;
Promosi Blog Gratis
My Ping in TotalPing.com

Sabtu, 17 Maret 2012

PHK

Sabtu, 17 Maret 2012

Aku bekerja di perusahaan kontraktor swasta di daerah Indramayu yang mempunyai sekitar 20 pegawai dan 3 orang diantaranya adalah wanita. Pada umumnya pegawai-pegawai itu datang dari desa sekitar perusahaan ini berada dan rata-rata pegawai prianya sudah bekerja di perusahaan ini sekitar 15 tahunan lebih, sedangkan aku diperbantukan dari kantor pusat di Jakarta dan baru sekitar 1 tahun di kantor cabang ini sebagai kepala personalia merangkap kepala keuangan. Karena pindahan dari kantor pusat, maka aku dapat tinggal di rumah yang disewa oleh perusahaan. Istriku tidak ikut tinggal di sini, karena dia juga kerja di Jakarta, jadi kalau tidak aku yang ke Jakarta setiap Jum'at sore dan kembali hari Minggu sore atau istriku yang datang.

Hubungan antar para pekerja begitu akrab, sehingga beberapa diantara mereka ada yang sudah menganggap aku sebagai saudara atau anaknya saja. Dalam situasi seperti sekarang ini, perusahaan dimana aku bekerja juga mengalami krisis yang cukup serius dan jasa pekerjaan yang kami terima dari perusahaan kilang minyak dan perusahaan lainnya juga semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan pimpinanku memerintahkan untuk mengurangi beberapa orang pegawainya dan ini harus kulaksanakan dalam waktu sebulan ini. Setelah kupilah-pilah dari 20 orang pegawai itu, lalu aku mengambil 5 orang pegawai yang paling tua dan yang dalam 1 atau 2 tahun ini akan mencapai usia 55 tahun, lalu aku menyuruh sekretaris kantor yang bernama Sri (samaran) dan juga dari penduduk di sekitar perusahaan untuk mengetik draft surat-surat yang sudah kupersiapkan dan rencanaku dalam 2 minggu ini masing-masing pegawai akan kupanggil satu persatu untuk keberikan penjelasan sekaligus memberikan golden shake hand pesangon yang cukup besar. Sri adalah salah satu diantara 3 pekerja wanita di sini dan umur mereka bertiga sekitar 30 tahunan. Sri, menurut teman-teman kerjanya adalah seorang pegawai yang agak sombong, entah apa yang disombongkan atau mungkin karena merasa yang paling cantik diantara ke 2 wanita lainnya.

Padahal kalau aku bandingkan dengan pekerja wanita di kantor pusat Jakarta, belum ada apa-apanya. Suaminya Sri menurut mereka itu sudah setahun ini bekerja di Arab sebagai TKI. Di hari Jum'at sore, sewaktu aku besiap siap akan pulang, tiba-tiba muncul salah seorang pegawai yang biasa kupanggil Pak Tus datang menghadap ke ruangan kantorku. "Ada apa Pak Tus", tanyaku. "Ini..., Pak..., kalau Bapak ada waktu, besok saya ingin mengajak Bapak untuk melihat kebun buah-buahan di daerah pegunungan sekitar Kuningan dan peninggalan orang tua saya, siapa tahu Bapak tertarik untuk membelinya". Setelah kipikir sejenak dan sekaligus untuk menyenangkan hatinya karena Pak Tus ini adalah salah satu dari pegawai yang akan terkena PHK, segera saja permintaannya kusetujui. "Oke..., Pak Tus, boleh deh, kebetulan saya tidak punya acara di hari Sabtu dan Minggu ini..., kita pulang hari atau nginap Pak...? "Kalau Bapak nggak keberatan..., kita nginap semalam di gubuk kami..., Pak.., dan kalau Bapak tidak berkeberatan, saya akan membawa Istri, anak dan cucu saya, Biar agak ramai sekaligus untuk masak.., karena tempatnya agak jauh dari warung", jawab Pak Tus dengan wajah berseri. "Yapi..., Pak..., saya tidak punya kendaraan.., lanjut Pak Tus dengan wajah agak sedih". "Pak..., Tus..., soal kendaraan jangan terlalu di pikir, kita pakai Kijang saya saja.., dan Pak Tus boleh membawa semua keluarganya, asal mau berdesak-desakan di Kijang dan besok jam 10 pagi akan saya jemput ke rumah Pak Tus", sahutku dan Pak Tus dengan wajah berseri kembali lalu mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang.

Besok paginya sekitar jam 10 pagi aku menjemput ke rumah Pak Tus yang boleh dibilang rumah sangat sederhana. Di depan rumahnya aku disambut oleh Pak Tus dan Istrinya. Aku agak terkejut, karena Isrinya kelihatan jauh lebih muda dari yang kuduga. Dia kutaksir berumur sekitar 35 tahunan dan walau tinggal di kampung tapi sepertinya tidak ketinggalan jaman. Istri Pak Tus mengenakan rok dan baju agak ketat tanpa lengan serta ukuran dadanya sekitar 36C. "silakan masuk..., Pak...", katanya hampir serentak, "Ma'af Pak..., rumahnya jelek", sambung Pak Tus. "Ah, Bapak dan Ibu.., bisa saja, Oh iya..., anak dan cucu nya apa jadi ikut?", sahutku sambil bertanya karena aku tidak melihat mereka. "Oh..., si Aminah (mana disamarkan) sedang di belakang menyiapkan barang-barang bawaannya dan cucu saya tidak mau pisah dari ibunya", sahut Pak Tus. Tidak lama kemudian dari belakang muncul wanita muda yang tidak bisa dibilang jelek dengan tinggi sekitar 160 Cm serta memakai T shirt ketat sedang menggendong anak laki-laki dan tangan satunya menjinjing tas agak besar, mungkin berisi pakaian. "Pak..", kata Pak Tus, yang membuatku agak kaget karena aku sempat terpesona dengan body Aminah yang yang aduhai serta berjalan dengan dada yang menantang walau ukuran dadanya boleh dibilang tidak besar. "Paak..., ini kenalkan anak perempuan saya..., Aminah dan ini cucu saya Dodi". Kusambut uluran tangan Aminah serta kujabat tangannya yang terasa agak dingin dan setelah itu kucubit pipi Dodi. "Ayo..., Pak...", ajak Pak Tus, "Kita semua sudah siap dan bisa berangkat sekarang". "Lho..., apa bapaknya Dodi tidak ikut..., Pak?, tanyaku dan kulihat Pak Tus saling berpandangan dengan Istrinya, tapi yang menyahut malah Aminah. "Enggak kok..., Pak..., dia lagi pergi jauh". "Ayo..., lah kalau begitu..., kita bisa berangkat sekarang.., Pak", kataku walau aku masih ada tanda tanya besar dalam hatiku soal suami Aminah.

Sesampainya tempat yang dituju, aku jadi terkagum-kagum dengan kebun yang dimiliki Pak Tus yang cukup luas dan tertata rapi serta seluruhnya ditanami pohon buah-buahan, bahkan banyak yang sedang berbuah. Rumah yang boleh dibilang tidak besar, terletak di bagian belakang kebun itu. "Ayo..., Pak, kita beristirahat dulu di gubuk, nanti setelah itu kita bisa keliling kebun melihat pohon-pohon yang ada", kata bu Tus dan disambut dengan sahutan Pak Tus. "Iyaa..., Pak..., silakan istirahat ke rumah dulu, biar Istri saya menyiapkan minum buat Bapak, sedang saya mau ketemu dengan yang menjaga kebun ini. Lalu aku dan Bu Tus berjalan beriringan menuju rumahnya dan sepanjang perjalanan menuju rumah kupuji kalau kebunnya cukup luas serta terawat sangat baik. "Aahh..., Bapak..., jangan terlalu memuji..., kebun begini.., kok dibilang bagus.., tapi inilah kekayaan kami satu-satunya dan peninggalan mertua", kata bu Tus yang selalu murah senyum itu. Ketika mendekati rumah, Bu Tus lalu berkata, "silakan Pak..., masuk", dan aku segera katakan, "silakan..., sambil bergeser sedikit untuk memberi jalan pada bu Tus.

Entah mengapa, kami berdua berjalan bersama masuk pintu rumah sehingga secara tidak sengaja tangan kiriku telah menyenggol bagian dada bu Tus yang menonjol dan kurasakan empuk sekali. Sambil kupandangi wajah bu Tus yang kelihatan memerah, segera kukatakan. "Maaf..., bu..., saya tidak sengaja", Bu Tus tidak segera menjawab permintaan maafku, aku jadi merasa agak nggak enak dan takut dia marah, sehingga kuulangi lagi. "Benar..., buu..., saya tidak sengaja...". "Aahh..", Pak Pur.., saya nggak apa apa kok..., hanya..., agak kaget saja, lupakan.., Pak..., cuma gitu saja..., kok", kata bu Tus sambil tersenyum. "Oh iya..., Bapak mau minum apa", tanya bu Tus. "Terserah Ibu saja deh". "Lhoo..., kok terserah saya..?"."Air putih juga boleh kok bu". Setelah bu Tus ke belakang, aku lalu duduk di ruang tamu sambil memperhatikan ruangan nya model rumah kuno tetapi terawat dengan baik. Tidak terlalu lama, kulihat bu Tus yang telah mengganti bajunya dengan baju terusan seperti baju untuk tidur yang longgar berjalan dari belakang sambil membawa baki berisi segelas teh dan sesampainya di meja tamu dimana aku duduk, bu Tus meletakkan gelas minuman untukku sambil sedikit membungkuk, sehingga dengan jelas terlihat dua gundukan besar yang menggantung didadanya yang tertutup BH dan bagian dalam badannya, membuat mataku sedikit melotot memperhatikannya. "Iihh..., matanya Pak Puur..., kok..., nakal.., yaa", katanya sambil menyapukan tangannya dimukaku serta tersenyum. Aku jadi agak malu dikatakan begitu dan untuk menutupi rasa maluku, aku jawab saja sambil agak bergurau. "Habiis..., bu Tus berdirinya begitu..., sih. "Aahh..., bapak ini..., kok sepertinya..., belum pernah melihat seperti itu saja", sahut bu Tus yang masih berdiri di dekatku dan mencubit tanganku. "Betul kok..., buu..., saya belum pernah melihat yang seperti itu, jadi boleh kan buu..., saya lihat lagi..?". "aahh..., bapak..", kembali mencubitku tetapi sekarang di pipiku sambil terus berjalan ke belakang.

Setelah minuman kuhabiskan, aku lalu balik keluar menuju ke kebun dan ngobrol dengan pak Tus yang sedang membersihkan daun-daun yang berserakan. Selang berapa lama, kulihat bu Tus datang dari dalam rumah sambil membawa gulungan tikar dan setelah dekat lalu menggelar tikarnya di kebun sambil berkata kepada suaminya. "Paak..., kita ajak Pak Pur makan siang disini saja..., yaa", dan pak Tus tidak menjawab pertanyaan istrinya tetapi bertanya kepadaku. "Nggak..., apa-apa..., kan.., paak.., makan di kebun..? Biar tambah nikmat". "Nggak apa apa kok.., paak", jawabku. Tidak lama kemudian dari arah rumah tetangganya, kulihat Aminah yang sudah mengganti bajunya dengan baju terusan yang longgar seperti ibunya datang membawa makanan dan sambil membungkuk meletakkan makanan itu di tikar dan aku yang sedang duduk di tikar itu kembali melihat buah yang menggantung di dada, dan sekarang dadanya Aminah. Kelihatan sekali kalau Aminah tidak mengenakan BH dan ukurannya tidak besar. Aminah tidak sadar kalau aku sedang memperhatikan buah dadanya dari celah bajunya pada saat menaruh dan menyusun makanan di tikar. Setelah Aminah pergi, sekarang datang Ibunya sambil membawa makanan lainnya dan ketika dia membungkuk menaruh makanan, kembali aku disungguhi pemandangan yang sama dan sekarang agak lama karena makanan yang disusun oleh Aminah, disusun kembali oleh bu Tus. Tidak kuduga, tiba-tiba bu Tus sambil tetap menyusun makanan lalu berkata agak berbisik, mungkin takut didengar oleh suaminya yang tetap masih bekerja membersihkan daun-daun tidak jauh dari tempatku duduk. "Paak..., sudah puas melihatnyaa..?" . Lalu kudekatkan wajahku sambil membantu menyusun makanan dan kukatakan pelan, "Beluum..., buu..., saya kepingin memegangnya dan menghisapnyaa". Bu Tus langsung mencubitkan tangannya di pahaku sambil berkata pelan, "Awas..., yaa..., nanti saya gigit punya bapak.., baru tahu", sambil terus berjalan.

Sekarang muncul lagi Aminah dan kembali meletakkan makanan sambil membungkuk dan kembali terlihat buah dadanya dan kepingin rasanya kupegang. Rupanya Aminah tahu kalau aku sedang memperhatikan dadanya, lalu dia berbisik. "Paakk..., matanya kok nakal..., yaa...", tapi tanpa menutupnya dan langsung saja kujawab, "aam..., habis bagus siih..., pingin pegang...,boleh apa nggak?", Aminah hanya tersenyum sambil mencubit tanganku lalu pergi. Setelah itu kami berempat makan di tikar dan nikmat sekali rasanya makan di kebun dan setelah selesai makan, Aminah pamit untuk memberi makan anaknya di rumah bibinya. Ketika kutanyakan ke Pak Tus, kemana suaminya Aminah segera Pak Tus menceritakan keluarganya. Untuk singkatnya sebaiknya kuceritakan saja kepada pembaca situs cerita 17Tahun, bahwa Istri Pak Tus ini adalah adik kandung dari Istri pertamanya yang sudah meninggal dan Aminah adalah anak satu-satunya dari istri pertamanya. Sedang Aminah sudah bercerai dari suaminya pada saat Aminah hamil, suaminya meninggalkan begitu saja karena kawin dengan wanita lain. Tidak terasa kami ngobrol di kebun cukup lama dan mungkin karena hawanya agak dingin dan anginnya agak keras, aku merasa seperti sedang masuk angin.

Sementara Pak Tus dan istrinya membereskan sisa makan siang, aku memukul-mukul perutku untuk membuktikan apa benar aku sedang masuk angin dan ternyata benar. Perbuatanku memukul perut rupanya diketahui oleh Pak Tus dan istrinya. "Kenapa paak..", tanya mereka hampir serentak. "Nggak apa apa kok..., cuman masuk angin sedikit". "Paak..., masuk angin kok..., dibilang nggak apa apa..", jawab Pak Tus "Apa bapak biasa dikerokin", lanjutnya. "Suka juga sih paak", jawabku. "Buu..., biar saya yang beresin ini semua..., itu tolong kerokin dan pijetin Pak Puur, biar masuk anginnya hilang", kata Pak Tus. "Oh..., iya.., Buu", lanjut Pak Tus, "Habis ini saya mau mancing ikan di kali belakang, siapa tahu dapat ikan untuk makan malam nanti...". "Pak Tuus..., nanti kalau masuk angin saya hilang, saya mau ikut mancing juga", kataku. "Ayoo..., pak Puurr.., kita ke rumah..., biar saya kerokin di sana..., kalau di sini nanti malah bisa sakit beneran. Sesampainya di dalam rumah lalu bu Tus berkata, "Paak..., silakan bapak ke kamar sini saja", sambil menunjuk salah satu kamar, dan "Saya ke belakang sebentar untuk mengambil uang untuk kerokannya". Tidak lama kemudian bu Tus muncul ke dalam kamar dan menutup pintunya dan menguncinya. "Paak..., kerokannya di tempat tidur saja yaa..., dan tolong buka kaosnya". Setelah beberapa tempat di punggungku dikerokin, bu Tus berkomentar. "Paakk..., rupanya bapak masuk angin beneran..., sampai merah semua badan bapak".

Setelah hampir seluruh punggungku dikerokin dan dipijitin, lalu bu Tus memintaku untuk tidur telentang. "Paak..., sekarang tiduran telentang..., deh..., biar bisa saya pijitin agar angin yang di dada dan perut bisa keluar juga. Kuturuti permintaannya dan bu Tus naik ke tempat tidur di samping kiriku dan mulai memijit kedua bahuku. Dengan posisi memijit seperti ini, tentu saja kedua payudara bu Tus terlihat sangat jelas dan bahkan seringkali menyentuh wajahku sehingga mau tak mau membuat penisku menjadi tegang. Karena sudah tidak kuat menahan diri, kuberanikan untuk memegang kedua payudaranya dan bu Tus hanya berkata pelan. "Jangaan..., paak..., sambil tetap memijit bahuku. "Kenapa buu...", tanyaku sambil melepas pegangan di payudaranya. "Nggak..., apa apa kok..., paak", jawabnya pelan sambil tersenyum. Karena tidak ada kata-kata lainnya, maka kuberanikan lagi untuk menyelusupkan tangan kiriku ke dalam bajunya bagian bawah serta kupegang vaginanya dan kembali terdengar suara bu Tus. "Paakk..., sshh..., jangaan..., aahh...", dan badannya dijatuhkan ke badanku serta bibirnya bertemu dengan bibirku.

Dengan tidak sabar, lalu kuangkat rok terusannya ke atas dan kulepaskan dari kepalanya sehingga badannya telanjang hanya tertutup oleh BH dan CD saja, lalu segera badannya kubalik sehingga aku sekarang ada di atas badannya dan segera kaitan BH-nya kulepas sehingga tersembul buah dadanya yang besar. Kujilati dan kuhisap kedua payudaranya bergantian dan bu Tus hanya berdesah pelan. "sshh..., aahh..., paak..., sshh..., dan tangan kiriku kugunakan untuk melepas CD-nya dan kumasukkan jariku diantara belahan vaginanya yang sudah basah dan ini mungkin membuat bu Tus semakin keenakan dan terus mendesah. "sshh..., aduuhh..., paakk..., sshh..., aahh".

Sambil tetap Kujilati payudaranya, sekarang kugunakan tanganku untuk melepas celana panjang dan CD-ku dan setelah berhasil, kembali kugunakan jari tanganku untuk mempermainkan vaginanya dan kembali kudengar desahannya. "sshh..., aahh..., paak..., sshh..., ayoo.., paak", dan kurasakan bu Tus telah membukakan kedua kakinya agak lebar. Walau tidak bilang kurasa bu Tus sudah tidak tahan lagi, maka segera saja kuarahkan penisku ke arah vaginanya dan kedua tangannya telah melingkar erat di punggungku. Belum sempat aku siap-siap, "Bleess...", penisku masuk ke dalam vaginanya akibat bu Tus menekan kuat-kuat punggungku dan bu Tus berteriak agak keras, "aahh..", sehingga terpaksa mulutnya segera kusumpal dengan bibirku agar teriakannya tidak terdengar sampai keluar kamar. Sambil kujilati payudaranya, aku menggerakkan pantatku naik turun sehingga penisku keluar masuk vaginanya dan menimbulkan bunyi. "ccrreett..., ccrreett..., ccrreett", dan dari mulut bu Tus terdengar desahan yang agak keras, "Aahh..., sshh..., paak..., aahh..", dan tidak lama kemudian bu Tus semakin cepat menggerakkan pinggulnya dan tiba-tiba kedua kakinya dilingkarkan kuat-kuat di punggungku sehingga mempersulit gerakan keluar masuk penisku dan terdengar suaranya yang agak keras, "aaduuhh.., sshh..., aahh..., aaduuhh..., paakk..., aarrhh.., sambil menekan kuat-kuat badanku lalu bu Tus terdiam, dengan nafas yang cepat.

Untuk sementara, kudiamkan dulu sambil menunggu nafas bu Tus agak normal kembali dan tidak lama kemudian, sambil menciumi wajahku, bu Tus berkata. "Paakk..., sudah lamaa..., saya..., tidak pernah seperti ini..., terima kasih..., paak". Setelah nafasnya kembali normal dan penisku masih tetap di dalam vaginanya, lalu kuminta bu Tus untuk menungging. "Paak..., saya belum pernah seperti itu", katanya pelan. "Nggak apa-apa kok buu..., nanti juga bisa", kataku sambil mencabut penisku dari vaginanya yang sangat basah. Kubalik badannya dan kuatur kakinya sehingga posisinya nungging, bu Tus hanya mengikuti kemauanku dan menaruh kepalanya di bantal. Lalu kudekatkan wajahku di dekat vaginanya dan kujulurkan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan kupermainkan, sambil kupegang kedua bibir vaginanya, bu Tus hanya menggerakkan pantatnya pelan-pelan. Tetapi setelah bu Tus memalingkan kepalanya dan menengok ke arah bawah serta tahu apa yang kuperbuat, tiba-tiba bu Tus menjatuhkan badannya serta berkata agak keras, "Paakk..., jangaan", sambil berusaha menarik badanku ke atas. Terpaksa kudekati dia dan sambil kucium bibirnya yang mula-mula ditolaknya, lalu kutanya, "Kenapa..., buu..? "Paakk..., jangaan..., itu kan kotoor..", Sambil agak berbisik, segera kutanyakan. "Buu..., apa ibu belum pernah..., dijilati seperti tadi..?". "Beluum.., pernah paak..", katanya. "Buu..., nggak apa-apa.., kok..., coba deh..., pasti nanti ibu akan nikmat..", sambil kutelentangkan dan kutelisuri badannya dengan jilatan lidahku. Sesampainya di vaginanya, kulihat tangan bu Tus digunakan untuk menutupi vaginanya, tapi dengan pelan-pelan berhasil kupindahkan tangannya dan segera kuhisap clitorisnyanya yang membuat bu Tus menggelinjang dan mendesah. "Paakk..., jangaann..., aahh..., aduuhh", tapi kedua tangannya malah diremaskan di kepalaku dan menekannya ke vaginanya. Kelihatannya bu Tus sudah tahu nikmat vaginanya dihisap dan dijilati, sehingga sekarang semakin sering kepalaku ditekan ke vaginanya disertai desahan-desahan halus, "aahh..., sshh..., aahh..., aaccrrhh", seraya menggerak-gerakkan pinggulnya.

Jilatan serta hisapanku ke seluruh vagina bu Tus membuat gerakan pinggulnya semakin cepat dan remasan tangannya di rambutku semakin kuat dan tidak lama kemudian, lagi-lagi kedua kakinya dilingkarkan ke bahuku dan menjepitnya kuat-kuat disertai dengan desahan yang cukup keras "aahh..., aaduuh..., sshh..., aaccrrhh..., paakk..., adduuhh..., aacrrhh. Kulihat bu Tus terdiam lagi dengan nafasnya yang terengah-engah sambil mencoba menarik badanku ke atas dan kuikuti tarikannya itu, sesampainya kepalaku di dekat kepalanya, bu Tus sambil masih terengah-engah mengatakan, "Paakk..., enaak..., sekalii..., paak..,. terima kasiih..". Pernyataannya itu tidak kutangapi tetapi aku berusaha memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan karena kakinya masih terbuka, maka penisku yang masih sangat tegang itu dapat masuk dengan mudah. Karena nafas bu Tus masih belum normal kembali, aku hanya menciumi wajahnya dan diam menunggu tanpa menggerakkan pinggulku, tetapi dalam keadaan diam seperti ini, terasa sekali penisku terhisap keras oleh vaginanya dan terasa sangat nikmat dan kubilang, "Buu..., ituu..., Buu..., enaakk..., laggii..., buu", dan mungkin ingin membuatku keenakan, kurasakan sedotannya semakin keras saja dan, "Buu..., teruuss..., buu..., enaakk.., aaduuh". Setelah nafasnya kembali normal, lalu kuangkat kedua kaki bu Tus dan kutempatkan di atas bahuku dan bu Tus hanya diam saja mengikuti kemauanku.

Dengan posisi begini, terasa penisku semakin dalam menusuk ke vaginanya dan ketika penisku kuhentakkan keluar masuk vaginanya, bu Tus kembali berdesah, "Aahh..., Paakk..., enaakk..., Paakk..., aahh..., sshh", dan akupun yang sudah hampir mendekati klimaks ikut berdesah, "aahh..., sshh..., aaccrrhh..., Buu.., aahh", sambil mempercepat gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan ketika aku sudah tidak dapat menahan air maniku segera saja kukatakan, "Buu..., Buu..., saayaa..., sudah mau keluar..., aahh..., taahaan..., yaa..., Buu..", dan bu Tus sambil memelukku kuat-kuat, menganggapinya dengan mengatakan, "Paakk..., ayoo..., cepaatt..., Paakk...", dan kutekan penisku kuat-kuat menusuk vaginanya sambil berteriak agak keras, "aahh..., aacrrhh..., bbuu..., aahh..", Aku sudah tidak memperhatikan lagi apa yang diteriakkan bu Tus dan yang aku dengar dengan nafasnya yang terengah-engah bu Tus menciumi wajahku sambil berkata, "Teriimaa..., kasiih..., paakk..., saayyaa..., capeek..., sekali.., paakk". Setelah istirahat sebentar dan nafas kami kembali agak normal, bu Tus mengambil CD-nya dan dibersihkannya penisku hati-hati. Aku segera mengenakan pakaianku dan keluar menuju sungai untuk menemani pak Tus memancing. "Sudah dapat berapa Paak ikannya..", tanyaku setelah dekat. "ooh..., bapaak..., sudah tidak masuk angin lagi..., paak..?", dan lanjutnya, "Lumayan paak.., sudah dapat beberapa ekor dan bisa kita bakar nanti malam.

Malam harinya setelah makan dengan ikan bakar hasil pancingannya pak Tus, kami berempat hanya ngobrol di dalam rumah dan suasananya betul-betul sepi karena tidak ada TV ataupun radio, yang terdengar hanyalah suara binatang-binatang kecil dan walaupun sudah di dalam rumah tetapi hawanya terasa dingin sekali, maklum saja karena kebun pak Tus berada di kaki bukit. Sambil ngobrol kutanyakan pada Aminah, "Aam..., ke mana anaknya..? Kok dari tadi tidak kelihatan" "oohh..., sudah tidur paak", katanya. Karena suasana yang sepi ini, membuat orang jadi cepat ngantuk dan benar saja tidak lama kemudian Aminah pamit mau tidur duluan. Sebetulnya aku juga sudah mengantuk demikian juga kulihat mata bu Tus sudah layu, tetapi karena pak Tus masih bersemangat untuk ngobrol maka obrolan kami lanjutkan bertiga. Tidak lama kemudian, bu Tus juga pamit untuk tidur duluan dan mungkin pak Tus melihatku menguap beberapa kali, lalu pak Tus berkata padaku, "Paak..., lebih baik kita juga nyusul tidur". "Betul..., paak, karena hawanya dingin membuat orang cepat mengantuk", jawabku. "ooh..., iyaa..., paak.., silakan bapak tidur di kamar yang sebelah depan", kata pak Tus sambil menunjuk arah kamar dan lanjutnya lagi, "Maaf..., yaa.., paakk.., rumahnya kecil dan kotor lagi". "aahh..., pak Tus..., ini selalu begitu",jawabku.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar depan yang ditunjuk oleh pak Tus. Tetapi setelah masuk ke kamar yang ditunjuk oleh pak Tus, aku jadi sangat terkejut karena di kamar itu telah ada penghuninya yang telah tidur terlebih dahulu yaitu Aminah dan anaknya. Karena takut salah kamar, aku segera keluar kembali untuk menanyakan kepada pak Tus yang kebetulan baru datang dari arah belakang rumah, lalu segera kutanyakan, "Maaf..., paak..., apa saya tidak masuk kamar yang salah?", kataku sambil menunjuk kamar dan pak Tus langsung saja menjawab, "Betuul..., paak..., dan maaf kalau Aminah dan anaknya tidur di situ..., habis kamarnya hanya dua..., mudah-mudahan mereka tidak mengganggu tidur bapak", kata pak Tus. "ooh..., ya sudah kalau begitu paak..., saya hanya takut salah masuk kamar..., oke kalau begitu paak..., selamat malaam". Aku segera kembali masuk ke kamar dan menguncinya. Dapat kuceritakan kepada para penggemar situs 17Tahun, kamar ini mempunyai hanya satu tempat tidur yang lebar dan Aminah serta anaknya tidur disalah satu sisi, tetapi anaknya ditaruh di sebelah pinggir tempat tidur dan dijaga dengan sebuah bantal agar supaya tidak jatuh.

Setelah aku ganti pakaianku dengan sarung dan kaos oblong, pelan-pelan aku menaiki tempat tidur agar keduanya tidak terganggu dan aku mencoba memejamkan mataku agar cepat tidur dan tidak mempunyai pikiran macam-macam, apalagi badanku terasa lelah sekali. Baru saja aku akan terlelap, aku terjaga dan kaget karena dadaku tertimpa tangan Aminah yang merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Aku jadi penasaran, ini sengaja apa kebetulan tetapi setelah kulirik ternyata nafas Aminah sangat teratur sehingga aku yakin kalau Aminah memang telah tidur lelap, tetapi kantukku menjadi hilang melihat cara Aminah tidur. Mungkin sewaktu tidur tadi dia lupa mengancingkan rok atasnya sehingga agak tersingkap dan belahan dada yang putih terlihat jelas dan rok bawahnya tersingkap sebagian, hingga pahanya yang mulus itu terlihat jelas. Hal ini membuat kantukku hilang sama sekali dan membuat penisku menjadi tegang. Kepingin rasanya memegang badannya, tetapi aku takut kalau dia berteriak dan akan membangunkan seluruh rumah. Setelah kuperhatikan sejenak lalu kugeser tubuhku menjauh sehingga tangannya yang berada di dadaku terjatuh di samping badannya dan kudengar Aminah menarik nafas panjang seperti terjaga.

Setelah kudiamkan sejenak, seolah mengganti posisi tidur lalu kumiringkan tidurku menghadap ke arahnya dan kujatuhkan tangan kiriku pelan-pelan tepat di atas buah dadanya. Aminah tidak bereaksi jadi aku mempunyai kesimpulan kalau dia memang telah tidur nyenyak sekali. Perasaanku semakin tidak menentu apalagi tangan kiriku berada di badannya yang paling empuk, tetapi aku tidak berani berbuat lebih jauh, takut Aminah jadi kaget dan berteriak. Aku berpikir harus bagaimana agar Aminah tidak kaget, tetapi belum sempat aku menemukan apa yang akan kulakukan, Aminah bergerak lagi mengganti posisi tidurnya dan sekarang menghadap ke arahku dan tangan kanannya dipelukkan di pinggangku. Dengan posisi ini, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, sehingga nafasnya terasa menyembur ke arahku. Dengan posisi wajahnya yang sudah sangat dekat ini, perasaanku sudah semakin kacau dan penisku juga sudah semakin tegang, lalu tanpa kupikir panjang kulekatkan bibirku pelan-pelan di bibirnya, tetapi tanpa kuduga Aminah langsung memelukku erat sambil berbisik, "Paakk..", dan langsung saja dengan sangat bernafsu mencium bibirku dan tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan.

Sambil berciuman, kupergunakan tangan kiriku untuk mengusap-usap dahi dan rambutnya. Aminah sangat aktif dan bernafsu serta melepaskan ciuman di bibir dan mengalihkan ciumannya ke seluruh wajahku dan ketika menciumi di dekat telingaku, dia membisikkan, Paak..., sshh..., cepaatt..., Paakk..., toloong..., puasiinn..., am.., Paakk..,sshh", setelah itu dia mengulum telingaku. Setelah aku ada kesempatan mencium telinganya, aku segera mengatakan, "Aamm..., kita pindahkan Dody di bawah..., yaa", dan Aminah langsung saja menjawab, "Yaa..., paak", dan segera saja aku melepaskan diri dan bangun menyusun batal di bawah dan kutidurkan dody di bawah. Selagi aku sibuk memindahkan Dody, kulihat Aminah membuka pakaian dan BH-nya dan hanya tinggal memakai CD berwarna merah muda dan kulihat buah dadanya yang boleh dibilang kecil dan masih tegang, sehingga sulit dipercaya kalau dia sudah pernah kawin dan mempunyai anak. Aku langsung saja melepaskan semua pakaian termasuk CD-ku dan baru saja aku melepas CD-ku,
langsung saja aku diterkam oleh Aminah dan kembali kami berciuman sambil kubimbing dia ke tempat tidur dan kutidurkan telentang. "Ayoo..., Paak...", kembali Aminah berbisik di telingaku, "Am..., sudah..., tidak tahaan..., paak". Aminah sepertinya sudah tidak sabar saja, ini barangkali karena dia sudah lama cerai dan tidak ada laki-laki yang menyentuhnya, tetapi permintaannya itu tidak aku turuti. Pelan-pelan kualihkan ciumanku di bibirnya ke payudaranya dan ketika kusentuh payudaranya dengan lidahku, terasa badannya menggelinjang dan terus saja kuhisap-hisap puting susunya yang kecil, sehingga Aminah secara tidak sadar mendesah, "Sshh..., aahh..., Paakk.., aduuh..., sshh",
dan seluruh badannya yang berada di bawahku bergerak secara liar. Sambil tetap kijilati dan kuhisap payudaranya, kuturunkan CD-nya dan kupermainkan vaginanya yang sudah basah sekali dan desahannya kembali terdengar, "sshh..., aahh..., ayoo..., paak.., aduuh.., paak", seperti menyuruhku untuk segera memasukkan penisku ke vaginanya. Aku tidak segera memenuhi permintaannya, karena aku lebih tertarik untuk menghisap vaginanya yang kembung menonjol dan tidak berbulu sama sekali.

Segera saja kulepaskan hisapanku di payudaranya dan aku pindahkan badanku diantara kedua kakinya yang telah kulebarkan dahulu dan ketika lidahku kujilatkan di sepanjang belahan bibir vaginanya yang basah dan terasa agak asin, Aminah tergelinjang dengan keras dan mengangkat-angkat pantatnya dan kedua tangannya mencengkeram keras di kasur sambil mendesah agak keras, "aahh..., Paakk..., adduuhh.., paak. Aku teruskan jilatan dan hisapan di seluruh vagina Aminah sambil kedua bibir vaginanya kupegangi dan kupermainkan, sehingga gerakan badan Aminah semakin menggila dan tangannya sekarang sudah tidak meremas kasur lagi melainkan meremas rambut di kepalaku dan menekan ke vaginanya dan tidak lama kemudian terdengar Aminah mengucap, "Aaduuhh..., adduuh..., Paak..., aahh..., aduuh.., aahh.., paak", dan badannya menggelepar-gelepar tidak karuan, lalu terdiam dengan nafas terengah-engah, tetapi dengan masih tetap meremasi rambutku. Aku hentikan jilatanku di vaginanya dan merayap keatas lalu kucium dahinya, sedangkan Aminah dengan nafasnya yang masih terengah-engah menciumi seluruh wajahku sambil memanggilku, "Paakk..., paak", entah untuk apa. Ketika nafas Aminah sudah mulai agak teratur, lalu kutanya, "aam.., boleh kumasukkan sekarang.., aam..", Aminah tidak segera menjawab hanya terus menciumi wajahku, tetapi tak lama kemudian terdengar suara pelan di telingaku, "Paak..., pelaan..., pelaan..., yaa..., Paak", dan dengan tidak sabar lalu kupegang batang penisku dan kugesek gesekan pada belahan vaginanya dengan sedikit kutekan dan ketika kuanggap pas di lubang vaginanya, segera kutekan pelan-pelan dan Aminah sedikit mengeluh, "Paak..., sakiit..., paak".

Mendengar keluhannya ini, segera kuhentikan tusukan penisku ke vaginanya. Sambil kucium dahinya, kembali ketekan penisku pelan-pelan dan terasa kepala penisku masuk sedikit demi sedikit ke lubang vaginanya dan lagi-lagi terpaksa gerakan penisku kuhentikan, ketika Aminah mengeluh, "Adduuh..., paak..". Setelah kudiamkan sebentar dan Aminah tidak mengeluh lagi, kuangkat penisku keluar dari vaginanya dan kembali kutusukkan pelan-pelan, ketika penisku terasa masuk, kulihat wajah Aminah hanya mengerenyit sedikit tetapi tidak ada keluhan, sehingga kembali kutusukkan penisku lebih dalam dan, "Bleess..", masuk disertai dengan teriakan Aminah, "Aduuh..., paak", dan tangannya mencengkeram pantatku, terpaksa penisku yang sudah masuk sebagian kutahan dan kudiamkan di tempatnya..


Admin Mesum - 06.17

Darmi, Situkang susu

Namanya Sudarmi, tetapi aku biasa memanggilnya dengan nama yu Darmi. Ia adalah seorang pedagang susu segar yang setiap pagi selalu lewat di depan kiosku untuk menawarkan susu bawaannya. Orangnya tidak cantik memang, tetapi wajahnya manis khas wanita desa. Meskipun ia tidak cantik tetapi orangnya sangat menarik dan seksi. Betapa tidak...di usianya yang sekitar 35 tahunan ia masih tampak segar dan menggairahkan.
Tubuhnya yang tinggi sekitar 165 cm ditunjang dengan kulitnya yang kencang dan tonjolan-tonjolan tubuhnya yang menantang baik di depan maupun di belakang sangat menantang bagi lelaki mana pun yang melihatnya. Apalagi kalau ia sedang berjalan menenteng container kaleng isi susu yang dijualnya. Pantatnya yang bulat yang dibalut dengan kain kebaya yang ketat sangat mengundang selera lelaki. Dilihat dari depan pun tubuh yu Darmi sangat menggairahkan...dadanya yang membusung kelihatan sangat menantang karena tubuhnya selalu dibalut dengan kain kebaya yang ketat seolah hendak memamerkan semua isi yang tersembunyi di dalamnya. Saking seringnya lewat di depan kiosku aku jadi sangat mengenal kebiasaannya. Ia selalu datang di pasar tempat aku berdagang tepat jam 05.45 dan selalu diantar oleh suaminya, kang Sarjo dengan mengendarai sepeda motor tuanya.
Aku kenal dengan yu Darmi dan suaminya karena kebetulan suami yu Darmi berasal dari satu desa yang sama denganku yang kurang lebih sekitar 20 Km dari pasar tempatku berdagang. Hal yang membedakan adalah aku sudah mempunyai rumah sendiri di dekat pasar tempatku berjualan sedangkan kang Sarjo masih tetap tinggal di desa. Kang Sarjo memelihara sapi yang susunya dapat diperah setiap hari dan dijual istrinya ke pasar, yu Darmi itu.
Pertemananku dengan yu Darmi dan kang Sarjo sudah begitu erat bahkan hampir seperti layaknya saudara. Karena kalau ada apa-apa mereka pasti lari ke tempatku untuk meminta bantuan atau apa. Bahkan istriku pun sudah menganggap yu Darmi dan kang Sarjo sebagai bagian dari keluarga kami.
Suatu hari menjelang tahun baru seperti biasa aku sudah mulai menata kiosku untuk memulai rutinitas berdagangku. Waktu itu sudah menjelang jam 05.45 saatnya susu langgananku dan yu Darmi yang seksi itu datang. Oh iya aku hampir lupa menceritakan kalau aku juga sudah menjadi salah satu pelanggan susu yu Darmi.
Jam sudah menunjukkan waktu pukul 05.45, tetapi yu Darmi dan susunya belum juga datang. Aku heran juga kok tumben yu Darmi dan kang Sarjo sampai jam begini belum juga datang ke kiosku. Ada apa dengan mereka ya...kok tumben mereka terlambat. Setelah agak lama menunggu akhirnya yu Darmi datang di depan pasar jam 06.00. Ia baru turun dari bus yang antar kota dan turun tepat di depan kiosku. Ia sendirian tanpa disertai suaminya.
”Wadhuh maaf mas...aku telat”
”Gak apa apa yu...(mbakyu)... Kok tumben tidak bareng kang Sarjo? Lagi ada bisnis gedhe ya?” tanyaku dengan berondongan pertanyaan. Aku memang selalu memanggil yu Darmi dengan sebutan yu Darmi kependekan dari mbakyu Darmi karena usianya memang selisih sekitar tiga tahunan di atasku.
”Oalah mas...mas..sampeyan opo gak ngerti ta? .Aku ki lagi apes tenan je (maksudnya sedang kena musibah)....soalnya kemaren sore kang Sarjo ketabrak angkot (maksudnya mobil colt angkutan kota) dan harus mondok di rumah sakit. Tulang kakinya ada yang patah jadi saya harus naik bus sendiri”
”Whelhadhalah….. Memang mondoknya di rumah sakit mana? Nanti kalau ada waktu aku tak ke sana menengoknya”
”Wah nggak usah repot-repot to mas...wong Cuma patah sedikit kok...Paling-paling satu minggu lagi sudah bisa pulang kok”
Lalu ia menyebutkan salah satu rumah sakit tulang yang sangat terkenal di kotaku yang kebetulan sangat dekat dengan pasar tempat aku berjualan.
Itulah orang Jawa!! Kecelakaan sampai kakinya patah saja masih bisa bilang ’cuma’. Memang orang Jawa paling terkenal kesabarannya.
”Iya yu terima kasih...Nanti sore kalau enggak hujan tak mampir ke sana...Pokoknya sampeyang yang sabar ya yu... namanya kena musibah..” Aku sedikit menyemangatinya.
”Wis yo mas... aku tak muter lagi...”
”Monggoh...yu...moga-moga susunya cepet habis..” Dan yu Darmi pun berlalu dari kiosku untuk meneruskan jualannya. Aku hanya memandangi goyangan pantatnya yang selalu membuat jakunku naik turun.
Sore itu sesuai dengan janjiku aku menjenguk kang Sarjo. Aku datang ke RS bersama dengan istriku. Aku pun tak lupa menjinjing makanan sekedarnya agar pantas. Nah ...dari sinilah hubunganku dengan yu Darmi mulai semakin jauh dan bahkan sudah keluar jalur.
Kisah asmaraku yang terlarang berawal dari permintaan kang Sarjo yang memintaku membantu yu Darmi menguruskan jaminan kesehatan dari pemerintah yang diperuntukkan bagi orang miskin seperti mereka. Untuk mengurus itu prosesnya cukup rumit sedangkan mereka cukup buta terhadap proses birokrasi. Oleh karena itu aku yang sudah pernah makan bangku kuliah diminta oleh mereka untuk membantu menguruskannya.
Istriku yang mengetahui keakrabanku dengan kang Sarjo pun mengabulkan permintaan kang Sarjo agar aku membantu mengantar istrinya menguruskan surat-surat keesokan harinya. Seperti yang telah dijanjikan, keesokan harinya yu Darmi mampir di kiosku setelah selesai mendagangkan susunya.
”Jeng...bojomu (suamimu) tak pinjem dulu ya... ojo cemburu lho..” seloroh yu Darmi kepada istriku saat mau pamitan pada istriku untuk menguruskan surat-surat jaminan kesehatan denganku.
”Yo...gak apa-apa asal ojo mbok pek…” jawab istriku juga sambil berseloroh, “mugo-mugo kang Sarjo cepet sembuh ya mbakyu....”
”Yo muga-muga jeng....doain saja.... aku pamitan dulu ya…” yu Darmi pamitan dengan istriku, “Ayo mas Ardi nanti keburu kesiangan….”
Akhirnya aku dan yu Darmi pun berangkat ke desa Yu Darmi untuk mengurus surat-surat yang dibutuhkan. Aku memboncengkan yu Darmi dengan sepeda motorku. Selama dalam perjalanan berkali-kali punggungku berkali-kali tersenggol dada yu Darmi yang empuk..karena yu Darmi duduknya sangat dekat di boncenganku. Ser….ada semacam desiran aneh menggodaku setiap kali punggungku tertekan oleh payudara yu Darmi.
Setan pun mulai beraksi menggodaku. Aku menjadi semakin kerap mengerem kendaraanku secara mendadak sehingga payudara yu Darmi semakin kerap menekan punggungku.
“Mas duduk dulu...aku tak ganti baju dulu yo...” Yu Darmi mempersilahkanku masuk rumahnya dan pamitan mau ganti pakaian.
”Kok pakai ganti baju ta yu...pakai kebaya begitu malah seksi lho yu...”
”Wheleh...mas Ardi bisa aja...pakai ngerayu lagi...pasti ada maunya ya...awas lho nanti tak bilangin bojomu...” seloroh yu Darmi sambil menepuk lenganku.
”Lho tenan kok yu...sampeyan itu kalau pakai jarik begitu jan....seksi tenan lho..”
”Seksi opo hayo...?” belum sempat aku meneruskan kata-kataku yu Darmi sudah memotong dan mencekal lenganku semakin ketat.
”Yo seksi ta yu...kalau sampeyan pakai kain jarik itu...bodynya jadi kelihatan sempurna lho yu...”
”Wheleh..ngerayu ta...Sudah aku tak ganti pakaian dulu...sampeyan tunggu di sini dulu...awas jangan macem-macem lho...” yu Darmi segera masuk ke dalam.
Tak lama kemudian ia keluar lagi. Kali ini ia sudah berganti pakaian dengan baju gombrong dan celana spandeks ketat seperti orang kota layaknya. Wajahnya tampak segar dan rambutnya basah seperti habis mandi. Aku jadi melongo dibuatnya.
”Lho...kenapa malah melongo? Apa gak pernah lihat perempuan berdandan begini ta?”
”Oohh... eng...enggak kok yu..Aku cuma pangling saja...Soalnya baru kali ini aku melihat yu Darmi seperti ini...wahh...bener-bener beruntung kang Sarjo punya istri secantik sampeyan...”
”Wis...mulai ngerayu lagi ta..”
”Bener kok yu…sampeyan dandan seperti ini aku jadi …greng gitu lho…eh ngomong-ngomong rumah sepi memangnya anak-anak pada kemana to yu ?”
”Lho sampeyan gak tahu ta ? Apa kang Sarjo gak pernah cerita kalau dari dulu kami belum diberi momongan ?” Aku baru tahu kalau kang Sarjo dan yu Darmi ternyata belum punya anak. Padahal usia perkawinan mereka sudah hampir 15 tahunan.
Pagi itu belum terjadi insiden apapun. Kami segera berangkat ke balai desa untuk mengurus surat-surat yang diperlukan. Setelah selesai dari balai desa, kami segera meluncur ke kantor kecamatan untuk meminta legalisasi. Dari kecamatan kami pergi ke puskesmas untuk meminta rujukan. Rupanya kebersamaan kami belum berakhir, ternyata petugas yang berhak memberikan rujukan sedang keluar jadi kami harus menunggu.
Untuk menghilangkan kebosanan karena menunggu aku pun mengajak yu Darmi untuk mencari makan. Kami memang belum sempat makan siang, padahal waktu itu sudah hampir pukul 14.00. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di warung dekat pasar kecamatan.
”Yu ...cari makan dulu saja ya...daripada di sini nunggu...kayaknya masih lama kok” Aku bmengajak yu Darmi mencari makan.
”Yo gak apa-apa mas... mas Ardi mau makan di mana?”
“Ya makan di deket-deket puskesmas saja yu ...jadi nanti kalau dokternya datang kita bisa segera kemari lagi”
“Iya ya mas...ayo di depan sana ada warung agak lumayan mas” yu Darmi yang menjadi petunjuk jalanku. Kami pun berjalan menuju warung makan yang memang tidak begitu jauh dari puskesmas itu.
Kami ngobrol segala macam sambil menunggu di warung makan itu. Bahkan obrolan kami mulai semakin menjurus ke hal-hal yang berbau seks.
”Yu....kerjanya kang Sarjo pasti enak dong ...” aku memulai obrolanku.
”Enak apanya to mas....lha wong kerjanya meres susu sapi kok dibilang enak”
”Nah justru disitu enaknya yu...” aku mulai nekat.
”Enak gimana maksudnya to mas?”
”Lha enggak enak gimana ta yu... pagi pagi sudah memerah susunya sapi....terus malemnya memerah susunya yang punya sapi....kan enak to...siang malem mainin susu”
”Alaaaah... .mas Ardi ini bisa saja...” yu Darmi tertawa terpingkal-pingkal mendengar gurauanku sambil tangannya mencubit perutku.
”Lho....ini juga sama seneng mencet-mencet sama kaya suaminya...yang laki mencet susu yang perempuan mencet-mencet perut orang...untung enggak terlalu ke bawah...kalau terlalu ke bawah bisa bahaya...” aku terus menggodanya dan mencoba memancing-mancing.
”Bahaya piye....?”
”Ya jelas bahaya ta yu…kalau mencetnya yang di bawah perut kan bisa grengg….apalagi kalau yang mencet orangnya kayak yu Darmi ini….sudah orangnya manis…dan bodinya….” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku yu Darmi sudah menyela.
“Memang bodiku kenapa hayo….” Sambil berkata begitu tangannya tetap mencubit perutku….bahkan semakin kuat.
“Aduh yu…bodinya seksi gitu loh…” akhirnya aku semakin berani.
“Wheleh-wheleh….body kayak gini kok dibilang seksi…mau ngerayu ya…ini pasti mas Ardi ada maunya…pakai ngerayu-ngerayu begini…”
“Lho emang tubuh yu Darmi itu sangat seksi kok yu....bener. Aku enggak bohong…”
Wajah yu Darmi memerah seperti malu, tapi aku yakin kalau ia sangat senang ketika aku bilang kalau ia sangat seksi. Kami semakin berani berbicarakan hal-hal yang menjurus…hingga akhirnya dokternya datang ke Puskesmas. Akhirnya kami pun selesai mengurus surat-surat yang diperlukan dan siap berangkat ke RS di kotaku.
Mungkin sudah suratan takdir kalau kami harus menjalani hubungan yang sumbang ini. Dalam perjalanan pulang yang harus menempuh sekitar 20 km itu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Karena terlupa tidak membawa jas hujan, kami pun berhenti untuk berteduh di depan sebuah penginapan kecil.
”Lho...kok berhentinya di sini mas?”
“Lha emangnya kenapa yu...apa yu Darmi mau hujan-hujanan?”
“Eh..anu enggak apa-apa....maksudku kenapa kok berhenti di depan penginapan?” jawab yu Darmi dan wajahnya agak bersemu merah.
Aku jadi paham kalau wajah yu Darmi tiba-tiba menjadi merah karena tadi kami sempat ngobrol menyerempet ke hal-hal yang berbau seks. Dan sekarang tiba-tiba harus berteduh di depan sebuah penginapan.
“Ohh....ini to...lha tadi hujan derasnya kebetulan di sini masak mau berteduh di tempat lain.... memangnya kenapa kalau berteduh di depan penginapan?” aku menjawab asal-asalan sambil terus menggodanya.
“Anu ...enggak apa-apa kok...” jawab yu Darmi semakin malu.
“Lho...kalau yu Darmi enggak keberatan malah akan lebih enak kalau kita masuk sekalian...jadi enggak kehujanan kayak begini...dan malah jadi hangat lho...” aku semakin berani menggodanya.
“Ehhh...malah makin berani sama mbakyumu ya....nanti dimarahi bojomu lho...” yu Darmi menjawab sambil mencubit pinggangku. Aku tahu kalau yu Darmi sepertinya sudah memberi lampu hijau bagiku.
“Lha ...kan tadi yu Darmi sudah ijin sama istriku kalau hari ini mau pinjem suaminya....masak mau dimarahi...kan istriku sudah mengijinkan to..” aku semakin berani menggodanya.
Hujan semakin deras seolah-olah menumpahkan seluruh airnya. Akhirnya tempat berteduh kami mulai terguyur air. Peluang ini segera kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya apalagi si setan di kepalaku semakin sering menggodaku.
“Ayo masuk dulu yu....kayaknya hujannya makin besar dan masih lama” akhirnya aku mengajak masuk yu Darmi ke penginapan dan check in di kamar yang paling bagus. Pakaian kami sudah agak basah karena kehujanan tadi.
Yu Darmi yang masih malu-malu akhirnya menurut juga karena alasan yang kuberikan cukup masuk akal juga. Kami pun memesan minuman panas untuk menghangatkan tubuh kami yang kedinginan.
“Wadhuh...bajunya basah semua ini mas...gimana ya” kata yu Darmi begitu kami sudah duduk di dalam kamar dan menikmati kopi panas.
“Lha kalau yu Darmi takut masuk angin ya bajunya dilepas saja to... kan di sini ada selimut jadi bisa dipakai dulu sampai bajunya agak kering...dan sekalian bisa mandi air hangat”
“Oooo ada air hangatnya juga to...enak juga ya di sini” yu Darmi memang sangat lugu sehingga tidak tahu kalau di penginapan yang bagus ada fasilitas air hangatnya juga.
Akhirnya ia pun menuruti saranku. Ia masuk ke kamar mandi dan tak lama kemudian kudengar ia mulai mengguyur dengan air. Aku pun duduk sambil menikmati kopi dan rokokku sambil membayangkan keindahan tubuhnya di kamar mandi yang ada di depanku.
Belum sempat aku menghabiskan rokokku tiba-tiba yu Darmi membuka pintu kamar mandi dan hanya kepalanya yang terjulur keluar sambil berteriak
”Mas katanya ada air hangatnya....kok yang ada Cuma air dingin to? Piye carane biar air hangatnya keluar...”
”Oooo itu ta...sini tak kasih tahu caranya...” kataku sambil bangkit dan mendekat ke pintu kamar mandi.
”E...ee...mengko dhisik..to mas..aku isih udo... aku tak ngaggo anduk dhisik” yu Darmi berteriak agak gugup dengan bahasa jawanya yang medhok.
(maksudnya ”Nanti dulu ...to mas...aku masih telanjang...aku pakai handuk dulu”)
”Lho justru aku malah seneng kalau yu Darmi telanjang....kan aku jadi bisa melihat tubuh yu Darmi yang seksi” balasku menggodanya.
”Yo nggak boleh to...nanti bisa bahaya…” ia menjawab. Tetapi aku tahu kalau ia sudah memberi lampu hijau. Dan ini tak boleh kusia-siakan. Aku harus dapat menikmati tubuhnya demikian tekadku.
”Caranya begini lho yu...” aku memperagakan cara memutar kran dan mengatur air panas shower di kamar mandi. Aku sempat melirik dan melihat tubuhnya yang seksi hanya terbalut handuk. Sungguh seksi sekali membuat napsuku semakin tak terkendali.
”Hayo...jangan melirik...nanti ada setan lewat lho..” yu Darmi agak kikuk ketika melihatku melirik ke arah tubuhnya.
”Ya biarin ta kalau setannya mau menggoda aku malah seneng kok...” aku menjadi semakin berani karena aku sudah tidak tahan dengan godaan tubuh seksi yu Darmi yang hanya terbalut handuk.
”Wiss...aja ngono to...mengko bojomu nesu lho” (Sudah jangan begitu lho, nanti istrimu marah lho).
”Nesu rak yen dhekne ngerti...lha yen ora ngerti kan ra apa-apa to” (Marah kan kalau dia tahu...lha kalau enggak tahu kan enggak apa-apa to). Aku semakin nekat dan segera melepas pakaianku satu per satu.
Yu Darmi hanya terpaku dengan keberanianku. Aku yang sudah bertekad harus menikmati tubuhnya menjadi semakin nekat..pokoknya now or never..
”Lho...lho...lho...kok malah nekat... dasar bocah edan” ia berteriak-teriak memprotes. Tetapi aku tahu kalau ia tidak sungguh-sungguh.
Setelah seluruh pakaianku terlepas, aku segera melemparkan keluar kamar mandi. Batang kemaluanku yang sudah sedari tadi mengeras tampak tegak di depan mata yu Darmi. Kulihat mata yu Darmi membelalak melihat batang kemaluanku yang demikian kerasnya. Lalu tanpa membuang waktu aku segera menarik lepas handuk yang melilit tubuh yu Darmi dan melemparkannya keluar kamar mandi.
Kini tubuh yu Darmi sudah bugil di depanku. Tangannya secara otomatis segera menutupi bagian dada dan selangkangannya yang sempat kulirik ternyata tidak mempunyai bulu alias sudah dicukur gundul. Gila ini mah kayak bayi raksasa yang tidak memiliki bulu kemaluan!! Desisku dalam hati.
Tanpa membuang waktu aku segera memeluk tubuh telanjang yu Darmi dan menariknya ke bawah siraman shower air panas. Aku tidak mempedulikan teriakan-teriakan protes yang keluar dari mulut yu Darmi. Apa yang ada di benakku hanya satu...segera menikmati keindahan tubuhnya!
Awalnya bibir yu Darmi terkatup rapat saat aku mendaratkan bibirku ke bibirnya. Perlahan tetapi bibirnya mulai terbuka dan aku merasakan ada respon dari dirinya saat lidahku mulai mencoba menerobos ke dalam mulutnya. Dan akhirnya kami mulai saling berpagutan di bawah guyuran shower air hangat.
Lidah yu Darmi mulai membalas dorongan lidahku...bahkan ia mulai menyedot lidahku dengan tak kalah ganasnya. Tanganku yang bebas segera menjelajah seluruh tubuh bagian belakang yu Darmi.
Tanganku bergeser turun dari punggungnya yang kencang ke arah bongkahan pantatnya yang selalu membuatku gemas kalau melihatnya berjalan membawa susu segarnya itu.
“Ughh.....massss....ohhhh” yu Darmi mulai melenguh pelan saat tanganku mulai bermain-main meremas pantatnya yang bulat itu dengan gemasnya. Ia pun merespon dengan ikut meremas pantatku. Kami saling meremas selama beberapa saat sambil terus berpagutan.
Batang kemaluanku yang semakin keras jadi terjepit di antara perutku dan perut yu Darmi. Hangat sekali rasanya. Setelah puas saling melumat bibir. Tanganku segera meraih sabun mandi yang tersedia di kamar mandi itu. Kugosok punggung yu Darmi dengan sabun hingga licin karena busa.
Tanganku yang penuh busa sabun terus bergerilya menyusuri garis punggungnya turun ke arah pantatnya. Sekali lagi aku bermain-main dengan bongkahan pantat yu Darmi yang menggemaskan itu. Gerakan tanganku di bongkahan pantatnya semakin lancar karena busa sabun. Aku sempat melirik dan kulihat yu Darmi tampak terpejam seakan-akan sedang menikmati remasan tanganku di pantatnya. Tangannya semakin erat memeluk punggungku hingga batang kemaluanku semakin ketat terjepit perutnya yang masih rata.
Puas bermain-main dengan pantatnya, aku segera membalik tubuh yu Darmi. Posisinya sekarang membelakangiku dan batang kemaluanku sekarang jadi terjepit di antara bongkahan pantatnya yang mengiurkan. Waduh...luar biasa hangat sekali rasanya.
Lalu tanganku mulai bergerak menggosok tubuh bagian depan yu Darmi sambil memeluknya dari belakang. Tanganku yang penuh busa sabun dapat bergerak lancar menyusuri kedua belah bukit payudaranya yang masih kencang. Yu Darmi menengadah sambil memejamkan matanya seolah-olah sangat menikmati gosokan tanganku di kedua bukit payudaranya.
Puas dengan payudaranya... sekarang tanganku meluncur ke bawah ke arah perutnya yang masih kencang. Ia menggelinjang saat tanganku bergerak menyusuri perutnya di bagian bawah. Pantatnya digeser-geserkannya sehingga batang kemaluanku yang terjepit antara perutku dengan bongkahan pantatnya seperti dikocok-kocok rasanya.
“Ugh.....!!”.Aku menahan napas menikmati gesekan bongkahan pantatnya di batang kemaluanku.
”Aduh...masssss...ohhh..” Mulut yu Darmi mulai mendesah saat tanganku yang penuh busa sabun mulai bergerak-gerak mengelus dan meremas gundukan bukit kemaluannya yang sudah tercukur licin tanpa rambut itu. Pantatnya semakin bergerak liar menggesek batang kemaluanku yang terjepit di kedua bongkahan pantatnya.
Tanganku terus bergerak liar di selangkangan yu Darmi. Bahkan sesekali jari-jariku kumasukkan ke dalam celah hangat di selangkangannya yang sudah mulai licin itu. Mulut yu Darmi semakin keras mendesah saat aku menyentuh tonjolan daging di ujung atas liang kemaluannya.
”Ohhh....massshhh...ohhhh.....terrr...usshhhh...ohhhh” mulut yu Darmi tak henti-hentinya mendesis seperti orang kepedasan. Tubuhnya bergetar dan matanya semakin dipejamkan seolah-olah sedang menahan sesuatu.
Pantat yu Darmi semakin liar bergerak menjepit batang kemaluanku. Aku merasakan betapa batang kemaluanku seperti digiling oleh daging empuk dan hangat.
”Terushh yuu…ughhh” aku menggeram menahan gejolak yang sudah mulai mendesak. Batang kemaluanku serasa dipilin oleh kehangatan pantat yu Darmi.
Tanganku semakin kencang memutar-mutar kelentitnya sehingga tubuhnya semakin liar bergerak dalam pelukanku. Aku tahu ia sudah hampir mencapai orgasmenya sehingga aku semakin mempercepat gerakan jariku di selangkangannya.
”Akhhhh....massshhh...aduhhh....akhhh” tubuh yu Darmi berkejat-kejat seperti tersengat arus listrik saat jari-jari tanganku memutar kelentitnya yang sudah sangat licin. Ia terus bergerak selama beberapa saat dan akhirnya tubuhnya terdiam.
Aku tahu kalau ia sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Tubuhnya bersandar lemas dalam pelukanku. Tangannya mengelus-elus lenganku seolah-olah mengucapkan terima kasih padaku yang telah memberinya kepuasan.
Kubiarkan yu Darmi bersandar dalam pelukanku “Gimana yu....masih mau bilang sama istriku?” aku berbisik menggodanya.
“Sampeyan nakal...mas” ia hanya menjawab singkat. Tetapi aku tahu kalau ia juga sangat menikmatinya. ”Lho...ini adik sampeyan kok masih nyondol-nyondol pantatku...kasihan deh...nanti biar mbakyu tidurin ya...” Ia sudah mulai bisa bercanda dan bahkan menekankan pantatnya sehingga batang kemaluanku semakin ketat terjepit di bongkahan pantatnya.
“Iya nih yu...kalau si dede tidak disuruh bobo bisa ngambek lho...” aku juga mendorong pantatku hingga jepitannya makin kencang.
Akhirnya acara ritual saling memandikan selesai sudah setelah yu Darmi gantian menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya sangat telaten menggosok seluruh tubuhku terutama pada batang kemaluanku yang sedari tadi sudah tegak berdiri.
Hujan di luar semakin deras dan suasana semakin gelap. Padahal waktu itu jam baru menunjukkan angka 04.15 sore hari. Suasana yang dingin menjadikan kebersamaanku dengan yu Darmi justru semakin panas.
Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk kami naik ke tempat tidur dengan tetap bertelanjang. Yu Darmi sudah tidak merasa malu untuk berbugil ria didepanku.
“Yu kayaknya hujan tambah deras lho...kita kayaknya bakalan lama di sini” aku membuka percakapan saat kami berbaring sambil berpelukan.
“Iya mas...nanti gimana dengan istrimu...apa enggak marah?” yu Darmi nampak agak khawatir.
“Enggak ah...aku telpon aja dulu ke rumah ya yu...biar enggak curiga dia”. Aku segera telpon istriku dan memberitahu kalau kami masih kehujanan dan menunggu hujan reda di Puskesmas. Yu Darmi pun ikut bicara sehingga istriku makin percaya.
Kami kembali berpelukan di atas tempat tidur. Suasana semakin menghangat karena yu Darmi menindih tubuhku yang telentang. Tangannya mengelus dadaku yang bidang dan terus bergerak turun ke selangkanganku.
Kurengkuh tubuh yu Darmi hingga sejajar dengan posisiku dan kukulum bibirnya dengan mesra. Lidahku disambut dorongan lidahnya saat kususupkan ke dalam mulutnya.
”Ugh...terus yuuuu...ough....” aku melenguh nikmat saat tangan yu Darmi yang bergerak di selangkanganku mulai meremas dan mengurut batang kemaluanku dengan lembutnya.
Bibir yu Darmi dengan ganasnya mulai menyedot lidahku. Tanganku yang bebas segera bergerak ke arah bagian tuuh yu Darmi yang selalu menjadi obsesiku, yaitu pantatnya yang menggemaskan.
Dengan gemas aku mulai meremas bongkahan pantatnya yang menggiurkan hingga dada yu Darmi yang gempal semakin ketat menekan dadaku. Kemudian dengan perlahan kudorong tubuh yu Darmi hingga akhirnya posisinya sekarang berbaring terlentang dan aku gantian menindihnya.
Kubaringkan badannya ke ranjang, yu Darmi di bawah dan aku di atas menindihnya. Lalu kuciumi, kusedot-sedot dan kugigit-gigit kecil puting susunya, tanganku meremas dadanya yang lain, jariku secara refleks mulai memutar-mutar dan mencubit-cubit kecil puting susunya.
"aaahh..", desahnya.. Kubuka mulutku selebar-lebarnya dan dengan sedikit memaksa kutelan daging buah dadanya sebanyak mungkin di dalam mulutku. Aku ingin "menelan" semua dadanya. Kuremas, Kugigit, kujilat dan kusedot, semua itu kulakukan berulang-ulang kali sampai aku puas.
"ssshhh..aahhh..aah..aah..", desahannya semakin membuat nafsuku menggebu-gebu.
Setelah puas dengan dadanya, aku mulai turun menciumi perutnya yang masih rata karena belum pernah melahirkkan. Lidahku mulai menjilat-jilat pusarnya, kedua tanganku tetap memegangi dadanya, tangan yu Darmi secara otomatis mulai memegang kepalaku, mengikuti kemana kepalaku bergerak.
Akhirnya aku sampai di depan memiawnya, yang ternyata sudah basah, aku mencium bau harum dan lembut dari memiaw dan di sekitar pangkal pahanya.
Aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kujilat dan kugigit-gigit kecil itilnya, aku memainkan lidahku dengan cepat di duburnya, naik-turun dari pantat ke itilnya, berulang-ulang sampai daerah itu basah oleh ludahku.
"aaaaaaaaahhhh......aduh masss....tempekku diapakno.....", suara desahannya semakin kerap terdengar.
Aku tak menggubris desisan-desisan dari bibir yu Darmi yang rendah. dan semakin kuat. Lidahku terus bergerak liar di selangkangannya.
Kujilati memiaw nya seperti sedang menjilat es krim, es krim yang tidak akan pernah habis. Setelah itu aku berlutut di ranjang dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, sehingga kedua lututnya berada di dekat dengan kepalanya, selama dalam posisi kepala dan kaki dibawah tapi pantatnya terangkat seperti itu, kedua tangannya hanya bisa memegang pantatnya, menarik kekanan dan kekiri, sehingga lubang vagina dan lubang pantatnya dapat kulihat dengan jelas.
Tangan kiriku memegang perutnya, dengan badan kutahan punggungnya supaya posisinya tidak berubah. Dan dengan jari tengah serta telunjuk tangan kanan, kumasukkan kedalam vaginanya, kedua jariku bermain-main, berputar kiri-kanan, dan keluar masuk di lobang vaginanya.
"aaaahh... aaaahh..aaaahhh.. eennaaaakkk...", kata yu Darmi sambil memejamkan mata, membuatku semakin bersemangat memainkan lubang kemaluanya.
"jangan berhentii.... trussss.... aaaahh..."
Setelah cukup lama aku bermain-main dengan memiawnya, akhirnya tubuh yu Darmi seperti kejang-kejang, dan bergerak-gerak dengan cepat serta kuat, sampai aku sedikit kewalahan menahan posisinya.
"aaaah.. aaaa..aaaaaaaaaaaaahh..", jerit yu Darmi, sembari tubuhnya mengejang-ngejang. Beberapa saat kemudian tubuhnya melemas. Tangannya pun jatuh terkulai keranjang, yu Darmi terlihat seperti orang yang sudah KO.
Aku biarkan yu Darmi untuk mengatur napasnya. Akupun berbaring di sisinya dan memeluknya dengan mesra. Yu Darmi segera mengecupku dengan mesra dan berbisik lirih di telingaku.
”Aduh mass....tadi itu tempekku diapakno ta? Kok enak banget...” bisik yu Darmi tanpa malu-malu.
”Itu namanya jilmek yu” aku membalas sambil menggoda.
”Jilmek kuwi apa ta mas? Kok istilahnya ada-ada saja?” yu Darmi jadi penasaran dengan istilah yang baru kukatakan tadi.
”Jilmek itu jilat memiaw yu....Apa kang Sarjo enggak pernah seperti itu?” aku menjawab sambil tersenyum sambil mengelus payudaranya dan mulai memilin putingnya dengan lembut.
”Wadhuh.....boro boro kang Sarjo mau seperti itu. Dia itu sudah sejak lima tahunan yang lalu malah sudah jarang sekali ngajak begituan kok mas”
Aku jadi kaget mendengar hal ini. ”Lha memangnya kenapa yu?” aku jadi penasaran mendengarnya.
”Dulu kan kami pernah ke dokter mau nanya kenapa saya kok enggak hamil-hamil. Lalu setelah diperiksa ternyata kata dokter spermanya kang Sarjo itu lemah. Nah sejak itu ia jadi seperti orang minder dan tidak mau ngajak begituan lagi”
”Lha terus kalau yu Darmi lagi kepengin bagaimana?” aku tambah penasaran.
”Itulah mas....paling-paling kalau aku sudah kepengin banget yang kupaksa kang Sarjo untuk begituan. Tapi hasilnya ya aku jadi tambah pusing soalnya kang Sarjo sudah keluar duluan terus tidur..”
”Yo wis ta yu...sing sabar...kan ada aku. Nanti kalau yu Darmi kepengin bisa ngajak aku kan tiap hari kita ketemu di kiosku.”
”Mas Ardi ini kok ada-ada saja....dasar bocah gendheng...” jawabnya


Admin Mesum - 06.08
Silahkan Promosikan Situs/Web atau Blog Anda Disini



Shout
Review http://kumpulan-ceritaxxx.blogspot.com on alexa.com
backlink
Email extractor software for online marketing. Get it now free, Email Extractor 14. online-casino.us.org

 
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2012. Kumpulan Ceritaxxx - All Rights Reserved