;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Selasa, 02 April 2013

Vagina Rapet Tetanggaku

Selasa, 02 April 2013

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. "Ssshh... hhemm... uughh... ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu.

"Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh.... ssshh.." terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara Bu Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu tadi istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi.
"Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa", kataku hati-hati.
"Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan", jawab Bu Tadi.
"Tapi anu tho bu... anuu.. bikinnya khan jalan terus." godaku.
"Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Budi" jawab Bu Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.
"Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?" lanjutku.
"Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo", kata Bu Tadi.
"Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo", kataku menggodanya.
"Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi", katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu tadi harus aku dapatkan.
"Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa", ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
"Tapi nanti kemaleman lo Dik", jawabnya.
"Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu", aku sedikit memaksa.
"Yaa gimana yaa... ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho." Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.
"Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh", kubuat Bu Tadi penasaran.
"Emangnya kenapa siih." Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.
"Tapi janji nggak marah lho." kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
"Anu bu... tapi janji tidak marah lho yaa."
"Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali", kataku menghiba. Bu Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.
"Awaas! hati-hati!" Bu Tadi menjerit kaget.
"Aduh nyalib kok nekad amat siih", gerutuku.
"Makanya kalau nyetir jangan macam-macam", kata Bu tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, "Buu Tadi, aku Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. "Aku Budi", kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. "Lewat belakang!" kata Bu Tadi. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

"Aku nggak bisa tidur", bisikku.
"Aku juga", katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. "Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen", bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin... dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. "Aduuh, Dik Budi, Dik Budii... enaak sekali, yang cepaat.. teruus", bisik Bu Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. "Dik Budiii aku mau muncaak... muncaak, teruus... teruus", Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
"Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak", katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tadi, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, "Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?"
"Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?" jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
"Nanti ke rumah yaa!" katanya dengan tersenyum malu-malu.
"Emangnya Pak Tadi nggak ada?" kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tadi sudah padam dari tadi. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tadi. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

"Paa, sudah lama kita nggak begini", katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
"Pak Tadi sedang kemana sih maa", tanyaku.
"Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore", katanya sambil terus mendekapku.
"Maa, aku mau ngomong nih", kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
"Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam", kataku agak melucu. Bu Tadi memandangku.
"Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus", katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa", kataku.
"Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil", katanya menghiburku.
"Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa..."
"Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih", katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
"Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih", kataku menggoda.
"Iiih, dasar", katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
"Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!" katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
"Uugh jangan nekad tho. Berat nih", keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tadi dengan penisku. Bu Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
"Teruuus, teruus paa.. sshh... ssh..." bisik Bu Tadi
"Maa, aku juga sudah mau... keluaarr",
"Yang dalam paa... yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa... Paa... Adduuh Paa nikmat banget Paa..., ouuch..", jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tadi. Bu Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, "Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini." Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam.


Admin Mesum - 22.59

Petualangan di Tanah Papua


Dari sekian banyak negara yang membutuhkan bahan hasil alam mentah didunia ini terutama di di Asia maka tiga negara yang sangat prominen : China sebagai The New Rising Power , Korea Selatan dengan industrinya yang semakin lama semakin canggih dan sanggup menandingi negara Barat paling modern , dan tentunya Jepang yang sama sekali tak mempunyai bahan mentah apapun di negaranya namun telah menjadi kekuatan ekonomi luar biasa dan dapat bersaingan dengan USA maupun negara-negara industri klassik Eropah seperti Jerman, Perancis dll. Terutama setelah Jepang terkena bencana gempa bumi dan selanjutnya Tsunami dahsyat sehingga reaktor nuklir Fukushima mengalami "melting down" dan terpaksa dihentikan sama sekali aktivitasnya, maka diperlukan sekali bahan bakar alternatif lain. Selain itu dengan semakin pesatnya segala macam sarana komunikasi modern baik dalam bidang elektronika , komputer , smartphones, smart pads serta play stations maka diperlukan pula pelbagai logam mulia dan stengah mulia yang langka. Tak dapat diabaikan pula didalam dunia glitter and glamour serta mode yang aneh aneh diperlukan juga emas berlian yang kebanyakan berada di daerah terpencil belum terjamah. Di pelbagai negara berkembang dimana banyak terdapat sumber alam masih sering terjadi peperangan karena selain memang penduduk asli disitu sudah ribuan tahun selalu gontok²an antara suku satu dengan suku lain hanya karena soal sepele saja. Disamping itu kekuatan negara kapitalis juga ikut memainkan peranan karena menginginkan hasil bumi mereka dan berusaha kerja sama dengan regime yang korup dipelbagai negara itu. Hal yang sama terjadi di daerah Amerika Selatan (Amazona) dibenua Afrika dan tentunya tak dapat dilupakan pengambilan hasil bumi , hutan dan laut misalnya dari negara Indonesia oleh kekuatan asing yang tentunya hanya dapat berhasil karena penguasa setempat dengan mudah dapat disogok dan diberikan uang semir. Yang menjadi korban selalu adalah rakyat jelata yang tak berdaya melihat penjarahan bumi milik mereka oleh penguasa korup bangsa sendiri yang dengan senyum lebar munafik di koran menjual hasil alam kepada bangsa asing. Kisah dibawah ini mempunyai latar belakang yang benar terjadi Papua New Guinea sekaligus dicampur dengan dengan inti dari sebuah film tua dengan lokasinya juga di Pulau New Guinea. Setelah membaca bagian pertama dari kisah ini mungkin sekali masih belum nyata dan terfahami apa sangkut paut para pelaku cerita dan hasil bumi alam Papua New Guinea - di bagian kedua barulah akan jelas hubungan latar belakangnya.

 ############################### PAPUA NEW GUINEA

 Pesawat terbang Pakistan Airlines yang datang dari Singapore telah mendarat di salah satu lapangan udara di negara Papua New Guinea dan para penumpangnya hampir semua telah turun. Sebelum crew sebagaimana biasanya turun terakhir maka muncullah sepasang wanita dan pria bergandengan tangan : sang wanita terlihat sangat cantik dengan wajah oriental. Sang pria terlihat agak indo cukup ganteng namun sedikit angkuh dan pandangan agak sinis disertai dengan kulit berwarna sawo matang gelap. Keduanya terlihat bergegas menuju douane dan setelah mereka diperbolehkan lewat, maka mereka pun bergegas menuju tempat pengambilan koper. Setelah itu mereka menanyakan kepada petugas yang berdiri disitu dan ditunjukkan kearah koridor dengan tulisan imigrasi untuk urusan diplomasi dan orang asing dengan status yang khusus. Mereka memasuki ruangan kantor yang cukup besar dan dipersilahkan duduk oleh pejabat disitu. Sang pejabat yang berpakaian seragam resmi militer dengan tingkat mayor itu meminta mereka menunjukkan paspor mereka dan lembar demi lembar kedua paspor tamu itu dibuka, diteliti oleh sang pejabat, sambil setiap kali melirik memperhatikan kedua tamu asing itu bergantian, namun terlebih sering lirikannya mengarah ke tamu wanita. Dalam paspor sang pria tercantum nama Aslan Badilla berusia 37 tahun , kelahiran Tasmania , WN Australia , tempat tinggal Kuala Lumpur , pekerjaan insinyur. Ketika sang pejabat yang terlihat dari papan kecil label di dadanya bernama Riga Hutumali itu menanyakan lebih lanjut bagian apa maka dijawab Aslan "pertambangan". Mayor Hutumali membalik balik halaman paspor Aslan dan dilihatnya sebagian besar telah penuh dengan stempel visum pelbagai negara , kebanyakan di benua Afrika , ada beberapa dari Amerika Selatan. Ketika ditanyakan oleh Hutumali apa maksud kedatangan Aslan kenegara Papua New Guinea maka langsung diselah oleh si wanita : "Pak Aslan akan mendampingi saya mencari suami saya yang sedang ekpedisi mencari sumber minyak didekat danau Kutabu, namun sejak tiga bulan tak ada beritanya lagi , juga dari semua anggauta team ekpedisi". Sebelum Mayor Hutumali sempat menanyakan lebih lanjut maka Aslan meneruskan informasi : "Sekaligus saya juga akan menyelidiki didaerah yang sama apakah juga ada hasil bumi alam lainnya". "Apa misalnya dan atas perintah atau order dari perusahaan apa ?", tanya Hutumali dengan lirikan curiga. Aslan mengeluarkan selembar kertas dari handbagnya dan ternyata dokumen itu adalah surat izin resmi explorasi yang di keluarkan oleh instansi pemerintah di Port Moresby. Hutumali kini mengalihkan pandangannya ke sang wanita sambil membuka halaman paspor dimana tertera nama: Ashanty Lee, usia 25 tahun , lahir di Singapura , WN Malaysia , domisili di Kuala Lumpur , pekerjaan Marketing Manager. Si petugas Hutumali membandingkan beberapa kali foto di paspor dengan individu wanita di hadapannya itu, di coba di nilainya yang mana lebih cantik apakah foto berwarna dipaspor atau orangnya sendiri. Hutumali tidak mencoba mencari jawaban lebih lanjut karena pasti akan sia sia saja, sebaliknya dimulainya saja pertanyaan yang timbul di benaknya : "Anda mengatakan ingin mencari suami anda yang hilang tak ada berita - siapakah nama suami anda itu ?" "Professor Azkenazy", jawab Ashanty , dan dilanjutkannya "Beritanya pasti telah tersebar di media disini". "Hmmm, ya memang benar , sejak tiga minggu selalu banyak berita dan spekulasi hilangnya seorang Profesor di tengah rimba", ujar Hutumali , "Namun dengan cara apa anda atau kalian ingin mencarinya, sedangkan tenaga ahli dari daerah sini sampai sekarang tak dapat menemukan suami anda itu". "Kontak yang terakhir saya terima hampir empat minggu lalu , dan suami saya mengatakan lewat tilpon telah menyeberangi sungai yang bermuara ke danau besar sekali , dari tepi mana ia melihat sebuah gunung tinggi dengan puncak aneh seperti bentuk sirip ikan hiu. Dikatakannya lebih lanjut bahwa esok harinya team ekspedisi akan mencoba untuk mendekati kaki gunung karena diduga keras bahwa disitu terletak banyak sumber alam yang mereka cari", lanjut Ashanty, "namun setelah itu tak ada ada lagi berita yang saya terima". "Berita sama juga telah saya terima sebagai teman kerja dan mengenal Professor Askenazy sejak cukup lama", demikian Aslan melanjutkan, "oleh karena itu saya langsung kontak dengan ibu Ashanty, dan kami memutuskan untuk mencari beliau bersama, dan demikianlah kini berada disini untuk memulai usaha pencarian". Hutumali terlihat agak berubah wajahnya mendengar kalimat terakhir ini , diubahnya posisi tubuhnya dengan agak gelisah , sambil ditutupnya paspor si wanita. "Betulkah apa yang anda katakan terakhir itu ?" tanya Hutumali dengan wajah berubah menjadi serius bahkan agak tegang. "Saya sama sekali tak dusta, silahkan tanyakan Aslan karena ia saat itu juga kebetulan berada diruangan bersama saya. Namun apakah alasannya bapak meragukan keterangan saya ?" , balas Ashanty bertanya agak jengkel. Hutumali menarik nafas afak penjang sebelum menjawab : "Persoalannya begini, daerah sekitar sungai dan danau yang suami anda sebutkan itu sudah sekian lama tak pernah ditemukan oleh penduduk asli sekalipun. Biasanya selalu tertutup kabut yang sangat padat gelap sehingga sinar matahari hampir tak pernah menembusnya. Apalagi sampai dapat terlihat puncak gunung yang berbentuk sirip ikan hiu - itu oleh penduduk sinipun telah dianggap sebagai legenda saja. Selain itu......". "Selain itu apa lagi yang bapak ketahui mengenai daerah , danau dan gunung itu ?" kini Aslan yang berganti menanyakan dengan wajah penuh ingin tahu. "Selain itu menurut kepercayaan penduduk sini , daerah itu memang kaya akan sumber alam namun sangat angker ditakuti , tak pernah ada yang masuk kedaerah itu , apalagi sampai ke gunung yang sangat ditakuti , dan dapat kembali lagi dengan masih hidup - semuanya hilang begitu saja tanpa bekas", lanjut Hutumali. "Ada pula yang mengatakan bahwa daerah kaya raya itu dijaga oleh suku bangsa sangat buas primitif yang masih kanibal". "Ah, masakan di zaman modern saat ini masih ada suku bangsa kanibal yang makan daging manusia , itu pasti hanya khayalan dan fantasi dalam film Holywood saja", sanggah Ashanty yang disetujui oleh Aslan dengan mengangguk kepalanya. "Itu terserah kalian mau percaya atau tidak, hanya saja saya khawatir bahwa jika kalian membutuhkan bantuan tenaga penduduk sini maka mungkin hanya sedikit sekali yang akan bersedia membantu, mungkin tak ada sama sekali" , sambung Hutumali sambil menyerahkan kedua paspor yang telah diberikan stempel olehnya. "Kami telah memperhitungkan persoalan itu sebelumnya - karena saya pernah dua kali tracking kanu didaerah dekat sini, dan karena itu saya mengenal beberapa guide amatir yang saya hubungi sebulan lalu. Memang benar tak banyak yang bersedia membantu , hanya tiga orang saja - namun itu cukuplah untuk membawa dan memanggul barang barang kami yang juga tak terlalu banyak", demikian jawab Aslan. "Hendaknya kalian ketahui bahwa jika kalian bertekad meneruskan rencana yang sangat berbahaya itu maka silahkanlah , namun semuanya atas tanggung jawab dan risiko sendiri. Kami akan sulit sekali atau bahkan tak dapat menolong lagi jika kalian tersesat dan berada didaerah yang telah saya sebutkan tadi", Hutumali bangun dan mengakhiri percakapan itu, sambil sekali lagi melirik tubuh Ashanty yang langsing sexy semampai. ############################### Sepuluh hari kemudian Hari telah memasuki senja ketika lima orang - empat laki laki dan seorang wanita - akhirnya menemukan sebuah tempat yang mereka anggap cocok untuk bermalam. Tempat itu dekat anak sungai dengan air jernih mengalir , agak terlindung batu batu besar serta beberapa pohon beringin yang pasti telah ratusan tahun umurnya. Ke empat laki laki : Aslan serta tiga penduduk asli Papua disitu yaitu Gbagbo berusia sekitar empatpuluh lima, Ntsubo sekitar tigapuluhan dan yang termuda Utuzo baru memasuki usia duapuluh satu. Memang benar apa yang dikatakan Hutumali bahwa sukar sekali untuk menemukan penduduk asli yang bersedia membantu perjalanan mereka sebagai penunjuk jalan serta sebagai kuli pikul barang bawaan mereka. Setelah mengeluarkan uang cukup banyak untuk ukuran di desa pedalaman Papua akhirnya Aslan dan Ashanty menemukan ketiga lelaki yang menurut pengakuan mereka mengetahui arah ke danau dan gunung dimaksud. Mereka telah berjalan menembus hutan rimba sedemikian lebat dan rimbun sehingga hampir setiap jejak harus di buka dan di kuakkan dengan golok parang mereka yang sangat panjang dan tajam disebut machete. Machete adalah parang yang memang dimiliki setiap penduduk disitu , sangat kuat dan tajam sehingga dengan mudah dapat menebas memotong batang cabang kayu, tak perlu ditanyakan lagi machete juga merupakan senjata ampuh untuk berburu dan menebas leher binatang buas. Disamping itu ketiga penduduk asli itu sebagaimana umumnya di daerah situ sangat ahli memanah dengan ujung yang beracun , lalu pisau belati yang mereka bawa juga khusus untuk "survival" di rimba : berbentuk stiletto atau ada yang berbentuk lemmet dengan gerigi tajam dibagian atas. Aslan membawa alat senjata serupa : pisau belati stiletto , machete dan senapan windchester laras dua (dubbel-loops), sedangkan Ashanty membawa stiletto dan pistol kaliber 38. Semua senjata yang mereka bawa itu telah menunjukkan kegunaannya : selama hari hari terakhir ketika mereka semakin memasuki ke lebatan hutan rimba itu mereka telah beberapa kali mengalami serangan dari binatang liar dan buas termasuk yang terakhir babi celeng, beruang dan ular sanca (python) yang cukup panjang. Tak perlu disebutkan seringnya mereka harus membunuh kelabang, kalajengking, lintah darat dan labah labah berbisa. Ke-empat laki laki itu menurunkan berang barang yang dibawa punggung mereka , mereka kemudian dengan sangat cekatan membangun tiga buah tenda : sebuah yang besar cukup untuk ke tiga guide , sebuah untuk Aslan dan sebuah lagi untuk Ashanty. Setelah ketiga tenda itu selesai dipasang , maka mereka mulai menghidupkan api dan mulai menyiapkan hidangan yang akan mereka santap malam itu : daging kelinci hutan disertai dengan ubi liar yang memang tumbuh subur di rimba belantara itu. Ashanty yang di hari hari pertama masih ragu dan agak canggung menikmati makanan seadanya itu , kini telah terbiasa dan dapat memakannya dengan lahap. Setelah makanan itu siap dan matang diolah oleh ke empat pria itu , mereka makan bersama dengan lahap karena semuanya telah sangat lapar. Setelah itu sebelum merebahkan diri, beristirahat dan tidur Ashanty berniat membersihkan tubuhnya yang telah basah dengan keringat setelah berjalan seharian dengan mandi di anak sungai. Dicarinya dan disusurinya anak sungai yang mengalir deras dengan air jernih itu, kemudian dicarinya pula bagian yang cukup terlindung semak semak sehingga dirasakannya cukup aman dan nyaman tak terlihat oleh orang lain. Setelah ditemukannya tempat itu Ashanty mulai melepaskan baju dan celana panjangnya yang berwarna coklat kehijauan khusus dan cocok untuk camouflage di hutan. Setelah itu Ashanty sekali lagi menoleh ke kiri kanan dengan seksama untuk memastikan bahwa tak ada mata lancang yang mengintipnya sebelum ia perlahan lahan membuka bh-nya berukuran 36 C , kemudian melorotkan cd-nya sehingga jatuh ke bawah. Hati hati Ashanty melangkah kearah tepi sungai yang tak terjal, disentuhnya air jernih yang mengalir dengan jari jari kakinya untuk merasakan apakah terlalu dingin. Ternyata air jernih mengalir lumayan deras itu tak terlalu dingin malahan terasa nyaman menyegarkan kepenatan tubuh Ashanty yang telah lelah dipakai seharian menembus rimba belukar. Ashanty merendamkan tubuhnya sehingga menutupi perutnya yang datar dan terhias pusar menggiurkan - kini hanya buah dadanya yang masih terlihat, dan Ashanty mulai menggosok dan menyabuni wajahnya , leher nan jenjang , pundak , ketiak yang mulus tanpa bulu selembarpun dan akhirnya juga kedua payu daranya. Ashanty memejamkan matanya dan menikmati derasnya aliran air sejuk menyentuh kedua buah dadanya, kedua terutama putingnya yang amat peka mulai terasa membesar menegang dan semakin membengkak. Dibayangkannya iusapan dan belaian mesra suaminya yang telah berminggu² tak dirasakannya. Tentu saja Ashanty menyadari bahwa Aslan telah berulang kali entah tak sengaja maupun secara disengaja berusaha untuk menyentuh gunung kebanggaan kewanitaan yang menghias dadanya itu. Bahkan ketika berjam-jam duduk di pesawat Aslan menyenggol beberapa kali buah dadanya dengan sikunya, dan ketika kembali dari toilet Aslan agaknya pura-pura terpeleset sehingga sempat menyentuh lutut dan pahanya. Semuanya itu tak dipeduli oleh Ashanty yang selalu seolah tak menyadarinya , namun yang lebih merisaukannya adalah pandangan mata ke tiga guide mereka penduduk asli disitu - mereka seolah ingin menelanjanginya dengan mata mereka atau ...... Ashanty agak merinding membayangkan pandangan mata mereka - namun apa yang tak disadarinya pada saat ini adalah ketiga pasang mata itu yang tersembunyi di balik semak lebat mengikuti segala gerak geriknya : mulai dari saat Ashanty masih berpakaian lengkap sampai kini telah bugil bagaikan Hawa ketika berada di Firdaus. Ashanty yang masih menikmati sejuknya air sungai dan tak menyadari bahwa beberapa pasang mata yang mengintipnya sejak tadi kini semakin bertambah , karena dari sudut semak lain lebih rapat dengan belukar ada dua pasang mata lain yang juga menikmati pemandangan indah itu. Kalau tiga pasang mata pertama yang mengintip berasal dari guide tukang panggul barang yang sepanjang beberapa hari selalu menelan liur karena menyaksikan goyangan pantat gemulai Ashanty dari belakang , maka dua pasang mata lain yang baru ikut nimbrung belakangan itu berasal dari wajah wajah tersembunyi dibalik topeng topeng sangat menakutkan. Kalau ketiga pasang mata dari kuli panggul dan guide sewaan Aslan "hanya" memantulkan hawa nafsu birahi lelaki terhadap wanita cantik, maka dua pasang mata tersembunyi dibalik topeng menyeramkan itu selain mengandung nafsu syahwat juga mengandung naluriah hewani yang lebih mengerikan : ibarat hewan predator yang ingin melumat daging mentah korban yang menjadi sebentar lagi akan menjadi mangsa untuk di cabik cabiknya serta dijadikan santapan tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Ashanty yang tidak menyadari bahaya apa yang mengancam dari semak belukar itu telah merasa badannya lumayan segar setelah mandi di air jernih. Namun kini dirasakan matanya berat dan ngantuk sekali sehingga ingin langsung menyelusup kedalam tendanya untuk segera tidur. Setelah dipakainya cd kecil berbentuk string bersih disposable dan baju tidur yang hanya menutup sampai atas lututnya ia langsung menuju ke tendanya, diletakkannya pistolnya disamping sleep sack matrasnya dan sesudah itu Ashanty merebahkan diri. Sebagaimana kebiasaannya Ashanty selalu tidur tak pernah memakai bh karena dirasakannya lebih leluasa jika tak ada yang mengekang dan menekan bukit dagingnya, terutama putingnya yang memang sangat sensitif. Lampu petromax yang menerangi tendanya kemudian dikecilkan oleh Ashanty sehingga hanya sinar amat redup terlihat dari luar tenda. Ashanty tidak menyadari bahwa daging kelinci bakar ketika sedang dipanggang telah diberikan bubuk obat perangsang oleh Aslan. Selama ini Ashanty selalu berhasil menolak keinginan Aslan sejak masih berada di Singapore karena meskipun sebagai wanita muda yang mempunyai gairah birahi cukup tinggi serta cukup lama "jablai" , namun ia masih berusama untuk setia terhadap suaminya yang jauh lebih tua. Obat perangsang itu dibeli oleh Aslan dari Utuzo yang kebetulan belum lama baru menikah - dan memang sering dipakai oleh penduduk asli Papua dimalam perkawinan mereka, terutama untuk membangunkan gairah si pengantin perempuan. Di dalam dunia yang masih setengah liar itu sang pria biasanya tak mau menunggu lama untuk menggagahi istrinya yang umumnya masih muda dan takut untuk memasuki malam pengantin. Oleh karena itu pada umumnya para wanita tua didesa yang merias sang pengantin wanita membujuk si calon pengantin sambil memberikannya minuman buah buahan segar disertai dengan obat perangsang sebelum upacara adat dimulai. Meskipun telah diberikan obat perangsang itu namun sang pengantin perempuan akan menjerit jerit minta ampun dan minta tolong disaat diperawani, namun diluar kamar pengantin selalu berkumpul dan dikelilingi puluhan pemain gendang. Disamping itu para perempuan tua juga berkumpul dan menambah berisiknya dentuman gendang monoton dengan lolongan dari pita suara ditenggorokan getaran lidah terlatih saling menyambung ibarat srigala di saat bulan purnama. Dengan demikian jeritan minta tolong dan minta ampun sang pengantin wanita sempurna akan diatasi dan "teredam" oleh gendang gendang dan teriakan puluhan perempuan tua. Kini tak ada gendang dan tak ada perempuan tua diluar tenda Ashanty namun yang sama adalah obat yang mulai dirasakannya. Di luar tendanya Aslan masih menunggu dengan tak sabar effek dari obat ramuan primitif namun selalu ampuh itu. Beberapa kali Aslan telah ingin memasuki tenda Ashanty namun masih dicegah oleh Utuzo yang tentunya tahu dengan pasti kapan obat perangsang itu akan mencapai titik puncaknya. Ketika diluar telah gelap gulita dan hanya terdengar suara serangga malam sahut menyahut disertai kepakan sayap kelelawar dan burung hantu, maka Ashanty mulai jatuh tidur meskipun dirasakan badannya lebih panas daripada malam malam sebelumnya. Rasa panas membuatnya bergulak gulik kekiri kekanan karena semakin lama rasa panas itu semakin terpusat dibagian badan tertentu : di leher samping telinga, di darah puting buah dada , turun ke pusar dan akhirnya memasuki daerah selangkangan antara kedua pahanya. Disaat rasa panas itu mulai disertai rasa gatal dan tanpa terasa tangannya satu meremas remas kedua puting payu dara dan tangan satunya lagi meraba celah kewanitaannya yang mulai lembab dan bercair, tiba tiba dilihatnya wajah suaminya barada didepan mukanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata suaminya mulai menciumnya dengan mesra dan hal ini tentu saja segera mendapat sambutan dari Ashanty yang memang telah lama merindukan tubuh suaminya. Kedua insan itu bergelut melepaskan rasa rindu tak tertahan dan Ashanty merasakan tangan suaminya dengan kasar meremas remas gundukan daging di dadanya dan bahkan mulai menggigit putingnya dengan keras. Hal ini mengejutkan Ashanty karena suaminya sangat mencintainya dan disaat bercinta selalu lemah lembut tak pernah mengasarinya apalagi sampai menyakitinya. Ashanty berusaha melepaskan diri dari dekapan badan yang menindihnya namun kali ini dirasakannya sangat sukar, Ashanty ingin mengeluarkan suara protes tapi tidak keluar. Akhirnya Ashanty tak tahan lagi dan berusaha berteriak sambil menggulingkan badannya kekiri kekanan sehingga akhirnya terbangun dengan pelupuk mata yang berat dan sukar untuk dibuka. Meskipun demikian dan juga di tenda itu hanya diterangi dengan sinar lampu petromax minimal Ashanty melihat dengan kaget bahwa yang menindihinya bukanlah suaminya melainkan rekan kerja suaminya yang mendampingi perjalanannya selama ini : Aslan !. "Apa apaan ini, Aslan hentikan , ayo hentikan , kurang ajar kamu , sebelum berangkat kamu kan telah berjanji takkan melakukan sesuatu yang melanggar persahabatan , terutama dengan suamiku, ayo hetikan , hentikan , sialan Aslan , aku tak mau , hentikan , atau aku akan menjerit sehingga para guide akan bangun menolong aku", demikian Ashanty mencoba menyadarkan Aslan sambil berontak sekuat tenaga. Namun Aslan mana mau melepaskan mangsa yang telah berada dalam cengkramannya. Telah cukup lama Aslan menantikan saat ini, sejak dari Singapore selalu dicarinya kesempatan , dan kini di tengah hutan belukar takkan ada yang menolong Ashanty. Ketika orang sewaannya telah diberikannya uang untuk tutup mulut dan bahkan di mintanya untuk menjauhkan diri dari dari tenda mereka sehingga takkan mengganggu hasrat terpendamnya. Gbagbo , Ntsubo dan Utuzo memang sejak makan bersama tadi telah menjauhkan diri dari tenda mereka dan dengan kepandaian mereka bersembunyi di tengah hutan rimba berhasil menikmati pemandangan gratis Ashanty ketika sedang mandi. Namun selain memuaskan diri dan bermasturbasi ketika melihat betapa putih mulus tubuh Ashanty yang mandi, mereka ada rencana lain yang jika diketahui oleh Ashanty dan Aslan sejak semula maka mereka pasti akan membatalkan niat perantauan mereka. Mereka pada saat ini berada tak berapa jauh dari tenda Ashanty , cukup jauh untuk tak mungkin terlihat oleh Aslan maupun Ashanty namun masih cukup dekat bagi telinga telinga mereka yang memang terbiasa hidup di alam liar dan hutan belukar untuk mendengarkan jeritan jeritan Ashanty yang sedang berusaha membela dan mempertahankan kehormatannya sebagai istri setia. Ashanty berhasil satu kali menendang perut Aslan sehingga kesakitan dan mundur sejenak dan kesempatan ini dipakai Ashanty untuk berusaha bangun untuk melarikan diri kearah luar tenda. Namun ketika berdiri Ashanty merasakan pusing dan tak dapat berdiri tegak seperti biasanya , sehingga Aslan berhasil mencekal pergelangan kakinya dan menarik dengan kuat. Hal ini menyebabkan Ashanty kembali jatuh terjerembab terlentang dengan baju tidurnya tersingkap penuh memperlihatkan kedua paha mulusnya bahkan selangkangannya yang hanya di tutup oleh celana dalam string. Aslan kembali menindihinya dan kini menekan kedua paha Ashanty dengan pahanya sendiri dan ditekannya kesamping, sehingga Ashanty menjerit karena merasa ngilu persendian pahanya dipaksa mengangkang secara maksimal. Ashanty berusaha mencakar muka Aslan namun dengan sigap Aslan menangkap kedua pergelangan tangan Ashanty, dicekalnya sekuat tenaga diatas kepala Ashanty sehingga tidak berkutik lagi. Dengan tangan satunya Aslan memegang leher baju tidur Ashanty dan ditariknya sekuat tenaga sehingga sobek sama sekali - terbukalah kini kedua payu dara Ashanty. Buah dada yang menantang itu cukupan lumayan untuk ukuran wanita Asia, tidak besar sehingga ngondoy kebawah melainkan putih sekal dan montok dengan puting mencuat berwarna merah tua kearah sedikit coklat muda. Gunung kenyal itu kini menjadi sasaran tangan Aslan yang kasar : diremas remas dan di tarik dipilin serta dicubitnya puting yang menggiurkan itu dengan akibat Ashanty semakin merasa kegelian serta ngilu sehingga tubuh putihnya semakin meliuk liuk dan bergoyang kesana sini. "He he he, hhhmmmmh , mulai kerasa enak ya, ngaku deh jangan malu malu Shany, kan kamu udah bermingu minggu jablay , nikmati aja deh jadi engga usah dipaksa disakiti , toh ennga ada yang akan menolong", seringai dan celoteh Aslan melihat mangsanya kini semakin tak berdaya dibawah tindihan badannya yang cukup kekar. Ashanty memandang muka Aslan yang tersenyum mesum dengan penuh kesebalan dan tanpa terduga diludahinya muka yang telah hampir seminggu tak cukur itu sehingga terlihat kumis dan jenggot mulai tumbuh. Aslan yang tak menduga akan diludahi itu menjadi sengit dan ditamparnya wajah ayu cantik itu dengan sadis sehingga Ashanty melihat jutaan bintang berkunang kunang dihadapan matanya dan dirasakannya pusing sekali. Kesempatan ini tak disia siakan oleh Aslan yang langsung melepaskan seluruh pakaiannya sehingga kini bugil di hadapan Ashanty. Tak hanya sampai disini Aslan memakai kepusingan dan lemahnya posisi Ashanty untuk menarik celana dalam string warna biru muda itu lepas dari kedua kakinya yang meronta ronta. Kedua insan yang bukan suami istri itu kini telah telanjang bulat dan Aslan kini menduduki perut Ashanty yang datar, kedua nadi Ashanty kembali dicekalnya dengan satu tangan diatas kepala, dan dengan tangan satunya diarahkannya alat kemaluannya yang mulai tegang dan mengangguk angguk kearah mulut Ashanty yang tertutup rapat. Ashanty tentu saja mengerti apa kehendak mesum Aslan namun ia tak mau menyerah begitu saja : selain kedua bibirnya dikatup rapat juga digeleng kepalanya kekiri kekanan sehingga Aslan sukar mengarahkan kemaluannya ke mulut korbannya. Oleh karena itu Aslan mengubah lagi taktiknya : ia menggeser tempat duduknya dari tengah perut Ashanty keatas dan dengan kedua lutut ditekannya lengan atas Ashanty disebelah kiri kanan kepalanya yang masih menoleh kekanan kiri. Kini Ashanty tak dapat melawan dengan kedua lengannya dan Aslan juga tak perlu memegang pergelangan tangan mangsanya di atas kepala. Dengan tangan kirinya Aslan lalu menjambak rambut Ashanty sekuatnya sehingga ia tak dapat menggeleng kekanan maupun kekiri sedangkan tangan kanannya menjepit mencubit dan memelintir puting buah dada kanan Ashanty sehingga korbannya ini menjerit kesakitan dan tak sadar membuka mulutnya. Saat ini langsung digunakan oleh Aslan memajukan penisnya memasuki rongga basah hangat dan didorongnya makin dalam akhirnya menyentuh langit-langit rahangnya. Ashanty tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padanya karena sejak ia menikah dengan suaminya yang jauh lebih tua itu semua yang dialaminya di ranjang maupun di tempat lain dirumah mereka maupun di hotel disaat liburan adalah making love sangat romantis dan penuh kemesraan yang halus. Tak pernah Ashanty dibentak , dipaksa apalagi disakiti terutama ketika sedang becinta - berbeda dengan saat ini. Ashanty tak mengalami kemesraan cinta melainkan belahan gelap dari dunia sex , belahan yang tersembunyi baginya selama ini , belahan dunia sex yang penuh kekasaran dimana sang partner lelaki yang dominant dan lebih kuat mendesak kehendaknya secara paksa. Tak pernah suaminya memaksakan pernisnya kedalam mulutnya secara langsung melainkan sang suami selalu mulai dengan mengoral selangkangannya , menciumi bagian dalam pahanya , menjilati amat mesra bukit Venusnya yang tertutup bulu halus amat terawat. Dengan cara merangsang yang halus ini justru Ashanty yang tak tahan dan selalu orgasmus terlebih dahulu paling sedikit sekali. Setelah itu barulah sang suami dengan perlahan lahan menggeser dan mengubah posisi badan mereka berlawanan arah sehingga menjadi posisi yang disebut angka enam sembilan. Kemudian ketika suaminya kembali merangsang celah kewanitaannya yang telah basah maka Ashanty sendiri menjadi geregetan dan meraih penis suaminya. Ketika suaminya dengan nakal menjilati klitorisnya dan bagian dalam dinding vaginanya yang telah basah maka tanpa paksaan sedikitpun Ashanty "membalas" rangsangan suaminya dengan mengoral penisnya yang telah ereksi. Jadi Ashanty sebagai wanita dewasa yang sensual tentu saja mengenal dan sering melakukan dan merasakan nikmatnya rangsangan oral , namun semuanya dilakukan sukarela , saling penuh pengertian dan berakhir dengan kepuasan bersama. Namun yang kini sedang dialaminya adalah sangat bertolak belakang : Ashanty tak rela diperlakukan melakukan perangsangan oral, penuh kejijikan dan kemualan mulutnya yang sempit dipaksa membuka semaksimal mungkin dan dijejali penis yang lebih besar dari suaminya dan berbau keringat laki laki yang belum sempat dibersihkan oleh Aslan karena nafsunya yang terpendam selama beberapa hari sudah betul betul naik ke ubun ubunnya. Ashanty merasakan mulutnya sangat pegal karena dipaksa membuka selebarnya dan beberapa kali ia tersedak karena Aslan tak memberi kesempatan beradaptasi namun secara kasar menjejali penisnya sehingga menyentuh langit langit belakang tenggorokannya. "Hmmmmh , iyaaa , pinteeer bangeeet kamu Shany, oooooh mulut kamu begitu haluuuus, mana hangaaat lagi, ayoooh mana lidahnya, teruuuus sepoooong nyang beneer, aaaaah sebentar lagi mau keluaaaar nih, teruuuus", demikian Aslan semakin bersemangat menarik mendorong penisnya kedalam rongga mulut Ashanty.

Ashanty belum pernah merasa dirinya direndahkan seumur hidupnya seperti saat ini, belum pernah dirasakannya penyesalan seperti saat ini ketika mengingat bahwa ia sendiri yang menghubungi Aslan untuk mendampinginya mencari suaminya yang hilang tak ada berita. Sebuah keputusan yang salah namun sebagaimana banyak hal dalam kehidupan seseorang maka penyesalan biasanya datang terlambat dan kini Ashanty sendiri sedang alami akibatnya. Untunglah Ashanty tak mempunyai kemampuan meramalkan nasibnya sendiri dimasa depan karena pelecehan yang sedang dialaminya saat ini sama sekali tak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang masih akan dialaminya beberapa hari kemudian.Pengaruh obat perangsang yang dicampurkan kedalam makanannya juga makin mempengaruhi tubuhnya : Ashanty merasakan tubuhnya seolah tak mau menuruti akal sehatnya dan rasa hangat , geli , gatal dan hangat makin merajalela di bagian bagian intimnya yang tersembunyi. Bagaikan bayi yang membutuhkan susu sang ibu kini Ashanty mulai menyedot dan menghisap kemaluan yang menyesakkan mulutnya. Ujung lidahnya mulai menyapu dan menggelitik belahan di ujung penis pemerkosanya menyebabkan Aslan semakin merasa keenakan dan tanpa dikehendaki belahan itu ikut melebar seolah menyiapkan jalan keluar sperma yang semakin bergolak di biji pelir Aslan. Kepala penis yang kini tak mau terpisah lagi dengan langit langit rahang Ashanty terasa semakin lama semakin membesar, semakin peka dan membengkak sehingga rongga mulut Ashanty penuh sesak dan lubang hidung Ashanty semakin berkembang kempis bergulat mencari oksigen.

Dengan disertai erangan bagaikan orang sedang sekarat menjemput maut Aslan tak dapat menahan lagi luapan lahar panasnya dan semprotan demi semprotan menyembur keluar memenuhi tenggorokan dan kerongkongan Ashanty. Tiada jalan keluar lain bagi wanita cantik jelita yang sedang diperkosa itu selain menelan cairan kental berbau sedikit hanyir khas lelaki - cairan kental yang meluya luya seiringan dengan denyutan penis berkontraksi. Sambil meneguk larutan kefir alamiah itu Ashanty merasakan selangkangannya makin basah dan panas sehingga tanpa disadari dibuka dikatupnya paha yang mulus halus itu lalu secara ritmis ditekuk dan diluruskannya seolah olah ingin menggesek dan menggaruk kegatalan yang semakin merajalela mengganggu lembah kewanitaannya.

Aslan yang telah melepaskan tetes terakhir spermanya kemudian menarik penisnya yang sementara menurun ereksinya dari kuluman bibir Ashanty. Digesernya tubuhnya turun kebawah sambil tak hentinya menciumi belah dada Ashanty , pusarnya yang cekung , perutnya yang datar , turun turun turun terus mendekati selangkangan.

Ashanty yang agaknya makin lama semakin tak memperdulikan lagi keadaannya yang telanjang bulat dan masih merasakan sisa sisa rasa sepat hanyir dan asin di kerongkongannya hanya protes dengan setengah hati pada saat Aslan semakin merosot kebawah dan mulutnya kini menyentuh bukit Venusnya. Lidah kasap hangat Aslan menyapu nyapu membasahi kulit perut Ashanty yang putih mulus itu sementara kedua tangan Aslan meremas dan memijit memilin puting yang mencuat seolah ingin memerah susu alamiah keluar dari puting itu untuk dapat di teguk sepuasnya. Namun susu yang diharapkan tak kunjung keluar meskipun kedua puting itu terasa semakin tegang mengeras , yang keluar adalah lenguhan dan desahan nafas Ashanty yang semakin memburu seolah dikejar sesuatu yang menakutkan.

Aslan telah memposisikan badannya di tengah selangkangan Ashanty yang semula berusaha menutup kedua paha mulusnya , kedua tangannya kini berganti ganti antara meremas memilin buah dada kenyal dan juga bongkahan pantat Ashanty yang bahenol. Ciuman Aslan semakin gencar menyerang gua kewanitaan Ashanty yang lembab basah oleh cairan kelenjar dinding vaginanya. Sementara itu Ashanty telah sepenuhnya berada dibawah pengaruh obat perangsang sehingga mulai pasrah dan menyerah terhadap lecehan seksual yang sedang dialaminya. Sisa sisa fikiran sehatnya masih berontak terakhir kali dan menyuruhnya mengatupkan kedua pahanya namun mana semua sia sia saja : badan kekar Aslan telah sempurna ditengah belahan paha mulus itu sehingga tak dapat ditutup lagi. Rintihan dan desahan kewanitaan yang keluar dari celah bibir mungil Ashanty mengiringi gejolak birahinya ketika lidah Aslan mulai menyeruak kedalam celah vaginanya. Lidah itu mengusap dan menjilat tandas pinggir dinding goa kenikmatan Ashanty , memancing kelenjar kelenjar disitu untuk mencurahkan lendir madu harum idaman Aslan selama ini. Sebagai pria yang sudah sering ML dengan pelbagai wanita Aslan mengetahui bahwa Ashanty kini telah sepenuhnya berada dibawah kekuasaannya namun ia tak mau tergesa gesa melakukan tindakan selanjutnya. Adik kecilnya yang beberapa menit lalu menyemburkan lahar panas harus diberikan kesempatan untuk bangun dan tegak kembali melalui rangsangan visual dihadapan matanya : bukit Venus dihiasi bulu halus dengan lembah kenikmatan ditengahnya. Lembah kenikmatan dengan dinding selaput lendir berwarna merah muda agak coklat yang semakin lama semakin licin itu mulai merekah ibarat bunga diakhir musim hujan. Diujung atas lembah kini ikut merekah dan menampilkan tonjolan daging kecil ibarat biji jagung muda manis mengundang untuk dicicipi. Hal ini tentu saja tak luput dari pengamatanan Aslan dan mulutnya yang kasar segera mengecup dan menjepit klitoris itu sementara lidahnya menyapu dan mengusap usap penuh mesra. Rangsangan ini ibarat sengatan aliran listrik ditubuh seorang wanita sensual - tak terkecuali bagi Ashanty - dengusan nafasnya berubah sejenak menjadi pekik kecil yang diusahakannya ditahan dengan menggigit kepalan tangannya. Aslan melihat itu semua dan sambil tersenyum dilanjutkannya serangannya terhadap pusat kenikmatan yang semakin dirangsang akan semakin sensitif terhadap segala yang menyentuhnya dan ini langsung terbukti dengan desahan Ashanty.

"Oooooooh, udaaaah dong , jangaaaan , geliiiiiiii , mau diapain sihhh , emmmmmmh , aaaahhh , ooouuuuh , aaaah iiyyaaaa, geliiiiii , aauuuuuuww , udaaaaaah iyaaaaa" , bagaikan seorang kesurupan Ashanty menceracau. Aslan tak perduli dengan desahan dan keluhan Ashanty dan memang sebagian dari suara Ashanty itu tak dapat didengarnya karena secara ritmis Ashanty menekan merapatkan sekuatnya kedua pahanya ke kepala Aslan sehingga menutup kedua telinga Aslan sepenuhnya. Ibarat sedang terseret ke dalam lingkaran pusat angin puting beliang yang berputar putar semakin lama semakin cepat sedemikian pula dirasakan Ashanty saat itu : tubuhnya dan terutama kepalanya seolah terputar putar semakin lama semakin cepat kearah angkasa luar dan akhirnya terlempar membentur planet kecil yang buyar bertebaran menjadi jutaan bintang dihadapan matanya. Disaat itu pula pusat kenikmatan yang tersembunyi didalam daging klitorisnya seolah tersentuh aliran listrik ribuan volt dan menyebabkan tubuhnya melenting melengkung keatas , kedua pahanya menyentak menggelepar meronta ronta.

"Auuuuuuw, oooooh iyaaaaaaa , udaaaaaaah , iyaaaaaaaa, eeeeeaaaaah , aaaaaaahhh , emmmmmmmh , udaaah , stooopppp engggggga taahaaaan lagiiiiii , oooooh auuuuuuuuh ", jeritan Ashanty melengking memenuhi udara tengah malam menyebabkan seekor burung hantu diluar tenda langsung terbang menjauhkan tempat pergulatan.

Aslan puas melihat korbannya mengalami orgasme hebat sedemikian rupa namun sebelum dimulainya dengan persetubuhan masih ingin di rasakannya betapa jepitan otot otot lingkar bagian intim Ashanty yang lain. Ketika di rasakannya lidahnya seolah di-sedot di remas remas oleh dinding vagina Ashanty maka selusupinya bongkahan pantat Ashanty dan tanpa peringatan sedikitpun dimasukkannya jari tengahnya kedalam anus Ashanty. Serangan tak terduga ini menyebabkan Ashanty semakin liar karena di tengah puncak orgasmenya itu benak sehat seorang wanita kurang sanggup membedakan dimana kontraksi yang meremas menjepit benda asing di bagian intimnya : apakah otot otot vagina yang menjepit megurut urut ataukah otot lingkaran anus yang meremas remas benda asing yang tanpa permisi menjarahnya tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Aslan mengawasi penuh perhatian wajah ayu dihadapannya menggeleng kekiri kanan menyebabkan rambut sebahu yang bergelombang itu semakin kusut namun justru menambah kecantikan khas wanita sedang orgasme. Tanpa bantuan tuntunan tangan penis Aslan yang kembali telah tegang mengeras bagaikan lumpang kayu itu menemukan lembah yang akan dirantaunya, diselusuri tepi lembahyang terjal licin dan ditemukanlah celahnya. Kedua tangan Ashanty yang selama itu meremas remas dan membentuk tinju kecil membuka menutup seolah tak tahu apa yang harus dilakukan kini dirangkuh oleh jari jari tangan Aslan. Dua pasang tangan kini telah saling melibat jari dan Aslan menekannya ke lantai matras dengan penuh kekuatan sementara alat kejantanannya telah berada di tengah kawah bukit Venus. Ujung kepala penis Aslan berbentuk topi baja menutupi kepala jamur mulai merekah membelah bibir kemaluan Ashanty dan perlahan lahan menekan meretas memasuki lembah nan lembab. Sejenak Ashanty agaknya menyadari apa yang akan dialaminya dan meskipun benaknya bagai kehilangan arah ditengah kabut tebal diakibatkan obat perangsang itu namun ketika dirasakan benda asing mulai masuk membelah celah kewanitaannya maka mata Ashanty terbuka mendadak. Dilihatnya wajah Aslan menyeringai di hadapannya dan sebelum Ashanty sempat mengatakan sesuatu , mulutnya telah dibekap oleh bibir Aslan yang tebal berkumis.

Ashanty mencoba melawan dan berontak namun apa daya tubuhnya telah sempurna ditindih Aslan dalam posisi setengah tertekuk, kedua pahanya telah terkuak lebar tergantung dikiri kanan pundak Aslan dan kedua tangannya dicekal dan digenggam erat oleh jari jari Aslan.

"Aoooouuuuuwwhh, emmmmmppphh adduuuuuh jaangggaaaaan , mmmmmffphhh ", keluhan Ashanty tertahan oleh lidah Aslan yang menerjang masuk rongga mulutnya ketika dirasakan milimeter demi milimeter vaginanya di belah dimasuki oleh kemaluan Aslan. Terasa sesaknya bagian intim kewanitaannnya dimasuki oleh kejantanan Aslan namun sekaligus hal ini merupakan sedikit "keringanan" atas rangsang kegatalan yang mengganggu selama ini , oleh karena itu tanpa memperdulikan lagi rasa harga dirinya dan penolakannya diawal tadi Ashanty malahan "menyambut" kedatangan alat laki laki yang beberapa saat lalu telah dicicipinya dioralnya. Ashanty mengangkat pinggulnya seolah mengundang agar penancapan pentungan daging semakin dalam dan tak sampai begitu saja, sebagai wanita dewasa sensual secara otomatis Ashanty mengayun memutar dan menggoyang goyangkan pinggulnya. Aslan tak mau kalah dengan semakin cepat menusuk menghunjamkan rudalnya tak hanya menuju ke satu arah melainkan ke arah atas, menyamping dan secara teratur juga mengarah semakin dalam ke dalam vagina Ashanty. Ibarat batu lumpang yang secara ritmis menumbuk demikian pula penis Aslan menumbuk men"jedug-jedug" ke mulut rahim Ashanty sehingga terasa semakin ngilu dan nikmat, dan tanpa ada perintah lagi Ashanty melingkarkan kedua kakinya dipinggang Aslan , menekan punggung Aslan sekuat tenaga agar kemaluan Aslan semakin dalam memasuki liangnya yang telah penuh madu kenikmatan. Aslan tersenyum dan menyeringai melihat mangsanya kini telah melupakan segalanya , telah kehilangan rasa malu sebagai wanita terhormat , oleh karena itu dilepaskannya kedua tangan yang selama ini dirangkuh dicekalnya, dibaliknya kedua tubuh mereka yang sedang bersatu bersebadan sehingga Ashanty berada di atas. Dalam posisi ini Aslan sebenarnya lebih relax menyimpan tenaga karena Ashanty yang menjadi aktif mengatur ritme persetubuhan mereka. Ashanty semakin liar menaik turunkan dan memutar mutar pinggulnya , semakin cepat dan kehausan menggesek-gesekkan dinding vaginanya untuk mengurangi rasa kegatalan amat menyiksanya.

Dengusan keluhan , jeritan dan erangan nikmat dari pasangan yang sedang diamuk dilanda birahi itu ditambah angin agak keras diluar tenda sangat membantu mengalahkan suara endapan dan tindakan kaki beberapa lelaki berwajah seram yang setelah meninggalkan persembunyian mereka di semak belukar kini semakin mendekati tenda arena persetubuhan Aslan dan Ashanty. Mereka berkumpul dan mengelilingi tenda yang dari luar - walaupun sinar lampu petromax sangat redup didalam tenda - masih terlihat gerakan gerakan kedua insan yang sedang hanyut di arus nafsu birahi. Ashanty dan Aslan tak menyadari bahaya apa yang semakin mendekati mereka : Ashanty telah mendekati puncak kenikmatan dan akhirnya dihempaskan tubuhnya sekuat tenaga seolah ingin menancapkan tonggak daging yang sedang menusuk nusuk itu menembus rahimnya, ingin menembus seluruh perutnya dan menyebabkannya berteriak melolong merintih tiada hentinya ibarat alami serangan hysteris-kesurupan : "Oooooh , iiiiyyyaaaaaa , iyaaaaaaa , teruuuuuuuus , teruuuuuuus , oooooohh , geliiiiii , ngiluuuuuu , ooooh , iyaaaaaaa , nikmaaaaat , teruuuuuus , ooooooh", Ashanty mengalami orgamus hebat disertai ekspresi wajah ayu penuh kepuasan birahi. Aslan menyaksikan wajah yang sedemikian menggiurkan dan diremas remasnya penuh kegemasan kekenyalan dada Ashanty dan dicubitnya kedua puting menantang diantara telunjuk dan ibu jarinya. Ditengah badai orgasmus Ashanty itu tiba tiba Aslan membalikkan dan menelungkupkan tubuh mangsanya , ditelikungya kedua lengan Ashanty dibelakang punggung , direjangnya dengan satu tangan , ditariknya rambut panjang Ashanty ibarat sedang mengendalikan kuda. Didorongnya tubuh Ashanty sedemikian rupa sehingga semakin menungging menunjukkan bongkahan sempurna dengan lingkaran lubang anus di tengahnya. Aslan semakin menghunjamkan menghajar rahim Ashanty dengan rudal dagingnya dan dipaksanya Ashanty semakin menungging. Posisi "vis a tergo" ini memang sangat disenangi oleh Aslan karena dapat di-interpretasikan sebagai penyerahan mutlah seorang wanita apalagi dengan tangan ditelikung atau bahkan diikat di punggung. Hal ini juga kini dilaksanakan oleh Aslan : sambil menghunjamkan penisnya semakin kasar sekaligus ia mengikat nadi Ashanty dengan beberapa lembar tali rafiah yang terletak di lantai tenda itu. Kini kedua tangan Aslan bebas tak usah memegangi nadi Ashanty dan segera dipakainya meremas remas payudara Ashanty yang menggantung bagaikan jeruk citrus aurantium alias orange dari Italia yang ranum untuk disantap. Bergantian kedua puting yang telah demikian peka dicubit dipilin ditarik dengan sadis oleh Aslan menyebabkan Ashanty semakin menderita menjerit jerit menahan sakit. Kini Aslan hanya menggunakan tangan kanannya meremas buah dada Ashanty dengan buas sedangkan jari tengah tangan kirinya mendadak menekan dan membelai belai lubang pantat Ashanty yang masih terlindung beberapa lapis otot lingkar sangat kuat. Bagaikan tersengat oleh serangga beracun Ashanty berontak mati matian melawan pelecehan yang sama sekali tak diduganya semula. Tak pernah suaminya mengajaknya bercinta di anus, bagi Ashanty anus adalah bagian badan yang sangat tabu - jangankan di penetrasi, di jilat di cium atau diraba disentuh pun tak pernah oleh suaminya. Kini tanpa ada peringatan sedikitpun daerah tabu itu diraba dan mulai dirojok ditusuk tusuk oleh jari lelaki asing, membuat benak Ashanty yang sementara masih dibawah pengaruh obat bius perangsang mendadak sadar. Aslan yang sudah beringas dan kesetanan itu menduga keras bahwa anus Ashanty belum pernah dipakai oleg suaminya dan betapa bahagianya jika ia dapat membelah memerawani lingkaran terlebih sempit dari vagina. Karena itu Aslan makin ganas memiting dan membekuk tubuh mangsanya : tangan kanannya sekuat tenaga memeluk melingkari pinggang Ashanty yang ramping langsing sehingga korbannya sesak nafas tak mampu berkutik lagi. Jari tengah tangan kirinya kini telah masuk sampai ruas pertama menembus otot lingkar anus Ashanty dan dirasakannya penuh kepuasan bahwa otot otot lingkaran yang masih demikian kuat berkontraksi semaksimal mungkin ingin mendorong keluar benda asing yang memaksa masuk.

Aslan menarik jari tengahnya sementara lalu meludahi anus Ashanty dan tanpa peringatan dimulainya penetrasi ke lubang pantat Ashanty - bahkan kali ini dipaksa dicobanya memasukkan jari telunjuk serta jari tengahnya sekaligus. Jerita Ashanty semakin meraung meninggi memecah keheningan malam namun semuanya itu tidak menimbulkan rasa kasihan pada Aslan , kini ia semakin yakin bahwa Ashanty memang masih gadis disitu dan belum pernah mengalami penjarahan dari suaminya. Aslan menarik kedua jarinya kembali dan kali ini diletakkannya ujung penisnya yang telah kembali mengeras dan menegang bagaikan pentungan kayu polisi di permukaan anus Ashanty. Ashanty tak dapat berbuat apa apa lagi - suaranya dan tenaganya telah terkuras karena orgasmusnya berkali kali dan kini akan mengalami perkosaan lebih menyakitkan. Pada saat itu mendadak Aslan menghentikan aksinya dan matanya membelalak ketika dirasakannya benda tajam menusuk dari belakang, menembus punggungnya dan ujung lembing penuh lumuran darah keluar dari dadanya, jantungnya yang juga tertusuk itu hanya berdenyut beberapa detik dan langsung berhenti. Aslan langsung jatuh dan terlepas dari tubuh mangsanya dan Ashanty yang merasa hilangnya dekapan badan Aslan membalikkan dirinya. Ashanty terpekik melihat tubuh Aslan beberapa kali kejang menyemburkan darah dan dengan rasa amat kaget serta takut dilihatnya ketiga penunjuk jalan - kuli pemikul Gbagbo , Ntsubo dan Utuzo serta 2 orang pria asing bertopeng sangat menyeramkan kini perlahan lahan mendekati dan tubuhnya yang terikat dan telanjang.... "Oooooh, jangan jangaaan , saya hanya kesini untuk mencari suami saya , tolong lepaskan saya , saya berikan semuanya apa yang saya miliki , jangan bunuh saya , tolong antarkan dan kembalikan saya ketempat semula , saya batalkan niat untuk mencari suami saya , tolong saya" , suara Ashanty memelas sambil matanya mengarah penuh ketakutan kepada ketiga kuli pikul dan guidenya. Agaknya kelima lelaki yang berada dihadapannya itu bagaikan tuli tak memperdulikan ratapan Ashanty bahkan mereka kini sudah berdiri berdekatan sekali dengan Ashanty yang dalam putus asanya berlutut di hadapan mereka. Dengan berlutut dan menyembah meletakkan kepalanya di tanah Ashanty dengan kedua tangan masih terikat itu mengharapkan setidaknya dapat menyembunyikan ketelanjangannya, terutama buah dada dan kemaluannya. Kelima lelaki penduduk asli Papua itu tetap tak memperdulikan semua ratapan Ashanty , bahkan kedua orang lelaki yang bertopeng menyeramkan itu meletakkan lembing mereka. Berbeda dengan ketiga penunjuk jalan dan kuli pengangkut barang yang telah berpakaian preman biasa , maka kedua lelaki bertopeng itu masih bertelanjang dada dan bagian bawah tubuh mereka hanya tertutup cawet dengan bagian penisnya tersembunyi dibalik benda berbentuk kerucut. Ashanty penah melihat dari gambar buku buku suaminya bahwa lelaki dewasa di pedalaman Papua memang masih sering memakai penutup penis berbentuk kerucut. Kini dilihatnya dengan mata penuh kengerian tutupan kemaluan yang mulai mengangguk angguk dihadapannya sebagai tanda bahwa rudal daging di dalamnya mulai terangsang ingin membuktikan kejantanan mereka di dalam tubuhnya yang masih belum pulih dari perkosaan. Kedua lelaki penduduk pedalaman itu tetap tidak melepaskan topeng mereka namun dengan gerakan amat lambat melepaskan tali pengikat kerucut penutup penis mereka itu. Ketika penutup kerucut itu jatuh muncullah dua buah penis yang bukan saja jauh lebih besar dari penis suaminya, namun masih lebih panjang serta diameter melebihi kemaluan Aslan yang kini telah menggeletak tewas di ujung lembing penduduk Papua itu. Ashanty semakin meratap menangis dan menyembah nyembah karena tak dapat dibayangkan nasib apa yang segera akan dialaminya - sirnalah semua harapannya untuk dapat berjumpa dengan suaminya , kengeriannya tak dapat di uraikan dengan kata kata. Kalau menghadapi perkosaan Aslan sudah hampir menguras semua tenaganya - mana akan sanggup ia untuk melayani nafsu hewaniah ke lima lelaki di hadapannya. Apa yang akan terjadi.....?

######################## apakah yang akan dialami oleh Ashanty selanjutnya di markas suku pedalaman yang masih sangat liar dan buas itu ? Apakah Ashanty akan menemukan suami yang dicarinya Professor Azkenazy - masih hidupkah suaminya ? Apakah yang telah ditemukan suaminya ? Apakah nasib Ashanty akan sama seperti Aslan dan bahkan dijadikan santapan suku primitif kanibal ataukah akan mengalami pelecehan-perkosaan massal? Apakah Ashanty akan sanggup menghadapi semuanya itu dan tetap hidup dan selamat, ataukah ataukah........?.

Setiap komentar akan dijadikan (tambahan) ilham untuk meneruskan cerita ini - terutama usul yang datang dari pengarang profis seperti boss Shu sendiri , sis Yoh , sis Dini , boss Ninja , boss H. Potter dll. Semakin cepat dan semakin banyak datangnya komentar akan semakin cepat pula keluar sambungan cerita ini - ibarat masakan lezat untuk para penggemar kisahbebe akan cepat tersedia dan dihidangkan jika banyak penyumbang bumbu serta bahan² mentahnya !!!


Admin Mesum - 22.54

Diary of a Cuckold 2: Keluarga Gila Istriku


Siang itu, suasana tak terlihat secerah biasanya. Matahari bersembunyi di rimbunan mega mendung yang berwarna putih kehitaman. Angin dingin dan basah berhembus pelan, menerbangkan daun daun kering kearah balkon. Membawa pasir dan debu yang mulai mengotori lantai ubin tempat dimana aku berada.

 “Sebentar lagi pasti bakal turun hujan...” kataku dalam hati. Kuseruput cairan hitam pekat yang ada didalam cangkir putih itu sambil mengamati layar laptopku yang menampilkan laporan pekerjaan yang sedang aku coba selesaikan. “Kopi hangat memang teman yang cocok untuk menemani ketika menyelesaikan tugas-tugas kantor” Kuputar-putar cangkir yang hampir kosong itu ditelapak tanganku, sambil membayangkan sosok wanita yang selalu membuatkan minuman kegemaranku ketika aku mengerjakan pekerjaan kantor. “Kopi buatan Sarah memang tak ada duanya... Benar-benar nikmat….” Ucapku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri. “Tak hanya kopi buatan Sarah yang nikmat, tapi masakan buatannya pun terasa sangat lezat….” “Parasnya cantik, tubuhnya seksi, pintar masak, dan pandai mengurus rumah tangga... Pokoknya, dia wanita idaman setiap lelaki…” pujiku dalam hati. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberiku seorang istri yang sempurna…” Sarah Widiyanti, begitu bangganya diriku ketika berhasil mendapat hati dari wanita yang merupakan salah satu bunga kampus itu. Bangga karena wanita impian setiap lelaki itu, sekarang sudah menjadi istriku. Sambil menghirup kopi yang mulai terasa sangat ber-ampas itu, aku mencoba mengingat-ingat perbicanganku dengan sobat-sobat kampusku, beberapa tahun lalu.

“Surya...Surya...Surya... Sepertinya, Lo pria yang paling beruntung di muka bumi ini deh“ Kata Rio, salah satu teman kuliahku. Tak henti-hentinya ia mengungkapkan perasaan herannya ketika mengetahui jika sekarang Sarah sudah menjadi kekasihku. “Gue bener-bener nggak nyangka kalo kutu buku seperti lo, bisa ngedapetin bunga kampus seperti Sarah” “Iya Surya... Gue ga nyangka loh, kalo Sarah bakal nerima lamaran buat lo jadikan istri…” tambah Rudi, temanku lainnya. “Terlebih jika Sarah tahu jika calon suaminya ini adalah manusia super mesum...” “Hahaha... Mesum karena suka nonton bokep, ngintipin tetangga kalo mandi, Nyolekin pantat SPG“ Kata Rio “Dan onani pakai minyak goreng.....” Sambung Rudi sambil mengacak-acak rambutku. “Biaaaarrrriiiiiinnnnn... Yang penting sekarang Sarah sudah jadi calon istri gue...” Sombongku.”Lagian khan Gue cowok normal, jadi itu semua Gue pikir wajar-wajar sajalah” kataku lagi, berusaha membela diri. “Setelah lo berdua nikah, gue yakin lo pasti bakal terpuaskan tuh…. “ Kata Leo “Secara… Sarah gitu loh... Cewe kaya, cantik, sehat, atletis, dengan toket dan bokong paling semok diantara semua wanita dikampus ini… “ “Body Biola… “ Ucap Rudi. “Byuh… Byuh… Byuh…. Benar-benar body bidadari….” Sambung Rio. “Iya bener… Lihat aja Sarah kalo jalan… Bikin mata kita mau copot…” Kata Rudi lagi “Iya-iya… Dari jalannya aja udah keliatan bohay… Apalagi ulekannya…. Bikin ga nahan…” Celetuk Leo “Ga nahan buat NGENTOT TERUUUUUUS….!!! Hahaha...” Teriak mereka bertiga hampir berbarengan. “Ngentot terus….” Mengingat kalimat terakhir percakapan kami, tiba-tiba aku tersadar dari buaian lamunanku. Ternyata, selama ini aku telah mensia-siakan wanitaku yang sangat berharga itu. Kusia-siakan dengan melakukan perselingkuhan bersama wanita lain. Bodohnya diriku, yang tak menyadari jutaan kelebihan yang dimiliki istriku. Begonya aku yang telah memiliki istri sempurna, namun selalu terbuai kepada wanita lain. Tololnya aku, yang telah membiarkan pendamping hidupku jatuh ke pelukan orang lain. “Jatuh ke pelukan orang lain?” Kembali aku merenungkan pikiran yang baru saja terlintas di benakku. “Sarah terlalu berharga bagiku untuk aku biarkan jatuh ke pelukan lelaki lain... Ini tak boleh dibiarkan terlalu lama... Semua ini harus segera dihentikan... Tapi... Bagaimana caranya...?” Tak terasa, sudah seminggu lebih aku menghabiskan waktu di rumah orang tua istriku. Dan selama itu pula, aku telah membiarkan istriku dan selingkuhannya melakukan hal yang dulu sering aku lakukan dengan wanita lain.

Mereka dengan terang-terangan melakukan perselingkuhan di depan mataku. Terlebih, setelah Mama Sarah mengetahui semua dosa-dosa penikahan yang telah aku lakukan terhadap putrinya selama ini, membuat Sarah menjadi merasa seperti diatas angin. Perselingkuhan yang selama ini aku lakukan dibelakangnya, dijadikannya sebagai senjata untuk mempermalukanku di hadapan kedua orang tuanya. Hingga akhirnya, Sarah, dengan persetujuan ibu mertuaku, membalas semua kebodohan yang telah aku lakukan kepadanya. Kuletakkan cangkir kopi yang sudah kosong itu di meja, kulepas headphone yang sedari tadi menempel di kedua sisi kepalaku. Aku baru sadar jika benda berisik itu telah menemaniku sejak lama. Headphone yang ada ditanganku itu adalah benda termahal yang mampu aku beli dari hasil gaji pertamaku bekerja dulu. Dengan headphone aku bisa lebih mudah berkonsentrasi dan bisa mendapatkan ide-ide cemerlang. Dengan headphone aku bisa menyelesaikan semua kerjaan kantorku cepat-cepat. Dan dengan headphone aku bisa menjadi sesukses sekarang. Kuusap pelan kedua telingaku yang terasa sakit oleh dentuman suara musik, dan mencoba memikirkan semua kejadian yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku butuh istirahat, aku butuh menyegarkan badan. Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar, berusaha mengendurkan ketegangan pada otot-otot tubuhku. Dan aku juga ingin buang air kecil...Kuletakkan headphone belelku disamping laptop. Sejenak, aku mencoba sedikit menyegarkan mataku dengan menatap pepohonan hijau yang ada di sekitar rumah mertuaku. Daerah pegunungan tempat orang tua Sarah tinggal memang daerah yang cocok buat menghabiskan sisa usia. Sepi, sejuk, dan damai. Tak heran jika aku dan Sarah sering menghabiskan waktu liburanku disini. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk ke toilet yang terletak tepat disamping kanan kamar tidur tamu ini. Toilet lantai 2 kami adalah toilet umum yang dapat digunakan bersama-sama. Namun, begitu aku ingin keluar dari kamar tidur tamu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara aneh. Kuputar gagang pintu kamar tidurku dan kubuka perlahan. “Ssshh... enak banget.....” Walau lirih, aku bisa tahu jika suara aneh yang berasal dari kamar tidur Sarah itu adalah suara desahan lelaki. ”Terus cantik... isep teruusss.....” “Pasti itu suara desahan Markus...” tebakku dalam hati “Enak ya sayang...?“ Terdengar suara wanita yang menjawab permintaan lelaki pengangguran itu. “Dan itu pasti Sarah...” Tebakku lagi. Mendengar kedua suara mereka, tanpa berpikir panjang pun aku bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan. “Mereka pasti sedang bersetubuh...” ”Sarah... Sarah... Tak ada capek-capeknya sih wanita satu itu jika diajak bercinta dengannya...” Tambahku lagi sambil terus berjalan ke arah kamar mandi berusaha tak memperdulikan perselingkuhan yang sedang ia lakukan. “Tapi tunggu... Suara istriku tak seperti itu...” Heranku. “Itu suara wanita yang berbeda...” Karena penasaran, aku melupakan rasa ingin kencingku. Alih-alih menuju kamar mandi yang ada di samping kanan kamar tidurku, aku malah berbalik arah, melangkah ke arah kamar tidur Sarah. “Pintunya tak tertutup rapat...” Berusaha tak menimbulkan bunyi apapun, aku berjingkat, mendekat ke arah celah pintu yang sedikit terbuka itu, dan mulai mengintip ke dalam kamar tidur. Sejenak, aku kedip-kedipkan pelupuk mataku, mengernyitkan dahi dan memfokuskan pupil mataku agar terbiasa dengan kondisi kamar yang cukup terang akibat jendela besar kamar Sarah yang terbuka lebar. DEG “Aku pasti bermimpi….” Ujarku dalam hati. “Benar... itu bukan suara desahan istriku...” “Wanita yang sedang bercinta di dalam kamar Sarah adalah Mama Rena... Ibu kandung Sarah... Ibu mertuaku...” Dengan mata kepala sendiri, aku mendapati ibu kandung istriku dalam kondisi telanjang bulat. Diam berjongkok sambil mengurut manja daging kehitaman yang tumbuh di selangkangan lelaki lain. Sebenarnya bukan hanya diam, akan tetapi ibu mertuaku itu mencoba memuaskan nafsu birahi lelaki yang bukan suami sahnya. Posisi mereka saat itu menyampingiku, jarak kami terpaut sekitar 3 meter dan mereka saling berhadap-hadapan. Mama Sarah jongkok di atas lantai, di depan selangkangan Markus. Sedangkan Markus duduk dengan posisi lebih tinggi, di tepi ranjang. Ia duduk menghadap tepat di depan wajah ibu mertuaku, sengaja merentangkan pahanya lebar-lebar supaya Mama Sarah dengan mudah mengurut batang kemaluannya yang telah menjulang tinggi . “Cuuh….” Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat Mama Sarah meludahi dan melumuri penis panjang Markus. “Cuuh... Sluuurpp...Eeeehhmmmm... Sluuurrpp...” “Jilat terus mah... Isep terusss...” kata Markus berulang-ulang. “Sluurpp...” saking kuatnya hisapan mulut Mama Sarah, aku bisa melihat pipinya menirus, kempot. “Sluuurp.... Cuuuhh...” untuk kesekian kalinya, Mama Sarah meludahi batang hitam Markus hingga batang itu terlihat benar-benar mengkilap basah karena air liur. Sepertinya ibu mertuaku merasa kesulitan untuk melahap penis besar milik selingkuhan putrinya itu. “Ouuuggghh kontolmu memang menggiurkan banget sayang...” desah Mama Sarah sambil terus menjilat dan mencaplok penis Markus. Menerima hisapan kenikmatan dari mulut ibu mertuaku, Markus pun tak bisa tinggal diam, ia lalu menjulurkan tangannya kebawah, berusaha meremas-remas payudara besar Mama Sarah. “Ooohh hayaaang… gheeliiii…... “ Kata Mama Sarah yang mencoba berbicara dengan mulut yang masih penuh berisi penis Markus. “Sini-in maahh… Markus pengen ngeremes tetek besarmuuu….” “Hihihi… kamu genit sekali sayang….” Seolah seperti perawan yang malu-malu, Mama Sarah tertawa-tawa genit. Beberapa kali Mama Sarah memutar-mutar pundaknya kekiri dan kekanan guna menghindari sergapan tangan buas Markus. “Astagaaaa...” pekikku dalam hati “Tetek Mama Sarah benar-benar besar sekali…” Gerakan-gerakan menghindar yang dilakukan Mama Sarah, secara tak langsung membuat payudaranya berguncang hebat. Payudara itu bergoyang kesana kemari seiring gerakan tubuh Mama Sarah ketika menghindari tangan Markus. “Tetek itu jauh lebih besar daripada tetek Sarah…” kagumku. Dengan perasaan yang masih deg-degan, aku mencoba untuk membuka pintu kamar istriku lebih lebar lagi. Berharap dapat melihat perselingkuhan ibu mertuaku lebih jelas lagi. Beruntungnya diriku, karena suasana di sekitarku lebih gelap daripada suasana di dalam kamar, kedua manusia yang tengah dilanda nafsu birahi ini tak mampu melihat ke arahku. “Ooouuggh... geli banget saayaaanng... “ ucap Mama Sarah dengan nada menyerah. Sekarang, ia tak lagi menghindar ketika Markus meremas-remas payudara bulat miliknya. Mama Sarah hanya bisa melenguh keenakan, membiarkan Markus untuk meremas, memilin dan menyentil putting payudaranya. “Isep terus mah… Iseeeep terusss…...” ucap Markus keenakan. “Sluuurrrpp…. Sluuuuuurrrrpppp…. Cuuhh….” Seperti pelacur murahan, kepala Mama Sarah tak henti-hentinya naik turun untuk terus menjilat, menghisap, dan meludahi batang panjang Markus.. “Enak banget maaahh… Enaaakkk baangeeeetttt…” gelijang Markus. ”Isep terus maaah... Masukin terusss yang daleeemmm maaahhhh…” Menanggapi permintaan Markus, Mama Sarah semakin bersemangat, beliau membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba untuk menelan seluruh batang panjang lelaki pengangguran itu. “Ga bisa sayang… Mulut Mama ga muat... “ Jelas Mama Sarah. “Mama ga bisa nelen ini semua sayang...” Ucap Mama Sarah lagi sambil terus mengurut-urut gumpalan daging yang telah menjulang tinggi di depan wajahnya “Kontolmu terlalu besar…. ” “Mama Mertuaku telah GILA...!” hanya itu komentar yang dapat aku ungkapkan ketika aku mendengar dengan kedua telingaku. Ibu mertuaku sedang memberikan oral seks kepada lelaki pengangguran yang juga telah meniduri istriku itu. Tanpa malu-malu, Mama Sarah menciumi dan mengurut batang berurat Markus. Beliau benar-benar berusaha untuk dapat segera membuat penis Markus memuntahkan cairan kenikmatannya, Beliau berusaha untuk dapat segera menaklukan keperkasaan Markus. “Terus maaah... Isep teruusss...” Walau menerima kocokan, jilatan dan hisapan mulut seksi Mama Sarah, penis itu tak juga orgasme. Bahkan, penis terlihat semakin membesar, membesar dan membesar. Penis itu membuat tangan Mama Sarah yang tak mampu mencengkeram seluruh lingkar batang kejantanannya terlihat begitu mungil. Situasi yang benar-benar jauh berbeda dengan apa yang terjadi beberapa hari lalu. Situasi ketika Mama Sarah memberikan oral seks pada penisku. Waktu itu, Mama Sarah dengan mudah menundukkan kejantanan batang kebanggaanku. Dengan mudah, jemari lentik tangan Mama Sarah, mencengkram penisku, mengurut batangku, dan membuatku segera terpuaskan. Membuatku segera orgasme dalam hitungan detik. Mendadak, aku merasa benar-benar iri dengan Markus. “Markus ga pernah nyangka, kalo Mama ternyata NAKAL sekali ….?” Ujar Markus yang sedari tadi hanya terduduk diam di sisi tempat tidur. “Aaaahhh... Masa isep-isep gini dibilang nakal?” ucap Mama Sarah manja.”Kalo kamu nggak suka... Yaudah, Mama juga nggak mau nerusin...” “Suuuukaaaaaa... Markus suka banget ama kenakalan Mama.....” teriak Markus tak kalah manja “Markus rela kok mah, Mama nakalin mulu setiap hari.....” “Yeeeee.....Dasar otak cabul...Sluuurpp.....” canda Mama Sarah sambil kembali menghisap-hisap penis Markus. “Oouucchh... Enak banget maaaah... “ Kata Markus sambil sesekali meremas-remas kepala Mama Sarah yang berjongkok di depan selangkangannya itu. Tiba-tiba, tubuh kurus Markus mulai melengkung-lengkung, dan telapak kakinya menjiinjit tinggi. Sepertinya, lelaki pengangguran ini akan segera orgasme karena kenikmatan hisapan mulut ibu mertuaku. “Markus mau keluar mah... “ Desah Markus yang semakin cepat menggerak-gerakkan kepala Mama Sarah. “Heehh..? Heluar..?” “Hiyya mahh... Markus pengen keluar... “ Yakin Markus sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Isep terus mahh... Iseeeep terusss…...” Merasa lawan mainnya sudah hampir kalah, Mama Sarah semakin mempercepat kocokan tangannya. Mulutnya semakin monyong, dan pipinya semakin kempot. “Sluuurrppp... Engak hayaaaaang?” Tanya Mama Sarah dengan mulut masih terisi penis Markus. “Oooohhh... Iya maaaah... Enak bangeeeettttt… Ooouuuggghh” “Engak apanya...Sluurrpp Sluuurrpp?” “Mulut Mamah... Isepan Mama enak sekali mah…. Sedotannya kuat bangeeeett ….” “Engak mana ama hepongan Harah? “Oouuughh... Sama enaknya mah... Samaaaa…...” Desah Markus kencang sambil mengejan-ngejan. Sepertinya Markus sudah tak sanggup lagi membendung orgasmenya, karena beberapa detik kemudian ”Markus udah nggak tahan lagi maah... Markus mau keluaaarrr...” teriak Markus yang tiba-tiba berdiri dan mengambil alih tangan Mama Sarah dari batang penisnya. Dengan gerakan super cepat, Markus mengocok batang hitamnya. Dengan tangan kiri yang bertopang pada pundak Mama Sarah, Markus melengkungkan tubuh kurusnya kedepan. Menyodorkan kepala penisnya ke arah mulut Mama Sarah. “Buka mulutnya mah... Markus mau keluarin pejuh di mulut Mama...” Bak pelacur murahan, ibu mertuaku dengan sigap melakukan permintaan Markus. Ia buru-buru menengadahkan kepalanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. “Kamu siap maaah...?” Tanya Markus “Mama siap nelen semua pejuhku....?” “Iya sayang... Mama siap...” “Markus keluar maaaaahhhhhh..... Markus KEELLUUUAAARRR....” Seiring teriakan Markus, lima gumpalan lendir berwarna putih tiba-tiba keluar dari ujung lubang penisnya. Menyembur dengan kencang kearah wajah ibu mertuaku. Namun, sepertinya sperma Markus terlalu banyak. Karena walaupun ibu mertuaku sudah membuka mulutnya lebar-lebar, mulutnya tak mampu menampung semua semburan sperma itu. “Uhuk...uhuk... “ batuk Mama Sarah “Banyak sekali pejuhmu sayang.. uhuk...uhuk...” ucap Mama Sarah lagi dengan kalimat yang bercampur dengan suara tersedaknya. “Ooouuugggghhh...” Lenguh Markus keenakan sambil terus mengocok batang penisnya dengan brutal. Menguras semua sperma yang ada di kantong zakarnya. “PUK...PUK...PUK...” lenguh Markus sambil menepuk-tepukkan batang penisnya ke mulut ibu mertuaku. “Enak sekali maaahhh...” “Cuuupp...” Balas Mama Sarah sambil mengecup ujung penis Markus yang masih menyemburkan spermanya. Buru-buru, Mama Sarah merebut penis Markus dari tangannya. “Kontolmu kurang ajar deh sayang... ” kata Mama Sarah manja. “Masa dari tadi muntah-muntah mulu...” “Hehehe... Maaf ya mah... abisan isepan Mama enak banget mah...” Dengan penis yang masih terus diurut oleh tangan lentik ibu mertuaku, Markus menghempaskan pantatnya ke tepi tempat tidur. Dengan seksama ia memperhatikan ibu kandung selingkuhannya itu membersihakan sisa-sisa sperma yang masih terpancar pelan dari batang penisnya. “Maaf ya mah... Mama jadi berantakan gini deh...” kata Markus sambil mengusap gumpalan spermanya dari wajah mulus ibu mertuaku. “Tapi tetep cantik banget kok...” Melihat tingkah sok perhatian dari lelaki pengangguran itu, aku baru sadar jika sperma Markus benar-benar banyak. Mata, pipi, hidung, dahi, rambut dan dada Mama Sarah, semua hampir terkena cipratan spermanya. “Dasaar playboy cap gomeh...” canda Mama Sarah. “Beneran loh mah... Markus minta maaf..” “Gapapa sayang.. Lagian, Mama juga suka kok ama pejuhmu.... ga ada capeknya muncrat mulu... sluuurpp...” ucap Mama Sarah sambil mengecup kepala penis Markus. Mendadak, lelaki kurus itu menangkap ketiak Mama Sarah, dan mengangkat tubuh langsing yang telah telanjang bulat itu ke atas. “Berdiri mah…” ujar Markus yang tiba-tiba mencaplok buas payudara besar Mama Sarah yang ada tepat di depan mukanya. “Sekarang giliran Mama yang bakal aku puasin...” “Haaaaahh...?” Heran ibu mertuaku “Kamu nggak mau istirahat dulu sayang? Kamu khan baru saja keluar...” “Hehehe...” kekeh Markus sok imut sambil memejamkan mata. Markus lalu menangkap tangan Mama Sarah dan membimbingnya ke arah selangkangannya. “Astaagaaaah..... Sssaaayaaannggg...???” Pekik Mama Sarah kegirangan “Kontolmu...?” “......” Markus tak menjawab, ia hanya tersenyum bangga sambil terus mencaploki kedua payudara montok Mama Sarah. “Benar-benar pejantan sejati...” Kagumku dalam hati. Entah latihan sepperti apa yang telah Markus lakukan terhadap penisnya. Yang jelas, walau baru saja selesai orgasme, penis itu tak juga melemas. Masih tegang seperti sediakala. “Haaemmm.... Sluuurpp... Hhaaaemmm..” ucap Markus tak jelas sembari mencaplok payudara ibu mertuaku.. “Ooouugghh... Sabar sayang... Sabar... Tetek Mamah nggak bakalan kemana-mana kok...” Canda Mama Sarah sambil memeluk kepala Markus. Ia juga menekan belakang kepala Markus, berusaha membenamkan kepala lelaki pengangguran itu kegundukan besar payudaranya.Sambil terus mencaplok payudara besar ibu mertuaku, kedua tangan Markus tak mau tinggal diam. Tangan-tangan itu juga meremas kedua pipi pantat Mama Sarah dengan gemas.Markus meremas pipi pantat Mama Sarah dengan kuat. Bahkan, saking kuatnya, pipi pantat itu terangkat dan terentang lebar ke samping. Memamerkan celah aurat kewanitaannya yang telah benar-benar basah. “Woooowwwww...” Pekikku tertahan “Merah bangeeet... “ Ucapku spontan ketika aku bisa melihat vagina ibu mertuaku. Tiba-tiba, tubuh Mama Sarah bergetar, dan bulu kuduknya merinding. “Ayo sayang… Cepet telentang... Mama udah nggak sabar... Mama pengen cepet-cepet masukin kontol besarmu ke memek Mama...” Kata Mama Sarah sembari mendorong tubuh Markus supaya terlentang. Lalu iapun mulai merayap naik. “Kontol besarmu ini benar-benar membuat Mama ketagihan...” Ucap ibu mertuaku sambil mendekatkan vagina beceknya ke selangkangan Markus. “CLEEEEPPPP…...” “Ooouuuggghhh…. Besaaar sekaaaliiiii sayaaang...” Lenguh Mama Sarah. Entah karena penis Markus yang terlalu besar atau vagina ibu mertuaku yang terlalu sempit, dimataku, persetubuhan itu terlihat begitu susah. Berulang kali aku melihat batang penis Markus membengkok setiap kali Mama Sarah mencoba mendudukinya. Hingga akhirnya, vagina Mama Sarah berhasil melahap kepala penis Markus. “Oouugghh… Pelan-pelan sayang... rasanya sakit banget...” Desah Mama Sarah. “Ehhhmmmhh... Sakit tapi enak khan maaahh….?” Canda Markus sambil terus menerus meremas dan menjilat manja payudara besar ibu mertuaku. “......” Mama Sarah tak menjawab sepatah katapun, ia hanya bisa mendesah dan mengangguk pelan. Melihat lawan bercintanya diam tak berkutik, Markus mendadak diam. Ia menatap mata Mama Sarah tajam-tajam, kemudian dengan penuh perhatian, lelaki pengangguran itu mulai mengecup puting payudara Mama Sarah. "Kamu cantik banget mah.....Kamu benar-benar cantik” Puji Markus sambil memeluk tubuh wanita setengah baya yang ada di depannya itu. “Hari ini... Aku merasa kalo aku adalah pria yang paling beruntung di dunia... Bisa merasakan keistimewaan ‘perhatian’ darimu mah... Denganmu... aku benar-benar merasa seperti jatuh cinta lagi...” "Dasar buaya busuk..." Umpatku dalam hati "Sempet-sempetnya ia merayu ibu mertuaku... " “Ooohh sayaaannggg..... Mama sayaaanng kamuuu.....” Kata Mama Sarah tiba-tiba sambil memeluk tubuh Markus erat-erat. "Mama juga seneng bisa memberikan kepuasan padamu sayang..." Karena terlalu bersemangat mendengar pernyataan Mama Sarah, Markus secara spontan memeluk tubuh wanita yang ada didepannya itu dengan kuat. Ia sepertinya lupa jika posisi jongkok Mama Sarah diatas penisnya waktu itu, masih belum sempurna untuk mendapat tusukan secara tiba-tiba. Akibatnya, tubuh ramping Mama Sarah langsung meringsek maju ke depan dan vaginanya ambles ke bawah. Menelan hampir seluruh batang panjang penis Markus dalam-dalam. “Hheeeeegggghhhh.....” Teriak Mama Sarah tertahan. Matanya terpejam, ujung alisnya berkerut, dan urat di lehernya mendadak bertonjolan. “Ooouuugghhh…” Aku bisa membayangkan, betapa sakitnya vagina Mama Sarah waktu itu. Sekuat tenaga, Mama Sarah meronta sambil menjerit histeris. Ia mencoba bangun, menjauh, dan melepaskan vaginanya dari tusukan penis Markus. Kedua tangannya buru-buru bertopang pada paha Markus, berusaha menahan berat tubuhnya supaya tak semakin turun. “Aaarrrgghhh... Pelan-pelan sayang..... Sakit baangeeett...” Teriak Mama Sarah. “Maaf mah..... Maaf...” Ujar Markus yang langsung dengan sigap, menangkap pantat Mama Sarah. Mencegah supaya vagina wanita seksi itu tak semakin dalam terbenam kebatang penisnya. “Sakit banget sayaaanngg...” “Maaf maaah... Markus terlalu bersemangat...” "Pasti memek Mama Sarah sempit sekali..." Batinku. Karena dari sikapnya barusan, aku bisa tahu jika Mama Sarah belum pernah merasakan batang kelamis sebesar penis Markus sebelumnya. Kembali, sedikit demi sedikit, Mama Sarah dan Markus mencoba menikmati persetubuhan pertama mereka. Namun karena kepiawaian Markus dalam membimbing wanita lawan mainnya, tak memerlukan waktu lama, mereka berdua sudah mulai melenguh-lenguh keenakan. Terbukti dari gerakan pantat Mama Sarah yang mulai maju mundur dengan luwes. "Masih sakit mah...?" "Emmpphhhhffff... “ Mama Sarah menggelengkan kepalanya “Udah agak mendingan...?" “Heeeegghhh...” Angguk Mama Sarah mengiyakan. “Kalo memek Mama masih belum terbiasa ama kontolku... Masukinnya pelan-pelan ajah yaa maah... " Pinta Markus "Aku nggak pengen Mama kenapa-napa... " "…..." Lagi-lagi Mama Sarah tak menjawab kalimat Markus. Sambil terus menggigit-gigit bibir bawahnya, ia hanya tersenyum dan memeluk manja tubuh lelaki yang bukan suaminya itu. "Atau… Kalo Mamah sudah nggak sanggup dan ingin berhenti, kita bisa menyudahi percintaan ini..." Goda Markus sok jual mahal. "JANGAAAANNN... " Hardik Mama Sarah "Mama masih bisa kok... Mama masih sanggup..." "Beneran nih mah...?" "Iiiyaaahhhh sayang... “ Ucap Mama Sarah mencoba meyakinkan “Mana mungkin Mama menyia-nyiakan kontol nikmatmu dan memilih berhenti begitu saja" "Ooooouuuhhh... Mama Rena... Aku saaayaaaang banget ama kamu mah..." Mendengar ucapan sayang dari Markus, Mama Sarah seolah mendapat kekuatan baru. Tak ayal, ibu mertuaku itu menjadi bersemangat dan mencoba menurunkan pinggulnya lebih rendah lagi. Tak henti-hentinya Mama Sarah melenguh-lenguh, seiring usahanya memasukkan penis raksasa Markus kedalam vagina basah miliknya. Turun... Naik... Turun... Naik... Hingga akhirnya, vagina becek ibu mertuaku itu bisa menelan lebih dari separuh batang penis Markus. “Sssshhh..... Memek Mama terasa penuh banget sayang..." Dari jarak yang lumayan dekat ini, aku bisa melihat betapa menyeramkan batang kelamin Markus. Batang itu benar-benar besar, hitam dan panjang. Aku dapat melihat jika vagina Mama Sarah sudah tak mampu mengakomodasi kebesaran batang kejantanan Markus. Dari raut wajah, urat di kening dan leher Mama Sarah yang bertonjolan, aku kembali membayangkan, jika vagina miliknya tak bakal mampu menelan seluruh batang penis lelaki di hadapannya. “Ooouughhh... Ayo Mah... Masukin sedikit lagi... Kontol Markus belom masuk semua...” “Hhhgggghhh…. Udah mentok saayang... Nggak bisa masuk lagi...” Lenguh Mama Sarah kembali mencoba meyakinkan Markus. “Kepala kontolmu sudah nabrak mulut rahim Mamah….” "Aaayo maahh... Sedikit lagi..." "Nggak bisa sayang... Kalo Mama terusin, bisa jebol deh memek Mama..." Canda Mama Sarah manja. "Hahahaha... Mama ada-ada ajah... Mana bisa memek jebol gara-gara ditusuk kontol..." "Beneran sayang... Rasanya perih banget... Memek Mama seperti mau robek..." “Masa maah? Padahal khan belom masuk semua...” “Ueedann... Mana ada wanita yang bisa dimasuki semua kontol besarmu ini sayang...?” heran Mama Sarah. “Ada kok.....” “Siapa sayang...?” Markus kembali tersenyum lebar. Sambil menatap mata Mama Sarah tajam, ia menyebut satu nama. “Satu-satunya memek wanita yang bisa kontol Markus sodok sampe mentok adalah…... Sarah Widiyanti…. Anak Mama...” “Haaah... Sarah...?” Tanyaku dalam hati. Aku tak menyangka jika vagina istriku itu mampu menerima sodokan batang sebesar itu. “Sarah…?” Tanya Mama Sarah heran. ”Serius...? Memek Sarah bisa nelen seluruh panjang kontolmu sayang?” Tak menjawab, Markus hanya terus tersenyum sambil mengangguk pelan. “Ueedan… Mama nggak nyangka anak Mama bisa nerima sodokan kontol sebesar ini” Heran Mama Sarah “Padahal kamu sodok gini aja, kepala kontolmu sudah neken mulut rahim Mama….” Kembali, Markus hanya tersenyum-senyum sambil sesekali meremas payudara besar Mama Sarah. “Hmmm… Mama tahu… Pasti kamu sudah meniduri Sarah sejak lama...” Tebak Mama Sarah “Iya khaannn...?: Merasa tebakan Mama Sarah benar, “Hahaha….” Markus tiba-tiba tertawa lebar “Kalo dihitung-hitung… Markus mungkin sudah nidurin istri Surya semenjak dua tahun belakangan ini mah….” “Pantesaaannn… Hahaha…...” Mama Sarah pun ikut tertawa. “Iya donk…. Nggak mungkin lah wanita secantik Sarah bisa Markus diemin saja mah?” Jelas Markus sambil mengecupi kedua payudara ibu mertuaku “Surya-nya aja yang nggak pernah bersyukur… Udah dapet wanita sesempurna Sarah, Surya sia-siakan… “ “Oh sayang… begitu perhatiannya kamu dengan Sarah...” ucap ibu mertuaku sambil memeluk tubuh kurus Markus erat-erat. ”Memang deh… Sarah nggak salah memilih selingkuhan….” “Hahaha….” Tawa Markus lagi. “Ya udah… semenjak Sarah tahu perselingkuhan yang Surya lakukan ke banyak wanita… Sarah akhirnya meminta Markus supaya menggantikan posisi Surya untuk memenuhi kebutuhan birahinya…” Lelaki jahanan itu telah meniduri istriku sejak lama. Bagaimana bisa istriku menyembunyikan hal ini dariku? Pantas saja, aku merasa akhir-akhir ini ada yang beda dari dirinya. Ternyata, dari percakapan Markus dan ibu mertuaku, aku baru sadar akan keganjilan sikap Sarah setiap kali ia pulang dari kegiatan luar rumahnya. Istriku selalu pulang dengan kondisi benar-benar horny. Setiap kali selesai keluar rumah, ia memintaku supaya segera menjilati vagina basahnya, menyetubuhinya dengan kasar dan menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Dan dari penjelasan Markus, aku bisa menemukan jawaban dari satu pertanyaanku besarku setiap kali istriku pulang dari kegiatan luar rumahnya. “Mengapa setiap kali Sarah pulang, aku mendapati jika vagina istriku terasa begitu longgar….?” "Makasih ya sayang... Kamu udah memperhatikan kebutuhan anak Mama..." "Aaah Mama... Biasa aja kali mah... Memang sudah tugas Markus untuk bisa menolong wanita secantik Sarah..." "Makasih sayang... Dan sebagai imbalannya, kamu bisa nikmatin tubuh Mama... Kapan saja... Dimana saja... " "Beneran mah?" "IYA..." Mama Sarah mengangguk dengan yakin "Kamu bisa nikmatin tubuh Mama sepuasnya..." "Aku sayaaang kamu maaaah..." girang Markus sambil memeluk tubuh ramping ibu mertuaku itu. "Udah-udah... kalo pelukan mulu... kapan kamu bakal ngentotin Mamanya?.l" "Oiya ya... Yuk mah... Kita lanjutin lagi..." Tak perlu menunggu terlalu lama, mereka berdua sudah kembali tenggelam dalam desahan dan teriakan kenikmatan. Tanpa rasa malu, kedua insan ini tak henti-hentinya meracau seiring persetubuhan mereka. Kalo kata orang yang sedang dimabuk asmara “Dunia serasa milik mereka berdua…” “Oooouuughh... Sayaaaang… Sssshhhh... Garukan kontolmu terasa enak sekali..." puji Mama Sarah. "Nggak heran kalo Sarah tergila-gila padamu. "Ah Mama bisa ajah... Jepitan memekmu juga enak mah...Peret bangeeet..." “Ayo sayang… Terus... Entotin Mama terus… Entotin Mama...” ucap Mama Sarah bak pelacur murahan yang mulai melakukan aksi birahinya, menggerak-gerakkan pinggulnya dengan ganas. Gila. Ini keluarga gila. Nggak anak, nggak ibu, semuanya gila akan seks. “Ooouuugggg..... Saayaaanng... Eeeenak banget...” teriak Mama Sarah keenakan. Tubuh seksi ibu mertuaku menggelinjang-gelinjang tak terkontrol, tubuh rampingnya melengkung-lengkung ke belakang dan menghempas-hempaskan pinggulnya ke selangkangan Markus. Payudara besarnya terombang-ambing, bergelayutan pasrah dan menampar-nampar wajah Markus. Gerakannya sungguh brutal. Mendapat perlakuan brutal seperti itu, mau tak mau, Markus pun terlihat kewalahan. Dengan susah payah, Markus berusaha untuk dapat meladeni terjangan pinggul dan hantaman payudara besar Mama Sarah dalam posisi terus duduk. “Mama Reenaaaaa.... Goyanganmu enak bangeeett maaahhh...” “Hhhooouuuuggghhhh.....” Teriak ibu mertuaku berulang-ulang. Tanpa sengaja, ia menekan vaginanya serendah mungkin ke arah selangkangan Markus dan menelan penis besar itu dalam-dalam. Berulang-kali tubuh seksi ibu mertuaku itu bergidik-gidik, mengelejat liar, dan bulu kuduknya merinding, menandakan persetubuhan yang ia rasakan benar-benar dahsyat. Dan benar, beberapa menit kemudian, tubuh Mama Sarah kembali bergetar hebat. Sepertinya ia akan segera mendapatkan orgasme pertamanya. “Ooouuccchh… Saaayaaanngg… Mama mau keluar…. “ Jerit Mama Sarah histeris. “Bentar mah… Bentar… Kita keluar bareng-bareng….” Alih-alih menunda orgasmenya, Mama Sarah mulai menjambak-jambak rambut Markus dengan brutal. “Mama nggak sanggup lagi sayang… Mama udah nggak kuat lagi…” teriak Mama Sarah tak henti-hentinya. Hingga pada akhirnya, “Ooouuugghhtt…. Ssaayyaaannngggg… Aku keluaaaarrr… Ooouugghhh… Ssshhh..” Mirip seperti orang ayan, gerakan tubuh Mama Sarah menjadi tak terkontrol. Meliak-liuk, tak karuan sambil menancapkan kuku jemari lentiknya ke punggung Markus. Tak Mau kalah, Markus pun tiba-tiba berteriak keenakan. "Mamaaaaaa Reeenaaaaaa... Aku juga keluar maaahh....” Jerit Markus yang mendadak memeluk tubuh ramping ibu mertuaku sambil membanamkan wajahnya di payudara besar beliau. “Hooooouuuuuugggg.... Maaamaaaahhh....” Erang Markus yang terus-terusan menghajar vagina legit Mama Sarah. Hampir semenit, kedua manusia penggila birahi itu melenguh-lenguh keenakan. Berulang kali mereka mengucapkan kata “Sayang” “Enak” dan “Puas”. Sama sekali tak mempedulikan dengan kegaduhan yang mereka lakukan. Hingga akhirnya, tubuh Mama Sarah melemas dan ambruk dipangkuan Markus, mereka berdua duduk saling berpelukan, terdiam dan mencoba menyelaraskan nafas. Markus memeluk tubuh Mama Sarah yang ada di pangkuannya, dan Mama Sarah tak henti-hentinya mengecupi wajah Markus. Walau dari kejauhan, aku bisa melihat puncak kepuasan mereka berdua dengan jelas. Berulang kali, aku bisa mellihat pinggul Mama Sarah yang masih saja mengelejat, menandakan jika vagina sempitnya masih berkontraksi nikmat. “Enak Mah...?” tanya Markus bego, sambil memeluk tubuh ibu mertuaku. “Hoo’oohh.... “ Kata Mama Sarah Melihat persetubuhan Mama Sarah dan Markus, aku merasa nafsuku benar-benar tak tertahankan lagi. “Goyangan Mama Sarah hebat banget….” Kataku dalam hati. “Pasti memeknya saat ini memijat-mijat batang penis lelaki brengsek itu.….” Tambahku Sekali lagi, aku kembali membayangkan betapa keset vagina milik ibu mertuaku. “Beruntung sekali si bangsat Markus itu, bisa merasakan kenyotan memek ibu mertuaku…” Okelah, walau aku sudah merasakan berbagai macam payudara, vagina bahkan anus wanita selingkuhanku, namun tetap saja aku ingin merasakan kenikmatan tubuh wanita yang satu ini. Mama Rena, Mama kandung Sarah, ibu mertuaku. Entah kenapa, begitu melihat kemolekan tubuh indahnya, aku ingin sekali untuk bisa menyetubuhinya. Melihat Markus yang tak henti-hentinya menghisap, mengenyot, dan meremas payudara besar ibu kandung istriku, membuat nafsu birahi di dadaku semakin berkobar-kobar. Mendengar suara desahan kenikmatan dari mulut Mama Sarah yang terdengar begitu merdu ditelingaku, membuatku merasa ingin meledak. Merekam setiap inchi tubuh telanjang ibu mertuaku ditambah goyangan-goyangan pinggulnya yang semakin buas, membuatku ingin menerjang Markus dan menggantikan dirinya untuk dapat menikmati tubuh bidadari itu. Aku benar-benar merasa iri. Bagaimana tidak? Hanya dalam waktu tak sampai seminggu, lelaki bajingan seperti Markus itu sudah dapat merasakan kenikmatan tubuh ibu mertuaku. Walau kemaren aku pernah merasakan seks oral yang sama dengan apa yang Markus rasakan beberapa saat tadi, namun aku masih merasa iri dengan keberuntungan Markus. Markus sudah bisa merasakan kenikmatan jepitan vagina wanita yang telah melahirkan istriku. “Mau lanjut nggak mah...?” Tanya Markus memecah kesunyian waktu rehat mereka. “........” Mama Sarah tak manjawab, ia hanya mengangguk dengan yakin. “Gila... Markus benar-benar nggak kenal lelah...” kataku dalam hati. Aku, dan banyak lelaki lain, mungkin perlu waktu istirahat sekitar 15-30 menit untuk dapat melakukan persetubuhannya lagi setelah baru saja orgasme. "Kontol mas Markus, akan selalu siap memuaskan birahi setiap wanita mas, tak peduli sebanyak apapun pejuh yang ia keluarkan ketika orgasme..." Ingatku terhadap ucapan Sarah, beberapa waktu lalu. Kali ini, aku benar-benar mengakui kehebatan Markus. Dia sama sekali tak mengenal lelah. Staminanya benar-benar hebat. Dan penisnya benar-benar kuat. Sangat jauh berbeda denganku. Sembari mengamati kondisi sekitarku yang masih saja sepi, aku melihat mereka berdua akan memulai persetubuhan kali keduanya itu. “Bangun mah... Markus pengen doggy...” “Eeehhhhh... Bentar ya sayang... " Jawab Mama Sarah dengan nada bingung. "Markus mau sekarang... " "Tapi.... Tapi memek Mamah masih ngilu....” “Hehehe.... Tenang saja mah... Markus punya banyak cara kok buat ngatasinnya...” Dengan santai, Markus mengangkat pantat ibu mertuaku. ia berusaha melepaskan vagina Mama Sarah yang menancap erat di batang penisnya. “Ooouugghh... Ngilu sayaaang....” “......... “ Tak menggubris desahan ibu kandung istriku, Markus terus berusaha untuk dapat mengangkat pantat beliau. "Aduh sayaaanng... Istirahat bentaran napa... Masih ngilu niieehh... " Raung Mama Sarah "Masih ngilu ngerasain kelejet-kelejetannya..." "............" Tak menjawab, Markus hanya tersenyum sambil terus berusaha menyingkirkan tubuh seksi Mama Sarah dari pangkuannya. "Dasar lelaki nggak ada puasnya..." Gerutu Mama Sarah. Mau tak mau, Mama Sarah pun mengiyakan permintaan Markus. Dengan malas, Mama Sarah menegakkan tubuhnya dan mencabut vaginanya. “PLOPP....” Suara vagina Mama Sarah begitu terlepas dari tusukan penis Markus. “Ooouuuggghh... Ssshhhh... “ Desah Mama Sarah nikmat. Mendadak, begitu Mama Sarah telah melepas vaginanya dari batang penis Markus, cairan putih kental meluncur turun dari selangkangannya. “WOOWWW...” Pekikku tertahan. “Seksi sekali...” Melihat cairan yang keluar dari vagina ibu mertuaku, aku bisa langsung mengetahui cairan tersebut. Cairan itu mirip seperti cairan yang selalu menempel didalam celana dalam istriku setiap kali ia pulang maen. Cairan itu mirip seperti cairan yang selalu keluar dari vagina istriku setiap kali ia pulang dari acara malamnya. “Cairan itu adalah sperma.. “ Kataku. "Markus benar-benar membuang spermanya di dalam rahim ibu mertuaku..." “Ayo telentang mah...” Pinta Markus singkat “Buka pahanya lebar-lebar...” Dengan malas-malasan, Mama Sarah pun menuruti permintaan Markus. “Pelan-pelan ya sayang masukin kontolnya... Memek Mama masih ngilu...” Ucap Mama Sarah ketus. Sepertinya Mama Sarah merasa sebal karena Markus tak memperbolehkan dirinya menikmati orgasmenya barusan. “......” Tak menjawab kalimat Mama Sarah, Markus hanya meremas-remas paha dalam dan gundukan daging vagina Mama Sarah yanh masih becek. Perlahan, Markus mengusap sambil menowel-towel kelentit Mama Sarah yang masih memerah bengkak, sambil terus merentangkan paha ibu mertuaku itu lebar-lebar. Lalu tiba-tiba, Markus menundukkan kepalanya kearah selangkangan Mama Sarah dan menjilatinya perlahan. “Auuuwww... Sayaaannggg.... Geliiii.....” pekik Mama Sarah yang mencoba menahan kepala Markus supaya tak merangsek ke vaginanya lebih jauh lagi. “...... “ Lagi-lagi, Markus sama sekali tak menghiraukan desahan manja ibu mertuaku. Dengan santai, Markus berulang kali menepis tangan Mama Sarah yang menghalangi jilatan lidahnya. Seolah pengembara yang haus akan air di padang pasir, Markus melakukan jilatan demi jilatan kearah vagina Mama Sarah dengan nafsu. Ia terlihat benar-benar menikmati vagina tanpa rambut milik ibu mertuaku itu. "Ouuucccchhh... Saaayaaaang..... Geliiiiii.... " Jerit Mama Sarah lantang. Berulangkali, ibu mertuaku itu mencoba menyingkirkan jilatan lidah Markus dari vaginanya, namun berulangkali juga ia gagal melakulannya. Tanpa rasa jijik sedikitpun, selingkuhan istriku itu membersihkan semua lendir vagina berikut campuran sperma yang keluar dari vagina ibu mertuaku. Menjilat, mencucup, dan meminum semua cairan yang keluar dari vagina merah itu hingga benar-benar bersih. “Sodok sekarang ya sayang....” Kata Mama Sarah manja. “Tadi katanya ngiluu....” Jawab Markus sok jual mahal lagi. “Ayo sayang.... buruan sodok... “ Kata Mama Sarah lagi sambil mulai membenam-benamkan kepala Markus ke arah selangkangannya. “Memek Mama udah gatel.... pengen cepet-cepet kamu tusuk...” “Hmmm... Yaudah... Tapi kali ini Markus pengen doggy…” “Ooouuggghhh… Doggy...?” Goda Mama Sarah sambil bangun dari posisi tidurnya. "Sekarang giliran kamu yang mulai nakal..." "Ayo mah... Nungging..." “Hmmm.... Dikasih nggak yaaa....?” Merasa tak sabar, Markus buru-buru menangkap tubuh Mama Sarah dan membalikkan badannya dengan paksa. Ia sepertinya juga tak mampu menahan nafsu untuk segera menyetubuhi ibu kandung selingkuhannya itu. “Markus sodok ya mah...” Dengan mudah, Markus mengangkat pinggul wanita setengah baya itu. Memposisikan supaya menungging, dan merentangkan pantatnya lebar-lebar. "Pelan-pelan sayang..." “CLEEEPPP…” “Ouuugghhh.....” Desah Mama Sarah seiring tusukan tegas Markus. Dengan gampang, kepala jamur raksasa milik penis selingkuhan istriku menyeruak masuk ke vagina ibu mertuaku dengan mulus. Begitu pula setengah batang beruratnya, berhasil masuk tanpa hambatan yang berarti. Kali ini, persetubuhan kedua mereka dapat dilakukan dengan lebih cepat. Mungkin karena lendir yang keluar dari vagina Mama Sarah-lah yang membuat batang raksasa Markus itu dapat keluar masuk dengan mudah. “Aaauuuuwww…. Enak banget sayang… Enaaak Bangeeettt… “ Persetubuhan yang pada awalnya mereka lakukan tanpa banyak kata, perlahan mulai terdengar kembali. “Ooouuuhhhh…Terus sayang... Terusss... ” Desahan, Lenguhan, teriakan, dan suara-suara kepuasan mereka makin lama makin menggelora. Suara mereka seolah bersahut-sahutan. Hingga tak berapa lama kemudian, suara mereka mirip seperti apa yang istriku dan Markus lakukan waktu mereka bercinta pertama kalinya setelah tiba di rumah ini. Mereka berdua tak henti-hentinya berteriak. Apakah Mama Sarah tak sadar jika anak semata wayangnya sedang tidur di kamar yang tak jauh dari kamar tempat mereka bercinta? Apakah mereka tak khawatir jika Sarah bisa terbangun dan mengetahui selingkuhannya juga menikmati tubuh ibu kandungnya? “Biarin aja mas….” Ucap suara wanita yang tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. “Mama juga perlu kepuasan lelaki….” “Haaahhh? ?” Dengan cepat, aku menegok ke arah suara itu berasal. Tak jauh dari posisiku berada, aku mendapati istriku yang telah berada di dekatku. Entah sejak kapan ia sudah duduk di sofa yang ada di dekat kamar tamu. Rambutnya kusut, makeupnya luntur acak-acakan. Baju tidur transparantnya compang-camping, menandakan jika ia baru saja bangun dari tidur. “Kenapa dek?…?” tanyaku lagi, meminta penjelasan dan maksud dari pernyataannya barusan. “Semua lelaki tuh sama saja….” Kata Sarah. “Maksud kamu apa dek?” “Iya… semua lelaki itu sama… Tak pernah ada rasa bersyukurnya…” Dengan nada lirih, Sarah menceritakan sebuah aib yang tak pernah aku tahu. Selama ini, papa Sarah, pak Bardi juga melakukan sebuah kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan. Pak Bardi memiliki wanita idaman lain. Bukan, bukan wanita idaman lain, melainkan Pak Bardi memiliki istri lain selain Mama Rena. “Adek punya tiga Mama….” “Adek merasa hidup dan keluarga adek sudah hancur…. Papa punya keluarga lain… Mama suka ama lelaki muda… Suami adek tukang selingkuh… “ bisik istriku lirih. “Biarin lah… Yang penting papa Mama masih terus bersama… Yang penting mereka selalu ada ketika Sarah butuh…” Dan karena alasan itu, mungkin papa Mama Sarah memiliki kesepakatan mengenai aturan pernikahan mereka. Papa Sarah diperbolehkan mengurus keluarga lainnya, selama bisa bertindak adil. Dan Mama Sarah, memanfaatkan kesepakatan mereka dengan cara bersenang-senang dengan lelaki lain. Tentunya Mama Sarah melakukan kesenangan itu tanpa sepengetahuan papa Sarah. “Jadi semua ini terjadi semenjak kamu SMP dek?” “…….” Tak menjawab pertanyaanku, sambil mulai menyalakan rokok yang ada di tangannya, Sarah hanya mengangguk pelan. “Deeekk…? Se… Sejak kapan kamu merokok…?” “Sudahlah mas… Ga usah banyak Tanya-tanya lagi…. Kalo mas nggak suka dengan segala perubahan yang terjadi dalam diri adek, mas bisa tinggalin adek sekarang juga… Ceraikan adek…” “………...” Gantian, sekarang aku yang memutuskan untuk tak membalas semua kata-kata istriku. Satu-satunya alasan kenapa aku nggak pernah mau menceraikan istriku adalah, “Sarah itu istri pembawa hoki...” Ucap seorang lelaki tua yang pernah berbincang denganku dulu. “Dengannya... Kamu nggak akan pernah merasa kekurangan... Semua keinginan, cita-cita dan tujuan yang kamu inginkan bisa terwujud dengan adanya dia disisimu....” Percaya atau tidak, buktinya memang nyata. Semenjak Sarah menjadi istriku, sudah tak terhitung lagi berapa banyak proyek, rejeki, dan keuntungan yang telah aku dapatkan. Dan semenjak Sarah menjadi istriku, kesuksesan berada tak jauh dari sisiku. Namun, aku pikir, saat ini bukanlah saat yang tepat bagiku untuk menceritakan perbincanganku dengan lelaki tua itu. Mungkin cerita itu akan aku uraikan dilain kesempatan. “Sekarang terserah ya mas… Adek sudah bosan dengan ini semua… Adek ingin melakukan apa yang adek mau… Adek nggak mau dipusingkan dengan masalah perselingkuhanmu, masalah orang tua adek, atau masalah-masalah laennya” potong Sarah “Yang jelas…. Selama mama dan papi senang, adek nggak masalah dengan semua ini…” “Satu lagi mas…datu yang perlu mas ingat, karena kelakuan tololmu itu adek jadi begini… Oleh karenanya, adek mohon… Mas jangan pernah sekalipun untuk mencoba melarang atau menghalang-halangi segala macam kesenangan yang adek coba untuk lakukan… Karena semua ini kamu yang mulai…O iya, terus mas jangan kaget juga ya kalau adek juga sebenernya kepengen banget gituan sama satpam di kompleks kita, tukang sampah yang ngambilin sampah tiap pagi, kuli bangunan yang lagi ngebangun di dekat kita, Pak Dibyo si tukang kebun tetangga, sampai pengamen yang sering datang! Yah mungkin nanti kalau ada waktu bisa adek coba” “Apa? jadi kamu ini...” aku terhenyak mendengar pengakuannya, ternyata istriku sudah menjadi wanita sebinal ini. “TING TONG…...” Tiba-tiba. Terdengar suara bel dari arah pintu depan. Aku yang agak sedikit kaget, cepat-cepat mengalihkan perhatianku pada istriku dan melihat kearah kamar tidurnya. Ke arah Mama kandung dan selingkuhan istriku yang sedang memadu birahi mereka. "Mama pasti sedang merasa keenakan... " Ucap Sarah yang tiba-tiba telah berada tepat disampingku, dan mulai menyaksikan persetubuhan yang dilakukan ibu kandungnya. Mendadak, begitu Sarah berada di dekatku, aku baru sadar jika rambut kusutnya bukan karena bekas bantal ketika ia tidur. Akupun baru sadar jika saat itu, aku bisa mencium ada aroma amis yang terpancar dari tubuh istriku. Aroma amis yang khas, mirip aroma cairan pemutih dari arah rambut panjangnya. “Pasti itu ulah si bangsat Markus...” Geramku sambil mencoba melihat sosok istriku lebih seksama lagi. "Rambut Sarah kusut dan beraroma amis pasti karena terkena spermanya.." Tanpa merasa kesulitan, aku bisa tahu jika masih banyak noda spema kering Markus yang berada di sekujur tubuh istriku. Di lehernya, dagu kanannya, dadanya, pundaknya, semua tak luput dari semburan cairan putih kental itu. "Semalam, si Bangsat Markus pasti habis bersenang-senang dengan istriku.." Geramku. “Masukin lebih dalem lagi sayang...” Pinta ibu mertuaku manja. Kembali, perhatianku fokus kearah posisi bercinta ibu mertuaku. Ternyata posisi bercinta mereka sudah berubah. Sekarang mereka menggunakan posisi missionaries, lelaki diatas wanita di bawah. Sambil terus meremas payudara ibu mertuaku, Markus yang telah meletakkan kedua betis Mama Sarah di pundaknya, mulai membombardir vagina Mama Sarah dengan penis panjangnya. “Ssshhh…. Terus sayang…. Sodok terusss… Terus….” Pinta Mama Sarah yang sudah sangat terangsang sambil terus melingkarkan kaki jenjangnya ke leher Markus. Keduanya terlihat begitu asyik, sampai-sampai mereka sama sekali tak terganggu oleh suara bel rumah yang baru saja berbunyi. "Lihat senyum Mama deh mas... " ucap Sarah menunjuk kearah ibunya yang sedang menunggangi penis Markus "Bersama mas Markus, Mama terlihat begitu bahagia..." Kulihat, bibir tipis Sarah tersenyum, matanya menatap persetubuhan ibu kandungnya dengan tatapan kosong. "Mas Markus... Dia memang seorang pejantan sejati... Dia bakal selalu memuaskan semua wanita-wanitanya..." ucap Sarah lirih. Tiba-tiba, istriku melihat kearahku. Bibirnya masih tersungging tipis. "Kamu horny ya mas...?" Bisiknya padaku. "Ma...Maksud kamu dek?" "Iya... Kamu ngaceng khan?..." Tanyanya lagi sambil melirik dan menjulurkan tangannya ke arah celana kolorku yang sudah menonjol. Perlahan, ia mulai meraba, lalu mengusap penis tegangku dari luar celana. "Kontolmu keras banget mas..." Bisik Istriku “Kamu pasti kepengen ya...?” "......" Karena malu, aq memilih untuk tak menjawab kalimat Sarah barusan. “TING TONG... TING TONG....” Sekali lagi, terdengar suara bel yang menggema di seluruh penjuru rumah. Dan sekali lagi, tak ada seorang pun yang mempedulikannya. Mama Sarah dan Markus, benar-benar seperti orang buta tuli, sama sekali tak mempedulikan apa yang terjadi di sekitar mereka. Termasuk diriku, yang juga mencoba tak menghiraukan tamu yang ada di pintu depan. Aku hanya berusaha fokus untuk menikmati keindahan goyangan tubuh ibu mertuaku ketika ia bercinta dan merasakan kenikmatan kocokan tangan istriku. Tiba-tiba, Sarah menurunkan bagian depan celana kolorku lalu menarik dan meremas batang penisku. “Deek... “ pekikku lirih. “Sshhh..... “ Bisik Sarah pelan sambil menempelkan jemari telunjuk tangan kirinya di depan mulutku. "Jangan berisik mas... Nikmatin ajah..." Perlahan, jemari tangan istriku mulai mengurut penis tegangku. Aku yang semula kaget, lambat laun mulai menikmati remasan jemari tangan istriku. Benar-benar sebuah sensasi yang sulit untuk dapat aku lupakan. Melihat persetubuhan ibu mertuaku sembari merasakan nikmatnya remasan lembut tangan istriku, membuat birahiku semakin memuncak. "Mama seksi banget ya mas?" Tanya Sarah tiba-tiba tanpa menghentikan urutan tangannya pada batang penisku. Sejenak, ia berhasil lagi membuyarkan perhatianku. "Liat deh goyangan Mama... Benar-benar hot..." "......" Lagi-lagi, aku diam, tak berkomentar apapun. Hanya bisa merem melek keenakan. "Kadang Sarah merasa iri ama Mama..." "I... Iri...?" "Liat aja mas... Di usianya yang sudah menginjak 40an, Mama masih terlihat begitu menawan..."Ucap Sarah sambil terus mengocok batang penisku "Tubuhnya masih langsing, kulitnya masih kenceng, dan teteknya itu loh... Besar banget..." "Terus sayang... Teruuusss... Ooooowwwhhh... " Teriak Mama Sarah disela-sela curhat anaknya padaku. "Mama selalu bisa dengan mudah menarik perhatian bayak lelaki..." Sambung istriku lagi "Termasuk menarik perhatian mas Markus...” Tambah Sarah sambil menghela nafas panjang. “Semenjak datang kerumah ini, ia sudah benar-benar kepincut dengan Mama Sarah" "Iya... Kepincut untuk bisa ngentotin memek Mama kamu dek...." batinku dongkol yang terus mendengar cerita Sarah. “Sejak kali pertama adek kenalin Mama ke mas Markus, berkali-kali mas Markus meminta ijin Sarah supaya bisa dekat dengan Mama... “Jelas Hingga akhirnya, Sarah mengijinkan dia untuk bisa menyetubuhi Mama..” “Kamu nggak pengen mas…?” Tanya istriku lagi. “Ssshhh..... Pengan apa dek…?” Jawabku bingung dengan nada keenakan. “Pengen itu… “ ucap Sarah sambil memonyongkan bibirnya kearah persetubuhan Mamanya dengan Markus. "Begituan...?" tanyaku mencoba meyakinkan "Iya... Begituan... ” "Begituan...?” Aku semakin bingung. “Begituan ama syapa dek? Ama Mama kamu...?” “Ya ama adeklah mas… Emang mas mau ngentot ama syapa lagi...?" “Mak... Maksud aku…. “ “Oooowww…. Adek tahu… “ Kata istriku tiba-tiba sewot. Dengan sebal, penisku yang semula dikocoknya perlahan, langsung saja ia buang keras-keras. “Jadi mas juga pengen ngentotin Mama adek…?” “Bu… bukan gitu dek… aku cum….” “Adek nggak nyangka kamu juga pengen ngentotin Mama adek mas…. Adek benar-benar nggak nyangka…” “Tunggu penjelasan aku dulu dek…” “TING TONG…... TING TONG…… TING TONG……” Kembali terdengar suara bel dari arah pintu depan. Namun kali ini, sepertinya tamu yang ada di pintu depan sudah tak sabar lagi menunggu pemilik rumah untuk segera membukakan pintu. Mendengar suara bel yang cukup mengganggu barusan, aku langsung menaikkan celana kolorku dan melihat ke arah kamar tidur Sarah. Aku khawatir, suara tersebut akan mengganggu kesibukan Mama Sarah dan Markus. Namun sekali lagi aku salah. “Gila.... Mereka sama sekali tak terganggu....” Melihat kedua manusia yang sedang bergoyang memadu birahi, aku kembali fokus dan melupakan suara bel barusan. Terlebih ketika aku melihat vagina Mama Sarah yang semakin memerah dan belepotan busa keputihan, karena sodokan penis besar Markus, saking terangsangnya. Aku benar-benar seperti orang yang sedang terhipnotis. Hanya diam mematung dengan mulut terbuka. Dan ketika Sarah mellihat tingkah mematungku karena terhipnotis akan gerakan tubuh ibu kandungnya, ia mendadak sewot. “Udahlah mas… adek mau kebawah dulu…” potong Sarah. “Kamu disini aja mas… Seneng-senengin deh ngelihat wanita yang pengen kamu entotin itu... SEPUAS-PUASNYA….” Lagi-lagi sebuah kesalahpahaman terjadi antara aku dan istriku. Dan aku tahu, ketika Sarah emosi atau ngambek, dia tak akan meladeniku segala macam interaksiku untuk beberapa saat. Yang bisa aku lakukan hanyalah, menggeleng-gelengkan kepala dan membiarkan emosi istriku turun dengan sendirinya. Lagipula jika dipikir-pikir, lelaki normal mana coba, yang mampu menolak jika diajak bersetubuh dengan wanita se-bohay Mama Sarah? Hanya lelaki gila saja mungkin yang bakal membuang kesempatan emas itu. Entah kenapa, dengan berat hati, kutinggalkan acara menonton persetubuhan ibu mertuaku dengan selingkuhan istriku itu. Lalu kulangkahkan kakiku kebawah, menyusul istriku ke arah ruang tamu. Sesampainya dibawah, aku melihat dua orang lelaki dengan pakaian mekanik yang sedang sibuk berbincang dengan istriku. Sepertinya mereka adalah montir langganan ibu mertuaku. “Sa... Saya Jali bu… Dan ini anak saya Randu…” Ucap gugup seorang lelaki tua yang sedang memperkenalkan diri kepada istriku. “Ke... Kemaren mbok Ratmi... Mbok Ratmi yang menelpon saya bu… “ Tanpa berpikir lama, aku langsung tahu apa yang menyebabkan lelaki tua ini begitu gugup ketika sedang bercakap dengan istriku. Kegugupan Pak Jali nya adalah dikarenakan pakaian tidur transparant yang dikenakan Sarah waktu itu. Pakaian biru tipis yang dikenakan Sarah pasti membuat mata kedua lelaki itu seolah ingin meloncat keluar dari pelupuk matanya. Terlebih karena sinaran cahaya luar rumah yang terang, membuat keseksian tubuh istriku semakin terlihat jelas. Sama sepertiku barusan ketika melihat ibu mertuaku bercinta, mereka mematung, mirip orang terkena hypnotis. “Jangan panggil saya bu donk pak… Panggil aja Sarah …” “Eh...Eh iya… Non Sa... Sarah, kemaren mbok Ratmi yang menelpon saya… Katanya... Kata mbok Ratmi... A... Ada barang yang rusak…?” Jelas pak Jali yang sedari tadi menatap heran kearah kerak-kerak putih yang menempel dileher dan dada istriku. “Ooohhh... Jadi tujuan bapak-bapak kemari adalah untuk menservice barang saya?” Tanya istriku sambil menekankan kata ‘service’ dengan genitnya. “IYA... ” Jawab Randu tiba-tiba. “Eh... Maksud saya... Pasti barang non Sarah puas deh dengan service saya... Ehh.. Aduhh.. Maksud saya...” “Udah-udah... Sing sopan kowe le...” Potong pak Jali sambil membekap mulut anaknya supaya diam. “Maafin kelakuan anak saya ya Non...” “Hihihi... Kalian lucu banget deh... “ Tawa istriku masih dengan nada genit. “Eh iya pak… Yuk ... Kita periksa dulu barang saya... Eh... Maksud Sarah, mesin cucinya... " Canda istriku ramah dan mempersilakan kedua orang itu masuk kedalam rumah. "Silakan masuk dulu, mesin cucinya ada di dekat dapur…” Kata istriku tenang, berusaha tak menghiraukan tatapan mesum kedua lelaki yang ada didepannya. Tanpa memperkenalkan diriku, Sarah melangkah begitu saja melewatiku ke arah belakang rumah. “Mas Surya... Tolong buatin aer minum buat bapak-bapak ini...” Perintah istriku ketus sambil terus berjalan “Mbok Ratmi sedang adek suruh beli makan siang...” “Pe... Permisi pak...” Ucap Randu sopan sambil sedikit membungkukkan badan ketika ia melewatiku. Disusul oleh pak Jali yang juga berlaku sama, sedikit membungkuk sopan ketika melewatiku. “Jadi gini pak... Mesin cuci Mama sepertinya bermasalah... Kenop mesin cucinya susah untuk diputar, dan mesin pengeringnya terkadang sering mati...” Jelas istriku panjang lebar, mirip sales mesin cuci. Mereka, tanpa menghiraukanku sama sekali langsung menuju ke arah dapur dan meninggalkanku sendiri di ruang tamu. “Memangnya aku pembantu...?” Gerutuku dalam hati. Dengan perasaan kesal, aku mencoba untuk tetap tenang dan mengerjakan apa yang istriku minta. Aku segera mengikuti ke arah dapur dan mulai berkutat menyiapkan perintah istriku. “Nih sirupnya dek… mas taroh di atas meja makan aja ya….” “…………...” Alih-alih menjawab pertanyaanku, Sarah hanya melengos ketika aku mendekat ke arahnya. “Iya gitu mas… Jadi gimana? Bisa khan mbenerin barang saya...? Eh maksud Sarah, Mesin cuci saya ini…?” Tanya istriku, lagi-lagi menggoda kedua lelaki itu. “ Kalo bisa mbenerin dengan cepet… Sarah kasih hadiah deeeehh...” tambah istriku sambil mengerlingkan mata. “Sialan….” Gerutuku. “Dengan terang-terangan, istriku malah menggoda para mekanik ini…. “Hehehe... “ Kekeh pak Jali. “Bisa kok non... Kami pasti bisa kok ngebenerinnya...” “Iya Non... Semua masalah mesin cuci non bisa langsung kami atasi dengan super cepat...” Sahut Randu dengan mata yang tak sekalipun berhenti memandang tubuh istriku dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Hehehe... Non pasti puas deh...” balas pak Jali yang berlaku serupa. Sumpah. Melihat tingkah bapak anak yang ada di depanku itu, benar-benar membuatku muak. Kelakuan mesum mereka sama sekali tak ditutup-tutupi. Terlihat dengan jelas. Namun anehnya, melihat mereka, istriku bukannya menjadi risih. Ia malah semakin menggoda mereka, semakin bermain api. Niatanku untuk menyegarkan badan disela-sela deadline laporan kali ini sepertinya gagal total. Bukannya mendapat rasa segar, aku malah mendapatkan nafsu birahi yang meninggi karena persetubuhan ibu mertuaku, rasa sebal karena kesalahpahaman istriku, dan emosi yang meninggi karena tingkah mesum kedua mekanik itu. “Bakal semakin emosi aja nih kalo harus ngeladenin ini semua…” “Aku naek ajalah dek...” Ucapku sewot. “........” Sama seperti tadi, Sarah tak menjawab kalimatku. Ia hanya melihatku sekilas lalu kembali melengos dan bercanda dengan para mekanik mesum itu. Cepat-cepat aku meninggalkan dapur dan segera balik ke pekerjaanku dikamar atas. Aku mencoba untuk tak akan memperdulikan semua emosi yang ada di dalam diriku. Karena tenggat pekerjaanku sudah semakin dekat, aku harus segera focus dan menyelesaikan semua laporanku.Secepatnya. Sesampainya di kamar tamu, aku langsung memasang headset, dan kusetel music kencang-kencang. “Aku butuh konsentrasi…” Namun, walau headset sudah terpasang erat dan suara music sudah menggemuruh ditelingaku, konsentrasi itu tak juga bisa aku kumpulkan. Berkali-kali aku teringat dan membayangkan tentang persetubuhan yang ibu mertuaku lakukan di kamar sebelah. Dan berkali-kali itu pula, konsentrasiku langsung buyar. Selain itu, penisku pun entah kenapa, susah sekali untuk diajak bekerja sama. Karena walau sudah hampir satu jam aku bekerja, batang kejantananku itu tak juga melemas. Mendadak, aku teringat akan saran yang sering aku dengar dari banyak teman ketika mereka stres karena birahi. “Satu-satunya cara supaya bisa konsentrasi dan terbebas dari nafsu birahi adalah dengan cara bercinta... Atau... Onani…” Karena aku tak memiliki partner untuk bercinta, oleh karenanya aku memilih opsi yang kedua. Tanpa banyak berpikir, aku segera menurunkan celana kolorku lalu membuka situs porno favorit melalui laptop kerjaku. Sembari menatap layar monitorku dengan penuh nafsu, aku mulai meremas perlahan penisku yang sudah mengeluarkan precumnya lalu kugerakkan tanganku naik turun. Satu film, dua film, tiga film, semua sudah aku lihat. Namun entah kenapa, walau sudah melihat beberapa macam film, aku sama sekali tak juga bisa menemukan kenikmatan dari onani kali ini. Aku tak bisa konsentrasi, pikiranku seolah kembali terus terfokus kepada apa yang sedang terjadi di kamar sebelah. Di kamar istriku, di dalam kamar tempat Mama Sarah dan Markus sedang memacu birahi. Suara desahan manjanya, goyangan payudara besarnya, hempasan pinggul rampingnya, dan kenyotan mulut vaginanya, benar-benar membuatku mabok birahi. Tak mampu menahan hasrat, aku segera keluar dari kamar tamu dan segera ke kamar tidur istriku. Namun, begitu aku sampai didekat pintu kamar tidur Sarah yang masih saja terbuka, aku tak lagi mendapati persetubuhan ibu mertuaku dan Markus. Sepertinya mereka telah selesai. Karena yang kudapati saat itu hanyalah dua tubuh telanjang yang telah terkapar lemas. Nampaknya, mereka berdua tertidur karena kelelahan bercinta. Karena dimataku, tidur mereka berdua terlihat begitu tenang dan damai. Tiba-tiba, aku mendapat ide gila. “Selagi Mama Sarah tidur... Ini kesempatanku untuk dapat melihat tubuh seksinya dari dekat...” Karena rasa penasaran yang menggebu-gebu, aku memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar Sarah dan melihat keseksian tubuh Mama Sarah dari dekat. Dan dengan menjingkatkan jari kaki, aku berjalan masuk ke dalam kamar tidur Sarah dan mendekat kearah kedua sosok manusia yang sedang tertidur dengan lelap. “WOOOWW… BENAR-BENAR TUBUH YANG MENGGAIRAHKAN…” itu kesan pertama yang terlintas dalam benakku ketika melihat ketelanjang tubuh Mama kandung istriku. Dari cara mereka tidur, aku bisa tahu, jika mereka baru saja melakukan hal yang luar biasa melelahkan. Markus tidur, mendengkur keras dengan posisi telentang, wajahnya menghadap langit-langit kamar. Sedangkan Mama Sarah tidur dengan kepala bersandar di lengan kiri Markus. Memeluk manja tubuh telanjang Markus sambil tersenyum, menganggap Markus adalah guling raksasanya. Tubuh telanjang wanita paruh baya yang ada dihadapanku ini masih terlihat begitu hot. Sama sekali tak menampakkan jika Mama Rena telah berusia lebih dari 40 tahun. Dan dibawah terpaan cahaya dari jendela kamar, kulit tanpa lukanya terlihat begitu seksi, mengkilap karena keringat, kencang dan terawat. “Pantat Mama Sarah memiliki dua buah lesung yang benar-benar dalam…” pujiku dalam hati. “Nggak heran, jika Mama mertuaku terlihat begitu kuat dan beringas di atas ranjang…” Senti demi senti, mataku seolah merekam semua detail yang ada pada tubuh ibu mertuaku itu. Dari ujung kepala hingga ujung kaki aku perhatikan dengan seksama. “Benar-benar tubuh indah yang sempurna…” Pujiku lagi “Mama Rena memang benar -benar seorang bidadari...” “Kamu benar-benar seksi mah….” Ucapku sembari mengusap penisku yang telah keras menegang dari luar celana. Dengan detak jantung yang tak karuan, kuberanikan diri untuk membawa diriku lebih dekat lagi kearah Mama Sarah tidur. Hingga pada akhirnya aku mencoba sedikit keberuntunganku untuk mencium pipi ibu mertuaku yang sedang terlelap nyenyak itu. “CUUUPPP….” Kuhirup aroma pipi Mama Sarah dalam-dalam, sambil mencoba mengetahui respon pada dirinya. “Mama Sarah tak bergerak... Ia tetap tertidur pulas…” “CUUUPPP….” Kali ini bibirku mengecup bibir Ibu mertuaku, sambil terus memperhatikan respon darinya. “Ia masih tertidur...” “CUUUPPP... Mmmmpppfffhhh...” Bertindak semakin jauh, kali ini aku mulai memberanikan diri untuk mengecup bibir sambil memasukkan lidahku. Dan tetap saja, Mama Sarah tak merespon sama sekali. Mendadak, tubuhku bergetar. Walau Mama Sarah masih dalam kondisi tertidur lelap dan tak membalas kecupanku, entah kenapa ketika aku mencium bibirnya aku mendapat perasaan yang begitu emosional. Hatiku langsung berbunga-bunga. Seolah aku baru saja mengucapkan perasaan cinta kepada wanita yang aku sayang. Sekali lagi aku mencoba keberuntunganku lebih jauh lagi. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah payudara besar ibu mertuaku. Dengan tangan yang gemetaran, aku mencoba untuk menyentuh gumpalan daging yang ada di depan dada Mama Sarah. “Ooohhh… Tetek ini lembut sekali...” Ujarku kegirangan. “Pantes si bangke Markus demen banget nyaplokin tetek Mama Sarah…” Melihat respon tubuh Mama Sarah yang masih saja tertidur lelap, aku menjadi semakin bersemangat. Aku menjadi seolah lupa daratan, karena tanpa sadar, tanganku mulai meremas-remas payudara besar ibu mertuaku. “Mama Sarah pasti dalam kondisi ‘DeepSleep’...” Pikirku. Karena walau berulang kali aku meremas kedua payudaranya, tubuhnya sama sekali tak merespon. “Kamu benar-benar terpuaskan ya mah…? Markus pasti benar-benar ‘menghajarmu’ habis-habisan…” Melihat Mama Sarah yang masih mendengkur halus karena tidur lelapnya, aku ingin mencoba peruntungan lagi.. “Gimana ya rasanya memek Mama Sarah…?” tanya pikiran gilaku. Dengan NEKAT, aku mengalihkan semua perhatianku ke arah selangkangan Mama Sarah. Dengan perlahan, aku mulai berjongkok di samping tubuh telanjangnya dan mengamati celah kenikmatan ibu mertuaku yang masih berkilauan lendir kenikmatannya. “Masa bodohlah… Kalo ketahuan ya sudah….” Pikirku habis akal. Dengan jantung yang berdetak tak karu-karuan, kuberanikan diri untuk menjulurkan telapak tanganku kearah vagina Mama istriku itu. “Wwwoooooowwww…. Hangat bangeeeet...” Itu satu-satunya hal yang bisa aku ceritakan dari vagina gemuk milik ibu mertuaku itu. Daging belah itu terlihat begitu menggembung dan mengkilap. Dan herannya, dari celah vagina Mama Sarah, sperma Markus tak henti-hentinya merembes keluar. Kudekatkan jemari tanganku yang belepotan cairan vagina Mama Sarah, dan kuhirup aroma amisnya perlahan. Dan entah kenapa, ada dorongan dari dalam kepalaku untuk mencoba merasakannya. “Asin….” Ucapku dalam hati. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, aku pun tak mengerti mengapa aku bertingkah seperti itu. Yang jelas, saat itu aku benar-benar ingin merasakan cairan vagina ibu mertuaku yang telah bercampur dengan sperma selingkuhan istriku itu. Kujulurkan jemari tanganku ke arah vagina Mama Sarah lagi, mencoba mencolek cairan vagina Mama Sarah lebih banyak dari sebelumnya. Kuturunkan celana kolorku dan kukeluarkan batang penis kecilku yang sudah begitu tegang. Lalu dengan jemari yang masih berlumuran cairan kenikmatan Mama Sarah, aku mulai mengoles-oleskan lendir itu kebatang penisku. Dan begitu aku merasa penisku telah licin oleh cairan vagina Mama Sarah, aku mulai mengocoknya perlahan. Semakin lama, kocokan jemariku semakin cepat. Semakin cepat. Dan semakin cepat. “OOouugghhh…. Mama Rena …...” Perlahan tapi pasti, rasa panas dari kantong zakarku pun mulai terasa. Dadaku berdetak semakin cepat, nafasku pun semakin menderu. Aku tahu, jika tak lama lagi orgasmeku mulai tiba. Aku terus mengocok batang penisku sambil mengamati keseksian tubuh ibu mertuaku. Dan beberapa detik lagi, sensasi nikmat orgasmeku dapat segera kurasakan. Namun, ketika sedang enak-enaknya mendaki kenikmatan beronani, tiba-tiba terdengar teriakan lantang Sarah dari arah dapur. “AAAUUWWW….” “PRAANNNGG...!!!” Mendengar kegaduhan barusan, Mama Sarah sepertinya sedikit merespon. Ia sedikit menggeliat dan membuka matanya. Melihat reaksi Mama Sarah, secepat kilat aku langsung merebahkan tubuhku di sisi tempat tidur. Bersembunyi dibawah kolong tempat tidur. Berharap Mama Sarah tak bangun dari tidurnya. “Kampreeettt…. “ Umpatku dalam hati. “Semoga Mama nggak bangun… Semoga Mama nggak bangun…” Dan benar, setelah aku menunggu beberapa lama, suara dengakur halus ibu mertuaku kembali terdengar. “Fiuhhh….” Legaku dalam hati. “Untung saja Mama Rena nggak bangun dan melihatku berada dibawah sini...” Buru-buru aku mengakhiri sesi onaniku dan segera memasukkan kembali batang penisku yang sudah kembali lemas ke dalam celana kolorku. Karena kegaduhan barusan, aku merasa birahiku sudah hilang dan nafsuku entah kemana. Semua rasa ingin terpuaskan itu mendadak berubah menjadi perasaan was-was karena suara teriakan Sarah. Menginggalkan tubuh telanjang ibu mertuaku yang tertidur lelap dibelakang sana bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Bak kalah tender, perlu banyak sekali pengorbanan yang harus dilakukan. Pengorbanan keberuntunganlah satu-satunya hal yang aku sayangkan. Entah kenapa, ketika aku hendak mengetahui apa yang sedang terjadi dilantai bawah rumah istriku, aku berjalan dengan mengendap-endap. Menuruni satu persatu anak tangga dalam diam. Berusaha tak menimbulkan suara apapun, hingga aku bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan istriku tadi. Dan begitu aku sampai di dapur tempat istriku tadi berada bersama tamu-tamunya, aku mendapati sebuah pemandangan yang membuat detak jantungku berhenti. DEG…Mendadak, kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang, dan nafasku berat. Jantungku seperti berhenti berdetak dan lututku kehilangan tenaga. Tubuh lemas, kakiku lunglai, sama sekali tak mampu menahan semua berat tubuhku. Sebelum ambruk, buru-buru aku mencari kursi terdekat dari tempatku berdiri dan menyandarkan tubuhku padanya. Aku, dengan mata kepalaku sendiri, melihat istri tersayangku sedang melakukan persetubuhan dengan kedua tukang service itu. Mereka berdua sedang menikmati kedua lubang kenikmatan yang ada di tubuh seksi istriku. Pak Jali dengan batang penis yang penuh dengan bentolan, sedang menusuki vagina Sarah dari arah belakang. dan anaknya Randu, dengan penis bengkoknya sedang menyodoki mulut Sarah dari arah depan. Yup. Mereka sedang melakukan Threesome.


Admin Mesum - 22.42
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved