta dia untuk
bangkit berdiri. Kuciumi lagi bibirnya dan kuremas-remas rambutnya dengan
gemas. Tanganku melepas restleting rok seragam abu-abunya, kemudian kuusap-
usap vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya.
Kusibak sedikit celana dalam itu dan kuusap-usap bibir vagina dan klitorisnya.
Tubuh Novi menggelinjang di dalam dekapanku. Erangannya semakin menjadi.
Aku sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini. Kubalikkan badannya dan kuminta
dia menungging bertumpu di meja rias. Kubuka celana dalamnya sehingga dia
hanya tinggal mengenakan baju seragamnya yang kancingnya telah terbuka.
"Ahh.." jeritnya panjang ketika penisku mulai menerobos vaginanya yang sempit.
"Gila.. Memekmu enak banget Nov.." kataku ketika merasakan jepitan dinding
vagina Novi.
Langsung kupompa penisku di dalam vagina gadis cantik itu. Sementara itu,
tanganku memegang pinggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat.
Novi pun menjerit-jerit nikmat saat tubuh belianya kusetubuhi dengan gaya doggy-
style. Kulihat di kaca meja rias, wajah Novi tampak begitu merangsang. Wajah
cantik gadis belia yang sedang menikmati persetubuhan. Payudaranya pun tampak
bergoyang-goyang menggemaskan di balik baju seragamnya yang terbuka.
Ke Bagian 2


Admin Mesum - 04.31

ABG Tetangga

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku
tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak
kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan
anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan
mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya.
Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno
seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu
menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada
video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah,
belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat
kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang
belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku
terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku
uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta
jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan
membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan
ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong
sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil
menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai
menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di
ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di
sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di
situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang.
Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya
membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja
bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku.
Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak
tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny
yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku,
"inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih
kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting
birahimu terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok
membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan
CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap
tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang
bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha
memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari
lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun
aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-
jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap
menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih
dibalut celana warna hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.
Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas.
Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil,
berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya
juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya.
Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih
perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang
keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta
dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang
mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan
mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik.
Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32.
Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan
kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua
kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah
tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih
perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-
main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah
tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai
Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang
masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak
ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya.
Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan
kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher
penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang
berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya.
Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi.
Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat
ada sepercik darah membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan.
Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di
atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras.
Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme.
Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit
lengan atau pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk
kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku
muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi
perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya
yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil
dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa
meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi
menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG
tetangga.
TAMAT


Admin Mesum - 03.54

Selasa, 02 April 2013

Seks Pertamaku Dengan Tetangga

Selasa, 02 April 2013

Aku seorang pemuda yangbaru menginjak usia 16 tahun, dan untuk menambah uang sakuku, aku bekerja sebagai pencucu mobil tetangga.
Kendaraan kesukaanku adalah mobil tetangga Leslie.
Pertama dia memiliki kendaraan audi yang cantik dan kedua pemilik kendaraan tersebut memiliki tubuh yang sangat seksi! hahaha..
Bagiku yang masih bau kencur ini, pemilik mobil tersebut yang jauh lebih tua dariku (usia 20 tahun) tetap memiliki aura gadis muda yang erotis walaupun kini ia hidup terpisah dengan suaminya karena kasus selingkuhan sang suami dengan salah satu pegawai admin di kantor tersebut.
Aku telah menyelesaikan tugasku (mencuci mobilnya) dan segera menekan bel pintu rumahnya untuk memberitahukan bahwa tugasku telah selesai.
Aku mendengar suara dari dalam, “Masuklah”.
Aku membuka pintu dan segera masuk.
Leslie segera turun dari anak tangga dengan mengunakan handuk mandinya.
Handuk tersebut sangat kecil sehingga sedikit saja keatas maka bagian kemaluannya akan terlihat jelas.
“Ma’af”, jawabku malu melihat kondisi demikian. “Rasanya anda memperkenankan saya masuk”
“Tidak, saya tadi bilang saya akan segera datang.” Dia menjelaskan. “Tapi, sudahlah tidak apa.”
“Mobilnya telah siap.” Balasku kembali.
“Berapa, $5 nggak masalah?” Dia bertanya.
“Tidak apa.” balasku kembali.
Mbak Leslie melihat disekeliling ruang tamu dan mengambil tasnya yang berada di sofa kursi.
Ia mencoba meraih tas tersebut sambil menahan handuknya. Satu tangan menahan handuk, tangan lainnya berusaha membuka tasnya.
Karena tas tersebut agak sulit dibuka dengan satu tangan, ia berusaha dengan cepat melepaskan tangan satunya untuk membantu membuka tas tersebut. Sedangkan handuk tersebut hanya sedikit terkunci melipat.
Dia berusaha mengatur posisinya agar aman bagi handuknya…tetapi handuk itu malah slip dan mencoba melorot.
Gerakan refleksi tangannya terlambat untuk menahan handuk yang terlepas tersebut.
Aku melihat sebuah pemandangan payudara yang sangat mengasyikan dan mengagumkan!
Aku menelan air ludah.!
Setelah dibenahi kembali posisi handuk tersebut, ia mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya dan itu cuma $3.
“Hmmm…sepertinya kurang”, gumamnya…
kemudian ia kembali membuka tasnya dan berusaha menekan handuknya dengan kedua sisi lengan tangannya.
Dlm pencarian sisa $2 tsb, handuk tersebut terlepas kembali dan kali ini ia membiarkan saja.
Oh…my….god..payudara begitu kencang, bulu vagina yang begitu halus dan rapi serta pinggul dan pantat yang sangat mengembang!
Perfect body!!!!
“Ia bergumam datar tanpa menoleh kepadaku; kupikir kamu tidak masalah dengan segitu saja?”. Dan terus fokus untuk mencari sisa uang dalam tasnya
“Tidak.” balasku.
“Baiklah, kalau begitu.Aku akan memberikan sisanya esok saja.” Ia membalas cepat.
“Bukan, bukan itu maksudku (masalah sisa uang tsb),” balasku sambil melotot memandang tubuhnya. “Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, maksudku.”
“Benarkah?” Dia bertanya kalem.
“Ya…hanya di buku dan tv.” balasku.
“Jadi bagaimana menurutmu?” Dia bertanya sambil mendekat.
“Anda begitu cantik sekali.” kataku sedikit gemetar.
“Terima kasih.” Dia membalas sambil berada tepat sejengkal dihadapanku. Aku dapat merasakan panas dari tubuhnya.
Leslie kemudia menarik tanganku dan menempelkannya diatas payudaranya, lembut…kejal….dan celanaku menjadi tidak karuan bentuknya. AKu merasa tidak nyaman dengan posisi penis didalam celanaku.
Leslie meraih ikat pingangku dan membuka kancing jeans ku. Dan melorotkannya!
Penisku mengembang didalam celana dalamku dan mengarah kesamping.
Kemudian ia meraih penisku dari dalam celana dalamku. Saat yang kunanti telah tiba.
“Kamu sudah besar ya…”jawabnya pada penisku sambil tersenyum. “Biar aku yang mengurusmu!.” katanya nakal pada penisku sambil menyentil kemaluanku.
Aku hanya diam seribu bahasa. Ia menarikku untuk tidur dilantai.
Kemudian ia menindihku.
“Aku yakin ini tidak akan lama.” katanya mengoda sambil mengerayangi tubuhku hingga menuju batang penisku.
“Ee…” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Aku merasa ia mencium penisku dan kemudian ada terasa hangat pada saat penisku berada dalam mulutnya.
Tak terbayangkan rasa itu, dia berhenti sejenak dan kemudian melahap penisku sangat dalam hingga aku merasa menyenggol kerongkongannya.
Dia benar! Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku, aku tidak kuasa menahan semua tekanan darah dalam penisku.
Penisku mulai mengencang hebat dan rasanya dengan hisapan demikian aku sudah tidak sanggup lagi untuk mencegah spermaku keluar.
Penisku menyemprot sperma dalam mulutnya!.
Mbak Leslie tidak juga melepas lumatan penisku, ibarat bayi yang sedang menyusui…ia menghisap semua spermaku dan menjilat semua sperma yang masih membekas di penisku.
“Bagaimana rasanya…sayang?” Dia bertanya.
“Wowwww, enak sekali mbak.” balasku.
Ia kemudian berbaring disampingku. Aku berbalik dan segera menindihnya.
Aku meremas dan mengelus semua bagian tubuhnya.
Aku bergerak kearah mulutnya dan segera melumat bibir mungil itu. Kamipun saling fiting lidah.
Aku mencoba meraih bagian vagina dengan tanganku dan segera menarik dan mengesek itil dari mbak leslie.
“Kalem dong sayang.” mbak leslie segera meraih tanganku dan membimbingnya untuk mengosok bibir dan clitorisnya dengan perlahan.
KAmi terus melanjutkan ciuman kami, kemudian ia menekan kepalaku kebawah menuju arah vaginanya.
Aku tahu ia ingin aku melumat vaginanya.
Kulihat vagina itu sudah mulai basah dan aku mencoba menusuknya dengan jariku. Tetapi mbak leslie masih dalam kontrol yang baik, ia meraih tangaku untuk mengesek bagian luarnya lebih dahulu.
Kulihat itil nya turun naik merasakan birahi yang sudah mulai naik pada wanita ini.
Kemudian ia memegang jariku untuk masuk dalam vaginanya.
Jarikupun masuk sedalamnya dalam vagina mbak leslie. Tak lama kemudian kedua paha mbak leslie merapat dan menjepit jariku.
Kurasakan gerakan ‘kembang kempis dan panas’ dalam vagina tersebut.
Sepertinya vagina tersebut lagi berusaha ‘mengemut’ jariku!.
Aku hanya bisa menatap tubuh dan wajahnya yang cantik. Rambutnya yang terurai berantakkan menambah kekagumanku atas tubuh wanita ini.
“Apakah kamu berfikir ini sudah nikmat?” Dia bertanya mendadak.
“Ya.” balasku.
“Ohhh…belum sayang.” balasnya kemudian.
Dia melepaskan jariku dalam vaginanya dan mandorongku untuk tidur dilantai. Kemudian dengan cekatan ia sudah berada diatasku.
Ia meraih penisku dan mengarahkan dalam vaginanya.
Dia benar, saat penisku mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginanya, pikiranku kosong dan menerawang entah kemana.
Hingga vagian itu menelan semuanya dan menyentuh buah zakarku….aku seperti terbang tinggi.
Kemudian ia melipatkan kakinya dan layaknya seorang joki, ia mengangkat cukup tinggi pantatnya dan menghujamkan dengan keras pada penisku….wooooowwwww…..that’s really fucked!!!!
Dan mulailah irama tungangan kuda yang cukup kencang dilakukan mbak leslie.
Penisku dipelintir kesana kemari. Kiri-kanan, maju-mundur….
Sepertinya ia ingin mematahkan batang penisku !
“Ini nikmat sekali tante…!.” kataku menjerit.
“Aku membutuhkan itu.” Dia membalas sambil terengah-engah. “3 bulan kesendirianku akan kubalas padamu!” Katanya geram sambil menghempaskan vaginanya pada penisku!
Sepertinya mbak leslie menumpahkan semua birahi terpendam akibat kejengkelan dengan sang suami.
Ini bagaimana cara ia mengenjot penisku dengan ‘kasar’.
“Bisakah kau rasakan ini?” balasnya sambil mengigit bibirnya sendiri dan membengkokkan penisku kedepan.
Aku merasa penisku ditarik dan dikait vagina mbak leslie kesana kemari.
Rasanya sedikit keras dan sakit…tapi tetap kurasakan rasa nikmat yang liar dari style seperti ini….
“Bagaimana dengan ini?” sambil ia memaksa memasukkan sedalam-dalamnya penisku dalam vaginanya.
Mimiknya sedikit geram pada tubuhku, dan rasanya ia ingin menelan buah zakarku….liar sekali…
Tak ada genjotan yang halus!…..Semua sentakan dan benturan mengunakan tenaga kuda!
Tak ada yang dikurangi…’Bagaimana dengan ini…hah?!” sahutnya geram sambil menghujamkan vaginanya dalam penisku dan digoyangnya pinggulnya sehingga membuat batang penisku seperti melintir….
Liar sekali….!..ia seperti kerasukan setan!…
Aku merasakan spermaku sudah akan keluar kembali…”Mbak aku sudah tidak kuat..” balasku memberitahunya….
“Tak apa sayang…keluarkan saja apa yang kamu punya..” jawabnya sambil terengah-engah.
“Didalam?”, balasku lagi…
“He…eh…” balasnya sambil menghujam penisku bertubi-tubi….
Ia menunduk dan mengigit putingku….”auwwww…” teriaku sedikit menjerit…
“Pelan2 mbak..”, pintaku…
Mbak leslie tidak perduli sambil terus mengigit putingku kiri dan kanan, ia memutar pantatnya seperti gilingan!
Aku sudah tidak kuat…Mbak aku sudah hampir mau keluar…!
“Sabar sayang, mbak juga….kita barengan..” pintanya.
Dan akhirnya ia berkata, “kamu siap?”, sambil terus memompa penisku dengan irama yang sungguh cepat!
“Yaaaa…”,balasku.
Dan karena tak kuasa lagi, ku**kan spermaku dalam vagina itu, serrr…serrr…serrr…
3x kali ku**kan spermaku dalam vagina mbak leslie dan rasanya nikmattttttttttt sekaliiiiii.
Sepertinya “kedutan” vagina itu siap2 untuk hal yang sama…
Dan tak lama kemudian segera ia bangkit mengangkangiku dan menyuruhku untuk menyodok semua jariku dalam vaginanya….
Lima jariku-pun kumasukkan dalam vagina tersebut…dan kusodokkan keluar masuk….
“Aku sudah mau keluarrrr….” jawab mabak leslie berteriak panjang.
Dan benarlah…jemariku semakin merasakan “jepitan kedut-kedut’ dalam vagina itu…
Kemudian tiba2 ia menarik dan mengeluarkan tanganku…dan memberikan vaginanya ke arah mukaku…
“Masukkan lidahmu sayang….masukkan!”, perintahnya sedikit memaksa!
“Owww…geli bercampur ngeri…”, bathinku…
Vagina itu nampak becek sekali akibat spermaku!
Mbak leslie segera menjambak rambutku dan menyodorkan mukaku secara rapat ke vagina nya…
“Masukkan sayang lidahmu…dan mainkan!”, katanya memohon sambil memaksa.
Aku memasukkan semua lidahku dalam vagina itu dan mengerakkannya seperti ular dalam gua…
Ia menuntaskan dengan mengeluarkan sperma nya dalam kurun waktu yang cukup lama pada lidahku dan sperma itu mengalir masuk dalam mulutku…Ia berteriak keras, “ouwwwwww….yess….yessss..”, entah berapa kali **an halus spermanya menyentuh lidahku.
“Suck me babe…suck me”, katanya sambil menjambak rambutku.
Rasanya lama sekali ia mengeluarkan pejuh nya….
“Rasakan itu…boy…rasakan!”, cerocosnya ngawur dan geram..
Ia benar2 menumpahkan semua orgasmenya pada mulutku!
“Ooohh…yeah…that’s right….”, katanya sedikit mengakhiri orgasme tersebut.
Aku tidak bisa berbuat apa2…jambakannya begitu keras dan dengan kepalaku yang sedikit mengangkat, maka sperma campuran itu tertelan olehku…
Asin…anyir…dan aku rasanya mau muntah….
“Oooohhhh….yesss…”, jawabnya lega sambil belum melepaskan jambakan tanganya pada rambutku.
Seolah ia ingin aku menghabisi semua sperma yang ada pada vagina tersebut..
Aku sudah tidak tahan dan segera aku berontak….karena aku tersedak hebat dan mau muntah jika dipaksakan terus….
Akupun melompat dan segera kuhempaskan kesamping tubuh mbak leslie…
Aku terbatuk dan tersedak…Ku keluarkan sisa sperma yang masih ada dalam mulutku…
Mbak leslie hanya memandangku dengan tertawa kecil dan puas…
“Bagaimana sayang..?”, jawabnya lemas sambil tersenyum
“Luar biasa mbak..”, jawabku sekenanya setelah kondisiku sudah mulai tenang.
“Kalau ada waktu, kita lakukan ini kembali ya say…”, balasnya meminta.
“Ya…kita lihat nanti gimana keadaanya..”, balasku capek.
“Benarkah?” balasnya.
“Ya”, jawabku enteng.
Akhirnya kami sudahi permainan tersebut, dan uang $5 tidak jadi kuambil…
Rasanya pengalaman ini jauh lebih berharga.
Akhirnya kami melakukan kembali pada waktu tertentu, hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke negara bagian karena kasus cerai dengan mantan suaminya telah selesai.
Selamat tinggal mbak leslie…kataku dalam hati menghantarkan kepergiannya.


Admin Mesum - 23.26

siti pembantuku yang manis part 2 ( tamat )

Keesokan harinya berlalu seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hanya aku melihat suatu perubahan sikap dan cara berpakaiannya, selalu memakai daster longgar tanpa BH kalau dia sedang di rumah dan hanya berpakaian pantas apabila dia pergi ke pasar atau disuruh isteriku ke warung. Hal ini mempermudah bagiku untuk menyentuh bahkan meremas susunya bila kebetulan aku lewat di dapur atau kalau dia membersihkan kamar tidurku, tentu bila tidak terlihat isteriku.Malam berikutnya aku diajak oleh isteriku beserta anakku yang masih bayi untuk menjenguk orang tuanya yang tinggal di Bogor tapi aku bilang aku agak lelah karena aku baru menyelesaikan tugas kantor yang agak memakan tenaga, jadi aku ingin istirahat di rumah. Akhirnya isteriku pergi bersama kakaknya sekeluarga ke Bogor. Tinggalah aku sendiri di rumah bersama Siti. Saat ini yang memang kutunggu-tunggu.

Setelah makan siang di rumah, aku mengantarkan isteriku ke rumah kakaknya, sebelumnya isteriku berpesan kepada Siti, "Siti, kamu jangan kemana-mana yaa, jaga rumah dan jangan lupa masak sayur lodeh untuk bapak. Itu makanan kesukaan bapak. Bapak nggak jadi ikut aku, dia ada urusan dengan temannya dan akan makan di rumah nanti malam," kata isteriku. "Iya Bu.." jawab Siti dengan hormat.

Setelah aku mengantarkan isteriku, aku pulang. Sampai di rumah kira-kira jam 18:00 kulihat makanan sudah siap di meja. Tapi Siti tidak terlihat olehku, kucari dia ke kamarnya. Pintu kamarnya tertutup lalu kubuka sedikit dan aku melihat dia sedang terbaring telungkup dan tangan kanannya di dalam celana dalamnya bergerak-gerak. Aku menelan ludah melihat adegan tersebut dan perlahan-lahan aku masuk. Dia belum menyadari bahwa aku sudah di dalam kamarnya.

"Siti manis.." aku berbisik dekat telinganya. Gerakannya berhenti dan dia membalikkan badannya sehingga wajahnya persis di depan wajahku.
"Bapaak.." jawabnya lirih dan langsung memeluk dan bibir kami berpagutan erat sampai aku terengah-engah dibuatnya.
"Saya kangen, Pak.." jawabnya lagi setelah melepaskan ciumannya sambil tersenyum sayu.
"Kangen sama siapa, Neng.." tanyaku menggoda dan tanganku mulai menyentuh susunya yang kenyal dan padat itu sambil memuntir putingnya. Dia mengerang halus dan manja. Tanpa banyak bicara aku mulai membuka kancing dasternya dan menciumi susunya yang amat kusuka, terus kukulum putingnya, nikmat sekali! Siti juga tidak tinggal diam, reitsleting celanaku dibukanya dan tangannya langsung masuk ke dalam celana dalamku, dia memegang dan meremas batang kejantananku.

Siti tertawa kecil sambil berkata, "Kok kecil Pak..?"
"Ayo kamu harus membuat dia besar dan tegang dong," jawabku.
Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, sambil batang kejantananku masih dipegangnya kubuka baju dan celanaku, kemudian kubuka juga dasternya. Aku menelan liurku melihat susunya yang montok. Langsung kucium dan kujilat putingnya yang berwarna merangsang dan tambah keras.

"Pak.. saya mau seperti kemarin lagi, enak Pak," katanya lagi sambil mengocok batang kejantananku yang semakin tegang. Kurebahkan dia dan kupeluk sambil mencium bibirnya, terus turun ke susunya, kuisap putingnya yang merah kecoklatan. Siti mengerang halus sambil mengelus kepala dan punggungku tanda nafsunya meningkat. Ciumanku terus turun ke perutnya, pusarnya sampai ke pangkal pahanya. Disitu aku berhenti sejenak sambil mengintip ke arah wajahnya. Siti menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Perlahan-lahan aku turun ke arah kedua pangkal pahanya dan dia membuka kedua pahanya sehingga aku bisa melihat liang senggamanya yang berwarna merah muda disertai bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Aku mulai dengan mencium serta menjilat bibir kemaluannya terus ke arah klitorisnya, dia menggelinjang sambil mengerang nikmat tanda nafsunya memuncak, Siti juga memegang kepalaku dan menekannya erat-erat. Sementara tangan kananku ikut mengocok batang kejantananku agar cukup tegang. Kurasakan liang senggama Siti basah dan kujilati dan rasanya, "Hmm.. nikmat sekali.." dengan rasa serta bau yang khas wanita kampung.

"Paakk.. saya nggak tahan, Paak.." kudengar bisikannya.
Aku naik ke atas tubuhnya dan kuarahkan batang kejantananku ke bibir kemaluan Siti, terus kutempelkan sambil mengelus klitorisnya dengan kepala kejantananku.
"Pelan-pelan Paak.. saya udah lama nggak main," katanya dengan lirih.
"Iya Ti, aku akan masukkan pelan-pelan.. tahan yaa.." jawabku sambil nafasku mulai memburu.
Kumasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya, terasa sempit. Kudorong pelan-pelan, masuk kepalanya.
"Ooohh.. pelan-pelan Paakk.. sakit, tapi terus Paak..!" desahnya lagi.
Aku merasakan liang senggamanya makin basah dan kudorong terus, rasanya tambah licin, kurasakan liang senggamanya berdenyut-denyut, "Edan betul ini perempuan!!" aku tersadar sejenak dan ingat bahwa dia orang Ciamis dan perempuan-perempuan Ciamis banyak yang terkenal dengan permainan seks-nya yang menggairahkan, mungkin Siti juga expert dibidang ini.

Pelan-pelan batang kejantananku masuk sampai akhirnya terasa kepalanya menyentuh dinding bagian dalam liang senggamanya. Sambil memeluknya dan menciumi susunya serta mengulum putingnya aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur seirama dengan goyangan pantat Siti yang gempal dan kenyal itu. Siti mengerang-erang halus.

"Masih sakit Tii.. ngga kan?" aku bertanya sambil mencoba mempertahankan nafasku yang mulai menderu-deru tanda bahwa nafsuku mulai mendekati puncaknya. Dia menggelengkan kepalanya. "Mmmff.. oohh.. aahh.. enaak Paakk.." sambil terus mengerang-erang kenikmatan. Kurasakan lagi liang senggamanya memijit batang kejantananku setiap kutarik pantatku seolah-olah Siti tidak mau batang kejantananku keluar sedikitpun dari lubang kenikmatannya. Aku merasa tidak tahan lagi mungkin karena aku begitu bernafsu untuk menggelutinya sejak dari awal, terasa liang senggamanya makin basah dan cengkramannya pada leher serta kepalaku makin kuat.

Tiba-tiba dia berteriak kecil dan menggigit pundakku pelan tapi membuatku kaget disertai dengan kedua kakinya yang melingkari pinggangku, kedua pahanya menjepit dengan keras. "Ooohh.. mmff.. aahh.. Paakk.. mm.." tidak ada yang dapat dia katakan saat itu, dan aku tahu pasti dia mencapai orgasme yang hebat. Aku terus menggoyangkan pantatku dan mempercepat karena aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa, batang kejantananku di dalam liang senggamanya berdenyut-denyut, tak tahan lagi aku. "Tii.. aakuu keellauuar.. Tii.." Kurasakan desakan hebat dan nikmat betul di batang kejantananku dan dengan dorongan pantatku ke dalam membenamkan batang kejantananku di liang senggamanya, ku**kan spermaku kira-kira mungkin 5-6 kali. Kupeluk Siti dan kucium bibirnya dan kami berdua berpagutan sampai klimaks orgasme kami selesai. Mungkin lebih kurang 5 menit kami berpagutan seolah-olah tidak akan terlepaskan.

Akhirnya kulepaskan pagutan serta pelukanku sambil memandang Siti yang terlihat puas dengan apa yang terjadi. Batang kejantananku masih terbenam dalam di liang senggamanya yang terasa banjir oleh sperma kami berdua.
"Gimana Ti..?, enak.. Kamu puas kan..?" tanyaku lembut.
Dia tersenyum mengangguk sambil memegang pipiku, "Iya Pak, selama kawin saya nggak pernah merasa enak seperti tadi, Paak.. oohh?" jawabnya sambil bermain dengan bibirku di tangannya.
"Saya nggak pernah digituin itunya pake lidah seperti yang Bapak tadi lakukan.." jawabnya dengan bahasa yang kumengerti bahwa dia tidak cukup mengecap sekolah lanjutan.
"Apa itunya yang digituin sama lidah saya..?" kujawab lagi mengikuti sambil tersenyum.
"Iiih Bapak.. jangan banyol aahh.." katanya lagi.
"Ti.. aku mau lagi Tii, kamu masih mau nggak..?" tanyaku sambil mempermainkan puting susunya yang membuatku terangsang lagi dan kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut lagi mulai tegang di dalam liang senggamanya.
Siti mengangguk sambil tersenyum, terlihat deretan giginya yang putih bersih dan dia berkata, "Mau aja Pak, tapi saya mau juga gituin punya Bapak.. boleh kan?"
"Punya saya mau digituin..? digituin bagaimana..?" tanyaku menggoda.
"Iiih Bapak, banyolan teruus..diisep, dijilatin seperti punya saya dijilatin, diisep sama Bapak.. enak sih." jawabnya lagi sambil tertawa kecil manja.
Aku menggangguk, "Boleh, nanti aku ajarin caranya, jangan seperti kemarin.. aku kurang puas yaa.."

Aku bangun berusaha melepaskan batang kejantananku tapi Siti menahanku sambil tersenyum seolah-olah dia masih ingin menikmati batang kejantananku di dalam liang senggamanya yang agak sempit tapi nikmat. Tidak terasa aku melihat jam tanganku sudah jam 19:00, jadi dari awal sampai selesai 1 jam lamanya, lama juga ya.

Akhirnya dia melepaskanku dan berdua kami telanjang bulat menuju kamar mandi tanpa khawatir dilihat orang atau tetangga karena di rumah hanya kami berdua dan hari sudah malam. Di kamar mandi kami saling menyiram dan membersihkan badan kami terutama batang kejantananku dan liang senggama Siti. Kusentuh liang senggamanya sambil kusiramkan air dan sebaliknya Siti juga membersihkan batang kejantananku sambil dibelainya dengan lembut. Nafsuku bangkit kembali dan kubelai klitorisnya sambil mencium bibirnya yang sexy itu dan dia memelukku sambil mendesah-desah kecil tanda nafsunya pun mulai bangkit. Cepat-cepat kami mengeringkan badan dan dengan lembut kami berciuman lagi sambil berjalan menuju kamarku.

Kududukan dia di tempat tidur lalu kuambil tangannya dan kugenggamkan pada batang kejantananku. Dia melihat ke arahku sambil menciumi batang kejantananku perlahan-lahan. "Ti.. kamu jilat di sekeliling kepalanya, baru diisep, terus kulum sampai dalam yaa.." kataku sambil membelai pipinya yang lumayan halus. Siti melakukannya apa yang kukatakan dan aku merasakan nikmat batang kejantananku dikulum dengan lembut, "Gila ini pembantu.. udah mulai mengerti permainan blow job!!"

Sambil batang kejantananku masih dikulumnya, kurebahkan dia dan aku berbalik dengan posisi dia di atasku dan kutarik pahanya sehingga liang senggamanya tepat di atas wajahku. Benda nikmat itu kubelai, kucium labia pinggirnya dan akhirnya klitorisnya kukulum dan kugigit-gigit kecil dengan lembut, lidahku masuk ke dalam liang nikmat yang langsung basah akibat permainan lidahku. Siti menggelinjang saat lidahku masuk ke dalam liang nikmatnya itu sambil mendesis karena batang kejantananku yang makin tegang dan keras masih berada di dalam mulutnya.

Beberapa saat kami melakukan foreplay sampai akhirnya kedengaran dia mengerang-erang, "Paakk.. ayo doong, saya pengen dimasukin lagii, Paak.." katanya. Kubalikkan badannya sehingga dia berada di atasku yang terlentang dan kupegang batang kejantananku yang sudah siap tempur itu sambil mengarahkan ke liang senggamanya yang sudah basah. "Kamu belum pernah kan dengan cara seperti ini?" tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala sambil membenarkan posisi kakinya diantara pinggangku. Kemudian dengan tangan kiriku kutekankan pinggulnya yang padat sehingga batang kejantananku masuk dengan mulus ke dalam liang senggamanya dan dia langsung menutup mata sambil menjatuhkan badannya ke arahku.

"Aaaww Paak.. eenaak.." Dia menciumku dengan ganas kali ini dan mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Siti melepaskan ciumannya dan bertopang tangan di dadaku sambil tetap meggoyangkan pantatnya naik turun. Tanganku juga tidak tinggal diam, memegang kedua susunya yang putih montok sambil memutar-mutar putingnya yang merak kecoklatan, Siti mulai menjerit kecil tanda dia mulai hampir orgasme. Terasa olehku liang senggamanya makin basah dan berdenyut memijiti batang kejantananku, gerakannya makin cepat dan tidak beraturan dan akhirnya dia menjatuhkan dirinya lagi ke arahku sambil memeluk dan menjerit kecil serta menggigit bahuku tapi kutahan kepalanya agar jangan terlalu keras menggigit bahuku agar tidak berbekas, nanti bisa jadi pertanyaan nyonya rumah kalau kelihatan merah.

Beberapa saat dia mengejang merasakan kenikmatan orgasme. Kembali kubalikkan badan kami berdua supaya batang kejantananku tidak lepas dari liang senggamanya. Sekarang posisiku di atas, entah kenapa aku amat menyenangi posisi konvensional ini dari pada macam-macam style seperti doggy, samping, belakang dlsb.

"Gimana rasanya Ti..?" Aku bertanya sambil kukecup bibirnya.
"Enak sekali Pak, Siti belum pernah kaya gitu.. Bapak belum keluar yaa?" aku hanya menggelengkan kepala. Dia membalas kecupanku dan menggoyangkan pantatnya, aku langsung memberi respon dengan mulai menggoyangkan pantatku naik turun dan sekali-sekali kuputarkan seperti di BF yang kupernah tonton. Siti mengerang lirih, kedua kakinya dilingkarkan dan menjepit ke pinggangku dan aku pun mulai merasa kenikmatan batang kejantananku yang mulai berdenyut, kukecup bibirnya, turun ke susunya, kuhisap putingnya dengan nafsu yang tinggi, dia menjerit kecil waktu putingnya kugigit dengan gemas.

Beberapa saat pahanya menjepit pinggulku dengan keras dan menarik mulutku dari putingnya dengan agak kasar dan menciumku dengan ganas. "Paakk.. saayaa.. ngg.. enaakk.. keluaarr laagii.. Paak!" jeritnya perlahan. "Aku juga Tii.. oohh.." kupeluk dia dengan erat sambil merasakan denyut di kepala kejantananku yang sudah tidak tahan, akhirnya kusemburkan spermaku ke dalam liang senggama Siti. Kami berdua tergeletak lemas di atas tempat tidurku yang sudah tidak karuan lagi bentuk sepreinya. Malam itu kami lalui berdua, sampai subuh kusetubuhi Siti sampai 4 kali keluar spermaku, entah berapa kali dia keluar.

Demikianlah aku dan Siti melakukan hubungan seks, selingkuh atau apapun namanya dengan nikmat tanpa ketahuan isteriku selama 2 tahun dan kami menikmatinya dengan asyik dan aku juga memastikan untuk memberikan Siti obat anti hamil supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak enak.Masuk tahun ketiga Siti bekerja di tempatku, dia pamit pulang kampung dengan janji akan kembali, tapi nyatanya dia tidak pernah kembali. Isteriku mencoba mencari tahu dari teman-temannya yang bekerja di tempat adik isteriku dan mereka mengatakan Siti sudah kawin lagi dan hidup dengan suaminya yang kedua di Lampung. Aku benar-benar terkesan dengan keluguannya dalam berhubungan seks dengannya.
Itulah pengalamanku dengan pembantuku yang manis asal Ciamis.

TAMAT   


Admin Mesum - 23.25

siti pembantuku yang manis part 1

Awal kisah ini terjadi lebih kurang hampir 20 tahun yang lampau pada saat isteriku baru melahirkan anak kami yang semata wayang. Pada saat itu seisi rumah termasuk kedua mertuaku amat berbahagia karena isteriku adalah anak perempuan mereka yang tertua dan perkawinan kami dianggap amat terlambat mengingat usiaku sudah lewat 30 tahun. Untuk itu mereka berusaha agar kami mempunyai pembantu rumah tangga yang dapat melakukan pekerjaan dapur sementara isteriku dapat konsentrasi dengan bayinya. Begitulah latar belakang kehidupanku sampai datangnya seorang gadis pembantu rumah tangga berasal dari Ciamis. Namanya Siti, umurnya 17 tahun, orangnya lumayan manis, berkulit putih bersih seperti layaknya gadis desa, susunya pertama kali kulihat sedang-sedang saja dibalut baju yang agak longgar dan yang membuatku tertarik adalah bibirnya. Bentuk bibirnya sensual sekali untuk orang Indonesia yaitu agak merekah seperti bibirnya Estella Warren atau Cameron Diaz yang bintang film itu.

Setelah lebih kurang 40 hari dari hari melahirkan, seperti biasa aku mulai menggoda isteriku untuk melakukan hubungan seksual yang sudah lama kutahan-tahan karena kita berdua harus 'puasa' dulu selama 40 hari dari sejak isteriku melahirkan. Beberapa kali kami melakukan hubungan seksual yang kurasakan agak kurang hot dari biasanya. Aku jadi uring-uringan dan sepertinya gairah libidoku semakin memuncak setiap kali aku melihat pembantuku yang baru itu ditambah lagi setelah beberapa kali aku pulang dari kantor aku menemui isteriku tidak ada bersama anakku dan biasanya dia pergi mengunjungi adik-adiknya atau saudaranya yang lain.

Lebih kurang 1 bulan Siti bekerja di rumahku, dia mulai mengalami perubahan baik fisiknya, cara berpakaiannya dan juga cara memandangku dan juga cara melayaniku setiap aku pulang kerja. Dia mulai memberi perhatian lebih dengan cara mengambil tasku dan menyediakan teh, kopi atau minuman dingin lainnya. Dan aku juga mulai terpengaruh dengan cara-caranya tersebut. Sampai satu hari aku pulang malam kira-kira jam 23:00, isteriku sudah tidur di kamar tengah bersama bayinya.

"Ibu tadi pulang jam berapa, Ti?" tanyaku kepada Siti yang belum tidur masih menonton acara TV.
"Jam 9 Pak," jawabnya.
"Bapak sudah makan?, kalau belum nanti saya sediakan," katanya lagi sambil tersenyum manis kepadaku.
Aku jadi penasaran dan aku melihat kepadanya dengan pandangan yang mulai bernafsu.
"Aku sudah makan Ti, kamu sendiri kok belum tidur?" jawabku sambil pandanganku tidak lepas dari dadanya yang terlihat makin montok karena dia memakai daster pemberian isteriku.
"Belum, karena saya tunggu Bapak pulang seperti pesan Ibu," jawabnya lagi.

Aku mulai nekad, sambil mundur pelan-pelan aku mengintip ke kamar tidur isteriku yang ternyata sudah terlena dengan pulas bersama anakku yang masih bayi berumur hampir 3 bulan. Kembali aku mendekati Siti yang masih berdiri dekat meja makan sambil mempermainkan kancing dasternya bagian atas, dia sepertinya menunggu apa yang akan kukatakan kepadanya.
"Siti, ke sini Neng." Aku memanggilnya sambil mendekatinya.
Dia bergerak perlahan mendekatiku. Baru aku menyadari bahwa lumayan juga pembantuku ini, tingginya hampir setinggi isteriku dan itu bibirnya yang sensual bergerak-gerak perlahan.
"Ada apa Pak?" katanya lagi.
"Kamu sudah punya pacar di kampung?" kataku memancing.
"Ah Bapak bisa saja, nggak ada yang mau sama saya lagi karena saya dicerai sama suami saya gara-gara dituduh main sama lelaki lain," jawabnya lirih.
Aku terkejut mendengar pengakuannya yang terus terang bahwa dia adalah seorang janda muda baru cerai, Nah ini dia kesempatan baikku untuk dapat mendekati Siti selanjutnya.

"Sudah berapa lama kamu cerai, Ti?" tanyaku penasaran.
"Baru dua bulan Pak, memangnya kenapa Bapak nanya begitu?" dia balik bertanya.
"Ah, nggak pa-pa, pasti kamu masih kangen sama bekas suamimu kan, ingin meladeni seperti yang kamu lakukan kepada saya seperti mengambilkan air minum atau yang lain?" jawabku lagi.
"Ah Bapak bisa aja." jawabnya agak manja.

Aku makin berani, sekarang kupegang tangannya dan menariknya duduk di kursi makan dan aku duduk di kursi yang kuhadapkan kepadanya, dia diam saja dan dia mulai melihat ke arahku. Aku pun makin berani mengusap tangannya sambil berkata, "Ti, kamu tahu nggak bahwa kamu itu manis dan lembut."
Kugoda dia dengan perlahan, tanganku mengelus-elus sampai di pundaknya. Terasa olehku dia gemetar oleh sentuhanku. Aku mersakan kejantananku mulai memberontak perlahan di balik celanaku.

"Ti, kalau aku menyayangimu, kamu mau nggak?" tanyaku makin berani sambil mengelus pipinya.
"Ah Bapak, ssaya nggak berani, nnanti.. ketahuan ibu, Pak.." suaranya sayu agak gemetar sementara tanganku yang lain mengusap pahanya yang gempal.
"Ibu sudah tidur jadi kamu jangan takut ya, gimana kalau kamu mau meladeniku lebih dari sekedar yang kamu kerjakan sekarang." Kataku lagi sambil mengusap kupingnya terus turun ke arah bibirnya yang seksi itu sementara tanganku yang lain mulai mengusap pahanya terus sampai dekat selangkangannya. Ternyata dia diam saja bahkan terdengan nafasnya mulai tidak teratur. Aku sudah dapat menduga bahwa Siti mulai menikmati sentuhanku yang juga membuat isteriku dan beberapa gadis-gadis yang pernah kupacari terlena. Dia sendiri mulai menggeser pantatnya mendekatiku.

"Gimana Ti, kamu mau kan?" wajahku mendekati wajahnya dan terasa nafasnya yang khas berbau perempuan kampung dan aku sangat terangsang jadinya.
"Terserah ..Pak.. ssaya.. umm.." belum sempat dia selesai bicara kucium bibirnya yang sensual dengan lembut sambil menarik tubuhnya untuk berdiri. Untuk beberapa saat kukulum bibirnya dengan lembut dan reaksinya terdiam sejenak dan dia mulai membalas, tapi dasar pembantu dan dari kampung dia belum bisa membalas ciumanku dengan benar dan nikmat seperti perempuan kota.Kulepaskan ciumanku dan aku memandangnya dan pandangannya sayu seolah-olah tidak percaya apa yang baru terjadi. Aku terus membelai punggungnya dan ternyata dia tidak memakai BH. Tangannya kulingkarkan ke atas leherku dan kukecup lagi bibirnya dan kali ini lidahku mulai bekerja dengan lembut ke dalam mulutnya, dia membalas sehingga kemaluanku bertambah tegang di balik celanaku. Kugeser-geserkan ke perutnya yang terasa rata dan empuk.
Dia melepaskan diri sambil berkata berbisik, "Paak.. nanti Ibu bangun.."
"Jangan takut Ti.. nggak pa-pa, ibu sudah nyenyak tidurnya," jawabku pasti.

Tiba-tiba kedengaran anakku menangis dan secepat kilat aku melepaskan Siti dan berlari ke kamar melihat keadaan dan ternyata anakku hanya menagis sejenak dan kembali tidur, isteriku juga tidak terbangun. Aku keluar lagi dan ternyata Siti sudah tidak ada. Aku menuju kamarnya yang berada di bagian belakang ruang makan. Kuintip kamarnya dan ternyata Siti sedang duduk di samping tempat tidur sambil memegangi bibirnya yang baru kukecup tadi, mungkin dia surprise dengan apa yang baru terjadi.

"Stt.." aku berbisik dan dia menoleh sambil tersenyum. Aku masuk ke kamarnya, kututup pintunya dan langsung kupeluk Siti dengan lembut dan kali ini dia membalas dengan sigap, ternyata dia terangsang dengan sikapku tadi dan mungkin dia membayangkan bagaimana kalau itu berlangsung dahulu di kampungnya.

Kami berciuman dan tanganku menjalar ke arah dadanya, ternyata susunya yang tidak tertutup BH lumayan besar dan padat serta kenyal. Dia mulai merintih tanda nafsunya bangkit mungkin benar apa yang aku katakan padanya bahwa dia kangen untuk mendapatkan rabaan dari laki-laki, apalagi dariku yang lebih pengalaman soal itu bahkan lebih. Kuambil tangannya dan kugeser ke arah kejantananku, dia menurut dan kuremaskan tangannya ke kejantananku yang masih terbungkus celana, sementara tanganku menjalar di atas dadanya dan kubuka kancing dasternya dan kususupkan tanganku sampai menyentuh susunya dan memainkan putingnya yang lumayan mulai membesar dan keras. Sementara kami berpagut dan suara erangannya makin keras merasakan nikmatnya permainan tanganku di payudara dan putingnya.

Aku tidak tahan lagi, segera kubuka reitsleting celanaku dan kubiarkan tangannya menggenggam batang kejantananku yang tegang, sementara aku mulai menciumi susunya dari atas sampai ke putingnya yang kuintip berwarna coklat kemerah-merahan. Kujilat lembut putingnya dan kuisap perlahan dan aku semakin bernafsu. Kuakui bahwa aku paling suka mengisap susu perempuan, tidak peduli besar atau kecil apalagi yang montok seperti punya isteriku dan juga yang sekarang ada di hadapanku.

Siti mulai terengah-engah dengan perbuatanku dan tangannya mulai mengocok batang kejantananku yang makin tegang, sementara mulutku dengan rakus tapi lembut mengisap susunya kekiri dan kekanan, tanganku yang lain turun menuju pangkal pahanya dan kususupkan ke dalam celana dalamnya yang agak mini dan tipis itu.

Dia menggelinjang dan menahan erangannya, "Paakk.. jjangaann.." bisiknya.
"Nggak pa-pa Ti, aku.. aku akan pelan-pelan.." kataku membujuk dan kembali kucium bibirnya lembut terus turun ke arah susunya dan kuhisap putingnya dengan halus. Tangannya kembali kugenggamkan ke batang kejantananku dan aku berhasil memasuki liang senggamanya yang mulai basah. Kuusap bibir kemaluannya dengan jariku secara lembut dan aku mencapai klitorisnya, terdengar erangannya halus serta nafasnya yang makin tidak teratur.

"Ti.. buka ya dasternya?" Dia menggangguk pelan, pasrah dan mulai terangsang. Kubuka dasternya dan terlihat bodinya yang putih mulus dengan susunya yang lumayan besar serta putingnya yang tegak dan keras berwarna coklat kemerah-merahan. Kubaringkan dia dan aku membuka bajuku lalu aku berbaring di sampingnya, kulihat matanya yang sayu.

"Siti, kamu mau kan membuatku puas malam ini? dan aku akan membuatmu puas juga, OK..?" Dia hanya mengangguk pasrah. Kubuka celanaku sekalian celana dalamku. Batang kejantananku sudah tegang sekali, tapi aku ingin membuat nafsuku tercapai dengan foreplay bersama Siti yang kuyakin belum pernah mengalaminya. Kami berciuman lagi dan sekarang aku mulai menciuminya dari bibir terus ke lehernya, turun ke dadanya. Di sana aku bermain-main sejenak sambil menikmati kekenyalan susunya serta erangan halusnya. Kemudian kuciumi perut, pusar sampai di atas liang senggamanya yang agak membusung. Kubuka celana dalamnya dan tampaklah liang senggama miliknya yang dihiasi bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Terdengar erangannya, "Pak.. aughh.."

Pelan namun pasti, kujilati bibir kemaluannya dan bau khasnya tercium yang membuatku bertambah nafsu dan terasa Siti membuka lebih besar selangkangannya sambil meremas rambutku. Terasa cairan meleleh keluar dari liang senggamanya dan kujilati, terasa agak asin tapi nikmat. Tiba-tiba tangan Siti menjambak rambutku dan menekan kepalaku sambil membuka lebar pahanya untuk memberikan keleluasaan wajahku menjilati liang senggamanya disertai erangan kepuasan. Aku tahu dia telah mencapai klimaks orgasme. Kuhisap dan kujilati cairan yang keluar dari liang senggamanya sampai tidak tersisa di situ. Beberapa saat dia menekan kepalaku di antara pahanya yang tegang dan juga putih mulus itu disertai terangkat sedikit pinggulnya. Kemudian terasa mengendur pegangan tangannya di kepalaku. Kuangkat wajahku sambi melihat kepadanya.
"Gimana Ti.. enak, Ti?" kataku.
"Ooohh.. Paak, saya belum pernah rasa seperti tadi selama ini," jawabnya sambil tersenyum sayu.

Dia menarikku untuk berbaring di sampingnya sambil memegang batang kejantananku yang semakin tegang.
"Suami saya kalau minta, cuma sebentar aja.. terus udah gitu dia tidur," jawabnya lagi tanpa malu-malu.
"Aku juga ingin menikmati kamu Ti, gimana? Sekarang boleh nggak..?" aku mulai tidak tahan atas remasan tangannya di batang kejantananku.
Dia tersenyum dan bangun tanpa melepaskan batang kejantananku dari genggamannya, aku mengikuti gerakannya dan tanpa ragu-ragu batang kejantananku diciumnya dengan bibirnya yang sensual, mungkin karena tidak pernah mengisap kemaluan laki-laki, Siti hanya bisa menciumi saja. Serta merta aku bilang, "Dikulum Ti, terus dikenyot jangan dicium saja.." Dia melakukan apa yang kukatakan dan nikmat sekali rasanya, sambil melihat batang kejantananku yang berada diantara bibir sensual itu.

Aku tidak tahan lagi, kuremas susunya yang kenyal sambil menarik kakinya dan kami membentuk "posisi 69" dan sepertinya Siti pasrah dengan perlakuanku. Sementara batang kejantananku berada di dalam mulutnya, terasa lidahnya yang sebentar-sebentar dipermainkan (maklum dia tidak punya pengalaman Blow Job). Aku merasa semakin tegang dan nafsu ditambah dengan posisi 69 terlihat liang senggama Siti yang kemerah-merahan dikelilingi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Kujilati bibir serta klitorisnya yang terasa agak mengeras dan beberapa saat kemudian terasa cairan membasahi lidah dan mulutku disertai kedua pahanya menjepit kepalaku, terdengar erangan Siti. Dia mengalami orgasme lagi. Kutelan habis-habisan cairan liang senggamanya. Dan pada saat hampir bersamaan aku juga merasa kenikmatan yang luar biasa, dan tanpa bisa dibendung lagi kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut, spermaku mendesak dan menyemprot keluar di dalam mulut pembantuku itu. Kurasakan dia tidak melepaskan batang kejantananku dari mulutnya pada saat spermaku keluar. Ah.. luar biasa si Siti ini. Kugeser badannya dan kami berdua tergeletak lemas di tempat tidur pembantuku, Siti sambil berpelukan.

"Terima kasih yaa.. Ti, kamu mau melayaniku seperti tadi," aku berkata sambil membelai pipinya.
"Saya juga Pak, saya belum pernah seperti tadi, suami saya maunya enak sendiri, habis main terus tidur." balas Siti manja.
Terdengar lonceng 12 kali, aku tersadar dan segera bangkit memakai celanaku. Sambil mengecup bibir dan susuya yang montok itu aku berkata, "Siti, ini rahasia kita berdua yaa.. jangan sampai orang lain tahu apalagi ibu, besok kita ketemu lagi." Siti tersenyum sayu sambil kembali memakai pakaiannya dan aku keluar menuju kamar mandi.

bersambung   


Admin Mesum - 23.25

Sex di Warnet

Cerita ini bermula saat aku di bangku kuliah dulu. Aku kuliah di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Informatika di Jakarta Selatan. Singkatnya, banyaknya waktu luang yang aku punya sepulang kuliah membuat aku ingin mencari kesibukan baru. Sampailah dimana aku mempunyai kebiasaan chatting melalui MIRC. Setiap hari sepulang kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke warnet utuk chatting atau sekedar browsing mencari-cari gambar atau filem bokep. Di chatting, aku berkenalan dengan seorang wanita bernama Wulan,mahasiswi Desain grafis di salah satu Universitas di Jakarta. Hampir setiap hari aku chat dengannya. Sekedar basa basi atau saling curhat satu sama lain. Kami berdua sering bertukar foto via E-mail,karena dulu belum tau friendster n hape belum bisa MMS, Tounge.gif sejujurnya, Wulan tidak cantik, cenderung tomboy dan dia anak Indies(tau donk). Yang membuat saya tertarik adalah dia berkulit putih bersih dan enak untuk diajak ngobrol. Pembawaannya selalu ceria, seolah dia tidak pernah merasakan sedih.

Sampai suatu hari kami sepakat untuk kopi darat. aku menentukan tempatnya, yaitu di Mall Ciputra, Grogol.. Oh iya, Wulan bertempat tinggal di Rawamangun, jadi untuk ke Citraland mungkin jaraknya lumayan jauh. Tapi aku menjanjikan akan mengantar dia pulang nanti.

Hari pertemuan pun tiba. Jantungku lumayan berdebar. Setelah bertemu debaran jantungku semakin kencang tapi lama kelamaan hilang setelah kami mulai mengobrol. Kami berjalan-jalan sebentar dan mampir di McDon*ld untuk makan. Setelah selesai makan, dia memintaku mengantarnya pulang.

Saat itu aku belum punya kendaraan pribadi, jadi aku menemaninya naik bis. Bis yang kami naiki waktu itu adalah Patas AC dan kondisi bis sepi. Hanya di bagian depan sampai baris ketiga saja yang terisi. Sisanya di belakang hanya ada sepasang penumpang. Lalu kami bergegas naik dan dia mengajak aku duduk di kursi no.2 dari belakang, tepat disamping pintu keluar belakang. Di perjalanan kami mengobrol dan bersenda gurau. Saat bersenda gurau itu aku tidak sengaja menyenggol payudaranya, aku takut dan panik, takut dia marah. Tapi ternyata dia bilang “qo Cuma nyenggol siy, kamu pegang juga ga apa-apa qo. Serasa diberi lampu hijau, aku mulai meremas-remas payudaranya sambil menciumi bibirnya. Tanganku mulai masuk ke dalam kausnya yang terbalut oleh jaket. Aku pilin-pilin puting payudaranya sambil sesekali aku remas-remas payudaranya. Sambil mendesah dia berkata, “masukan tangan kamu ke celana aku say. Tanpa pikir panjang, aku mulai memasukan tanganku ke dalam celana dalamnya, dan ternyata sudah mulai basah. Lalu aku usap-usap klitorisnya dengan lembut, sampai bibir vaginanya menjadi lebih basah.

Tanpa terasa, kami tiba di tempat tujuan. Kami bergegas turun dan lalu dia mengajakku ke warnet tempat dia biasa online. Setiba disana kondisi warnet sepi, hanya ada operatornya saja. Dia kenal baik dengan operatornya. Kondisi warnet seperti pada umumnya, disekat hanya sebatas dada orang dewasa. Di belakang ada ruangan khusus tempat OP biasa istirahat dan toilet di sebelahnya. Kami memilih PC di bagian paling belakang. Kami muai browsing, dari mulai membuka situs-situs music, sampai membuka situs-situs porno. Oh iya, posisi duduk antara aku dengan dia adalah aku duduk di belakang dan dia setengah berpangku di kedua belah pahaku. Posisi yang “sangat strategis untuk menjelajah ke setiap jengkal tubuhnya.

Saat dia mulai membuka situs porno, dia mulai terangsang. Kupikir inilah tandaku untuk memulai. Aku mulai dengan meremas-remas kedua belah payudaranya. Lalu aku membuka baju dan bhnya sampai terlihat jelas kedua belah payudaranya. Putih bersih, dengan puting berwarna merah jambu. Aku mulai mengulum-ngulum puting payudaranya sambil tangan kananku meremas payudara kirinya dan tangan kiriku menjelajah ke dalam celananya. Aku buka kancing dan resleting celananya, agar tanganku lebih leluasa menyentuh klitoris dan lubang vaginanya. Jari tengahku perlahan-lahan aku masukan kedalam vaginanya yang sudah mulai basah. Dengan gerakan lambat aku mainkan jari-jariku di antara lubang vaginanya dengan posisi jari tengahku masuk kedalamnya. Semakin lama gerakan jari-jariku semakin cepat. Kukulum puting payudaranya dengan sesekali kumainkan lidahku. Remasan tanganku semakin kencang ke payudaranya. Sampai akhirnya dia mencapai klimaks dan aku memeluknya erat.

Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Dia minta izin untuk pulang dan mandi, karena rumahnya tidak terlalu jauh dari warnet. Ternyata dia terkadang saat weekend menjadi operator di warnet itu, dan hari itu adalah hari dimana dia mendapat giliran untuk menjadi Operator. Kurang lebih satu jam lamanya aku menunggu, akhirnya dia tiba. Dengan wajah yang lebih segar, memakai kaos ketat dengan rok mini berbahan jeans berwarna biru. Saat dia mendekat, kuhirup harumnya wangi parfum yang dia **kan ketubuhnya. Jujur, birahiku menjadi naik karenanya.

Sesaat kemudian, dia memulai tugasnya dan Operator yang satunya lagi izin pulang. Warnet hanya berisi 2 user. Dalam hati aku berharap kedua user itu cepat selesai onlinenya, supaya aku bias berduaan dengan Wulan.

Setengah jam berlalu, user terakhir akhirnya pulang. Tanpa basa basi, dia pun membalik tulisan open menjadi close dan kemudian mengunci pintu warnet. Dia lalu menuntunku ke belakang, ke tempat dimana operator biasa beristirahat. Dia mulai menciumi bibirku dan aku balas dengan memainkan lidahku. Tangannya mulai menjelajah ke dadaku, lalu turun ke perutku dan kemudian berhenti diantara selangkanganku. Dia mulai meraba-raba penisku yang makin lama makin tegang berdiri. Kancing celanaku dibukanya dan perlahan resleting celanaku diturunkannya. Tinggalah aku dengan hanya memakai celana dalam dengan kaus masih melekat. Kemudian dia buka celana dalamku dan menyembulah penisku yang sudah tegak berdiri. Dia mulai mengocok-ngocok penisku dengan lembut dengan sesekali menciumi kepalanya. Sesaat kemudian ia mulai memainkan lidahnya, menjilati penisku dan mengulumnya dengan perlahan. Dengan gerakan yang sangat lembut dia gerakan bibirnya maju mundur, sambil sesekali menghisap, membuat aku melayang.

5 menit sudah ia memainkan punyaku. Tiba giliranku untuk mengerjainya. Aku mulai dengan membuka kaosnya sambil sesekali aku ciumi kedua payudaranya. Kubuka BHnya dengan perlahan, hingga terlihat jelas kedua belah payudaranya yang tidak terlalu besar. Aku mulai dengan meremas, kemudian mengulum putingnya, menghisap sambil memainkan jari-jariku di atas payudaranya. Setelah puas, aku mulai menurunkan celana dalamnya. Celana dalam berwarna biru dengan motif polkadot. Sehingga terlihat jelaslah vaginanya yang memiliki bulu kemaluan yang tidak terlalu banyak. Kurebahkan dia di lantai yang beralaskan karpet, dan aku ganjal pantatnya dengan bantal agar pandanganku jelas. Kumulai menjilati klitorisnya, dan mengulum labianya. Sesekali aku masukan lidahku kedalam lubang vaginanya. Kumainkan bulu kemaluannya yang halus dengan lidah tetap menjilati dan mengulum klitorisnya. Lalu aku masukan jari tengahku kedalam vaginanya. Dengan gerakan yang perlahan aku mainkan jari tengahku, dengan lidah masih bermain-main dengan klitorisnya. Mendekati klimaks, aku hentikan gerakan lidah dan jariku dan memulai posisi missionary. Aku mulai masukan penisku ke dalam vaginanya dengan perlahan, lalu mengeluarkannya dengan perlahan dan aku lakukan berulang-ulang. Dengan ritme yang lambat, kurasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Diapun sepertinya menikmati gerakan-gerakan yang aku lakukan. Setelah 5 menit, kemudian kami berganti posisi doggy style. Dengan perlahan aku gerakan tubuhku maju mundur sambil sesekali mempercepat ritme, kemudian memperlambat lagi, begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya dia hampir mencapai klimaks, akupun sepertinya sudah tak bisa lagi menahan keluarnya sperma. Dia berkata, “keluarkan didalam saja, aku tadi sudah minum pil KB. Hatiku berteriak kegirangan, karena belum pernah seumur-umur bisa ngeluarin di dalam. Dengan beberapa gerakan saja kami berdua pun mencapai klimaks. Dia merasakan hangatnya spermaku yang keluar di dalam vaginanya. Sedangkan aku merasakan bagaimana vaginanya berdenyut seperti menghisap-hisap penisku, luar biasa. Beberapa saat aku diamkan penisku di dalam vaginanya. Setelah itu kamipun membersihkan diri di toilet. Dan kemudian mulai memakai kembali pakaian kami.

Selesai itu, kamipun berpelukan. Lalu dia membisikan kata “terima kasih buat hari ini, aku bahagia. Dalam hati aku hanya bisa tersenyum, akupun bahagia, pikirku. Hari ini takkan pernah hilang dalam memoriku


Admin Mesum - 23.24

cerita seks-Persetubuhan Terlarang

Ini adalah kisah pengalamanku yang sengaja aku beberkan untuk pertama kalinya. Sebut saja namaku Arman, aku sendiri tinggal di Bandung. Kejadian yang aku alami ini kalau tidak salah ingat, terjadi ketika aku akan lulus SMA pada tahun 2010 lalu.
Sungguh sebelumnya aku tak menyangka bahwa aku akan meniduri adikku sendiri yang bernama Ratih. Dia termasuk anak yang rajin dan ulet, sebab dia adalah yang memasak dan mencuci pakaian sehari-hari. Ibuku adalah seorang pedagang kelontong di pasar, sedangkan ayahku telah lama meninggal. Entah mengapa Ibu tidak berniat untuk menikah lagi.

Yang ibu lakukan setiap hari adalah sejak jam 4 subuh dia sudah pergi ke pasar dan pulang menjelang magrib, aku pun sekali-sekali pergi ke pasar untuk membantu beliau, itu pun kalau terpaksa sedang tidak punya uang. Sedangkan adikku karena seringnya tinggal di rumah maka dia kurang pergaulan hingga kuperhatikan tampaknya dia belum pernah pacaran. Oh ya, selisih umurku dengan adikku hanya terpaut dua setengah tahun dan saat itu dia masih duduk di kelas 1 SMA.

*****

Baiklah, aku akan mulai menceritakan pengalaman seks dengan adikku ini. Kejadiannya ketika itu aku baru pulang dari rumah temanku Anto pada siang hari, ketika sampai di rumah aku mendapati adikku sedang asyik menonton serial telenovela di salah satu TV swasta. aku pun langsung membuat kopi, merokok sambil berbaring di sofa. Saat itu serial tersebut sedang menampilkan salah satu adegan ciuman yang hanya sebentar karena langsung terpotong oleh iklan. Setelah melihat adegan tersebut aku menoleh kepada adikku yang ternyata tersipu malu karena ketahuan telah melihat adegan tadi.

"Pantesan betah nonton film gituan" ujarku.
"Ih, apaan sih" cetusnya sambil tersipu malu-malu.

Beberapa menit kemudian serial tersebut selesai jam tayangnya, dan adikku langsung pergi ke WC. Kudengar dari aktifitasnya, rupanya dia sedang mencuci piring. Karena acara di televi\si tidak ada yang seru, maka aku pun mematikan TV tersebut dan setelah itu aku ke WC untuk buang air kecil. Mataku langsung tertuju pada belahan pantat adikku yang sedang berjongkok karena mencuci piring.

"Ratih, ikut dulu sebentar pingin pipis nih" sahutku tak kuat menahan.

Setelah aku selesai buang air kecil, pikiranku selalu terbayang pada bongkahan pantat adikku Ratih. Aku sendiri tadinya tak mau berbuat macam-macam karena kupikir dia adalah adikku sendiri, apalgi adikku ini orangnya lugu dan pendiam. Tetapi dasar setan telah menggoyahkan pikiranku, maka aku berpikir bagaimana caranya agar dapat mencumbu adikku ini.

Aku seringkali mencuri pandang melihat adikku yang sedang mencuci, dan entah mengapa aku tak mengerti, aku langsung saja berjalan menghampiri adikku dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil mencium tengkuknya. Mendapat serangan yang mendadak tersebut adikku hanya bisa menjerit terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapanku.

Aku sendiri lalu tersadar. Astaga, apa yang telah aku lakukan terhadap adikku. Aku malu dibuatnya, dan kulihat adikku sedang menangis sesenggukan dan lalu dia lari ke kamarnya. Melihat hal itu aku langsung mengejar ke kamarnya. Sebelum dia menutup pintu aku sudah berhasil ikut masuk dan mencoba untuk menjelaskan perihal peristiwa tadi.

"Maafkan.. Aa Ratih, Aa tadi salah"
"Terus terang, Aa nggak tahu kenapa bisa sampai begitu"

Adikku hanya bisa menangis sambil telungkup di tempat tidurnya. Aku mendekati dia dan duduk di tepi ranjang.

"Ratih, maafin Aa yah. Jangan dilaporin sama Ibu" kataku agak takut.
"Aa jahat" jawab adikku sambil menangis.
"Ratih maafin Aa. Aa berbuat demikian tadi karena Aa nggak sengaja lihat belahan pantat kamu, jadinya Aa nafsu, lagian kan Aa sudah seminggu ini putus ama Teh Dewi" kataku.
"Apa hubungannya putus ama Teh Dewi dengan meluk Ratih" jawab adikku lagi.
"Yah, Aa nggak kuat aja pingin bercumbu"
"Kenapa sama Ratih" jawabnya.

Setelah itu aku tidak bisa berbicara lagi hingga keadaan di kamar adikku begitu sunyi karena kami hanya terdiam. Dan rupanya di luar mulai terdengar gemericik air hujan. Di tengah kesunyian tersebut lalu aku mencoba untuk memecah keheningan itu.

"Ratih, biarin atuh Aa meluk kamu, kan nggak akan ada yang lihat ini" Adikku tidak menjawab hanya bisa diam, mengetahui hal itu aku mencoba membalikkan tubuhnya dan kuajak bicara.
"Ratih, lagian kan Ratih pingin ciuman kayak di film tadi kan?" bujukku.
"Tapi Aa, kita kan adik kakak?" jawabnya.
"Nggak apa-apa atuh Ratih, sekalian ini mah belajar, supaya entar kalo pacaran nggak canggung"

Entah mengapa setelah aku bicara begitu dia jadi terdiam. Wah bisa nih, gumanku dalam hati hingga aku pun tak membuang kesempatan ini. Aku mencoba untuk ikut berbaring bersamanya dan mencoba untuk meraih pinggangnya. Aku harus melakukannya dengan perlahan. Belum sempat aku berpikir, Ratih lalu berkata..

"Aa, Ratih takut"
"Takut kenapa, Say?" tanyaku.
"Ih, meuni geuleh, panggil Say segala" katanya.
"Hehehe, takut ama siapa? Ama Aa? Aa mah nggak bakalan gigit kok", rayuku.
"Bukan takut ama Aa, tapi takut ketahuan Ibu" jawabnya.

Setelah mendengar perkataannya, aku bukannya memberi alasan melainkan bibirku langsung mendarat di bibir ranum adikku yang satu ini. Mendapat perlakuanku seperti itu, tampak kulihat adikku terkejut sekali, karena baru pertama kalinya bibir yang seksi tanpa lipstick ini dicumbu oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Adikku pun langsung mencoba untuk menggeserkan tubuhnya ke belakang. Tetapi aku mencoba untuk menarik dan mendekapkan lebih erat ke dalam pelukanku.

"Mmhh, mmhh.., Aa udah dong" pintanya. Aku menghentikan pagutanku, dan kini kupandangi wajah adikku dan rasanya aku sangat puas meskipun aku hanya berhasil menikmati bibir adikku yang begitu merah dan tipis ini.
"Ratih, makasih yah, kamu begitu pengertian ama Aa" kataku.
"Kalau saja Ratih bukan adik Aa, udah akan Aa.." belum sempat aku habis bicara..
"Udah akan Aa apain" bisiknya sambil tersenyum. Aku semakin geregetan saja dibuatnya melihat wajah cantik dan polos adikku ini.
"Udah akan Aa jadiin pacar atuh. Eh Ratih, Ratih mau kan jadi pacar Aa", tanyaku lagi.

Mendengar hal demikian adikku lalu terdiam dan beberapa saat kemudian ia bicara..

"Tapi pacarannya nggak beneran kan" Katanya sedikit ragu.
"Ya nggak atuh Say, kita pacarannya kalo di rumah aja dan ini rahasia kita berdua aja, jangan sampai temen kamu tau, apalagi sama Ibu" jawabku meyakinkannya. Setelah itu kulihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukan jam 4 sore.
"Udah jam 4 tuh, sebentar lagi Ibu pulang. Aa mandi dulu yah", kataku kemudian.

Maka aku pun bangkit dan segera pergi meninggalkan kamar adikku. Setelah kejadian tadi siang aku sempat tidak habis pikir, apakah benar yang aku alami tadi. Di tengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara Ibuku.

"Hayoo ngelamun aja, Ratih mana udah pada makan belum?" kata Ibuku.
"Ada tuh, emang bawa apaan tuh Bu?" aku melihat Ibuku membawa bungkusan.

Setelah aku lihat ternyata Ibu membeli bakso, kemudian Ibuku memangil Ratih dan kami bersama-sama menyantap Baso itu. Untungnya setelah kejadian tadi siang kami dapat bersikap wajar, seolah tidak terjadi apa-apa sehingga Ibuku tidak curiga sedikit pun.

Malamnya aku sempat termenung di kamar dan mulai merencanakan sesuatu, nanti subuh setelah Ibu pergi ke pasar aku ingin sekali mengulangi percumbuan dengan adikku sekalian ingin tidur sambil mendekap tubuh adikku yang montok. Keesokannya rupanya setan telah menguasaiku sehingga aku terbangun ketika Ibu berpamitan kepada adikku sambil menyuruhnya untuk mengunci pintu depan. Setelah itu aku mendekati adikku yang akan bergegas masuk kamar kembali.

"Ehmm, ehmm, bebas nih", ujarku.

Adikku orangnya tidak banyak bicara. Mengetahui keberadaanku dia seolah tahu apa yang ingin aku lakukan, tetapi dia tidak bicara sepatah kata pun. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan nafsu, maka aku langsung melabrak adikku, memeluk tubuh adikku yang sedang membelakangiku. Kali ini dia diam saja sewaktu aku memeluk dan menciumi tengkuknya.
Dinginnya udara subuh itu tak terasa lagi karena kehangatan tubuh adikku telah mengalahkan hawa dingin kamar ini. Kontolku yang mulai ngaceng aku gesek-gesekkan tepat di bongkahan pantatnya.

"Say, Aa pingin bobo di sini boleh kan?" pintaku.
"Idih, Aa genit ah, jangan Aa, entar.."
"Entar kenapa?" timpalku.

Belum sempat dia bicara lagi, aku langsung membalikkan tubuhnya dan langsung aku pagut bibir yang telah sejak tadi siang membuat pikiranku melayang. Aku kemudian langsung mendorongnya ke arah dinding dan menghimpit hangat tubuhnya agar melekat erat dengan tubuhku. Aku mencoba untuk menyingkap dasternya dan kucoba untuk meraba paha dan pantatnya.

Walaupun dia menyambut ciumanku, tetapi tangannya berusaha untuk mencegah apa yang sedang kulakukan. Tetapi aku tersadar bahwa ciumannya kali ini lain daripada yang tadi siang, ciuman ini terasa lebih hot dan mengairahkan karena kurasakan adikku kini pun menikmatinya dan mencoba menggerakkan lidahnya untuk menari dengan lidahku. Aku tertegun karena ternyata diam-diam adikku juga memiliki nafsu yang begitu besar, atau mungkin juga ini karena selama ini adikku belum pernah merasakan nikmatnya bercumbu dengan lawan jenis.

Kini tanpa ragu lagi aku mulai mencoba untuk menyelinapkan tanganku untuk kembali meraba pahanya hingga tubuhku terasa berdebar-debar dan denyut nadiku terasa sangat cepat, karena ini adalah untuk pertama kalinya aku meraba paha perempuan. Sebelumnya dengan pacarku aku belum pernah melakukan ini, karena Dewi pacarku lebih sering memakai celana jeans. Dengan Dewi kami hanya sebatas berciuman.

Kini yang ada dalam pikiranku hanyalah satu, yaitu aku ingin sekali meraba, menikmati yang namanya heunceut (vagina dalam bahasa Sunda) wanita hingga aku mulai mengarahkan jemariku untuk menyelinap di antara sisi-sisi celana dalamnya. Belum juga sempat menyelipkan jariku di antara heunceutnya, Ratih melepaskan pagutannya dan mulutnya seperti ikan mas koki yang megap-megap dan memeluk erat tubuhku kemudian menyilangkan kedua kakinya di antara pantatku sambil menekan-nekan pinggulnya dengan kuat. Ternyata Ratih telah mengalami orgasme.

"Aa.. aah, eghh, eghh" rintih Ratih yang dibarengi dengan hentakan pinggulnya.

Sesaat setelah itu Ratih menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Aku belai rambutnya karena aku pun sangat menyayanginya, kemudian aku bopong tubuh yang telah lunglai ini ke atas tempat tidur dan kukecup keningnya.

"Gimana Sayang, enak?" bisikku. Aku hanya bisa melihat wajah memerah adikku ini yang malu dan tersipu, selintas kulihat wajah adikku ini manisnya seperti Nafa Urbach.
"Gimana rasanya, Sayang?" tanyaku lagi.
"Aa, yang tadi itu apa yang namanya orgasme?" Eh, malah ganti bertanya adikku tersayang ini.
"Iya Sayang, gimana, enak?" jawabku sambil bertanya lagi.
"He-eh, enakk banget" jawabnya sambil tersipu.

Entah mengapa demi melihat kebahagian di wajahnya, aku kini hanya ingin memandangi wajahnya dan tidak terpikir lagi untuk melanjutkan aksiku untuk mengarungi lembah belukar yang terdapat di kemaluannya hingga sesaat kemudian karena kulihat matanya yang mulai sayu dan mengantuk akibat orgasme tadi maka aku mengajaknya untuk tidur. Kami pun terus tertidur dengan posisi saling berpelukan dan kakiku kusilangkan di antara kedua pahanya... 


Admin Mesum - 23.23
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved